Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40581 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Isni Nurkania; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Ning Susilowati
S-6920
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunita Amraeni; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Sabarinah B. Prasetyo, Purwanty Astuti Ascobat; Penguji: Hadi Pratomo, Kemal Nazaruddin Siregar, Soewarta Kosen, Wendy Hartanto, Omas Bulan Samosir
Abstrak: Total Fertility Rate cenderung stagnan begitupun dengan angka CPR dengan kenaikan yang tidak signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan KB yang tidak terpenuhi di Indonesia. Perlu identifikasi ketimpangan gender yang berkaitan dengan otonomi perempuan sebagai salah satu penghambat kebutuhan yang terpenuhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kontribusi otonomi reproduksi terhadap unmet need kontrasepsi modern dan mengkaji perbedaannya berdasarkan wilayah urban dan rural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang berdasarkan data pasangan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, 2012 dan 2017. Dan studi kualitatif untuk menggali informasi terkait hubungan otonomi reproduksi terhadap unmet need kontrasepsi modern. Subyek penelitian adalah pasangan (suami dan istri) yang berhasil diwawancarai dalam SDKI baik yang menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi modern. Jumlah subyek penelitian sebesar 16809 pasangan pada tahun 2007, 20.435 pasangan pada tahun 2012 dan 21.881 pasangan pada tahun 2017. Variabel bebas pada penelitian ini adalah otonomi reproduksi yang diukur berdasarkan hasil analisis faktor dari keputusan dalam penentuan anak, keputusan dalam kontrasepsi, komunikasi KB, frekuensi diskusi KB, sikap terhadap penolakan seks dan kemampuan negosiasi sek . Variabel terikat pada penelitian ini adalah unmet need kontrasepsi modern. Variabel kontrol adalah karakteristik sosial demografi pasangan dan pelayanan KB. Analisis menggunakan analisis regresi multinomial. Dapat disimpulkan bahwa setiap peningkatan skor otonomi reproduksi perempuan maka resiko kejadian unmet need semakin kecil. sementara secara statistik tidak ada perbedaan antara wilayah urban dan rural. diketahui bahwa rendahnya otonomi reproduksi dipengaruhi oleh pasangan, keluarga dan masyarakat sehingga diperlukan program KB melalui peran PLKB dengan metode pendekatan keluarga terutama pelibatan suami sebagai mitra KB serta pendekatan sosial sehingga dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam mempertahankan hak reproduksinya.
Read More
D-425
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Kasmiyati, Eri Rohati
Abstrak: Permasalahan kependudukan yang saat ini dihadapi di Indonesia adalah masihtingginya angka Unmet need KB. Secara umum persentase unmet need diperkotaan lebih rendah dibandingkan perdesaan, namun tren di perkotaan justrumengalami peningkatan sedangkan di perdesaan sudah mengalami penurunan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankejadian unmet need KB di daerah perkotaan dan perdesaan. Desain yangdigunakan adalah cross sectional dengan menganalisis data SDKI 2012. Sampelpenelitian ini adalah WUS kawin/hidup bersama dengan rentang umur 15-49tahun yang berjumlah 24510 responden. Analisis multivariat dilakukan denganregresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian unmet need diperkotaan 16 % dan di perdesaan 15,1%. Faktor-faktor yang berhubungan dengankejadian unmet need di perkotaan adalah umur, pendidikan ibu, pendidikan suami,tingkat ekonomi, tempat tinggal (kebersamaan tinggal), pengetahuan dan jumlahanak ideal, dan yang paling dominan berhubungan adalah umur. Sedangkanfaktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian unmet need di perdesaan adalahumur, pendidikan suami, tingkat ekonomi, tempat tinggal (kebersamaan tinggal),pengetahuan dan jumlah anak ideal, dan yang paling dominan berhubungan adalah tempat tinggal (kebersamaan tinggal). Sebaiknya pemberian informasi/persuasi KB lebih ditekankan pada wanita usia >35 tahun dan edukasi yang lebih intenspada kelompok ibu yang tinggal terpisah dari suami. Analisis lanjut secara komperhensif tentang berbagai faktor yang berhubungan dengan kejadianunmeetneed perlu dilakukan. Kata kunci : Unmet need, Perkotaan, Perdesaan
One of population problems currently faced in Indonesia is high rate of Unmetneed for family planning. In General, the percentage of unmet need in urbanareas lower than rural, but urban trends actually increased while the countrysidehas experienced a downturn.The aims of this research is to identify the factorsassociated with the incidence of unmet need for family planning in urban and ruralareas. The design used is cross sectional by analyzing the SDKI data 2012. Thesample of this research is the fertile woman aged 15-49 year who marriage orlive together with patner, totalling 24.510 respondents. Multivariateanalysis performed with logistic regression. The results showed that the incidenceof unmet need in urban areas 16 % and in rural areas 15.1%. Factors related to theincidence of unmet need in urban areas is the mother's education, age, education,economic level, the husband's residence (togetherness), knowledge and the idealnumber of children, and the most dominant touch is age. Whereas the factorsassociated with the incidence of unmet need in rural areas is the age, education,economic level, the husband's residence (togetherness), knowledge and the idealnumber of children, and the most dominant touch is the residence (living being).Providing better information about family planning and more persuasionespecially for women 35 years and more are needed. Education more intense forwoman living apart from husband should be hold. Further a comprehensiveanalysis of various factors associated with an occurrence unmet need should beendone.Keywords: Unmet need, Urban, Rural
Read More
T-4148
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titis Risti Yulianti; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Mila Herdayati, Indra Supradewi
Abstrak: Penggunaan kontrasepsi modern pria jauh lebih rendah dibandingkan wanita di Indonesia dan terdapat perbedaan cukup jauh jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia, karena penggunaan kontrasepsi modern pria tahun 2002-2012 di Indonesia selalu rendah (kurang dari 5%) akibat kurangnya pengetahuan KB dan adanya persepsi KB negatif pada pria. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pengetahuan dan persepsi KB terhadap penggunaan kontrasepsi modern pria di Indonesia tahun 2017. Metode penelitian ini menggunakan desain potong lintang dan dianalisis secara sekunder menggunakan data SDKI 2017, serta subjek penelitian ini adalah pria kawin 15-54 tahun pada data SDKI 2017 di Indonesia. Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan dan persepsi KB terhadap penggunaan kontrasepsi modern pria di Indonesia. Kesimpulan penelitian ini adalah pria kawin yang menggunakan kontrasepsi modern (kondom dan vasektomi) adalah pria kawin yang memiliki pengetahuan KB baik dan persepsi KB positif yang ditemukan pada pria yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, tinggal di perkotaan, dan sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Penelitian ini merekomendasikan adanya program KB khusus pria yang berisi kesetaraan gender dengan mengutamakan pemberian substansi pengetahuan dan persepsi KB yang khusus
Read More
S-10908
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Ferananda; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Nadia Shafira
Abstrak:
Latar Belakang: Unmet need keluarga berencana (KB) masih menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan reproduksi karena berkaitan dengan peningkatan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berbagai dampak buruk terhadap kesehatan ibu dan anak. Berdasarkan SDKI 2017, prevalensi unmet need KB nasional sebesar 10,6%, sedangkan di Provinsi Sumatra Selatan sebesar 8,6%. Meskipun lebih rendah dari angka nasional, penelitian yang secara khusus menganalisis determinan unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan menggunakan pendekatan analisis multivariat masih sangat terbatas, sehingga faktor-faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian tersebut di tingkat provinsi ini belum banyak dipahami. Tujuan: Menganalisis determinan kejadian unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Metode: Penelitian menggunakan data sekunder SDKI 2017 dengan desain cross-sectional pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel usia dikategorikan menjadi 15–24, 25–34, dan 35–49 tahun, sedangkan jumlah anak hidup dikategorikan menjadi ≤2 anak dan >2 anak. Variabel outcome adalah kejadian unmet need KB. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: Prevalensi unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan sebesar 8,6%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, jumlah anak hidup, dan persetujuan suami terhadap penggunaan KB berhubungan bermakna dengan kejadian unmet need KB. Setelah dikontrol oleh variabel lain, wanita dengan jumlah anak hidup >2 memiliki peluang 2,05 kali lebih besar mengalami unmet need KB dibandingkan wanita dengan ≤2 anak (aOR=2,05; 95% CI 1,12–3,78). Wanita yang suaminya menyetujui penggunaan KB memiliki peluang 0,15 kali (atau 6,5 kali lebih rendah) mengalami unmet need KB dibandingkan wanita yang suaminya tidak menyetujui (aOR=0,15; 95% CI 0,05–0,45), dan merupakan faktor yang paling dominan. Usia tidak lagi berhubungan bermakna setelah dikontrol variabel lain. Kesimpulan: Kejadian unmet need KB pada wanita usia subur di Provinsi Sumatra Selatan lebih ditentukan oleh faktor reproduksi dan dukungan pasangan dibandingkan karakteristik sosiodemografi. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi penurunan unmet need KB perlu diarahkan pada penguatan keterlibatan suami dalam pengambilan keputusan ber-KB serta konseling kontrasepsi yang mempertimbangkan riwayat reproduksi perempuan, bukan semata-mata intervensi berbasis karakteristik demografi.

Background: Unmet need for family planning remains a reproductive health challenge, as it is associated with an increased risk of unintended pregnancy and adverse maternal and child health outcomes. Based on the 2017 IDHS, the national prevalence of unmet need for family planning was 10.6%, while in South Sumatra Province it was 8.6%. Although lower than the national figure, studies specifically examining the determinants of unmet need among women of reproductive age in South Sumatra Province using a multivariable approach remain very limited, so the dominant factors at the provincial level are not yet well understood. Objective: To analyze the determinants of unmet need for family planning among women of reproductive age in South Sumatra Province using data from the 2017 IDHS. Methods: This study used secondary data from the 2017 IDHS with a cross-sectional design among women of reproductive age in South Sumatra Province who met the inclusion criteria. Age was categorized into 15–24, 25–34, and 35–49 years, while the number of living children was categorized into ≤2 and >2 children. The outcome variable was unmet need for family planning. Data were analyzed using univariate, bivariate (chi-square test), and multivariable logistic regression analyses. Results: The prevalence of unmet need for family planning was 8.6%. Bivariate analysis showed that age, number of living children, and husband's approval of family planning use were significantly associated with unmet need. After adjustment, women with >2 living children had 2.05 times higher odds of unmet need than those with ≤2 children (aOR=2.05; 95% CI 1.12–3.78). Women whose husband’s approved of family planning use had 0.15 times the odds (i.e., 6.5 times lower odds) of unmet need compared to those whose husband’s did not approve (aOR=0.15; 95% CI 0.05–0.45), making it the most dominant factor. Age was no longer significantly associated after adjustment. Conclusion: Unmet need for family planning among women of reproductive age in South Sumatra Province is more strongly determined by reproductive factors and spousal support than by sociodemographic characteristics. These findings suggest that strategies to reduce unmet need should prioritize strengthening husband’s involvement in family planning decision-making and providing contraceptive counseling that accounts for women's reproductive history, rather than relying solely on demographic-based interventions.
Read More
S-12486
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arryan Rizqi Aulia Purnamasari; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Evi Martha, Tris Eryando, Wendy Hartanto, Tuty Sahara
Abstrak: Unmet need menjadi masalah kesehatan pada remaja berstatus kawin. Keberadaan remaja telah mendominasi penduduk di dunia. Berdasarkan laporan UNICEF 2019 populasi penduduk remaja (usia 10-19 tahun) 16% dari total penduduk dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami masalah kepadatan penduduk, dengan jumlah populasi setara 3,5% dari total populasi dunia. Penelitian dengan desain cross sectional, untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need di Indonesia tahun 2017. Sampel dalam penelitian adalah 626 wanita berusia 15-19 tahun berstatus kawin 626 orang. Proporsi Unmet need kontrasepsi pada kehamilan PUS remaja wanita usia 15-19 tahun pada SDKI 2017 sebesar 8,5 %. Hasil penghitungan pemodelan penelitian didapatkan proporsi unmet need kontrasepsi pada kehamilan PUS remaja wanita 10,4%, dengan proporsi di daerah perkotaan sebesar 53,84% dan di daerah pedesaan sebesar 46,15%. Faktor yang berhubungan dengan unmet need kontrasepsi pada kehamilan remaja di Indonesia.
Unmet need is a health problem in married adolescents. The existence of teenagers has dominated the population in the world. Based on the 2019 UNICEF report, the population of adolescents (aged 10-19 years) is 16% of the total world population. Indonesia is one of the countries experiencing population density problems, with a population equivalent to 3.5% of the total world population. Research with a cross sectional design, to find out the factors related to unmet need in Indonesia in 2017. The sample in this study was 626 women aged 15-19 years with 626 married status. The proportion of Unmet need for contraception in couple of reproductive age pregnancies of adolescent girls aged 15-19 years in the 2017 IDHS is 8.5%. The results of the calculation of the research modeling showed that the proportion of unmet need for contraception in female adolescent couple of reproductive age pregnancies was 10.4%, with the proportion in urban areas being 53.84% and in rural areas being 46.15%. Factors related to the unmet need for contraception in adolescent pregnancy in Indonesia
Read More
T-6436
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sufinah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Agus Triwinarto
S-9442
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Permatasari; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dadan Erwandi, Sandra Fikawati, Dian Kristiani Irawati, Wara Pertiwi Osing
Abstrak:
Berdasarkan data SDKI terjadi peningkatan prevalensi perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja umur 15-24 tahun. SDKI 2017 menyebutkan sebanyak 8% remaja pria dan 2% remaja perempuan telah melakukan hubungan seksual, lebih tinggi dibandingkan data SDKI 2012 yakni 7% remaja laki-laki dan 1% remaja perempuan melakukan hubungan seksual pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teman sebaya terhadap perilaku hubungan seksual pranikah remaja umur 15-24 tahun di Indonesia dengan menggunakan data SDKI 2017 dengan disain cross sectional. Sampel sebesar 12.363 remaja yang memenuhi kriteria remaja pria dan WUS umur 15-24 tahun, pernah atau sedang berpacaran, memiliki teman sebaya, dan memiliki teman dengan pengalaman seksual pranikah. Data dianalisis menggunakan uji logistik regresi ganda menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan 8,4% remaja yang sedang atau pernah berpacaran pernah melakukan hubungan seksual pranikah dan 21,9% remaja mendapatkan pengaruh buruk perilaku seksual teman sebayanya. Hasil analisis mendapatkan adanya pengaruh teman sebaya terhadap perilaku hubungan seksual pranikah, remaja yang mendapatkan pengaruh buruk dari perilaku seksual teman sebayanya berisiko 4 kali untuk melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja yang tidak terpengaruh teman sebaya setelah dikontrol oleh sikap terhadap perilaku seksual pranikah, gaya berpacaran dan riwayat konsumsi alkohol. Diperlukan upaya peningkatan keterlibatan remaja dalam kegiatan bermanfaat, sehingga dapat menciptakan lingkungan pergaulan yang baik serta dapat menghindarkan remaja dari pengaruh seksual pranikah teman sebaya

Based on IDHS 2017, there is an increase in the prevalence of premarital sexual intercourse among adolescents aged 15-24 years. IDHS 2017 as many as 8% of male adolescents and 2% of female adolescents have had sexual intercourse compared to the 2012 IDHS data as many as 7% of boys and 1% of female adolescents premarital sexual relations. This study aims to determine the effect of peers on premarital sexual relations behavior of adolescents aged 15-24 years in Indonesia using the IDHS 2017 with cross sectional design. Sample of 12,363 adolescents who meet the criteria for male adolescents and female aged 15-24 years, have currently dating, having peers, and having friends with premarital sexual experiences. Data were analyzed using multiple regression logistic tests using the SPSS program. The results showed that 8.4% of adolescents who are currently or have been dating have had premarital sexual intercourse and 21.9% of adolescents have had a bad influence on their peer sexual behavior. The results of the analysis show that there is peer influence on premarital sexual intercourse behavior, adolescents who get influence from their peer sexual behavior have 4 times the risk of having premarital sexual intercourse compared with adolescents who are not influenced by peers after being controlled by attitudes towards premarital sexual behavior, dating style and a history of alcohol consumption. Efforts are needed to increase youth involvement in more useful activities so that they can create a good social environment and can prevent adolescents from the sexual behavior of peers

Read More
T-5933
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Puspita Sari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Evi Martha, Laily Hanifah
Abstrak: Pengetahuan masyarakat yang minim tentang HIV/AIDS dan interpretasi yang salah tentang masalah tersebut merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya penurunan jumlah kasus orang dengan HIV/AIDS. Perlakuan tidak adil, kasar, dan stigma yang negatif membuat ODHA tidak mau memberanikan dirinya untuk terbuka bahkan untuk mengakses pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pada wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang berhubungan dengan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS dalam data SDKI 2012. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur yang lebih muda dalam memberi stigma terhadap ODHA daripada umur yang lebih tua. Semakin rendah pendidikan seseorang semakin besar kemungkinan untuk memberi stigma terhadap ODHA. Selain itu, pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS yang kurang juga dapat menyebabkan seseorang menstigma ODHA. Hasil uji chi-square didapatkan proporsi wilayah pedesaan lebih memberi stigma terhadap ODHA daripada wilayah perkotaan. Pemanfaatan sumber informasi juga sangat berpengaruh dalam memberi stigma terhadap ODHA, responden dengan sumber informasi ≤ 3 jenis cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Status ekonomi rendah juga cenderung memberi stigma terhadap ODHA. Upaya keterlibatan seluruh stakeholder untuk peningkatan keterpaparan informasi sebagai upaya promotif dan preventif dengan penyebaran informasi tentang HIV/AIDS melalui media massa, khususnya melalui koran, radio, dan televisi lokal.
Kata Kunci : Wanita Pernah Kawin, ODHA, Stigma
Read More
S-8552
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Setyo Aji Sasongko; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Intan Yustisiawati
Abstrak:
Unmet need Keluarga Berencana (KB) masih menjadi tantangan kesehatan reproduksi di Indonesia karena berkontribusi terhadap kehamilan tidak direncanakan, kematian ibu, dan berbagai dampak kesehatan lainnya. Permasalahan tersebut semakin kompleks pada WUS Generasi Z yang telah menikah akibat keterbatasan akses informasi dan ketakutan terhadap efek samping kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kejadian unmet need KB dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need KB pada WUS Generasi Z yang telah kawin di Kota Depok. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data primer yang dikumpulkan pada April 2026. Sampel berjumlah 135 WUS Generasi Z (15–27 tahun) yang telah kawin dan dipilih menggunakan mixed sampling design, yaitu pemilihan kecamatan secara purposif dan pemilihan klaster secara bertahap (multistage cluster random sampling). Analisis data meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square atau Fisher's Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi unmet need KB sebesar 27,4%, lebih tinggi dibandingkan hasil analisis SDKI 2017 pada perempuan muda yang telah menikah (9,3%), capaian nasional tahun 2023 (11,5%), maupun target Renstra Kemendukbangga/BKKBN 2025–2029 sebesar 10,0%. Kebutuhan KB yang belum terpenuhi didominasi oleh unmet need untuk penjarangan kehamilan (spacing) sebesar 17,0%. Dari seluruh variabel yang dianalisis, hanya paparan petugas kesehatan yang berhubungan signifikan dengan kejadian unmet need KB (p-value=0,041), sedangkan usia, status pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, jumlah anak hidup, jumlah anak ideal, dan paparan media massa tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa unmet need KB pada WUS Generasi Z di Kota Depok masih tergolong tinggi dan didominasi oleh kebutuhan penjarangan kehamilan. Penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), peningkatan kualitas konseling kontrasepsi oleh tenaga kesehatan, promosi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), serta pengembangan sistem informasi keluarga berencana yang terintegrasi perlu dioptimalkan untuk menurunkan unmet need KB pada Generasi Z

Unmet need for family planning (FP) remains a major reproductive health challenge in Indonesia because it contributes to unintended pregnancies, maternal mortality, and various adverse health outcomes. This issue is particularly pronounced among married Generation Z women of reproductive age (WRA) due to limited access to information and concerns about contraceptive side effects. This study aimed to describe the prevalence of unmet need for family planning and to analyze factors associated with unmet need for family planning among married Generation Z women of reproductive age in Depok City. This study employed a cross-sectional design using primary data collected in April 2026. A total of 135 married Generation Z women of reproductive age (15–27 years) were selected using a mixed sampling design, consisting of purposive selection of subdistricts followed by multistage cluster random sampling. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. The bivariate analysis employed the Chi-square test or Fisher's Exact Test with a 95% confidence level. The results showed that the prevalence of unmet need for family planning was 27.4%, which was higher than the prevalence reported in the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) among married young women (9.3%), the national prevalence in 2023 (11.5%), and the 2025–2029 Strategic Plan target of the Ministry of Population and Family Development/National Population and Family Planning Board (10.0%). Unmet need was predominantly attributed to the need for birth spacing (17.0%). Among all variables examined, only exposure to family planning information provided by health workers was significantly associated with unmet need for family planning (p-value=0.041). In contrast, age, employment status, educational level, economic status, number of living children, ideal number of children, and exposure to mass media were not significantly associated with unmet need for family planning. In conclusion, the prevalence of unmet need for family planning among Generation Z women of reproductive age in Depok City remains high and is predominantly related to the need for birth spacing. Strengthening family planning communication and education, improving the quality of contraceptive counseling provided by health workers, promoting Long-Acting Reversible Contraceptive Methods (LARCs), and developing an integrated family planning information system should be optimized to reduce unmet need for family planning among Generation Z
Read More
S-12466
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive