Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35398 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
M. Washiludin AR; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Harjulianti, Mintoro Sumego
T-3423
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Izzatu Millah; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Doni Hikmat Ramdhan, Syahrul Efendi, Mayarni
T-3424
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Savira Anindita; Pembimbing: Hendra; Penguji: Baiduri Widanarko, Sumaryanto, Yessie Kualasari
Abstrak: Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kelelahan pada pekerja kantoran di institusi X. Penelitian ini dilakukan di Institusi X dengan objek penelitian yaitu seluruh pegawai institusi X yang bekerja pada bidang Penyelenggara, bidang Program dan Evaluasi, bagian Tata Usaha, dan bagian Widyaiswara. Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dan pengisian kuesioner oleh responden sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh responden terkait kelelahan dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelelahan, serta dilakukan pengukuran langsung lingkungan kerja, meliputi pencahayaan dan temperatur ruangan. 44,6% pekerja mengalami kelelahan dan 55,4% pekerja tidak mengalami kelelahan. Terdapat 3 buah faktor terkait pekerjaan yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya kelelahan yaitu faktor jam kerja per hari, tuntutan pekerjaan, dan job control. Sedangkan pada faktor tidak terkait pekerjaan terdapat 1 buah faktor yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya kelelahan yaitu faktor kualitas tidur. Namun setelah melalui analisis multivariat didapatkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kelelahan yaitu kualitas tidur. Variabel kualitas tidur memiliki nilai Odds Ratio sebesar 14,409, yang artinya pekerja dengan kualitas tidur yang buruk akan berisiko 14,409 kali mengalami kelelahan dibandingkan dengan pekerja dengan kualitas tidur yang baik setelah dikontrol oleh variabel jam kerja / hari, tuntutan pekerjaan, job control, dukungan sosial, dan status kesehatan.
Read More
T-5492
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Diah Pratiwi; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Yuni Kusminanti
S-7008
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutiara Mutia Rani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Laksita Ri Hastiti, Astuti, Dwi Adi Maryandi
Abstrak:
Kegiatan commuting, yaitu perjalanan rutin dari rumah ke tempat kerja, menjadi bagian dari kehidupan modern, terutama di kota-kota besar. Pola mobilitas commuting yang melelahkan dapat berpengaruh pada aspek kesehatan fisik, mental, dan sosial di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup dan faktor apa saja yang berhubungan dengan kualitas hidup para pekerja komuter di institusi X yang berada di Jakarta. Desain studi potong lintang atau cross sectional digunakan pada penelitian, responden sebanyak 137 orang yang merupakan pekerja di institusi X, unit utama Y, yang bepergian dari rumah ke kota tempat kerjanya yaitu Jakarta dan bertempat tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek). Variabel penelitian meliputi tingkat kualitas hidup dengan menilai skor domain (fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan), sedangkan variabel independen meliputi jenis moda transportasi, kondisi perjalanan, status pernikahan dan waktu tempuh perjalanan. Analisis dengan uji chi square dan uji t-independent. Hasil penelitian menunjukan reponden dengan kualitas hidup kurang sebanyak 71 orang (51,8%) memiliki kualitas hidup kurang, dan 66 orang (48,2%) memiliki kualits hidup baik. Pada keempat domain kualitas hidup, domain fisik mempunyai skor kualitas hidup yang paling rendah, kemudian disusul oleh domain psikologis, kemudian domain lingkungan dan hubungan sosial yang paling tinggi. Hasil analisis chi-square didapatkan tidak ada hubungan signifikan antara jenis moda tranportasi, kondisi perjalanan, status pernikahan dan waktu tempuh perjalanan dengan kualitas hidup total pada pekerja komuter di Institusi X. Pada hasil analisis hubungan antara status pernikahan dengan kualitas hidup domain fisik, terdapat hubungan signifikan yang dapat diartikan pekerja dengan status menikah atau pernah menikah mempunyai risiko skor domain fisiknya lebih rendah dibandingkan dengan pekerja berstatus belum menikah. Hasil uji t-independent didapatkan tidak ada perbedaan tingkat kualitas hidup antara variabel moda transportasi, kondisi perjalanan, status pernikahan dan waktu tempuh perjalanan pada pekerja di Institusi X.

The activity of commuting, which involves routine travel from home to the workplace, has become a part of modern life, particularly in large cities. The exhausting commuting mobility patterns can affect the physical, mental, and social health aspects of society. This study aims to describe the quality of life and identify the factors associated with the quality of life of commuters working at institution X in Jakarta. A cross-sectional study design was used, with 137 respondents who are employees at institution X, main unit Y, who commute from their homes to their workplaces in Jakarta and reside in Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek). The research variables included the level of quality of life by assessing domain scores (physical, psychological, social relationships, and environment), while the independent variables included the type of transportation mode, travel conditions, marital status, and travel time. Analysis was conducted using chi-square tests and independent t-test. The results showed that 71 respondents (51.8%) had a lower quality of life, while 66 respondents (48.2%) had a good quality of life. Among the four quality of life domains, the physical domain had the lowest quality of life score, followed by the psychological domain, and then the environmental and social relationships domains, which had the highest scores. Chi-square analysis revealed no significant relationship between the type of transportation mode, travel conditions, marital status, and travel time with the overall quality of life of commuters at institution X. However, the analysis of the relationship between marital status and the physical quality of life domain indicated a significant relationship, suggesting that employees who are married or have been married are at a higher risk of having lower physical domain scores compared to those who are single. Independent t-test results showed no differences in the quality of life levels among the variables of transportation mode, travel conditions, marital status, and travel time for employees at institution X.
Read More
T-7049
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hotma; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Zulkifli Djunaedi, Oka Aditya K.
S-6184
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardina Kusumawati; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Ridwan Z. Sjaaf, Sjahrul Efendi, Alwahono
Abstrak:
Setiap aktifitas selalu berinteraksi dengan bahaya dan risiko bagi keselamatan. Data statistik tahun 2009, didapatkan bahwa tingkat kesalahan yang tertinggi adalah kejadian tumpahan BBM sebanyak 55 kali sehingga perlu dikaji lebih jauh lagi faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya kasus tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mengakibatkan kejadian tumpahan BBM pada proses loading di Filling Shed Depot X. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan studi survei deskriptif. Informan dalam penelitian adalah pengawas Filling Shed, AMT1, SDM dan AMT2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Dari hasil penelitian ditemukan pada faktor kerja meliputi jam kerja yang sangat padat sehingga melebihi batas jam kerja untuk memenuhi minimum rit yang telah ditetapkan. Waktu istirahat juga tidak cukup. Minimnya training keterkaitan dengan prosedur loading BBM di Filling Shed yang menyebabkan kesalahan petunjuk yang ada. Dengan mengoptimalisasikan training yang telah diberikan perlu diadakan safety talk setiap pergantian shift agar awak mobil tangki dapat termotivasi sebelum melakukan pekerjaannya. Faktor pengawasan ini tidak menjadi efisien karena petugas tersebut tidak mendampingi awak mobil tangki saat pengisian di Filling Shed.

Safety hazards and risks closely interact in any activities. Statistical data in 2009 showed that the highest level of error is the incident of fuel oil overflow i.e. 55 times that needs to be reviewed further what factors relating to that incident. The main purpose of this research is to detect factors that impact the fuel oil overflow incident during loading process at Filling Shed Depot X. Type of the research used qualitatif with descriptive survey study. Informant in this research is the employee on duty of Filling Shed, AMT1, SDM and AMT2. Data collection technique is taken through detailed interview, observation, and document analysis. The result of the research, it is found out the working factor involving tight working hours that exceed the standard working hours to achieve the minimum set rate. And also not enough time to take a rest. A lack of training relating to fuel oil loading procedure at Filling Shed causing heedless of the existing direction. With optimizing given training it needs to conduct safety talk at any shift change in order that the fuel oil tank truck crew can be motivated prior to performing job. Supervision factor can not be efficient since the employee on duty is not closely supervise the crew during fuel oil filling at the Filling Shed.
Read More
T-3195
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Indar Ayuningtyas; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hendra, Waluyo, Seviana Rinawati
Abstrak: Proses kerja di Area Forging PT X dapat menimbulkan risiko bahaya dari tekanan suara yang ditimbulkan oleh mesin produksi yang dapat menimbulkan kebisingan dan dapat berpengaruh pada gangguan fungsi pendengaran pekerja. Diperlukan analisa faktor yang mempengaruhi gangguan pendengaran agar dapat digunakan sebagai langkah pengendalian yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan bising, gambaran pajanan bising (Leq 8 jam), gambaran gangguan pendengaran dan faktor yang mempengaruhi gangguan pendengaran sensorineural pada pekerja di Area Forging PT X. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional untuk melihat hubungan gangguan fungsi pendengaran akibat pajanan bising dengan menganalisa faktor lain yang dapat mempengaruhinya seperti usia, masa kerja, kebiasaan merokok, pajanan getaran, hobi terkait bising, dan pemakaian alat pelindung diri (alat pelindung telinga). Berdasarkan hasil didapatkan bahwa gambaran tekanan bising di Area Forging PT X berkisar antara 74,1 103,4 dBA, pajanan bising (Leq 8 jam) 44 orang (66,7%) terpajan bising tinggi ≥85dBA dan 22 orang (33,3%) terpajan bising <85 dBA dan rata-rata pajanan adalah sebesar 91,5 dBA. Dari 66 partisipan, 8 (12,1%) partisipan mengalami gangguan fungsi pendengaran sensorineural dan 58 (87,9%) partisipan memiliki pendengaran normal. Faktor aktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi pendengaran adalah pajanan bising memiliki p value 0,045 dengan nilai OR 0,818, hobi terkait bising memiliki p value 0,005 dan nilai OR 14,37, masa kerja memiliki p value 0,045 dan nilai OR 0,818, usia memiliki p value 0,001 dan nilai OR 20,07, kebiasaan merokok memiliki p value 0,008 dan nilai OR 12,33, serta penggunaan alat pelindung diri memiliki p value 0,009 dan nilai OR 10,6. Faktor yang paling dominan mempengaruhi gangguan fungsi pendengaran sensorineural adalah usia. Untuk mengandalikan faktor yang mempengaruhi gangguan fungsi pendengaran dapat menggunakan hierarki pengendalian risiko yaitu eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, pengendalian administratif dan alat pelindung diri.
Read More
T-6210
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Hifni; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Dadan Erwandi, Raden Dimas Tanudatar
S-7975
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Abdillah Pasha; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Pauji Soleh
Abstrak:
Fatigue merupakan masalah multifaktor yang kerap dialami pekerja sektor manufaktur disebabkan oleh faktor terkait kerja dan faktor tidak terkait kerja sebagai variabel independen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor terkait kerja dan tidak terkait kerja dengan kelelahan atau fatigue pada perusahaan manufaktur di PT X Tahun 2024. Faktor terkait kerja yang diteliti meliputi beban kerja, shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, dan waktu perjalanan. Sementara itu faktor tidak terkait kerja yang diteliti meliputi usia, aktivitas fisik, penggunaan allohol, dan kualitas dan kuantitas tidur. Penelitian ini menggunakan dengan desain studi cross sectional menggunakan kuesioner yang mengadaptasi kuesioner OFER-15, kuesioner beban kerja, dan PSQI. 96 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan distribusi pekerja lelah (kategori sedang tinggi-tinggi) sebesar 34,4%. Hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, waktu perjalanan, usia, aktivitas fisik, penggunaan alkohol dan kualitas dan kuantitas tidur tidak berhubungan signifikan dengan fatigue. Sementara itu, variabel beban kerja berhubungan signifikan dengan fatigue dengan p value = 0,010 (p<0,05) dan OR = 3,500 (95% CI: 1,425 – 8,579) yang bermakna bahwa pekerja dengan beban kerja berat berisiko 3,5 kali lipat mengalami kelelahan kronis. Dapat disimpulkan bahwa hanya variabel beban kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis dan akut. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut dari perusahaan berupa penegakkan fatigue risk management system (FRMS) dan pengintegrasian kebijakan terkait kerja, sementara itu saran untuk pekerja berupa pengaturan manajemen tidur, waktu istirahat, dan aktivitas fisik.

Fatigue is a multifactor problem often experienced by manufacturing sector workers due to work-related and non-work-related factors as independent variables. This study aims to analyze the relationship between work-related and non-work-related factors and fatigue in manufacturing companies in PT X in 2024. The work-related factors studied include workload, work shifts, long hours, rest time, and travel time. Meanwhile, non-work-related factors studied include age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity. This study used a cross-sectional study design, using questionnaires that adapted the OFER-15 questionnaire, workload questionnaire, and PSQI. 96 respondents participated in this study, with a distribution of fatigued workers (medium-high category) of 34.4%. Statistical test results using chi-square showed that work shifts, long working hours, rest time, travel time, age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity were not significantly associated with fatigue. Meanwhile, the workload variable was significantly associated with fatigue with a p-value = 0.010 (p<0.05) and OR = 3.500 (95% CI: 1.425 - 8.579), which means that workers with heavy workloads have a 3.5-fold risk of experiencing chronic fatigue. It can be concluded that only the workload variable is significantly associated with chronic fatigue, either acute or chronic. Therefore, follow-up is needed from the company by enforcing the fatigue risk management system (FRMS) and integrating work-related policies, while advice for workers is in the form of sleep management, rest time, and physical activity.
Read More
S-11785
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive