Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26865 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maya Tendian; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amal C. Sjaaf, Zakaria
S-6181
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermien W. Moeryono; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Prastuti Chusnun Soewondo, Mardiati Nadjib, R. Fresley Hutapea, Suranto, Mangapul Bakara
B-1595
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Hendarwulan; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Pujiyanto. Nienne Aridayanthi Hainum, Lies Nugrohowati
Abstrak: Pemerintah telah berupaya mencegah dan mengurangi angka kejadian penyakit dengan Inpres No.1 Tahun 2017 tentang GERMAS. GERMAS adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota Depok tahun 2019. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan data dikumpulkan dari 30 Puskesmas di Kota Depok. Analisis data statistik univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square dan analisis multivariat dengan korelasi logistik Hasil penelitian menunjukkan 83,3% Puskesmas melaksanakan sosialisasi GERMAS dan edukasi sehat, 100% Puskesmas melakukan penyuluhan ASI ekslusif, 83.3 % Puskesmas melakukan kegiatan deteksi dini penyakit, IVA dan Ca mammae dan 80% Puskesmas melakukan kegiatan sosialisasi gemar aktivitas fisik. Ketersediaan sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana dalam pelaksanaan GERMAS di Puskesmas Kota depok memadai, namun belum adanya petunjuk pelaksana/SK dari Dinas Kesehatan maupun SK Kepala Puskesmas untuk pelaksanaan GERMAS di Puskesmas. Saat ini petunjuk pelaksana yang dipakai sebagai pedoman kegiatan GERMAS masih mengikuti Perwal yang ada. Perencanaan dan pengorganisasiannya belum mempunyai roadmap pelaksanaan GERMAS di Puskesmas dan 70 % Puskesmas pengawasannya baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara sarana dan prasarana terhadap kegiatan GERMAS (p-value<0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan terhadap kegiatan GERMAS (p-value >0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan dengan pelaksanaan GERMAS . Analisis multivariat menunjukkan faktor yang dominan mempengaruhi kegiatan GERMAS adalah pengawasan. Puskesmas diharapkan meningkatkan sosialiasi dan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan GERMAS.
Read More
B-2139
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Nurhayati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Pujiyanto, WFP Kaunang, Yudianto Budi Saroyo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa hubungan penerapan operasi sesar metode ERACS (Enhanced Recovery After Sectio Surgery) dengan efisiensi biaya dan mutu layanan di RS Hermina Galaxy tahun 2022. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa dengan menggunakan metode ERACS pada pasien tindakan operasi bedah sesar didapatkan efektivitas biaya dengan mutu layanan yang baik. Mutu layanan yang dinilai pada penelitian ini adalah mobilisasi yang lebih cepat, lama hari rawat yang lebih singkat, dan infeksi daerah operasi tidak ditemukan. Disarankan pada RS Hermina Galaxy untuk menggunakan metode ERACS pada pasien tindakan operasi bedah sesar agar mutu layanan meningkat dan menyebabkan pasien menjadi lebih nyaman pasca operasi SC dan biaya layanan menjadi lebih rendah daripada SC metode konvensional.

This study aims to analyze the relationship between the implementation of the ERACS (Enhanced Recovery After Sectio Surgery) method and the cost efficiency and quality of service at Hermina Galaxy Hospital in 2022. The research design used was a retrospective cohort with a quantitative and qualitative approach. The conclusion in this study is that by using the ERACS method in patients with cesarean section surgery, cost effectiveness with good service quality is obtained. The quality of service assessed in this study was faster mobilization, shorter length of stay, and no surgical site infections were found. It is recommended for Hermina Galaxy Hospital to use the ERACS method for cesarean section patients so that the quality of service increases and causes patients to be more comfortable after SC surgery and service costs are lower than conventional SC methods.
Read More
B-2346
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ermawati; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, Khafifah Any
Abstrak: Penyelenggaraan program kesehatan memerlukan pengembangan sistem pembiayaan yang bersumber dari pemerintah dan masyarakat termasuk swasta yang mampu menghasilkan tersedianya dana yang memadai. Pembiayaan dari sektor swasta utamanya pembelanjaan masyarakat merupakan porsi terbesar dari pembiayaan kesehatan. Konstribusi sektor swasta dan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan adalah sekitar 65 % dan sisanya sebesar 35 % dari sektor publik, Dari konstribusi sektor swasta dan masyarakat yang sekitar 65 % itu, sebagian besar masyarakat membiayai kesehatan mereka masih menggunakan cara membayar untuk tiap pelayanan (fee for service), hanya 14% masyarakat tercakup dalam program asuransi kesehatan. Sistem pembayaran dengan cara pra upaya (prepaid) pada pemberi pelayanan kesehatan baik rumah sakit maupun dokter dalam jumlah yang ditetapkan sebelum suatu pelayanan diberikan, salah satu caranya adalah dengan Diagnosis Related Group’s (DRG’s). Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk mendapatkan gambaran variasi biaya dalam penyusunan DRG’s pada penyakit Diare/Gastro Enteritis di RSU Tangerang. Kasus yang diambil pada penelitian ini adalah penyakit diare, karena penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 perseribu penduduk setahunnya. Dan menurut WHO (1999), setiap tahun 12 juta anak di dunia meninggal sebelum mencapai umur 5 tahun. Dari seluruh kematian tersebut, 70% meninggal karena ISPA (Inpeksi Saluran Pernafasan), diare, malaria, campak dan malnutrisi serta seringkali merupakan kombinasi dari penyakit diatas. Demikian pula di RSU Tangerang, kasus Diare/GE dari tahun 2000 hingga 2004 berada diposisi pertama dari sepuluh penyakit terbanyak di Instalasi Rawat Inap RSU Tangerang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan populasi pada semua pasien yang mempunyai diagnosis utama Diare/GE dengan dan tanpa diagnosis penyerta dan diagnosis penyulit yang terjadi pada bulan Januari 2004 sampai dengan Desember 2004. Sedangkan sampelnya adalah pada kelompok umur anak-anak. Data didapat dari catatan medik pasien di Bagian Rekam Medik RSU Tangerang, sedangkan data untuk mencari unit cost pelayanan diare didapat dari bagian keuangan serta unit-unit terkait di RSU Tangerang. Dari penelitian didapat hasil rata-rata lama hari rawat Diare/GE tanpa penyerta dan penyulit (murni) adalah 2 hari dengan biaya sebesar Rp 454.401,-, rata-rata lama hari rawat Diare/GE dengan penyerta adalah 4 hari dengan biaya sebesar Rp 827.195,-, rata-rata lama hari rawat Diare/GE dengan penyulit adalah 6 hari dengan biaya sebesar Rp 1.310.088,- serta rata-rata lama hari rawat Diare/GE dengan penyerta dan penyulit adalah 9 hari dengan biaya sebesar Rp 1.727.192,-. Sehingga berdasarkan hasil tersebut, pengelompokkan penyakit Diare/Gastro Enteritis berdasarkan DRG’s di RSU Tangerang dapat dilakukan, yaitu dengan masuknya penyakit Diare/Gastro Enteritis ke dalam MDC 6 dengan DRG G68A dan DRG G68B. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang dapat dijadikan masukan untuk rumah sakit jika ingin menyusun DRG’s yaitu penulisan diagnosis akhir harus jelas dan tepat, serta mempunyai standar operating prosedur penanganan Diare/GE yang lengkap. Kepustakaan : 35 ( 1986 – 2005)
Health program development needs support from government as well as society which includes a sufficient budget from private sector. The cost from private sector, mainly society’s budgeting has resulted in the biggest portion from the health expenses. The contribution from private sector and society is around 65 percent and the rest about 35 percent comes from public sector. From this 65 percentage, the majority of society is still using one mean of payment by paying for each service (fee for service), only 14 percent of the society is covered by health insurance. Prepaid payment sistem on the side of health provider either in hospitals and clinics (doctors) in the recommended state before certain treatment being given, one way is using Diagnosis Related Group’s (DRG’s). On the whole this study aims to get the descriptive picture as cost variation in making the DRG’s for Diarrhea/GastroEnteritis illness in Tangerang Public Hospital. The focus us on the diarrhea disease, since it is still one of the major disease for babbies and children in Indonesia. It is predicted that the number of these patients will be around 150-430 every 1000 people annually. According to WHO (1999), 12 millions children below the age of five all over the world died because of this disease. From the mortality rate, 70% died of ISPA (upper respiratory tract), diarrhea, malaria, measles, and malnutrition and oftentimes is the complication of all diseases. And also in Tangerang Public Hospital, diarrhea/GE cases between 2000 until 2004 ranked at number one of the the tenth most diseases in in-patient installation, Tangerang Public Hospital. The methode is quantitative, descriptive, using all patients as the population with the indication of diarrhea with or without difficulties and complications from January 2004 to December 2004. The sample is children. The data is taken from the medical record department and for the unit cost on dirrhea treatment is gathered from the accounting department and from other related departments in Tangerang Pubilc Hospital. The study reveals that LOS (length of stay) of diarrhea/GE with no complications is two days with the total cost Rp. 454.401, LOS (length of stay) of diarrhea/GE with complications is for days with the total cost Rp. 827.195. LOS (length of stay) of diarrhea/GE with difficulties is six days with the total cost Rp. 1.310.088, LOS (length of stay) of diarrhea/GE with complications and difficulties is for nine days with the total cost Rp. 1.727.192. So, the group of diarrhea disease/GastroEnteritis based on Tangerang Public Hospital’s DRG can be done, that is by grouping diarrhea disease, into MDC 6 with DRG G68A dan DRG G68B. Based on the results, it is recommended that the hospital should make a concise, clear diagnosis report before undergoing DRG’s and a complete DRG’s standard operating procedure. Indexing : 35 (1986 – 2005)
Read More
B-881
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Kirana Yulius, Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Hibsah Ridwan, Hartati
Abstrak:
Di tahun 2021 COVID-19 masih menjadi wabah pandemik di seluruh dunia, yang menimbulkan disrupsi ekonomi di berbagai industri termasuk rumah sakit. Angka kunjungan rawat jalan dan rawat inap rumah sakit menurun di tahun 2020 sebanyak 80% yang berdampak pada penurunan pendapatan bulanan rumah sakit sampai ke 40% (Persi, 2021). Dalam menjaga layanan yang komprehensif dan bermutu, ada tambahan biaya operasional yang meningkat termasuk untuk perlindungan staf berupa Alat Perlindungan Diri (APD) terutama bagi tenaga kesehatan. Sebagai salah satu Rumah Sakit rujukan COVID-19, RS Bunda Palembang mengalami penurunan pasien rawat inap sebesar 55,2% di tahun 2020 dibanding tahun sebelumnya. Pelayanan unggulan yang diberikan adalah layanan persalinan ibu bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk layanan Sectio Caesarean (SC). Walau telah disadari terdapat kesenjangan antara tarif RS dan tarif INA-CBGs sebelum COVID-19, tim manajemen internal RS belum mempunyai analisis biaya persalinan SC. Beban operasional yang semakin bertambah di era COVID-19, memaksa tim manajemen mempunyai informasi biaya satuan SC ringan. Menggunakan data biaya aktual tahun 2021, biaya satuan tindakan SC ringan tanpa komplikasi dihitung dengan metode Double Distribution dan Relative Value Unit. Hasilnya menunjukkan bahwa biaya satuan SC ringan di ruangan SVIP sebesar Rp 11.877.883, ruangan VIP sebesar Rp7.782.915, ruangan Kelas I sebesar Rp 6.388.681, Kelas II yaitu Rp 6.009.725, dan Kelas III sebesar Rp 5.753.963. Secara keseluruhan, tingkat pengembalian biaya (CRR) terhitung sebesar 124,2%, dimana dari perspektif keuangan angka ini dianggap cukup ideal oleh manajemen. Pembelajaran yang dapat dipetik dalam menghadapi masa pandemi ke depan yaitu rumah sakit sebaiknya bersiap dalam menghadapi berbagai disrupsi kesehatan ke depannya dengan memfasilitasi tindakan ANC dan SC untuk seluruh pasien termasuk pasien infeksius.

In 2021, COVID-19 is still a worldwide pandemic, causing economic disruption in various industries, including hospitals. The number of outpatient visits and hospitalization decreased in 2020 by 80%, which resulted in a decrease in hospital monthly income of up to 40% (Persi, 2021). In maintaining comprehensive and quality services, additional operational costs increase, including staff protection in the form of Personal Protection Equipment (PPE), especially for health workers. As one of the COVID-19 referral hospitals, Bunda Palembang Hospital experienced a decrease in hospitalizations of 55.2% in 2020 compared to the previous year. The superior service provided is maternal delivery services for National Health Insurance (JKN) participants, including Caesarean Section (C-Section) services. Even though it was realized that there was a gap between the hospital rates and the INA-CBGs rates before COVID-19, the hospital's internal management team still needed an analysis of the cost of delivering a C-Section. Operational expenses are increasing in the era of COVID-19, forcing the management team to have information on low C-Section unit costs. Using actual cost data for 2021, the unit cost for mild C-Section without complications is calculated using the Double Distribution and Relative Value Unit method. The results show that the unit cost of light C-Section in the SVIP room is IDR 11,877,883, the VIP room is IDR 7,782,915, the Class I room is IDR 6,388,681, Class II is IDR 6,009,725, and Class III is IDR 5,753,963. Overall, the cost recovery rate (CRR) is calculated at 124.2%, which management considers ideal from a financial perspective. The lesson that can be learned in dealing with future pandemics is that hospitals should be prepared to face various health disruptions by facilitating ANC and C-Section actions for all patients, including infectious patients.
Read More
B-2322
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Srikandi Radjiman; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Budi Hidayat, Budi Iman Santosa
S-6188
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Tania; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Purnawan Junadi, Zulvi Wiyanti
Abstrak: Di era JKN ini, rumah sakit dituntut harus efisien dalam mengendalikan biaya layanan agar tidak melebihi tarif INA CBGs dengan catatan mutu layanan harus tetap terjaga dengan baik. Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan menganalisis biaya berdasarkan tarif rumah sakit dan klaim INA CBGs pada pasien peserta BPJS kasus sectio caesarea di RSUD dr. Doris Sylvanus pada Januari sampai Agustus Tahun 2016.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui biaya yang tidak dibayar sesuai tarif rumah sakit sebesar Rp 1.708.663.354 (42%). Biaya pelayanan persalinan sesar ringan sesuai tarif rumah sakit pada kelas 1 sebesar Rp 10.267.710,-, kelas 2 sebesar Rp 9.441.399,- dan kelas 3 sebesar Rp 8.591.730,-. Komponen biaya tertinggi adalah biaya tindakan operasi. Sehingga perlu dilakukan kajian ulang tarif pelayanan Sectio caesarea.
Kata Kunci : tarif rumah sakit, tarif INA CBGs, Sectio Caesaria.

In this National Health Insurance period, hospital ospitals are required to be efficient in controlling the cost of services so as not to exceed the tariff of INA CBGs with the quality record of the service must be maintained properly. This quantitative descriptive study aims to analyze the cost of Sectio caesarea of BPJS participants based on hospital rates and INA CBGs rates in dr. Doris Sylvanus regional public hospital on January until August 2016.
The result revealed that the unpaid cost according to hospital rates is Rp 1.708.663.354 (42%). The cost of light cesarean delivery service according to hospital rates in grade 1 is Rp 10,267,710,-, 2nd grade is Rp 9,441,399,- and grade 3rd is Rp 8,591,730,-. The highest cost component is the cost of surgery. So it is necessary to review the hospital rates of cesarean delivery service.
Keywords : hospital rate, INA CBGs rate, Sectio Caesaria
Read More
S-9621
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nazirah Istianisa; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mieke Savitri, Fushen
B-1780
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fika Sastramaya Khayan; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Mieke Savitri, Budi Hartono, Denni J. Purwanto
Abstrak:
Mutu pelayanan Rumah Sakit di Indonesia sangat bervariasi. Keadaan ini mendorong Pemerintah melalui Depkes Rl untuk menetapkan standar baku tarif dan mutu Rumah Sakit yang berlaku secara nasional melalui suatu sistem Case mix dengan nama INA DRG Depkes. Namun dalam kenyataan penempan tarif INA DRG Depkes menimbulkan polemik bagi pihak Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penetapan cost of treatment berbasis clinical pathway kasus kanker payudara dengan tindakan bedah masektomi radikal modifikasi dan kemoterapi FAC dengan tarif INA DRG Depkes di Rumah Sakit Kanker Dharmais tahun 2008. Hasil penelilian menunjukkan adanya perbedaan pengelompokan kanker payudara menurut AR DRG versi 5.2 dimana ditemukan penyakit penyerta DM, asma, hipertensi, dan penyakit penyulil anemia. Lama hari rawat tidak berbede di setiap diagnosa. Perbedean hanya terletak pada jenis obat yang diberikan yang disesuaikan dengan penyakit yang menyertai. Pada tarif INA DRG Depkes penempan tarif melalui rata-rata data yang dikirimkan oleh 15 Rumah Sakit tanpa adanya clinical pathway dan cost of treatment. Tindakan bedah MRM payudara dan cost of treatment FAC berada lebih tinggi daripada tarifiNA DRG Depkes. Penelitian ini belum menggambarkan seluroh penatalaksanaan pada kanker payudara, sehingga disarankan untuk d.ilakukan penelitian Jebih lanjut khususnya untuk penetapan COT radiotherapi yang mengikuti tindekan bedah MRM dan kemoterapi. Kami sarankan kepada Depkes Rl untuk melengkapi tarif INA DRG Depkes agar dapat membuat clinical pathway sebsgai standar utilisasi pelayanan kesebatan dan selalu melakukan revisi daftar tarif INA DRG Depkes setiap tahun agar dapat mempertahankan mutu pelayanan Rumah Sakit.

The Quality service of Hospital in Indonesia is highly varied. This situation make the Government through Depkes RI to specify the standard of the Hospital quality and tariff applied nationally through a Case mix system by the name of INA DRG DEPKES. But in reality of applying of tariff INA DRG DEPKES generate polemic for Hospital. This research purpose is to know the cost of treatment based on clinical pathway breast cancer case with Modified Radical MMastectomy nd F AC Chemotherapy with INA DRG Depkes tariff at Dharmais Cancer Hospital year of2008. Research result show the difference of breast cancer grouping according to AR DRG version of5.2 where found DM disease, asthma, hypertension, and anaemia. Every diagnosis have the same length of stay. Difference only in the given drug type based on disease accompanied. INA DRG Depkes tariff based on data delivered by 15 Hospital without existence of clinical pathway and cost of treatment. Surgery on MRM breast cancer and cost of treatment FAC higher than INA DRG Depkes tariff. This research not yet show the entire breast cancer surgery, we suggest to do a further research spceially on Cost of Treatment radiotherapy following the action operate on MRM and chemotherapy. We suggest to Depkes RI to complete the INA DRG Dcpkes tariff so that they can make clinical pathway as standard service utility of health and always revise the INA DRG Depkes tariff list every year so that they can maintain the quality service of Hospital.
Read More
B-1199
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive