Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31318 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yovans Yuniar; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robiana Modjo, Wien Goerindro
S-6206
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neneng Churaeroh; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, C. Setyo Rohadi
Abstrak:

Setiap kasus insiden dipicu berbagai faktor penyebab dasar dan penyebab langsung berupa faktor pekerjaan dan faktor pribadi. Mengacu pada teori Heinrich bahwa faktor pribadi adalah 80% penyebab dasar terjadinya insiden, maka faktor pribadi pekerja harus dikelola serius, antara Iain melalui pelatihan K3 yang tepat guna dan tepat sasaran. Untuk mendapatkan gambaran pelatihan K3 yang tepat guna dan tepat sasaran, tesis ini membahas bagaimana melakukan sebuah analisis kebutuhan pelatihan K3 bagi operator dan mekanik di PT. X, sebuah perusahaan pertambangan batubara terbuka. Kasus insiden tertinggi perusahaan ini menimpa operator alat berat dan mekanik. Populasi kedua jabatan ini paling tinggi dibanding jabatan lainnya dengan faktor risiko K3 yang juga paling tinggi. Mayoritas penyebab dasar insiden yang terjadi adalah faktor pribadi yang terkait dengan kurang pengetahun, stres psikologis. dan perilaku. Proses zmalisis kebutuhan pelatihan yang digunakan dalam tesis ini adalah: analisis organisasi, yaitu untuk mengambarkan dukungan organisasi atas penyelenggaraan pelatihan; analisis tugas, yaitu untuk mendapatkan gambaran jenis pelatihan yang dibutuhkan berdasarkan tugas yang dilakukan dan faktor risiko kerjanya; dan analisis personal, yaitu untuk rnendapatkan gambaran kompetensi jabatan yang dimiliiki pekerja. Selanjutnya dilakukan kategorisasi pelatihan K3 berdasarkan tujuan pelatihan. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk dapat lebih mengeksplorasi faktor risiko yang dihadapi operator dan mekanik, dan mengeksplorasi jenis pelatihan K3 yang dibutuhkan kedua jabatan temebut melalui diskusi dengan level manajemen kedua jabatan tensebut dan manajemen yang mengclola pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan. Diskusi yang dilakul-ran borpegang pada ceklis pelatihan yang telah disiapkan peneliti, tujuarmya adalah sebagai pedornan yang mernpennudah proses diskusi. Pada akhirnya, penelitian ini dapat menggambarkan bahwa manajemen PT. X mendulcung penuh pelaksanaan pelatihan, menggambarkan jonis pelatihan yang dibutuhkan, mengetahui bahwa data kornpetensi pckerja belum dimiliki, dan dapat menghasilkan matrik pelatihan K3 bagi operator dan mckanik berdasar faktor risiko kerja yang disusun berdasarkan tujuan pelatihan. Dengan data-data yang ada dalam tesis ini, PT. X diharapkan mempertahankan hal-hal positif yang telah dimiliki dan meningkatkan dokumentasi kompetensi pekerja per individu sehingga program pengembangan per individu Iebih mudah dilaksanakan. Disamping itu, analisis kebutuhan pelatihan K3 dan pelatihan lainnya disarankan untuk dikaji ulang secara berkesinambungan.


Every analysis on any incident is triggered by various factors, either basic causes or direct causes, including occupational and personal ones. According to Heinrich, personal factors contribute 80% of basic causes of incidents. Hence, personal factors of employees should be genuinely managed by, among outliers, providing ejective and ejicient training on occupational health and safety. In order to provide a description on an ejective and ejicient training on occupational health and salty, this thesis will discuss how to analyze requirements of occupational health and safety training for operators and mechanics in PT X an open coal mining company. Most incidents in the company are related to heavy-duty operators and mechanics. Besides having the highest risk in term of occupational health and safety, the two are the most populated positions. The majority of incidents happened because of personal factors, e.g. lack of knowledge, psychological stress, and unsafe behavior. The processes involved in the analysis on training requirements include: organizational analytsis, i.e. describing organizational support for training; task analysis, i.e. desiring types of required training based on tasks performed and their occupational risks; and personal analysis, i.e. describing occupational competency acquired by the workers. Then, classification on occupational health and safety training based on training objectives will follow. This study tales a qualitative approach. The objective is to allow greater exploration on risk factors facing the operators and mechanics, and to explore types of occupational health and safety training needed by the two positions through discussion with management-level personnel of the two positions and the management staffs' responsible fur human resource development. The discussion rowers to the training checklist prepared by researcher, providing guidelines for the discussion. Eventually, this study can illustrate how the management ofP1'f X has been fully supportive to the training, describe the types of training required, show that data on employees competency are not yet available, and generate occupational health and safety training matrix operators and mechanics based on the occupational risk factors as listed in training objectives. It is expected that the data provided in the thesis will allow PII X to maintain positives already found in the company and to improve documentation on competency of each individual employee, which will make programs on individual development better executed. Also. it is recommended that the analysis on occupational health and safety training requirements is continuously revisited.

Read More
T-3010
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wenni Sriastuti; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Baiduri, Robiana Modjo, Syahrul E. Panjaitan, Mayarni
Abstrak:

Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kelja (K3) di Rumah Sakit adalah salah satu benluk upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dad penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan keja serta bebas pencemaran Iingkungan menuju peningkatan produktifitas. Keberhasilan program K3 di Rumah Sakit tergantung pada kemampuan atau kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam melakukannya. SDM yang kompeten merupakan kunci dan pemicu (enabler) untuk keberhasilan praktek manajemen K3 Rumah Sakit. Kompetensi SDM dapat diperoleh melalui pelatihan. Salah satu faktor yang membérikan konhibusi dalam tercapainya efektifitas pelatihan adalah materi pelatihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi materi pelatihan K3 Rumah Sakit yang diselenggarakan oleh PT X Tahun 2008. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan Studi deskriptif analilik. Sedangkan sampel penelitian adalah materi (teori) pelatihan K3 RS yang diselenggaxakan pada tanggal 26-29 Mei 2008 di Jakarta. Pengukuran data menggunakan instrumen penelitian yang telah disusun kedalarn kategori kognitifl afektif, dan psikomotor yang sudah reliabel. Pengukuran dilakukan dengan metode analisa isi (content analysis) untuk mengobservasi dan mengukur isi dari mated pelatihan berdasarkan kategori yang telah ditetapkan. Kemudian dilakukan validitas dan reliabilitas data dengan menggunakan bantuan key injbrman untuk menguji keabsahan data. Selanjutnya dilakukan analisa data dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu mendeskripsikan valiabel penelitian kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi, agar mudah dibaca dengan pengelompokan temuan penelitian sesuai dengan kategori-kategori. Hasil penelitian diperoleh gambaran materi pelatihan K3 RS terdiri dari 11 materi teori dan 73 tema. Uraian materi yang belum rinci adalah materi audit internal, tanggap darurat, dokumentasi sistem manajemen K3, dan Kegawatdaruratan di RS. Materi yang memiliki unsur kognitif paling tinggi adalah materi bahaya potensial di RS (l00%) dan PAK/KAK di RS (83%), sedangkan unsur kognitif paling rendah adalah materi kebijakan manajemen K3 di RS (35,29%). Materi yang memiliki unsur afektif pa!ing tinggi adalah materi peraturan pemndangan (50%), yang paling rendah adalah PAK/KAK di RS, Bahaya Potensial di RS, dan Manajemen Risiko K3 RS sebesar 0%. Materi yang memiliki unsur psikomotor paling tinggi adalah materi kebijakan manajemen K3 di RS (35,29%). Sedangkan yang paling rendah adalah materi peraturan perundangan (0%). Secara keseluruhan unsur kompetensi yang paling tinggi didalam materi pelatihan K3 RS adalah unsur kognitif (51%), sedangkan unsur afeklif dan psikomotor relatif sama. Materi yang belurn tercakup dalam persyaratan OHSAS 18001: 2007 adalah Evaluasi Pemenuhan dan Pengadaan. Saran penelitian ini berupa usulan kepada PT. X (Bagian Diklat) sebagai penyusun modul pelatihan untuk memberikan stmktur program pelatihan kepada instmktur/nara sumber pelatihan dengan menyertakan Evaluasi Pemenuhan dan Pengadaan menjadi bagian dari materl pelatihan K3 RS, sedangkan mated Audit internal, tanggap darurat, dokumentasi sistem manajemen K3 agar dapat disempumakan Iagi, sehingga tujuan pelatihan K3 RS dapat dicapai.


Hospital occupational health and safety (OHS) program is one of etforts to create a safe workplace, health, human being, free from occupational diseases and work related disesases, free fiom environmental pollution to get increase productivity. A successful of OHS programs depend on the ability or competence of human resources in doing it. The competent human resources are a key or enabler to gain a success of Ol-IS practiced. One of contributing factors to gain training effectivity is a training material. The goals of this research are to analyze a content material of hospital OHS training that organized by PT. X 2008. The approach of this research is a qualitative with descriptive analytic study. The sample of this study is a teoritic training materials of hospital OHS on 26-29 May 2008 in Jakarta. Data measurement is using an instrument research that was constructing to cognitif, affective and psychomotor category that have been reliabeled. The measurement was done with content analysis methods to observe and measure about content of training materials based on categorization. Data validity and reliability was used with using some helping fiom key informan to data validity testing. Data analysis with using descritive statistics to describe research variables into frequency distribution tables is supposed to easy while reading with grouping results based on categorization. Result of the research that gained about review of hospital OHS training material emphasis of ll teoritical material and 73 themes. The description of material that was not cleared is intemal audits, emergency responses, OHS management system documentation, and emergency in hospital. Material with high cognitive unsure is a potcnsial hazard in hospital (l00%), and occupational diseases/work related diseases (PAK/PAHK) in hospital (83%), Material with low cognitive unsure is a OHS management in hospital (3S,29%). Material with high affective unsure is a legal role (50%), material with low affective unsure is PAK/PAHK in hospital, potensial hazard in hospital, and risk management of OHS in hospital (0%). Material with high psychomotor unsure is a managemen policy of OHS in Hospital (35,29%). Material with low psychomotor unsure is a legal role (0%). Mostly of whole material, cognitive unsure is a high competence unsure in training material of OHS in hospital. The material that was not scouped in OHSAS 1800122007 requirements is a compliance of evaluation. The researcher suggest to PT. X, especially to training divison as a arranger of training modul to give some programme structur to instmctur/trainer about compliance of evaluation being part of material of hospital OHS training. About intemal audit, emergency responses, OHS management system documentation have to be described; it is suppose to get hospital OHS training goals.

Read More
T-2897
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Nuzul Furqon; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
Abstrak: Universitas merupakan organisasi yang memiliki potensi bahaya dan risiko yang signifikan. Dengan berbagai kegiatan, bahan dan instrumentasi kerja yang kompleks, maka berpotensi terjadinya cidera dan sakit akibat kerja. Sangat penting adanya pelatihan terkait keselamatan dan kesehatan kerja khususnya untuk pegawai di lingkungan universitas. Para pegawai yang bekerja di dalam lingkungan akademis harus memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku kerja yang sesuai dengan nilai-nilai keselamatan dan kesehatan kerja sehingga tercipta lingkungan kerja yang selamat dan sehat. Pusat Administrasi Universitas Indonesia merupakan organisasi yang diharapkan memiliki pegawai yang berpengetahuan, bersikap dan berperilaku K3 yang baik sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Oleh karena itu penyelenggaraan training K3 menjadi penting untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan dan perilaku K3 tersebut. Namun, analisis kebutuhan pelatihan K3 di PAU penting dilakukan agar pelatihan yang diberikan efektif dan efisien. Training Needs Analysis (TNA) merupakan upaya untuk merencanakan kegiatan pelatihan agar tepat sasaran. Penelitian ini melakukan TNA pelatihan K3 di PAU dengan melakukan analisis terhadap organisasi, tugas dan personal. Jenis pelatihan yang sangat dibutuhkan bagi pegawai PAU adalah pelatihan orientasi antara lain hazard communication,K3 dasar, ergonomi, occupational and health promotion, bahaya psikososial serta hygiene dan sanitasi. Study ini menghasilkan matriks pelatihan K3 untuk staf PAU-UI.
 

University is one of organization that has the potential of occupational health and safety risks. Due to its variety of activities, materials and complex equipments the occurrence of occupational injuries and illnessis are likely. The provision of OHS training, thus is very important in order to have a healthy and safe working knowledge, skills and attitudes among the worker. The administration centre of Universitas Indonesia (Pusat Administrasi Universitas Indonesia, PAU-UI) is one of organization whithin Universitas Indonesia that is expected to have a good OHS performance and expressed as satisfactory OHS knowledge, skill and behavior among the staffs. Those lead to safe and comfortable working environment. Training Needs Analysis (TNA) of OHS in PAU is important so have effective and efficient trainings. This study performed a TNA of OHS Training in PAU-UI. The assessment was done by analyzing the organization, task and personal competency. The type of training that is necessary for PAU employee are hazard communication, OHS Basic, ergonomics, occupational and health promotion, psychosocial hazards as well as hygiene and sanitation. This study generated OHS training matrix for the PAU-UI staffs.
Read More
S-8265
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Panji Wijayanto; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Karyani Sani Manurung
Abstrak: ABSTRACT
 
 
Laboratorium merupakan salah satu temapt kerja yang memiliki potensi bahaya
 
dan risiko K3 yang cukup besar. Dengan digunakannya berbagai peralatan dan
 
bahan, para pengguna laboratorium, khususnya Laboratorium Fakultas Teknik
 
Universitas Indonesia (FT UI), terpajan berbagai jenis bahaya seperti bahaya
 
kesehatan dan keselamatan. Oleh karena itu dituntut penerapan metode
 
pengendalian guna mereduksi potensi bahaya dan risiko K3 tersebut. Pelatihan
 
adalah salah satu metode control yang dapat diterapkan di laboratorium FT,
 
bersamaan dengan metode pengendalian lain baik engineering, administratif, atau
 
dengan alat pelindung diri.
 
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pelatihan K3 yang
 
diperlukan oleh pekerja laboratorium sehingga dapat dilakukan program pelatihan
 
yang efektif dan efisien untuk menjawab permasalahan K3 yang ada di
 
laboratorium.Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan metode
 
wawancara mendalam kepada pekerja laboratorium dan observasi di laboratorium.
 
Proses analisis laboratorium atau tempat kerja meliputi analisis organisasi,
 
pekerjaan, dan personal.
 
Hasil dari analisis organisasi dapat melihat dukungan dari pihak manajemen
 
terkait pelaksanaan K3 di laboratorium, Hasil dari analisis pekerjaan dapat melihat
 
bahaya dan risiko dari pekerjaan di laboratorium, serta analisis personal melihat
 
pengetahuan dan data pelatihan dari pekerja di laboratorium sehingga
 
menghasilkan matriks pelatihan K3 untuk laboratorium FT UI. Pelatihan yang
 
lebih dibutuhkan untuk pekerja laboratorium yaitu bersifat konseptual dan
 
orientasi kepada perilaku K3 di laboratorium.
 

 
ABSTRACT
 
 
Laboratory is one of the potential workplace that has large hazards and risks of
 
Occupational Health and Safety (OHS). With the use of a variety of equipment
 
and materials, particularly Laboratory, Faculty of Engineering, University of
 
Indonesia (UI FT), laboratory users exposed to various types of hazards such as
 
health and safety hazards. Therefore, the application of control methods are
 
required in order to reduce potential hazards and risks of OHS. Training is one of
 
the control methods that can be applied in the laboratory, in conjunction with
 
other control methods either engineering, administrative, or personal protective
 
equipment.
 
This study aims to analyze the training needs of OHS, required by the laboratory
 
worker training program so that it can be done effectively and efficiently to
 
address the problems that exist in laboratorium. This research uses a qualitative
 
design with in-depth interviews and observation to laboratory workers in the
 
laboratory. The process of laboratory analysis or analysis covering workplace
 
organization, work, and personal.
 
The results of the analysis of the organization can see the support from
 
management regarding the conduct of OHS in the laboratory, results of job
 
analysis to see the dangers and risks of work in the laboratory, as well as the
 
analysis of knowledge and personal look at the data in the training of laboratory
 
workers resulting OHS training matrix for laboratory in FT UI. More orientation
 
training is needed for laboratory workers and conceptual to change the behavior of
 
OHS in the laboratory.
Read More
S-8358
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christian; Pembimbing: Dadan Erwand; Penguji: Zulkifli Djunaedi, Sovi Herlina Puspita
S-6172
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendy Marendra; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Yuni Kusminanti, Estu Prayogi
T-4200
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faisal Ali Ramdhani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Latar belakang: Motivasi mengikuti pelatihan K3 merupakan suatu ketertarikan untukmengikuti pelatihan K3 agar terhidar dari kecelakaan serta PAK. Tingkat kehadian DiGedung PAUI dalam mengikuti pelatihan K3 masih terbilang rendah dan insiden yangterjadi di Lingkungan UI berjumlah 193 Insinden pada tahun 2019.Tujuan: Untuk melihat hubungan antara pengetahuan K3, kondisi lingkungan kerja,bahaya di tempat kerja, dan penerapan SMK3 dengan motivasi mengikuti pelatihan K3.Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dan metode cross sectional. Sampel 160responden dengan menjawab kuesioner.Hasil: Hasil analisis bivariat mengenai hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan K3(kondisi lingkungan kerja, bahaya di tempat kerja, dan penerapan SMK3) denganmotivasi mengikuti pelatihan K3, dimana pengetahuan K3 tinggi memilikikecenderungan 1.62 kali, kondisi lingkungan kerja baik memiliki kecenderungan 5.37kali, responden bahaya tinggi memiliki kecenderungan 2.07 kali, dan penerapan SMK3baik memiliki kecederungan 6.41 kali memiliki motivasi tinggi.Kesimpulan: Oleh karena itu diperlukannya pemanfaatan media massa untukmembantu dalam pelatihan K3 yang sesuai dengan kebutuhan karyawan dan jugaadanya pengawasan untuk kondisi lingkungan, bahaya, dan penerapan SMK3.Kata kunci: Motivasi, Pengetahuan K3, Kondisi Lingkungan Kerja, Bahaya Di TempatKerja, Penerapan SMK3.
Background: Motivation to attend OHS training is an interest to take OHS training toavoid work accidents and occupational diseases. The incidence of employees in PAUIBuilding in attending rate OHS training is still relatively low and the incidents thatoccurred in the UI environment amounted to 193 incidents in 2019.Purpose: To see the relationship between OHS knowledge, work environmentconditions, hazards in the workplace, and OHS implementation with motivation toattend OHS training.Methods: Descriptive research quantitative approach with cross sectional method.Sample of 160 respondents by answering the questionnaire.Results: The results of bivariate analysis regarding the relationship knowledge andneeds for OHS skills (working environment conditions, hazards in the workplace, andOHS application) with motivation to attend OHS education and training, where highOHS knowledge has a tendency of 1.62 times, good working environment conditionshave a tendency of 5.37 times, high hazard have a tendency of 2.07 times, and theapplication of OHS both had a tendency of 6.41 times having high motivation.Conclusion: Therefore it is necessary to use mass media to assist in OHS training thatis suitable to the employees needed and also the supervision of environmentalconditions, hazards, and the application of OHS.Keywords: Motivation, OHS Knowledge, Working Environment Conditions, Hazard inthe Workplace, Application of OHS.
Read More
S-10227
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Kusuma Wardani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Edo Irnanda
Abstrak: Persepsi karyawan terhadap implementasi sistem manajemen K3 adalah pandangan karyawan terhadap apa yang diberikan perusahaan yang bertujuan agar karyawan terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap implementasi sistem manajemen K3 di PT X. PT. X merupakan perusahaan distributor alat berat yang memiliki tingkat bahaya dan risiko yang cukup tinggi bagi karyawan yang bekerja di lapangan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Dengan jumlah responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 133 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner. PT. X telah menerapkan sistem manajemen K3 di seluruh area kerjanya dengan mengintegrasikannya berdasarkan OHSAS 18001 dan PP No.50 tahun 2012.
 
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa persepsi karyawan PT. X terhadap implementasi sistem manajemen K3 secara umum masih kurang baik. Dari hasil kuesioner diperoleh bahwa dari 133 responden yaitu sebanyak 69 orang (51,9%) memiliki persepsi kurang baik tentang implementasi sistem manajemen K3 dan 64 orang (48,1%) yang memiliki persepsi baik tentang implementasi sistem manajemen K3. Disarankan agar perusahaan memberikan sosialisasi kepada seluruh karyawan tentang SMK3 khususnya mengenai manfaat penerapan SMK3 bagi perusahaan, peran serta karyawan dalam penerapan SMK3.
 
Meninjau kembali dan menginformasikan kepada karyawan tentang pencapaian tujuan, sasaran dan program-program K3 dalam pertemuan tinjauan manajemen. Mendeskripsikan dengan jelas tugas dan fungsi masing ? masing anggota P2K3 serta meningkatkan pengawasan terhadap kehadiran pengurus terhadap rapat-rapat yang diadakan sehingga pelaksanaan SMK3 oleh P2K3 dapat lebih efektif. Serta menjaga kesinambungan pelaksanaan SMK3 yang telah ada di perusahaan sehingga senantiasa diperoleh tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan produktifitas dapat ditingkatkan.
 

Employee perceptions of implementation occupational health and safety management system (OHSMS) is the view of employees to what is given the company aims to secure the safety and health of employees work. The main objective of this study was to determine the employees' perception of the implementation occupational health and safety management system at PT. X. PT. X is a heavy equipment distributor that has the level of hazard and risk is quite high for employees working in the field. This research is descriptive analytic. With the number of respondents involved in this study as many as 133 people. This study was conducted using questionnaires. PT. X has implemented an occupational health and safety management system throughout the work area by integrating based on OHSAS 18001 and PP 50 in 2012.
 
The results of the study showed that the employees perceptions of implementation occupational health and safety management system at PT. X in general is still not good. From the questionnaire results showed that of the 133 respondents as many as 69 people (51.9%) had a poor perception of the implementation of OHSMS and 64 (48.1%) who have a good perception of the implementation of OHSMS. It is recommended that the company provide socialization of all employees about the benefits of applying OHSMS especially for the company, the participation of employees in the application of OHSMS.
 
Reviewing and inform employees about the achievement of goals, objectives and OHS programs in management review meetings. Describe clearly the duties and functions of each member Committe of OHS and increasing supervision of the presence of officials of the meetings are held so that the implementation OHSMS by committee can be more effective. As well as maintain the continuity of the implementation OHSMS that already exist in the company so always obtained workplace that is safe, comfortable, healthy and productivity can be improved.
Read More
S-9200
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Age Bunga Perdana; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Barmanto
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi isu penting di tempat kerja, termasuk di PT X, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Salah satu upaya preventif yang dilakukan adalah pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (safety training) bagi pekerja lapangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas safety training dalam meningkatkan pengetahuan K3 pada pekerja lapangan PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan mix method dengan desain pre-eksperimental (One Group Pre-Test Post-Test) pada 55 peserta pelatihan. Data kuantitatif diperoleh melalui pre-test, post-test, dan kuesioner kepuasan, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui observasi dan telaah dokumen. Analisis statistik dilakukan dengan paired sample t-test, sementara data kualitatif dianalisis secara deskriptif berdasarkan model evaluasi CIRO (Context, Input, Reaction, Outcome). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan K3 dari 87,64 pada pre-test menjadi 92,73 pada post-test atau naik 5,81% dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Seluruh peserta (100%) mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Rata-rata kepuasan peserta terhadap pelatihan mencapai 4,14 (kategori tinggi), dengan penilaian tertinggi pada kompetensi instruktur. Evaluasi aspek konteks dan input menunjukkan bahwa pelatihan sesuai kebutuhan, difasilitasi dengan baik, dan disampaikan oleh instruktur kompeten. Secara keseluruhan, safety training dinyatakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan K3.

Workplace accidents remain a major concern, including at PT X, a company engaged in the telecommunications sector. One preventive effort implemented is occupational health and safety (OHS) training for field workers. This study aims to analyze the effectiveness of safety training in improving OHS knowledge among field workers at PT X in 2025. A mixed-method approach was used with a pre-experimental design (One Group Pre-Test Post-Test) involving 55 training participants. Quantitative data were collected through pre-tests, post-tests, and satisfaction questionnaires, while qualitative data were gathered through observation and document review. Statistical analysis was conducted using the paired sample t-test, and qualitative data were analyzed descriptively based on the CIRO evaluation model (Context, Input, Reaction, Outcome). Results showed an increase in the average OHS knowledge score from 87.64 (pre-test) to 92.73 (post-test), representing a 5.81% improvement, with a statistically significant difference (p < 0.05). All participants (100%) achieved scores above the minimum passing criteria (≥ 70). The average satisfaction score was 4.14 (high category), with the highest rating in instructor competence. Evaluation of the context and input aspects indicated that the training was relevant, well-facilitated, and delivered by competent instructors. Overall, the safety training was effective in enhancing workers’ OHS knowledge.
Read More
S-11990
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive