Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34660 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Aman Mashuri; Pembimbing: Suprijadi Riyanto; Penguji: Anhari Achadi, Budi Hartono, Djuhari Suryasaputra
Abstrak:

Penelitian ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa Instalasi Gawat Darurat merupakan suatu unit pelayanan di rumah sakit yang harus dapat memberikan pelayanan yang cepat dan tepat agar tujuan dari pelayanan gawat darurat dapat tercapai dan sekaligus memberikan kepuasan kepada pasien atau keluarganya.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran umum waktu tunggu persiapan operasi cito di IGD dan faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu pelayanan terhadap pasien yang akan menjalani operasi cito.

Jenis penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dan informasi mengenai proses pelayanan diperoleh melalui wawancara mendalam, fokus grup diskusi, observasi partisipatif dan telaah dokumen. Sedangkan data mengenai waktu pelayanan diperoleh melalui pencatatan waktu pelayanan mulai dari tahap penetapan operasi sampai saat dilakukan sayatan pertama di meja operasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tunggu persiapan operasi cito di IGD RS Karya Medika I berhubungan dengan lamanya persetujuan operasi dari keluarga atau penanggung jawab biaya, ketidaksiapan SDM kamar operasi termasuk dokter operator dan dokter anestesi, serta keterbatasan peralatan operasi.

Untuk mempersingkat waktu pelayanan terhadap pasien yang akan menjalani operasi cito, RS Karya Medika I perlu menetapkan kebijakan tentang penanganan pasien operasi cito, memperbaiki manajemen SDM kamar operasi dan sistem pengadaan alat kesehatan.


The background of the research was the fact that Emergency Care Unit is a particular service unit in hospital which has to be able to respond quickly and effectively in order to achieve the goals of emergency care service and at the same moment to deliver satisfaction to the patients and their families.

The purpose of this research was to know the general picture about the waiting time of cito operations in the Emergency Departement and the factors associated with the time of service to patients who will undergo cito operations.

This type of research was a case study wih a qualitative approach. Data and information regarding the service process were obtained from indepth interviews, focus group discussion, participant observation and document review, while data regarding the service time was gained from recording and calculating the time taken starting from the moment of surgery decision until the moment of the first incision on the operating table.

The result from the research showed that waiting time for the preparation cito operation in the Emergency Departement at Karya Medika I hospital associated with informed concent from the family or the insurance, human resources, and the equipment of operation.

To minimize the waiting time for preparation cito operation in Emergency Departement, Karya Medika I Hospital need to establish policies regarding the handling of patients cito operations, to improve human resource management and procurement of medical equipment systems.

Read More
B-1393
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tita Maulita Sawitri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Adik Wibowo, Tintin Martini, Mohammad Rifki
Abstrak: Waktu tunggu merupakan salah satu indikator dari pelayanan kesehatan. Peningkatan waktu tunggu di IGD berdampak pada hari perawatan yang lebih lama, meningkatnya mortalitas dan berkurangnya kepuasan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu tunggu pelayanan di Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan metode lean untuk mengetahui pemborosan (waste) di setiap tahap pelayanan. Metode penelitian ini merupakan operational research dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan sumber data primer yang diambil melalui observasi langsung dengan teknik time motion study dan wawancara mendalam. Waktu tunggu di IGD RSU Kabupaten Tangerang adalah 852,92 menit untuk pasien yang dirawat inap dan 564,24 menit untuk pasien yang dirawat jalan. Lamanya waktu pada setiap pelayanan adalah sebagai berikut : waktu pelayanan triase 11, 83 menit, waktu tunggu pemeriksaan dokter IGD 32,25 menit, waktu pemberian obat dan tindakan adalah 22,33 menit, waktu tunggu pemeriksaan laboratorium 106,07 menit, waktu tunggu pemeriksaan radiologi 140,15 menit, waktu tunggu konsultasi dokter spesialis 146,54 menit, waktu tunggu pendaftaran rawat inap 164,8 menit, waktu tunggu masuk rawat inap 58,5 menit, waktu administrasi pasien pulang 89,6 menit. Aktivitas non valued added terbesar adalah pada waktu menunggu konsultasi dokter spesialis. Ditemukan 2 jenis waste yaitu menunggu (93,3%) dan motion (6,7%). Setelah melakukan analisis dengan metode 5 why didapatkan akar masalah adalah pada jumlah tenaga perawat, belum maksimalnya petugas menjalankan tupoksi, aplikasi sistem informasi rumah sakit yang kurang user friendly, tidak standby-nya dokter spesialis serta SPO konsultasi yang belum optimal dijalankan, kurangnya pengalaman klinis dokter IGD, serta ketidaksediaan ruangan rawat. Kesimpulan penelitian ini bahwa waktu tunggu pelayanan pasien di IGD RSU Kabupaten Tangerang melebihi waktu standar (4 jam). Pendekatan dengan lean tepat dilakukan untuk mencari waste dalam aktivitas pelayanan kesehatan agar dapat diperoleh upaya pemecahan masalah untuk memperbaiki waktu tunggu pelayanan di IGD RSU Kabupaten Tangerang.
Waiting time is one indicator of health services. The increase in waiting time in the Emergency Department (ED) has an impact on longer treatment days, increased mortality and reduced patient satisfaction. The purpose of this study was to determine the length of stay for services at the emergency department of the Tangerang General Hospital using lean method to determine waste at each stage of activity. This research method is operational research with qualitative and quantitative approaches, primary data sources taken from direct observation using time motion study techniques and in-depth interviews. The waiting time at the ER at the Tangerang Regency General Hospital is 852.92 minutes for inpatients and 564.24 minutes for outpatients. The length of time for each service is as follows: triage is 11.83 minutes, waiting time for an emergency room doctor examination is 32.25 minutes, drug administration time and action is 22.33 minutes, waiting time for laboratory examination is 106.07 minutes, waiting time for examination radiology 140.15 minutes, waiting time for specialist doctor consultation 146.54 minutes, waiting time for inpatient registration 164.8 minutes, waiting time for inpatient admission 58.5 minutes, patient administration time going home 89.6 minutes. The largest nonvalued added activity is waiting for specialist consultations. Found 2 types of waste, namely waiting (93.3%) and motion (6.7%). After conducting an analysis using the 5 why method, the root of the problem was found in the number of nurses, not yet maximally carrying out tupoksi, hospital information system applications that are less user friendly, specialist doctors are not standby and consultation SOPs are not optimally run, lack of clinical experience of doctors ER, as well as the unavailability of the ward. The conclusion, t the waiting time in the ER at the Tangerang General Hospital exceeds the standard time (4 hours). The lean approach is appropriate to look for waste in health service activities so that problem solving efforts can be obtained to improve service waiting times in the IGD RSU Tangerang Gneral Hospital
Read More
B-2216
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tris Cahyoso; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Purnawan Junadi, Mieke Savitri, Budi Hartono, Lalu Herman Mahaputra
Abstrak: Dalam layanan Radiologi khususnya foto toraks timbul masalah lamanya waktu tunggupasien untuk mendapatkan hasil foto Toraks. Terdapat beberapa keluhan dari pasien yangtimbul akibat lamanya waktu tunggu pelayanan di unit Radiologi, dari loket pendaftaransampai keluar hasil bacaan dari dokter Radiologi dan faktor-faktor lain yangmempengaruhi waktu tunggu pasien untuk mendapatkan hasil foto thoraks. Dari hasilpenelitian diharapkan diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan waktu tunggulayanan Foto Toraks di Instalasi Radiologi di RSUD Kota Mataram. Penelitian dilakukandengan metode Crossectional dengan analisis Univariat dan Bivariat. Waktu dalammenit. Pada analisis Univariat didapatkan waktu tunggu antrian baca foto yang lama,Mean:241.07 SD:96,864 Min-Max:8-488 CI:227.14-255.01 , hal ini terjadi dikarenakandokter Spesialis Radiologi membaca foto toraks setelah mengerjakan USG, MRI, CTScan sehingga pembacaan foto toraks dilakukan di atas jam 12.00 siang. Sedangkan padaanalisis Bivariat didapatkan hubungan yang signifikan antara waktu tunggu total denganwaktu tunggu kamar baca foto, r=0.984 ; Garis regresi 96.8 % ; P value 0.000. danhubungan waktu tunggu total dengan waktu tunggu di loket pengambilan hasil, r=0.540 ;Garis regresi 29.1% ; P value 0.000. Disarankan Manajemen Rumah Sakit Umum DaerahKota Mataram meningkatkan sistem reward and punishment kepada bagian Radiologidan dokter spesialis radiologi sehingga dapat bekerja dengan disiplin dan penuh tanggungjawab. Meningkatkan fasilitas yang baik untuk dokter spesialis sehingga keberadaannyalebih lama di tempat kerja, misalnya insentif yang memadai. Dapat dipertimbangkanuntuk menambah dokter Spesialis Radiologi dan petugas administrasi di ruang baca fotoagar foto yang sudah dibaca dapat segera di bawa ke loket pengambilan foto sehinggalangsung dapat diterima oleh pasien dengan segera.
Kata Kunci : Waktu Tunggu, Crossectional, Univariat, Bivariat, Pasien foto Torak.
Read More
B-1965
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Wayan Surya Sedana; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Kurnia Sari, I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma, Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma
Abstrak:
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah menghadapi tantangan volume kunjungan yang tinggi sebagai pusat rujukan tersier di wilayah Bali dan Nusa Tenggara. Meskipun standar ketepatan waktu pelayanan kurang dari empat jam telah ditetapkan, capaian rata-rata pada tahun 2025 masih berfluktuasi di angka 53,28%. Fenomena memanjangnya Length of Stay (LOS) berisiko menurunkan efisiensi layanan, meningkatkan biaya operasional, serta memperburuk luaran klinis pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi pemanjangan waktu pelayanan IGD (LOS ≥ 4 jam) menggunakan pendekatan sistem aliran pasien Input-Throughput-Output. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan terhadap data sekunder rekam medis elektronik periode Januari hingga Desember 2025. Teknik stratified random sampling digunakan untuk menarik sampel minimal yang proporsional. Analisis data menggunakan uji bivariat Chi-Square sebagai seleksi awal prediktor, dilanjutkan dengan uji multivariat regresi logistik berganda untuk menghitung nilai Odds Ratio (OR). Analisis multivariat mengkonfirmasi bahwa faktor yang memiliki hubungan independen paling dominan terhadap pemanjangan LOS IGD berturut-turut adalah jumlah pemeriksaan diagnostik kombinasi laboratorium dan radiologi (OR = 46.887; p < 0.001), pemeriksaan laboratorium saja (OR = 20.220; p < 0.001), pemeriksaan radiologi saja (OR = 6.873; p = 0.0096), keputusan disposisi rawat inap (OR = 4.728; p < 0.001), adanya konsultasi dokter spesialis (OR = 2.627; p < 0.001) dan cara bayar JKN PBI (OR = 2.149; p = 0.0175). Sebagai kesimpulan, terdapat kecenderungan hambatan utama yang menyebabkan pemanjangan LOS IGD terjadi pada fase throughput dan output dengan proses diagnostik dan konsultasi dokter spesialis serta keputusan rawat inap yang diperparah dengan tingginya kebutuhan ruang perawatan untuk cara bayar JKN PBI.

The Emergency Department (ED) of Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah General Hospital encounters a high volume of patient visits as a tertiary referral center in the Bali and Nusa Tenggara regions. Despite the established service timeliness standard of less than four hours, the average compliance rate in 2025 fluctuated at 53.28%. Prolonged Length of Stay (LOS) poses a risk of reducing service efficiency, increasing operational costs, and worsening patient clinical outcomes. This study aims to analyze various factors influencing prolonged ED service time (LOS ≥ 4 hours) utilizing the Input-Throughput-Output patient flow model framework. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using secondary electronic medical record data from January to December 2025. A stratified random sampling technique was applied to obtain a proportional minimum sample size. Data analysis was performed using the bivariate Chi-Square test for initial predictor screening, followed by a multivariate multiple logistic regression model to determine the Odds Ratio (OR) values. The multivariate analysis confirmed that the independent factors significantly contributing to prolonged ED LOS were the combination of laboratory and radiology diagnostic tests (OR = 46.887; p < 0.001), laboratory tests alone (OR = 20.220; p < 0.001), radiology tests alone (OR = 6.873; p = 0.0096), inpatient disposition decisions (OR = 4.728; p < 0.001), the need for specialist physician consultations (OR = 2.627; p < 0.001), and the JKN PBI payment method (OR = 2.149; p = 0.0175). In conclusion, the primary bottlenecks causing prolonged ED LOS predominantly occur during the throughput and output phases, driven by diagnostic processes, specialist consultations, and inpatient admission decisions, which are further compounded by the high demand for JKN PBI inpatients.
Read More
B-2613
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sunu Bintan Gifari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Emmy Ridhawaty Mangunsong, Hendro
Abstrak:
Latar Belakang: Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan unit pelayanan rumah sakit dengan karakteristik pelayanan yang kompleks, tingkat ketidakpastian yang tinggi, serta variasi penggunaan sumber daya yang besar. Kondisi tersebut menyebabkan variasi tagihan pelayanan antar pasien, bahkan pada kelompok pembiayaan yang sama. Pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi besaran tagihan pelayanan menjadi penting untuk mendukung efisiensi pengelolaan biaya dan keberlanjutan finansial rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan pelayanan Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Batam. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder pasien IGD periode tahun 2025. Sampel penelitian berjumlah 8.483 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, diagnosis berdasarkan kelompok ICD-10, tingkat triase Australasian Triage Scale (ATS), status keluar pasien, dan cara bayar. Variabel dependen adalah total tagihan pelayanan IGD. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Mann-Whitney U dan Kruskal-Wallis, serta multivariat menggunakan Generalized Linear Model (GLM) distribusi Gamma dengan fungsi log. Hasil: Mayoritas pasien merupakan kelompok usia dewasa (65,2%), berjenis kelamin perempuan (50,8%), memiliki tingkat triase ATS 4 (57,6%), dan menggunakan pembayaran umum (56,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, diagnosis, triase, dan cara bayar berhubungan signifikan dengan total tagihan pelayanan IGD (p<0,05), sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, diagnosis, triase, dan cara bayar berpengaruh signifikan terhadap total tagihan pelayanan IGD (p<0,05). Cara bayar merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi besaran tagihan, dengan pasien asuransi memiliki tagihan yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pasien BPJS sebagai kelompok referensi. Analisis variabel komposit menunjukkan bahwa kombinasi diagnosis dan triase memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variasi total tagihan pelayanan IGD. Kesimpulan: Total tagihan pelayanan IGD dipengaruhi oleh karakteristik pasien, kondisi klinis, dan mekanisme pembiayaan. Cara bayar merupakan faktor paling dominan dalam pembentukan tagihan pelayanan IGD. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem pembiayaan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk variasi biaya pelayanan, sehingga perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan biaya rumah sakit dan pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan.

Background: Emergency Departments (EDs) are among the most complex hospital service units, characterized by high clinical uncertainty and substantial variations in resource utilization. These characteristics contribute to considerable variability in service charges among patients, even within the same financing scheme. Understanding the factors of ED service charges is essential for improving cost efficiency and ensuring hospital financial sustainability. Objective: This study aimed to analyze the factors Associated of Emergency Department service charges at Santa Elisabeth Hospital Batam. Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design using secondary data from ED patients treated during 2025. A total of 8,483 patients meeting the inclusion criteria were analyzed. Independent variables included age, sex, diagnosis category based on ICD-10 chapters, Australasian Triage Scale (ATS) level, discharge status, and payment method. The dependent variable was total ED service charges. Data were analyzed using univariate statistics, Mann–Whitney U and Kruskal–Wallis tests for bivariate analysis, and Generalized Linear Modeling (GLM) with Gamma distribution and log-link function for multivariate analysis. Results: Most patients were adults (65.2%), female (50.8%), classified as ATS 4 (57.6%), and self-paying patients (56.0%). Bivariate analysis demonstrated significant associations between age, diagnosis, triage category, payment method, and total ED charges (p<0.05), while sex was not significantly associated. Multivariate analysis revealed that age, sex, diagnosis, triage category, and payment method significantly influenced total ED service charges (p<0.05). Payment method was identified as the most dominant factors, with insured patients incurring significantly higher charges than BPJS-insured patients as the reference group. Composite variable analysis further demonstrated that the interaction between diagnosis and triage level significantly contributed to variations in total ED service charges. Conclusion: Total ED service charges are influenced by patient characteristics, clinical conditions, and financing mechanisms. Payment method emerged as the strongest factors of service charges. These findings highlight the critical role of healthcare financing systems in shaping cost variations and provide important implications for hospital cost management and healthcare financing policy development. Keywords: Emergency Department, Service Charges, Cost of Treatment, Generalized Linear Model, Triage, ICD-10 Diagnosis, Payment Method, Hospital Administration.
Read More
B-2633
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evita Mutia Anggriani; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Amila Megraini, Nur' Aini
Abstrak:

Rumah sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto merupakan rumah sakit rujukan tertinggi bagi Rumah Sakit TNI diseluruh penjuru nusantara, Salah satu pelayanan di Rumah Sakit Gatot Soebroto adalah Instalasi Gawat Darurat yang merupakan pintu  gerbang terdepan pelayanan di Gatot Soebroto. Salah satu standart dan prosedur adalah pelaksanaan Triase di Instalasi Gawat Darurat yaitu menyeleksi dan menilai kegawat daruratan dari setiap pasien untuk segera dapat diberikan pertolongan sesuai dengan tingkat kegawatan dan kedaruratan kemudian dicatat hasil pemeriksaan pada lembaran gawat darurat. Dari pengamatan awal membeikan hasil yang tidak sesuai dengan standar dan prosedur Triase yaitu  tidak adanya keberadaan  petugas Triase yaitu dokter dan perawat di ruangan Triase, ketidaktepatan  kehadiran  jam pelayanan petugas Triase, ketidak lengkapan pengisian daftar registrasi pasien baru datang ke Instalasi gawat darurat. Dalam  penelitian ini dilakukan pengamatan mengenai faktor individu, psikologis dan organisasi terhadap kepatuhan petugas Triase terhadap standar  dan prosedur Triase di IGD. Setelah dilakukan uji regresi linier sederhana dan  uji t independent maka dapat disimpulkan bahwa umur perawat, pengetahuan dokter dan perawat, pelatihan dokter dan perawat, komitmen pimpinan dokter dan kecukupan sarana dari segi perawat ada hubungan /perbedaan dengan kepatuhan petugas dalam melaksanakan standar dan prosedur Triase. Untuk menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan yang ada di Triase perlu diupayakan petugas Triase selalu berada di area Triase karena Triase merupakan pintu utama untuk penanganan pasien di IGD.Studi ini juga menganjurkan agar komitmen pimpinan terhadap petugas Triase lebih ditingkatkan sehinggan dapat meningkatkan motivasi petugad Traise untuk patuh terhadap standard an prosedur Triase dengan harapan pelayanan yang diberian sesuai dengan standar yang ada dan dapat dipertanggung jawabkan.


 Central Army Hospital Gatot Subroto is the highest referral hospital, one service at Gatot Subroto Hospital Emergency Room is the gateway leading service in the Gatot Subroto. One is the implementation of standards and procedures in the unit Emergency Department Triage of selecting and assessing kegawat daruratan from each patient for immediate relief may be granted in accordance with the level of severity and emergency then recorded the results of the examination in the emergency sheet. From initial observations results inconsistent with the standards and procedures is not the existence of Triage Triage officers are doctors and nurses in the room Triage, inaccuracies Triage officer attendance at services, lack of charging lengkapan registration list of new patients coming to the emergency installation. In this study observations on individual factors, psychological and organizations for compliance officers to standards and procedures Triage Triage in the emergency room. After a simple linear regression test and independent t tests it can be concluded that the age of nurses, doctors and nurses the knowledge, training doctors and nurses, physician leadership commitment and the adequacy of existing nursing facilities in terms of the relationship / differences with the compliance officer in implementing standards and procedures Triage. To maintain and improve the quality of existing services need to be pursued in the Triage  officer is always in the area because of  Triage is the main entrance to the handling of patients in this IGD.Studi also recommends that the leadership's commitment to enhanced sehinggan Triage officers may increase the motivation  to officerTraige standards and procedures to Triage the hope diberian services in accordance with existing standards, and reliable.

Read More
B-1387
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resi Nurseptiani; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Masyitoh, Eliza Rachmi, Ani Barkah
Abstrak: Waktu tunggu menjadi indikator penilaian mutu pelayanan di IGD. Waktu tunggu pasien di IGD mempengaruhi tingkat keparahan pasien dan kenyamanan pasien dalam mendapatkan pelayanan. Triase menjadi bagian proses penting dalam melakukan pemilahan pasien dan pemberian intervensi medis sesuai dengan kondisi kegawatannya sehingga dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi waktu tunggu pasien di IGD RSUD Kramat Jati serta melihat hubungan triase terhadap waktu tunggu. Penelitian dilakukan di IGD RSUD Kramat Jati pada tanggal 15-30 Mei 2017 secara kuantitatif (n=230), dan secara kualitatif dengan wawancara mendalam (4 Informan) sebagai pendalaman informasi mengenai SPO Triase, Formulir Triase, dan Kebijakan Penetapan Waktu Tunggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara warna triase dengan waktu tunggu dengan p-value sebesar 0,014. Diharapkan dalam penelitian ini dilakukan perbaikan terhadap SPO Triase, sosialisasi triase kepada petugas IGD, penyesuaian ruangan IGD sesuai standar Departemen Kesehatan. Kata Kunci : Waktu tunggu, IGD, Triase, SPO Triase, Ruangan IGD ANALYSIS TRIAGE OF WAITING TIME IN EMERGENCY ROOM AT KRAMAT JATI HOSPITAL Waiting time is part of the indicator of quality of service in Emergency Room. Waiting time patients in ER affect the severity of patients and comfort patients in treatment. Triage is part of important process for sorting patients and medical intervention based on their severity and illness so that it can reduce mortality and morbidity rate in ER. This study attempts to analyze factors which can affect waiting time in ER at Kramat Jati Hospital and relation between triage and waiting time. Research was conducted on 15-30 May 2017 using quantitativ methode (n=230) and qualitative method through in depth interview (4 informants) about SPO Triage, Form Triage, and policy about waiting time. The result showed that are correlation between colors triage and waiting time with p-value 0,014. Expectation from this research are improvement for SPO Triage, share information about triage for nurse and doctor at ER, and adjusment room of ER according to standar the ministry of health. Keyowrds : waiting time, emergency room, triage, SPO triage, standard room of ER
Read More
B-1912
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Josiah Irma; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujiyanto, Dewi Basmala, Takdir Mostavan
Abstrak:

Tesis ini membahas tentang waktu tunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha dan mencari faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi standar minimal pelayanan waktu tunggu di instalasi farmasi yang telah ditetapkan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif  dengan desain deskriptif. Hasil penelitian bahwa waktu tunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha tidak sesuai dengan standar minimal pelayanan yang ditetapkan pihak Farmasi Rumah Sakit Bhakti Yudha. Faktor yang berpengaruh diantaranya metode pembayaran khususnya pasien jaminan karena ketidakjelasan kesepakatan obat-obatan yang di cover khususnya vitamin, jenis resep racikan yang pengerjaanya membutuhkan proses yang lebih lama, stock obat yang sering kosong, SDM terbatas, sarana & prasarana yang tidak mendukung, ketidak sesuaian formularium dan ketidakjelasan penulisan resep, evaluasi terhadap waktu tunggu yang tidak secara rutin, dan pengawasan SOP yang rendah. Kata kunci : Waktu tunggu, farmasi, pelayanan.


 

The purpose of this study was to investigate about the waiting time of services at the Hospital Pharmacy Bhakti Yudha and seek any factor that affects the minimum standards of service in the pharmacy waiting time has been determined. The study was a descriptive qualitative research design. The study shows that the waiting time of service at the Hospital Pharmacy Bhakti Yudha not complies with minimum standards of service established by the hospital pharmacy Bhakti Yudha. Factors that affect them in particular payment method guarantees patients because of uncertainty deals drugs on the cover, especially vitamins, prescription type concoction whose implementation requires a longer process, stock drugs that are often empty, limited human resources, existing facilities do not support, incompatibilities prescribing formulary and uncertainties, evaluation of waiting time that is not routine, and SOPs low supervision. Key words : Waiting time, pharmacy, services.

Read More
B-1326
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Yusri; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Dumilah Ayuningtyas, Yanuar Hamid, Welly Refnealdi
Abstrak: Berdasarkan data Bagian Radiologi RSUP dr Mohammad Hoesin Palembangtahun 2014, terbanyak foto toraks rawat jalan.Waktu tunggu pelayanan foto toraks tidak sesuai dengan Standar PelayananMinimal Rumah Sakit kurang dari 3 jam.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan denganwaktu tunggu pemeriksaan foto toraks. Penelitian ini dilakukan denganpengukuran waktu tunggu dan waktu pelayanan kepada 68 responden, pada loketpendaftaran, kamar foto, kamar pemrosesan film, kamar baca dan loketpengambilan foto. Data diolah dengan menggunakan SPSS 16. Lama waktutunggu adalah 184,44 menit. Uji statistik didapatkan waktu tunggu kamar bacafoto paling mempengaruhi waktu tunggu foto toraks.Kata kunci :Waktu tunggu, waktu pelayanan, Foto Toraks, Instalasi Radiologi
Department of Radiology Dr. Mohammad Hoesin hospital in Palembang 2014,many patients perform chest x ray examination, whom were patients radiographicoutpatient. The waiting time radiographic services in RSMH not in accordancewith the Standard Minimum Service Hospital less than 3 hours.This study aims to determine the factors associated with waiting time chest X-ray.This research was conducted by measuring the waiting time to 68 selectedrespondentsThe result showed radiographic waiting time 184.44 minutes. Based on statisticaltest found the waiting time in the reading room is the photo that most affect thelength of waiting time radiographic.Keywords :Waiting time, service time, chest x-ray, Radiology
Read More
B-1702
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Devi Melina; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Anhari Achadi, M. Taufik
S-6587
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive