Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38864 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Yasin; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Bai Kusnadi
S-7453
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desi Ermaleni Br Ginting; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Haryanto, Sri Tjahjani Budi Utami, Athena, Dede Tarmana
Abstrak:
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti sangat peka terhadap faktor iklim, khususnya curah hujan, suhu, dan kelembaban. Curah hujan di Kota Yogyakarta dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi antara 1.660-2.500 milimeter per tahun mendukung ketersediaan habitat nyamuk. Suhu dan kelembaban di Kota Yogyakarta berada pada rentang suhu dan kelembaban optimum nyamuk untuk bertumbuh dengan baik yaitu pada suhu 25-27°C dan kelembaban antara 60-80%. Sehingga Insiden DBD di Kota Yogyakarta masih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan iklim terhadap insiden DBD. Studi ekologi dilakukan selama 3 bulan menggunakan data skunder. Unit analisis yang digunakan adalah bulan Januari-Desember dari tahun 2004-2013. Selanjutnya akan dianalisis secara statistik dan grafik. Curah hujan dengan insiden DBD tahun 2004-2013 memiliki r sebesar 0,333 dengan korelasi sedang dan pola positif dan nilai p sebesar 0,002. Suhu dengan insiden DBD memiliki r sebesar 0,186 dengan korelasi lemah dan nilai p sebesar 0,051. Kelembaban dengan insiden DBD memiliki r sebesar 0,571 dengan korelasi kuat dan pola positif dan nilai p sebesar 0,000. Curah hujan dan kelembaban tahun 2004-2013 memiliki hubungan yang signifikan dengan insiden DBD. Sedangkan suhu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan insiden DBD.

Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) is spread by Aedes Aegypti is extremely sensitive toward climate, particularly the intensity of rainfall, temperature, and humidity. The intensity of the rainfall which is approximately 1.660-2500 millimeter/year supports the mosquito habitation in Yogyakarta. The temperature and damp in Yogyakarta are in the temperature and humidity optimum where mosquito can grow well; temperature 25-27?C and humidity between 60-80%. Thus, DHF in Yogyakarta is still high. The aim of this research is to analyze the correlation between climate toward DHF incidence.This research uses ecology study and community vulnerability which is done in three months using secondary data. The analisys unit are January-December period 2004-20013. It is analyzed in accordance with statistic and graphic. The intensity of rainfall with DHF incidence in 2004-2013 has r 0,333 with the average correlation and positive pattern and p value 0,002. The temperature with DHF incidence has r 0,186 with weak correlation and positive pattern and p value 0,051. The humidity with the DHF incidence has r 0,571 with a strong correlation and positive pattern and p value 0,000. Rainfall and humidity in 2004-2013 had a significant correlation with the incidence of DHF. While the temperature has no significant correlation with the incidence of DHF.
Read More
T-4295
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Prayitno; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Ema Hermawanti, Haryoto Kusnoputranto, Warmo Sudrajat, Heri Nugroho
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, penularannya melalui vektor nyamuk serta ditemukan di daerah tropis dan sub tropis. Transmisi penularan penyakit DBD tergantung pada populasi vektor (Aedes Aegypti dan Ades Albopictus) yang dipengaruhi oleh kondisi iklim dan tutupan/penggunaan lahan. Kondisi iklim di Kota Batam merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan dan transmisi penyakit DBD. Perubahan tutupan lahan juga diduga menjadi penyebab tingginya insiden DBD di kota Batam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor iklim dan tutupan lahan dengan insiden DBD di Kota Batam. Studi ini merupakan studi ekologi dengan menggunakan data bulanan selama 10 tahun (2005-2014). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa suhu berhubungan signifikan (p=0.021) dengan insiden DBD pada lag 0 dengan korelasi lemah dan negatif (r=-0,211). Kelembaban signifikan dengan insiden DBD pada lag 1 dan lag 2 (p=0.003 dan p=0,001) dengan korelasi sedang dan positif (r=0,270 dan r=0,290). Analisis spasial menunjukkan adanya pola hubungan antara suhu, luas lahan terbangun dan luas lahan ber-vegetasi dengan insiden DBD.
Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue, DBD, Variabilitas Iklim, Perubahan Iklim, Tutupan Lahan
Read More
T-4390
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Slamet Mujlyati; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Muhadi
S-6122
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novia Astarina Simangunsong; Pembimbing: Rachmadi Purnawan; Penguji: Carolina Rusdy Akib
Abstrak: Demam berdarah dengue di Kota Administrasi Jakarta Selatan mengalami fluktuasi selama 5 tahun terakhir dan pada tahun 2016 angka insiden naik lebih dari 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (curah hujan, kelembaban, suhu) dan kepadatan penduduk dengan angka insiden DBD. Studi ini merupakan studi ekologi time series dan dianalisis dengan uji korelasi. Data angka insiden DBD diperoleh dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. Data iklim bulanan diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jakarta. Data kepadatan penduduk diperoleh dari Badan Pusat Statistika DKI Jakarta. Hasil penelitian menyatakan bahwa suhu dan kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan bermakna dengan angka insiden DBD (p > 0,05). Angka insiden DBD memiliki hubungan yang bermakna dengan curah hujan (r = 0,384 ; p = 0,002), kelembaban (r = 0,496 ; p = 0,000).
Kata kunci: demam berdarah dengue (DBD); iklim

Dengue hemorrhagic fever (DHF) in South Jakarta Administration City was fluctuating during 2012 - 2016 and in 2016 the incidence rate (IR) was more than tripled from the previous year. This study aims to determine the relationship between climatic factors (rainfall, humidity, temperature) and population density with the incidence rate (IR) of DHF. This study is a time series ecology study and was analyzed by correlation test. Incidence rate (IR) data was obtained from the South Jakarta District Health Office. Monthly climate data was obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Department of Jakarta. Population density data was obtained from the Central Statistics Department of DKI Jakarta. The results demonstrate that temperature and population density have no significant correlation with dengue incidence rate (p > 0,05). The incidence rate (IR) had a significant correlation with rainfall (r = 0.384; p = 0.002), humidity (r = 0.496; p = 0,000).
Key words: climate; dengue
Read More
S-9418
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ernyasih; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkoto, Emma Hermawati, Triana Srisantyorini, Agus Handito
Abstrak:

Penelitian ini dilakukan di DKI Jakarta bulan April 2012 dengan menggunakan desain ekologi. Data yang digunakan adalah data sekunder dari hasil rekapitulasi jumlah penderita diare perbulan perwilayah selama tahun 2007 ? 2011 di DKI Jakarta. Data ditampilkan secara visualisasi trend berdasarkan tempat dan waktu serta dianalisis secara statistik untuk melihat hubungan antar variabel dependen dan independen. Kasus diare perbulan tertinggi di DKI Jakarta bulan Februari 2007 sebesar 33.511 penderita, kasus diare pertahun perwilayah tertinggi di wilayah IV (Wilayah Kotamadya Jakarta Selatan dan Jakarta Timur) 2010 sebesar 87.355 penderita. Rata-rata suhu udara perbulan tertinggi bulan April 2010 sebesar 29.20C, curah hujan tertinggi bulan Februari 2007 sebesar 673.5 mm, kelembaban tertinggi bulan Februari 2008 sebesar 86%, kecepatan angin bulan Maret sebesar 6.5 knot. Ada hubungan signifikan suhu udara dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan sedang (r = -0.319), berpola negatif, ada hubungan signifikan curah hujan dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan sedang (r = 0.273) berpola positif, Ada hubungan signifikan kelembaban dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan sedang (r = 0.340) berpola positif, Ada hubungan signifikan kecepatan angin dengan kasus diare (p value 0.0005) dan hubungan kuat (r = -0.569) berpola negatif. Faktor iklim yang paling dominan yaitu curah hujan. Saran penelitian yaitu menyediakan sumber air bersih untuk dikonsumsi baik pada saat musim hujan ataupun musim kemarau, Dinas Kebersihan DKI Jakarta harus mengelola sampah dengan baik, pembuatan taman kota atau penanaman kembali pohon-pohon di DKI Jakarta, perlu adanya kerjasama lintas program antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, BMKG, PAM, ormas, tokoh masyarakat, civitas akademika dalam memanfaatkan data variasi iklim untuk mencegah terjadinya ledakan kasus (KLB) diare di masa yang akan datang, menjaga Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), makan yang baik dan bersih, istirahat yang cukup serta senantiasa melakukan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), perlu dilakukan intervensi dalam aspek SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) ataupun pembuangan sampah yang teratur, jangan membuang sampah sembarangan.


This study was conducted in DKI Jakarta on April 2012 by using ecology desain. Data was used secondary data from result of summary of diarrhoea patient of sub-district per-month during year 2007 - 2011 in DKI Jakarta. Data presented visualizinged trend pursuant to time and place and also analysed statistically to see correlated between variable dependent and independent. Highest Diarrhoea case per-month in DKI Jakarta on Februari 2007 is 33.511 patient, highest area per-year diarrhoea case in region IV ( Regional south of Jakarta and east of Jakarta ) 2010 is 87.355 patient. Highest mean Temperature on April 2010 is 29.20C, highest mean rainfall on Februari 2007 is 673.5 mm, highest mean humidity on Februari 2008 is 86%, wind?s on March month is to 6.5 knot. There is significant correlations of temperature with diarrhoea case (p value 0.0005) and medium correlations (r = - 0.319), have negative pattern, there is significant correlations rainfall with diarrhoea case (p value 0.0005) and medium correlations (r = 0.273) have positive pattern, There is significant correlations humidity with diarrhoea case (p value 0.0005) and medium correlations (r = 0.340) have positive pattern, There is significant correlations wind?s speed with diarrhoea case (p value 0.0005) and strong correlations (r = - 0.569) have negative pattern. the most dominant climate factor that is rainfall. Research suggestion that is providing the source of clean and hygiene water to be consumed at the rains and or dry season, sanitary department of state DKI Jakarta have to manage garbage better, making town garden or cultivation tree in DKI Jakarta, need the existence of cooperation program among Public Health Service Provinsi DKI Jakarta, BMKG, PAM, NGO, elite figure, civitas academica in exploiting climate variation data to prevent of diarrhoea case explosion (KLB) in the future, taking care of Healthy and Clean life Behavior (PHBS), eat non contaminated and good food, good and clean hand wash with Soap (CTPS), require to intervence in SPAL aspect (segregate system) and regular garbage disposal, good garbage management program.

Read More
T-3558
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yanti Herawati; Pembimbing: Suyud; Penguji: Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak: Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak pernah menurun di beberapa daerah tropik dan subtropik bahkan cenderung terus meningkat dan banyak menimbulkan kematian pada anak. Di Indonesia, DBD telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 45 tahun terakhir. Beberapa faktor yang berisiko terhadap terjadinya penularan dan semakin berkembangnya penyakit DBD antaralain kepadatan penduduk dan variabilitas iklim. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara kepadatan penduduk dan faktor iklim dengan kejadian DBD di Kota Bogor tahun 2010-2013. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain ekologi. Pengukuran faktor iklim meliputi suhu,kelembaban dan curah hujan. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder kepadatan penduduk, faktor iklim dan jumlah kasus DBD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kelembaban (p=0,001)dengan kejadian DBD di Kota Bogor tahun 2010-2013. Sedangkan untuk kepadatan penduduk (p= 0,143), suhu (p= 0,236) dan curah hujan (p= 0,314) tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD.
Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, faktor iklim, kepadatan penduduk, KotaBogor
The number of cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) have never decreasedin some tropical and subtropical regions and even tends to increase and causemany death in children. In Indonesia, DHF has become a public health problemduring the last 45 years. Some of the risk factors to the occurrence of infectionand the development of DHF include population density and climatic factors. Thisstudy aim to determine correlation between population density and climaticfactors in the incidence of DHF in Bogor City in 2010-2013. This study is aquantitative study with ecology design.Measurement of climatic factors includes temperature, humidity and rainfall. Thedata collected included secondary data population density, climatic factors and thenumber of DHF cases. The results of this study indicate that there is a significantcorrelation between humidity and DHF incidence in Bogor City in 2010-2013.Meanwhile, for population density, temperature and rainfall there is no significantcorrelation with the incidence of DHF.
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever climatic factors, population density,Bogor City
Read More
S-8171
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Puspa Juwita; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sumengen Sutomo, Athena Suwito
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang endemis di Kota Tangerang dengan kejadian yang berfluktuasi per bulannya. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Ae. aegypti yang diduga memiliki hubungan dengan kondisi variabilitas iklim. Dengan menggunakan data sekunder yang tersedia maka penelitian ini menggunakan desain studi ekologi, berdasarkan urutan waktu (time series) untuk melihat adakah hubungan antara variabilitas iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban) dengan Kejadian demam berdarah dengue di Kota Tangerang dalam kurun waktu 2004-2013. Analisis yang digunakan adalah univariat dengan menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji korelasi dan regresi linear. Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara kejadian demam berdarah dengue dengan variabilitas iklim dengan keeratan hubungan yang sedang, yaitu hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan suhu (p = 0,004; r = 0,314); hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan curah hujan (p = 0,000; r = 0,355) dan hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan kelembaban (p = 0,002; r = 0,298). Hubungan yang erat dapat dilihat dengan periode waktu yang pendek yaitu per tahun.

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a endemic disease of Tangerang City with fluctuating case month by month. DHF is a disease that caused by dengue virus and transmitted by Ae. Aegypti, and also have relation with climate variability conditions. This research is using secondary data with ecological study design by using time series, to see the correlations between climate variability (temperature, precipitation and humidity) with hemorarhagic dengue fever cases in Tangerang City in the period 2004-2013. This research are using univariate analysis method and bivariate analysis with correlation and linear regression. The results of this study revealed that are a significant correlation between dengue hemorrhagic fever cases with climate variability; correlation between dengue hemorrhagic fever with temperature (p = 0.004; r = 0.314); correlation between dengue hemorrhagic fever with precipitation (p = 0.000; r = 0.355) and correlation between dengue hemorrhagic fever with humidity (p = 0.002; r = 0.298). Strong correlations can be seen with a short period by yea
Read More
T-4155
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhan Adrian; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Al Asyary, Didik Supriyono
Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang seringkali melanda Indonesia dan disebabkan oleh virus dengue dari nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi. Iklim merupakan salah satu faktor yang diketahui dapat mempengaruhi kejadian DBD. Selama tahun 2014-2020, Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah kasus meninggal akibat DBD tertinggi di Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor iklim dengan kejadian DBD di Kabupaten Bogor pada tahun 2017-2021 dengan desain studi ekologi. Hasil penelitian dengan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa faktor kelembaban (r=0,351; p=0,006) dan curah hujan (r=0,258; p=0,046) memiliki hubungan berkekuatan sedang dengan kejadian DBD, sedangkan suhu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD (p>0,05).
Dengue haemorrhagic fever (DHF) is a disease that frequently affects Indonesia and caused by the dengue virus from infected Aedes aegypti mosquitoes. Climatic factors are known to affect DHF incidence. In 2014-2020, Bogor Regency became the region with the highest DHF deaths in West Java. This study aims to analyze several climatic factors with DHF incidence in Bogor Regency in 2017-2021 using an ecological study design. Using Spearman?s rank correlation coefficient, the results indicate that humidity (r=0,351; p=0,006) and rainfall (r=0,258; p=0,046) have a moderate effect on DHF incidence, while temperature has no effect on DHF incidence (p>0,05).
Read More
S-11130
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Azharadipta; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:

Latar Belakang : Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada daerah perkotaan seperti Kota Administrasi Jakarta Barat. Variabel iklim berupa suhu udara, tingkat kelembaban, serta curah hujan diketahui berhubungan dengan perubahan jumlah kasus DBD karena faktor-faktor tersebut memengaruhi pertumbuhan dan aktivitas nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penular penyakit. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim yang mencakup suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Barat selama periode 2016–2025. Metode : Dalam kajian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancangan ekologi time series untuk menganalisis data penelitian. Data yang dipakai merupakan data sekunder berupa jumlah kejadian DBD yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sedangkan data terkait iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan bersumber dari NASA POWER. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis univariat serta bivariat, dengan pengujian korelasi menggunakan Pearson atau Spearman berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing variabel. Hasil : Temuan kajian ini memperlihatkan jika keterkaitan antara faktor iklim berupa suhu udara serta kelembaban udara terhadap kejadian DBD lebih dominan pada Lag 1 dibandingkan Lag 2. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan pada tahun 2021 serta 2023. Di sisi lain, faktor iklim curah hujan memperlihatkan hubungan yang lebih kuat pada Lag 2 daripada Lag 1.


Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public  health problems in Indonesia, particularly in urban areas such as the Administrative  City of West Jakarta. Climate variables, including air temperature, humidity levels,  and rainfall, are known to be associated with changes in the number of DHF cases  because these factors influence the growth and activity of Aedes spp. mosquitoes  as disease vectors. This study was conducted to determine the relationship between  climate factors, namely air temperature, air humidity, and rainfall, and the incidence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in the Administrative City of West Jakarta  during the 2016–2025 period. Methods: This study employed a quantitative method  with a time-series ecological design to analyze the research data. The data used  were secondary data consisting of the number of DHF cases obtained from the DKI  Jakarta Provincial Health Office, while climate-related data such as air temperature,  air humidity, and rainfall were sourced from NASA POWER. The analytical  techniques applied included univariate and bivariate analyses, with correlation  testing using Pearson or Spearman methods based on the normality test results of  each variable.Results: The findings of this study indicate that the relationship  between climate factors, specifically air temperature and air humidity, and DHF  incidence was stronger at Lag 1 compared to Lag 2. Significant negative  relationships were identified in 2021 and 2023. Meanwhile, the climate factor of  rainfall demonstrated a stronger relationship at Lag 2 than at Lag 1.

Read More
S-12247
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive