Ditemukan 31186 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Helwiah Umniyati; Promotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Endang L. Achadi, Siti Muslimatun; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Kusharisupeni, Abas Basuni Jahari, Ratna Djuwita
D-227
Depok : FKM-UI, 2009
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sunawang; Pembimbing: Budi Utomo, Endang L. Achadi; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Adi Hidayat, Kusharisupeni, Purnawan Junadi, Idrus Yus'at
D-101
Depok : FKM-UI, 2005
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erna Mutiara; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Endang L. Achadi, Adi Hidayat; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Farid Anfasa Moeloek, Sudijanto Kamso, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
D-191
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Soenarjo Soejoso; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Ko-Promotor: Ruliana Suradi, Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudijanto Kamso, F.A. Moeloek, Kusharisupeni, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
D-261
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Terry Yuliana Rahadian Pristya; Promotor: Besral; Kopromotor: Dede Anwar Musadad; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Tri Yunis Miko Wahyono, Tris Eryando, Atmarita, Nur Asniati Djaali
Abstrak:
Komplikasi persalinan merupakan penyebab langsung kematian ibu. Berat badan lahir rendah (BBLR) terus menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Kunjungan antenatal menjadi faktor penting terjadinya komplikasi persalinan dan BBLR. Penelitian kunjungan antenatal, komplikasi persalinan, dan BBLR banyak dilakukan dengan beragam metode statistik. Tujuan penelitian menghasilkan evidence based recommendation kepada pemegang program berdasarkan perbandingan hasil analisis tiga alternatif pilihan metode statistik tentang pengaruh kunjungan antenatal terhadap komplikasi persalinan dan BBLR. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sumber data berasal dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian sebagian wanita usia subur berusia 15-49 tahun yang melahirkan anak terakhir dalam 5 tahun terakhir sebanyak 12.035 responden. Variabel dependen: komplikasi persalinan dan BBLR, variabel independen: kunjungan antenatal, variabel potensial confounder: status ekonomi, tempat tinggal, pendidikan, status pernikahan, status merokok, jarak kelahiran, kunjungan antenatal pertama, kunjungan antenatal terakhir, petugas pemeriksa antenatal, tempat antenatal, paritas, usia ibu, dan jenis kelamin bayi. Analisis data menggunakan regresi logistik, cox, dan poisson dengan varians robust. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi komplikasi persalinan (47,40%) dan BBLR (6,56%). Kunjungan antenatal terbukti secara statistik berpengaruh terhadap komplikasi persalinan dan BBLR di Indonesia. Wanita yang melakukan kunjungan antenatal
Childbirth complications are a direct cause of maternal death. Low birth weight (LBW) continues to be a global public health problem. The antenatal care visits is an important factor in occurrence of birth complications and LBW. Research on the frequency of antenatal visits, birth complications, and LBW has been carried out using various statistical methods. The purpose of the study is to produce evidence-based recommendations for the program based on a comparison of the results of the analysis of three alternative statistical methods for Indonesia regarding the influence of the of antenatal visits on birth complications and LBW. This study is a quantitative study with a cross-sectional study design. The data comes from the 2017 Indonesian Demographic Health Survey (IDHS). The sample of this study included 12,035 respondents of women of childbearing aged 15-49 years who gave birth to their last child in the last 5 years. Dependent variables: birth complications and LBW, independent variables: frequency of antenatal care, potential confounder variables: economic status, geographic area, place of residence, education, marital status, smoking status, birth spacing, first antenatal visit, last antenatal visit, antenatal care provider, place an antenatal care, birth order, parity, maternal age, and baby’s sex. Data analysis uses logistic regression, Cox, and Poisson regression with robust variance. The results showed that the prevalence of birth complications (47.40%) and LBW (6.56%). The antenatal care visits had been statistically proven to influence childbirth complications and LBW in Indonesia. Women who had
Read More
Childbirth complications are a direct cause of maternal death. Low birth weight (LBW) continues to be a global public health problem. The antenatal care visits is an important factor in occurrence of birth complications and LBW. Research on the frequency of antenatal visits, birth complications, and LBW has been carried out using various statistical methods. The purpose of the study is to produce evidence-based recommendations for the program based on a comparison of the results of the analysis of three alternative statistical methods for Indonesia regarding the influence of the of antenatal visits on birth complications and LBW. This study is a quantitative study with a cross-sectional study design. The data comes from the 2017 Indonesian Demographic Health Survey (IDHS). The sample of this study included 12,035 respondents of women of childbearing aged 15-49 years who gave birth to their last child in the last 5 years. Dependent variables: birth complications and LBW, independent variables: frequency of antenatal care, potential confounder variables: economic status, geographic area, place of residence, education, marital status, smoking status, birth spacing, first antenatal visit, last antenatal visit, antenatal care provider, place an antenatal care, birth order, parity, maternal age, and baby’s sex. Data analysis uses logistic regression, Cox, and Poisson regression with robust variance. The results showed that the prevalence of birth complications (47.40%) and LBW (6.56%). The antenatal care visits had been statistically proven to influence childbirth complications and LBW in Indonesia. Women who had
D-518
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lisa Trina Arlym; Promotor: Endang L. Achadi; Kopromotor: Dwiana Ocviyanti, Yekti Widodo; Penguji: Besral, Kusharisupeni, Evi Martha, Anies Irawati, Indra Supradewi
Abstrak:
Berat dan panjang badan lahir mencerminkan pertumbuhan janin. ANC yang berkualitas dan frekuensi kunjungan ANC yang memadai merupakan salah satu cara untuk mendeteksi dan intervensi gangguan pertumbuhan janin. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kepatuhan bidan dan ibu hamil dalam program ANC terhadap berat dan panjang badan lahir. Metode penelitian adalah mixed method dengan pendekatan potong lintang. Tahap kuantitatif menggunakan data sekunder dari studi kohor tumbuh kembang anak tahun 2012-2018 di Kota Bogor. Tahap kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan bidan melakukan standar 5T (timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, pemeriksaan Hb dan pemberian tablet tambah darah) sebesar 76,3% pada semua kunjungan dan 72,1% sesuai program (K1-K4). Kepatuhan bidan berpengaruh terhadap panjang badan lahir (p=0,04) dengan RR 1,5 dan kepatuhan ibu hamil berpengaruh terhadap berat badan lahir (p=0,047) dengan RR 1,6. Bidan dan ibu hamil patuh menghasilkan berat badan lahir lebih berat 93,51 gram (p=0,045) dan panjang badan lahir lebih panjang 0,46 cm (p=0,007) dibandingkan salah satu saja yang patuh. Bidan dan ibu patuh menghasilkan berat badan lahir lebih berat 166,1 gram (p=0,006) dan panjang badan lahir lebih panjang 0,54 cm (p=0,064) dibandingkan keduanya tidak patuh. Sebaiknya kepatuhan tidak hanya dari pihak ibu hamil tetapi juga dari bidan
Read More
D-454
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fathul Jannah; Promotor: L Endang Achadi; Kopromotor: Faisal Yunus, Elvina Karyadi; Penguji: Kusharisupeni, Anhari Achadi, Besral, Hartono Gunardi, Adi Hidayat, Sri Wuryanti
Abstrak:
ABSTRAK Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) di Indonesia masih menempati urutan ke-3 di dunia. Anak dengan tuberkulosis umumnya mengalami defisiensi zinc dan vitamin A. Defisiensi zinc dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh dan mengganggu sintesis retinol binding protein sehingga dapat menghambat proses penyembuhan TB. Penambahan zinc dan vitamin A dapat membantu meningkatkan respon kekebalan tubuh pada penderita TB. Tujuan: Membuktikan pengaruh suplementasi zinc dan vitamin A dalam meningkatkan status gizi dan perbaikan gejala klinis pada anak usia 5-10 tahun dengan tuberkulosis paru. Disain: Penelitian adalah kuasi eksperimen dengan pre post design dengan kontrol. Sebanyak 84 anak yang telah diseleksi dan terdiagnosis TB Paru yang berada di empat wilayah Puskesmas Kecamatan di Jakarta Pusat diambil menjadi subyek penelitian. Kelompok perlakuan dibagi secara acak menjadi dua kelompok yakni kelompok I yang mendapatkan Obat anti Tuberkulosis Standar DOTS dan suplemen (berisi 20 mg zinc elemental dan vitamin A asetat 1500 IU) dan kelompok II yang hanya mendapatkan OAT saja. Obat dan suplemen diminum setiap hari selama pengobatan TB. Respon kesembuhan dapat diukur dari membaiknya gejala klinis dan status gizi dibandingkan pada saat awal sebelum pengobatan. Analisis untuk melihat perbedaan dua kelompok menggunakan uji T-Test. Gejala klinis diukur dengan chi-square. Hasil: 84 Subyek terdiri atas kelompok intervensi (n=38) dan kelompok kontrol (n=46). Pada fase inisial (bulan ke dua) perubahan nilai zinc, retinol dan IMT-U pada kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, grup I dengan nilai p=0,087; p=0,002; p=0,449 berturut-turut. Perubahan kadar albumin dan hemoglobin kelompok kontrol lebih tinggi dibanding kelompok intervensi denan nilai p=0,000; p=0,142. Pada bulan ke enam terjadi kenaikan pada retinol, hemoglobin, IMT-U, kelompok intervensi lebih tinggi dari kelompok kontrol dengan p=0,879; p=0,142; p= 0,216. Perubahan kadar albumin lebih tinggi pada kelompok kontrol p=0,005. Kadar zinc mengalami penurunan pada kedua kelompok p=0,153. Perbaikan gejala klinis lebih cepat terjadi pada kelompok intervensi dan bermakna secara klinis namun tidak bermakna secara statisik. Simpulan: Pemberian suplemen disarankan pada anak TB yang mendapat OAT hingga bulan ke dua, karena dapat meningkatkan status gizi dan perbaikan gejala klinis.
ABSTRACT Background: Indonesia is the 3rd in the world on Tuberculosis (TB). Most children with tuberculosis commonly have zinc and vitamin A deficiency. Zinc deficiency caused immune system disorders and disturb the synthesis of retinol binding protein, it inhibited the healing process of TB. Supplementation of zinc and vitamin A helped to improve the immune response in TB patients. Objective: To prove the effect of zinc and vitamin A supplementation in improving the clinical symptoms and nutritional status in children 5-10 years of tuberculosis. Design: This study was quasi experimental, was conducted in a pre post design. A total of 84 children who were selected and diagnosed with pulmonary TB in the four districts of the Public Health Center in Central Jakarta were invited as research subjects. Subjects were divided into two groups. Group I received the standard DOTS ATT and supplement (containing 20 mg zinc element, as a zinc sulfate and acetate vitamin A 1500 IU), while group II only received ATT. These drugs and supplements are taken daily during TB treatment. The recovery response can be measured by observing the improvement in clinical symptoms and nutritional status compared to the time before treatment. The analysis used to see the differences between the two groups is the T-Test. Clinical symptoms are measured by chi-square. Results: There are 84 subjects taken in the intervention group (n = 38) and the control group (n = 46). In intensive phase, delta of zinc, retinol, BMI/A on intervention group was higher than control ( p=0,087; =0,002; =0,449, respectively). Delta albumin and Hb were higher ol control than intervention (p=0,000; =0,142). On the 6th mo, delta of retinol, Hb increased higher than control (p=0,879; =0,142; =0,216, respectively). But zinc level decreased on both groups (p=0,153). Clinical symptoms provide good results and are clinically meaningful but not significant. Conclusion: Supplementation was valueable with ATT treatment up to two months due to it could improve nutritional status and clinical symptoms.
Read More
ABSTRACT
D-397
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandra Fikawati; Promotor: Kusharisupeni; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Ratna Djuwita; Penguji: Purnawan Junadi, Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Nani Dharmasetiawani
D-285
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Endang Purwaningsih; Pembimbing: Bambang Sutrisna
D-69
Depok : FKM-UI, 2001
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eviana Sumarti Tambunan; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Ella Nurlaela Hadi, Yeni Rustina; Penguji: Asri C Adisasmista, Sutanto Priyo Hastono, Nani Dharmasetyawani, Setyadewi Lusyati, Ade Iva Wicaksono
Abstrak:
Pendidikan kesehatan pada ibu dapat meningkatkan praktik perawatan bayi berat lahir rendah (BBLR), namun kemampuan ibu untuk melakukan praktik perawatan BBLR di rumah belum banyak digali. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh paket pendidikan kesehatan pada ibu terhadap praktik perawatan BBLR di Jakarta Pusat. Penelitian dilakukan terhadap 159 ibu dengan BBLR yang bayinya dinyatakan boleh pulang dari ruang Perinatologi dengan pendekatan quasi eksperimen (78 ibu kelompok intervensi dan 81 ibu kelompok kontrol) dan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling. Ibu dengan BBLR yang berdomisili di wilayah intervensi mendapatkan paket pendidikan kesehatan yang diberikan oleh perawat puskesmas. Paket pendidikan kesehatan terdiri dari penyuluhan tentang perawatan BBLR, yang diberikan pada 3-5 hari setelah BBLR keluar RS dan pendampingan pada ibu dan keluarga pada minggu ke-2 dan ke-6 setelah penyuluhan atau pengukuran awal. Ibu yang berdomisili di wilayah kontrol mendapatkan booklet tentang perawatan BBLR. Kedua kelompok dilakukan pengukuran dengan waktu yang sama sebanyak 4x yaitu 3 hari setelah keluar RS, 2, 6 dan 12 minggu setelah penyuluhan atau pengukuran awal. Pengumpulan data kualitatif juga dilakukan untuk melengkapi informasi yang diperlukan setelah mendapatkan gambaran hasil kuantitaif. Analisis multvariat dilakukan dengan Regresi Linier Ganda General Estimating Equation (GEE). Hasil memperlihatkan pemberian paket pendidikan kesehatan pada ibu dengan BBLR memberikan efek peningkatan praktik ibu dalam perawatan BBLR sebesar 25,19%. Praktik perawatan BBLR pada ibu di kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol pada setiap waktu pengukuran (p=0,000). Variabel sikap dan dukungan kader kesehatan yang dilatih merupakan konfonder yang mempengaruhi hubungan pendidikan kesehatan terhadap praktik ibu dalam perawatan BBLR. Kesimpulan: Pemberian paket pendidikan kesehatan yang dilakukan berkelanjutan selama 6 minggu berdampak efektif terhadap peningkatan praktik perawatan BBLR di rumah dan terhadap peningkatan status kesehatan bayi. Paket pendidikan kesehatan dapat dikembangkan di komunitas dengan melibatkan kader kesehatan untuk memberikan pendampingan pada ibu dengan BBLR diwilayahnya. Pelatihan ataupun sosialisasi tentang perawatan BBLR perlu diberikan pada tenaga kesehatan puskesmas dan kader kesehatan, sehingga dapat melakukan pendampingan secara tepat pada ibu dengan BBLR.
Health education for mothers can improve low birth weight (LBW) infant care practices. Yet, the ability of mothers to exercise LBW infant care at home has not been much explored. This study aims to assess the effect of health education packages on mothers towards LBW infant care practices in Central Jakarta. The study was conducted on 159 LBW mothers whose babies were permitted to return from the perinatology room with a quasi-experimental approach (78 mothers in the intervention group and 81 mothers in the control group). The sampling technique of this study was consecutive sampling. LBW mothers who were domiciled in the intervention areas received health education packages provided by nurses in health centers. The health education package consisted of counseling on LBW care given in 3-5 days after LBW infant out of the hospital and mentoring for mothers and families at the 2nd and 6th weeks after counseling or initial measuring. Mothers who lived in the control area received a booklet on LBW infant care. The two groups were measured with the same time as much as 4 times, which was 3 days after leaving the hospital, 2, 6 and 12 weeks after counseling or the initial measurements. Qualitative data collection were also done to complete the information needed after getting a picture of the quantitative results. Multivariate analysis was carried out with Multiple Linear Regression General Estimating Equation (GEE). The results showed the provision of health education packages to mothers with LBW have an effect to increase the practice of mothers in LBW infant care by 25.19%. The practice of LBW infant care among mothers in intervention group were higher than those in control groups at each measurement (p = 0,000). The attitude and support of trained health cadres variable are confounders that influence the relationship of health education to the practice of mothers in LBW care. Conclusion: The provision of health education packages carried out continuously for 6 weeks has an effective impact on improving the practice of LBW infant care at home and has an impact on improving the health status of infants. Community-based health education packages developed by involving health cadres to provide assistance to mothers with LBW infant in their area. Training or socialization of LBW infant care to be given to health center workers and cadres, so they could provide appropriate assistance to LBW mothers.
Read More
D-402
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
