Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 19279 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Raditia; Pemimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Sandi Iljanto, Tirta Kemala Sari
S-6156
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dea Noviramarini; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Heru Susmono
S-5873
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yussi Damayanti; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Ede Surya Darmawan, Johanis Sebastian Edwin, Aulia Rahma Yanti
Abstrak:
Pengeluaran biaya asuransi kesehatan merupakan salah satu pengeluaran kesehatan total yang dikeluarkan oleh pihak ketiga yang besarnya semakin meningkat setiap tahunnya. Takaful merupakan salah satu penyedia asuransi kesehatan dimana terdapat peningkatan pengeluaran biaya klaim manfaat rawat jalan setiap tahunnya. Kunjungan rawat jalan peserta dan rata-rata biaya klaim yang meningkat setiap tahunnya, diikuti pula dengan peningkatan rasio klaim. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi akan variabel yang mempengaruhi besaran klaim rawat jalan. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dengan metode kuantitatif, dengan melihat faktor jenis kelamin, umur, status kepesertaan, batasan manfaat, dan besaran premi. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak berhubungan dengan besaran klaim rawat jalan. Sebaliknya umur, status kepesertaan, batasan manfaat, dan besaran premi berhubungan dengan besaran klaim rawat jalan. Variabel batasan manfaat memiliki pengaruh yang sangat signifikan dan menunjukkan peningkatan besaran klaim rawat jalan sebesar 73,1% pada setiap peningkatan 1% batasan manfaat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi underwriter Takaful dalam melakukan evaluasi atas batasan manfaat yang dimiliki peserta asuransi kumpulan.

Health insurance expenditures are one of the total health expenses incurred by third parties that increasing every year. Takaful is one of the health insurance where there is an increase in expenses for outpatient benefit claims every year. Participants outpatient visits and the average claim cost increased each year, followed by an increase claim ratio. This research was identify the variables that affect the amount of outpatient claims. This study uses a cross-sectional study with quantitative methods, by looking at the factors of gender, age, membership status, benefit limits, and premium amount. The results of the analysis show that gender is not related to the amount of outpatient claims. On the other hand, age, membership status, benefit limits, and the amount of the premium are related to the amount of outpatient claims. The benefit limitation variable has a very significant effect and shows an increase in the probability of outpatient claims amounting to 73.1% for every 1% increase in benefit limit. The results of this study can be used as a basis for Takaful underwriters in evaluating the limits of benefits owned by group insurance participants.
Read More
T-6545
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renaldo Trisatria Putra; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Fardilla
Abstrak: JPK merupakan suatu program yang diselenggarakan oleh badan penyelenggaraasuransi sosial yaitu PT Jamsostek (Persero) dan diselenggarakan secaraterstruktur dan komprehensif. Program JPK Jamsostek menggunakan prinsipmanaged care. Program ini harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur pelayanankesehatan. Oleh karena itu, peserta program ini harus memahami dan mengikutiprosedur pelayanan kesehatan yang sudah ditetapkan oleh PT Jamsostek(Persero). Pada tahun 2012, PT Jamsostek (Persero) Kantor Cabang Gambirmembayarkan klaim perorangan rata-rata 75 klaim/bulan. Hal ini menandakanbahwa masih rendahnya pemahaman peserta JPK Jamsostek tentang prosedurpelayanan kesehatan PT Jamsostek (Persero).
Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman peserta JPK Jamsostektentang prosedur pelayanan kesehatan PT Jamsostek (Persero) Kantor CabangGambir Tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studicross-sectional dan dilakukan dengan cara pengisian kuesioner. Kuesioner dibagikan kepada 97 responden di PT Matahari Department Store Tbk. AtriumPlaza dan Kopposindo Jakarta Pusat.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara umur, tingkat pendidikan, pengalaman menggunakan JPK, sosialisasi SDMperusahaan, dan sosialisasi JPK Jamsostek dengan pemahaman peserta JPKJamsostek tentang prosedur pelayanan kesehatan PT Jamsostek (Persero).Kata kunci : Pemahaman, prosedur pelayanan kesehatan PT Jamsostek (Persero)
Read More
S-7601
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggun Pratiwi; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Sinom Priyanti
Abstrak: Abstrak

Pola pembayaran pelayanan persalinan pervaginam normal yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan adalah dengan cara nonkapitasi yakni sebesar Rp.600.000. Fasilitas Kesehatan sebagai mitra kerja BPJS Kesehatan diharuskan memberikan pelayanan kesehatan sesuai perjanjian kerjasama dan tanpa menarik iur-biaya. Penarikan iur-biaya yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan mitra kerja BPJS merupakan salah satu tindakan kecurangan (fraud). Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor kebutuhan finansial menjadi pendorong bagi klinik mitra kerja BPJS Kesehatan untuk menarik iur biaya pada peserta BPJS Kesehatan. Pegawasan yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan, DinKes, serta Kementrian Kesehatan belum dilakukan secara optimal dan penggunaan sanksi seperti yang tertuang didalam PMK No. 36 Tahun 2015 juga belum dilakukan sepenuhnya. Berdasarkan hasil tersebut penulis menyarankan untuk dilakukannya analisis unit cost terkait pelayanan persalinan pervaginam normal dan ditingkatkannya pengawasan oleh BPJS Kesehatan dan semua pihak yang terkait untuk menjamin fasilitas pelayanan kesehatan sebagai mitra kerja BPJS Kesehatan memberikan pelayanan yang bermutu dan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.


The pattern of a normal vaginal delivery service payments paid by BPJS is by nonkapitasi which amounted to 600,000. Health Facility as partners BPJS required to provide appropriate health services cooperation agreement and without cost-sharing. Cost-sharing withdrawals carried out by health care facilities BPJS partners is one act of fraud (fraud). This research was conducted using qualitative method. The research found that the factor of financial needs become the driving force for the clinic BPJS partners to attract participants BPJS cost sharing on health. Supervision conducted by BPJS Health, Health Office, and the Ministry of Health is not optimal and the use of sanctions as stipulated in the Regulation of Healt Minister No. 36 2015 has not been done completely. Based on these results the authors suggest to do the analysis of the unit cost of service related to normal delivery and increased supervision by BPJS Health and all parties concerned to ensure the health care facility as a partner BPJS provide quality services and in accordance with the prescribed rules.

Read More
S-8975
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Teguh Setiawan; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, RetnoLuckyatiningsih
Abstrak:

ABSTRAK Tingginya jumlah angkatan kerja dan jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia tidak diikuti dengan tingginya angka pekerja yang dilindungi dalam program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek. Data menunjukkan bahwa jumlah pekerja yang dilindungi dalam program JPK baru sebanyak 3.061.098 (Jamsostek, 2012) masih jauh bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang bekerja yaitu sekitar 109 juta orang (2,97%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor terkait dan dominan yang mempengaruhi seorang manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan untuk mengikutsertakan pekerjanya pada program Jaminan Pemeliharaan kesehatan (JPK) PT Jamsostek (Persero) di Wilayah III Cirebon. Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional dan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh seluruh manajemen yang perusahaannya terdaftar sebagai peserta aktif dalam program JPK. Dimana untuk satu perusahaan diwakili oleh satu orang manajemen perusahaan yang telah ditunjuk sebagai responden dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis multivariat regresi logistik ganda metode stepwise diperoleh informasi bahwa faktor keyakinan terhadap program JPK merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap keputusan manajemen untuk mengikutsertakan pekerja dalam program JPK (p-value= 0,026). Dalam hal ini, responden (manajemen) yang memiliki keyakinan tinggi terhadap program JPK memiliki kemungkinan untuk mengikutsertakan pekerja dalam program JPK 15 kali dibandingkan responden (manajemen) yang memiliki keyakinan rendah terhadap program JPK. Olehkarenanya, Manajemen PT Jamsostek (Persero) beserta jajarannya harus dapat terus meningkatkan kualitas dan kecepatan layanan kepada peserta, dengan tujuan agar kepercayaan peserta terhadap penyelenggara program Jamsostek dapat terus meningkat dan terjaga. Pengembangan/perluasan manfaat program Jamsostek khususnya JPK juga diperlukan agar layanan program JPK dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh peserta.


 ABSTRACT The high number of labor force and the number of people who work in Indonesia is not followed by a high number of workers covered under the Health Insurance program (JPK) of Social Security. Data shows that the number of workers covered under the program JPK as much as 3.061.098 (Social Security, 2012) is far when compared to the working population of about 109 million people (2,97%). This study aims to determine the various factors that affect the relevant and dominant a company management in decision making to include workers in health insurance program (JPK) of Social Security PT (Persero) in Region III Cirebon. The study was conducted with a cross-sectional design an quantitative approaches. The study population was all over the entire management of the company are listed as active particiants in the program JPK. Where one company to be represented by one management company that has been designated as the respondents in this study. Based on the results of multiple logistic regression multivariate analysis stepwise methode was obtained that the confidence factor of the JPK is the most dominant factor of influence on management decisions to include workers in the JPK (p-value=0.026). In this case, the respondent (management) that have a low confidence on JPK. Therefore, Management of Social Security PT (Persero) and its staff should be able to continue to improve the quality and speed of services to participants, including extending the benefits of the Social Security program services, with the aim that the participants trust the organizers of the Social Security program may continue to rise and awake. Development/expansion of the Social Security program (JPK) specifically benefits also needed for service JPK program can be felt by the participants.

Read More
T-3778
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Eka Putra; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Meri Lestari, Rien Pramindari
Abstrak:
Pendahuluan: Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang wajib diperoleh bagi seluruh masyarakat dan dijamin oleh negara melalui pencapaian UHC. Dalam rangka mencapai UHC, Indonesia memulai program asuransi sosial yang disebut Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak tahun 2014. Beberapa tahun awal, program JKN mengalami defisit walaupun mengalami surplus di masa COVID-19, namun diprediksi akan mengalami defisit kembali akibat biaya kesehatan dan utilitas dari layanan kesehatan yang semakin meningkat. Dengan tujuan agar program JKN dapat berkelanjutan, maka penting untuk memperhatikan faktor pengumpulan dana, pooling risiko, serta pembelanjaan kesehatan yang efisien. Dana yang terkumpul sangat bergantung pada status keaktifan kepesertaan. Khususnya pada peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) merupakan segmen yang paling tinggi ketidakaktifan status kepesertaannya. Tujuan: Oleh sebab itu, penting untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi status keaktifan kepesertaan JKN pada segmen tersebut agar pengumpulan dana dapat dimaksimalkan. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Melalui persamaan logistic model Logit untuk mencari hubungan dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Hasil: Total sampel 589.529 orang, didapatkan bahwa seluruh provinsi di Indonesia kecuali DKI Jakarta, domisili di luar negeri, perempuan, usia muda, peserta yang memilih hak kelas kepesertaan I dan II, serta peserta yang memilih Puskesmas memiliki probabilitas status kepesertaan tidak aktif secara signifikan. Hanya frekuensi utilisasi FKTP, FKRTL dan peserta yang memilih FKTP di Klinik Pratama dan yang belum kawin memiliki probabilitas status kepesertaan aktif secara signifikan. Kesimpulan: Perlunya kerjasama lintas sektoral serta evaluasi beberapa regulasi atau kebijakan dalam meningkatkan status kepesertaan JKN agar mampu menyelenggarakan program JKN yang berkelanjutan

Introduction: Health is a basic need that must be obtained by the entire community and is guaranteed by the state through the achievement of Univesal Health Coverage (UHC). In order to achieve UHC, Indonesia launched a social insurance program called the National Health Insurance (JKN) in 2014. In the initial years, the JKN program experienced a deficit, although it experienced a surplus during the pandemic of COVID-19, but it is predicted to experience a deficit again due to increasing healthcare costs and healthcare service utilization. In order for the JKN program to be sustainable, it is important to pay attention to the factors of fund collection, risk pooling, and efficient healthcare purchasing. The collected funds are highly dependent on the active membership status. Specifically, for the JKN participants in the Non-Wage Earners (PBPU) and Non-Workers (BP) segments, they have the highest inactivity rate in thei membership status. Objective: Therefore, it is important to study the factors that influence the active membership status of the JKN program in Non-Wage Earners and Non-Workers segments in order to maximize fund collection. Method: This research was conducted using a cross-sectional method with secondary data from the 2023 BPJS Kesehatan Sample Data. The Logit logistic model equation was used to find the relationship and probability of the influencing factors. Results: From a total sample of 589,529 people, it was found that all provinces in Indonesia except DKI Jakarta, domicile abroad or living abroad, female, young age, participants who choose class I and II membership rights, and who choose Puskesmas (primary health centers) have a signifincantly higher probability of inactive membership status. Only the frequency of utilization of primary healthcare facilities, referral healthcare facilities and participants who choose Clinics and those who are unmarried have a significantly higher probability of active membership status. Conclusion: The need for cross-sectoral collaboration and evaluation of several regulations of policies to improve JKN membership status in order to be able to organize a sustainable JKN program
Read More
T-7130
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisaparma Anestya; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Heru Susmono
S-8144
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Ardiningtyas; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Atik Nurwahyuni, Nur Ardianto Utomo, Herta Puspitasari
Abstrak:
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program asuransi kesehatan sosial wajib yang bertujuan mencapai cakupan kesehatan semesta di Indonesia. Meskipun seluruh pekerja formal wajib menjadi peserta JKN, banyak perusahaan tetap menyediakan asuransi kesehatan kumpulan komersial (private health insurance/PHI) bagi karyawannya. Fenomena ini menunjukkan adanya koeksistensi antara sistem jaminan kesehatan sosial dan asuransi kesehatan komersial yang memerlukan pemahaman lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pemberi kerja untuk tetap menyediakan PHI di tengah kewajiban kepesertaan JKN serta memahami hubungan antara kedua sistem tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan dominasi kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dari kelompok pemberi kerja, perusahaan asuransi, dan pialang asuransi. Data sekunder diperoleh melalui analisis dokumen regulasi JKN serta data polis dan klaim asuransi kesehatan kumpulan. Analisis data primer dilakukan menggunakan analisis tematik, sedangkan data sekunder dianalisis secara deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan pemberi kerja untuk menyediakan PHI dipengaruhi oleh tiga kelompok faktor utama, yaitu faktor institusional, karakteristik produk asuransi, serta faktor strategi dan tujuan perusahaan. Faktor institusional meliputi tekanan regulatif, ekspektasi karyawan, dan praktik industri. Faktor karakteristik produk mencakup perbedaan cakupan manfaat, akses layanan, kualitas dan kenyamanan pelayanan, administrasi, serta fleksibilitas manfaat antara JKN dan PHI. Faktor strategi perusahaan berkaitan dengan upaya meningkatkan produktivitas, menarik dan mempertahankan talenta, serta memperkuat employee value proposition. Temuan penelitian menunjukkan bahwa PHI dipersepsikan sebagai pelengkap JKN yang memberikan nilai tambah melalui peningkatan akses, fleksibilitas, dan pengalaman layanan kesehatan. Mekanisme Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ) berpotensi memperkuat hubungan komplementer antara JKN dan PHI melalui koordinasi pembiayaan yang lebih terintegrasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyediaan PHI oleh pemberi kerja tidak semata-mata merupakan respons terhadap keterbatasan JKN, tetapi juga merupakan bagian dari strategi organisasi dalam pengelolaan sumber daya manusia dan penciptaan nilai bagi karyawan.

Indonesia’s National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional/JKN) is a mandatory social health insurance program designed to achieve universal health coverage. Despite mandatory JKN enrollment for all formal-sector employees, many employers continue to provide private group health insurance (PHI) as an additional employee benefit. This phenomenon reflects the coexistence of social health insurance and private health insurance and warrants further investigation. This study aims to analyze the factors influencing employers’ decisions to maintain PHI alongside JKN and to understand the relationship between the two schemes. This study employed a mixed-method approach with qualitative dominance. Primary data were collected through in-depth interviews with representatives of employers, insurance companies, and insurance brokers. Secondary data were obtained from the analysis of JKN-related regulations, group health insurance policy documents, and claims data. Primary data were analyzed using thematic analysis, while secondary data were analyzed using descriptive and comparative approaches. The findings indicate that employers’ decisions to provide PHI are influenced by three major groups of factors: institutional factors, insurance product characteristics, and corporate strategic objectives. Institutional factors include regulatory pressure, employee expectations, and industry practices. Insurance product characteristics encompass differences in benefit coverage, access to services, service quality and convenience, administrative processes, and benefit flexibility between JKN and PHI. Corporate strategic factors relate to improving productivity, attracting and retaining talent, and strengthening the employee value proposition. The study found that PHI is perceived as complementary to JKN by providing additional value through enhanced access, flexibility, and healthcare service experience. Furthermore, the Coordination of Benefits (CoB) mechanism has the potential to strengthen the complementary relationship between JKN and PHI through more integrated healthcare financing arrangements. This study concludes that employers’ provision of PHI is not merely a response to perceived limitations of JKN but also forms part of a broader organizational strategy for human capital management and employee value creation.
Read More
T-7709
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cynthia Valianty; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Bagus Satriya
S-5842
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive