Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mardiah Mawardi
MIK 23, Januari 1988
Jakarta : RSAB Harapan Kita, 1988
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Wardah Mardiah; Pembimbing: Syafri Guricci
S-3963
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nita Mardiah; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Sandi Iljanto, Dumilah Ayuningtyas, P.A. Kodrat Parmudho
T-3231
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Guspita Dewi; Pembimbing: Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Krianto, Bambang Purwanto, Nita Mardiah
Abstrak: Kurang aktivitas fisik menjadi salah satu faktor terjadinya penyakit kronis yang dapat menyebabkan kematian. Proporsi kurang aktivitas fisik di DKI Jakarta terutama pada pegawai perkantoran menghabiskan waktu lebih dari 8 jam di kantor dan 2-4 jam di perjalanan menuju kantor ataupun pulang ke rumah, membuat kurangnya waktu untuk melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan perilaku aktivitas fisik pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI tahun 2019. Penelitian kuantitatif, desain cross sectional dengan jumlah sampel 125 PNS yang diambil secara systematic random sampling di 6 (enam) unit kerja di Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Pengumpulan data menggunakan self administered questionnaire meliputi variabel dependen yaitu perilaku aktivitas fisik dan variabel independen dari penelitian ini yaitu pengetahuan pegawai tentang aktivitas fisik, karakteristik individu (umur, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, pendapatan dan riwayat penyakit), pemanfataan media sosial, fasilitas penunjang aktivitas fisik serta dukungan sosial (dukungan keluarga dan dukungan teman). Hasil penelitian menunjukkan pegawai yang mendapatkan dukungan keluarga memiliki peluang hampir 3 kali (OR 2,632; 95% CI: 1,239-5,596) untuk berperilaku aktivitas fisik aktif dibandingkan dengan pegawai yang tidak mendapatkan dukungan keluarga. Perlunya menyusun dan mengembangkan strategi komunikasi perilaku aktivitas fisik dengan pendekatan di tingkat keluarga dengan mengumpulkan dan melibatkan pegawai dan anggota keluarga dengan minat kegiatan aktivitas fisik yang sama seperti penggiat olahraga permainan (seperti: sepak bola, futsal, voli), latihan fisik (seperti: senam, yoga, lari) ataupun penggiat sepeda yang menjadikan sepeda sebagai alternatif transportasi, dan memfasilitasi sekelompok keluarga tersebut untuk mengkampanyekan ke rekan-rekan keluarga lainnya secara berkesinambungan juga dapat menjadi salah satu model intervensi aktivitas fisik.
Read More
T-5552
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mardiah Hayati; Pembimbing: Endah Wuryaningsih; Penguji: Anwar Hasan, Sarining Rahajoe
S-5498
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
XBani Amalia Mardiah; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Yuni Kusminanti, Anom Bowolaksono
Abstrak: Angka Stres akan menjadi penyakit dengan beban global kedua terbesar di dunia setelah penyakit jantung iskemik pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan perbedaan tingkat stres akademik berdasarkan jenis kelamin, indeks prestasi, dan fakultas pada mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia angkatan 2016. Penelitian ini memakai desain cross sectional dengan instrument kuesioner DASS-42. Hasil penelitian dengan CI 95% diperoleh mahasiswa RIK UI 2016 didominasi perempuan (76.2%) dengan Indeks Prestasi Cukup (42.2%), dimana rata rata berasal dari FK (31.4%) dengan tingkat stress Normal (39.4%). Ada perbedaan yang bermakna antara asal fakultas dengan tingkat stres akademik. Namun, tidak ada perbedaan tingkat stres akademik dengan jenis kelamin dan indeks prestasi. Kata Kunci: Stres Akademik, Jenis Kelamin, Indeks Prestasi, Mahasiswa Stress will become the second largest global burden in the world after ischemic heart disease in 2020. This study aims to determine the picture and the difference of academic stress level based on gender, achievement index, and faculty of students of Health Sciences University of Indonesia class of 2016. Research this uses a cross sectional design with the DASS-42 questionnaire instrument. The result of research with 95% CI obtained by RIK UI 2016 student was predominantly female (76.2%) with Achievement Index (42.2%), where average came from FK (31.4%) with Normal stress level (39.4%). There is a significant difference between the origin of the faculty and the level of academic stress. However, there is no difference in academic stress levels with gender and achievement index. Keywords: Academic Stress, Gender, GPA, and College Students
Read More
S-9607
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Izzatul Mardiah Saini; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nining Mularsih, Tiopan Sipahutar
Abstrak:
Penanggulangan dan pengobatan tuberkulosis semakin sulit dan menantang dengan munculnya varian mycrobacterium tuberculosis yang resisten terhadap obat. Tuberkulosis yang resisten terhadap obat merupakan risiko kesehatan global dan dapat mmenyebabkan tingginya angka kematian. DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi yang tercatat sebagai provinsi dengan angka kejadian tuberkulosis dan TB-RO tertinggi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan diabetes mellitus dan HIV dengan ketahanan hidup pasien TB-RO selama masa pengobatan di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif pada 1100 pasien TB-RO yang menjalani pengobatan pada Januari 2021-Desember 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang dilakukan analisis univariat, kaplan-meier, bivariat menggunakan regresi cox dan multivariat dengan cox proportional hazard. Hasil penelitian ini menunjukkan 18,8% pasien TB-RO mengalami kematian dengan incidence rate kematian 15 per 1000 orang-bulan dengan probabilitas survival kumulatif sebesar 79,69%. Status HIV positif (HR 2,17; 95% CI: 1.14 – 4,12) berhubungan dengan ketahanan hidup pasien TB-RO. Status HIV positif pada pasien tuberkulosis yang resistan terhadap obat dapat mempercepat kematiannya. Pentingnya peningkatan kolaborasi program terutama TB-HIV agar pasien TB-RO dengan HIV mendapatkan pengobatan dan pemantauan yang tepat

The prevention and treatment of tuberculosis have become increasingly complicated and challenging with the emergence of drug-resistant variants of Mycobacterium tuberculosis. Drug-resistant tuberculosis poses a global health risk and can lead to high mortality rates. DKI Jakarta is one of the provinces in Indonesia with the highest incidence of tuberculosis and drug-resistant TB (TB-DR). The objective of this study is to investigate the relationship between diabetes mellitus and HIV with the survival of TB-DR patients during treatment in DKI Jakarta Province. The study design is a retrospective cohort study involving 1100 TB-DR patients who underwent treatment from January 2021 to December 2023 and were registered in the Tuberculosis Information System. The analysis included univariate analysis, Kaplan-Meier analysis, bivariate analysis using Cox regression, and multivariate analysis with Cox proportional hazard. The results of the study showed that 18.8% of TB-DR patients experienced mortality, with an incidence rate of 15 per 1000 person-months and a cumulative survival probability of 79.69%. HIV-positive status (HR 2.17; 95% CI: 1.14 – 4.12) was associated with the survival of TB-DR patients. Being HIV-positive in drug-resistant tuberculosis patients can accelerate their mortality. The importance of enhancing collaborative programs, especially TB-HIV programs, is crucial to ensure that TB-DR patients with HIV receive appropriate treatment and monitoring.
Read More
T-7011
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mardiah; Pembimbing: ANhari Achadi; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Masyitoh, Yusuf Kristianto, Buyung Nazali
Abstrak:

Latar Belakang: Waktu tunggu rawat jalan adalah waktu yang diperlukan seorang pasien mulai dari saat mendaftar sampai dengan dipanggil untuk diperiksa oleh dokter spesialis. Merupakan gambaran dari kemampuan fasilitas sarana dan prasarana serta SDM dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di RSUD H Hanafie, waktu tunggu masih menjadi kendala dalam pelayanan terhadap pasien poliklinik. Masih cukup sering didapatkan komplain dari pasien baik yang disampaikan langsung maupun lewat kotak saran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu tunggu pasien rawat jalan, waktu tunggu pendaftaran, waktu tunggu rekam medik, waktu tunggu spesialis serta mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Serta mengetahui persepsi dan harapan pasien terhadap pelayanan rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Cross Sectional, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Teknik sampel Systemic Random Sampling, Instrumen penelitian Formulir Observasi, Pedoman wawancara mendalam dengan informan, pedoman wawancara mendalam (FGD). Data kuantitatif di analisa univariat dan multivariat menggunakan software SPSS versi 26. Hasil: Rata-rata waktu tunggu 109±25 menit, waktu tunggu pendaftaran 51±20 menit, waktu tunggu rekam medik 20± 9 menit dan waktu tunggu spesialis 38±15 menit. Waktu tunggu poli terbaik adalah poli Syaraf dan Poli Paru dengan waktu rata-rata 99 dan 98 menit dan berbeda bermakna dengan P masing-masing 0,012 dan 0,010. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan waktu tunggu memanjang, baik kendala SDM, sarana dan prasarana serta regulasi. Kata kunci: Waktu tunggu, Rawat jalan, Pendaftaran, Rekam Medik, Pasien ulangan 1 Mahasiswa Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit FKM, Universitas Indonesia 2Dosen, Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit FKM, Universitas Indonesia


 

Background: Outpatient waiting time is the time it takes the patient from registering until being called to be examined by a specialist. This is an overview of the ability of facilities and infrastructure as well as human resources in providing services to the community. At H. Hanafie Hospital, waiting time is still an obstacle in providing services to patients at the polyclinic. Complaints of patients are still quite common, either directly or through the suggestion box. Objectives: This study aims to determine outpatient waiting time, registration waiting time, medical record waiting time, specialist waiting time, and to determine the factors that cause it. As well as knowing the patient's perceptions and expectations of outpatient services. Method: This research uses cross sectional method, with quantitative and qualitative approaches, Systemic Random Sampling, Research Instrument Observation Form, Guidelines for in-depth interviews from informants, and in-depth interview guidelines (FGD). Quantitative data were analyzed univariate and multivariate using SPSS version 26. Result: The average waiting time was 109 ± 25 minutes, registration waiting time was 51 ± 20 minutes, medical record waiting time was 20 ± 9 minutes and specialist waiting time was 38 ± 15 minutes. The best waiting time for the polyclinic was the neurology department and the pulmonology department with a mean time of 99 and 98 minutes and significantly different with P 0.012 and 0.010, respectively. There are a number of factors that lead to prolonged waiting times, including human resource constraints, facilities and infrastructure and regulations. Keywords: Waiting time, Outpatient, Registration, Medical record waiting time, re-treatment patients 1 Student, Hospital Administration Study Program, Faculty of Public Health, University of Indonesia 2 Lecturer, Hospital Administration Study Program, Faculty of Public Health, University of Indonesia

Read More
B-2266
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofi Mardiah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Mela Hidayat
Abstrak:
Latar Belakang: Masih tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih terbilang cukup tinggi, MMR (Maternal Mortality Rate) di Indonesia sendiri data tahun 2017 mencapai angka 177 per 100.000 kelahiran hidup. Near-miss didefinisikan sebagai ibu hamil atau ibu baru melahirkan (dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan) yang jiwanya terancam tetapi berhasil selamat karena pelayanan atau perawatan yang baik atau karena faktor kebetulan. Kejadian near-miss atau nyaris meninggal sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan kesehatan terutama pada masa pandemi.  Pandemi COVID-19 telah menimbulkan implikasi pada berbagai sektor termasuk sektor pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Tujuan: Mengetahui bagaimana hubungan pandemi COVID-19 dengan kejadian near-miss atau nyaris meninggal pada pasien – pasien yang mendapatkan metode persalinan sectio caesarea di rumah sakit Ananda Bekasi periode rawat inap Oktober 2019 – Juni 2020. Metode: Penelitian observasional menggunakan desain kohort retrospektif. Data yang digunakan diambil dari rekam medis pasien – pasien obstetrik di rumah sakit tempat penelitian ini dilakukan. Analisis data dilakukan bertahap, dimulai dari analisis univariat, analisis bivariat, analisis stratifikasi dan analisis multivariat dengan cox regression untuk mengidentifikasi hubungan antar vaiabel. Hasil: Terdapat 46 kasus near-miss (10,48%) dari total sampel penelitian sebanyak 439. Pada Analisa bivariat ditemukan bahwa ibu yang mendapat tindakan sectio caesarea pada masa pandemi COVID-19 memiliki risiko sebesar 1,35 lebih besar untuk mengalami near-miss (RR 1,356 ; 95% CI 0,78 – 2,34) p value 0,272.

Background: The maternal mortality rate (MMR) in Indonesia remains relatively high. The Indonesia MMR data in 2017 showed that the rate of maternal mortality reached 177 per 100,000 live births. Near-miss is pregnant women or mothers who have recently given birth (within 42 days after termination of pregnancy) with threatening live conditions, but managed to survive due to health service quality or health care or due to accidental factors. Near-miss incidence or near death is greatly influenced by health service quality, especially during the COVID-19 pandemic. The COVID-19 pandemic brings implications to various sectors including the maternal and neonatal health care sector. Objectives: This study aims to find the relation between the COVID-19 pandemic and near-miss incidents or near-death in patients who received the delivery method with sectio caesarea at Ananda Hospital Bekasi, inpatient period from October 2019 to June 2020. Methods: By using a retrospective cohort design, this observatory study analyzed data taken from the medical records of obstetrical patients in some stages, starting with univariate analysis, bivariate analysis, stratification analysis, and multivariate analysis with cox regression to find relationships between variables. Result: This study shows that from the total sample of 439 patients with sectio caesarean, 46 cases are near-miss cases (10.48%). Furthermore, the bivariate analysis shows  that mothers who received sectio caesarean during the COVID-19 pandemic have greater risk (1.35) of experiencing near-miss (RR 1.356; 95% CI 0.78 - 2.34) pvalue 0.272. Kata kunci: Maternal death, near-miss, pandemic COVID-19, section caesarea
Read More
T-6079
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mardiah; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Yanuar Hamid, Budi Hartono
B-1721
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive