Ditemukan 665 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ni Putu Gita Eka Swari; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Antonius Endro Susilo
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Penyakit tidak menular (PTM) menjadi isu kesehatan global yang semakin meningkat. Literasi kesehatan berperan penting dalam memengaruhi kemampuan individu untuk mengakses, memahami, menilai dan menerapkan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan terkait perilaku sehat, seperti pola makan dan aktivitas fisik. Perusahaan oli Kemayoran, Jakarta Pusat memiliki jam kerja panjang dan aktivitas fisik tinggi yang berdampak pada kondisi kesehatan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan dengan aktivitas fisik dan pola makan pada pekerja industri oli Kemayoran, Jakarta Pusat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan survei melalui kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 143 responden yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi HLS-EU-Q16, NVS, dan HPLP II. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rho. Hasil: literasi kesehatan umum berhubungan positif dengan aktivitas fisik dan pola makan dengan kekuatan hubungan lemah pada aktivitas fisik dan kekuatan hubungan sedang pada pola makan. Sementara, untuk literasi kesehatan fungsional responden tidak ditemukan adanya hubungan baik pada aktivitas fisik maupun pola makan. Kesimpulan: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memasukkan variabel psikososial, seperti stres kerja, motivasi hidup sehat, dan pengaruh lingkungan yang dapat berperan dalam pembentukan gaya hidup sehat, mengingat NVS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan aktivitas fisik dan pola makan
Background: Non-communicable diseases (NCDs) are a growing global health issue. Health literacy plays a crucial role in influencing an individual's ability to access, understand, assess, and apply health information to make decisions related to healthy behaviors, such as dietary pattern and physical activity. Oil companies in Kemayoran, Central Jakarta, have long working hours and high levels of physical activity, which impact their health. This study aims to analyze the relationship between health literacy and physical activity and dietary pattern among oil industry workers in Kemayoran, Central Jakarta. Methods: This study used a cross-sectional design with a survey questionnaire. A sample of 143 respondents was selected using stratified random sampling. The instruments used were the HLS-EU-Q16, NVS, and HPLP II. Data analysis was performed using the Spearman rho correlation test. Results: General health literacy was positively associated with physical activity and dietary pattern, with a weak relationship for physical activity and a moderate relationship for dietary pattern. Meanwhile, no relationship was found between respondents' functional health literacy and physical activity or dietary pattern. Conclusion: Further research is recommended to include psychosocial variables, such as work stress, healthy living motivation, and environmental influences that can play a role in the formation of a healthy lifestyle, considering that functional health literacy did not show a significant relationship with physical activity and dietary pattern.
S-12156
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wenty Prihantinah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Sabarinah, Wachyu Sulistiadi, Kristina R.L.Nadeak, Meilina Farikha
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, dengan Indonesia menempati peringkat kedua beban TB tertinggi di dunia. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) adalah strategi kunci untuk menekan progresi infeksi laten menjadi TB aktif, namun cakupan TPT di Kota Bekasi masih sangat rendah, yakni hanya mencapai 14,11%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu pelaksanaan program TPT di Puskesmas Kota Bekasi berdasarkan kerangka Donabedian (struktur, proses, dan hasil) serta mengidentifikasi adanya kesenjangan persepsi layanan (Gap 1) antara tenaga kesehatan dan pasien. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus, dilakukan di empat puskesmas terpilih berdasarkan capaian TPT. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil: Dari aspek struktur, program menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), sarana diagnostik (foto thoraks), dan perbedaan kemandirian anggaran antar-puskesmas. Dalam proses, ditemukan suboptimalitas pada investigasi kontak, edukasi yang terbatas, pemantauan yang tidak berkesinambungan, serta pemanfaatan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) yang belum maksimal . Analisis Gap 1 menemukan adanya kesesuaian persepsi pada layanan individual, tetapi terdapat potensi kesenjangan pada aspek non-klinis karena pasien mengharapkan edukasi yang lebih luas pada tingkat komunitas untuk mengurangi stigma. Kesimpulan: Mutu program TPT di Puskesmas Kota Bekasi sudah berjalan, tetapi masih menghadapi hambatan struktural, proses, dan potensi kesenjangan persepsi. Diperlukan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pemenuhan logistik dan sarana diagnostik, optimalisasi SITB, serta peningkatan edukasi berbasis komunitas untuk memperbaiki mutu program dan meningkatkan cakupan TPT di masa mendatang. Kata Kunci: Tuberkulosis, Terapi Pencegahan Tuberkulosis, Mutu Layanan, Donabedian, Puskesmas.
Background: Tuberculosis (TB) remains a global public health challenge, with Indonesia ranking second in the world for the highest TB burden. Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is a key strategy to suppress the progression of latent infection to active TB, but TPT coverage in Bekasi City is still very low, reaching only 14.11%. Objective: This study aims to analyze the quality of TPT program implementation in Bekasi City Puskesmas based on the Donabedian framework (structure, process, and outcome) and to identify the presence of a service perception gap (Gap 1) between health workers and patients. Method: A qualitative study with a case study design was conducted in four selected Puskesmas based on their TPT achievement. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document review, and then analyzed thematically. Results: Regarding the structure aspect, the program faces limitations in human resources (HR), diagnostic facilities (chest X-ray), and differences in budget independence among Puskesmas. In the process, suboptimal performance was found in contact investigation, limited education, inconsistent monitoring, and underutilization of the Tuberculosis Information System (SITB). The Gap 1 analysis found a correspondence of perception in individual services, but a potential gap exists in non-clinical aspects, as patients expect broader community-level education to reduce stigma. Conclusion: The quality of the TPT program in Bekasi City Puskesmas is running, but still faces structural and process barriers, as well as a potential perception gap. Strengthening health worker capacity, fulfilling logistics and diagnostic facilities, optimizing SITB, and increasing community-based education are needed to improve program quality and increase TPT coverage in the future. Keywords: Tuberculosis, Tuberculosis Preventive Therapy, Service Quality, Donabedian, Puskesmas.
T-7463
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bintang Dwi Putro; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Adrianus Pangaribuan, Afif Mauludi
Abstrak:
Read More
Peran serta sumber daya manusia dalam menurunkan kejadian kecelakaan kerja sangat dibutuhkan. Partisipasi pekerja dalam melaporkan setiap kejadian kecelakaan kerja sangat diharapkan, guna mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja terulang kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan program pelaporan bahaya. Metode penelitian yang digunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel yang diambil sebanyak 166 yang merupakan pekerja transmisi PT Q. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala likert. Analysis data menggunakan analisis univariate dan bivariate dengan bantuan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceptions, attitude, individual backgrounds dalam kondisi Baik. Sedangkan management, working environment, working methods, daily activities dan program pelaporan bahaya dalam kondisi Sangat Baik Dari 15 pernyataan variabel perceptions 10 pernyataan berhubungan dengan program pelaporan bahaya. Terdapat hubungan antara variabel perceptions dengan program pelaporan bahaya. Tidak terdapat hubungan antara variabel attitude, individual backgrounds dengan program pelaporan bahaya pada pekerja transmisi di PT Q. Terdapat hubungan antara variabel management dan working environment dengan program pelaporan bahaya. Terdapat hubungan antara variabel working methods dan daily activities dengan program pelaporan bahaya. Dapat disimpulkan bawah hanya 1 variabel pada faktor person yaitu perception yang berhubungan dengan program pelaporan bahaya. Semua variabel pada faktor situations dan behaviors berhubungan dengan program pelaporan bahaya
The role of human resources in reducing the incidence of workplace accidents is essential. Worker participation in reporting every workplace accident is highly recommended to prevent recurrence. This study aims to identify factors related to hazard reporting programs. The research method used is quantitative with a descriptive approach cross sectional study. The sample taken was 166 workers who were transmission workers of PT Q. The data collection technique used a questionnaire with a likert scale. Data analysis using analysis univariate and bivariate with used SPSS application. The results of the study show that perceptions, attitude, and individual backgrounds are in good condition. Whereas management, working environment, working methods, daily activities and hazard reporting program in Very Good condition from 15 variable statementsperceptions10 statements related to the hazard reporting program. There is a relationship between the variablesperceptionswith the hazard reporting program. There is no relationship between the variable attitude, individual backgrounds with the hazard reporting program for transmission workers at PT Q. There is a relationship between the variablesmanagement and working environment with the hazard reporting program. There is a relationship between the variable working methods and daily activities with the hazard reporting program. It can be concluded that only one variable in the person factor, perception, is related to the hazard reporting program. All variables in the situations and behaviors factors are related to the hazard reporting program
T-7464
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vestia Prilie Rosemarie Kindangen; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Mario Abet Nego
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Resistensi Antimikroba merupakan ancaman global yang berdampak pada peningkatan morbiditas, mortalitas, serta biaya perawatan Kesehatan. RS Hermina Jatinegara adalah RS swasta yang ditetapkan tepe B dengan layanan Umum sebagai RS pelayanan rujukan memiliki peran penting dalam mencegah resistensi melalui Implementasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). RS Hermina Jatinegara telah memiliki komponen utama PPRA seperti Kebijakan PPRA, Pedoman penggunaan antibiotic, Tim PPRA, Kebijakan pengelompokan antibiotic AWaRe, serta system persetujuan antibiotic melalui E-RASPRO. Tujuan penelitian: secara umum Adalah Menganalisis implementasi PPRA, mengoptimalkan peran manajemen rumah sakit dalam mendukung penggunaan antibiotik secara bijak, dan strategi pengelolaan di Rumah Sakit Hermina Jatinegara, secara khusus adalah menganalisis penerapan pedoman dan kebijakan penggunaan antibiotik, tingkat kepatuhan tenaga medis terhadap pedoman penggunaan antibiotik, evaluasi efektivitas sistem monitoring dan evaluasi penggunaan antibiotik, peran manajemen rumah sakit dalam mendukung pelaksanaan PPRA, dan strategi perbaikan untuk meningkatkan efektivitas PPRA dan mutu pelayanan rumah sakit. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui wawancan mendalam dengan manajemen RS, dokter, perawat, apoteker, dan Tim PPRA, FGD, serta telaah dokumen. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa data farmasi data peresepan, Laporan monitoring evaluasi PPRA yang didalamnya terdapat kepatuhan terhadap PPAB dan data resistensi kuman dari data mikrobiologi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi PPRA di RS Hermina Jatinegara telah lengkap, termasuk PPAB, SK Tim PPRA, AWaRe, dan mekanisme persetujuan antibiotik melalui E-RASPRO. Namun implementasinya belum seragam di seluruh unit. Ketidaksesuaian penggunaan antibiotik ditemukan pada aspek durasi, indikasi, dan dokumentasi. Audit belum rutin dilakukan dan belum mencakup seluruh kasus prioritas. Integrasi data kultur ke dalam E-RASPRO belum optimal. Ketersediaan antibiogram belum representatif karena keterbatasan sampel kultur dan SDM mikrobiologi. Laporan PPRA telah dibuat secara berkala per triwulan, tetapi belum memuat indikator lengkap seperti Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, dan audit umpan balik. Kesimpulan: Implementasi PPRA di RS Hermina Jatinegara sudah berjalan namun belum optimal. Penguatan pembiayaan, kapasitas sampel mikrobiologi, kajian/audit rutin, integrasi data, serta pelatihan semua profesi diperlukan untuk meningkatkan konsistensi dan keberhasilan implementasi PPRA.
Background: Antimicrobial resistance is a global threat that has an impact on increased morbidity, mortality, and healthcare costs. Hermina Jatinegara Hospital is a private hospital designated as a type B hospital with general services as a referral hospital that plays an important role in preventing resistance through the implementation of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA). Hermina Jatinegara Hospital has established key components of the PPRA, including PPRA policies, antibiotic usage guidelines, PPRA team, antibiotic grouping policies under the AWaRe framework, and an antibiotic approval system via E-RASPRO. Research Objectives: To analyze the implementation of the AMCP, optimize the role of hospital management in supporting prudent antibiotic use, and management strategies at Hermina Jatinegara Hospital. Specifically, it aims to analyze the implementation of guidelines and policies on antibiotic use, the level of compliance of medical personnel with antibiotic use guidelines, evaluate the effectiveness of the antibiotic use monitoring and evaluation system, the role of hospital management in supporting the implementation of PPRA, and improvement strategies to increase the effectiveness of PPRA and the quality of hospital services. Research method: This study used a qualitative design through in-depth interviews with hospital management, doctors, nurses, pharmacists, and the PPRA Team, FGDs, and document reviews. This study also used secondary data in the form of pharmacy prescription data, PPRA monitoring and evaluation reports containing compliance with PPAB, and germ resistance data from microbiology data. Research results: The results showed that PPRA regulations at Hermina Jatinegara Hospital were complete, including PPAB, PPRA Team Decree, AWaRe, and the antibiotic approval mechanism through E- RASPRO. However, implementation was not uniform across all units. Inappropriate antibiotic use was found in terms of duration, indication, and documentation. Audits have not been conducted routinely and do not cover all priority cases. The integration of culture data into E-RASPRO is not yet optimal. The availability of antibiograms is not representative due to limitations in culture samples and microbiology human resources. PPRA reports have been prepared quarterly, but do not yet include complete indicators such as Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, and feedback audits. Conclusion: The implementation of PPRA at Hermina Jatinegara Hospital is underway but is not yet optimal. Strengthening of funding, microbiology sample capacity, routine reviews/audits, data integration, and training for all professions are needed to improve the consistency and success of PPRA implementation.
B-2561
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salma Rizkia Kamila; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Putri Bungsu, Maptuha
Abstrak:
Read More
Indonesia merupakan negara dengan beban penyakit Tuberkulosis terbesar kedua di Dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir dengan penderitanya didominasi oleh usia pekerja/produktif (15–64 tahun). Kementerian Ketenagkerjaan memberikan respon dengan menginisiasi Program Skrining Mandiri Tuberkulosis di Tempat Kerja guna memperkuat deteksi dini pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menggambarkan distribusi hasil skrining berupa persebaran status terduga dan gambaran faktor risiko individu serta meninjau implementasi program dan mekanisme tindak lanjutnya menggunakan pendekatan studi mixed methods. Komponen kuantitatif menggunakan desain potong lintang memanfaatkan data sekunder Formulir Skrining Mandiri Tuberkulosis 2025 yang dianalisis secara deskriptif disertai analisis lanjutan. Komponen kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam kepada pemangku kebijakan dan perwakilan sektor perusahaan menggunakan purposive sampling. Dari 36.115 pekerja yang mengikuti skrining, sebanyak 6.566 (18,2%) terklasifikasi sebagai terduga Tuberkulosis. Penentuan status terduga didasarkan pada gejala klinis yang merujuk pada Tuberkulosis seperti batuk, demam hilang timbul, atau batuk disertai darah. Gejala dominan pada kelompok terduga adalah batuk (64,2%) dan penurunan berat badan (31,1%). Analisis bivariat menunjukkan kemungkinan terduga Tuberkulosis lebih tinggi pada pekerja laki-laki (OR: 1,49; 95% CI: 1,38–1,60), pekerja dengan riwayat Diabetes Mellitus (OR: 4,46; 95% CI: 3,58–5,59), status gizi kurus (OR: 2,61; 95% CI: 2,24–3,05), perokok aktif (OR: 1,81; 95% CI: 1,72–1,91)), serta sektor berisiko tinggi (OR: 1,25; 95% CI: 1,17–1,35) seperti pertambangan penggalian dan konstruksi. Temuan kualitatif mengindikasikan bahwa pelaksanaan program masih menghadapi kendala integrasi lintas sektor, keterbatasan anggaran dan sumber daya, serta kualitas instrumen dan sistem informasi. Studi ini mengindikasikan diperlukan adanya perbaikan dari sisi implementasi guna memaksimalkan hasil skrining serta pelaksanaan program kedepannya.
Indonesia is the world’s second-highest tuberculosis (TB) burden country according to the WHO Global Report 2025, with most patients in the working age population (15–64 years). In response, the Ministry of Manpower initiated a workplace TB self-screening program to strengthen early detection among workers. This study aimed to describe the distribution of screening outcomes, including the prevalence of presumptive TB and individual risk factors, and to assess program implementation also the follow up mechanisms using a mixed-methods approach. The quantitative component employed a cross sectional design using secondary data from the 2025 TB Self-Screening Form, analyzed with univariate statistics and additional analyses. The qualitative component comprised indepth interviews with policymakers and company representatives selected through purposive sampling. Among 36,115 screened workers, 6,566 (18.2%) were classified as presumptive TB. The most common symptoms among presumptive cases were cough (64.2%) and unintentional weight loss (31.1%). Bivariate analysis showed higher odds of presumptive TB among male workers (OR 1.49; 95% CI 1.38–1.60), those with a history of Diabetes Mellitus (OR 4.46; 95% CI 3.58–5.59), underweight workers (OR 2.61; 95% CI 2.24–3.05), current smokers (OR 1.81; 95% CI 1.72–1.91), and workers in high risk sectors (OR 1.25; 95% CI 1.17–1.35). Qualitative findings indicated challenges in cross-sector integration, limited funding and resources, and weaknesses in the screening instrument and information systems, suggesting the need for implementation improvements to optimize screening outcomes and future program phases.
S-12157
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alfiah Purbaningtyas; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Weni Praga Agusti
Abstrak:
Read More
Infeksi pada bayi masih menjadi masalah utama, terutama akibat imunitas yang belum matang. Bayi tanpa ASI eksklusif memiliki risiko diare lebih tinggi. Konsumsi susu formula meningkatkan risiko diare hingga 10,5 kali karena potensi kontaminasi dan ketiadaan komponen imunoprotektif ASI. Pada saat yang sama, promosi susu formula semakin masif dan berpotensi mempengaruhi pengetahuan, sikap, serta praktik ibu dalam pemberian makan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana ibu yang memiliki bayi di wilayah kerja Puskesmas Wonogiri memahami, menyikapi, dan mempraktikkan pemberian susu formula, serta menelaah pengaruh framing pesan iklan berdasarkan Teori Nudge. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan meliputi ibu dengan bayi usia kurang dari 6 bulan, kader kesehatan, bidan KIA, Dinas Kesehatan Wonogiri, anggota keluarga terdekat, serta pedagang susu formula.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang konsep susu formula umumnya baik, namun pemahaman mengenai kandungan serta perbedaan biologis antara susu formula dan ASI masih beragam. Media sosial, khususnya TikTok, menjadi sumber informasi utama yang membentuk persepsi awal ibu. Praktik pemberian makan bayi dipengaruhi oleh produksi ASI, kondisi medis ibu dan bayi, serta rekomendasi keluarga. Keluarga, terutama suami, ibu kandung, dan mertua, memiliki peran dominan dalam pengambilan keputusan penggunaan susu formula. Penyuluhan tenaga kesehatan turut mempengaruhi keputusan ibu, meskipun belum diterima secara merata. Dalam perspektif Teori Nudge, iklan lebih berfungsi sebagai pemicu perhatian dan pencarian informasi tambahan, sementara keputusan akhir lebih dipengaruhi oleh pengalaman sesama ibu dan dukungan keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pengaruh iklan bekerja melalui interaksi kompleks antara pesan komersial, dinamika keluarga, dan pengalaman menyusui ibu.
Infections remain a major health concern among infants, largely due to their immature immune systems. Infants who are not exclusively breastfed face a higher risk of diarrhea. Formula feeding increases the risk of diarrhea up to 10.5 times, due to potential contamination and the absence of natural immunoprotective components found in breast milk. At the same time, the promotion of infant formula has become more widespread and may influence mothers’ knowledge, attitudes, and practices in infant feeding. This study aims to explore in depth how mothers with infants in the working area of Wonogiri Primary Health Center understand, respond to, and practice formula feeding, as well as to examine the influence of advertising message framing based on Nudge Theory. A qualitative approach was used through in-depth interviews and observations. Informants included mothers with infants under six months old, health volunteers, maternal and child health midwives, the Wonogiri District Health Office, close family members, and infant formula sellers. The results show that mothers generally have good knowledge about infant formula, but their understanding of its nutritional content and biological differences compared to breast milk varies. Social media, especially TikTok, is the main source of information that shapes mothers’ initial perceptions. Infant feeding practices are influenced by breast milk production, medical conditions of the mother and baby, and family recommendations. Family members—especially husbands, biological mothers, and mothers-in-law—play a major role in decisions about using infant formula. Health education from health workers also affects mothers’ decisions, although it is not equally received by all mothers. From a Nudge Theory perspective, advertisements mainly act as attention triggers and encourage further information seeking, while final decisions are more strongly influenced by other mothers’ experiences and family support. These findings show that the influence of advertising works through a complex interaction between commercial messages, family dynamics, and mothers’ breastfeeding experiences.
S-12158
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kevin Akhira Nofsi; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Nida Hanifah Nasir
Abstrak:
Read More
Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan keluhan yang umum terjadi pada pekerja. Salah satu pekerja yang memiliki risiko tinggi untuk terpajan MSDs Adalah sopir bus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) selama mengemudi pada sopir bus PT Transport Express Jaya tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pendekatan deskriptif analitik. Responden pada penelitian ini terdiri dari 40 orang pekerja yang merupakan sopir bus PT Transport Ekspress Jaya. Data dikumpulkan melalui pengukuran langsung dan menggunakan kuesioner yang disebar kepada pekerja. Analisis statistik yang digunakan adalah uji analisis deskriptif dan analisis korelasi chi-square dan menganalisis hasil Odds Ratio (ORD) menggunakan perangkat lunak IBM SPSS. Hasil analisis Uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan signifikan pada salah satu faktor yaitu aktivitas fisik (P-value <0,05), sementara itu faktor individu seperti usia, IMT, konsumsi rokok, dan masa kerja memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap gejala MSDs (P-value >0,05). Faktor pekerjaan seperti durasi, frekuensi, tipe kendaraan dan jarak juga memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap gejala MSDs (P-value >0,05). Analisis juga menggunakan ukuran Odds Ratio (OR) dan interval kepercayaan 95% (CI 95%)
Musculoskeletal Disorders (MSDs) are common complaints among workers. One occupational group with a high risk of MSD exposure is bus drivers. This study aimed to analyze factors associated with Musculoskeletal Disorder (MSD) complaints during driving among bus drivers of PT Transport Express Jaya in 2025. This study employed a cross-sectional design with a descriptive analytic approach. The respondents consisted of 40 bus drivers employed by PT Transport Express Jaya. Data were collected through direct measurements and questionnaires distributed to the workers. Statistical analysis included descriptive analysis and chi-square correlation analysis, as well as the calculation of Odds Ratios (OR) using IBM SPSS software. The results of the chi-square test showed a significant association for one factor, namely physical activity (p-value < 0.05). Meanwhile, individual factors such as age, body mass index (BMI), smoking consumption, and length of service showed no significant association with MSD symptoms (p-value > 0.05). Work-related factors, including driving duration, driving frequency, vehicle type, and travel distance, also showed no significant association with MSD symptoms (p-value > 0.05). The analysis also included the calculation of Odds Ratios (OR) and 95% confidence intervals (95% CI).
S-12159
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Resky Dwi Deswita Iqbal; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Yunita Setiarsih
S-12160
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alvanya Dida Annisaa; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Wayan Pujana
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Rabies adalah penyakit yang 99% disebabkan oleh gigitan anjing, hampir 100% berakibat fatal, namun dapat dicegah melalui pemberian vaksin rutin pada anjing dan setelah gigitan pada manusia. Provinsi Bali mencatat kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) tertinggi di Indonesia dan masih ditemukan kematian. Maka, perilaku vaksinasi anjing peliharaan dan pencarian pertolongan medis penting untuk mengendalikan rabies. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran serta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku terkait rabies pada pemilik anjing di Provinsi Bali tahun 2025. Metode: Studi cross-sectional menggunakan data primer melalui pengisian kuesioner di empat desa/kelurahan dengan kasus HPR positif berulang. Data kategorik dianalisis secara univariat menggunakan persentase dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Dari 228 sampel, 83,7% pemilik anjing mempunyai perilaku yang baik, sementara 12,7% lainnya kurang baik. Faktor yang berhubungan dengan perilaku kurang baik terkait rabies adalah pendapatan rendah (PR = 2,22; 95% CI = 1,06–4,67), tidak bekerja (PR = 2,39; 95% CI = 1,22–4,67), daerah tempat tinggal di kota (PR = 0,42; 95% CI = 0,20–0,88), rumah sewa/kontrak/milik orang lain (PR = 2,22; 95% CI = 1,14–4,35), jumlah anjing 1 ekor (PR = 2,72; 95% CI = 1,26–5,88), pengetahuan kurang baik terkait rabies (PR = 2,82; 95% CI = 1,30–6,09), dan sikap kurang baik terkait rabies (PR = 2,79; 95% CI = 1,33–5,87). Kesimpulan: Perilaku pemilik anjing di Provinsi Bali secara umum sudah baik, namun upaya promosi dan edukasi rabies harus dilanjutkan dan ditingkatkan supaya pengetahuan yang baik mampu diterjemahkan menjadi perilaku yang baik.
Background: Rabies is a disease that is 99% caused by dog bites and is almost 100% fatal, but it can be prevented by annual dog vaccination and post-bite treatment in humans. Bali Province has the highest number of cases of rabies-transmitting animal (RTA) bites in Indonesia and human rabies deaths are still occurring. Therefore, pet vaccination and health-seeking behavior in dog owners are important for rabies control. Aim: This study aims to describe and determine the factors associated with rabies-related behaviors among dog owners in Bali Province in 2025. Methods: This is a cross-sectional study using primary data collected through questionnaires in two villages and two subdistricts with repeated positive RTA cases. Categorical data were analyzed using percentages for univariate analysis and chi-square for bivariate analysis. Results: Of the 228 samples, 83.7% of dog owners have good rabies-related behaviors, while 12.7% have poor behaviors. Factors associated with poor rabies-related behaviors were low income (PR = 2.22; 95% CI = 1.06–4.67), unemployed (PR = 2.39; 95% CI = 1.22–4.67), urban area of residence (PR = 0.42; 95% CI = 0.20–0.88), home rented/leased/owned by someone else (PR = 2.22; 95% CI = 1.14–4.35), owning 1 dog (PR = 2.72; 95% CI = 1.26–5.88), poor rabies-related knowledge (PR = 2.82; 95% CI = 1.30–6.09), and poor rabies-related attitudes (PR = 2.79; 95% CI = 1.33–5.87). Conclusion: Rabies-related behaviors of dog owners in Bali Province is generally good, but rabies promotion and education efforts must be continued and improved so that good knowledge can be translated into good behaviors.
S-12161
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutti Hazwani Qurrotuaini; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Anggy Desmita Pratiwi
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Beberapa bukti dari studi kuantitatif dan tinjauan literatur di Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja dapat menyebabkan perilaku yang tidak sehat seperti, pelecehan seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran literasi kesehatan reproduksi pada siswa SMA serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengambil sampel siswa SMA berusia 15-17 tahun dari kelas X dan XI di SMAN 4 Kota Serang Provinsi Banten (n = 443 Siswa SMA). Instrumen pengukuran literasi kesehatan reproduksi diadaptasi dari kuesioner Survei on Maternal Child and Reproductive Health Literacy in Shanghai menggunakan wawancara kognitif. Uji Bivariabel dilakukan untuk melihat hubungan literasi kesehatan reproduksi dengan umur, jenis kelamin, riwayat permasalahan kesehatan reproduksi, pendapatan orang tua, akses fasilitas kesehatan pendidikan orang tua, jenjang kelas, tempat tinggal, dan akses informasi kesehatan reproduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki literasi kesehatan reproduksi kurang hingga sedang (rata-rata 56,14) dengan skor paling baik pada domain promosi kesehatan dan skor paling rendah pada domain pelayanan kesehatan. Terdapat 6 variabel memiliki hubungan (p-value <0,05) dengan literasi kesehatan reproduksi yaitu, umur, jenis kelamin, riwayat permasalahan kesehatan reproduksi, akses fasilitas kesehatan (asuransi), pendidikan orang tua, akses informasi kesehatan reproduksi. Saran penelitian ini mencakup materi kesehatan reproduksi perlu diintegrasikan bagi siswa SMA dalam kurikulum secara lebih mendalam, tidak hanya dalam mata pelajaran biologi tetapi juga melalui Bimbingan Konseling, PJOK dan kegiatan ekstrakurikuler. Serta penggunaan hasil penelitian digunakan sebagai acuan untuk pengembangan intervensi, media edukasi serta penelitian lebih lanjut dapat melakukan penelitian evaluasi terhadap efektivitas berbagai model intervensi peningkatan literasi kesehatan reproduksi.
Background:. This study aims to determine the description of reproductive health literacy among high school students and the factors associated with it. This study used a cross-sectional design by taking a sample of high school students aged 15-17 years from grades X and XI at SMAN 4 Serang City, Banten Province (n = 443). The reproductive health literacy measurement instrument was adapted from the Survey on Maternal Child and Reproductive Health Literacy in Shanghai questionnaire using cognitive interviews. Bivariable tests were conducted to see the relationship between reproductive health literacy and age, gender, history of reproductive health problems, parental income, access to health facilities, parental education, class level, living arrangements, and access to reproductive health information. The analysis results show that the majority of students have poor to moderate reproductive health literacy, with the highest scores in the health promotion domain and the lowest scores in the health services domain. Six variables are associated with reproductive health literacy, namely age, gender, history of reproductive health problems, access to health facilities (insurance), parental education, and access to reproductive health information. This research recommends that reproductive health materials be integrated more deeply into the curriculum for high school students, not only in biology but also through guidance and counseling, physical education, and extracurricular activities. The research results can also be used as a reference for developing interventions and educational media, and further research can evaluate the effectiveness of various intervention models to improve reproductive health literacy.
S-12162
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
