Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41235 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitriani; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Sandra Fikawati, Nurfi Afriansyah
Abstrak:

Di era globalisasi ini banyak terjadi masalah gizi ganda. Masalah ini terutama banyak terjadi di negara berkembang dan  negara miskin. Masalah gizi ganda adalah munculnya masalah gizi lebih dengan gizi kurang juga masih menjadi masalah di negara tersebut. Masalah gizi lebih ini terjadi karena makanan murah yang dikonsumsi banyak mengandung tinggi gula, tinggi lemak, tinggi garam dan tinggi kalori yang dapat menyebabkan kegemukan terutama pada anak-anak. Kegemukan pada anak-anak akan menyebabkan menyebabkan timbulnya risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, dan lain-lain kelak jika mereka dewasa nanti. Masa anak-anak merupakan masa yang penting untuk proses tumbuh kembangnya, untuk itu sangat diperlukan konsumsi makanan yang mengandung zatzat gizi yang diperlukan oleh tubuh anak-anak sesuai dengan kebutuhannya. Jika berlebihan akan menimbulkan dampak yang buruk bagi anak-anak. Konsumsi makanan pada anak-anak ditentukan dari apa yang mereka konsumsi sejak dini. Makanan yang pertama kali dikonsumsi oleh anak-anak adalah air susu ibu (ASI). ASI diketahui banyak mengandung gizi penting yang dibutuhkan oleh bayi, untuk itu pemerintah dan World Health Organization (WHO)  merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan kehidupan pertama bayi. ASI juga diketahui memiliki efek protektif terhadap kegemukan pada anak. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengkaji mengenai hubungan antara konsumsi ASI eksklusif dan faktor lainnya dengan kejadian kegemukan pada anak usia 6-23 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010.  Desain penelitian Riskesdas 2010 adalah cross sectional (potong lintang). Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat. Variabel dependen yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah status kegemukan pada anak usia 6-23 bulan berdasarkan IMT/U. Dalam penelitian ini didapatkan hasil proporsi kegemukan pada anak usia 623 bulan adalah 22,6% dan proporsi ASI eksklusif sebesar 19,9%. Dari hasil uji chisquare diketahui tidak ada hubungan bermakna antara ASI eksklusif dengan kegemukan, sedangkan hubungan yang bermakna ditemukan pada variabel berat lahir, pekerjaan ibu dan pengeluaran keluarga. Faktor yang paling berhubungan dari semua variabel independen yang diteliti adalah berat lahir. Kata kunci : Usia 6-23 bulan, Kegemukan, ASI eksklusif, Indonesia

Globalization era has make a double burden on nutrition problem. This problems happened in the develeloped and poor country. Double burden on nutrition is a problem with overnutrition has come while the undernutrition still become a problem. Overnutrition arise because a children consume cheap food that contain of high sugar, high fat, high salt and high calory that can cause a degenerative diseases such as cardiovaskuler, diabetes mellitus when they grow up later. Children period plays an important role for their development and growth, and for that they need the food that contain of nutrition that they need. If  it more than they need, it will become a bad impact for the child. For babies, the first food that they consume is breastmilk. Breastmilk has been known as an important nutrition for the baby so that the World Health Organization has recommend to give breastmilk only for the first six months of their early life. Breastmilk has a protective effect for overweight on child. Based on that reason, the writer interested to analyze the association between breastfeeding and other factors with overweight on children ages 6-23 months in Indonesia 2010. This research is a quantitative research using a secondary data from health research 2010 (Riskesdas 2010). Riskesdas 2010 design is a cross sectional. Data analysis are univariat, bivariat and multivariat. The dependent variable is an overweight status based on Basal Metabolism Index per Age (BMI/Age). This research has found that overweight proportion is 22,6% while the breastfeeding proportion is 19,9%. Chi-Square test has found that there is no relationship between breastfeeding with overweight while the significant relationship has been found on birth weight, mother occupation and family expenses. Keywords : Children ages 6-23 months, Overweight, Exclusive Breastfeeding, Indonesia

Read More
T-3477
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Kusumaningrum; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Triyanti, Anies Irawati
S-6710
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kelvin Halim; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Dewi Damayanti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan melihat hubungan keragaman konsumsi pangan dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 149 anak usia 6-35 bulan di Kecamatan Babakan Madang selama bulan April-Juni 2019. Skor keragaman konsumsi pangan diambil dari 1x24hr food recall berdasarkan 7 kelompok pangan dan dikategorikan berdasarkan beragam (<4 kelompok pangan) dan tidak beragam (≥4 kelompok). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting pada anak sebesar 32.2%. Selain itu, 31.5% anak mengonsumsi pangan tidak beragam, dan 79,5% anak belum mencapai minimum acceptable diet. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan bermakna antara keragaman konsumsi pangan (p=0.033), minimum acceptable diet (p=0.013), dan konsumsi sayur dan buah sumber vitamin A (p=0.015). Namun, belum ditemukan adanya hubungan bermakna antara frekuensi pemberian makan dengan kejadian stunting (p=0.995). Maka dari itu, upaya intervensi perlu dilakukan dengan meningkatkan keragaman pangan dan kualitas makan bayi dan anak dalam menurunkan risiko kejadian stunting di tingkat keluarga dan masyarakat.
Read More
S-9980
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bobok S. Simanjuntak; Pembimbing: Endang L. Achadi, Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Yvonne Magdalena Indrawani, Dodik Briawan, Salimar
T-3453
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erna Ningsih; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Nurfi Afriansyah, M. Tri Hadiah
Abstrak:

Sepertiga kasus kegemukan pada orang dewasa telah dimulai sejak masa anak-anak. Kegemukan pada anak-anak dapat menyebabkan timbulnya risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, dan lain-lain pada saat mereka dewasa nanti. Proporsi kegemukan pada balita dilaporkan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Riskesdas menunjukkan peningkatan proporsi kegemukan pada Balita yaitu 12,2% pada 2007 menjadi 14,0% pada 2010 atau meningkat sekitar 1,8% dari hasil Riskesdas pada tahun 2007. Dua belas Provinsi memiliki masalah kegemukan pada Balita di atas angka nasional, DKI Jakarta merupakan provinsi dengan proporsi teratas yang memiliki masalah tersebut. Berdasarkan data tersebut, penulis melakukan penelitian untuk menganalisis hubungan berat lahir dan faktor lainnya dengan kejadian kegemukan pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Desain penelitian Riskesdas 2010 adalah potong lintang. Variabel dependen yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah status kegemukan pada balita 6-59 bulan berdasarkan IMT/U. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian didapatkan proporsi kegemukan pada anak usia 6-59 bulan adalah 24,3% dan proporsi Berat Lahir Rendah sebesar 4,9%. Hasil uji chi-square diketahui tidak ada hubungan bermakna antara berat lahir dan variabel independen lainnya dengan kegemukan, namun didapatkan status pekerjaan ibu merupakan faktor paling berisiko terhadap kejadian kegemukan di Provinsi DKI Jakarta.


  One third of adult overweight cases has begun since children period. Overweight on children can cause a degenerative risk diseases such as cardiovaskuler, diabetes mellitus,etc when they grow up later. The overweight proportion has increase by the year. From health research data was found that overweight on children under five years has increase about 1,8% which on 2007 the proportion was 12,2% become 14,0% on 2010. DKI Jakarta was the first Province from 12 Provinces who has the overweight problem which the proportion more than national rate. Based on that data, the writer want to analyze the association between birth weight and other factors with overweight on children ages 6-59 months in DKI Jakarta Province. This research is a quantitative research using a secondary data from health research 2010 (Riskesdas 2010). Riskesdas 2010 design is a cross sectional. The dependent variable is an overweight status based on Basal Metabolism Index per Age (BMI/Age). Data analysis are univariat, bivariat and multivariat. The research has found that overweight proportion is 24,3% while the low birth weight proportion is 4,9%. Chi-Square test has found that there is no relationship between birth weight and other independent factors with overweight, which mother occupation has the most risk factor to overweight in DKI Jakarta Province.

Read More
T-3648
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aniza Rizky Aprilya Sirait; Pembimbing: Endang L. Achadi;Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Praktik MP-ASI yang buruk dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak-anak.Minimum dietary diversity (MDD) merupakan salah satu penentu status gizi anak dantelah ditemukan dapat memprediksi terjadinya stunting. Penelitian ini membahasmengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian MDD pada anak yang diberiASI usia 6-23 bulan berdasarkan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan ujiChi-square dan uji regresi logistik ganda untuk menganalisis 2.976 sampel WUS.Terdapat 52,8% anak yang diberi ASI usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2017 telahmengonsumsi setidaknya lima dari delapan kelompok makanan. Namun, masih terdapat47,2% anak yang belum memenuhi capaian MDD tersebut. Usia anak, pendidikan ibu,status bekerja ibu, akses terhadap media, kekayaan rumah tangga, dan pendidikan ayah,peran ayah, kunjungan ANC, penolong persalinan, tempat persalinan, dan wilayah tempattinggal ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan capaian MDD anak.Namun, hanya usia anak, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, kekayaan rumahtangga, peran ayah, penolong persalinan, dan wilayah tempat tinggal yang lolos kepemodelan multivariat akhir yang mempengaruhi capaian MDD. Faktor dominan yangmempengaruhi capaian MDD anak adalah usia anak 6-11 bulan. Anak yang berusia 18-23 bulan berpeluang mengonsumsi lima atau lebih kelompok makanan sebesar 5,8 kalilebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia di bawah 6-11 bulan. Masih terdapatseparuh anak Indonesia belum memenuhi capaian MDD. Perlu adanya intervensi di masamendatang yang menargetkan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil melalui programpeningkatan kesadaran untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dengan memberikandiet yang lebih beragam sejak awal diperkenalkan makanan.
Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; minimum dietary diversity; MP-ASI; SDKI 2017.
Read More
S-10502
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veronica Zahra Lydia Cross; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Endang L. Achadi
Abstrak: ASI eksklusif terbukti menjadi makanan terbaik yang dapat diberikan ibu kepada anaknya selama 6 bulan pertama. Rendahnya cakupan ASI eksklusif di Indonesia perlu menjadi perhatian mengingat tingginya risiko kesehatan yang dapat mengancam pertumbuhan, kesehatan, hingga menyebabkan kematian bayi jika tidak ASI eksklusif. Berbagai faktor ditemukan menjadi penentu dalam praktik pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data sekunder IFLS-5 tahun 2014-2015 yang memiliki sampel anak usia 6-23 bulan sebanyak 1550 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan prevalensi pemberian ASI eksklusif hingga usia minimal 5 bulan adalah sebesar 24,9%. Analisis bivariat menemukan beberapa faktor yang berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif, yaitu usia ibu, pendidikan ibu, berat badan lahir, tempat persalinan, penolong persalinan, dan kunjungan ANC. Faktor status pekerjaan, status perkawinan, paritas, pengetahuan terkait ASI eksklusif, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, dan kunjungan PNC ditemukan tidak berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif dalam penelitian ini. Hasil analisis multivariat menemukan usia ibu sebagai faktor dominan pemberian ASI eksklusif pada ibu dengan anak usia 6-23 bulan di Indonesia dengan OR 2,13. Penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi praktik menyusui pada usia reproduktif dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan hingga 2,1 kali lebih tinggi.
Exclusive breastfeeding (EBF) is proven to be the best food a mother can give to her child during the first 6 months. The low prevalence of EBF in Indonesia needs to be a concern given the many health risk of not breastfeeding exclusively, such as delayed growth, threatened health, and infant mortality. Various factors were found to be determinants in the practice of exclusive breastfeeding. This study was conducted to identify the dominant factor associated with 6-month EBF among children aged 6-23 months in Indonesia. The design used in this study is cross-sectional using IFLS-5 2014-2015 as a secondary data with a sample of 1550 children aged 6-23 months. Data were analyzed using chi square test dan multiple logistic regression test. The result found the prevalence of 5-month EBF was 24,9%. Bivariate analysis found several factors that were significantly related to EBF, which are maternal age, maternal education, birth weight, place of delivery, birth attendant, and ANC visits. The factors of employment status, marital status, parity, knowledge related to EBF, gender, area of residence, and PNC visits were not found to be significantly related to EBF practice in this study. The result of multivariate analysis showed maternal age as the dominant factor of EBF practice in mothers with children aged 6-23 months in Indonesia with an OR of 2,13. This study shows that optimizing breastfeeding practices at reproductive age can increase the success of 6-month EBF up to 2,1 times. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Children Aged 6-23 Months, Maternal Age, IFLS
Read More
S-11041
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Mei Tsuroyya; Pembimbing: Endang Laksiminingsih Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Diah Mulyawati Utari, Eti Rohati, Fajrinayanti
Abstrak: Stunting adalah masalah gizi pada balita dimana terjadi hambatan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis selama 1000 Hari Pertama Kehidupan. Anemia defisiensi besi pada kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya berat badan lahir rendah yang menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang tidak optimal akibat terhambatnya pertumbuhan janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stunting serta hubungan anemia ibu saat hamil dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada baduta di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang pada bulan April-Juni 2017 di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Data yang diambil adalah status anemia ibu saat hamil, faktor ibu, faktor baduta, riwayat menyusui, asupan makanan, riwayat penyakit infeksi dan status sosial ekonomi. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 190 baduta usia 6-23 bulan. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian yaitu kejadian stunting pada baduta sebesar 23,7%, tidak terdapat hubungan antara anemia ibu hamil dengan kejadian stunting pada baduta, faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta adalah tinggi badan ibu, usia baduta, panjang badan lahir, inisiasi menyusu dini, imunisasi dasar lengkap dan asupan energi. Imunisasi dasar lengkap merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Peneliti menyarankan kepada pengambil kebijakan untuk meningkatkan kegiatan promosi kesehatan ibu dan anak. Kata kunci: stunting, baduta, anemia ibu hamil Stunting is a nutritional problem among children under five years with linier growth barrier caused by chonic malnutrition during the First 1000 Days of Life. Iron deficiency anemia in pregnancy is a risk factor of low birth weight that indicates a fetal growth. This study aims to determine the description of stunting and correlation of maternal anemia in pregnancy and other factors with the incidence of stunting among children under two years in Bumiayu, Brebes, Central Java. This study is a quantitative research with cross-sectional design in April-June 2017 in Bumiayu, Brebes, Central Java. Data taken are maternal anemia status in pregnancy, maternal factor, children under two years factor, history of breastfeeding, food intake, history of infectious diseases and social leconomic status. Samples in this study is 190 children under two years 6-23 months. Analysis of this study is univariate, bivariate and multivariate with 95% confident interval. The result of the study are incidence of stunting among children under two years is 23.7%, there is no correlation between maternal anemia in pregnancy with stunting among children under two years, factors related to stunting among children under two years are maternal height, age of children under two years, length of birth, early breastfeeding initiation, complete basic immunization and energy intake. Complete basic immunization is the dominant factor related to stunting among children under two years in Bumiayu, Brebes, Central Java. Researcher suggest to policy maker to be more optimal in maternal and child health promotion. Keywords: stunting, children under two years, maternal anemia in pregnancy
Read More
T-4974
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Farhanah; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Sahruna
Abstrak:
Latar Belakang: Underweight merupakan masalah gizi yang dapat dialami oleh anak berusia di bawah 5 tahun yang jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan wasting dan stunting (WHO, 2019). Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan ketahanan pangan dan faktor lainnya dengan kejadian underweight pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan menggunakan pengumpulan data primer pada Juni 2023 dan teknik simple random sampling dengan total sampel sebanyak 184 anak usia 24-59 bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran antropometri, wawancara kuesioner, Semi Quantitave Food Frequency dan food recall 1x24 jam. Analisis data yang dilakukan berupa analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan uji Regresi Logistik Ganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 17,4% anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok mengalami underweight. Berdasarkan analisis bivariat, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 6 variabel yang berhubungan signifikan dengan underweight pada anak usia 24-59 bulan, yaitu asupan energi (p-value = 0,001), asupan lemak (p-value = 0,000), asupan karbohidrat (p-value = 0,011), riwayat BBLR (p-value = 0,010), ketahanan pangan rumah tangga (p-value = 0,023), dan pengetahuan gizi ibu atau pengasuh (p-value = 0,026). Selain itu, hasil multivariat menunjukkan bahwa riwayat BBLR (OR=5,1; 95%CI=1,564 – 16,866) sebagai faktor dominan kejadian underweight pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok. Kesimpulan: Secara analisis statistik, asupan energi, asupan lemak, asupan karbohidrat, ketahanan pangan rumah tangga dan pengetahuan ibu atau pengasuh berhubungan signifikan dengan kejadian underweight anak usia 24-59 bulan.

Background: Underweight is a nutritional problem that can be experienced by children under 5 years old. If it persists for a long time and not treated promptly, underweight can result in wasting and stunting (WHO, 2019). Objective: This study aims to determine the relationship between food security and other factors with the incidence of underweight in children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict, North Jakarta. Method: This research uses a cross-sectional study design with primary data collection in June 2023. The sampling technique used is simple random sampling with a total sample of 184 children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict. Data collection is conducted through anthropometric measurements, questionnaire interviews, Semi Quantitative Food Frequency and 24-hour food recall. The data analysis includes univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-Square test, and multivariate analysis using the Multiple Logistic Regression test. Results: This research show that 17,4% of children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict experience underweight. Based on bivariate analysis, this study indicates that there are six variables significantly associated with underweight in children aged 24-59 months, namely energy intake (p-value = 0,001), fat intake (p-value = ,.000), carbohydrate intake (p-value = 0,011), history of low birth weight (p-value = 0,010), household food security (p-value = 0,023), and maternal or caregiver nutrition knowledge (p-value = 0,026). Furthermore, the multivariate results show that a history of low birth weight (OR=5,1; 95%CI=1,564 – 16,866) is the dominant factor for underweight in children aged 24-59 months in Tanjung Priok Subdistrict. Conclusion: Based on statistical analysis, energy intake, fat intake, carbohydrate intake, household food security, and maternal or caregiver nutrition knowledge are significantly associated with underweight in children aged 24-59 months.
Read More
S-11429
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesti Atasasih; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Besral; Tiara Lutfie; Asril
Abstrak:

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi dan / atau penyakit infeksi kronis berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut usia (TB/U) < -2 SD. Prevalensi stunting di provinsi Riau  25,1% sedangkan Kota Pekanbaru sebesar 23.9% berdasarkan hasil PSG 2017, hal ini sudah  termasuk dalam kategori masalah kesehatan masyarakat. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian  stunting pada anak  usia 6 - 23 bulan di  Kota Pekanbaru tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik, desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif, pengambilan sampel  menggunakan teknik multi stage random sampling (CI 95 %) dan (1-β 80%), didapatkan sampel sebanyak 269 anak. Data dikumpulkan melalui  wawancara, food recall  2x24 jam. Pengolahan dan analisis data menggunakan uji chi square (bivariat) dan regresi logistik ganda (multivariat). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi  stunting  26,8%. Hasil bivariat menunjukkan ada hubungan  yang signifikan antara berat lahir,  riwayat pemberian ASI Eksklusif, asupan protein dan zink, serta  panjang lahir dengan kejadian stunting (CI 95%). Analisis multivariat menunjukkan berat lahir merupakan faktor dominan  yang berhubungan dengan kejadian stunting dengan  nilai OR 2,712 (95% CI : 1,373 -5,359). Kesimpulan penelitian ini adalah berat lahir merupakan faktor dominan berhubungan dengan kejadian stunting. Kata Kunci : stunting, berat badan lahir, anak usia 6 – 23 bulan


Stunting is a linear growth disorder caused by a deficiency in nutrient intake and / or chronic recurrent infectious diseases as indicated by the z-score score of height by age (TB / U) <-2 SD. The prevalence of stunting in Riau is 25.1% while Pekanbaru is 23.9% based on PSG 2017 results, it is included in the category of public health problem. The purpose of research is to know factors related to stunting in toddlers aged 6 - 23 months in Pekanbaru 2018. This research use analytic observational method, cross sectional research design with quantitative approach, using multi stage random sampling technique (95% CI) and (1-β 80%), obtained a sample of 269 toddlers. Data collected through interviews, food recall 2x24 hours. Processing and data analysis using chi square test (bivariate) and multiple logistic regression (multivariate). The results showed the prevalence of stunting 26.8%. Bivariate results showed significant relationship between birth weight, exclusive breastfeeding, protein and zinc intake, and birth length with stunting (95% CI). Multivariate analysis showed that birth weight was the dominant factor associated with stunting with OR of 2,712 (95% CI: 1,373 -5,359). The conclusion of this study is birth weight is the dominant factor associated with stunting. Keyword: stunting, birth weight, toddlers 6-23 months

Read More
T-5182
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive