Ditemukan 39994 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dedy Irawan; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Ratna Djuwita, Laurentia, Muhammad NoorFarid
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi prevalensi, faktor-faktor risiko dan model prediksi kejadian diabetes melitus tipe 2 di daerah urban Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Riset Kesehatan Dasar 2007. Kriteria diagnostik menggunakan metode Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) menurut World Health Organization (WHO) 1999 dan American Diabetes Association (ADA) 2003. Dari 19.960 responden berusia 15 tahun keatas hanya 18.746 responden yang dianalisis. Analisis data menggunakan regresi logistik dengan desain sampel dua tahap. Dari analisis data didapatkan prevalensi diabetes melitus sebesar 5,98% (95%CI 5,40% - 6,62%), prevalensi diabetes melitus tertinggi pada kelompok umur diatas 45 tahun sebesar 12,41% (95%CI 11,13% - 13,81%). Dengan mengontrol tingkat pendidikan, pekrjaan dan umur didapatkan odds ratio kegemukan sebesar 1,52 (OR = 1,52; 95%CI 1,27 - 1,82), odds ratio obesitas sebesar 2,40 (OR = 2,40; 95%CI 1,80 - 3,19) dan odds ratio obesitas sentral sebesar 1,92 (OR = 1,92; 95%CI 1,62 - 2,26). Dengan menghindari kejadian obesitas sentral dapat mencegah 22,6% (95% CI 18,2% - 26,5%) kejadian diabetes melitus tipe 2 di populasi, atau sekitar 474.922 kasus diabetes melitus dapat dicegah jika obesitas sentral diintervensi.
Diabetes mellitus type 2 is a serious public health problem in the world. Diabetes mellitus is also the main cause of morbidity, mortality, disability, and economic loss all over the world include development countries. The research objective is to estimate the diabetes mellitus prevalence, risk factors, and prediction model in urban areas of Indonesia. By analyzed The Indonesia Basic Health Research Survey 2007 that consist of 19,960 respondents aged above 15 years old who had Oral Glucose Tolerance Test (OGTT). Only 18,746 respondents had been analyzed. Logistic regression with two stage design sampling was used to analyze the data. The result showed that diabetes mellitus prevalence was 5.98% (95%CI 5.40% - 6.62%), and the highest prevalence was 12.41% (95%CI 11.13% - 13.81%) in an above 45 year-old age group. We estimate odds ratio by adjusted education level, occupation and age. The odds ratio of overweight is 1.52 (OR = 1.52; 95%CI 1.27 - 1.82), the odds ratio of general obesity is 2.40 (OR = 2.40; 95%CI 1.80 - 3.19) and the odds ratio of central obesity is 1.92 (OR = 1.92; 95%CI 1.62 - 2.26). By prevent central obesity we could prevent 22.6% (95% CI 18.2% - 26.5%) the expected diabetes mellitus cases in the population, or above 474,922 diabetes mellitus cases could prevent.
Read More
Diabetes mellitus type 2 is a serious public health problem in the world. Diabetes mellitus is also the main cause of morbidity, mortality, disability, and economic loss all over the world include development countries. The research objective is to estimate the diabetes mellitus prevalence, risk factors, and prediction model in urban areas of Indonesia. By analyzed The Indonesia Basic Health Research Survey 2007 that consist of 19,960 respondents aged above 15 years old who had Oral Glucose Tolerance Test (OGTT). Only 18,746 respondents had been analyzed. Logistic regression with two stage design sampling was used to analyze the data.
T-3220
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fitriyani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Yovsyah, Robert Meison Saragih
S-7380
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Latifatul Khoiriyah; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Wahyu Septiono, Iqbal Ridzi Fahdri Elyazar
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Prevalensi DMT2 selalu meningkat dari tahun 2000-2021 yakni dari 4,55% menjadi 10,6%. Angka kematian DMT2 juga mengalami peningkatan sebanyak 57,94% dari tahun 2011 ke tahun 2021. Walaupun pemerintah sudah berupaya dalam mengendalikan DMT2, beban penyakit ini diproyeksikan meningkat hingga tahun 2045. DMT2 merupakan penyakit dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Beban penyakit DMT2 ini dapat tercermin dalam ukuran DALYs. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tren DALYs penyakit DMT2 dan faktor risikonya di Indonesia tahun 1990-2021. Metode: Penelitian ini menggunakan metode systematic review dengan data sekunder Global Burden of Disease 2021. Populasi dari penelitian ini adalan penduduk usia ≥ 35 tahun di 34 provinsi di Indonesia dengan unit analisis provinsi. Variabel dalam penelitian ini adalah DALYs DMT2, DALYs DMT2 akibat IMT tinggi, dan DALYs DMT2 akibat perilaku merokok. Hasil: Penelitian menjukkan DALYs DMT2 mengalami kenaikan sebesar 59,6% dari tahun 1990-2021. Faktor yang paling berkontribusi dalam DALYs DMT2pada tahun 2021 yaitu IMT tinggi (41,7%) dan perilaku merokok (15,8%). DALYs DMT2 yang disebabkan oleh faktor risiko tersebut juga mengalami kenaikan, dengan rincian 133,21% untuk IMT tinggi dan 69,2% untuk perilaku merokok. Kesimpulan: DALYs DMT2, DALYs DMT2 akibat IMT tinggi, dan DALYs DMT2 akibat perilaku merokok selalu meningkat dari tahun 1990-2021. Hal ini menunjukkan kewaspadaan masyarakat terhadap dampak DMT2 yang masih rendah.
Background: Type 2 diabetes mellitus remains a serious global health problem. The prevalence of T2DM has always increased from 2000-2021, from 4.55% to 10.6%. The mortality rate of T2DM also increased by 57.94% from 2011 to 2021. Despite the government's efforts to control T2DM, the disease burden is projected to increase until 2045. T2DM is a disease with high mortality and morbidity. The disease burden of T2DM can be reflected in the DALYs measure. This study aims to examine the trend of T2DM disease DALYs and its risk factors in Indonesia from 1990 to 2021. Methods: This study used systematic review methods with secondary data from the Global Burden of Disease 2021. The population of this study was the population aged ≥ 35 years in 34 provinces in Indonesia. The variables in this study were T2DM DALYs, T2DM DALYs due to high BMI, and T2DM DALYs due to smoking behaviour. Results: The study showed that T2DM DALYs increased by 59.6% from 1990-2021. The most contributing factors to T2DM DALYs in 2021 were high BMI (41.7%) and smoking behaviour (15.8%). T2DM DALYs caused by these risk factors also increased, with 133.21% for high BMI and 69.2% for smoking behaviour. Conclusion: T2DM DALYs, T2DM DALYs due to high BMI, and T2DM DALYs due to smoking behaviour always increased from 1990-2021. This shows that public awareness of the impact of T2DM is still low.
S-11583
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Berly Nisa Srimaryati; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar, Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Tris Eryando; Fajrinayanti
Abstrak:
Diabetes melitus merupakan salah satu dari empat Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi prioritas di dunia. Kasus diabetes di dunia terus meningkat, kebanyakan terjadi pada diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), bahwa prevalensi nasional diabetes tipe 2 di Indonesia pada usia >15 tahun, terjadi peningkatan yaitu dari 5,7% (2007), menjadi 6,9% (2013) dan terus meningkat menjadi 8,5% (2018). Sekitar 70% penyandang diabetes tipe 2 sering tidak menyadari penyakitnya, bahkan 25% baru menyadari bahwa sudah mengalami komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat perancangan prototipe Personal Health Records (PHR) dalam rangka pencegahan dan pengendalian faktor risiko diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan metode Systems Development Life Cycle (SDLC), melalui pendekatan Rapid Application Development (RAD) dengan teknik prototyping. Prototipe ini menyediakan informasi terkait diabetes, tersedianya menu data umum bagi pengguna, adanya data riwayat kesehatan, faktor risiko diabetes melitus tipe 2, dan rekomendasi kesehatan dalam bentuk kalimat dan video. Personal Health Record (PHR) berbasis android ini bisa menjadi salah satu tools untuk melakukan pencegahan dan pengendalian faktor risiko diabetes melitus tipe 2, pengguna bisa mengetahui lebih dini potensi terhadap penyakit diabetes melitus tipe 2, karena output yang muncul dapat melihat pengguna termasuk berisiko atau tidak, sesuai dengan kategori yang di inputkan. Penggunaan aplikasi ini sangat mudah dipahami dan berpusat pada individu, sehingga dapat mendorong perubahan perilaku kesehatan bagi pengguna
Read More
T-5709
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shaina Naurah Aziza; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Wan Aisyiah Baros
Abstrak:
Read More
Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with one of the highest health burdens in Indonesia, with prevalence nearly doubling over a decade, from 6.9% (2013) to 11.7% (2023), placing Indonesia as the country with the fifth-highest number of diabetes patients in the world (20.4 million in 2024). T2DM patients face a threefold higher risk of cardiovascular disease and a tenfold higher risk of kidney disease, with complication-related costs accounting for approximately 74% of total direct medical costs covered by BPJS Kesehatan. The effectiveness of prevention programs such as Prolanis depends heavily on understanding the factors that accelerate complication onset. Therefore, this study aimed to determine the survival of T2DM patients enrolled in the National Health Insurance (JKN) program with respect to complication onset, along with its associated determinants. Methods: This study used BPJS Kesehatan Sample Data from 2020, employing a retrospective closed-cohort design with an observation period of 2020–2025. Analyses were conducted using the Kaplan-Meier method and Cox Proportional Hazard regression. Results: Of 2,704 T2DM patients included in the study, 54.1% experienced complications, with a 4-year survival rate of 0.473 (95% CI: 0.45–0.49) and a median time-to-event of 3.639 years. The Kaplan-Meier and log rank analysis found out that age at diagnosis (p = 0,041), hypertension (p < 0,0001), and dyslipidemia (p < 0,0001) variables significantly differs the time of complication onset among T2DM patients. Based on the Cox Proportional Hazard analysis, factors that significantly accelerated complication onset were having hypertension (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525) and having dyslipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), while being ≥65 of age when first diagnosed is a protective factor (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978). Conclusion: Survival from complications among JKN-enrolled T2DM patients in Indonesia remains relatively low, with hypertension and dyslipidemia as the main determinants. Comprehensive efforts to prevent and manage these comorbidities are therefore needed, including through optimized risk stratification within the Prolanis program. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Survival Analysis, Complications, National Health Insurance, BPJS Sample Data
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari 6,9% (2013) menjadi 11,7% (2023), serta menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi kelima di dunia (20,4 juta jiwa pada 2024). Penderita DM tipe 2 menghadapi risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dan sepuluh kali lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, dengan beban biaya komplikasi yang mencakup sekitar 74% dari total biaya medis langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan. Efektivitas program pencegahan seperti Prolanis sangat bergantung pada pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempercepat terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020 dengan desain studi kohort tertutup retrospektif dan masa pengamatan pada 2020—2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji Cox Proportional Hazard. Hasil: Dari 2.704 pasien DM tipe 2 yang diikutsertakan, terdapat 54,1% kejadian komplikasi, dengan 4-year survival rate sebesar 0,473 (95% CI: 0,45–0,49) dan median time-to-event 3,639 tahun. Pada faktor sosiodemografi, faktor usia saat diagnosis secara signifikan memengaruhi survival rate (p = 0,041) walau perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian. Pada faktor klinis, pasien DM tipe 2 dengan hipertensi (p < 0,0001) dan dislipidemia (p < 0,0001) secara signifikan memiliki 4-year survival rate lebih rendah. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang secara signifikan mempercepat kejadian komplikasi hipertensi (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525), dislipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), sedangkan berumur ≥65 saat diagnosis (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978) merupakan faktor protektif. Kesimpulan: Kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta JKN di Indonesia masih tergolong rendah, dengan hipertensi dan dislipidemia sebagai determinan utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian komorbiditas secara komprehensif, salah satunya melalui optimalisasi stratifikasi risiko dalam program Prolanis. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Analisis Kesintasan, Komplikasi, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan
Latar belakang: Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari 6,9% (2013) menjadi 11,7% (2023), serta menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi kelima di dunia (20,4 juta jiwa pada 2024). Penderita DM tipe 2 menghadapi risiko tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dan sepuluh kali lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, dengan beban biaya komplikasi yang mencakup sekitar 74% dari total biaya medis langsung yang ditanggung BPJS Kesehatan. Efektivitas program pencegahan seperti Prolanis sangat bergantung pada pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempercepat terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020 dengan desain studi kohort tertutup retrospektif dan masa pengamatan pada 2020—2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji Cox Proportional Hazard. Hasil: Dari 2.704 pasien DM tipe 2 yang diikutsertakan, terdapat 54,1% kejadian komplikasi, dengan 4-year survival rate sebesar 0,473 (95% CI: 0,45–0,49) dan median time-to-event 3,639 tahun. Pada faktor sosiodemografi, faktor usia saat diagnosis secara signifikan memengaruhi survival rate (p = 0,041) walau perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian. Pada faktor klinis, pasien DM tipe 2 dengan hipertensi (p < 0,0001) dan dislipidemia (p < 0,0001) secara signifikan memiliki 4-year survival rate lebih rendah. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang secara signifikan mempercepat kejadian komplikasi hipertensi (aHR=1,370; 95% CI: 1,231–1,525), dislipidemia (aHR=1,522; 95% CI: 1,363–1,647), sedangkan berumur ≥65 saat diagnosis (aHR=0,868; CI: 0,771 – 0,978) merupakan faktor protektif. Kesimpulan: Kesintasan komplikasi pasien DM tipe 2 peserta JKN di Indonesia masih tergolong rendah, dengan hipertensi dan dislipidemia sebagai determinan utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengendalian komorbiditas secara komprehensif, salah satunya melalui optimalisasi stratifikasi risiko dalam program Prolanis. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Analisis Kesintasan, Komplikasi, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Data Sampel BPJS Kesehatan
S-12311
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Titin Delia; pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Dwi Hapsari
S-8500
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dyana Santika Sari; Pembimbing: Besral; Penguji: Iwan Ariawan, Artha Prabawa, Nita Mardiah, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Penderita obesitas di dunia terus meningkat tidak hanya di negara maju namun negara berkembang seperti Indonesia. Peningkatan kejadian obesitas ternyata juga sejalan dengan peningkatan kejadian Sindrom Metabolik (SM) salah satunya adalah Diabetes Mellitus Tipe 2. Pengukuran obesitas yang selama ini dilakukan belum akurat. ABSI menggabungkan hasil ukur lingkar pinggang dengan IMT dan tinggi badan sebagai upaya mencari indikator antropometri baru yang lebih valid dalam menggambarkan bahaya dari kegemukan dan obesitas. Sedangkan untuk memperkiraan kejadian Diabetes agar menjadi lebih akurat diperlukan durasi obesitas. Aktivitas fisik diduga menjadi faktor utama yang mempengaruhi kejadian obesitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan desain studi kohor retrospektif. Analisis penelitian menggunakan survival dengan regresi cox. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 2.591 orang dewasa dengan obesitas di 5 Kelurahan di Kota Bogor. Hasil penelitian ini menunjukkan ketahanan terhadap DM Tipe 2 paling rendah terjadi pada orang obesitas yang melakukan aktivitas fisik rendah dibandingkan dengan yang beraktifitas sedang dan tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi survival time antara lain umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, asupan karbohidrat, dan asupan lemak.
Read More
T-5712
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amrina Rosyada; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ratna Djuwita, Robert Meison Saragih
S-7739
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Resita Dyah Purnama Suci; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Indang Trihandini, Dyah Erti Mustikawati
Abstrak:
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian yaitu sebesar 30% kematian di dunia. Tahun 2013 prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter adalah sebesar 0,5%, dan berdasarkan terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5%. Sebanyak 68% orang yang menderita penyakit diabetes melitus meninggal karena komplikasi penyakit jantung koroner. Prevalensi orang dengan DM di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 6,9% dan pada tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penyakit diabetes melitus (DM) dengan prevalensi penyakit jantung koroner (PJK) di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut Riskesdas 2013 dengan desain studi Cross Sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di Indonesia usia ≥15 tahun yang memiliki data variabel penelitian lengkap. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa responden yang menderita diabetes melitus memiliki risiko 3,07 kali lebih besar untuk menderita penyakit jantung koroner dibandingkan dengan responden yang tidak menderita diabetes melitus setelah dikontrol variabel usia, hipertensi, obesitas sentral, obesitas, stress, variabel interaksi diabetes melitus dengan usia, dan variabel interaksi diabetes melitus dengan obesitas sentral. . Kata Kunci : Penyakit Jantung Koroner, Diabetes Melitus, Riskesdas 2013 Cardiovascular disease is the leading cause of death which contributes to about 30% of deaths in the world. In 2013, the prevalence of coronary heart disease in Indonesia, based on medical diagnosis was 0.5% and based on medical diagnosis or symptoms was 1,5%. There were 68% of people who suffered from diabetes mellitus died from complications of coronary heart disease. The prevalence of people with diabetes in Indonesia in 2013 was about 6.9% and in 2015. The aim of this study to determine the relationship between diabetes mellitus (DM) and the prevalence of coronary heart disease (CHD) in Indonesia. This study is a further analysis of Riskesdas (Indonesia Basic Health Research) 2013 designed with a cross-sectional study. The respondents of this research were all residents in Indonesia at age ≥ 15 years, those who had completed research variable data. Based on the survey results revealed that respondents with diabetes mellitus are at 3.07 times higher risk of suffering coronary heart disease compared to respondents without diabetes mellitus after controlled by age, hypertension, central obesity, obesity, stress, interaction variable between diabetes mellitus and age, and interaction variable between diabetes mellitus and central obesity. Key words : Coronary Heart Disease, Diabetes Mellitus, Riskesdas 2013
Read More
S-9294
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Leny Sang Surya; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Besral, Ella Nurlaela Hadi, Heni Rudiyanti, Saraswati
Abstrak:
Secara universal prevalensi penyakit periodontal di Dunia sebesar 5-20% (2005).Prevalensi penyakit periodontal di Indonesia mengalami peningkatan sebesar42,8% (1995), 70% (2001), 96,58% (2004), hampir seluruh wilayah di Indonesiamemiliki prevalensi penyakit periodontal lebih dari 15% (2015). Penelitian inibertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lokal, faktor sistemik dan faktorperilaku terhadap kejadian penyakit periodontal di Indonesia tahun 2013. Desainpenelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan menggunakan datasekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013. Uji statistik yangdigunakan adalah regresi logistik ganda. Prevalensi penyakit periodontal diIndonesia sebesar 9,77%. Faktor lokal yang berhubungan dengan penyakitperiodontal yaitu calculus, missing dan crowded. Faktor sistemik yangberhubungan dengan penyakit periodontal yaitu diabetes melitus, stres dan IMT.Faktor perilaku yang berhubungan dengan penyakit periodontal yaitu perilakumenyikat gigi dan perilaku merokok. Disarankan untuk selalu menjaga kebersihangigi dan mulut dengan melakukan sikat gigi minimal dua kali sehari, segeramengganti gigi yang hilang dengan menggunakan gigi palsu, memperbaikisusunan gigi yang berjejal di dalam lengkung rahang, menghindari rokok,menjaga pola makan dan aktivitas fisik untuk menghindari terjadinya obesitas danpenyakit diabetes melitus, serta periksa gigi minimal setiap enam bulan sekali.Kata Kunci : penyakit periodontal, faktor lokal, faktor sistemik, faktor perilaku
Prevalence of periodontal disease in the world by universal is 5-20% (2005). Theprevalence of periodontal disease in Indonesia increased by 42,8% (1995), 70%(2001), 96,58% (2004), almost all regions in Indonesia have periodontal diseaseprevalence is more than 15% (2015). This study aims to determine the associationof local factors, systemic factors and behavior factors of periodontal diseaseincidence in Indonesia 2013. The study design used is cross sectional usingsecondary data Basic Health Research (Riskesdas) in 2013. The statistical testused multiple logistic regression. The prevalence of periodontal disease inIndonesia is 9,77%. Local factors associated with periodontal disease are calculus,missing and crowded. Systemic factors associated with periodontal disease arediabetes mellitus, stress and IMT. Behavior factors associated with periodontaldisease is tooth brushing behavior and smoking behavior. It is advisable to alwaysmaintain oral hygiene by brush your teeth at least twice a day, immediatelyreplace the missing teeth by using partial dentures, correct arrangement of teethcrowding in the arch, avoid smoking, maintain a diet and physical activity toprevent obesity and diabetes mellitus, as well as dental checup at least every sixmonths.Keywords: periodontal disease, local factors, systemic factors, behavior factors
Read More
Prevalence of periodontal disease in the world by universal is 5-20% (2005). Theprevalence of periodontal disease in Indonesia increased by 42,8% (1995), 70%(2001), 96,58% (2004), almost all regions in Indonesia have periodontal diseaseprevalence is more than 15% (2015). This study aims to determine the associationof local factors, systemic factors and behavior factors of periodontal diseaseincidence in Indonesia 2013. The study design used is cross sectional usingsecondary data Basic Health Research (Riskesdas) in 2013. The statistical testused multiple logistic regression. The prevalence of periodontal disease inIndonesia is 9,77%. Local factors associated with periodontal disease are calculus,missing and crowded. Systemic factors associated with periodontal disease arediabetes mellitus, stress and IMT. Behavior factors associated with periodontaldisease is tooth brushing behavior and smoking behavior. It is advisable to alwaysmaintain oral hygiene by brush your teeth at least twice a day, immediatelyreplace the missing teeth by using partial dentures, correct arrangement of teethcrowding in the arch, avoid smoking, maintain a diet and physical activity toprevent obesity and diabetes mellitus, as well as dental checup at least every sixmonths.Keywords: periodontal disease, local factors, systemic factors, behavior factors
T-4758
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
