Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8386 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maj. Kedokteran Indo. (MKI), 37, No.9, Sept. 1987, hal. 521-526, ( Cat. ada di bendel 1987/1989 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Guruh Aryo Cahyo; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Agus Gojali
Abstrak: Latar Belakang: Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh adanya gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah dan disertai gangguian kandungan karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat kurang berfungsinya insulin. Perencanaan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular khususnya diabetes mellitus sangat diperlukan. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan pemantauan pada Kota Depok secara menyeluruh maka dapat dilakukan pengecekan kesehatan dan deteksi dini oleh petugas kesehatan, agar penyebaran penyakit tidak menular tidak bertambah pesat setiap saatnya. Menurut American Diabetes Association (ADA), diabetes mellitus secara etiologis terbagi menjadi kedalam empat tipe, diantaranya adalah DM Tipe 1, DM Tipe 2, DM Tipe Gestasional, dan DM Tipe Lainnya. Namun IDF pada tahun 2011 hanya mengklasifikasikannya kedalam 3 tipe utama, yaitu DM Tipe 1, DM Tipe2, dan DM Tipe Gestasional. Faktor risiko pada Diabetes mellitus, dibagi menjadi faktor risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah. Faktor risiko yang dapat diubah meliputi berat badan, pola hidup, dan status kesehatan. Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan riwayat keluarga. Diharapkan faktor risiko dan deteksi dini dapat memudahkan petugas dalam menganalisis persebaran penyakit Diabetes Mellitus dan memantau perkembangannya, menjadikan sarana untuk merekam dan menyimpan informasi mengenai demografi, populasi, dan tren perilaku, mengidentifikasi dan menyelidiki hubungan dan komplikasi antar penyakit tidak menular, seerta sebagai bahan perencanaan untuk mengetahui hubungan Hipertensi dengan kejadian Diabetes Mellitus dan menangani masalah kesehatan di masyarakat.
Tujuan: Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Orang Dengan Hipertensi Terhadap Kejadian Diabetes Mellitus di Kota Depok.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dengan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular (SIPTM) Dinas Kesehatan Kota Depok.
Hasil: Jumlah kasus Diabetes Mellitus di Kota Depok pada tahun 2017-2019 semakin fluktuatif. Pada tahun 2017 ditemukan kasus Diabetes Mellitus sebanyak 245 kasus, sedangkan pada tahun 2018 dan 2019 secara berturut-turut ditemukan sebanyak 282, dan 315 kasus. Jumlah kasus Diabetes Mellitus di Kota Depok lebih banyak ditemukan karena adanya pola gaya hidup yang tidak sehat, riwayat keluarga, dan kurangnya aktivitas fisik pada seseorang Selain itu tidak adanya korelasi antara jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan terhadap jumlah kasus Diabetes Mellitus.
Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Faktor Risiko, Hipertensi, Penyakit Tidak Menular.
Read More
S-10444
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anny Oedjianti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Tata Soemitra
Abstrak:

Pekelja di kilang minyak tcrutama di lokasi bising mempunyai risiko tinggi menderita gangguan pcndcngaran sebagai penyakit akibat kelja. Pajanan kombinasi (bising, penyakit DM, hipcrtensi, DM dan hipertensi) dapat terjadi secara bersamaan pada seorang pekerja. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungau dan kontribusi pajanan kombinasi terhadap teljadinya gangguan pendengaran. Dengan metode historikal kohor, data pekelja dari tahun 2002-2007, pcfnetapan kriteria gangguan pendengaran berdasarkan hasil audiogram pada frekuensi 4000 Hz > 25 dBA, status DM berdasarkan kriteria diagnostik PERKENI 2006 GDP 2126 mg/dL, status hipertensi herdasarkan JNC7 S 2140 mmHg dan D 290 mm!-Ig. Analisis statistik dengan univariat dan bivariat. Diperoleh hasil, insiden gangguan pendengaran berkisar antara 25.0% - 50.0% pada pekelja yang terpzgan bising, dengan distribusi responden menurut masing- masing pajanan kombinasi dan karakteristik responden (variabcl pcrancu: Lunur; rnasa kerja; merokok; dan pemakaian APT). Kesimpulan yang diperoleh dari uji statistik, baik variabel independen maupun vadabel perancu mempunyai p value > on, perbedaan tidak bermal-ma. Sehingga gambaran dan kontribusi faktor risiko penyakit DM dan hipcrtcnsi bclum dapat diketahui dengan jelas. Hal ini disebabkan beberapa keterbatasan penelitian diantaranya sampel yang mcmenuhi kriteria inklusi (140 responden) tidak memenuhi besar sampel minimal (287 responden}, informasi data yang diperoleh dari perusahaan tidak lengkap. Oleh karenanya saran bagi pemsahaan agar lebih memperhatikan sistem pencatatan, pelaporan, dan penyimpanan data., pemeriksaan audiometri, kesehatan berkala, pengukuran dosis pajanan, secara rutin dan berkcsinarnbungan sesuai kebutuhan, terulama bagi pekerja yang terpajan bising > 85 dBA, penertiban sertifikasi operator, kalibrasi alat oleh institusi yang bezwenang.


Workers of refinery in noisy area have high risk to get hearing loss as occupation disease. Combined exposure (noise, DM, hypertension) can happen simultaneously on a worker. The purpose of this study is to find the relation and contribution of combined exposure on hearing loss. The study was using historical cohort, worker’s data from 2002 to 2007, hearing loss criteria definition based on audiograrn result with frequency 4000 Hz >25 dBA; DM status based on PERKENPS diagnosis in 2006 GDP 2 126 mg/dL, hypertension status based on JNC7 S 2 |20 mml-lg and D 2 90 mml-Ig. Statistical analysis was using univariat and bivariat. The result is hearing loss incident on workers exposed by noise around 25.0% - 50.0%, with respondent’s distribution based on each combined exposure and respondent's characteristic (confounding variable : age, working period, smokind and the using of APT) We conclude by statiscal test, both independent variable and cofounding variable with P value > ot that there is insignificant dillerencetherefore, the illustration and contribution of DM and hypertension risk factor cannot be found clearly. It was caused by some limitations in the study such as inclusive criteria sample (140 respondents) didn't iillfil the quota of sample (287 respondents), incompleted company's clatas. Therefore, we suggest that the company should pay more attention to data entry, data report and data saving, audiometric check-up, periodic medical check-up, exposure dosage measurement, regularly and continually based on needs, especially for workers exposed by noise > 85 dBA, regulation of operator certification, calibrated equipment by authorized institution.

Read More
T-2806
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Taat Uji Hariyanti; Pembimbing: Diah M. Utari
S-2238
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riza Srie Ambari; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Puput Oktamianti, Vetty Yulianty Permanasari, Budiman Widjaja
Abstrak: ABSTRAK Rujuk Balik merupakan program BPJS yang bertujuan untuk mengendalikan serta mengelola penyakit-penyakit kronis termasuk Diabetes Melitus dan Hipertensi. pengobatan terhadap pasien penyakit kronis tersebut diberikan seumur hidup sehingga hal ini tentu saja dapat mengakibatkan adanya peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Sesuai dengan Permenkes No. 28 tahun 2014 BPJS menerapkan prinsip kendali mutu dan kendali biaya dengan cara memberikan pelayanan secara berjenjang, efektif dan efisien. Salah satu program yang mewakili konsep tersebut adalah Program Rujuk Balik (PRB). Dengan adanya Program Rujuk Bali diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas, kualitas pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya. Program rujuk balik seharusnya memudahkan pelayanan promotif preventif terhadap penyakit Diabetes Mellitus dan Hipertensi. Namun, pada pelaksanaannya, program Rujuk Balik di Rumah Sakit IMC Bintaro masih jauh dibawah target capaian Nasional. Hal ini akan berdampak kepada penumpukan pasien poli internist dan juga menjadi resiko atas kekosongan persediaan obat di rumah sakit. Dalam menganalisis implementasi pelaksanaan program rujuk balik diabetes mellitus dan hipertensi dilakukan dengan menggunakan teori kebijakan Van Horn Van Meter serta Edward III dengan variable : Standard dan Tujuan Kebijakan; Sumber Daya; Komunikasi antar Organisasi; Karateristik Agen Pelaksana; Disposisi Implementor ; Lingkungan Social Ekonomi dan Politik. Hasil penelitian menunjukan adanya kekosongan obat di FKTP, tidak adanya link pendataan secara system diantara Rumah Sakit dan FKTP, sosialisasi serta koordinasi yang kurang diantara BPJS, Rumah Sakit dan FKTP menjadi hambatan dalam pelaksanaan program rujuk balik diabetes mellitus dan hipertensi di Rumah Sakit IMC, Bintaro Kata Kunci : Kebijakan, Rujuk Balik, Diabetes Mellitus, Hipertensi ABSTRACT Back-Refferal is a BPJS program that aims to control and manage chronic diseases including Diabetes Mellitus and Hypertension. The treatment of patients with chronic diseases is given for long term periods and lead to an increase the cost of health services. In accordance with Permenkes No. 28 of 2014 BPJS applies the principles of quality control and cost control by providing services in stages, effective and efficient. One program that represents the concept is Back Referral Program (BRP). With the existence of the Back-Referral Progra is expected to improve accessibility, quality of health services and cost efficiency. The referral program should facilitate preventive promotive services for Diabetes Mellitus and Hypertension. However, the implementation of Back-Referral Program in IMC Bintaro Hospital was still far below the National achievement target. This will have an impact on the accumulation of patients in internist station and also be a risk for drugs availabilities supplies in hospitals. In analyzing the implementation of the program of back-refferal program diabetes mellitus and hypertension was carried out using the policy theory of Van Horn Van Meter and Edward III with variables: standard and policy objectives; resource; Communication between organizations; Characteristics of implementing agents; Implementor Disposition; Socio-economic and political environment. The results showed that there was a drug shortage in the FKTP, there was no system data link between the Hospital and FKTP, lack of socialization and coordination among BPJS, hospitals and FKTP as obstacles in implementing back-refferal program diabetes mellitus and hypertension in IMC Hospital, Bintaro Keywords: Policy, Feedback, Diabetes Mellitus, Hypertension
Read More
B-2053
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leny Marzal; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Yuli Prapanca Satar, Nusati Ikawahyu
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran evaluasi terhadap implementasi sistem Program Rujuk Balik ( PRB) pada FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) dan FKTL (Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut) di kota Pekanbaru. Gambaran evaluasi sistem rujukan dapat dilihat pada karakteristik program rujuk balik melalui pendekatan mutu (quality) dari Donabedian Penelitian menggunakan metode kualitatif. Data primer diperoleh dari melalui wawancara mendalam terhadap 13 informan yang terdiri dari unsur manajemen dan pelaksana teknis Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, Pelaksana Teknis FKTP, dan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) serta observasi langsung di beberapa unit layanan terkait. Data sekunder diperoleh melalui register pasien. Pengukuran terhadap karakteristik system rujukan terdiri dari standar input yang meliputi kebijakan dan sosialisasi program rujuk balik dan kelengkapan fasilitas Program Rujuk Balik. Standar process meliputi alur rujukan, kepatuhan terhadap SOP (Standar Operasional Pelayanan) , kemudian standar output meliputi rujuk balik yang tepat dan program cakupan rujuk balik dan insentif yang diterima oleh pemberi layanan Program Rujuk Balik Kata kunci, Program Rujuk Balik, Penyakitt Kronis, Kebijakan, This study aimed of analize of the implementation Program Rujuk Balik (PRB) evaluation on FKTP ( Primery Health Care) and FKTL ( The Hospital) in Pekanbaru city year 2015. A description of the evaluation of referral system can be seen in the characteristics of PRB through quality approach from Donabedian. Research using qualitative methods. The primary data obtained through interviews of more than 13 informants consisting of elements of management and technical implementation Hospital, technical implementation FKTP, Department of Health, and BPJS as well as direct observation in several units related services. Secondary data obtained through medical records and registers patiens. Measurement of the characteristics of reference system consist of standard input covering the referral system policy and sosialitation , and completeness of facility. The standard process includes, standard monitoring and evaluation, then standard output includes appropriate referral of the PRB and insentives received by the service provider Key word , Program Rujuk Balik, Degenerative Disease, Policy
Read More
B-1820
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.9, No.2, April. 2006: hal. 106-112, (cat. ada di bendel 2006-2007
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riezky Febiola; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Endang Lukitosari, Esti Widiastuti
Abstrak:
Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama masalah kesehatan dan kematian didunia. Prevalensi DM yang terus meningkat tiap tahunnya diperkirakan tahun 2045, terdapat 629 juta orang yang akan menderita diabetes (IDF, 2017). DM melemahkan system kekebelan tubuh dan menyebabkan respon pengobatan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan kejadian DM terhadap kegagalan pengobatan pada pasien TB tahun 2017-2019 di Indonesia. Metode. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain studi kohort retrospektif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah semua pasien TB Sensitif Obat di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2017-2019 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Cox Regression. Hasil. Sebanyak 107036 pasien TB yang diikutkan dalam analisis dari 1.251.525 pasien TB yang terdaftar pada tahun 2017-21019, terdapat 23388 (21,9%) pasien TB DM. Karakteristik pada sebagain besar pasien TB adalah berusia diantara 15-44 tahun (51,3%), laki-laki 59,8%, tinggal di kabupaten 58,8%, memiliki sputum positif pada saat pemeriksaan awal 64,8%, riwayat pengobatan baru TB 94,09%, HIV negativ (76,2%). Wilayah tempat tinggal, sputum awal pemeriksaan, riwayat pengobatan dan status HIV secara bermakna dikaitkan dengan gagal pengobatan. Pasien TBDM memiliki risiko 1,72 (95% CI; 1,51-1,95) kali untuk mengalami gagal pengobatan daripada pasien TBnonDM. Proporsi gagal pengobatan pasien TBDM disebabkan oleh interaksi DM dengan riwayat pengobatan adalah 50%. Analisis multivariat didapatkan risiko gagal pengobatan pada pasien TB DM ARR 1,83 (95% CI; 1,6-2,09) dibandingkan dengan pasien TB nonDM setelah di kontrol oleh variable jenis kelamin dan sputum. Kesimpulan. DM meningkatkan risiko kegagalan pengobatan pada pasien TB sehingga pengontrolan kadar gula darah selama pengobatan bagi pasien TBDM sangat perlu dilakukan

Tuberculosis is still a major cause of health problems and death in the worldwide. The prevalence of DM which continues to increase each year is estimated to be in 2045, there are 629 million people who will suffer from diabetes. This study aims to assess the association DM on TB treatment failure in TB patients in 2017-2019 in Indonesia. Method. This study was conducted using a retrospective cohort study design. The population and sample of this study were all drug-sensitive TB patients in Indonesia who started treatment in 2017-2019 and registered in the Integrated Tuberculosis Information System (SITT) that met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using Cox Regression. Result. A total of 107036 TB patients were included in the analysis of 1,251,525 TB patients registered in 2017- 21019, of which 23388 (21.9%) TB DM patients. The characteristics of the majority of TB patients are aged 15-44 years (51.3%), male 59.8%, live in the district 58.8%, have positive sputum at the time of initial examination 64.8%, history of treatment new TB 94.09%, HIV negative (76.2%). Region of residence, baseline sputum examination, treatment history and HIV status were significantly associated with treatment failure. TBDM patients had 1.72 (95% CI; 1.51-1.95) times the risk of experiencing treatment failure than TBnonDM patients. The proportion of treatment failure of TBDM patients caused by the interaction of DM with treatment history is 50%. Multivariate analysis showed that the risk of treatment failure in TB DM ARR patients was 1.83 (95% CI; 1.6-2.09) compared with nonDM TB patients after being controlled by gender and sputum variables. Conclusion. DM increases the risk of treatment failure in TB patients so controlling blood sugar levels during treatment for TBDM patients is very necessary

Read More
T-5908
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Universa Medicina, Vol.33, No.2, May.- Augt. 2014, halaman. 73-74
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
TRS-310
[s.l.] : Geneva WHO 1965, s.a.]
TRS (Series)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive