Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32226 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putu Ayu Anggira Pratimi; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Susan O. Ananda, Dian Trisnawati
B-1317
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.

Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
Read More
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benedict Sulaiman; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Abdul Firman, Relia Sari
Abstrak:

Transformasi digital dalam sektor kesehatan semakin mengubah cara rumah sakit untuk memberikan dan mengelola pelayanan kesehatan. Penelitian ini menganalisis dampak transformasi sistem informasi digital yang diterapkan di RS Premier, dengan berfokuskan pada efektivitas inovasi yang dikembangkan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kebutuhan transformasi digital di rumah sakit dalam mencapai keunggulan kompetitif dan memenuhi ekspektasi pasien di era digital. Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi dampak inovasi terhadap alur kerja operasional, kepuasan pasien, dan kinerja keseluruhan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, dengan metode wawancara terhadap informan kunci, telaah dokumen, dan analisis komparatif data sebelum dan sesudah implementasi untuk inovasi seperti Sistem Patient Journey, Discharge Management Process dan Manajemen Insiden Real-Time (RootBin).

Hasil utama menunjukkan bahwa inovasi seperti Sistem Patient Journey secara signifikan mengurangi waktu tunggu dan memperbaiki alur layanan pada instalasi rawat jalan. Integrasi sistem manajemen discharge menghasilkan pengurangan waktu pemulangan pasien rawat inap, sementara inovasi digital rekam medis mempermudah dan mempercepat akses data untuk pasien dan juga menjaga kepatuhan terhadap regulasi kesehatan. Sistem RootBin bertujuan untuk mempercepat pelaporan dan pelacakan insiden secara real-time, mendorong budaya keselamatan dan perbaikan kualitas berkelanjutan. Meskipun telah menunjukkan keberhasilan, beberapa tantangan masih terus dihadapi, termasuk resistensi terhadap perubahan di kalangan staf, kesenjangan literasi teknologi, dan kebutuhan untuk optimalisasi sistem secara berkelanjutan. Pengembangan di masa depan perlu difokuskan pada peningkatan pelatihan pengguna, memperluas interoperabilitas sistem, dan mengeksplorasi analitik prediktif untuk secara proaktif menangani potensi ketidakefisienan. Hasil dari penelitian ini menyajikan wawasan tentang implikasi praktis dari transformasi digital di sektor kesehatan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya investasi berkelanjutan dalam teknologi kesehatan digital untuk mencapai manfaat jangka Panjang bagi rumah sakit dan juga pasiennya.


Digital transformation in the healthcare sector is revolutionizing how hospitals deliver and manage services. This study analyzes the impact of digital information system innovations implemented at RS Premier, focusing on the effectiveness of innovation developed in enhancing operational efficiency and service quality. The study is motivated by the critical role of hospital digital transformation in achieving competitive advantages and meeting patient expectations in the digital era. The primary objective of this research is to evaluate the impact of these innovations on operational workflows, patient satisfaction, and overall hospital performance. A qualitative case study approach was employed, incorporating interviews with key informants, document reviews, and comparative data analysis before and after the implementation of innovations such as the Patient Journey System, Discharge Management System and Real-Time Incident Management (RootBin). Key findings indicate that innovations like the Patient Journey System significantly reduced waiting times and improved service flow in outpatient settings. The integration of discharge management systems led to shorter inpatient discharge times, while the digital innovstion developed for medical records facilitated patient data accessibility and maintained compliance with healthcare regulations. The RootBin system expedited real-time reporting and incidents tracking, fostering a culture of safety and continuous quality improvement. Despite these successes, challenges remain, including challenges and resistance to change among staff, gaps in technological literacy, and the need for ongoing system optimization. Future developments should focus on enhancing user training, expanding system interoperability, and exploring predictive analytics to proactively address potential inefficiencies. The results of this study provide valuable insights into the practical implications of digital transformation in the healthcare sector. It also underscores the importance of sustained investment in digital health technologies to achieve long-term benefits for hospitals and their patients.  

Read More
B-2495
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vestia Prilie Rosemarie Kindangen; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Mario Abet Nego
Abstrak:
Latar Belakang: Resistensi Antimikroba merupakan ancaman global yang berdampak pada peningkatan morbiditas, mortalitas, serta biaya perawatan Kesehatan. RS Hermina Jatinegara adalah RS swasta yang ditetapkan tepe B dengan layanan Umum sebagai RS pelayanan rujukan memiliki peran penting dalam mencegah resistensi melalui Implementasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). RS Hermina Jatinegara telah memiliki komponen utama PPRA seperti Kebijakan PPRA, Pedoman penggunaan antibiotic, Tim PPRA, Kebijakan pengelompokan antibiotic AWaRe, serta system persetujuan antibiotic melalui E-RASPRO. Tujuan penelitian: secara umum Adalah Menganalisis implementasi PPRA, mengoptimalkan peran manajemen rumah sakit dalam mendukung penggunaan antibiotik secara bijak, dan strategi pengelolaan di Rumah Sakit Hermina Jatinegara, secara khusus adalah menganalisis penerapan pedoman dan kebijakan penggunaan antibiotik, tingkat kepatuhan tenaga medis terhadap pedoman penggunaan antibiotik, evaluasi efektivitas sistem monitoring dan evaluasi penggunaan antibiotik, peran manajemen rumah sakit dalam mendukung pelaksanaan PPRA, dan strategi perbaikan untuk meningkatkan efektivitas PPRA dan mutu pelayanan rumah sakit. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui wawancan mendalam dengan manajemen RS, dokter, perawat, apoteker, dan Tim PPRA, FGD, serta telaah dokumen. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa data farmasi data peresepan, Laporan monitoring evaluasi PPRA yang didalamnya terdapat kepatuhan terhadap PPAB dan data resistensi kuman dari data mikrobiologi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi PPRA di RS Hermina Jatinegara telah lengkap, termasuk PPAB, SK Tim PPRA, AWaRe, dan mekanisme persetujuan antibiotik melalui E-RASPRO. Namun implementasinya belum seragam di seluruh unit. Ketidaksesuaian penggunaan antibiotik ditemukan pada aspek durasi, indikasi, dan dokumentasi. Audit belum rutin dilakukan dan belum mencakup seluruh kasus prioritas. Integrasi data kultur ke dalam E-RASPRO belum optimal. Ketersediaan antibiogram belum representatif karena keterbatasan sampel kultur dan SDM mikrobiologi. Laporan PPRA telah dibuat secara berkala per triwulan, tetapi belum memuat indikator lengkap seperti Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, dan audit umpan balik. Kesimpulan: Implementasi PPRA di RS Hermina Jatinegara sudah berjalan namun belum optimal. Penguatan pembiayaan, kapasitas sampel mikrobiologi, kajian/audit rutin, integrasi data, serta pelatihan semua profesi diperlukan untuk meningkatkan konsistensi dan keberhasilan implementasi PPRA.

Background: Antimicrobial resistance is a global threat that has an impact on increased morbidity, mortality, and healthcare costs. Hermina Jatinegara Hospital is a private hospital designated as a type B hospital with general services as a referral hospital that plays an important role in preventing resistance through the implementation of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA). Hermina Jatinegara Hospital has established key components of the PPRA, including PPRA policies, antibiotic usage guidelines, PPRA team, antibiotic grouping policies under the AWaRe framework, and an antibiotic approval system via E-RASPRO. Research Objectives: To analyze the implementation of the AMCP, optimize the role of hospital management in supporting prudent antibiotic use, and management strategies at Hermina Jatinegara Hospital. Specifically, it aims to analyze the implementation of guidelines and policies on antibiotic use, the level of compliance of medical personnel with antibiotic use guidelines, evaluate the effectiveness of the antibiotic use monitoring and evaluation system, the role of hospital management in supporting the implementation of PPRA, and improvement strategies to increase the effectiveness of PPRA and the quality of hospital services. Research method: This study used a qualitative design through in-depth interviews with hospital management, doctors, nurses, pharmacists, and the PPRA Team, FGDs, and document reviews. This study also used secondary data in the form of pharmacy prescription data, PPRA monitoring and evaluation reports containing compliance with PPAB, and germ resistance data from microbiology data. Research results: The results showed that PPRA regulations at Hermina Jatinegara Hospital were complete, including PPAB, PPRA Team Decree, AWaRe, and the antibiotic approval mechanism through E- RASPRO. However, implementation was not uniform across all units. Inappropriate antibiotic use was found in terms of duration, indication, and documentation. Audits have not been conducted routinely and do not cover all priority cases. The integration of culture data into E-RASPRO is not yet optimal. The availability of antibiograms is not representative due to limitations in culture samples and microbiology human resources. PPRA reports have been prepared quarterly, but do not yet include complete indicators such as Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, and feedback audits. Conclusion: The implementation of PPRA at Hermina Jatinegara Hospital is underway but is not yet optimal. Strengthening of funding, microbiology sample capacity, routine reviews/audits, data integration, and training for all professions are needed to improve the consistency and success of PPRA implementation.
Read More
B-2561
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amarina Anggarini; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Yayuk Hartriyanti, Prima Evita, Adiani Ayudi Rahma
Abstrak:
Era perdagangan bebas yang telah disepakati dalam kerangka AFTA, APEC dan WTO mengharuskan setiap perusahaan meningkatkan perhatiannya kepada kebutuhan dan keinginan pelanggan. Dimana kebutuhan dan keinginan pelanggan tidak hanya terfokus pada keistimewaan karakteristik produk/jasa yang ditawarkan tetapi juga kualitas pelayanan yang menyertai produk/jasa tersebut, seperti waktu pelayanan dan ketepatan penyerahan.
 
 
Farmasi adalah salah satu unit di rumah sakit yang memberikan layanan produk dan jasa dalam bentuk layanan resep. Dimana bagi pelanggan mutu layanan resep farmasi yang baik umumnya dikaitkan dengan kecepatan pelayanan. Aktivitas yang terjadi pada proses operasi layanan resep diduga dipengaruhi oleh faktor jenis resep, jumlah item dan shift.
 
 
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh faktor jenis resep, jumlah item dan shift terhadap efektifitas siklus aktivitas proses layanan resep farmasi rawat jalan di RS. Haji Jakarta yang diukur dengan rasio siklus efektifitas (CE) dikaitkan dengan kepuasan pelanggan dan persepsi pelanggan terhadap waktu yang terbentuk akibat aktivitas proses layanan resep.
 
 
Penelitian ini dilakukan di Unit Farmasi RS. Haji Jakarta dari tanggal 8 April sampai dengan 19 April 2002. Sampel penelitian sebanyak 231 lembar resep, penelitian dilakukan dengan pendekatan time motion study, survey dan wawancara mendalam.
 
 
Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas proses layanan resep di farmasi Rawat Jalan RS. Haji Jakarta memiliki nilai rata-rata CE sebesar 38,75%. Ini berarti bahwa aktifitas layanan resep masih belum efektif karena masih terkandung aktifitas yang bersifat tidak menambah nilai. Tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan resep Farmasi Rawat Jalan RS. Haji Jakarta masih rendah dimana 55,4% menyatakan "kurang puas". Persepsi pelanggan terhadap waktu tunggu yang ditanggung saat menebus obatnya di Farmasi Rawat jalan RS. Haji Jakarta masih rendah dimana 45,7% menyatakan "lama" atas pelayanan resep Farmasi RS. Haji Jakarta.
 
 
Dari analisis bivariat didapat faktor yang berhubungan dengan kinerja aktivitas proses layanan resep farmasi rawat jalan yanitu faktor 'jenis resep' dan 'jumlah item' (beban resep). Dari analisis multivariat didapat variabel yang paling dominan berhubungan dengan kinerja aktivitas proses layanan resep farmasi rawat jalan yaitu faktor 'jenis resep'.
 
 
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan informasi tentang kinerja proses layanan resep Farmasi Rawat Jalan di RS. Haji Jakarta dapat dijadikan pedoman bagi proses perbaikan dalam meningkatkan mutu layanan kefarmasian. Dengan melakukan pengelolaan aktivitas yang menambah nilai akan dihasilkan kinerja yang lebih efisien.

The Free-Trade era in the result of the AFTA, APEC and WTO Agreement are driving companies to focus more on their customer needs. Not only focusing on the characteristic specialities of the products/services offered, but also the quality that comes along within the product/service itself, such as service time and deliver accuracy.
 
 
Pharmacy is a unit in the hospital that gives products and services in the form of receipt services. Whereas for the customers, a good pharmacy's receipt services quality are usually related to providing quick service. The activities that occured in a receipt services operational process are hypothetically influenced by several factors; the receipts' kind, number of items and work-shift.
 
 
This research intended to discover the influence of all the above factors on how effective the activities cycle in a pharmacy's receipt services operational process in a hospital which are measured by the Cycle Effectiveness (CE) ratio, related to customers' satisfaction and perception about the formed time after the receipt services process.
 
 
The research took place in the Pharmacy Unit of the Rumah Sakit Haji Jakarta from April 8th to April 19th 2002. The research samples included 231 medical receipts. The research was also done with several approaches; time motion study, survey, and deep interviews.
 
 
The analyses being used are univariate, bivariate and multivariate analysis. The result of this research shows that the average CE value of the activity process in the pharmacy's receipt services in the Rumah Sakit Haji Jakarta are 38,75% which mean that such activity is not effective because there are still some non-added value activities. The customers' level of satisfaction is still low where there is still 55,4% stated 'not satisfied'. The customers' perception of the time length taken to wait for the medicine is still low, where 45,7% stated 'long' for the pharmacy's receipt services in the Rumah Sakit Haji Jakarta.
 
 
There's a factor concluded from the bivariate analysis that related to the performance of the activity process in the pharmacy's receipt service, which is the 'kind of receipts and numbers of item' factor. While from the multivariate analysis the most dominant variable related to the performance of the activity process in the pharmacy's receipt service, which is the 'kind of receipts'
 
 
Based on this research, hopefully the information about the performane of the activity process in the Rumah Sakit Haji, Jakarta pharmacy's receipt services can be used as some sort of guidance to improve process and increase the pharmacy's service quality. By managing an added value and a non-added value activity we will have a much more efficient performance as a result.
Read More
B-602
Depok : FKMUI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Myrna Octaviany; Pembimbing: Prastuti C. Soewondo; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Tavitri Rangkuti, Maridi Kartasasmita
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran proses pengendalian persediaanobat antibiotik di RS Meilia pada tahun 2014 dengan menggunakan metode analisisABC indeks kritis. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif.Data yang digunakan adalah data pemakaian obat antibiotik di bulan Januari s/dDesember 2014 dan hasil pengisian kuesioner nilai kritis obat. Hasil penelitianmenunjukkan kelompok A hasil analisis ABC indeks kritis terdiri dari 10 itemobat antibiotik dengan nilai investasi sebesar Rp 2.114.748.870,- (39.91%).Kelompok B terdiri dari 45 item dengan nilai investasi sebesar Rp 2.380.506.460,-(44.92%). Kelompok C terdiri dari 110 item dengan nilai investasi sebesarRp 803.183.274,- (15.17%). Analisis persediaan pada kelompok A dilakukandengan menghitung EOQ dan ROP. Tiga metode peramalan digunakan padapenelitian ini yaitu Single Smoothing Exponential, Moving Average 3 periode, danWeighted Moving Average 3 periode. Pemilihan metode peramalan yang akandigunakan dengan mempertimbangkan tingkat akurasi data yang dihasilkan danpengaruh hasil peramalan pada besaran biaya rumah sakit.

Kata kunci :Pengendalian persediaan, Analisis ABC indeks kritis, EOQ, ROP, Peramalan
The purpose of this research is to analyze antibiotics inventory control using ABCcritical index method at Meilia Hospital in 2014. The design of this research is adescriptive quantitative research. In this research the data is based on the consumedantibiotics in January to December 2014 and the critical index value of antibiotics.The result showed that the group A consisted of 10 items with a value of Rp2.114.748.870,- (39.91%). The group B consisted of 45 items with a value of Rp2.380.506.460,- (44.92%). The group C consisted of 110 items with a value of Rp803.183.274,- (15.17%). An inventory control analysis was done by calculatingEOQ and ROP of the group A. The three methods of forecasting were used in thisresearch, i.e Single Smoothing Exponential, 3 period Moving Average, and 3 periodWeighted Moving Average. To choose the forecasting method that will be used isdetermined by the level of accuracy and the influence of forecast result on hospitalcost.

Keywords :Inventory control, ABC critical index method, EOQ, ROP, Forecasting
Read More
B-1742
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiningsih Hardiani; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Mieke Savitri, Amir Hamzah Mauzzy
Abstrak: Mulai tahun 2001 sampai dengan sekarang terdapat peningkatan pada penjualan kredit di RS Karya Bhakti. Hal tersebut tentu saja dapat meningkatkan pendapatan rumah sakit, tetapi disamping itu timbul masalah peningkatan saldo piutang dan panjangnya umur piutang. Dimana apabila masalah tersebut tidak segera diatasi akan mengakibatkan terganggunya cash flow rumah sakit. Salah satu penyebab dari masalah tersebut yaitu lamanya proses penagihan piutang dari intern rumah sakit.

Untuk itu dilakukan penelitian diskriptif analitik yang bertujuan untuk mengetahui tahapan dan proses penagihan piutang, mengetahui tahap-tahap yang menjadi penyebab keterlambatan proses penagihan piutang dan mengetahui upaya-upaya dalam mempercepat proses penagihan piutang pasien jaminan pihak ketiga di RS Karya Bhakti

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa proses siklus piutang di Rumah Sakit Karya Bhakti melalui beberapa tahapan yaitu tahap Penerimaan, Pembebanan, Penataan Rekening, Penagihan dan Penutupan Rekening. Penyebab keterlambatan penagihan piutang terdapat pada tahap penataan rekening sampai tahap penagihan yaitu lamanya waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan tagihan dihitung dari saat pasien pulang atau lepas rawat sampai dengan dilakukan penagihan, untuk rawat jalan membutuhkan waktu 26 hari dan rawat inap membutuhkan waktu 38 hari, sehingga mengakibatkan umur piutang yang lebih dari 60 hari sebesar 53,63 % dari total piutang dan rata-rata penerimaan piutang 27,79 % dari total piutang per bulan.

Untuk mengefektifkan penagihan piutang, maka perlu dilakukan evaluasi mengenai kebijakan kredit dan kebijakan penagihan di Rumah Sakit Karya Bhakti, serta perubahan sistem dan prosedur pengelolaan piutang pada tahap penataan rekening sampai dengan tahap penagihan, yang bertujuan untuk memperpendek proses penagihan. Selain itu perlu adanya petugas yang difungsikan khusus untuk menangani piutang dari tahap penerimaan sampai dengan penutupan rekening dan mengembangkan sistem billing yang terintegrasi secara menyeluruh.

Kata kunci : piutang

Since year 2001 the credit payment policy already implemented and many patients choose Karya Bhakti hospital because of that policy. The hospital income is growing. But other problems come such as; the amount of account receivables growth and the long term payment. If the hospital can not solve those problems then the hospital cash flow will have a problem as well. Those problems caused by the lateness of collecting account receivables.

To solve the problem above then the descriptive analytic research needed. The purpose of the research are knowing the procedure and process of collecting account receivables, knowing the step of procedure that causing lateness of collecting account receivables, knowing the way to expedite the process of collecting account receivables for patients with third party assurance.

From the research can be describe that the circle of account receivables process on Karya Bhakti Hospital divided by the following steps ; Admission, Charging, Billing Statement, Collection and Write off. The step that causing lateness to collect account receivables start from Billing Statement step to Collection step. That’s mean the time that hospital needs to prepare the collection - start from when patient went home- until the hospital ready to collect. For outpatient need 26 days and for inpatient need 38 days to process. Those condition is causing the hospital receive 27.79% in average from total account receivables patients with third party assurance. Other case, there’s 53.63% account receivables from total per 31 december 2004 that have 60 days long term payment.

For effectiveness collecting account receivables, require to evaluate to credit policies and collection policies in Karya Bhakti Hospital and adjustment on the system and procedure needed, starting at Billing Statement step to Collection step. The purpose is to shortcut the collecting account receivables process. And also, the hospital needs employees who can control the process from Admission to Write Off and also to develop the integrated billing system.

Key word : account receivables
Read More
B-896
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caslyn Jus; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Putri Nadia
Abstrak:
Persaingan rumah sakit swasta yang semakin ketat menuntut rumah sakit untuk memperkuat merek sebagai strategi dalam menarik dan mempertahankan pasien eksekutif atau non-JKN. RS Hermina Jatinegara menghadapi tantangan pada layanan rawat inap eksekutif, ditunjukkan oleh Bed Occupancy Rate (BOR) yang fluktuatif dan belum stabil pada ambang ideal, serta rendahnya konversi pasien dari rawat jalan eksekutif dan IGD eksekutif ke layanan rawat inap eksekutif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan Customer-Based Brand Equity (CBBE) berdasarkan model Keller, yang terdiri dari dimensi brand salience, brand performance, brand imagery, brand judgments, brand feelings, dan brand resonance, dengan keputusan pasien memilih layanan rawat inap eksekutif di RS Hermina Jatinegara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 96 responden pasien eksekutif, terdiri dari 87 responden dari unit rawat jalan eksekutif dan 9 responden dari unit IGD eksekutif, yang dipilih dengan teknik consecutive sampling dan proportional sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert, sedangkan data sekunder diperoleh dari data operasional rumah sakit dan referensi pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS melalui pengujian outer model dan inner model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan pasien dalam memilih layanan rawat inap berada pada kategori baik. Seluruh dimensi CBBE juga menunjukkan persepsi yang baik, meskipun masih terdapat beberapa indikator yang perlu ditingkatkan, terutama pada aspek top of mind, kecepatan respons pelayanan, rasa aman, kebanggaan sosial, dan penghargaan personal. Nilai R-square sebesar 0,786 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan keputusan pasien sebesar 78,6%. Hasil uji bootstrap menunjukkan bahwa brand imagery berhubungan positif dan signifikan dengan keputusan pasien (p=0,023), demikian pula brand resonance (p=0,018). Sementara itu, brand salience, brand performance, brand feelings, dan brand judgments tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa citra merek dan keterikatan emosional pasien merupakan faktor utama yang berhubungan dengan keputusan pasien memilih layanan rawat inap eksekutif di RS Hermina Jatinegara. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memperkuat repositioning citra sebagai rumah sakit umum modern, meningkatkan komunikasi clinical excellence, memperbaiki responsivitas layanan, serta membangun relationship marketing melalui layanan personal dan berkelanjutan bagi pasien eksekutif.

Increasing competition among private hospitals requires stronger brand development as a strategic effort to attract and retain executive or non-JKN patients. RS Hermina Jatinegara faces challenges in its executive inpatient services, as reflected in fluctuating Bed Occupancy Rate (BOR) performance that has not consistently reached the ideal standard, as well as the low conversion rate of patients from executive outpatient and emergency department services to executive inpatient care. This study aims to analyze the relationship between Customer-Based Brand Equity (CBBE), based on Keller’s model consisting of brand salience, brand performance, brand imagery, brand judgments, brand feelings, and brand resonance, and patients’ decision to choose executive inpatient services at RS Hermina Jatinegara. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 96 executive patients, including 87 respondents from the executive outpatient unit and 9 respondents from the executive emergency department, selected using consecutive sampling and proportional sampling techniques. Primary data were collected through a Likert-scale questionnaire, while secondary data were obtained from hospital operational records and supporting references. Data analysis was conducted using SEM-PLS through outer model and inner model testing. The results showed that patients’ decision to choose inpatient services was generally categorized as good. All CBBE dimensions also demonstrated positive patient perceptions, although several indicators still require improvement, particularly those related to top-of-mind awareness, service responsiveness, sense of security, social pride, and personal appreciation. The R-square value of 0.786 indicated that the model was able to explain 78.6% of the variance in patients’ decision-making. Bootstrap testing showed that brand imagery had a positive and significant relationship with patients’ decision-making (p = 0.023), as did brand resonance (p = 0.018). Meanwhile, brand salience, brand performance, brand feelings, and brand judgments did not show significant relationships. This study concludes that brand image and patients’ emotional attachment are the main factors associated with patients’ decision to choose executive inpatient services at RS Hermina Jatinegara. Therefore, the hospital needs to strengthen its repositioning as a modern general hospital, improve communication of clinical excellence, enhance service responsiveness, and develop relationship marketing through more personalized and continuous services for executive patients.
Read More
B-2600
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evelyn Hendarta; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Hartono Tanto, Martha ML Siahaan
Abstrak: Pendahuluan: IGD berperan sebagai pintu masuk pasien ke rumah sakit, yang harus selalu siap memberikan pelayanan pasien 7 hari 24 jam sesuai standar pelayananan minimum yang diatur dalam Permenkes 47 tahun 2018. Selama pandemi Covid-19, rumah sakit dan IGD terdampak langsung, terlihat pada berbagai metriks operasional IGD seperti jumlah pasien yang datang, pola penyakit dan tingkat triase pasien, admisi dan lama pelayanan di IGD, dan juga kejadian pulang paksa. Usai pandemi, perlu dikaji ulang berbagai metriks operasional itu untuk keperluan pengelolaan dan perencanaan ke depan. Metodologi: Penelitian ini sifatnya deskiptif, menggunakan sumber data primer (obervasi dan wawancara mendalam dengan informan) dan data sekunder (laporan operasional, rekam medis pasien IGD dan SPO). Data yang diteliti adalah untuk periode Januari – Desember 2019, 2022 dan 2023. Hasil: Dengan menggunakan data tahun 2019 sebagai pembanding, didapatkan bahwa di masa pandemi jumlah pasien lebih tinggi 13% dan usai pandemi masih lebih rendah 3%. Salah satu top-10 penyakit adalah infeksi corona virus di tahun 2022, namun 9 penyakit lainnya sama untuk ketiga periode yang diteliti. Konversi admisi pasien IGD ke rawat inap stabil di sekitar 30%, dan tingkat triase pasien 75% - 90% di ATS4 dan ATS5 yang tidak mengancam/berpotensi mengancam nyawa. Lama rawat memanjang saat pandemi namun usai pandemi sudah kembali normal. Ada trend kenaikan kejadian pulang paksa, yang harus diteliti lebih lanjut untuk perspektif dari pasien. Kesimpulan: Pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai metriks operasional IGD. Teridentifikasi beberapa masukan yang dapat diterapkan oleh manajemen rumah sakit untuk perbaikan, juga beberapa rekomendasi untuk pembuat kebijakan.
Introduction: The Emergency Department (ED) acts as the patient's entrance to the hospital, which must be ready to provide patient services 7 days 24 hours in accordance with the minimum service standards regulated in Minister of Health Regulation 47 of 2018. During the Covid-19 pandemic, hospitals and EDs were directly affected, as seen in various ED operational metrics such as the number of patients, disease patterns and patient triage levels, admissions and length of service in the ED, and the incidence of leaving against medical advice. After the pandemic, those operational metrics need to be reviewed for future management and planning purposes. Methodology: This research is descriptive in nature, using primary data sources (observations and in-depth interviews with informants) and secondary data (operational reports, medical records of ED patients and standard operating procedure). The data studied is for the periods January – December 2019, 2022, and 2023. Results: Using 2019 data as a comparison, it was found that during the pandemic the number of patients was 13% higher and after the pandemic it was still 3% lower. One of the top 10 diseases in 2022 is corona virus infection, but the other 9 diseases are the same for the three periods studied. The conversion rate of ED patient to inpatient is stable at around 30%, and the proportion of patient triage categorized as non-life-threatening/potentially life-threatening ATS4 and ATS5 is 75% - 90%. The length of service lengthened during the pandemic, but after the pandemic it has returned to normal. There is an increasing trend in the incidence of leaving against medical advice, which should be further investigated from the patient's perspective. Conclusion: The Covid-19 pandemic has impacted various ED operational metrics. Several inputs were identified that could be implemented by hospital management for improvement, as well as several recommendations for policy makers
Read More
B-2461
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulianto; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ronnie Rivany, Mieke Savitri, Budi Hartono
Abstrak:
This study is to analyse the propered of Magnetic Resonance Imaging 1.5 Tesla in Radiology Departement of Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital, analysis to present market aspect, management aspect, technology aspect, legal and finance aspect. Using Internal External Matrix and SWOT analysis, be continued to analyse finance aspect by cash flow projection, Net Present Value analysis and Internal Rate Of Return analysis. The result of this research presented Magnetic Resonance Imaging 1.5 Tesla service in Radiology Departement Of Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital with NPV positive value and IRR above bank rate is proper, and be able to be existence.

Tesis ini menganalisis kelayakan dari Pelayanan MRI 1,5 Tesla yang akan diadakan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, pada aspek pasar, manajemen organisasi, teknologi alat, hukum/ legalitas dan keuangan. Penelitian kualitatif pada desain deskriptif dengan melakukan analisis aspek-aspek kelayakan dan keuangan. Menggunakan alat analisis Matriks Internal Eksternal dan Diagram SWOT, dilanjutkan dengan analisis aspek keuangan menggunakan proyeksi Cash Flow serta analisis Net Present Value dan Internal Rate Of Return. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Pelayanan Magnetic Resonance Imaging 1,5 Tesla di Departemen Radiologi RSUPN CM, dengan hasil Nilai NPV positip dan nilai IRR di atas suku bunga Bank, sudah layak untuk direalisasikan.
Read More
B-1180
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive