Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7998 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tahan P. Hutapea
JRI Vol.29, No.2
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mega Puspa Sari; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Martya Rahmaniati Makful, Ns. Siti Anisah, Sulistiyo
Abstrak: Abstrak
Human Immunodeficiency Virus HIV merupakan tantangan terbesar dalam pengendalian tuberkulosis. Di Indonesia diperkirakan sekitar 3 pasien TB dengan status HIV positif. Sebaliknya TB merupakan tantangan bagi pengendalian Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome AIDS karena merupakan infeksi oportunistik terbanyak terdapat 49 pada ODHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan minum obat antiretroviral terhadap ketahanan hidup pasien TB-HIV di RSUD Koja Tahun 2013 ndash; 2017. Desain studi yang digunakan adalah desain kohort retrospekstif. Jumlah sampel pada studi ini adalah 111 pasien TB-HIV yang diambil secara keseluruhan. Dari studi ini, diketahui pada kelompok yang patuh minum obat antiretroviral ARV mengalami event /meninggal 31 , sebanyak 79,7 pasien masih hidup dan pasien yang lost follow up sebanyak 34,8.
 
 
Hasil analisis multivariabel dengan regresi cox time dependent menunjukkan bahwa hazard ratio HR kematian menurut kepatuhan minum ARV berbeda-beda sesuai waktu. Dalam 1 tahun pengamatan, pasien yang tidak patuh minum ARV memiliki hazard 2,85 kali lebih cepat mengalami kematian daripada yang patuh minum ARV. Kemudian pasien yang tidak patuh minum ARV selama 4 tahun pengamatan 2013-2017 memiliki hazard terjadinya kematian sebesar 11,49 kali. Terdapat interaksi kepatuhan minum ARV dengan infeksi oportunistik. Pada pasien yang tidak patuh minum ARV dengan infeksi oportunistik lebih dari 2, efeknya lebih rendah 0,4 kali dibandingkan dengan pasien yang patuh minum ARV memiliki infeksi oportunistik kurang dari 2. Dianjurkan kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan CD4 secara rutin 6 bulan sekali dan tidak lupa meminum obat secara teratur guna mencapai ketahanan hidup dan kualitas hidup yang lebih baik.
 

 
Human Immunodeficiency Virus HIV is the biggest challenge in tuberculosis control. In Indonesia, approximately 3 of TB patients with HIV status are positive. Conversely, TB is a challenge for the control of Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome AIDS because it is the most opportunistic infection there is 49 in people living with HIV. This study aims to determine the effect of antiretroviral drug adherence to the survival of HIV TB patients in Koja Hospital Year 2013 2015. The study design used is retrospective cohort design. The number of samples in this study were 111 whole TB HIV patients taken as a whole. From this study, it was found that in the ARV group experienced event dying 31 , 79.7 of patients were still alive and the patients lost follow up 34.8.
 
 
The result of multivariable analysis with cox time dependent regression showed that hazard ratio HR mortality according to ARV adherence was different according to time. Within 1 year of observation, patients who did not adhere to taking antiretroviral drugs had a hazard of 2.85 times faster mortality than those who were obedient to taking ARVs. Then patients who did not adhere to taking antiretrovirals for 4 years of observation 2013 2017 had a death hazard of 11.49 times. There is an interaction of antiretroviral adherence with opportunistic infections. In patients who did not adhere to taking antiretroviral drugs with more than 2 opportunistic infections, the effect was 0.4 times lower than those who were adherent on taking ARVs had less than 2 opportunistic infections. It is advisable to patients to have routine CD4 checks every 6 months and not forget taking medication regularly to achieve better survival and quality of life.
Read More
T-5386
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
The Indonesian Jour. of Infectious Diseases, Vol.3, No.2, 2016, hal. 46-52
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mufti As Siddiq M. Irzal; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Sulistyo, Sierli Natar
Abstrak:
Kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat merupakan dua dimensi kepatuhan yang krusial dalam menentukan keberhasilan pengobatan tuberkulosis, namun bukti epidemiologis mengenai pengaruhnya terhadap waktu pencapaian kesembuhan bakteriologis di fasilitas kesehatan primer masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat terhadap kesembuhan pasien TB paru sensitif obat di klinik pratama Kota Makassar tahun 2024. Studi kohort retrospektif berbasis data SITB Dinas Kesehatan Kota Makassar dengan 448 sampel. Analisis time-to-event menggunakan Kaplan-Meier dan uji Log-Rank. Analisis multivariat menggunakan Cox proportional hazards regression dengan koreksi bias Firth dan analisis sensitivitas menggunakan composite outcome. Angka keberhasilan pengobatan mencapai 90,4% dengan proporsi sembuh bakteriologis 17,9%. Hampir seluruh pasien tidak patuh minum obat (98%) dan tidak patuh mengambil obat (95,5%) tidak mencapai kesembuhan. Uji Log-Rank menunjukkan perbedaan waktu kesembuhan yang signifikan antara kelompok patuh dan tidak patuh (p=0,031 dan p=0,025). Pada analisis multivariat, kepatuhan minum obat (aHR=5,66; 95% CI: 0,76–40,80; p=0,085) dan kepatuhan pengambilan obat (aHR=2,58; 95% CI: 0,81–8,23; p=0,109) keduanya menunjukkan kecenderungan pengaruh bermakna terhadap kesembuhan setelah dikontrol confounder, dikonfirmasi oleh koreksi Firth's dan diperkuat dengan hasil signifikan dengan arah asosiasi yang konsisten oleh analisis sensitivitas. Kepatuhan minum obat dan kepatuhan pengambilan obat menunjukkan kecenderungan pengaruh yang bermakna secara klinis terhadap kesembuhan TB paru sensitif obat di klinik pratama Kota Makassar. Penguatan sistem pemantauan kepatuhan yang aktif dan responsif di fasilitas kesehatan primer sangat diperlukan untuk meningkatkan angka kesembuhan TB.

Medication adherence and drug-refill adherence are two critical dimensions of adherence that determine treatment success in drug-susceptible pulmonary tuberculosis. However, epidemiological evidence on its effect on time-to-bacteriological cure in primary care settings remains limited. This study analyzed the effect of medication adherence and drug-refill adherence on cure among drug-susceptible pulmonary TB patients at primary care clinics in Makassar City in 2024. A retrospective cohort study was conducted using secondary data from the National TB Information System (SITB) of Makassar City Health Office, involving 448 participants. Time-to-event analysis employed Kaplan-Meier estimation and Log-Rank test. Multivariate analysis used Cox proportional hazards regression with Firth's bias correction and sensitivity analysis using a composite outcome. Treatment success rate was 90.4%, with bacteriological cure achieved by 17.9% of patients. Nearly all medication non-adherent patients (98%) and drug refill non-adherent patients (95.5%) failed to achieve cure. Log-Rank tests demonstrated significant differences in time-to-cure between adherent and non-adherent groups (p=0.031 and p=0.025). Multivariable analysis revealed significant effects of medication adherence (aHR=5,66; 95% CI: 0,76–40,80; p=0,085) and drug refill adherence (aHR=2,58; 95% CI: 0,81–8,23; p=0,109) on cure after controlling for confounders, confirmed by Firth's correction and reinforced by significant results with a consistent direction of association in the sensitivity analysis. Medication adherence and drug-refill adherence demonstrate a clinically meaningful tendency toward influencing bacteriological cure among drug-susceptible pulmonary tuberculosis patients at Primary Clinics in Makassar City. Strengthening active and responsive adherence monitoring at primary healthcare facilities is essential to improving TB cure rates.
Read More
T-7494
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salam; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Suhardini, Hanung Wikantono
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Tuberkulosis masih menjadi 10 besar penyebab kematian di seluruh dunia. Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus TB paru terbesar ketiga setelah India dan China. Prevalensi TB paru di Indonesia pada Tahun 2018 sebesar 193/100.000 penduduk dengan jumlah kasus mencapai 845.000 dan 24.000 diantaranya merupakan kasus kebal obat. Salah satu penyebab TB resisten obat adalah tidak teratur minum obat. Kepatuhan minum obat sangat mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru. Salah satu penyebab terjadinya kasus putus obat adalah pengawas menelan obat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukan bahwa 30,8% penderita TB paru tidak rutin/patuh minum obat sementara penderita TB paru yang tidak memiliki PMO mencapai 33,8%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan PMO dengan kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita TB paru sensitif obat di Indonesia Tahun 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kasus kontrol, populasi sumber merupakan penderita TB paru hasil riskesdas 2018, populasi studi berjumlah 933 orang diambil dari populasi eligible yang memenuhi kriteria inklusi: berumur >15 tahun, didiagnosis TB <6 bulan dan mengetahui fasyankes, kriteria eksklusi:data tidak lengkap. Hasil: Analisis bivariat menunjukan hubungan yang bermakana antara PMO dengan ketidakpatuhan minum obat POR=1,79 (95% CI:1,31-2,35) p=0,000, analisis multivariat menunjukan POR=1,43 (95% CI:1,03-1,99) p=0,0183. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara keberadaan PMO dengan kepatuhan minum obat pada penderit TB paru
Read More
T-5940
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasya Amalia Pinanti; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Mohammad Syah Riza
Abstrak: Kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia merupakan hal penting untuk mengontrol perjalanan penyakit. Kepatuhan minum obat yang buruk berdampak pada kejadian kekambuhan skizofrenia. Adanya perceived benefit minum obat dan dukungan keluarga yang mendukung merupakan sebagian faktor yang terlibat dalam kepatuhan minum obat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan antara Perceived benefit Minum Obat dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Skizofrenia Rawat Jalan di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta pada bulan Juni 2019. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain crosssectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dari 78 pasien rawat jalan. Pengukuran tingkat kepatuhan minum obat menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS), perceived benefit menggunakan pengembangan konstruk dari The Health Belief Model dan Drug Attitude Inventory, Dukungan Keluarga dari pengembangan substansi dukungan keluarga oleh House (2000). Hasil menunjukkan 35.9% responden memiliki tingkat kepatuhan sedang minum obat. Terdapat hubungan antara karakteristik pendidikan (p= 0.035), perceived benefit minum obat (p =0.008 dan 0.031), dan dukungan keluarga (p= 0.073 dan 0.004) dengan kepatuhan minum obat.
Read More
S-10160
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Lies Oktorita; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Milla Herdyati, Fiena Fithriah, Ratna Diliana Sagala
Abstrak: ABSTRAK Nama : Ade Lies Oktorita Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Pengaruh Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Hasil Akhir Pengobatan Pasien Tuberkuosis di Jakarta Timur Tahun 2017 Pembimbing : Dr. Artha Prabawa, SKM, M.Si Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit non-communicable disease yang paling banyak menyebabkan kematian dan kecatatan di negara berkembang. Indikator yang digunakan untuk menilai tingkat keberhasilan program pengendalian TB salah satunya adalah keberhasilan pengobatan. Pasien tidak patuh bahkan hingga mengalami default dalam menjalani pengobatan TB dikarenakan timbulnya efek samping OAT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pegaruh efek samping OAT terhadap hasil akhir pengobatan pasien TB di Jakarta Timur. Penelitian menggunakan rancangan crosssectional yang dilakukan di 10 puskesmas kecamatan wilayah kerja Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur pada bulan Juli-Oktober 2018. Sampel ditentukan menggunakan purposive sampling dan diperoleh sampel sejumlah 273 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengalami kejadian efek samping OAT mempunyai peluang untuk tidak berhasil pada pengobatan TB sebesar 1,9 kali (95% CI: 0,9-4,1) dibandingkan pasien yang tidak mengalami efek samping OAT setelah dikontrol oleh variabel keberadaan PMO. Kata kunci: Tuberkulosis, OAT ABSTRACT Name : Ade Lies Oktorita Study Program : Public Health Title : Relation of Side Effect of Anti Tuberculosis on the Treatment Result of Tuberculosis Patients in East Jakarta 2017 Counsellor : Dr. Artha Prabawa, S.KM, M.Si Pulmonary tuberculosis is a non-communicable disease that causes mortality and disabilities in developing countries. The indicator used to assess the success rate of the TB program is the success of treatment. Patient who is not compliant and even experiences default in undergoing TB treatment due to the occurrence of side effects of anti tuberculosis. This study aims to determine the relation of side effect of anti tuberculosis on the treatment result of TB patients in East Jakarta. The study used a crosssectional design carried out in 10 sub-district health centers in the East Jakarta in July- October 2018. Samples were determined using purposive sampling and obtained a sample of 273 people. The results showed that patients who experienced side effect of anti tuberculosis had a chance of not succeeding in TB treatment by 1.9 times (95% CI: 0.9- viii 4.1) compared to patients who did not experience side effect of anti tuberculosis after being controlled by presence of PMO. Key words: Tuberculosis, Anti Tuberculosis
Read More
T-5779
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hingis Saputri Arinda; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Endang Lukitosari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gangguan mental emosional terhadap ketidakpatuhan minum OAT pada penderita tuberkulosis paru usia 15 tahun di Indonesia. Dalam penelitian ini digunakan data Riskesdas 2018 dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 1.340 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penderita tuberkulosis paru usia 15 tahun sebesar 24,1%.
Read More
S-10598
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Samsurian; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono, Yovsyah; Penguji: Helda, Nuri Indrastuti
Abstrak:

Pendahuluan. Indonesia masih menempati urutan ketiga sebagai negara yang memiliki jumlah kasus TB Paru terbesar setelah India dan China sampai akhir peride tahun 2007. Default merupakan salah satu penyebab terjadinya kegagalan pengobatan yang berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi terhadap obat anti TBC. Efek samping obat anti tuberkulosis (OAT) diketahui merupakan salah satu fakor risiko terjadinya default.  Meskipun pada beberapa penelitian efek samping OAT telah terbukti meningkatkan risiko terjadinya default, namun masih perlu dilakukan penelitian lain pada populasi yang berbeda, yaitu populasi perkotaan (rural) disalah satu rumah sakit swasta (RS Islam Pondok Kopi) di Jakarta Timur. Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya seberapa besar pengaruh efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) terhadap kejadian default setelah dilakukan pengontrolan terhadap faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, riwayat pengobatan sebelumnya, penyakit penyerta, jenis obat, cara ambil obat, keberadaan PMO, jenis PMO, pendidikan PMO, pembiayaan kesehatan, jarak ke pelayanan kesehatan, penyuluhan kesehatan dan jumlah penyuluhan di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta Timur periode Januari 2008 – Mei 2010. Metode Penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan penggunaan data rekam medik. Populasi sumber penelitian ini adalah semua penderita TB Paru dewasa (umur > 15th) yang telah selesai menjalani pengobatan TB Paru dari tanggal 01 Januari 2008 sampai 31 Mei 2010 di poliklinik paru RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Sampel penelitian adalah sejumlah penderita TB Paru dewasa (umur > 15th) yang telah selesai menjalani pengobatan TB Paru kategori-1 atau kategori-2 dari tanggal 01 Januari 2008 sampai 31 Mei 2010 di poliklinik paru RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Kasus didefinisikan sebagai penderita TB Paru yang tidak datang berobat dua bulan atau lebih, sedangkan kontrol adalah penderita TB Paru yang rutin berobat. Jumlah sampel adalah 168 orang, terdiri dari 84 kasus dan 84 kontrol. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik. Hasil Penelitian. Pada akhir analisis multivariat diketahui bahwa pasien yang mempunyai keluhan efek samping OAT berisiko sebesar 4,07 kali untuk default dibandingkan pasien yang tidak mempunyai keluhan OAT (OR =4,07, 95% CI: 1,64 – 10,07). Diketahui juga terdapat beberapa faktor risiko lain yang berpengaruh sebagai konfounder terhadap hubungan antara efek samping OAT dengan terjadinya default  tersebut yaitu penyakit penyerta, jenis obat dan cara bayar. Kesimpulan. Efek samping OAT berpengaruh terhadap kerjadian default di RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur selama periode Januari 2008 – Mei 2010. Kata kunci: efek samping OAT, default.


Introduction. In 2007 Indonesia has the largest number of pulmonary tuberculosis cases in the wolrd after India and China. Default was noted as one of the risk factors that related to treatment failure. The side effect of anti tuberculosis has defined as a reason of occurance of default. Some previous studies with the same topic found that the side effect of anti tuberculosis increase the risk of default, somehow  research with difference population is still required, such as this study implemented in an urban population by using hospital based at a private hospital located in Jakarta Timur named Pondok Kopi Islamic Hospital. Objective. To investigate the risk of default caused by the side effect of anti tuberculosis after controlling for sex, age, education, occupation, marital status, history of previous treatment, compilcations, kind of medicines, the way to get medicines, availbility of supervisor treatment, type of supervisor treatment, education of supervisor treatment, health financing, distance to the health center,health education recived, frequency of health education recieved at Pondok Kopi Islamic Hospital period January 2008 – May 2010. Methodology. This research is an observational study with design case control using data from medical record at Pondok Kopi Islamic Hospital. The population was defined as all adult pulmonary tuberculosis patient age > 15 years old who has completed the treatment during period 01 January 2008 until  31 May 2010 at Pondok Kopi Islamic Hospital. Sample were a number of adult pulmonary tuberculosis patient age > 15 years old who has completed the treatment category 1 or category 2 during period 01 January 2008 until  31 May 2010 at Pondok Kopi Islamic Hospital. Cases (default) were defined as the pulmonary tuberculosis patients who didn’t take their anti tuberculosis for 2 month or more at DOTS center Pondok Kopi Islamic Hospital period 01 January 2008 until 31 May 2010 while controls (non default) were defined as the pulmonary tuberculosis patients who take their anti tuberculosis regularly at DOTS center Pondok Kopi Islamic Hospital period 01 January 2008 until 31 May 2010. The total sample was 168 patients consist of 84 cases and 84 controls. Data was analyzed by using logistic regression method. Result. on Multivariate analysis was showed that the patient who has side effect of anti tuberculosis risk default 4,07 higher than patient who has not side effect of anti tuberculosis (OR=4,07, 95% CI: 1,64-10,07) after controlling for diseases complication, kind of medicines, the payment method. Conclusion. The side effect of anti tuberculosis was associated with increasing the risk of default pulmonary tuberculosis treatment at Pondok Kopi Islamic Hospital period January 2008-May 2010. Key words: side effect anti tuberculosis, default.

Read More
T-3277
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Adhanty; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Trisari Anggondowati, Bambang Setiaji, Rina Fitri Anni Bahar
Abstrak:
Indonesia merupakan negara yang menempati urutan kedua dengan kasus TB tertinggi di dunia. Kasus TB di Indonesia paling banyak ditemukan di tiga Provinsi, salah satunya Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Perhimpunan Organisasi Pasien TB (POP TB) estimasi beban TB tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat dengan cakupan pengobatan hanya 50%. Ketidakpatuhan pada pengobatan dapat menyebabkan resistensi obat, kekambuhan penyakit dan kematian. Oleh karena itu dibutuhkan seseorang yang dapat mengawasi pengobatan yang harus dijalani oleh penderita TB. Memastikan kehadiran PMO merupakan salah satu langkah yang solutif untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara ketersediaan PMO dengan kepatuhan minum obat penderita Tuberkulosis Paru di Provinsi Jawa Barat. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis dilakukan terhadap 124 penderita TB di Provinsi Jawa Barat yang telah memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi ketidakpatuhan penderita TB paru di Provinsi Jawa Barat mencapai 28,23% dan tidak tersedianya PMO mencapai 37,10%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa penderita TB yang tidak memiliki PMO 1,35 kali berisiko untuk tidak patuh minum obat dibandingkan dengan yang memiliki PMO setelah dikontrol oleh variabel kovariat (PR 1,35; 95% CI: 0.68 – 2.70). Namun hubungan antara keduanya tidak signifikan secara statistik (p value > 0,05). Memastikan PMO melaksanakan tugasnya dengan baik dengan memberikan fasilitas transportasi yang memadai, memberikan edukasi secara lengkap baik pada PMO maupun penderita TB, pengembangan teknologi dalam melakukan pengawasan, serta menambah jumlah fasilitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan penderita TB.

Indonesia is one of the countries that ranks second as the country with the highest TB cases in the world. Most TB cases in Indonesia are found in three Provinces, one of which is West Java Province. Based on the Association of TB Patient Organizations (POP TB) it is estimated that the highest TB burden in Indonesia is in West Java Province with only 50% treatment coverage. Non-adherence with treatment can lead to drug resistance, disease recurrence and death. Therefore it takes someone who can supervise the treatment that must be undertaken by TB patient. Ensuring the presence of drug supervisors is one of the solution to increase the success of TB treatment. This study aims to see the relationship between the availability of drug supervisors with Pulmonary Tuberculosis Patients Medication Adherence in West Java Province. The study design used in this study is cross-sectional with a quantitative approach and used Riskesdas 2018 secondary data. Analysis was carried out on 124 TB patients in West Java Province who had met the inclusion and exclusion criteria. The results of the analysis showed that the proportion of non-adherence with pulmonary TB patients in West Java Province reached 28.23% and the unavailability of drug supervisors reached 37.10%. Multivariate analysis showed that TB patients who did not have drug supervisors were 1.35 times at risk for not adhere to take medication compared to those who had drug supervisors after controlled by covariate variables (PR 1,35; 95% CI: 0.68 – 2.70). However, the relationship was not statistically significant (p value > 0.05). Ensuring drug supervisors carry out their duties properly by providing adequate transportation facilities, provide education for both drug supervisors and TB patients, developing technology in conducting supervision, and increasing the number of health service facilities needs to be done as an effort to increase adherence of TB patients.
Read More
T-6624
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive