Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Lestari; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Triyanti, Kusharisupeni Djokosojono, Televisianingsih Dwi Ketjana; Tiara Luthfie
Abstrak: Severe wasting merupakan salah satu permasalahan gizi pada tingkat global, Asia maupun di Indonesia termasuk di Kota Tangerang. Berdasarkan Data Riskesdas Tahun 2018 balita severe wasting di Indonesia sebesar 3,5%, Provinsi Banten 4,58%, sedangkan Kota Tangerang lebih tinggi dibanding Indonesia dan Provinsi Banten yaitu sebesar 4,84%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan severe wasting pada balita 6-59 bulan di Kota Tangerang Tahun 2019. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain kasus kontrol. Total sampel sebanyak 108 balita (kasus 36 balita, kontrol 72 balita). Analisis statistik yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dengan chi square dan multivariat dengan analisis regresi logistik. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2019 di 13 Kecamatan di Kota Tangerang. Hasil analisis bivariat adalah secara statistik tidak ada hubungan antara asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan protein, ASI eksklusif, keberagaman makanan, status imunisasi, perilaku mencuci tangan, kunjungan posyandu, tingkat pendidikan dan penghasialan orang tua dengan severe wasting, tapi terdapat hubungan antara penyakit infeksi dengan severe wasting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa penyakit infeksi berhubungan signifikan dengan severe wasting.
Read More
T-5629
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Apriliya Roza Werdani; Pembimbing; Diah Mulyawati Utari; Penguji: Triyanti; Kusharisupendi Djokosujono, Kusnandi; Tiara Luthfie
Abstrak: Kekurangan gizi merupakan salah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan oleh asupan makanan yang tidak adekuat dan penyakit infeksi yang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kekurangan gizi (wasting) pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Kekurangan gizi (wasting) diukur menggunakan indikator berat badan menurut panjang badan (BB/PB). Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran antropometri (berat badan dan panjang badan) dan wawancara kuesioner dengan responden (ibu dari subjek penelitian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 17,0% anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang mengalami kekurangan gizi (wasting). Dari 153 anak usia 6-23 bulan, 44,4% mengalami infeksi saluran pernapasan akut dan/atau diare dalam 2 minggu terakhir, 47,7% tidak ASI eksklusif, 43,1% tidak mencapai minimum dietary diversity, 52,9% tidak mencapai minimum acceptable diet, 32,0% mengalami defisit asupan energi, dan 52,9% defisit asupan protein. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa penyakit infeksi (p-value =0,032) dan asupan energi (p-value =0,017) berhubungan signifikan dengan kekurangan gizi (wasting). Uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa asupan energi merupakan faktor dominan kekurangan gizi (wasting) pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang tahun 2019 (OR=5,616; 95% CI : 1,193-26,438). Peneliti menyarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang untuk melakukan upaya penanggulangan penyakit infeksi, serta peningkatan capaian praktik ASI dan makanan pendamping ASI guna menunjang status gizi anak usia di bawah dua tahun di Kabupaten Tangerang.
Read More
T-5553
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Reno Monalisa; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Asih Setiarini, Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati, Tiara Luthfie
Abstrak: Pemberian MP-ASI yang berkualitas merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah stunting. Pemberian MP-ASI yang tidak berkualitas , memiliki efek buruk pada kesehatan dan pertumbuhan anak serta meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. MAD merupakan salah satu indikator penilaian MP-ASI, namun pada kenyataannya masih banyak anak dengan MAD tercapai yang dengan stunting. Tujuan Penelitian ini untuk mendapatkan gambaran kualitas pemberian MP-ASI pada anak stunting usia 6-23 bulan dengan Minimum Acceptable Diet (MAD) tercapai. Metode penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus, pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi, informan utama adalah 6 ibu yang memiliki anak balita stunting usia 6-23 bulan yang MAD tercapai, serta 17 orang informan penting yang terdiri dari anggota keluarga lain, kader Posyandu, penjual bubur MP-ASI/makanan matang dan petugas gizi Puskesmas. Penelitian dilakukan di 4 Kelurahan Jakarta Pusat pada bulan Februari-Maret 2020. Hasil penelitian yaitu MP-ASI dengan indikator MAD tercapai namun kualitasnya belum baik karena tidak memenuhi AKG anak, pengetahuan ibu terkait MP-ASI cukup baik, tidak ada kepercayaan makanan tabu , sebagian besar ibu membeli bubur MP-ASI dan makanan matang untuk MP-ASI anak, sumber rujukan utama ibu dalam praktek pemberian MP-ASI adalah buku KIA, tidak ada hambatan trasnpostasi dalam mendapatkan bahan makanan, penghasilan suami yang tidak tetap menjadi hambatan dalam membeli MP-ASI. . Disarankan agar Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Pusat: melakukan Inovasi pembuatan aplikasi mobile, meningkatkan kegiatan penyegaran (refreshing) dan inovasi kegiatan sosialisasi MP-ASI , melakukan kegiatan inovasi dengan membentuk kelompok pendukung MP-ASI berkualitas, melakukan pembinaan, pemantauan ,penilaian dan menerbitkan sertifikat laik hygiene sanitasi jasaboga pada penjual bubur MP- ASI dan makanan matang.

Quality of complementary feeding practices is an effort to overcome stunting. Giving a poor quality complementary feeding ptactices, have a bad effect on child‟s health and growth. Minimum Acceptable Diet (MAD) is one of the indicators of complementary feeding assessment. This study was to represent the relationship between complementary feeding practices with stunting using MAD requirements. Qualitative research is conduct with case studies, data collection by in-depth interviews, and observations. Six mothers are the main respondent. The study was conducted in 4 Central Jakarta Sub-districts in February-March 2020. The results of the study are complementary feeding practices with poor quality. Maternal knowledge related to complementary feeding practices is quite, there is no belief in taboo, most of the mother buy complementary feeding. The basic references are mother and children healthcare handbook. From the results, there are no obstacles to get the food; the husband's income does not an resistance in buying complementary feeding. The conclusion of this study complementary feeding practices with poor quality.

 

Read More
T-5842
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syabilila Indraswari; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Triyanti, Anies Irawati, Tiara Luthfie
Abstrak: Kebutuhan zat besi pada remaja meningkat terkait dengan percepatan pertumbuhan, dan kehilangan darah karena menstruasi. Santri remaja putri rentan terkena anemia karena pola hidup pesantren yang jauh dari orang tua serta kegiatan yang cenderung padat sehingga membuat pola makan tidak teratur dan kurangnya asupan zat gizi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan antara suplementasi tablet Fe mingguan dan suplementasi tablet Fe mingguan ditambah harian saat menstruasi selama 8 minggu. Penelitian ini menggunakan Disain Quasi Eksperimental The Non Equivalent Control Group. Responden penelitian ini sebanyak 38 orang dimana 18 orang menerima suplementasi mingguan dan 20 orang menerima suplementasi mingguan ditambah setiap hari saat menstruasi. Pengukuran data pengetahuan, menstruasi, status gizi, pola konsumsi inhibitor, enhancer dan protein hewani dilakukan sebelum intervensi, data suplementasi diukur setelah intervensi dan data kadar hemoglobin diukur saat sebelum dan sesudah intervensi. Terjadi kenaikan kadar hemoglobin pada kedua kelompok setelah intervensi selama 8 minggu (kelompok 1 p=0,0005, perlakuan 2 p=0,0005). Kenaikan tersebut tidak berbeda antara kelompok perlakuan pertama dan kedua (p=0,797). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa suplementasi 8 minggu dengan tingkat kepatuhan konsumsi yang tinggi sudah cukup untuk menaikkan kadar hemoglobin darah. Selain itu faktor yang mempengaruhi peningkatan hemoglobin darah adalah konsumsi protein hewani, konsumsi inhibitor, konsumsi enhancer, lama menstruasi, pengetahuan, dan jenis program suplementasi tabet besi dimana faktor yang paling dominan adalah konsumsi protein hewani.

Female adolescent student in boarding school are vulnerable in having anemia because pesantren’s life style is full of activicities and the students is far from their parents its causes irregular eating habit and lack of nutrition in their meals. This research compared the differences of haemoglobin level after weekly Fe tablet supplementation and weekly Fe tablet plus daily during menstruation Fe supplementation for 8 weeks. This study uses the Quasi Experimental Design The Non Equivalent Control Group. A total of 38 respondents participaten in this study 18 of them received a weekly Fe tablet Supplementation, 20 other respondents got a Fe tablet weekly plus daily during their  menstruation cycle. There was a significant increase of haemoglobin level in both groups after the intervention for 8 weeks (group 1 p = 0.0005, group 2 p = 0.0005). This increase did not significant between the first and second group (p = 0.797). This study prove that 8 weeks of supplementation of Fe tablets with the high level of obedience in consuming the supplement is adequate in increasing the level of hemoglobin. The factors that can affects the increased number of hemoglobin are consumption of animal protein, consumption of inhibitors, consumption of enhancers, long menstruation cycle, knowledge, and the type of Fe tabet supplementation program.
Read More
T-5850
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aniza Rizky Aprilya Sirait; Pembimbing: Endang L. Achadi;Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Praktik MP-ASI yang buruk dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak-anak.Minimum dietary diversity (MDD) merupakan salah satu penentu status gizi anak dantelah ditemukan dapat memprediksi terjadinya stunting. Penelitian ini membahasmengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian MDD pada anak yang diberiASI usia 6-23 bulan berdasarkan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan ujiChi-square dan uji regresi logistik ganda untuk menganalisis 2.976 sampel WUS.Terdapat 52,8% anak yang diberi ASI usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2017 telahmengonsumsi setidaknya lima dari delapan kelompok makanan. Namun, masih terdapat47,2% anak yang belum memenuhi capaian MDD tersebut. Usia anak, pendidikan ibu,status bekerja ibu, akses terhadap media, kekayaan rumah tangga, dan pendidikan ayah,peran ayah, kunjungan ANC, penolong persalinan, tempat persalinan, dan wilayah tempattinggal ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan capaian MDD anak.Namun, hanya usia anak, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, kekayaan rumahtangga, peran ayah, penolong persalinan, dan wilayah tempat tinggal yang lolos kepemodelan multivariat akhir yang mempengaruhi capaian MDD. Faktor dominan yangmempengaruhi capaian MDD anak adalah usia anak 6-11 bulan. Anak yang berusia 18-23 bulan berpeluang mengonsumsi lima atau lebih kelompok makanan sebesar 5,8 kalilebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia di bawah 6-11 bulan. Masih terdapatseparuh anak Indonesia belum memenuhi capaian MDD. Perlu adanya intervensi di masamendatang yang menargetkan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil melalui programpeningkatan kesadaran untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dengan memberikandiet yang lebih beragam sejak awal diperkenalkan makanan.
Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; minimum dietary diversity; MP-ASI; SDKI 2017.
Read More
S-10502
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabila Ainaya Agrenanda; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan suplementasi zat besi pada ibu selama kehamilan terhadap berat badan lahir bayi. Faktor risiko lain seperti usia ibu, tingkar pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, status sosial ekonomi, status pernikahan, paritas, jarak kelahiran, riwayat kehamilan buruk, komplikasi kehamilan, kehamilan kembar, perilaku merokok, frekuensi dan kualitas pelayanan antenatal serta faktor risiko BBLR paling dominan juga akan dianalisis dalam penelitian ini. Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dengan menganalisis data sekunder SDKI 2017. Hubungan suplementasi zat besi dan faktor risiko lain terhadap BBLR dianalisis melalui analisis chi- square dan regresi logistik berganda. Sebanyak 7,6% bayi mengalami BBLR saat lahir dan 44,6% ibu mengonsumsi minimal 90 suplemen zat besi selama kehamilan.
Read More
S-10824
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Restiana Adiningsih; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Tiara Luthfie
S-7228
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Immaculata Vinne Swastika; Pembimbing: Yvonne M. Indrawani; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
S-7290
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Luthfie; Pembimbing: Yvone; Penguji: Ahmad Syafiq, Ratu Ayu Dewi Sartika, Kresnawan, Suroto
Abstrak:

Kromium adalah  jenis nutrien essensial yang diperlukan hampir oleh semua jaringan dalam tubuh manusia, seperti kulit, otak, otot, limpa, ginjal dan testis. Peran penting dari kromium adalah sebagai pengendali metabolisme insulin dalam tubuh dan dianggap sebagai faktor pengendali kadar gula darah (glucose tolerance factor/GTF). Penelitian ini menggunakan metode Cross sectional, waktu pelaksanaan bulan Maret- April Tahun 2011. Penelitian dilakukan pada anggota Persadi Serang sebanyak 55 orang. Cari pengambilan sampel  dilakukan dengan cara purposive dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan kromium tertinggi pada bahan makanan sumber karbohidrat adalah mie kering sebesar  71 µg/100 g, dan sumber protein adalah kacang tanah sebesar 163. Ratarata asupan kromium pada anggota Persadia Serang teridentifikasi masih berada dibawah RDA yaitu 31, 95 µg. Tidak  ada hubungan antara asupan kromium dengan kadar gula darah pada anggota Persadia Serang, sedangkanvariabel IMT, aktivitas olahraga dan umur memiliki hubungan dengan kadar gula darah (p<0,05) dengan data IMT (OR= 4,5 ; 95% CI ; 1,333-15,196 ), aktivitas olahraga (OR= 9,333 ; 95% CI ; 1,115-78,154 ), dan umur (OR= 4,47 ; 95% CI ; 1,23-16,28 ). Faktor yang paling dominan yang berhubungan dengan kadar gula darah adalah IMT. Disarankan untuk mengontrol berat badan, dengan cara memperhatikan asupan makan dan melakukan aktivitas olahraga secara rutin serta materi kromium dimasukkan dalam kegiatan penyuluhan rutin yang dilakukan satu kali seminggu. Selain itu perlu adanya pemeriksaan kandungan kromium bahan makanan yang lebih beragam. Kata kunci : Kromium bahan makanan, kadar gula, dan asupan kromium.


 

Chromium is a type of essential nutrients needed by almost all tissues in the human body, such as skin, brain, muscle, spleen, kidney and testis. An important role of chromium is as controlling the metabolism of insulin in the body and is considered as a factor controlling blood sugar levels (glucose tolerance factor / GTF). This study uses cross sectional method, the execution time of the month from March to April Year 2011. The study was conducted on members Persadia Attack by 55 people. Find the sampling done by purposive with respect to inclusion and exclusion criteria. The results showed that the highest chromium content in food sources of carbohydrates is dried noodles at 71 μg/100 g, and protein sources are peanuts by 163. The average intake of chromium in Serang identified PERSADIA members is below the RDA, namely 31, 95 mg. There was no association between intake of chromium in blood sugar levels in member PERSADIA Serang,  while BMI  variable, exercise activity and age have a relationship with blood sugar levels (p <0.05) with BMI data (OR = 4.5, 95% CI: 1.333 -15.196), sports activity (OR = 9.333, 95% CI: 1.115 to 78.154), and age (OR = 4.47, 95% CI: 1.23 to 16.28). The most dominant factor related to blood sugar levels is BMI. It is recommended for weight control, by way of attention to food intake and doing exercise regularly and chromium material included in regular education activities are conducted once a week. In addition there is need for examination of the chromium content of food that is more diverse. Key words: Chromium food ingredients, sugar, and intake of chromium.

Read More
T-3427
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Ika Wijayanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni, Tiara Luthfie
S-7159
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive