Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lena Tresnawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Lutfi Muzaqi, M. Fadri Al Baihaqi
Abstrak: Latar Belakang: Distres merupakan bentuk negatif dari psikososial, dimana sumber distres dapat berasal dari faktor pekerjaan itu sendiri, faktor keluarga dan sosial, serta faktor individu. Beberapa kejadian mengindikasikan terjadinya distres pada mekanik di PT. X. Indikasi tersebut terlihat dari gejala fisiologis, psikologis, perilaku, dan kognitif yang timbul dari pekerja.
Tujuan: Menganalisis tingkat distres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X. Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, dilakukan pada seluruh mekanik di PT. X sejumlah 37 pekerja, dan analisis data menggunakan uji chi square serta regresi logistik.
Hasil: Faktor yang berhubungan terhadap tingkat distres adalah budaya dan fungsi organisasi, hubungan interpersonal, tekanan kerja, work family conflict, desain tugas, jadwal dan jam kerja, intensitas olahraga, kecemasan, pengendalian emosi, serta kebiasaan merokok. Faktor pengendalian emosi paling berpengaruh terhadap distres dengan Exp(B) 0,34. Kesimpulan: Berbagai faktor memiliki hubungan terhadap tingkat distres pada mekanik di PT. X sehingga perlu dilakukan tindakan yang mampu menurunkan risiko distres seperti pengaturan lembur dan pemberian pelatihan
Background: Distress is a negative form of psychosocial. It can be caused by work factors, family and social factors, and individual factors. Several cases indicate the occurrence of mechanical distress at PT. X. The indications showed from the physiological, psychological, behavioral, and cognitive symptoms that arise from the workers.
Objective: To analyze the associated factors with distress level of mechanics at PT. X. Methods: Used a cross sectional design study, carried out on all mechanics at PT. X with number of 37 workers, data analysis using chi square test and logistic regression.
Results: Factors related to the distress level are organizational culture and function, interpersonal relationships, work pressure, work family conflict, task design, working hours and scheduler, exercise intensity, anxiety, emotional control, and smoking habits. Emotional control factor has the most associated on distress with Exp(B) 0.34. Conclusion: Various factors have a relationship with the distress level of mechanics at PT. X so it is necessary to take actions that can reduce the risk of distress such as overtime program and providing training
Read More
T-6323
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziz Rofi`i; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Lutfi Muzaqi, Sri Lestari
Abstrak: Pengemudi dump truck merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko mengalami kelelahan karena adanya faktor terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang dapat mempengaruhi pengemudi. Pada HSE Monthly Report pada bulan Desember 2021 didapatkan bahwa angka lagging indicator untuk night work lebih tinggi dari day work. Dari sudut pandang ini, penelitian dilakukan untuk melihat gambaran kelelahan dan melakukan analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pengemudi dump truck shift malam dengan sistem double shift. Penelitian dengan desain studi cross sectional dilakukan pada 130 pengemudi dump truck PT X. Faktor terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah waktu kerja, kondisi pencahayaan, getaran kabin, dan beban kerja, sedangkan faktor tidak terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah durasi tidur, kualitas tidur, umur, pekerjaan sampingan, indeks massa tubuh, aktifitas fisik, konsumsi minuman berenergi tinggi gula dan dukungan keluarga. Uji chisquare dilakukan untuk menganalisis keeratan hubungan antara variabel dependen dan independent sedangkan uji regresi logistik berganda digunakan untuk mengetahui variabel yang paling dominan berhubungan dengan variabel terikat. Prevalensi kelelahan pada pengemudi dump truck adalah sebesar 37,7% dan 62,3% tidak mengalami kelelahan. Dari empat faktor risiko terkait pekerjaan yang diteliti, pencahayaan, getaran dan beban kerja memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Sedangkan dari delapan faktor risiko tidak terkait pekerjaan yang diteliti, waktu tidur, kualitas tidur, usia, pekerjaan sampingan, aktifitas fisik, dan dukungan keluarga memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Pada hasil akhir multivariat didapatkan jika beban kerja dan pencahayaan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan p-value < 0,05. Untuk mengurangi kelelahan pada pengemudi dump truck PT X Jobsite TB maka disarankan melakukan pengukuran kelelahan secara rutin sesuai dengan faktor risiko kelelahan yang dominan yaitu beban kerja, dan pencahayaan.
Read More
T-6421
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lutfi Muzaqi; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Eslye As Safira, Andri Haryo Saputro
Abstrak: Insektisida merupakan salah satu jenis pestisida yang banyak digunakan di masyarakat guna melindungi kesehatan masyarakat. Namun perlu diingat bahwa daya racun dari insektisida juga dapat mengancam kesehatan teknisi pengendali hama. Pada saat proses pembuatan, pencampuran, dan aplikasi insektisida, pekerja terpajan bahaya kimia dan berpotensi menimbulkan risiko terhadap kesehatan. Dalam penelitian ini, risiko pajanan dermal insektisida terhadap teknisi pengendali hama yang dikaji dengan menggunakan metode semi kuantitatif DREAM (Dermal Risk Exposure Method). Unit analisis yang diamati adalah pekerjaan hot fogging, cold fogging, spraying dan misting dengan risiko pajanan dermal dari insektisida dengan empat aktifitas yang diamati yaitu menuang insektisida dari botol konsentrat, mencampur insektisida, menuang campuran insektisida dan pelaksanaan. Besarnya nilai total pajanan dermal dipengaruhi oleh nilai emisi, desposisi dan transfer, serta dipengaruhi oleh jenis bahan kimia, proteksi perlindungan tangan dan lama pajanan. Hasil penelitian didapatkan nilai total pajanan dermal pada pekerjaan hot fogging tugas menuang insektisida dari botol konsentrat 1,19 (sangat rendah), mencampur insektisida 1,19 (sangat rendah), menuang campuran insektisida 2,94 (sangat rendah), pelaksanaan hot fogging 78,73 (medium). Nilai total pajanan dermal pada pekerjaan cold fogging tugas menuang insektisida dari botol konsentrat 1,19 (sangat rendah), mencampur insektisida 1,19 (sangat rendah), menuang campuran insektisida 2,94 (sangat rendah), pelaksanaan cold fogging 34,99 (medium). Nilai total pajanan dermal pada pekerjaan spraying tugas menuang insektisida dari botol konsentrat 1,19 (sangat rendah), mencampur insektisida 1,19 (sangat rendah), menuang campuran insektisida 2,94 (sangat rendah), pelaksanaan spraying 3,30 (sangat rendah). nilai total pajanan dermal pada pekerjaan misting tugas menuang insektisida dari botol konsentrat 11,91 (rendah), mencampur insektisida 1,19 (sangat rendah), menuang campuran insektisida 1,63 (sangat rendah), pelaksanaan misting 2,18 (sangat rendah. Kesimpulan bahwa nilai pajanan dermal tertinggi terdapat pada aktifitas pelaksanaan fogging dengan nilai total pajanan dermal sebesar 78,73 (medium).
Read More
T-5646
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholid Saifulloh; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Lelitasari, Lutfi Muzaqi
Abstrak:
Pajanan insektisida di tempat kerja dapat menyebabkan risiko kesehatan serius, mulai dari iritasi kulit hingga dampak sistemik. Penelitian ini menilai tingkat pajanan dermal pada sepuluh teknisi wanita pengendali hama menggunakan metode DREAM. Hasil menunjukkan seluruh aktivitas memiliki tingkat pajanan sangat rendah dengan total skor 8.89, tertinggi pada tahap mencuci alat (2.54). Tahapan lainnya seperti menuang, mencampur, dan menyemprot juga menunjukkan skor rendah. Meskipun APD digunakan, kontak langsung masih terjadi akibat ketidaksesuaian jenis APD dan kepatuhan rendah. Diperlukan peningkatan pelatihan K3, pengawasan rutin, serta penyediaan APD yang sesuai dan ramah wanita


Occupational exposure to insecticides can pose serious health risks, ranging from skin irritation to systemic effects. This study assessed dermal exposure levels among ten female pest control technicians using the DREAM method. Results showed all tasks had very low exposure levels, with a total score of 8.89; the highest was during equipment washing (2.54). Other tasks like pouring, mixing, and spraying also had low scores. Although PPE was used, direct contact still occurred due to inappropriate PPE types and low compliance. Improved OHS training, regular supervision, and provision of appropriate, female-responsive PPE are essential to ensure a safer work environment.
Read More
T-7379
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febriana Maizura; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Elsye As Safira, Lutfi Muzaqi
Abstrak:

Industri pembuatan alat music memiliki risiko kesehatan akibat penggunaan bahan kimia seperti pelarut (solvent) dan perekat (adhesive). Pelarut digunakan dalam proses pengecatan kayu, sedangkan perekat digunakan untuk penyambungan part kayu agar menjadi sebuah alat musik. Pelarut yang digunakan yaitu 1,2,4-trimethylbenzene, 2-butoxyethanol, 2-ethoxyethyl acetate, 4-methylpentan-2-one, acetone, cumene, cyclohexanone, ethyl acetate, ethyl benzene, mesitylene, naphthalene, solvent naphtha (petroleum), n-butyl acetate, toluene, dan xylene. Penilaian risiko kesehatan bahan kimia mengacu pada Chemical Health Risk Assessment (CHRA) DOSH Malaysia tahun 2018 dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dimulai dari identifikasi bahan kimia, pengamatan dan interview, pengukuran, penilaian risiko kesehatan, menilai kecukupan pengendalian dan penentuan action priority. Hasil penelitian di PT XYZ menunjukkan nilai risk rating untuk pajanan inhalasi berkisar antara 6 (moderate) hingga 25 (high), dan pajanan dermal berada pada kategori moderate 1, moderate 2 dan high 1. Seluruh proses dinyatakan belum memiliki pengendalian yang cukup. Action priority 1 untuk pajanan inhalasi pada proses sanding, washcoat, wipping, pemasangan logo dan pewarnaan dengan cat pada bahan kimia cumene dan untuk pajanan dermal pada proses sanding, washcoat, wipping, pemasangan logo dan pewarnaan dengan cat pada bahan kimia 2-ethoxyethyl acetate, cumene, dan solvent naphtha (petroleum). Action priority 1 berarti tindakan pengendalian diperlukan segera.

The musical instrument manufacturing industry carries health risks due to the use of chemicals such as solvents and adhesives. Solvents are used in the wood painting process, while adhesives are applied to join wooden parts into a complete instrument. The solvents used include 1,2,4-trimethylbenzene, 2-butoxyethanol, 2-ethoxyethyl acetate, 4-methylpentan-2-one, acetone, cumene, cyclohexanone, ethyl acetate, ethyl benzene, mesitylene, naphthalene, solvent naphtha (petroleum), n-butyl acetate, toluene, and xylene. The chemical health risk assessment refers to the 2018 DOSH Malaysia Chemical Health Risk Assessment (CHRA) guidelines and uses both qualitative and quantitative approaches. Data collection includes chemical identification, observation, interviews, measurement, health risk assessment, evaluation of control adequacy, and determination of action priorities. The results of the study at PT XYZ showed that the risk rating for inhalation exposure ranged from 6 (moderate) to 25 (high), while dermal exposure was categorized as moderate 1, moderate 2, and high 1. All processes were found to have insufficient control measures. Action priority 1 was identified for inhalation exposure during sanding, washcoat, wipping, logo installation, and coloring processes involving cumene. The same priority was also identified for dermal exposure to 2-ethoxyethyl acetate, cumene, and solvent naphtha (petroleum) in those same processes. Action priority 1 indicates that immediate control measures are required.

 

Read More
T-7281
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nada Adinda Irhamna; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Baiduri Widanarko, Sari Tua Roy Nababan, Lutfi Muzaqi
Abstrak:
Kelelahan kerja adalah masalah umum dalam industri konstruksi, terutama dalam proyek- proyek terowongan seperti pembangunan MRT, dimana para pekerja dihadapkan pada kondisi yang menuntut fisik dan mental. Kelelahan di lingkungan seperti itu tidak hanya memengaruhi kesehatan dan keselamatan individu tetapi juga efisiensi operasional dan kinerja proyek secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan determinan kelelahan dari faktor karakteristik individu, pekerjaan dan psikososial pada pekerja proyek MRT Stasiun Glodok. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan responden kuesioner sebanyak 118 pekerja. Pengumpulan data dilakukan secara luring dengan menggunakan kuesioner. Kelelahan diukur dengan menggunakan instrumen Industrial Fatigue Research Committee. Beberapa instrumen standar juga digunakan dalam penelitian ini seperti pittsburgh sleep quality index untuk mengukur kualitas tidur, NIOSH generic job stress questionnaire untuk mengukur beban kerja, dan the workplace stress scale untuk mengukur stres. Analisis data menggunakan chi- square dan regresi logistic ganda. Penelitian ini melibatkan pekerja terowongan yang berusia 19 - 57 tahun, dengan mayoritas (53,4%) berusia ≤ 34 tahun. Sebagian besar memiliki status gizi yang normal (60,2%) tetapi mengalami kualitas tidur buruk (55,1%), dan merupakan perokok ringan (48,3%). Mayoritas memiliki masa kerja ≤ 2 tahun. Perihal beban kerja, 59,3% pekerja melakukan pekerjaan yang tergolong ringan, dengan sebagian besar bekerja >8 jam per hari, dan shift pagi menjadi yang paling umum. Dalam hal kondisi psikososial, stres ringan dialami oleh 39% pekerja. Prevalensi kelelahan secara keseluruhan di antara para pekerja terowongan ditemukan dalam kategori sedang. Analisis yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelelahan kerja dengan faktor-faktor seperti, usia, kualitas tidur, kebiasaan merokok, durasi kerja, beban kerja, dan stres kerja. Sebaliknya, status gizi, masa kerja, dan sistem shift kerja tidak memiliki hubungan bermakna dengan kelelahan. Diantara seluruh faktor yang diteliti, kualitas tidur memiliki keterkaitan paling kuat dengan kelelahan kerja. Setiap faktor yang teridentifikasi dapat dijadikan dasar dalam pengembangan strategi kebijakan dan program mitigasi kelelahan di lingkungan proyek terowongan.


Occupational fatigue is a common problem in the construction industry, especially in tunnel projects such as MRT construction, where workers are exposed to physically and mentally demanding conditions. Fatigue in such an environment affects not only individual health and safety but also operational efficiency and overall project performance. This study aims to obtain fatigue determinants from individual, occupational and psychosocial characteristics factors among workers at the Glodok Station MRT Project. This study used a cross-sectional design with a questionnaire respondent of 118 workers. Data collection was conducted offline using a questionnaire. Fatigue was measured using the Industrial Fatigue Research Committee instrument. Some standard instruments were also used in this study such as Pittsburgh sleep quality index to measure sleep quality, niosh generic job stress questionnaire to measure workload, and the workplace stress scale to measure stress. Data were analyzed using chi- square and multiple logistic regression. The study included tunnel workers aged 19 - 57 years, with the majority (53.4%) aged ≤ 34 years. Most had normal nutritional status (60.2%) but experienced poor sleep quality (55.1%), and were light smokers (48.3%). The majority had ≤ 2 years of service. In terms of workload, 59.3% of workers performed light work, with most working >8 hours per day, and morning shifts being the most common. In terms of psychosocial conditions, mild stress was experienced by 39% of workers. The overall prevalence of fatigue among tunnel workers was found to be moderate. The analysis conducted showed a significant association between fatigue and factors such as age, sleep quality, smoking habit, work duration, workload, and work stress. In contrast, nutritional status, length of service, and shift system had no significant association with fatigue. Among all the factors studied, sleep quality had the strongest association with fatigue. Each identified factor can be used as a basis for developing policy strategies and fatigue mitigation programs in the tunnel project environment.
Read More
T-7403
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive