Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38548 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
IKa Ratnawati; Pembimbing: Izhar M. Fihir, Sandi Iljanto; Penguji: Untung Suseno Sutarjo, Zilfa Yenny, Ridwan Z. Sjaaf
Abstrak:

Jumlah pekerja diseluruh dunia sebanyak 3 milyar, 80"/o diantaranya bekelja dan hidup tanpa memiliki akses pelayanan kesehatan kerja. Pelayanan kesehatan kerja pada masa kini semakin berkurang dan tidak mengalami perkembangan. Padahal kesehatan merupakan investasi yang sangat strategis dalam pernbangunan sumber daya manusia Berkembangnya industrialisasi, meningkatkan jum1ah pekerja. Indonesia memiliki jumlah angkatan kelja terbesar namor 4 dunia, data BPS (2007) menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat 108, 13 juta jiwa angkatan kerja. yang 1ersebar pada berbagai lapangan pekerja.an dengan berbagai perrnasalahan yang muncul akibat pekerjaan. Keadaan seperti ini menghasilkan kebutuhan khusus akan pelayanan kesehatan kerja. Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. l28&1enkes/SK/H/2004 tentang Kebtjakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, yang menyatakan bahwa bagi Puskesmas yang wilayah keajanya merupa:kan kawasan/sentra industri, maka wajib mengembangkan Upaya Kesehatan Kerja karena merupakan kebutuhan dan masalah yang ada pada wilayah tersebut Puskesmas Cileungsi mempunyai 124 tempat usaha, dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 48.864 jiwa. Kasus kecelakaan kerja sebanyak 1.387 kasus dan mengakibatkan meninggal dunia sebanyak 25 orang. Kunjungan pasien tahun 2007 sebanyak 136.029 dan 47.48% nya berusia 15 s/d 54 tahun. Dimana pada usia tersebut merupakan usia produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat daiarn pelayanan kesehatan bagi pekerja. Rancangan penelitian ini adalah kuaiitatif. dalam penelitian ini tidak mementingkan jumlah sampel tetapi lebih mementingknn bagaimana mempero!eh kesesuaian dan kecuk:upan infonnasi, Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diambif dari hasil wawancara mendafam dan Fokus Grnp Diskusi (FGD) sedangkan data sekunder diambil dari laporan..Japoran yang berhubungan dengan petaksanaan pelayanan kesehatan pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa need peiayanan kesehatan pekerja di Pusk:esrnas Cileungsi belum dilaksanakan secara k:ornprehensif, karena pelayanan rehabi!itatif belum pernah dilaksanakan.. Utilisasi pelayanan kesehatan pekeJja paling tinggi di Puskesmas o!eh pekerja dan pengusaha adalah pelayanan kuratif, ditunjukkan dengan tingginya angka kunjungan pasien tahun 2007, pada gofongan umur 15 s/d 54 tahun 47.85%. Demand pengusaha dan peketia masih rendah. Demand pengusaha dipengaruhi oleh persepsi dan promosi, sedangkan demand pekerja dipengarohi oleh time cost, ke1engkapan pelayanan, dan pilihan tempat pelayanan. Peiayanan kesehatan rehabilitatif bagi pekerja belum berfungsi di Puskesmas Cileungsi. 3 fungsi pelayanan yang lain (promotif, preventif dan kuratif) masih belum optimal Tanggungjawab sasaran melebih sasaran yang harus dilayani dan tanggung jawab petugas dalam pe!ayanan kesehatan pek:erja dilaksanakan bersarnaan dengan tanggungjawab yang lain. Petugas Puskesmas masih perlu meningkatkan kemampuannya di bidang KJ, dana, sarana dan prasarana masih minim. Pelayanan Kesehatan Pekerjaan dapat diiaksanakan oleh Puskesmas dengan baik apabila tercipta kerjasama antara pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota serta perusahaan baik fonnal maupun informal.

Read More
T-2896
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azelytta Adriani; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Istiati Suraningsih
Abstrak: Perkembangan teknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas danproduktivitas dalam dunia usaha. Akan tetapi, perkembangan ini dapat berdampaknegatif apabila tidak sesuai dengan karakteristik dan kemampuan pekerja. Salahsatu risiko akibat ketidaksesuaian tersebut adalah Musculoskeletal Disorders(MSDs). Penelitian ini menilai postur pada pekerja di Sentra Industri TasPATRIA tahun 2013 yang bekerja dengan posisi duduk dengan jumlah responden20 orang. Faktor lain yang berkaitan dengan postur adalah durasi, frekuensi danbeban yang dinilai menggunakan RULA. Penilaian ini dilengkapi menggunakanQEC untuk mendapatkan skor per bagian tubuh. Penelitian ini juga menggambarkan karakteristik individu seperti usia, jenis kelamin, masa kerja,IMT, perilaku merokok, perilaku olahraga yang berkontribusi terhadap terjadinyaMSDs. Penelitian ini menilai keluhan MSDs menggunakan kuisioner NBM.Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan disain studi cross sectional.Hasil penelitian ini menunjukkan risiko MSDs sangat tinggi pada seluruh prosespembuatan tas dan agenda yaitu pemotongan, penempelan, penjahitan pola danfinishing. Keluhan terbanyak adalah pada bagian leher bagian atas (60%), bahu kanan, punggung dan pinggang (masing-masing 50%). Untuk itu diperlukan upaya pengendalian secara ergonomi berupa perbaikan disain tempat kerja dan administrasi seperti pembatasan jam kerja, penyuluhan cara bekerja yang ergonomi dengan melibatkan pemiliki usaha dan Puskesmas setempat serta melibatkan pekerja secara aktif untuk menurunkan tingkat risiko dan keluhan MSDs. Kata kunci :Beban Kerja, Durasi, Faktor Risiko Ergonomi, Frekuensi, Karakteristik Individu, Keluhan MSDs, NBM, Postur, RULA, QEC.
Technological development can help improve the effectiveness and productivity.However, these developments could have a negative impact if it is not inaccordance with the characteristics and capabilities of workers. One suchdiscrepancy is due to the risk of Musculoskeletal Disorders (MSDs). This studyassesses posture on workers in industrial centers PATRIA bag in 2013 working ina sitting position with the number of respondents 2013. Another factor is relatedto postir duration, frequency and workload was assessed using RULA. Thisassessment was completed with using the QEC to get a risk index score on thebody. This study also present the individual characteristics such as age, gender,years, body mass index, smoking and exercise behaviors that contribute to theoccurrence of MSDs. This assessment also assessed MSDs complaints using aquestionnaire NBM. This study is a descriptive observational cross-sectionalstudy design. the results of this study showed a very high risk of MSDs in thewhole process of bag making and agenda that is cutting, pasting, sewing andfinishing. Most complaints are on the upper neck (60%), right shoulder, back, andwaist (50%). for it, necessary control measures with improved ergonomic designand administrative work such as restrictions on hours of work, work ergonomicsextension method involving local business owners and health centers as well asactively involving workers ringkat to reduce the risk of MSDs and complaints.Keywords :workload, duration, frequency, ergonomic risk factors, individual characteristics,complaints MSDs, NBM, posture, RULA and QEC
Read More
S-8070
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanna Silvia Debora; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Temajaya, Rakhmi Savitri, Muhamad Dawaman
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang meningkatkan risiko terjadinya kematian pada penderita penyakit kardiovaskular. Prevalensi hipertensi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Saat ini, Puskesmas merupakan fokus utama pembangunan kesehatan di Indonesia dengan beban kerja yang meningkat dan sumber daya manusia yang belum memadai. Hipertensi pada pekerja Puskesmas akan mengganggu pelayanan dan kinerja Puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko hipertensi pada pekerja di Puskesmas DTP dan PONED Korwil X Kabupaten Bogor. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang. Pengumpulan data penelitian dilakukan menggunakan kuesioner daring pada Mei 2020 dengan 110 responden. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan, usia, jenis kelamin, riwayat penyakit keturunan, masa kerja, sistem kerja, aktifitas fisik/kebiasaan olahraga, kebiasaan merokok, kebiasaan konsumsi minuman berkafein, pengukuran kualitas tidur menggunakan Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI), dan pengukuran faktor psikososial menggunakan modifikasi Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III). Hasil dan Kesimpulan: Berdasarkan analisis regresi logistik ganda, kualitas tidur merupakan faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi paling dominan dengan OR sebesar 9,32, diikuti oleh usia dengan OR sebesar 7,36, setelah dikontrol oleh genetik, jenis kelamin, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, kepuasan kerja, stress kerja, dan masa kerja.

Hypertension is one of main risk factors of cardiovascular diseases which increase the death risk in people with cardiovascular diseases. The prevalence of hypertension in Indonesia is kept on increasing. Recently, Public Health Center is the main focus of Indonesian health development with increasing workload and limited human resources. Hypertension in Public Health Center’s workers will affect the service and performance of the Public Health Center. The aim of this study was to analyse the risk factors of hypertension among workers at Public Health Center in Region X of Bogor Regency. This was a cross-sectional study. The data collection was done through online questionnaires in May 2020 with 110 respondents. The data consist of secondary data of blood pressure, body height, and body weight, as well as age, gender, history of family disease, working experience, working system, exercise habit, smoking habit, daily caffeine intake, assessment of sleep quality using PSQI and assessment of psychosocial factors using modified COPSOQ III. Based on multiple logistic regression, sleep quality is the most dominant risk factors of hypertension (OR= 9,32), followed by age (OR= 7,36), after adjusted with genetic,gender, overweight, smoking habit, job satisfaction, work stress, and working experience.
Read More
T-5872
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdul Kadir; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Chandra Satrya, Hanny Harjulianti
Abstrak: Pekerja Batik Tulis Madura berisiko terkena keluhan Musculoscelatal Disorders, Khususnya Low Back Pain (LBP). Penelitian ini dilakukan untuk deteksi awal tingkat risiko ergonomi pada Pekerja Sentra Industri Batik Tulis Madura di Dusun Banyumas Desa Klampar Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan Madura Jawa Timur Tahun 2014. Dari 12 pekerja, 11 pekerja mengalami keluhan nyeri di bagian leher atas dan bawah, punggung, pergelangan tangan kanan, 10 pekerja mengalami keluhan nyeri di bagian bahu kanan. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian kualitatif dengan mengamati aktivitas pekerja penggambaran motif dan peletakan lilin, pewarnaan kain, pelukisan kain (labas), pelorotan, pencucian dan penjemuran, terindentifikasi pekerja memiliki hazard ergonomi, yaitu saat postur janggal, gerakan memutar, repetitive, dan postur kerja statis. Menggunakan metode REBA dan QEC, hasilnya mendapatkan aktivitas tingkat risiko sangat tinggi pada setiap proses pembuatan batik tulis Madura yaitu penggambaran motif dan peletakan lilin, pewarnaan, pelukisan (labas), pelorotan, pencucian, dan penjemuran. Tingkat risiko dapat diturunkan dengan upaya perbaikan pada peralatan kerja yaitu penyediaan alat kursi, penyangga kain, pengaturan tinggi tungku, drum, bak pewarnaan, dan bak pencucian. Kata kunci: Tingkat risiko ergonomi, Aktivitas Pekerja, Peralatan, REBA, QEC.
Read More
S-8589
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukmawati Adnan Putri; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Robiana Modjo, H. D. Hermanputra, H. Rahmat Fitriadi
Abstrak:

Tumpang tindih pekerjaan, tanggungjawab yang kompleks, ketidakpastian status, ketidakjelasan pengembangan karir, dan kurangnya keamanan kerja pada tenaga medis sebagai Kepala Puskesmas (jabatan struktural) yang diberi tanggungjawab sebagai Pelaksana Tugas. Antara tenaga medis jabatan struktural dan fungsional besar gaji, insentif atau tunjangan yang diterima setiap bulannya sama. Bahaya psikososial kerja merupakan bahaya yang berhubungan dengan faktor pekerjaan (job content) dapat meliputi beban kerja, rutinitas kerja, desain tugas, serta tata cara kerja dan alat yang digunakan. Sedangkan faktor lingkungan pekerjaan (job context) meliputi peran dalam organisasi, hubungan interpersonal, pengembangan karir, pengawasan dan penilaian atasan, serta suasana kerja. Bahaya ini secara langsung atau tidak berpengaruh terhadap kondisi kerja dan jiwa. Jika seseorang tidak dapat mempengaruhi bahaya ini dengan baik maka akan jatuh pada kondisi stres dan lambat laun akan mengalami gangguan yang berakibat keluhan baik pada diri individu maupun terhadap organisasi atau tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi bahaya psikososial kerja dan hubungannya dengan tingkat stres pada tenaga medis Puskesmas di Kota Pekanbaru. Desain penelitian ini dalam bentuk analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah seluruh tenaga medis Puskesmas yang berstatus Pegawai Negeri Sipil di Kota Pekanbaru yang berjumlah 67 orang. Pengukuran data menggunakan kuesioner berdasarkan Life Event Scale. Dalam menentukan tingkat bahaya psikososial kerja dan tingkat stres, jumlah skor dari seluruh indikator dihitung kemudian menghasilkan suatu nilai yang menentukan tingkat kategori. Analisa data dilakukan secara univariate dan bivariate dengan uji korelasi. Hasil penelitian didapatkan 11.1% tenaga medis jabatan fungsional mempunyai persepsi bahaya psikososial kerja faktor pekerjaan (job content) mempunyai proporsi lebih besar dalam menimbulkan stres dari pada jabatan struktural (0.0%). Sedangkan faktor lingkungan pekerjaan (job context) mempunyai proporsi lebih besar pada tenaga medis jabatan fungsional (17.9%) dari pada jabatan struktural (11.1%) dalam menimbulkan stres. Tenaga medis dengan jabatan struktural (31.3%) mempunyai proporsi lebih besar untuk mengalami stres dari pada jabatan fungsional (23.5%). Saran, Membuat usulan kepada Pemerintah Daerah untuk memberikan Surat Keputusan tentang kejelasan atau kepastian status dari Kepala Puskesmas berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 128 Tahun 2004 sehingga keamanan dalam bekerja dapat dicapai.


Overlapping work, complex responsibility, uncertainty or un-clarity of status and career development, lack of work`s security and safety on medical staff of Public Health Service Chairman (structural position) who had been given responsibility as Execution Staff. Between medical staff/personnel of functional and structural position employed, salary average, incentive or received subsidy per month are same. Work psychosocial hazard is hazards that related to work factors (job content) its might included work load, job`s daily activity, work design, and work procedures and work equipment applied. While work environmental factor (job context) covers the role in organization, the interpersonal relation, career development, observation and superior assessment, and work situation. These Hazards either directly or indirectly influence working and physical condition. If someone cannot control these hazards properly, he/she will be fall into stress condition and experience some disturbance that causing complaint on either the individual him self or organization or workplace. This research aimed to know work psychosocial hazard perception and its relationship with stress level at medical staff of Public Health Service in Pekanbaru City. This research design is in the form of descriptive analytical with cross sectional approach. Research sample is all off medical staff/personnel of Public Health Service who have status Civil Public Servant in Pekanbaru City are sixty seven persons. Data Measurement using questionnaire based on Life Event Scale. In determining level of work psychosocial hazard and stress level, number of scores from all indicators is being calculated then its result a value determining level of category. Data analysis conducted in univariate and bivariate with correlation test. Result of the research that is 11.1% medical staff of functional position has work psychosocial hazard perception, work factor has bigger proportion in generating stress than structural position (0.0%). While work environmental factor (job context) has bigger proportion than medical staff/personnel of functional position (17.9%) than structural position (11.1%) in generating stress. Medical staff with structural position (31.3%) has bigger proportion to experience stress than functional position (23.5%). The researcher suggest Local Government to give Decree about clarity or certainty of Public Health Center Chairman`s status based on Decree of The Minister for Public Health Number 128 Year 2004 until the security and safety in working are will be able to reach.

Read More
T-2810
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Hidayat; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Baiduri, Zaenal Arifien,
S-4912
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Sari Dewi; Pembimbing: Syahru Meizar Nasri; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Chandra Satrya, Agung Sundaru
Abstrak: Abstrak

Konsep pelayanan kesehatan kerja pada Puskesmas di kawasan industri dikembangkan berdasarkan SK Menkes No 128/Menkes/SK/II/2004. Puskesmas yang dalam wilayah kerjanya terdapat kawasan industri mempunyai tanggung jawab mengembangkan pelayanan kesehatan yang dilakukan dengan melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pekerja yaitu di Puskesmas sebagai tempat kerja yang memiliki risiko kesehatan dan keselamatan kerja bagi petugasnya. Selain itu Puskesmas di kawasan/sentra industri mempunyai tanggung jawab terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja di sektor formal maupun non formal.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan cakupan pemenuhan program pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas, sektor formal dan non formal dan melakukan analisa aspek input, proses dan output terhadap pemenuhan pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas Kabil Kota Batam tahun 2010-2012. Jenis penelitian ini adalah studi evaluasi yang menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan kualitatif untuk melihat pemenuhan dan tingkat keberhasilan pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja pada Puskesmas Kabil.

Hasil penelitian ini adalah bahwa kebijakan, sumber daya dan perencanaan program pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas Kabil masih kurang. Program pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas Kabil masih memfokuskan pada upaya kuratif untuk penegakan diagnosa, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan dari PAK/PAHK/KAK. Upaya promosi kesehatan kerja masih terbatas pada upaya sosialisasi dan SOP kesehatan kerja di lingkungan Puskesmas Kabil. Saran dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan komitmen, kebijakan, sumber daya dan perencanaan program pelayanan kesehatan kerja dan kerjasama lintas sektoral di Puskesmas Kawasan Industri.


The concept of occupational health services at the Community Health Center in the industrial area developed based on Menkes (Ministry of Health) Decree No. 128/Menkes/SK/II/2004. The Community Health Center in its working area there is an industrial area has the responsibility to develop health services performed by implementing health services to workers communities at the Community Health Center as a workplace that has a health and safety risks for officers. In addition Community Health Centers in the industrial area has the responsibility for the implementation of occupational health services in the formal and non-formal sectors.

This type of research is a study of evaluation using the method of content analysis with a qualitative approach to see the fulfillment and the rate of successful of occupational health services implementation at Kabil Community Health Center.

The results of this research is that the policies, resources and occupational health services program planning at Kabil Community Health Center is still lacking. The Occupational health services program in Kabil Community Health Center still focused on curative measures for the enforcement of diagnosis, medical examination and treatment from PAK/PAHK/KAK. The effort of occupational health promotion still limited to the socialization efforts and Standard Operating Procedures of occupational health in the area of Kabil Community Health Center. Suggestion of this research is the need for increase of commitment, policies, resources and program planning of occupational health services and cross-sectoral cooperation in the Community Health Center of Industrial Area.

 

Read More
T-3836
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akmalina Fadhilah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yoesi Nirmiyanto
Abstrak:
Distres adalah reaksi individu terhadap situasi yang timbul akibat interaksi yang terjadi antara individu dengan pekerjaan dan memiliki dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat distres dan faktor risiko pada tenaga kesehatan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pekerjaan, masa kerja, beban kerja, jadwal kerja, home-work interface, dan dukungan sosial. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Perceived Stress Scale untuk mengukur distres, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire untuk mengukur faktor risiko terkait pekerjaan dan variabel dukungan dari atasan dan rekan kerja, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support untuk mengukur dukungan sosial dari keluarga dan teman. Sebanyak 34,0% tenaga kesehatan mengalami stres ringan dan 66,0% tenaga kesehatan mengalami stres sedang. Berdasarkan uji bivariat yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dan jam kerja dengan tingkat distres pada tenaga kesehatan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen

Distress is an individual reaction to situations that occur due to interactions between the individual and work and has a negative impact. This study aims to describe the level of distress and risk factors in health workers at the Karangmalang Health Center, Sragen Regency in 2023. This study used a quantitative method with a cross-sectional study design. The variables studied were gender, age, marital status, education level, occupation, years of work, workload, work schedule, home-work interface, and social support. The study instruments used were the Perceived Stress Scale questionnaire to measure distress, the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire to measure job-related risk factors and support variables from superiors and coworkers, and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support to measure social support from family and friends. A total of 34.0% of health workers experienced mild stress and 66.0% of health workers experienced moderate stress. Based on the bivariate test done, it can be concluded that there is a relationship between workload and working hours with the level of distress in health workers at Karangmalang Health Center, Sragen Regency.
Read More
S-11290
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Chandra Satrya, Indri Hapsari Susilowati, Istiati Suraningsih, Ganjar Eko Prabowo
Abstrak:
Dari sudut pandang keselamatan dan kesehatan kerja kelelahan merupakan ancaman yang cukup signifikan. Kelelahah pada individu bersifat subjektif, namun pekerja belum tentu menyadari adanya kelelahan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kelelahan dan faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada perawat di puskesmas Kabupaten Sambas tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang menggunakan instumen kuesioner yang dilakukan secara daring dari Maret--Juni 2023. Total sampel 126 perawat yang bekerja di puskesmas Kabupaten Sambas. Hasil penelitian mendapatkan 30,2% perawat mengalami kelelahan. Hasil analisis bivariat faktor risiko di luar pekerjaan menunjukkan hubungan signifikan antara usia dan kelelahan (p value 0,016, OR 0.357), status pernikahan dan kelelahan ((p value 0,048, OR 0,351), kualitas tidur dan kelelahan (p value 0,005, OR 6,026). Hasil analisis bivariat faktor risiko pekerjaan menunjukkan hubungan signifikan antara stes kerja dan kelelahan (p value 0,001, OR 6,763). Hasil penelitian menyarankan perawat untuk bisa melakukan manajemen waktu dengan lebih baik dan lebih memperhatikan untuk berpola hidup sehat. Selain itu manajemen juga berperan penting dalam mengembangkan strategi dan kebijakan untuk mengurangi kelelahan di tempat kerja. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menggali lebih banyak faktor risiko dan menentukan faktor risiko dominan dengan menggunakan metode penelitian berbeda.

From health and safety perspective, fatigue is a significant concern. Fatigue is a subjective feeling and workers isn’t always aware of it, so it’s important for managers to recognize and prevent fatigue at the early stage. This study aimed to describe fatigue and risk factors associated with fatigue on puskesmas nurses at districk of Sambas 2023. This research is quantitative study with cross-sectional design using questionnaire which was conducted online from March to June 2023. A Total sample was 126 nurses who worked in puskesmas at districk of Sambas. The results showed that 30.2% of nurses experienced fatigue. Bivariate results of non-work related risk factors showed a significant relationship between age and fatigue (p value 0,016, OR 0.357), marital satus and fatigue (p value 0,048, OR 0,351), sleep quality and fatigue (p value 0,005, OR 6,026). Bivariate results of work related risk factors showed a significant relationship between work stress and fatigue (p value 0,001, OR 6,763). The results of this study suggest nurses to have better time management and pay more attention to a healthy lifestyle. In addition, management plays an important role for developing targeted strategies and policies to reduce fatigue in the workplace. Further research is needed to explore more risk factors and determine the dominant risk factors using different research methods
Read More
T-6654
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Minerva Nurwahyu Al Imani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Andi Irwansyah
Abstrak:
Ketersedian dan kualitas air bersih memainkan peran penting dalam kehidupan dan kualitas hidup manusia. PT YZ membangun Water treatment Plant (WTP) untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan perindustrian di Kabupaten Bintan. Penilaian risiko pada proses penjernihan air di WTP PT YZ masih terintegrasi dengan beberapa plant lain di dalam satu departemen yang sama dengan WTP yaitu departemen estate. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada proses penjernihan air di area WTP PT YZ secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif observasional dengan metode analisis semi-kuantitatif. Hasil penelitian ditemukan terdapat 34 bahaya dengan 63 risiko pada proses penjernihan air di WTP. Tingkat risiko didapatkan 2 risiko sangat tinggi, 11 risiko tinggi, dan 50 risiko sedang. Pengendalian risiko dilibatkan dalam penilaian risiko sehingga nilai risiko dapat diturunkan berdasarkan pengendalian K3 yang dilakukan oleh perusahaan dan rekomendasi pengendalian K3 tambahan yang diberikan peneliti.

The availability and quality of clean water play a crucial role in human life and quality of life. PT YZ built a Water Treatment Plant (WTP) to meet the clean water needs in the industrial area of Bintan Regency. The risk assessment of the water purification process in PT YZ's WTP is still integrated with several other plants within the same department as the WTP, namely the estate department. This study aims to comprehensively identify hazard and assess occupational health and safety risks in the water purification process at PT YZ's WTP. This study uses a descriptive observational study design with a semi-quantitative analysis method. The research findings identified 34 hazards with 63 risks in the water purification process at the WTP. The risk levels were found to be 2 very high risks, 11 high risks, and 50 medium risks. Risk control is involved in the risk assessment so that risk values can be reduced based on the occupational health and safety controls implemented by the company and additional control recommendations provided by the researchers.
Read More
S-11611
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive