Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31149 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Setya Haksama; Promotor: Amal C. Syaaf, ; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Sudarti Kresno, Dian Ayubi, Boy Subirosa Sabarguna, Delina Hasan
D-250
Depok : FKM UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Peristiwanto Adiyono Kodrat Pramudho; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Azrul Azwar, Adang Bachtiar; Penguji: Sudijanto Kamso, Soekidjo Notoatmodjo, Triono Sundoro, Trihono, Minarto
D-226
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bimo Prasetyo; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Robiana Modjo; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Dadan Erwandi, Suryo Hapsoro Tri Utomo; Akhmad Suraji
Abstrak:
Sektor konstruksi memiliki risiko kecelakaan kerja tinggi. Studi ini mengembangkan pengukuran sistem manajemen k3 konstruksi menggunakan kriteria sistem manajemen keselamatan konstruksi sesuai peraturan Permen PUPR No.10/2021, dapat digunakan dalam menilai keselamatan di industri konstruksi. Metodologi menggunakan pendekatan mixed-method exploratory design. Hasil studi menunjukkan bahwa perusahaan BUMN karya yang diobservasi menerapkan sistem manajemen keselamatan konstruksi berdasarkan peraturan yang berlaku dan dilaksanakan berbeda-beda sesuai visi misi perusahaan. Meskipun pengukuran belum dilakukan dengan aplikasi khusus, namun penelitian menunjukkan bahwa pengukuran dapat dilakukan melalui aplikasi yang dikembangkan. Faktor-faktor kompetensi, SOP, dan SMKK 10/21 ditemukan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerapan sistem manajemen keselamatan konstruksi.

This study focuses on developing a measurement for assessing the construction safety management system in the construction sector, known for its high risk of work accidents. The researchers used the criteria outlined in Permen PUPR No.10/2021 to evaluate safety in the industry. The study employed a mixed-method exploratory design approach. The findings indicate that state-owned construction companies adhere to the construction safety management system based on relevant regulations, albeit with variations depending on each company's vision and mission. While a specific application of the measurement has not been conducted, the study demonstrates that it is feasible to measure safety in construction through the developed tool. The study also identified competency, SOPs, and SMKK 10/21 as significant factors influencing the implementation of construction safety management systems
Read More
D-497
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lelitasari; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Sabarinah, Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Purnawan Junadi, Lana Saria, Sudi Astono, Baiduri Widanarko
Abstrak:
Kelelahan dalam operasi tambang merupakan isu yang serius dan merupakan kontributor signifikan untuk terjadinya kecelakaan. Secara hukum perusahaan yang mengoperasikan tambang batubara harus mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mengendalikan setiap risiko keselamatan dan kesehatan yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara di Indonesia. Pendekatan studi merupakan gabungan antara pendekatan kualitatif untuk menemukan indikator kinerja dan kuantitatif untuk menguji validitas, reliabilitas dan kualitas instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara. Sampel sebanyak 90 perusahaan tambang batubara yang ada di Indonesia. Penelitian menghasilkan instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara yamg terdiri dari 31 indikator, dengan validitas dan reliabilitas instrumen sudah memenuhi persyaratan. Hasil analisis kurva ROC diperoleh cut off point 73 dan AUC 71,3% yang artinya skor kinerja MRK memiliki kekuatan prediksi sedang untuk terjadinya kecelakaan karena kelelahan. Ditemukan kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara dengan kategori kurang baik 45,6% dan baik 54,4% Kategori kinerja manajemen risiko kelelahan berkategori kurang baik paling banyak terdapat pada perusahaan yang jumlah karyawannya Fatigue in mining operations is a serious issue and a significant contributor to accidents. According to the law, companies operating coal mines must develop and implement strategies to control any safety and health risks associated with worker fatigue. This research was conducted to develop an instrument for assessing the performance of fatigue risk management in coal mining companies in Indonesia. The study approach combines a qualitative approach to find performance indicators and a quantitative one to test the validity, reliability, and quality of fatigue risk management performance assessment instruments in coal mining companies. The sample is 90 coal mining companies in Indonesia. The study produced a tool for assessing the performance of fatigue risk management in coal mining companies consisting of 31 indicators, with the validity and reliability of the instrument meeting the requirements. The results of the ROC curve analysis obtained a cut off point of 73 and an AUC of 71.3%, which means that the Fatigue Risk Management performance score has moderate predictive power for accidents due to fatigue. It was found that the fatigue risk management performance in coal mining companies was in the poor category (45,6% and 54,4% good). From the type of company permits, the fatigue risk management performance category was in the good category, the most in companies with IUJP permit types 80% and the poor category the most in companies with Production Operation IUP permit types 73,7%. It was found that there was a relationship between fatigue risk management performance with the number of employees and the type of company permit. In order to measure, monitor, and evaluate the performance of fatigue risk management in coal mining companies, it is hoped that the Indonesian Ministry of Energy and Mineral Resources and Indonesian coal mining companies will implement the fatigue risk management performance evaluation tool.
Read More
D-472
Depok : FKM UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triseu Setianingsih; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Adang Bachtiar, Penguji: Sudijanto Kamso, Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Soewarta Kosen, Artha Budi Susila Duarsa, Aria Kusuma
Abstrak: Di Indonesia Angka kematian neonatus masih belum mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012 yaitu 19/1000 KH (SDKI,2012).Sebagian besar kematian neonatal yang terjadi setelah 6-48 jam pasca kelahiran dapat dicegah dengan perawatan bayi baru lahir yang tepat dan dimulai segera setelah melahirkan melalui Kunjungan neonatal pertama (KN1) yang adekuat dan sesuai standar (WHO,2012). Namun kualitas pelayanan KN1 masih belum sesuai dengan target yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara multivel faktor-faktor yang mempengaruhi Kunjungan neonatal pertama dari berbagai level.
 
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan didukung oleh penelitian kualitatif. Sampel yang digunakan untuk masing-masing level adalah 1014 ibu bayi untuk level 1, 95 orang pengelola desa untuk level desa, 51 pengelola Program kesehatan anak Puskesmas untuk level 3 dan 13 pengelola Program kesehatan anak kabupaten untuk level 4 yang ada di 8 Propinsi di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, multivariat dengan Regresi Logistik dan permodelan Multilevel dengan menggunakan analysis multilevel regression logistic random intercept model dengan menggunakan Program Stata 14.0. Metode triangulasi digunakan dalam studi kualitatif untuk menjaga validitas data.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian KN1 askes sebesar 47.5% lebih tinggi dibanding KN1 berkualitas yaitu 29.3 %. Hasil pemodelan multilevel menunjukkan bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap KN1 Akses dan kualitas adalah Penolong persalinan dengan PValue.0.000 dan OR=3.359 untuk KN1 akses dan PValue 0.04 dan OR = 3.035 untuk KN1 kualitas. Pada permodelan akhir, secara bersama-sama kontribusi semua level pada KN1 akses sebesar 57.27 % sedangkan untuk KN1 kualitas sebesar 87.76%. Berdasarkan penerapan manajemen mutu total sebagian besar 52.6 % Puskesmas berada pada fase 2 dan Level 2 yaitu masih berorientase ke Proses belum mengarah ke penerapan Total manajemen mutu (TQM). Penelitian ini menunjukkan kesesuaian pola hubungan antara enabler dan result sesuai pola dalam EFQM model.
 
Disarankan kepada Dinas Kesehatan kabupaten dan Kementerian Kesehatan, untuk mengupayakan dan menjamin keberadaan dan pendistribusian bidan di setiap desa dan mengoptimalkan perencanaan tenaga kesehatan (bidan) sesuai PMK N0.33 Tahun 2015. Disarankan kepada Puskesmas untuk mengupayakan kontak antara petugas kesehatan dengan ibu bayi sebelum kelahiran bayi untuk meningkatkan akses pada periode berikutnya yaitu KN1. Perlu adanya kerjasama dan kemitraan yang baik antara puskesmas dengan pengelola desa untuk menguatkan keberdayaan desa dalam bidang kesehatan sehingga pada level individu ibu menjadi lebih berdaya dan memiliki peluang yang besar untuk membawa anaknya dalam pelaksanaan KN1 , selain itu untuk meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas perlu adanya supervisi dan penerapan SMM (Sistem Manajemen Mutu) Puskesmas misalnya melalui penerapan ISO untuk menjamin Pelayanan Prima dan pengelolaan Puskesmas yang berkualitas.
 

 
Neonatal mortality rate in Indonesia is still experiencing a decrease from 2007 up to 2012, namely 19/1000 KH (IDHS, 2012) .Most of neonatal deaths that occur after 6-48 hours after birth can be prevented with newborn care is appropriate and started soon after birth through the first neonatal visit (KN1) adequate and appropriate standards (wHO, 2012). However KN1 service quality still does not meet the expected target.
 
This study aims to analyze multivel factors affecting neonatal visit was the first of a variety of levels. This research is a quantitative research was supported by qualitative research. The sample used for each level is 1014 mothers of infants to level 1, 95 managers of the village to the village level, 51 managers of health programs Child Health Center for level 3 and 13 managers Program child health districts to level 4 in 8 Provinces in Indonesia , The data analysis was done through univariate, bivariate, and multivariate logistic regression modeling Multilevel analysis using multilevel logistic regression models with random intercept using the program Stata 14.0. Triangulation method used in a qualitative study to maintain the validity of the data.
 
The results showed that the achievement KN1 askes by 47.5% higher than the quality KN1 ie 29.3%. Multilevel modeling results indicate that the variables that most influence on KN1 Access and quality are labor Helper with PValue.0.000 and OR = 3.359 for KN1 access and pvalue 0:04 and OR = 3,035 for KN1 quality. At the end of the modeling, jointly contribute to the KN1 access all levels of 57.27% while for KN1 quality of 87.76%. Based on the application of total quality management largely PHC 52.6% are in Phase 2 and Level 2 is still berorientase to process not yet led to the implementation of total quality management (TQM). This study demonstrated the suitability of the pattern of relationships between enablers and the result according to the pattern in the model EFQM.
 
Suggested to the District Health Office and the Ministry of Health, to seek and ensure the presence and distribution of midwives in every village and optimize the planning of health professionals (midwives) in accordance PMK N0.33 Year 2015. It is suggested to contact the health center to seek health care workers with the baby's mother before birth baby to improve access in the next period that is KN1. The need for cooperation and partnership between local health centers with managers of the village to strengthen the empowerment of villagers in the health sector so that at the level of individual mothers become more empowered and have a great opportunity to bring his son in the implementation KN1, in addition to improving the quality of management of PHC need for supervision and implementation of QMS (quality Management System) health centers for example through the implementation of ISO to guarantee the quality Service and quality management of the health center.
Read More
D-347
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng P. Pramayu; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Besral, Dadan Erwandi; Penguji: Bambang Wispriyono, Hendra, Danang Insita Putra, Gama Widyaputra, Suparni
Abstrak:
Posisi geografis Indonesia pada jalur Cincin Api Pasifik menimbulkan risiko bencana alam tinggi bagi sektor pertambangan batubara yang beroperasi di wilayah rawan. Sektor pertambangan batubara belum memiliki instrumen penilaian komprehensif untuk mengevaluasi Emergency Management Capability (EMC) yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen EMC guna mengukur kesiapsiagaan organisasi terhadap potensi kondisi darurat seperti ledakan, longsor, dan banjir. Melalui desain mixed methods dengan pendekatan explanatory sequential, pengembangan instrumen ini merujuk pada Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral No. 185 (2019) dan No. 10 (2023), serta International Organization for Standardization (ISO) 22320:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EMC terdiri dari lima variabel, yaitu identifikasi dan penilaian potensi keadaan darurat, pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan keadaan darurat. Instrumen terbukti valid dan reliabel. Pembobotan berbasis Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan kesiapsiagaan keadaan darurat sebagai dimensi dominan (35%). Penelitian ini juga menghasilkan klasifikasi tingkat kapabilitas EMC ke dalam lima level, yaitu dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan adaptif atau resilient. Selain itu, hasil pengukuran EMC dapat diintegrasikan ke dalam audit SMKP Minerba. Instrumen AJENG diharapkan dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk memetakan kesiapan organisasi, memperkuat mitigasi, dan meningkatkan pengelolaan kedaruratan pada pertambangan batubara.

Indonesia’s location along the Pacific Ring of Fire exposes coal mining operations to significant disaster risks. However, the sector lacks a comprehensive instrument for assessing Emergency Management Capability (EMC) that is integrated with the Mining Safety Management System (SMKP). This study aimed to develop an EMC assessment instrument to measure organizational preparedness for potential emergencies, including explosions, landslides, and flooding. A mixed-methods study using an explanatory sequential design was conducted. Instrument development was guided by the Decree of the Director General of Mineral and Coal No. 185 of 2019, No. 10 of 2023, and ISO 22320:2018. The results identified five EMC dimensions: emergency identification and risk assessment, prevention, preparedness, response, and recovery. The AJENG instrument demonstrated satisfactory validity and reliability. Confirmatory Factor Analysis (CFA) indicated that preparedness was the most influential dimension, accounting for 35% of the overall construct. The study also established five EMC capability levels: Basic, Reactive, Planned, Proactive, and Adaptive (Resilient). Furthermore, EMC assessment results can be integrated into the SMKP audit framework. The AJENG instrument is expected to support organizational preparedness assessment, strengthen risk mitigation, and enhance emergency management performance in the coal mining sector.
Read More
D-628
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanik Prasetyoningsih; Promotor: Ascobat Gani; Kopromotor: Besral, Rahajuningsih Dharma; Penguji: Meiwita Paulina Budiharsana, Ratna Djuwita, Satria Pratama; Lia Gardenia Partakusuma
Abstrak:
Identifikasi awal pasien berisiko tinggi dari hasil pemeriksaan klinis yang kurang baik sangat diperlukan untuk menurunkan risiko mortalitas akibat COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor mortalitas pada pasien COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Studi kohort retrospektif ini dilakukan dengan cara mengambil 730 sampel pasien COVID-19 di rumah sakit rujukan COVID-19 terpilih (RSUD Pasar Minggu, RSUP Fatmawati, dan RSPAD Gatot Subroto). Analisis Survival Cox Regression digunakan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh variabel karakteristik umum pasien (usia, jenis kelamin, IMT, gejala COVID-19, komorbid, dan lama dirawat), pemeriksaan laboratorium pasien (D-Dimer, CRP, NLR, Hb, trombosit, dan leukosit), radiologi rontgen foto thoraks, saturasi oksigen (SpO2), serta response time terhadap mortalitas pasien COVID-19. Dihasilkan bahwa usia >58 tahun (RR 2,01 ; 1,20 – 3,52 95% CI), CRP >10 mg/dL (RR 1,98; 1,48 – 2,63 95% CI), D-Dimer >2500 ng/mL (RR 1,93; 1,10 – 3,17 95% CI), saturasi oksigen <95% (RR 1,84; 1,41 – 2,40 95% CI), response time

Early identification of high-risk patients from destitute clinical results is essential to lower the risk of mortality from COVID-19. The aim of this study is to find the predictors of mortality in COVID-19 patients in the DKI province of Jakarta. A Cohort Retrospective study was conducted by taking 730 samples of COVID-19 patients at selected COVID-19 referral hospitals (RSUD Pasar Minggu, RSUP Fatmawati, dan RSPAD Gatot Subroto). Survival Cox Regression analysis used to determine the relationship and influence of general patient characteristic variables (age, gender, IMT, symptoms of COVID-19, comorbid, and length of stay), laboratory examination of patients (D-Dimer, CRP, NLR, Hb, thrombocyte, and leukocytes), photo-thorax x-rays, oxygen saturation (SpO2), and response time after adminission of COVID-19 patients. The result found that age >58 years (RR 2,01 ; 1,20 – 3,52 95% CI), CRP >10 mg/dL (RR 1,98; 1,48 – 2,63 95% CI), D-Dimer >2500 ng/mL (RR 1,93; 1,10 – 3,17 95% CI), oxygen saturation <95% (RR 1,84; 1,41 – 2,40 95% CI), response time
Read More
D-501
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Meutia Sari; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Besral, Triya Damayanti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Putri Bungsu, Eva Susanti, Chandra Rudyanto, Arief Bakhtiar
Abstrak:
Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dibutuhkan instrumen skrining yang valid, sederhana dan mudah yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini. Penelitian ini bertujuan menyusun dan mengembangkan instrumen skrining PPOK baru, yaitu TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), serta membandingkan validitasnya dengan instrumen PUMA (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Metode: Penelitian menggunakan desain exploratory sequential mixed methods, dimulai dengan penelitian kualitatif dan dilanjutkan dengan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif menggunakan pendekatan qualitative case study dalam kerangka general inquiry, dilakukan melalui wawancara mendalam dan panel expert judgment untuk menyusun instrumen baru. Penelitian kuantitatif menggunakan desain studi kasus-kontrol, melibatkan 200 responden (100 kasus dan 100 kontrol) berisiko PPOK yang berkunjung ke Poliklinik Paru RSUD Jakarta pada Januari-Mei 2025 untuk pengisian instrumen dan pemeriksaan spirometri sebagai gold standard. Analisis mencakup uji bivariat dan multivariat, serta uji sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (PPV), nilai prediksi negatif (NPV), Youden Index, dan area under the curve (AUC). Hasil: Instrumen TAMI menunjukkan kinerja diagnostik yang baik dengan AUC 0,773, serta keseimbangan sensitivitas dan spesifisitas yang stabil. Instrumen PUMA memiliki AUC 0,736 dengan sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah dibandingkan TAMI. Nilai PPV dan NPV yang lebih besar pada TAMI juga menunjukkan kemampuan diskriminasi yang lebih baik dalam mengidentifikasi dan membedakan kasus PPOK dibandingkan PUMA. Kesimpulan: Instrumen TAMI terbukti valid dan dapat menjadi alat skrining PPOK yang lebih sesuai digunakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Indonesia. TAMI juga lebih praktis sebagai instrumen skrining PPOK untuk penggunaan rutin di masyarakat. Implementasi TAMI di FKTP diharapkan meningkatkan penemuan kasus PPOK dan memperkuat upaya pencegahan serta edukasi pada masyarakat berisiko.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a major public health problem that is often underdiagnosed in its early stages, particularly in primary healthcare settings. A valid, simple, and user-friendly screening instrument tailored to population characteristics in Indonesia is needed to improve early case detection. This study aimed to develop a new COPD screening tool, TAMI (insTrumen skrining PPOK pAda Masyarakat berIsiko), and to compare its validity with the PUMA instrument (Prevalence Study and Regular Practice, Diagnosis and Treatment Among General Practitioners in Populations at Risk of COPD). Methods: This study employed an exploratory sequential mixed-methods design, beginning with a qualitative phase followed by a quantitative phase. The qualitative phase used a qualitative case study approach within a general inquiry framework, conducted through in-depth interviews and expert judgment panels to construct the new instrument. The quantitative phase applied a case–control study design involving 200 respondents (100 cases and 100 controls) at risk for COPD who attended the Pulmonary Clinic of RSUD Jakarta between January and May 2025. All respondents completed the screening instruments and underwent spirometry as the gold standard. Data analysis included bivariate and multivariate testing, as well as assessment of sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), Youden Index, and area under the curve (AUC). Results: The TAMI instrument demonstrated strong diagnostic performance with an AUC of 0.773 and a stable balance between sensitivity and specificity. The PUMA instrument showed a lower AUC of 0.736, along with lower sensitivity and specificity compared with TAMI. Higher PPV and NPV values for TAMI further indicated superior discriminatory ability in identifying and excluding COPD cases compared with PUMA. Conclusion: The TAMI instrument is valid and suitable for use as a COPD screening tool in primary healthcare facilities in Indonesia. It also offers practical advantages for routine community-based screening. Implementation of TAMI in primary healthcare settings is expected to enhance early COPD detection and strengthen preventive and educational efforts among at-risk populations.
Read More
D-608
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yvonne Suzy Handajani; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; Ko-promotor: Tri Budi W Rahardjo, Sudijanto Kamso; Hasbullah Thabrani; Sasanto Wibisono, Hary Isbagio, Kusharisupeni, Agus Suwandono, Lindawati Kusdhany
D-197
Depok : FKM-UI, 2006
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erlina Wijayanti; Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Anhari Achadi, Ummi Azizah Rachmawati; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Amal Chalik Sjaaf, Besral, Tris Eryando, Trihono, Dhanasari Vidiawati Sanyoto
Abstrak: Kondisi pandemi COVID-19 memerlukan respon cepat dari Puskesmas dalam memberikan layanan pengobatan TB yang mengutamakan keamanan medikasi. Disertasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi ERLINA (e-Empowerment Resource for Lowering Ignorance and Negligence Action in therapy) terhadap keamanan medikasi tuberculosis di DKI Jakarta. Tujuan khusus adalah mengidentifikasi prediktor (faktor pasien, faktor staf, faktor fasilitas kesehatan, dukungan keluarga, faktor pengobatan, dan Pengawas Menelan Obat) keamanan medikasi pasien tuberculosis di tingkat Puskesmas, menyusun model intervensi keamanan medikasi, mengetahui user experience aplikasi ERLINA, mengetahui nilai net promoter score dari aplikasi ERLINA, dan mengetahui pengaruh aplikasi ERLINA terhadap perubahan kualitas hidup pasien. Jenis penelitian adalah operational research. Penelitian didahului dengan pengembangan model prediktif keamanan medikasi (dilakukan dengan studi kualitatifkuantitatif), pengembangan model intervensi (melalui studi kualitatif), dan penilaian pengaruh aplikasi (dengan desain kuasi eksperimental). Penetapan sampel dilakukan dengan purposive sampling (untuk studi kualitatif) dan cluster random sampling (untuk studi kuantitatif). Penelitian dilakukan mulai Maret 2021-Februari 2022. Tahap 1 melibatkan 13 orang sebagai informan wawancara mendalam. Hasil riset tahap 1 menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi keamanan medikasi adalah pasien, sosial, petugas, layanan kesehatan, budaya organisasi, obat, dan eksternal. Tahap 2 melibatkan 186 pasien. Determinan keamanan medikasi adalah pengetahuan, merokok, pendapatan, dan komunikasi petugas-pasien. Tahap 3 melibatkan 15 orang dan menghasilkan output model intervensi serta Aplikasi ERLINA. Model intervensi spesifik diberikan pada pasien dengan pengetahuan sangat kurang dan kurang, merokok, atau berpendapatan tinggi. Aplikasi dikembangkan dengan fungsi pencegahan individual, sistem pendukung keputusan dan telehealth, pemantauan jarak jauh, serta pengingat. Tahap 4 diikuti oleh 101 pasien dan menunjukkan bahwa Aplikasi ERLINA meningkatkan keamanan medikasi sebesar 6,2 kali; pengetahuan cukup&baik 18,4 kali; dan rerata perubahan kualitas hidup sebesar 9,5 poin beserta peningkatan semua dimensi kualitas hidup. Net promoter score menunjukkan skor 100% dan user experience masuk dalam kategori excellent. Diharapkan pemangku kebijakan dapat mendorong penguatan pencegahan individual agar lebih akurat. Aplikasi ERLINA sebagai salah satu bentuk alat pemantauan jarak jauh perlu disinkronkan dengan Sistem Informasi Tuberculosis agar meningkatkan manfaat dan penggunaannya
Read More
D-461
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive