Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21143 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dianne Parisia S; Pembimbing: Nasrin Kodim; penguji: Nurhayati Prihartono, Renti Mahkota, Felly P Senewe, Dedi Sofyan
Abstrak:

ABSTRAK

Merokok merupakan penyebab dari sejumlah penyakit kronis, selain terbuktimenjadi faktor penyebab berbagai penyakit, juga dikaitkan dengan berbagaiperubahan yang merugikan di dalam rongga mulut. Merokok juga berhubungandengan derajat keparahan karies, meskipun hal ini masih diperdebatkan, dimanaprevalensi karies di Indonesia cukup tinggi yaitu sebesar 43,3% (Riskesdas 2007).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rokok terhadap keparahan kariesdan apakah keparahan karies dapat digunakan sebagai deteksi awal penyakit kronisakibat merokok. Disain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional.Data dianalisis dengan analisis univariat, bivariat dan analisis multivariat dengan ujiregresi logistik. Populasi adalah laki-laki dan perempuan usia 35-65 tahun dariRiskesdas 2007 dengan jumlah sampel 310.858. Hasil penelitian diperoleh prevalensikaries gigi usia 35-65 tahun sebesar 86,6% dan prevalensi keparahan karies gigi padausia 35-65 tahun sebesar 33,6%. Merokok berhubungan dengan keparahan kariessetelah dikontrol variabel lainnya. Hasil uji diagnostik didapatkan derajat keparahankaries (DMF-T) mempunyai kekuatan nilai diagnostik yang lemah terhadap penyakitpenyakitkronis akibat merokok. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut denganmenggunakan data yang lebih spesifik.


 

ABSTRACT

Smoking is the cause of a number of chronic diseases, in addition to proveninto the causes of various diseases, are also associated with variousadverse changes in the oral cavity. Smoking is also associatedthe degree of severity of caries, although this is still debated, wherecaries prevalence in Indonesia is quite high at 43.3% (Riskesdas 2007).This study aimed to determine the effect of smoking on the severity of cariesand whether the severity of caries can be used as an early detection of chronic diseasedue to smoking. Design used in this study is cross-sectional.Data were analyzed by univariate, bivariate and multivariate analyzes to testlogistic regression. Population were men and women aged 35-65 years fromRiskesdas 2007 with a sample size of 310 858. The results obtained prevalencedental caries aged 35-65 years of 86.6% and the prevalence of dental caries severity inaged 35-65 years was 33.6%. Smoking is associated with caries severityafter other variables are controlled. Diagnostic test results obtained degrees of severitycaries (DMF-T) has the power of the weak diagnostic value for penyakitpenyakitChronic effects of smoking. Further research needs to be done withusing more specific data.

Read More
T-3995
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Soetiarto; Pembimbing: Bambang Sutrisna, Tri Budi W.Rahardjo
D-79
Depok : FKM UI, 2003
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Indah Palupi Nugrahari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal, Sherli Karolina, Hidayat Nuh Ghazali Djajauli
Abstrak: COVID-19 telah menginfeksi ratusan juta orang dan menyebabkan kematian jutaan orang di seluruh dunia. Vaksinasi diharapkan dapat mengurangi insiden penyakit, tingkat mortalitas, maupun keparahan penyakit. Sehingga peneliti ingin mengetahui seberapa besar efek vaksinasi dalam melindungi pasien COVID-19 terhadap penyakit COVID-19 yang berat dan kematian COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang menggunakan data dari database NAR COVID-19 dan Dashboard KPCPEN Dinkes Kota Depok mulai tanggal 8 Mei 2020 hingga 20 Februari 2023 yang dianalisis menggunakan regresi logistik. Peneliti menemukan bahwa kelompok usia terbesar adalah usia 31-45 tahun (26,54%) dan terkecil adalah usia ≥ 60 tahun (10,97%). Populasi perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki (53,36% vs 46,64%). Kemudian hanya 6.41% orang bekerja sebagai petugas kesehatan. Jumlah orang yang tidak divaksin lebih banyak dibandingkan orang yang divaksin (52,58% vs. 47,42%). Dibandingkan dengan pasien COVID-19 yang tidak divaksinasi, pasien yang divaksin mengalami penurunan risiko dirawat sebesar 45% (periode 1), 43,3% (periode 2), dan 24% (periode 3). Kemudian pasien COVID-19 yang divaksinasi mengalami penurunan risiko mortalitas sebesar 35% (periode 1), 90% (periode 2), dan 33% (periode 3). Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa vaksinasi COVID-19 menurunkan risiko dirawat di RS dan mortalitas pasien COVID-19 pada ketiga periode sakit.
COVID-19 has infected and caused the deaths of millions of people in the world. And vaccination is expected to reduce the incidence, mortality, and severity of the disease. The objective of this research is to discover the effects of COVID-19 vaccination against severe disease and death of COVID-19. This was a retrospective cohort research that utilized data from the COVID-19 NAR database and the Depok City Health Department KPCPEN Dashboard from Mei 8, 2020 to February 20, 2023, and was analysed using logistic regression. We discovered that the largest age group were patients between ages 31-45 years (26.54%) and the smallest was ≥ 60 years (10.97%). There were more female patients than men (53.36% vs. 46.64%). Only 6.41% of patients were healthcare workers, and more patients were unvaccinated than vaccinated (52.58% vs. 47.42%). Compared to the unvaccinated patients, the vaccinated patients experienced a risk reduction of 45% in period 1, 43.3% in period 2, and 24% in period 3. Vaccinated patients also experienced a risk reduction for mortality of 35% in period 1, 90% in period 2, and 33% in period 3. Therefore, we conclude that COVID-19 vaccination reduces the hospitalization and mortality risks for COVID-19 patients in all 3 periods.
Read More
T-6850
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Isra Rinda Siregar; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Rizka Maulida, Sekar Astrika Fardani
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit utama dan masih menjadi beban kesehatan besar di Indonesia, terutama akibat tingginya perilaku merokok dan paparan asap rokok yang melebihi rata-rata global. Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) telah diterapkan secara nasional, tetapi pelaksanaannya belum merata sehingga efektivitas pengendalian rokok antarwilayah bervariasi. Pulau Jawa memiliki tingkat konsumsi rokok tinggi, perbedaan kekuatan implementasi KTR, serta variasi karakteristik penduduk yang berpotensi memengaruhi risiko PPOK. Penelitian ini bertujuan menggambarkan dan mengetahui korelasi antara tingkat konsumsi rokok (pack-years), skor implementasi KTR, rasio jenis kelamin, dan tingkat melek huruf dengan proporsi penduduk berisiko PPOK di tujuh wilayah Pulau Jawa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis kabupaten/kota dengan total sampling (n = 7) berdasarkan data Uji Coba Deteksi Dini PPOK 2022, dashboard Implementasi KTR, dan publikasi BPS. Analisis dilakukan secara deskriptif sederhana dan uji korelasi Spearman untuk menilai hubungan antara variabel independen dan proporsi penduduk berisiko PPOK usia ≥40 tahun. Hasil: Proporsi penduduk berisiko PPOK berkisar 0,6–6,3 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata 2,8 (95% CI = 1,28–4,40). Rata-rata pack-years adalah 30,8 (95% CI = 21,01–40,39), skor implementasi KTR 33,1 (95% CI = 14,36–51,08), rasio jenis kelamin 96,3 (95% CI = 94,50–97,77), dan tingkat melek huruf 96,7 (95% CI = 94,67–98,57). Hasil uji Spearman menunjukkan tidak ada variabel yang berhubungan signifikan dengan risiko PPOK: pack-years (r = 0,036; p = 0,939), skor KTR (r = –0,179; p = 0,702), rasio jenis kelamin (r = –0,607; p = 0,148), dan tingkat melek huruf (r = 0,214; p = 0,645). Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan antara pack-years, skor KTR, rasio jenis kelamin, maupun tingkat melek huruf dengan proporsi penduduk berisiko PPOK di Pulau Jawa. Temuan ini menunjukkan bahwa variasi risiko PPOK kemungkinan dipengaruhi faktor lain di luar variabel yang diteliti.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) remains a major disease and a substantial public health burden in Indonesia, primarily due to high smoking prevalence and exposure to tobacco smoke exceeding the global average. Smoke-Free Area (SFA) policies have been implemented nationally, however, their enforcement has been uneven, resulting in regional variation in the effectiveness of tobacco control. Java Island exhibits high levels of cigarette consumption, differences in the strength of SFA implementation, and diverse population characteristics that may influence the risk of COPD. This study aimed to describe and examine the correlation between smoking consumption level (pack-years), SFA implementation score, sex ratio, and literacy rate with the proportion of the population at risk of COPD across seven regions of Java Island. Methods: This study employed an ecological study design with districts/cities as the units of analysis, using total sampling (n = 7). Data were obtained from the 2022 COPD Early Detection Pilot Program, the SFA Implementation Dashboard, and publications from Statistics Indonesia (BPS). Analyses included simple descriptive statistics and Spearman’s correlation test to assess the associations between independent variables and the proportion of the population aged ≥40 years at risk of COPD. Results: The proportion of the population at risk of COPD ranged from 0.6 to 6.3 per 100,000 population, with a mean of 2.8 (95% CI: 1.28–4.40). The mean pack-years was 30.8 (95% CI: 21.01–40.39), the mean SFA implementation score was 33.1 (95% CI: 14.36–51.08), the mean sex ratio was 96.3 (95% CI: 94.50–97.77), and the mean literacy rate was 96.7 (95% CI: 94.67–98.57). Spearman’s correlation analysis indicated no statistically significant associations between any variables and the risk of COPD: pack-years (r = 0.036; p = 0.939), SFA implementation score (r = −0.179; p = 0.702), sex ratio (r = −0.607; p = 0.148), and literacy rate (r = 0.214; p = 0.645). Conclusion: No significant associations were found between pack-years, SFA implementation score, sex ratio, or literacy rate and the proportion of the population at risk of COPD on Java Island. These findings suggest that variations in COPD risk are likely influenced by other factors beyond those examined in this study.
Read More
S-12155
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Reyna Ardisa Gunawan; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global yang dapat menimbulkan beban mortalitas dan morbiditas yang substansial. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah pasien PGK tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang lebih tinggi dari nasional, yaitu 0,48%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥35 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder dari Riskesdas 2018. Sampel penelitian ini adalah seluruh penduduk usia ≥35 tahun di Provinsi Jawa Barat. Terdapat sebanyak 32.044 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥35 tahun di Provinsi Jawa Barat adalah 0,6%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronis adalah usia ≥60 tahun (nilai p=0,001; POR=1,662; 95% CI: 1,23-2,25), jenis kelamin laki-laki (nilai p=0,013; POR=1,431; 95% CI: 1,08-1,89), diabetes (nilai p=0,000; POR=3,770; 95% CI: 2,39-5,96), penyakit jantung (nilai p=0,000; POR=2,725; 95% CI: 1,60-4,63), dan aktivitas fisik (nilai p=0,015; POR=1,521; 95% CI: 1,08-2,14).

Chronic kidney disease is a global health problem that can cause a substantial burden of mortality and morbidity. The 2018 Riskesdas results show that West Java Province is one of the provinces with the highest number of CKD patients in Indonesia, with a higher prevalence than the national one, which is 0.48%. This study aims to determine the factors associated with the incidence of chronic kidney disease in people ages ≥35 years in West Java Province. The research was conducted using a cross-sectional study design using secondary data from the 2018 Riskesdas. The sample for this study was all residents ages ≥35 years in West Java Province. There were 32.044 samples that met the inclusion and exclusion criteria of the study. The results showed that the prevalence of chronic kidney disease in people ages ≥35 years in West Java Province was 0.6%. Factors associated with the incidence of chronic kidney disease were age ≥60 years (p-value=0.001; POR=1.662; 95% CI: 1.23-2.25), male gender (p-value=0.013; POR =1.431; 95% CI: 1.08-1.89), diabetes (p-value=0.000; POR=3.770; 95% CI: 2.39-5.96), heart disease (p-value=0.000; POR=2.725; 95% CI: 1.60-4.63), and physical activity (p-value=0.015; POR=1.521; 95% CI: 1.08-2.14).
Read More
S-11248
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Septiani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Teguh Tri Kuncoro
Abstrak: Penyakit ginjal kronis merupakan masalah yang cukup serius baik di dunia maupun di Indonesia. Prevalensi penderita penyakit ginjal kronis di dunia tahun 2017 mencapai 9,1 % berdasarkan populasi. Sedangkan di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,2%. Di Jawa Tengah pada tahun 2013-2018 mengalami kenaikan prevalensi sebesar 0,12%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penyakit ginjal kronis pada lansia di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah nested case control.Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah Riskesdas 2018. Sebanyak 67 responden termasuk ke dalam kelompok kasus dan 201 responden termasuk ke dalam kelompok kontrol. Berdasarkan analisis didapatkan bahwa responden yang menderita diabetes mellitus terdapat 6%, hipertensi 32,8%, dan obesitas 15,3%, memiliki perilaku merokok 44,8% , memiliki aktivitas fisik buruk 31%, memiliki tingkat pendidikan rendah 87,3%, dan berjenis kelamin perempuan 45,5%. Diabetes mellitus yang memiliki hubungan signifikan dengan OR sebesar 3,27 dengan 95%CI (1,18~9,09). Untuk itu, penting dilaksanakannya deteksi dini mengenai Diabetes Mellitus dan Penyakit Ginjal Kronis dengan menambahkan tes dipstik urin pada program Posbindu PTM. Sedangkan, lansia yang menderita diabetes mellitus diharapkan untuk melakukan tes fungsi ginjal minimal setahun sekali. Selain itu, promosi kesehatan mengenai hidup sehat perlu ditingkatkan kembali
Chronic kidney disease is a serious problem both in the world and in Indonesia. The prevalence of chronic kidney disease sufferers in the world in 2017 reached 9.1% based on population. While in Indonesia in 2013 it was 0.2%. In Central Java in 2013-2018 there was an increase in prevalence of 0.12%. This study aims to determine the risk factors for chronic kidney disease in the elderly in Central Java. The method used in this study is Universitas Indonesia viii nested case control. The data source used in this study is Riskesdas 2018. A total of 67 respondents belong to the case group and 201 respondents belong to the control group. Based on the analysis, it was found that 6% of respondents who suffer from diabetes mellitus, 32.8% hypertension, and 15.3% obesity, have smoking behavior 44.8%, have poor physical activity 31%, have a low level of education 87.3%, and 45.5% female. Diabetes mellitus had a significant relationship with the OR of 3.27 with 95% CI (1.18~9.09). For this reason, it is important to carry out early detection of Diabetes Mellitus and Chronic Kidney Disease by adding a urine dipstick test to the PTM Posbindu program. Meanwhile, the elderly who suffer from diabetes mellitus are advised to have a kidney function test at least once a year. In addition, health promotion regarding healthy living needs to be improved again
Read More
S-10923
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saila Hadayna; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota,Khristin Ferrosnita
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menyumbang kenaikan angka morbiditas, mortalitas, beban biaya kesehatan, dan masalah kesehatan lainnya. Menurut Riskesdas 2018, prevalensi PGK di Indonesia mencapai 0,38% dan mengalami peningkatan 0,2% dibandingkan tahun 2013. PGK juga merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia berdasarkan data Global Burden of Disease tahun 2019. Meningkatnya insiden penyakit ginjal kronis turut mempengaruhi peningkatan jumlah pasien yang menjalani hemodialisis sebagai terapi pengganti fungsi ginjal untuk bertahan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan hidup pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RS Krakatau Medika tahun 2019-2021. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien PGK yang menjalani hemodialisis di RS Krakatau Medika Tahun 2019-2021. Data pasien yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, riwayat keluarga PGK, komorbid hipertensi, komorbid diabetes melitus, dan komorbid kardiovaskular. Analisis data menggunakan analisis survival dengan metode Kaplan-Meier dan Regresi Cox. Dari studi ini diketahui sebanyak 216 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan 84 pasien telah meninggal dan 132 pasien adalah sensor. Probabilitas ketahanan hidup satu, dua, dan tiga tahun pasien PGK yang menjalani hemodialisis sebesar 58%, 43%, dan 36%. Terdapat perbedaan yang signifikan pada ketahanan hidup pasien berdasarkan usia, komorbid hipertensi, dan komorbid diabetes melitus (log rank test, p<0,05). Hasil analisis regresi cox menunjukkan usia (HR=2,28, 95% CI 1,444—3,588, p<0,001) dan komorbid hipertensi (HR=0,40, 95% CI 0,245—0,668 p<0,001) mempengaruhi ketahanan hidup pasien. Usia dan komorbid hipertensi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap ketahanan hidup pasien. Pasien PGK yang menjalani hemodialisis pada usia ≥ 55 tahun dan tidak terdapat komorbid hipertensi memiliki ketahanan hidup yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan usia

Chronic kidney disease (CKD) is a global public health issue that contributes to rising morbidity, mortality, health costs, and other health issues. According to Riskedas 2018, the prevalence of CKD in Indonesia was 0.38% and increase by 0.2% compared to 2013. CKD is also the third leading cause of death in Indonesia based on Global Burden of Disease data 2019. The rising insidences of chronic kidney disease also affects the increasing number of patients undergoing hemodialysis as a replacement therapy for kidney function to survive. This study aims to identify the factors that affect the survival of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at Krakatau Medika Hospital in 2019-2021. The design of this study was a retrospective cohort using secondary data from the medical records of CKD patients undergoing hemodialysis at Krakatau Medika Hospital in 2019–2021. Age, gender, family history of CKD, comorbidities for hypertension, diabetes mellitus, and cardiovascular were among patient data collected. Data analysis used survival analysis with the Kaplan-Meier method and Cox regression. From this study, there were 216 samples met the inclusion and exclusion criteria with 84 patients had died and 132 patients were censored. The probability of one, two, and three-year survival of CKD patients undergoing hemodialysis were 58%, 43%, and 36%, respectively. There were significant differences in patient survival based on age, comorbid hypertension, and comorbid diabetes mellitus (log-rank test, p<0.05). The results of the Cox regression analysis showed that age (HR = 2.28, 95% CI: 1.444–3.588, p<0.001) and comorbid hypertension (HR = 0.40, 95% CI: 0.245–0.668, p<0.001) affected patient survival. The most significant factors affecting patient survival are age and comorbid hypertension. Patients with CKD undergoing hemodialysis at the age of ≥ 55 years old and no comorbid hypertension have lower survival rates than patients with age < 55 years old and comorbid hypertension. It is expected to increase the role of family and health workers in providing emotional support and monitoring of patients during hemodialysis care management especially in patients who are elderly, have comorbid hypertension, and comorbid diabetes melitus.
Read More
S-11191
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Omry Pakpahan; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Mondasrti Korib Sudaryo, Yovsyah, Inneke, Novianto
Abstrak:

Penyakit gigi berlubang (caries) merupakan penyakit gigi yang masih banyak ditemukan di masyarakat. Terjadinya penyakit ini disebabkan banyak faktor dimana waktu sikat gigi yang tidak sesuai merupakan faktar resiko untuk terjadinya karies gigi.

WHO menetapkan indeks DMF-T sebagai indeks yang mengukur tingkat keparahan karies dimana kriteria pengukuran dilakukan pada kelompok anak berumur 12 tahun. Adapun target berdasarkan (Dit.Kes.Gi.'2000) bahwa indeks DMF-T sampai tahun 2010 secara Nasional kurang dari 2 dan WHO kurang dari 1

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode desain potong lintang (crass sectional) di mana tujuannya untuk mengetahui hubungan waktu sikat gigi dengan tingkat keparahan karies. Populasi penelitian adalah seluruh murid sekolah dasar kelas 4 dan 5 di kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat dan sampel yang diambil sebanyak 259 orang dengan menggunakan sampling secara sistematik random.

Berdasarkan hasil statistik diperoleh tidak ada hubungan bermakna ( nilai p > 0,05) dan OR sebesar 270 ( 95% CI = 0,9 - 4,3 ). Dianggap perlu untuk melakukan penelitian dengan menggunakan metode kohort.

Daftar bacaan : 55 (1978 - 2002)

Read More
T-1396
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Damayanti Simanjuntak; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Esti Widiastuti, Eva Sulistiowati
Abstrak:
Prevalensi diabetes meningkat pesat terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, salah satunya Indonesia. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur menurut provinsi mencapai 1,5%. Tingkat kejadian penyakit ginjal pada populasi diabetes tidak menurun. Beberapa penelitian cross-sectional besar di dunia mengungkapkan bahwa prevalensi penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes tipe 2 bahkan mencapai 50%. Lama menderita diabetes merupakan salah satu faktor risiko penyakit ginjal kronis yang perlu dipertimbangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama menderita diabetes dengan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari survei Riskesdas tahun 2018. Jumlah sampel 639 orang, yaitu memenuhi kriterian inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Analisis yang digunakan cox regression. Prevalensi penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia sebesar 17,68%. Terdapat hubungan lama menderita diabetes dengan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia yang bermakna signifikan secara statistik dengan p=0,0000. Perlu dilakukan deteksi diabetes melitus tipe 2 sedini mungkin dan skrining fungsi ginjal secara rutin sejak didiagnosa diabetes melitus tipe 2 oleh dokter.

Prevalence diabetes is increasing rapidly especially in low and middle- income countries, one of which is Indonesia. Based on Riskesdas in 2018, the prevalence of diabetes mellitus based on the diagnosis of doctors in the population of all ages by province reaches 1,5%. The incidence rate of kidney disease in the diabetic population does not decrease. Some large cross-sectional studies in the world reveal that the prevalence of chronic kidney disease in people with type 2 diabetes even reaches 50%. Duration suffering diabetes is a risk factor for chronic kidney disease that needs to be considered. This study aims to determine the relationship duration suffering from diabetes with chronic kidney disease in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. This type of research is quantitative, with cross-sectional study design. This study uses secondary data from the 2018 Riskesdas survey. The number of samples was 639 people, who met the inclusion and exclusion criteria in this study. The analysis used cox regression The prevalence of chronic kidney disease in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia is 17.68%. There was a relationship duration suffering diabetes with chronic kidney disease in patient type 2 diabetes mellitus in Indonesia which is statistically significant with p = 0.0000. So, important to screening mass type 2 diabetes mellitus as early as possible and routine screening kidney function since type 2 diabetes mellitus diagnose by a doctor.

Read More
T-5840
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iwany Amalliah Badruddin; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Nurhayati Adnan, Magdarina D Agtini, Dede Anwar Musadad
Abstrak: Karies gigi merupakan masalah kesehatan global dan penyakit gigi paling tinggi prevalensinya. Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan pola konsumsi adalah salah satu etiologi karies gigi. Tujuan penelitian adalah mendapatkan nilai besar risiko karies gigi dan perilaku kesehatan gigi. Disain studi cross-sectional menggunakan data Riskesdas 2013. Jumlah sampel 5.496 anak usia 12 tahun. Prevalensi karies adalah 50,4%. Besar risiko anak yang memiliki kombinasi kedua perilaku tidak baik, adalah 1,99 kali (95% CI: 1,20-3,30) untuk mendapat karies dibanding anak dengan kombinasi perilaku baik. Sedangkan risiko anak yang memiliki kebiasaan menyikat gigi tidak pada waktu yang benar sebesar 1,75 kali (1,06-2,87), dan anak yang memiliki kebiasaan makan manis sering sebesar 1,27 kali (95% CI: 0,53-3,02) untuk mendapat karies. Untuk menurunkan angka kejadian karies gigi, diharapkan masyarakat dan pemerintah dapat bersama-sama aktif membentuk perilaku kesehatan gigi yang baik melalui program-program promosi kesehatan dan pencegahan penyakit gigi. Kata kunci: pengalaman karies gigi, perilaku kesehatan gigi, Riskesdas 2013
Read More
T-4484
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive