Ditemukan 40905 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.54, No.8, Agustus, 2004, hal. 306-312
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yosiana Wijaya, P.L.M. Gonta
MJKI No.9
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kirana Anggraini; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Agung Sugihantono, Asangga Guyansyah
T-4269
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kirana Anggraini; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sandra Fikawati, Agung Sugihantono, Asangga Guyansyah
T-4269
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Oscar Oleta Palit; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Lydia Pratanu
Abstrak:
ABSTRAK Nama : Oscar Oleta Palit Program Studi : Kesehatan Lingkungan Judul : Studi Pendahuluan Faktor Risiko Sindrom Down (Studi Kasus Kota dan Kabupaten Tangerang) Tahun 2019 Pembimbing : Dr. Budi Hartono, S.Si.,M.K.M. Sindrom Down merupakan penyakit autosomal terbesar di dunia yang disebabkan oleh pembelahan tidak sempurna pada kromosom 21. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu faktor risiko penyebab sindrom Down yang ada pada orang tua di sekitar Kawasan Industri Kota dan Kabupaten Tangerang pada tahun 2019. Pencarian faktor risiko sindrom Down di sekitar kawasan industri berlandaskan pada penelitian sebelumnya yang mendapatkan hasil bahwa orang tua yang mempunyai anak sindrom Down hampir 50% bekerja pada industri. Faktor risiko yang diteliti pada penelitian ini mencakup karakteristik intrinsik dan ektrinsik. Karakteristik intrinsik merupakan faktor yang ada pada orang tua seperti usia ibu, usia ayah, urutan kelahiran anak, riwayat kesuburan ibu, riwayat pernikahan keluarga, dan status ekonomi. Karakteristik ektrinsik merupakan faktor yang dapat berkaitan dengan lingkungan seperti lokasi tempat tinggal, lama tinggal, riwayat pekerjaan orang tua, dan sumber air minum. Penelitian ini menggunakan studi kasus-kontrol dengan data retrospektif. Subjek kasus dan kontrol didapatkan pada Sekolah Kebutuhan Khusus yang ada di Kota dan Kabupaten Tangerang. Subjek kasus merupakan murid yang dikategorikan sindrom Down, sedangkan subjek kontrol merupakan murid yang tergolong tuna grahita namun bukan disebabkan oleh sindrom Down. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan mewawancarai orang tua. Responden yang terkumpul sebanyak 50 kasus dan 50 kontrol. Data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat, bivariat, multivariat, dan analisis spasial. Hasil statistik untuk karakteristik intrinsik adalah usia ibu (OR = 4,000 , p = 0,002), usia ayah (OR = 3,857 , p = 0,001), urutan kelahiran (OR = 4,512 , p = 0,000), riwayat pernikahan kerabat (p = 0,500), riwayat kesuburan (p = 0,588), dan kondisi ekonomi (p = 0,130). Hasil statistik untuk karakteristik ektrinsik adalah lokasi tempat tinggal (p = 0,546), lama tinggal ibu (p = 0,156), lama tinggal ayah (p = 0,021), jenis pekerjaan ibu (p = 0,882), jenis pekerjaan ayah (p = 0,645), lama kerja ibu (p = 0,000), lama kerja ayah (p = 0,000), dan sumber air minum (p = 0,005). Berdasarkan uji bivariat, karakteristik yang berpengaruh terhadap kejadian sindrom Down adalah usia ibu, usia ayah, dan urutan kelahiran. Karakteristik ektrinsik yang berpengaruh adalah lama tinggal ayah, lama kerja ibu dan ayah, dan sumber air minum. Berdasarkan uji multivariat, faktor risiko yang berpengaruh adalah urutan lahir dan sumber air minum. Secara analisis spasial lokasi tempat tinggal responden mengumpul di sekitar kawasan industri. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor risiko sindrom Down sangat beragam sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar di sekitar kawasan industri untuk mengetahui faktor risiko yang berkaitan dengan lingkugan. Kuesioner pada penelitian ini dapat digunakan instansi yang berfokus menangani kasus sindrom Down sebagai pedoman pengumpulan informasi faktor risiko sehingga pengumpulan data sindrom Down menjadi lebih baik. Kata kunci : sindrom Down, faktor risiko, kawasan industri, analisis spasial ABSTRACT Name : Oscar Oleta Palit Majors : Environmental Health Judul : Preliminary Study of Down Syndrome Risk Factors (Case Study of Tangerang City and Regency) in 2019 Supervisor : Dr. Budi Hartono, S.Si.,M.K.M. Down syndrome is the largest autosomal disease in the world caused by nondisjunction of chromosome 21. This study aims to find out the risk factors of Down syndrome that exist in the parents around the Industrial Estate of Tangerang City and Tangerang Regency in 2019. Study of the Down syndrome risk factors around the industrial estate is based on previous research which found that parents who have Down syndrome children have almost 50% work in the industry. The risk factors examined in this study include intrinsic and extrinsic characteristics. Intrinsic characteristics are factors that exist in parents such as mother's age, father's age, childbirth order, history of maternal fertility, history of parent consanguinity, and economic status. Extrinsic characteristics are factors that can be related to the environment such as the location of residence, length of stay around the industrial area, work history of parents, and sources of drinking water. This study uses a case-control study with retrospective data. Case and control subjects were obtained at Special Education School in Tangerang City and Regency. The case subjects were students who were classified as Down syndrome, while the control subjects were students who were classified as mental retardation but were not caused by Down syndrome. Data collection was carried out using a questionnaire by interviewing parents. Respondents who collected as 50 cases and 50 controls. Data collected were analyzed by univariate, bivariate, multivariate, and spatial analysis. Statistical results for intrinsic characteristics are maternal age (OR = 4,000, p = 0.002), father's age (OR = 3,857, p = 0,001), birth order (OR = 4,512, p = 0,000), family history of marriage (p = 0,500) , fertility history (p = 0.588), and economic status (p = 0.130). Statistical results for extrinsic characteristics are the location of residence (p = 0.546), length of stay of the mother (p = 0.156), length of stay of the father (p = 0.021), type of work of the mother (p = 0.882), type of work of the father (p = 0.645) , mother's work time (p = 0,000), father's work time (p = 0,000), and drinking water sources (p = 0.005). Based on the bivariate test, the characteristics that influence the incidence of Down syndrome are maternal age, father's age, and birth order. Extrinsic characteristics that influence of Down syndrome incidence are the length of stay of the father, the length of work of the mother and father, and drinking water sources. Based on multivariate tests, the risk factors that influence are birth order and drinking water sources. The result of the spatial analysis is the respondent's residential location collects around the industrial estate. The results showed that the risk factors of Down syndrome are very diverse, so it is necessary to conduct further research with a larger sample size around the industrial estate to determine the risk factors associated with the environment. The questionnaire in this study can be used by the institute that focuses on Down syndrome cases as guidance for gathering risk factor information, so the collection of Down syndrome data is better. Keywords : Down syndrome, industrial estate, risk factors.
Read More
S-10244
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
☉
Rachmaika Utami; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Mieke Savitri, Ni Made Jendri
S-9414
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahma Muthia Zakia; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Ananda
Abstrak:
Read More
Fenomena penuaan penduduk di Indonesia ditandai dengan terus meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia. Kelompok pra lansia (45-59 tahun) dan lansia (≥60 tahun) menanggung beban penyakit tidak menular tertinggi sehingga memerlukan upaya deteksi dini melalui skrining kesehatan. Meskipun demikian, pemanfaatan layanan skrining pada penduduk usia pra lansia dan lansia di Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran dan fator-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan skrining kesehatan pada usia ≥45 tahun berdasarkan data Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel penelitian yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan, partisipasi sosial, sumber pendapatan, dan status kesehatan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan skrining kesehatan pada penduduk usia ≥45 tahun baru mencapai 37,1%, masih jauh di bawah target Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia 2020–2024 sebesar 60%. Seluruh variabel independen terbukti memiliki hubungan yang signifikan (p value < 0,05) dengan pemanfaatan skrining kesehatan. Pemanfaatan skrining lebih tinggi pada kelompok lansia (≥60 tahun), perempuan, penduduk perkotaan, berpendidikan tinggi, aktif berpartisipasi sosial, bersumber pendapatan tidak mandiri, serta berstatus kesehatan buruk. Faktor yang paling dominan memengaruhi pemanfaatan skrining kesehatan adalah tingkat pendidikan (OR = 1,975; 95% CI: 1,691–2,307). Oleh karena itu, diperlukan peningkatan aksesibilitas serta penguatan strategi promosi skrining yang menargetkan kelompok dengan pemanfaatan rendah.
The aging of Indonesia’s population is characterized by a steadily increasing proportion of older adults. The pre-elderly (45–59 years) and elderly (≥60 years) groups bear the highest burden of noncommunicable diseases, necessitating early detection efforts through health screening. However, the utilization of screening services among the pre-elderly and elderly populations in Indonesia remains low. This study aims to analyze the profile and factors associated with the utilization of health screening among individuals aged ≥45 years based on data from the 2023 Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS). This study employed a cross-sectional design with a sample selected based on inclusion and exclusion criteria. The independent variables examined included age, sex, residential area, educational level, social participation, source of income, and health status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Chi-Square test), and multivariate (multiple logistic regression) analyses. The study results show that the utilization rate of health screenings among the population aged ≥45 years is only 37.1%, still far below the 60% target set by the 2020–2024 National Action Plan for Elderly Health. All independent variables were found to have a significant association (p < 0.05) with the utilization of health screenings. Screening utilization was higher among the elderly (aged 60 years and older), women, urban residents, those with higher education, those actively participating in social activities, those with non-independent sources of income, and those in poor health. The most dominant factor influencing health screening utilization was education level (OR = 1.975; 95% CI: 1.691–2.307). Therefore, improved accessibility and strengthened screening promotion strategies targeting groups with low utilization are needed.
S-12358
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pebrina Manurung; Pembimbing: Helda, Mondastri K. Sudaryo; Penguji: Damar Prasmusinto, Rima Damayanti
Abstrak:
WHO memperkirakan terdapat 8 juta penderita Down syndrome di dunia Penyebab yang spesifik belum diketahui, tapi kehamilan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun beresiko tinggi memiliki anak down syndrom. Pada ibu yang berusia lebih dari 35 tahun, insidensi meningkat sampai 1 dari 300 kelahiran. Sedangkan pada ibu usia di atas 40 tahun, insidensi meningkat secara drastis mencapai 1 dari 10 kelahiran
WHO estimates that there are 8 million people with Down syndrome in the world he specific cause is not yet known, but pregnancy by mothers over the age 35 years of high risk of having Down syndrome children. In mothers over 35 years of age, the incidence increases to 1 in 300 births. Meanwhile, for mothers over 40 years of age, the incidence increases drastically, reaching 1 in 10 births. This study aims to determine the relationship between maternal age at pregnancy and the incidence of Down syndrome in children aged 0-59 months in Indonesia based on 2018 Riskesdas data. t is necessary to educate productive women about the risks of pregnancy at old age
Read More
WHO estimates that there are 8 million people with Down syndrome in the world he specific cause is not yet known, but pregnancy by mothers over the age 35 years of high risk of having Down syndrome children. In mothers over 35 years of age, the incidence increases to 1 in 300 births. Meanwhile, for mothers over 40 years of age, the incidence increases drastically, reaching 1 in 10 births. This study aims to determine the relationship between maternal age at pregnancy and the incidence of Down syndrome in children aged 0-59 months in Indonesia based on 2018 Riskesdas data. t is necessary to educate productive women about the risks of pregnancy at old age
T-6012
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kelvin Halim; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Dewi Damayanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan melihat hubungan keragaman konsumsi pangan dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 149 anak usia 6-35 bulan di Kecamatan Babakan Madang selama bulan April-Juni 2019. Skor keragaman konsumsi pangan diambil dari 1x24hr food recall berdasarkan 7 kelompok pangan dan dikategorikan berdasarkan beragam (<4 kelompok pangan) dan tidak beragam (≥4 kelompok). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting pada anak sebesar 32.2%. Selain itu, 31.5% anak mengonsumsi pangan tidak beragam, dan 79,5% anak belum mencapai minimum acceptable diet. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan bermakna antara keragaman konsumsi pangan (p=0.033), minimum acceptable diet (p=0.013), dan konsumsi sayur dan buah sumber vitamin A (p=0.015). Namun, belum ditemukan adanya hubungan bermakna antara frekuensi pemberian makan dengan kejadian stunting (p=0.995). Maka dari itu, upaya intervensi perlu dilakukan dengan meningkatkan keragaman pangan dan kualitas makan bayi dan anak dalam menurunkan risiko kejadian stunting di tingkat keluarga dan masyarakat.
Read More
S-9980
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
