Ditemukan 34897 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Teguh Agus Santoso; Pembimbing: Izhar Muhammad Fihir; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Amal C. Sjaaf, Santoso Soeroso, Sugma Agung Purbowo
Abstrak:
Read More
Salah satu program manajemen risiko di rumah sakit yang sedang tren dalam rangka peningkatan mutu adalah Program Keselamatan Pasien (Patienf Safey). Kesadaran safety tentang faktor manusia pada industri rumah sakit mulai banyak menjadi perhatian. Perhatian tersebut tidak hanya dari pemerintah namun juga sektor swasta dan beberapa badan akreditasi mutu yang independen. Setiap sistem pelaporan keselamatan pasien di setiap organisasi memiliki taksonomi baik secara implisit maupun eksplisit. Peneliti mengkaji taksonomi dari Badan Kesehatan WHO (World Health Organization), Badan Akreditasi JCAHO (Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization), dan KKPRS-Persi (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Pehimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) terutama taksonomi tentang medical error. Dengan mengetahui bentuk-bentuk taksonomi tersebut, peneliti membual taksonomi yang baru untuk RS XYZ, dengan tujuan memudahkan Para Pembuat Kebijakan RS XYZ melakukan mitigasi. Setelah dilakukan wawancara mendalam dan studi kasus kepada Para Pengambil Kebijakan, taksonomi medical error yang ditawarkan oleh peneliti disetujui untuk dilakukan penerapan. Dan penelitian ini menyimpulkan bahwa taksonomi medical error yang baru berdasarkan framework James Reason untuk RS XYZ secara umum bisa mempermudah analisis dan mengambil tindakan. Peneliti pun mcnyarankan perlunya dukungan dari Pemerintah dalam hal ini Departemcn Kesehatan untuk penerapan taksonomi medical error di rumah sakit di Indonesia.
One of risk management program in hospital that in-trend for quality improving is Patient Safety. Safety awareness especialb/ human factor awareness is in attention in healthcare industry. The attention is not only from Government but also from private sector and independent accreditation bony. All patient safety reporting system in every orgameation has taxonomy jar implicit or explicit. Researcher assess the taxonomy from World Health Organization, Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization, and from National Patient Sakty Committee KKPRS-Persi Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Pehimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) especialbt in medical error taxonomy. In knowing the taxonomiesjbrm, taxonomy model was made jbrXYZ Hospital with goal jbr making mitigation easibi by the XYZ Hospital Policy Maker. The methodology is in-depth interview and qualitative case stua§/ to the policy maker; and the result is medical error taxonomy that it is proposed have been agreed by policy maker to implement. And this research concluded the new medical error taxonomy that based on James Reason framework can make anabze easibt to mitigation. Researcher also suggest to government especiality Department of Health for medical error taxonomy implementation in hospital in Indonesia.
T-3136
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ifan Iswara; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Yuni Kusminanti
S-6991
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Widi Sovianty Silviani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Tri Widowati
S-6877
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chyntia Ayu Andarini; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Abdul Kadir, Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko, Septyani Prihatiningsih
Abstrak:
Read More
Human error pada proses penyortiran parsel manual merupakan kontributor signifikan terhadap kejadian misroute dalam operasional logistik, yang secara langsung memengaruhi efisiensi operasional dan kualitas layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keandalan manusia (human reliability) pada proses penyortiran manual di PT. XYZ menggunakan metode Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) yang diintegrasikan dengan model SHELL. Penelitian observasional dengan desain studi sebelum dan sesudah (before–after study) serta analisis komparatif pada dua kondisi: sebelum perbaikan proses manual sorting (18 sub-tugas, tanpa pemindaian wajib) dan sesudah perbaikan proses manual sorting (23 sub-tugas, dengan pemindaian wajib). Metodologi mencakup Hierarchical Task Analysis (HTA), identifikasi Error Producing Conditions (EPC) berbasis SHELL, klasifikasi Generic Task Type (GTT), penilaian Assessed Proportion of Effect (APOE) melalui Focus Group Discussion Subject Matter Expert yang melibatkan empat ahli, perhitungan Assessed Effect (AE), dan perhitungan Human Error Probability (HEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata HEP menurun dari 0,142 menjadi 0,044 (penurunan sebesar 69,1%), sementara HEP tertinggi menurun dari 0,72 menjadi 0,160 (penurunan sebesar 77,8%). Misroute terkait penyortiran yang disebabkan oleh human error menurun dari 761 kasus (53,4%) menjadi 330 kasus (19,6%), atau turun sebesar 56,6%. Namun di sisi lain, proporsi misroute yang disebabkan oleh faktor sistem justru meningkat, yang mengindikasikan bahwa faktor kontributor bergeser dari human error menuju kesalahan sistem; sehingga peningkatan keandalan sistem tetap diperlukan untuk menjaga kinerja operasional secara keseluruhan. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan proses manual sorting, termasuk penerapan pemindaian wajib, secara substansial meningkatkan keandalan manusia, sekaligus menegaskan perlunya penguatan keandalan sistem secara berkelanjutan. Integrasi metode HEART dengan model SHELL terbukti efektif dalam mengidentifikasi faktor kontributor sistemik dan mengukur probabilitas human error, sehingga menjadi dasar dalam merancang intervensi pengurangan error yang tepat sasaran.
Human error in manual parcel sorting is a significant contributor to misrouting in logistics operations, directly affecting operational efficiency and service quality. This study aims to assess human reliability in the manual sorting process at PT. XYZ using the Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) integrated with the SHELL model. The research employed an observational before-after study design across two conditions: before the manual sorting process improvement (18 sub-tasks, without mandatory scanning) and after the manual sorting process improvement (23 sub-tasks, with mandatory scanning). The methodology comprised Hierarchical Task Analysis (HTA), SHELL-based Error Producing Conditions (EPC) identification, Generic Task Type (GTT) classification, fuzzy Assessed Proportion of Effect (APOE) scoring through a Subject Matter Expert Focus Group Discussion involving four experts, Assessed Effect (AE) computation, and Human Error Probability (HEP) calculation. The results showed that the mean HEP decreased from 0.142 to 0.044 (a reduction of 69.1%), while the highest HEP declined from 0.72 to 0.160 (a reduction of 77.8%). Sorting-related misrouting attributable to human error fell from 761 cases (53.4%) to 330 cases (19.6%), a reduction of 56.6%. Nevertheless, the proportion of misrouting attributable to system-related causes increased, indicating that the contributing factors shifted from human error toward system failures; thus, improving system reliability remains necessary to sustain overall operational performance. These findings indicate that the manual sorting process improvement, including the implementation of mandatory scanning, substantially enhanced human reliability, while underscoring the continued need to strengthen system reliability. The integration of the HEART method with the SHELL model proved effective in identifying systemic contributing factors and quantifying human error probability, providing a basis for designing targeted error-reduction interventions.
T-7675
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gama Widyaputra; Promotor: Fatma Lestari; Ko Promotor: Zulkifli Djunaidi, Mila Tejamaya; Penguji: Robiana Modjo, Mirza Mahendra, Kusnedi Soeharjo, Waluyo
Abstrak:
Read More
Truk tangki PT XYZ yang beroperasi di seluruh nusantara, merupakan angkutan Bahan Berbahaya dan Beracun atau Hazardous material yang memiliki risiko kecelakaan dan dampak terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan angka rasio dan permodelan kecelakaan truk tangki serta dampaknya terhadap lingkungan, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian, menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data sekunder kuantitatif dan kualitatif. Analisis data menggunakan metode Root Cause Analisys untuk mendapatkan faktor risiko penyebab kecelakaan truk tangki yang terdiri dari faktor manusia, teknis, kesisteman, prasarana, dan eksternal, analisis tindakan halangan (barrier) berupa intervensi dan mitigasi, analisis dampak dari kecelakaan berupa konsekuensi dan eskalasi, serta Road Accident Rate (RAR) untuk menghitung rasio dengan rumus jumlah kecelakaan dibagi dengan jarak tempuh. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kejadian puncak (top event) PT XYZ dari tahun 2014 sampai tahun 2017 berjumlah 612 kejadian, terdiri dari tabrakan sebesar 70,10%, keluar jalur 20,59%, terguling 5,88% dan kebakaran 3,43%. Subfaktor risiko yang signifikan sebagai penyebab kecelakaan adalah kesalahan pihak lain (faktor eksternal) dan kesalahan manusia (faktor manusia). Kedua subfaktor penyebab kecelakaan tersebut independen dan tidak berinteraksi satu dengan lainnya. Terdapat pengaruh bermakna intervensi pada skor Sistim Manajemen Keselamatan Transportasi Darat (SMKTD), dan angka RAR. Mitigasi terhadap kejadian puncak dapat mengurangi dampak truk tangki tidak dapat beroperasi, api gagal dipadamkan, serta gangguan penyaluran bahan Bakar Minyak (BBM) ke konsumen. Kegagalan mitigasi menyebabkan eskalasi dampak terhadap truk tangki antara lain: rusak, terguling, kebakaran habis, terjadi tumpahan BBM, kerugian pihak ketiga, ledakan dan masuk jurang, korban luka berat dan korban meninggal dunia. Kejadian puncak yang direspon sebesar 97,70% dengan tingkat keberhasilan 29,15%. Penelitian menghasilkan dua permodelan yaitu permodelan risiko kecelakaan pada transportasi truk tanki pengankut BBM di PT XYZ yang menggambarkan kejadian sejak ada bahaya, intervensi, kejadian puncak, mitigasi dan konsekuensi serta eskalasi dan permodelan kejadian puncak RAR truk tangki tahun 2014- 2017 dengan menggunakan Analisis statistik multivariate. Diperoleh rumus konstanta sebesar -1,632 + (0,844 x subfaktor kesalahan pihak lain) + (0,495 x subfaktor kesalahan manusia). Secara keseluruhan permodelan kejadian puncak menunjukan penurunanan kecelakaan karena nilai konstanta yang negatif dan subfaktor pengali dibawah angka satu. Selanjutnya prediksi angka RAR 5 tahun ke depan (tahun 2018 s/d 2022), dihitung menggunakan regresi linier dengan tahun kejadian sebagai variabel independen, diperoleh akurasi prediksi sebesar 75,88% pada tahun 2018 dan 76,67% pada tahun 2019. Kesimpulan dari penelitian ini adalah RAR merupakan angka frekuensi yang dipengaruhi oleh beberapa risiko, yaitu faktor: manusia, teknis, kesisteman, prasarana, dan eksternal. Faktor risiko yang berpengaruh bermakna adalah faktor eksternal dan manusia. Hasil penelitian menyarankan untuk menurunkan angka kecelakaan, perusahaan PT XYZ dan pengelola fleet management perlu melakukan program komprehensif berupa intervensi dan mitigasi serta internalisasi, dan keterlibatan berbagai pihak diperlukan antara lain Badan otoritas dan aparat penegak hukum lalu lintas jalan raya dalam kegiatan terstruktur antara lain membuat peraturan khusus kendaraan dan jalur angkutan hazmat, membangun tim penanggulangan hazmat, melakukan kampanye berskala nasional mengenai keselamatan angkutan hazmat yang di kombinasikan ix Universitas Indonesia dengan pengawasan dan penegakan hukum yang tegas serta tidak pandang bulu dalam membangun budaya tertib berlalu lintas.
D-432
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Turmuzi Nur; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Qanita Fauzia
Abstrak:
Read More
Pelayanan kesehatan adalah sektor yang paling terdampak oleh situasi pandemi COVID-19 dan tenaga kesehatan merupakan salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular COVID-19. Pengendalian bahaya COVID-19 di Rumah Sakit merupakan upaya penting dalam melindungi tenaga kesehatan dari risiko infeksi COVID-19. RSUP Dr Kariadi merupakan Rumah Sakit Rujukan lini 1 (satu) penanganan COVID-19 yang ada di Jawa Tengah. Kejadian pandemi COVID-19 telah memberikan banyak pembelajaran berharga bagi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang pengendalian bahaya COVID-19 untuk tenaga kesehatan di RSUP Dr Kariadi Semarang tahun 2021. Sasaran penelitian ini adalah pihak-pihak yang terlibat dalam program pencegahan dan pengendalian COVID-19 di RSUP Dr Kariadi. Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif ini menggunakan data primer yang berasal dari wawancara mendalam dan data sekunder yang berasal dari telaah dokumen, observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan upaya pengendalian yang dilakukan di RSUP Dr Kariadi berupa upaya pengendalian teknik, pengendalian administrasi, pengendalian alat pelindung diri dan vaksinasi COVID-19 pada tenaga kesehatan. Dari upaya pengendalian teknik dan pengendalian administrasi didapat bahwa belum tercapainya efektivitas penerapan beberapa program. Serta telah tercapainya efektivitas pengendalian APD dan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 pada tenaga kesehatan. Dukungan manajemen dan respon dalam menangangi kejadian pandemi COVID-19 menjadi hal yang utama. Lalu ketaatan dalam menjalankan protokol kesehatan menjadi upaya penting dalam mencegah dan mengendalikan COVID-19 diantar tenaga kesehatan dan pasien.
Health care is the sector most affected by the COVID-19 pandemic situation and health workers are one of the populations at high risk of contracting COVID-19. Controlling the dangers of COVID-19 in hospitals is an important effort in protecting health workers from the risk of COVID-19 infection. Dr. Kariadi General Hospital is a line 1 (one) referral hospital for handling COVID-19 in Central Java. The COVID-19 pandemic has provided many valuable lessons for hospitals. This study aims to analyze the control of COVID-19 hazards for health workers at Dr Kariadi Hospital Semarang in 2021. The targets of this study are the parties involved in the COVID-19 prevention and control program at Dr Kariadi General Hospital. This qualitative research with a descriptive case study design uses primary data derived from in-depth interviews and secondary data derived from document review, observation and literature study. The results showed that the control efforts carried out at Dr. Kariadi Hospital were in the form of technical control, administrative control, control of personal protective equipment and COVID-19 vaccination for health workers. From the efforts of technical control and administrative control, it is found that the effectiveness of implementing several programs has not been achieved. As well as achieving the effectiveness of PPE control and the implementation of COVID-19 vaccination for health workers. Management support and response in handling the COVID-19 pandemic event are the main things. Then obedience in carrying out health protocols is an important effort in preventing and controlling COVID-19 among health workers and patients.
T-6788
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu Rini Agustin; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Wenny Ipmawan
Abstrak:
Penelitianini tentang health risk assessment pada kegiatan produksi yang dilakukan di area Stasiun Pengumpul A (SP A) dan Stasiun Pengumpul Utama B (SPUB) PT X tahun 2014. Penilaian risiko kesehatan dilakukan dengan dengan menganalisis nilai potensi dari bahaya yang ada (P), Frekuensi pajanan (F), Durasi (D), Risiko Awal (RA), Upaya Perlindungan (UP) dan Risiko Risidual (RR) untuk mengetahui level risiko kesehatan yang ada pada setiap kegiatan kerja. metode penelitian ini adalah semikuantitatif dengan melakukan observasi dan pengumpulan data. Hasil dari penilaian risiko menunjukkan bahwa pada kegiatan di area SP A yaitu pengukuran volume tangki di tangki produksi 7 (benzene, toluene, xylene, hexane, pasta gasoline), di tangki 4 dan 6 (pasta gasoline), pengoprasian pompa transfer, compressor (bising) memiliki risiko kesehatan tinggi. Sedangakn di area SPU B pajanan kebisingan pada pompa transfer memiliki risiko medium. Kata Kunci: Health Risk Assessment(HRA), Stasiun Pengumpul (SP), Potensi bahaya (P), Frekuensi pajanan (F), Durasi (D), Risiko Awal (RA), Upaya Perlindungan (UP) dan Risiko Risidual (RR) This Health Risk Assessment research that was held at Oil Station A (SP A) and Primary Oil Station B (SPU B) PT X Years 2014. Health risk assessment was conducted by analyzing the value potential of hazard (P), Frequency rate of exposure (F), Duration (D), level of risk (RA), Prevention means (UP) and Residual Risk (RR) from every job activity. This study is a semi quantitative method by observation and data collection. The result of this risk assessment indicated that in SP A activity, measuring the volume of tank in tank production 7 (benzene, toluene, xylene, hexane, gasoline pasta), in tank 4 and 6 (gasoline past), in transfer pump and compressor (noisy) has a high risk. While in the area SPU B noise exposure in transfer pump that have a medium risk. Keywords: Health Risk Assessment (HRA), oil station (SP), Potential hazard (P), exposure frequency (F), duration (D), Level of Risk (RA), Safeguard (UP) and Residual Risk (RR)
Read More
S-8665
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Awang Joko Purnomo; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Samy Awaludin, Dody Hartawan
Abstrak:
Sebagian besar perusahaan-perusahaan di berbagai industri yang mempunyai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) mengimplementasikan Job Safety Analysis (JSA). Penelitian-penelitian merekomendasikan agar JSA harus mempunyai kualitas yang tinggi. Penyebab kecelakaan paling tinggi pada operasi pengeboran dan perawatan sumur minyak di PT XYZ berhubungan dengan kualitas JSA. Pada bulan Februari sampai Juli 2019 PT XYZ melakukan pelatihan analisis bahaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pelatihan yang diberikan kepada pemimpin kerja operasi perawatan sumur minyak di PT XYZ dalam meningkatkan kualitas JSA. Pelatihan dilakukan dengan jumlah peserta per sesi adalah 10-11 orang, interaktif di dalam kelas, materi merujuk pada prosedur internal PT XYZ tentang analisis bahaya, macro horizon dalam membuat JSA, dan positioning dari risk assessment dalam JSA dengan Risk Register. Peserta dilatih melakukan analisis bahaya sesuai dengan pekerjaan, termasuk mengidentifikasi bahaya, mengidentifikasi proteksi yang diperlukan, mengetahui peran dan tanggung jawab setiap pekerja, diskusi dua arah, praktik membuat JSA, dan mendiskusikannya. Data kualitas JSA diambil dengan observasi secara langsung di tempat pekerjaan dilakukan. Data kemampuan pemimpin kerja diambil dengan meminta mereka membuat JSA dari pekerjaan saat itu dengan diawasi oleh konsultan keselamatan yang ditunjuk oleh peneliti. Untuk menjaga standarisasi penilaian oleh konsultan keselamatan, tahapan yang dilakukan adalah perencanaan, pembekalan, pelaksanaan, dan evaluasi. Konsultan yang sama menilai JSA sebelum dan setelah pelatihan dengan judul sama. Pemimpin kerja yang dinilai sebelum dan setelah pelatihan adalah orang yang sama termasuk tim dan rignya. Hasil perhitungan SPC XL menunjukkan nilai-p (probabilitas kesalahan) dari Uji-t terhadap data sebelum dan setelah pelatihan sebesar 0,000 atau lebih kecil dari dari tingkat signifikansi yang ditetapkan oleh peneliti yaitu α=0,05 yang berarti hipotesis alternatif menyimpulkan terjadi perubahan mean yang signifikan. Dengan keyakinan lebih dari 99% telah terjadi perubahan mean yang signifikan karena (1-p) X 100 = 100 atau hampir 100. Skor pemimpin kerja setelah mendapatkan pelatihan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum dilakukan. Skor rata-rata 75 orang pemimpin kerja sebelum pelatihan adalah 44,93 dan skor rata-rata setelah pelatihan mengalami kenaikan menjadi adalah 87,43.
Most companies in various industries that have Occupational Safety and Health Management Systems implement Job Safety Analysis (JSA). Studies recommend that JSA must has high quality. The highest cause of incidents in drilling and workover operations of PT XYZ was related to JSA quality. From February to July 2019, PT XYZ conducted hazard analysis trainings. This study was conducted to determine the effect of training provided for workover operations leaders at PT XYZ in improving the quality of JSA. Training was conducted with 10-11 participants, interactive in classroom, referred to PT XYZ's procedures on hazard analysis, macro horizon in making JSA, and positioning of risk assessment in JSA with the Risk Register. Participants were trained to do hazard analysis in accordance with work, including identifying hazards and safeguards, knowing roles and responsibilities of each worker, two-way discussion, practice to develop JSA, and discussion. JSA quality data was taken by direct observation at work area. Ability of work leaders data was taken by asking them to make JSA from current work, supervised by a safety consultant appointed by the researcher. To maintain the standardization of assessments by safety consultants, the steps taken were planning, briefing, implementation, and evaluation. The same consultant assessed JSA before and after training with the same title. Work leaders who were assessed before and after training are the same people including team and rig. The SPC XL calculation results show the p-value (probability of error) of the t-Test on data before and after training is 0,000 or smaller than the significance level set by the researcher of α = 0.05 which means that the alternative hypothesis concludes that there is a change in the mean significantly. With a confidence level more than 99%, there is a significant change in the mean because (1-p) X 100 = 100 or almost 100. The work leader's score after training shows higher than before. The average score of 76 work leaders before training was 44.93 and the average score after training increased to 87.43.
Read More
Most companies in various industries that have Occupational Safety and Health Management Systems implement Job Safety Analysis (JSA). Studies recommend that JSA must has high quality. The highest cause of incidents in drilling and workover operations of PT XYZ was related to JSA quality. From February to July 2019, PT XYZ conducted hazard analysis trainings. This study was conducted to determine the effect of training provided for workover operations leaders at PT XYZ in improving the quality of JSA. Training was conducted with 10-11 participants, interactive in classroom, referred to PT XYZ's procedures on hazard analysis, macro horizon in making JSA, and positioning of risk assessment in JSA with the Risk Register. Participants were trained to do hazard analysis in accordance with work, including identifying hazards and safeguards, knowing roles and responsibilities of each worker, two-way discussion, practice to develop JSA, and discussion. JSA quality data was taken by direct observation at work area. Ability of work leaders data was taken by asking them to make JSA from current work, supervised by a safety consultant appointed by the researcher. To maintain the standardization of assessments by safety consultants, the steps taken were planning, briefing, implementation, and evaluation. The same consultant assessed JSA before and after training with the same title. Work leaders who were assessed before and after training are the same people including team and rig. The SPC XL calculation results show the p-value (probability of error) of the t-Test on data before and after training is 0,000 or smaller than the significance level set by the researcher of α = 0.05 which means that the alternative hypothesis concludes that there is a change in the mean significantly. With a confidence level more than 99%, there is a significant change in the mean because (1-p) X 100 = 100 or almost 100. The work leader's score after training shows higher than before. The average score of 76 work leaders before training was 44.93 and the average score after training increased to 87.43.
T-5996
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arifah Fitriani; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Fatma Lestari, Bambang S.P., Rulyenzi Rasyid
Abstrak:
Kecelakaan kerja sektor konstruksi masih menjadi masalah keselamatan kerja baik di dunia maupun di Indonesia yang memerlukan perhatian dari berbagai pihak. Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, sepanjang 2018 terdapat 157.313 kasus kecelakaan kerja di Indonesia. PT. XYZ bergerak di bidang jasa konstruksi dan memiliki bengkel dan fabrikasi di kantor pusat. Data statistik perusahaan menunjukkan dampak kecelakaan yang terbanyak dalam dua tahun ini adalah property damage. Penelitian ini menganalisis penyebab kecelakaan kerja yang terjadi di PT.X berdasarkan teori loss causation model. Desain penelitian ini adalah deskriptif observational yang menggambarkan analisis penyebab kecelakaan yang terjadi di PT.XYZ selama tahun 2017-2018. Data primer didapat dari wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder berupa standar operasional prosedur Perusahaan, data statistik kecelakaan kerja, hasil audit SMK3, matriks pelatihan perusahaan, Job safety analysis (JSA), Hazard Identification and risk assessment determining control (HIRADC), dan laporan program Kesehatan dan keselamatan kerja Hasil triangulasi data mendapatkan penyebab kecelakaan di kantor pusat PT.XYZ yaitu: Aktivitas berisiko tinggi, struktur organisasi, pemenuhan kepatuhan, pelatihan kerja, pengawasan, prosedur, tidankan tidak aman, dan kondisi tidak aman.
Read More
T-5822
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Defri Kurniadi; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Estu Prayogi
S-8486
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
