Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39858 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lili Nur Indah Sari; Pembimbing: Yulianty Vetty Permanasary; Penguji: Mardiati Nadjib, Teti Hermawati
Abstrak: Terbitnya Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) menghendaki rumah sakit untuk melakukan kegiatan perhitungan per unit layanan sebagai dasar penetapan tarif. RSUP Fatmawati merupakan rumah sakit BLU yang sudah melakukan kegiatan perhitungan dan analisa biaya satuan dengan metode Activity Based Costing (ABC) secara mandiri sejak tahun 2010, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mendalam mengenai gambaran pelaksanaan kegiatan perhitungan dan analisa biaya satuan dengan metode ABC di RSUP Fatmawati tahun 2011. Ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data diperoleh berdasarkan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Dari hasil penelitian diperoleh, bentuk dukungan dan komitmen manajemen untuk pelaksanaan kegiatan perhitungan dan analisa biaya satuan dengan metode ABC masih belum maksimal, belum ada investasi khusus pada Information Technology (IT) untuk pelaksanaan ABC, sumber daya masih terbatas, data yang dibutuhkan untuk kegiatan perhitungan masih kurang lengkap, dan belum ada pengaturan waktu yang tegas dalam pelaksanaannya. Akibatnya adalah waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan perhitungan dan analisa biaya satuan dengan metode ABC di RSUP Fatmawati tahun 2011 menjadi bertambah lama. Bentuk dukungan dan komitmen manajemen merupakan faktor utama penentu keberhasilan pelaksanaan ABC di RSUP Fatmawati. Disamping faktor lain, yaitu investasi pada Information Technology (IT), sumber daya, data dan waktu. Oleh karena itu, strategi intervensi seharusnya dilakukan sebagai strategi utama pada tahapan awal penerapan pelaksanaan ABC, tidak hanya untuk menanamkan komitmen pelaksanaan kegiatan kepada semua lini organisasi tetapi juga sosialisasi kebermanfaatan hasil yang akan dicapai.
 

Issuance of Government Regulation No. 23 of 2005 on the Financial Management of Public Service Agency (BLU) required hospitals to conduct calculations per unit of service as a basis for setting rates. Fatmawati Hospital is a BLU’s hospital which had been conducting unit cost calculations and analysis by Activity Based Costing (ABC)’s method independently since 2010, but still faced many obstacles in its implementation. This study aims to provide in-depth description the overview of the implementation of unit cost calculation and analysis by the ABC’s method in Fatmawati Hospital in 2011. This is a qualitative research’s method in descriptive analysis. Data were obtained based on in-depth interviews and documents review. The result showed that management support and commitment to the implementation of unit cost calculation and analysis by the ABC’s method was not maximized yet, there was no special investment in Information Technology (IT) for the implementation of ABC, resources were limited, the data needed for the calculation of activity was still not completed, and there was no forceful timeline in practice. The result was, requiring longer times to implement the unit cost calculation and analysis by the ABC’s method in Fatmawati Hospital in 2011. Management support and commitment is a major factor in determining the successful of implementation of ABC in Fatmawati Hospital. Besides other factors, the investment in Information Technology (IT), resources, data and time. Therefore, intervention strategies should be carried out as a key strategy in the early stages of the implementation of ABC, not only to embed a commitment’s implementation to all the lines of organization but also to socialize the goal that will be achieved together.
Read More
S-7732
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajar Pramuji Hadhianto; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Amila Megraini
Abstrak:
Pelayanan kontrasepsi terdiri dari pra-pelayanan kontrasepsi, tindakan pelayanan KB, dan pasca pelayanan. Implementasi kebijakan pelayanan KB belum sepenuhnya terlaksana dengan maksimal disebabkan terkendala pendanaan yang berkaitan dengan jasa pelayanan dikarenakan masih terdapat beberapa hal yang kurang jelas sehingga pelaksanaan layanan belum maksimal yang menyebabkan layanan tersebut tidak termasuk dalam pembiayaan JKN maupun didukung oleh program. Oleh karena itu, perlu dilakukannya perhitungan biaya pelayanan kontrasepsi dengan tepat dan cermat yang bertujuan untuk memperoleh tarif jasa pelayanan kontrasepsi. Analisis biaya yang mengalokasikan biaya produksi dan biaya overhead dikenal dengan metode Activity Based Costing. Metode ini dapat mengevaluasi biaya secara tepat dengan memberikan informasi non-keuangan dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas, dapat mengetahui total biaya (total cost) dan biaya satuan (unit cost) untuk melakukan aktivitas. Penelitian ini bertujuan menghitung total cost dan unit cost per pelayanan kontrasepsi di poli pelayanan KB Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama. Studi ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dan kajian literatur sesuai dengan data yang ada. Metode yang digunakan dalam menghitung unit cost adalah Activity Based Costing (ABC). Hasil penelitian ini adalah biaya satuan konseling sebesar Rp. 67.716, persetujuan tindakan tenaga kesehatan sebesar Rp. 61.459, pasang IUD sebesar Rp.59.604, cabut IUD sebesar Rp. 61.588, suntik KB (Cyclo) sebesar Rp. 205.610, suntik KB (Deppo) sebesar Rp. 71.531, pil KB sebesar Rp. 133.220, pasang implan sebesar RP.62.852, cabut implan sebesar Rp.71.531, kontrol IUD sebesar Rp.59.674, dan kontrol implan sebesar Rp.85.948. Kesimpulan penelitian ini adalah tarif pelayanan kontrasepsi yang terdiri dari pasang dan cabut IUD dan pasang dan cabut implan masih diatas unit cost, sedangkan pelayanan konseling, persetujuan tindakan tenaga kesehatan, kontrol IUD, kontrol Implan, dan suntik KB dapat dijadikan bahan masukan untuk ditetapkan sebagai tarif pelayanan kontrasepsi.

Contraceptive services consist of pre-service contraception, family planning service actions, and post-service. The implementation of family planning service policies has not been fully implemented optimally due to funding constraints related to service services because there are still some things that are unclear so that the implementation of services is not optimal, which causes these services not to be included in JKN financing or supported by the program. Therefore, it is necessary to calculate the cost of contraceptive services appropriately and carefully with the aim of obtaining contraceptive service rates. Cost analysis that allocates production costs and overhead costs is known as the Activity Based Costing method. This method can evaluate costs appropriately by providing non-financial information in an effort to improve efficiency and effectiveness, can determine the total cost (total cost) and unit cost (unit cost) to perform activities. This study aims to calculate the total cost and unit cost per contraceptive service at the Kebayoran Lama sub-district health center family planning service. This study uses descriptive quantitative research design and literature review in accordance with existing data. The method used in calculating unit cost is Activity Based Costing (ABC). The results of this study are the unit cost of counseling amounting to Rp. 67,716, approval of health worker actions amounting to Rp. 61,459, installing IUDs amounting to Rp. 59,604, removing IUDs. .604, pull out the IUD by Rp. 61,588, birth control injections (Cyclo) by Rp. 205,610, birth control injections (Deppo) by Rp. 71,531, birth control pills by Rp. 133,220, install implants by RP.62,852, pull out implants by Rp.71,531, IUD control by Rp.59,674, and implant control by Rp.85,948. The conclusion of this study is that contraceptive service rates consisting of IUD insertion and removal and implant insertion and removal are still above unit cost, while counseling services, approval of health worker actions, IUD control, Implant control, and birth control injections can be used as input material to be set as contraceptive service rates.
Read More
S-11777
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chitra Wahyuliarti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianti Permansari, Sagita Muliasari
S-5962
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dimas Rangga Murlaseto; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Atik Nurwahyuni, Heru Susmono
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk Menggambarkan faktor-faktor terkait pelaksanaan rujukan PT Askes Cabang Jakarta Pusat di Puskesmas Kecamatan Senen dan Kecamatan Johar Baru Tahun 2012 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Selain itu ditelaah beberapa aspek yang terkait dengan ketersediaan dokter, ketersediaan obat-obatan, kelengkapan fasilitas alat kesehatan, pemahaman petugas kesehatan sebagai gate keeper dan pemahaman pasien peserta askes tentang rujukan dan rujuk balik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika ketersediaan obat dan kelengkapan fasilitas di puskemas kurang akan membuat kemungkinan pasien dirujuk ke PPK tingkat lanjut semakin besar, pengetahuan pasien akan layanan rujukan juga mempengaruhi keputusan pasien untuk dirujuk, semakin besar pengetahuan pasien, maka akan kecil kemungkinan pasien dirujuk dan sebaliknya semakin sedikit pengetahuan pasien, maka akan semakin besar pasien dirujuk.
 

The purpose of this study was to describe factors related to the implementation reference Askes Branch in Central Jakarta district health centers and sub-Johar Senen Year 2012 by using a qualitative approach. Moreover examined several aspects related to the availability of doctors, availability of drugs, medical devices complete facilities, understanding health as a gate keeper and patient understanding of participants askes about referral and refer back. The results of this study indicate that if the availability of drugs in health centers and complete facilities will make less likely the patient is referred to a greater PPK advanced, knowledge of patient referral service will also influence the decision to refer the patient, the greater the knowledge of the patient, the less likely the patient will be referred and conversely the less knowledge of the patient, the greater the patient is referred.
Read More
S-7729
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhini Marsela; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilisasi dan biaya pelayanan hipertensi serta faktor-faktor yang berhubungan pada peserta BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-analitik dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan periode Januari–Desember 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat untuk melihat hubungan antara karakteristik peserta, fasilitas pelayanan kesehatan, dan kondisi klinis dengan utilisasi serta biaya pelayanan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan hipertensi lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk tanpa rawat inap (65,2%) dibandingkan rawat inap (34,8%). Namun, median biaya pelayanan rawat inap per individu (Rp2,16 juta) jauh lebih tinggi dibandingkan pelayanan tanpa rawat inap (Rp198 ribu). Variabel wilayah FKRTL (p-value=0,000), tipe FKRTL (p-value=0,000), dan kondisi klinis (p-value=0,000) menunjukkan perbedaan biaya pelayanan hipertensi yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variasi utilisasi dan biaya pelayanan hipertensi dipengaruhi oleh karakteristik fasilitas pelayanan kesehatan, pola pemanfaatan layanan, dan kondisi klinis pasien. Pelayanan rawat inap menjadi kontributor utama pembiayaan hipertensi dalam sistem JKN.

This study aimed to analyze the utilization and healthcare costs of hypertension services, as well as the associated factors among BPJS Kesehatan participants at Advanced Referral Healthcare Facilities (FKRTL) in Indonesia in 2024. A descriptive-analytic study design with a quantitative approach was employed using BPJS Kesehatan claims data from January to December 2024. Univariate and bivariate analyses were conducted to examine the relationships between participant characteristics, healthcare facility characteristics, clinical conditions, and the utilization and costs of hypertension services. The results showed that hypertension services were utilized more frequently in non-inpatient care (65.2%) than inpatient care (34.8%). However, the median cost of inpatient care per individual (IDR 2.16 million) was substantially higher than that of non-inpatient care (IDR 198 thousand). FKRTL region (p-value=0.000), FKRTL type (p-value=0.000), and clinical condition (p-value=0.000) were significantly associated with differences in hypertension healthcare costs. This study concludes that variations in the utilization and costs of hypertension services are influenced by healthcare facility characteristics, healthcare utilization patterns, and patients’ clinical conditions. Inpatient care was identified as the main contributor to hypertension-related healthcare expenditures within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system.
Read More
S-12229
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Syaharani Tajuddin; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Pujiyanto, Wilda Alvernia Lumban Gaol
Abstrak:
Kasus katastropik menghabiskan 25% dari total biaya klaim BPJS Kesehatan dengan total biaya sebesar Rp20,0 triliun di tahun 2020, sementara penyakit kanker berada di posisi kedua dengan biaya terbesar Rp3,5 triliun. Penelitian ini menganalisis klaim biaya penyakit kanker peserta JKN yang berkunjung ke FKRTL dan faktor- faktor yang berhubungan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data sampel BPJS tahun 2022 yang berisi data kunjungan tahun 2021. Hasil penelitian mendapatkan bahwa proporsi terbesar pasien dengan penyakit kanker di FKRTL adalah kanker payudara (C50). Ditemukan bahwa rata-rata klaim kanker sebesar Rp358.865 per pasien rajal dan Rp11.200.000 pasien ranap. Biaya tinggi ditemui pada karakteristik pasien yang berusia ≥ 61 tahun, berjenis kelamin laki-laki, di regional 3, status telah menikah, dengan hari rawat tinggi, diagnosis C69-C72 (Kanker mata, otak, dan bagian lain dari sistem saraf pusat), severity level 2, di FKRTL milik TNI AL, dan kelas perawatan 1. Tingkat keparahan merupakan prediktor utama tingginya biaya penyakit kanker. Oleh karena itu, skrining dan deteksi dini perlu digencarkan terus untuk mengendalikan biaya penyakit kanker.

Catastrophic cases account for 25% of the total BPJS Kesehatan claim costs, with a total cost of IDR 20.0 trillion in 2020, while cancer ranks second with the highest cost of IDR 3.5 trillion. This study analyzes the cancer disease claim costs of JKN participants who visited FKRTL and the related factors. The study uses a cross-sectional design with BPJS sample data from 2022, which contains visit data from 2021. The results show that the largest proportion of patients with cancer at FKRTL is breast cancer (C50). It was found that the average cancer claim is IDR 358,865 per outpatient and IDR 11,200,000 per inpatient. High costs were found in patients aged ≥ 61 years, male, in region 3, married status, with high hospital stay days, diagnoses C69-C72 (eye, brain, and other parts of the central nervous system cancer), severity level 2, in FKRTL owned by the Indonesian Navy, and in class 1 care. Severity level is the main predictor of high cancer costs. Therefore, continuous screening and early detection are needed to control cancer costs.
Read More
S-11778
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Entin Awalurrokhmah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Dedy Revelino Siregar
Abstrak:
Latar Belakang: Pada Tahun 2019, penyakit jantung menduduki biaya katastropik pertama yaitu 49% pembiayaan kesehatan katastropik dengan 13 juta kasus penyakit jantung yang klaim biayanya mencapai Rp. 10,2 Triliun. Tujuan: Mengetahui biaya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit jantung iskemik di FKRTL dalam satu tahun. Metode: Desain studi cross-sectional dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Sampel penelitan yaitu peserta JKN dengan penyakit jantung iskemik berdasarkan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2019. Hasil: BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 2.881.282.021.336 (2,8 Triliun) untuk membayar klaim 324.964 peserta JKN dengan penyakit jantung iskemik pada Tahun 2019. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya jantung iskemik peserta JKN Tahun 2019 yaitu Usia, Jenis kelamin, Segmen kepesertaan, Kelas perawatan, Wilayah Kepesertaan, Tingkat keparahan kasus, Kunjungan FKTP, Kunjungan rawat jalan tingkat lanjut (RJTL), Kunjungan rawat inap tingkat lanjut (RITL), Jenis fasilitas tingkat pertama, Tipe fasilitas tingkat lanjut, Status kepemilikan fasilitas kesehatan, dan Wilayah FKRTL. Kesimpulan: Tingkat keparahan merupakan predictor yang dominan dalam biaya penyakit jantung iskemik.

Background: In 2019, heart disease occupies the first catastrophic cost, namely 49% of catastrophic health financing with 13 million cases of heart disease whose claim costs reach Rp. 10,2 Trillion. Objective: To find out the costs and factors associated with ischemic heart disease in FKRTL in one year. Methods: Cross-sectional study design with univariate, bivariate, and multivariate analysis. The research sample is JKN participants with ischemic heart disease based on the 2019 BPJS Health sample data. Results: BPJS Health spends a budget of Rp. 2,881,282,021,336 (2,8 Trillion) to pay claims for 324,964 JKN participants with ischemic heart disease in 2019. Factors related to ischemic heart costs for JKN participants in 2019 are age, gender, membership segment, treatment class, Participation Area, Case severity, Primary health care visits, Advanced outpatient visits, Advanced inpatient visits, Types of first level facilities, Types of advanced facilities, Health facility ownership status, and FKRTL Regions. Conclusion: Severity is the dominant predictor of ischemic heart disease cost.
Read More
S-11368
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Yuli Wulandari; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Yessi Kumalasari
Abstrak: Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan angka rujukan peserta selama bulan Januari-Maret 2015. Sampel adalah Puskesmas Cimanggis dengan angka rujukan tinggi dan Puskesmas Cipayung dengan angka rujukan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka rujukan dipengaruhi oleh kebijakan, ketersediaan obat, peralatan penunjang pelayanan kesehatan, pemahaman dokter tentang prosedur rujukan dan peran gatekeeper. Diagnosis penyakit yang banyak dirujuk di kedua puskesmas adalah penyakit jantung. Hal tersebut berhubungan dengan ketersediaan obat dan peralatan penunjang pelayanan kesehatan serta peran gatekeeper. Pasien penyakit jantung memerlukan tindakan promotif preventif serta kontrol rutin setiap bulan untuk pemeriksaan dan menebus obat di RS, sehingga mempengaruhi angka rujukan. Diharapkan BPJS Kesehatan untuk meningkatkan koordinasi dengan pihak Puskesmas dalam mengendalikan pelayanan rujukan. Kata Kunci: rujukan peserta JKN, puskesmas, BPJS This qualitative study aimed to analyze the factors associated with the referral of BPJS members during January until March 2015. Samples were Cimanggis and Cipayung health centers representing high and low referral cases respectively. The results showed that the referral numbers were influenced by the policy, availability of drugs, medical equipment, physician perceptionabout the referral procedure as well asthe role of gatekeeper. Heart disease was the diagnosis with the highest referral number in the sampled health centers. Factors were related to the availability of drugs, medical equipment as well as the role of gatekeeper. Patients with heart disease require preventive and promotive actions, regular controls, and monthly check up and drugs in hospitals, this has made increased referral numbers. It is expected that BPJS Kesehatan will improve coordination with the health center to manage the referral system. Key Words: referral, JKN, health center, BPJS
Read More
S-8625
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Kayla Ardani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:

Latar belakang: Penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TB), masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi dan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan. Komorbiditas seperti Diabetes Mellitus (DM) dan koinfeksi HIV memperburuk pengobatan TB, memperpanjang durasi terapi, serta meningkatkan beban biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan biaya rawat inap pada pasien TB dengan komorbid DM dan koinfeksi HIV di fasilitas kesehatan Indonesia, khususnya yang terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan: Mengetahui perbandingan biaya rawat inap pada layanan FKRTL peserta JKN penderita TB/DM dan TB/HIV di Indonesia selama satu tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi cross-sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Sampel penelitian ini adalah peserta dengan diagnosis primer TB yang memiliki diagnosis sekunder DM dan HIV pada pelayanan FKRTL. Hasil: Terdapat sebanyak 4.753 peserta RITL JKN tahun 2022. Dari total kunjungan, sebanyak 4.531 merupakan peserta komorbid TB/DM dan 232 peserta koinfeksi TB/HIV. Pada tahun 2022, BPJS Kesehatan membayarkan sebesar Rp28,8 miliar untuk peserta RITL komorbid TB/DM dan Rp3,1 miliar untuk peserta RITL koinfeksi TB/HIV. Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya komorbid TB/DM pada kunjungan RITL peserta JKN 2022 adalah umur, hak kelas rawat, segmen kepesertaan, dan rujukan FKTP. Sedangkan, faktor-faktor yang beruhubungan dengan biaya koinfeksi pada kunjungan RITL pada kunjungan peserta JKN 2022 adalah jenis kelamin, umur, hak kelas rawat, dan segmen kepesertaan.


Background: Infectious diseases, particularly Tuberculosis (TB), remain a major challenge in Indonesia, with high prevalence and significant impact on the healthcare system. Comorbidities such as Diabetes Mellitus (DM) and HIV coinfection worsen TB treatment, prolong therapy duration, and increase healthcare costs. This study aims to analyze the comparison of inpatient costs for TB patients with comorbid DM and HIV coinfection in Indonesian healthcare facilities, specifically those enrolled in the National Health Insurance (JKN) program. Objective: To determine the comparison of inpatient costs for JKN FKRTL services for TB/DM and TB/HIV patients in Indonesia over the course of one year. Method: This study employs a quantitative approach with a cross-sectional design using BPJS Health sample data from 2023. The research sample includes participants with a primary TB diagnosis and secondary diagnoses of DM and HIV in FKRTL services. Results: There were 4,753 JKN inpatient participants in 2022. Of these, 4,531 were TB/DM comorbid patients, and 232 were TB/HIV coinfected patients. In 2022, BPJS Health paid Rp28.8 billion for TB/DM comorbid patients and Rp3.1 billion for TB/HIV coinfected patients. Conclusion: Factors related to the cost of TB/DM comorbidity for JKN inpatient visits in 2022 include age, inpatient class entitlement, membership segment, and FKTP referral. Meanwhile, factors related to the cost of coinfection for JKN inpatient visits in 2022 include gender, age, inpatient class entitlement, and membership segment.

Read More
S-11835
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive