Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sherli Karolina; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Tris Eryando, Ede Surya Darmawan, Gertrudis Tandy, Drajat Alamsyah
Abstrak: Di Indonesia, kanker serviks adalah kanker kedua paling sering yang ditemukan pada perempuan. Sebagai upaya pencegahan primer, Kementerian Kesehatan telah mengintroduksi imunisasi HPV dalam Program Demonstrasi imunisasi HPV bagi siswi perempuan kelas 5 dan 6 SD di Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 2016. Studi ini adalah kohort retrospektif dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran KIPI vaksin HPV kuadrivalen beserta pengaruh faktor-faktor independen terhadap timbulnya KIPI dan model prediksi dengan menggunakan metode analisis survival. Total 500 laporan surveilans aktif KIPI yang didapat pada tahun 2017 dan dianalisis dengan SPSS. KIPI vaksin HPV kuadrivalen yang terjadi dalam program BIAS HPV di provinsi DKI Jakarta tahun 2017 adalah reaksi nyeri lokal di tempat suntikan (59,6%), bengkak (17,2%), kemerahan (40,8%) dan demam (1,6%). Tidak ditemukan KIPI serius. Variabel independen yang signifikan adalah nomor batch vaksin dan riwayat imunisasi lain dalam waktu 4 minggu sebelum imunisasi HPV. Semua KIPI bersifat ringan dan sembuh sendiri tanpa intervensi. Dapat disimpulkan bahwa vaksin HPV kuadrivalen memiliki gambaran keamanan yang baik. Keputusan untuk melanjutkan dan memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional harus didukung oleh analisis lebih lanjut seperti aspek biaya, cost-effective analysis, ketersediaan vaksin, tingkat penerimaan vaksin serta aspek kapasitas dan manajemen cold chain.
Read More
T-5609
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.Lita Ayuningdyah; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Evi Martha, Endah Caroline Wuryaningsih, Astrid Sarawaty, Hasnerita Hartono
Abstrak:

ABSTRAK Nama : R. Lita Ayuningdyah Program Studi : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Kesehatan Reproduksi Judul : Penerimaan orangtua terhadap vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Kecamatan Tanah Abang Tahun 2017 Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui penerimaan orangtua terhadap vaksinasi HPV melalui kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di DKI Jakarta Tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah  Mix Methods, yaitu secara kuantitatif dengan pengisian kuesioner dan kualitatif dengan wawancara mendalam. Hasil penelitian kuantitatif didapatkan 92,7% orangtua menerima vaksinasi HPV yang diberikan melalui kegiatan BIAS. Sementara itu, pada hasil penelitian kualitiatif ditemukan bahwa penolakan orang tua merupakan salah  satu  kendala yang ditemui dalam pelaksanaan BIAS HPV tahun 2016. Kurangnya pengetahuan orang tua terkait manfaat vaksin HPV, sangat berkaitan dengan kurangnya dukungan dari petugas kesehatan, terutama perihal sosialisasi program BIAS HPV. Kata Kunci : Penerimaan, Orangtua, Vaksinasi HPV, BIAS.


ABSTRACT Name : R. Lita Ayuningdyah Study Program : Magister of Public Health Peminatan : Reproductive Health Judul : Parental Acceptance of Human Papilloma Virus (HPV) Vaccination through School Students Immunization Month (BIAS) In Tanah Abang, In 2017 The study was designed to explore the Parental Acceptance of Human Papilloma Virus (HPV) Vaccination through School Students Immunization Month (BIAS) In DKI Jakarta in 2017. This study using quantitative method by filling questionnaires dan qualitative method with in-depht interview. The result from quantitative research found that  92,7% of parents accept the HPV vaccination that given through BIAS. Meanwhile, the result from qualitative research found that parental’s rejection is one of the obstacles encountered in the implementation of HPV BIAS 2016. The lack of parental knowledge regarding the benefits of HPV vaccine, is strongly related to the lack of support from healthcare workers, especially regarding the socialization of the HPV BIAS program. Keywords : Acceptance, Parental, Vaccination, HPV, BIAS

Read More
T-5022
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Sasuwe; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Toha Muhaimin, Purwanto, Ngabila Salama
Abstrak: ABSTRAK Nama : Marisa Sasuwe Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Reproduksi) Judul : Gambaran Kesiapan Guru Pembina UKS SD Sebagai Fasilitator Vaksinasi HPV Dalam Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Di Jakarta Selatan. Vaksinasi HPV memiliki efektivitas paling tinggi bila diberikan pada anak usia 9-12 tahun. Sejak tahun 2016 Indonesia menjadi satu dari sekian banyak negara yang memberlakukan program vaksinasi HPV berbasis sekolah (BIAS), dimana saat ini program ini masih terbatas di DKI Jakarta.Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa vaksinasi HPV berbasis sekolah memiliki angka cakupan paling tinggi. Namun, menurut data di Jakarta, vaksinasi HPV masih belum mencapai target cakupan 95%. Guru pembina UKS sebagai garda terdepan pelaksanaan vaksinasi HPV di sekolah berperan sanga penting dalam proses pengambilan keputusan orang tua untuk mengijinkan atau menolak pemberian vaksinasi bagi anak mereka. Guru adalah fasilitator yang akan berperan memfasilitasi orang tua dan petugas kesehatan dalam pelaksanaan vaksinasi HPV di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kesiapan Guru Pembina UKS SD Sebagai Fasilitator Vaksinasi HPV Dalam Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Di Jakarta Selatan menurut karakteristik jenis kelamin,umur, tingkat pendidikan, lama menjabat sebagai guru Pembina UKS dan riwayat pelatihan. Pengukuran kesiapan dilihat dalam enam dimensi yaitu peran, sikap, pengetahuan, kapasitas, kapabilitas dan tanggung jawab. Penelitian dilakukan pada 50 Guru pembina UKS SD di 10 Kecamatan Jakarta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode cross sectional dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil Penelitian menunjukkan 52% Guru Pembina UKS di Jakarta Selatan memiliki kesiapan rendah dan 48% memiliki kesiapan tinggi dalam menjalankan tugas sebagai fasilitator vaksinasi HPV BIAS. Dimensi pengetahuan merupakan dimensi kesiapan yang paling rendah, dengan 70% Guru pembina UKS memiliki pengetahuan kurang tentang vaksinasi HPV dan kanker serviks. Karakteristik Individu memiliki hubungan signifikan dengan kesiapan : umur (p= 0.036), lama menjabat (p=0.012) dan riwayat diklat ( p= 0.010). Sedangkan jenis kelamin (p=0.661) dan tingkat pendidikan (p=0.502) tidak ditemukan hubungan signifikan terhadap kesiapan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka pelatihan tentang vaksinasi HPV dalam BIAS bagi Guru pembina UKS merupakan hal yang paling penting untuk dilaksanakan dalam rangka mendukung kesiapan Guru Pembina UKS sebagai fasiliatator vaksinasi HPV BIAS di Jakarta Selatan. Kata Kunci : Vaksinasi HPV. BIAS, Kesiapan Guru pembina UKS ABSTRACT Name : Marisa Sasuwe Study Program : Reproductive Health Judul : Overview of Elementary School Health Teacher (UKS) Readiness as HPV Vaccination Facilitator in the School Children Immunization Month Program (BIAS) in South Jakarta. HPV vaccination has the highest effectiveness when given to children aged 9-12 years. Since 2016 Indonesia has become one of few countries that has implemented a school-based HPV vaccination program (BIAS), which is currently limited to DKI Jakarta. Previous research has shown that school-based HPV vaccination has the highest coverage rates. However, according to data in Jakarta, HPV vaccination has not yet reached the 95% coverage target. UKS teachers as the frontline in implementing HPV vaccination in schools play an important role in the decision-making process of parents to allow or refuse vaccinations for their children. School Health Teacher is the facilitator who will play a role in facilitating parents and health workers in carrying out HPV vaccinations in schools. This study aims to determine the Readiness Overview of Elementary School Health Teacher (UKS) as Facilitators of HPV Vaccination in the School Children Immunization Month Program (BIAS) in South Jakarta according to the characteristics of gender, age, level of education, length of time serving as a UKS Teacher and training history. Measurement of readiness is seen in six dimensions, namely roles, attitudes, knowledge, capacity, capabilities and responsibilities. The study was conducted on 50 UKS elementary school teachers in 10 sub-districts of South Jakarta. This research is a descriptive study with cross sectional method and uses a quantitative approach. The results showed that 52% of UKS teachers in South Jakarta had low readiness and 48% had high readiness in carrying out their duties as facilitators of BIV HPV vaccination. The knowledge dimension is the lowest readiness dimension, with 70% of UKS teachers having less knowledge about HPV vaccination and cervical cancer. Individual characteristics have a significant relationship with readiness: age (p = 0.036), length of service (p = 0.012) and training history (p = 0.010). While gender (p = 0.661) and education level (p = 0.502) no significant relationship was found in readiness in this study. Based on the results of this study, the training on HPV vaccination in BIAS for UKS Teachers is the most important thing to do in order to support the readiness of the UKS Guidance Teacher as a facilitator for BIV HPV vaccination in South Jakarta. Keywords: HPV vaccination, BIAS, elementary school health teacher, readiness
Read More
T-5790
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henny Fatmawati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dadan Erwandi, Rita Damayanti, Malik Afif, Lulu Ariyantheny Dewi
Abstrak:
Kementerian Kesehatan menetapkan program introduksi vaksinasi HPV yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan BIAS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program vaksinasi HPV dan persepsi penerimaan orang tua terhadap vaksinasi HPV pada anak perempuan di SD X Kabupaten Sampang dan SD Y Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam kepada orang tua siswi kelas 5, guru wali kelas 5, tenaga kesehatan di Puskesmas, serta Bagian Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten. Hasil penelitian yaitu kolaborasi lintas sektor dalam sosialisasi pelaksanaan vaksinasi HPV perlu ditingkatkan. Orang tua siswi SD X yang menolak vaksin HPV karena khawatir terhadap efek samping samping dan ketakutan anak terhadap jarum. Pengetahuan orang tua siswi SD X terkait vaksinasi HPV rendah karena tidak mendapatkan informasi dari guru maupun tenaga kesehatan. Orang tua siswi SD Y menerima vaksin HPV karena vaksin bermanfaat untuk anak mereka. Pengetahuan orang tua siswi SDY terkait vaksinasi HPV cukup tinggi. Pemberian informasi di Bangkalan dilakukan dengan 2 metode yaitu tatap muka yang dilakukan tenaga kesehatan kepada guru, dan melalui media sosial Whatsapp group yang dilakukan guru kepada orang tua. Perlu dilakukan sosialisasi kepada guru dan orang tua untuk meningkatkan pengetahuan tentang vaksin HPV, menghilangkan kesalahpahaman tentang vaksin, dan memberikan kejelasan atas pertanyaan dan kekhawatiran, termasuk mengenai KIPI.

The Ministry of Health established an HPV vaccination introduction program that was implemented in an integrated manner with BIAS activities. The purpose of this study was to determine the implementation of the HPV vaccination program and parents' perceptions of acceptance of HPV vaccination for girls at SD X Sampang District and SD Y Bangkalan District, East Java Province. This research is a qualitative research using a case study approach. Data collection was done through in-depth interviews with parents of grade 5 students, homeroom teachers for grade 5, health workers at the Puskesmas, as well as the Surveillance and Immunization Section of the District Health Office. The results of the study are cross-sectoral collaboration in the socialization of the implementation of the HPV vaccination that needs to be improved. Parents of SD X students who refused the HPV vaccine because they were worried about the side effects and their child's fear of needles. The knowledge of parents of SD X students regarding HPV vaccination is low because they did not receive information from teachers or health workers. The parents of SD Y students received the HPV vaccine because the vaccine was beneficial for their child. The knowledge of parents of SDY students regarding HPV vaccination is quite high. The provision of information in Bangkalan was carried out using 2 methods, namely face to face by health workers to teachers, and through social media Whatsapp groups which were carried out by teachers to parents. Socialization needs to be carried out to teachers and parents to increase knowledge about the HPV vaccine, eliminate misunderstandings about vaccines, and provide clarity on questions and concerns, including regarding AEFI.
Read More
T-6822
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Maimanah Lubis; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Radhiana Purisanti
Abstrak:
Kanker leher rahim masih menjadi masalah kesehatan utama pada perempuan di Indonesia sehingga program deteksi dini dengan metode HPV DNA co-testing IVA mulai diimplementasikan sejak 2023 dan diperluas secara nasional pada 2025. Penelitian ini bertujuan menggambarkan hasil skrining kanker leher rahim di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023–2025 berdasarkan waktu, wilayah, kelompok usia, dan tindak lanjut kasus. Penelitian menggunakan desain cross-sectional deskriptif dengan data sekunder program deteksi dini kanker leher rahim terhadap 238.619 perempuan yang menjalani skrining HPV DNA dan IVA. Kriteria inklusi meliputi seluruh perempuan dengan data hasil skrining lengkap periode 2023–2025, sedangkan data duplikat dan tidak lengkap dikeluarkan dari analisis. Hasil penelitian menunjukkan partisipasi skrining meningkat signifikan, sementara proporsi HPV positif menurun dari 5,43% (CI 95% 5,01-5,85) menjadi 2,6% (CI 95% 2,47-2,63) dan IVA positif dari 1,8% (CI 95% 1,56-2,06) menjadi 0,8% (CI 95% 0,77-0,85). Kasus positif paling banyak ditemukan pada usia 30–39 tahun dan
Cervical cancer remains a major health problem among women in Indonesia, leading to the implementation of the HPV DNA and VIA co-testing screening program in 2023, which was expanded nationally in 2025. This study aimed to describe the results of cervical cancer screening in DKI Jakarta from 2023–2025 based on time distribution, region, age group, and follow-up management. A descriptive cross-sectional study was conducted using secondary data from the cervical cancer early detection program involving 238,619 women who underwent HPV DNA and VIA screening. Inclusion criteria included all women with complete screening result data from 2023–2025, while duplicate and incomplete data were excluded from the analysis. The results showed a significant increase in screening participation, while the proportion of HPV-positive cases decreased from 5.43% (95% CI 5.01–5.85) in 2023 to 2.6% (95% CI 2.47–2.63) in 2025, and VIA-positive cases decreased from 1.8% (95% CI 1.56–2.06) to 0.8% (95% CI 0.77–0.85). Positive cases in both screening methods were most found among women aged 30–39 years and
Read More
S-12256
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Livian Chessa Evangelista; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Radhiana Purisanti
Abstrak:
Kanker serviks menempati urutan ketiga kanker terbanyak di Indonesia dengan 36.964 kasus baru dan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua pada perempuan dengan 20.708 kematian. Kementerian Kesehatan merespon situasi ini dengan menginisasi Rencana Aksi Nasional: Eliminasi Kanker Leher Rahim Tahun 2023-2030 untuk memperkuat deteksi dini pada perempuan. Di Provinsi DKI Jakarta, program skrining telah dilaksanakan melalui pendekatan co-testing HPV DNA dan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan hasil IVA positif menggunakan desain cross-sectional berdasarkan Data Hasil Skrining Kanker Serviks Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2025, dengan melibatkan 149.879 peserta yang dianalisis menggunakan perhitungan prevalence ratio (PR). Prevalensi IVA positif ditemukan sebesar 0,7% (1.093 peserta). Analisis bivariat menunjukkan kelompok usia < 30 tahun memiliki prevalensi IVA positif tertinggi, di mana kelompok usia 30-39 tahun (PR: 0,65; 95% CI: 0,568-0,750), 40-49 tahun (PR: 0,34; 95% CI: 0,293-0,411), dan ≥ 50 tahun (PR: 0,17; 95% CI: 0,144-0,222) menunjukkan prevalensi yang lebih rendah. Infeksi high-risk HPV merupakan faktor dengan asosiasi terkuat terhadap IVA positif (PR: 3,3; 95% CI: 2,656-4,101), dengan asosiasi yang semakin kuat pada genotipe hr-HPV tipe 16/18 (PR: 3,92; 95% CI: 2,869-5,365). Inisiasi hubungan seksual <18 tahun (PR: 1,51; 95% CI: 1,231-1,841), riwayat persalinan pertama <20 tahun (PR: 1,46; 95% CI: 1,196-1,784), dan status nullipara berhubungan dengan peningkatan prevalensi IVA positif, di mana kelompok multipara rendah (PR: 0,61; 95% CI: 0,535-0,695) dan kelompok grand multipara (PR: 0,40; 95% CI: 0,319-0,507) menunjukkan prevalensi lebih rendah dibanding nullipara. Penggunaan kontrasepsi, baik hormonal (PR: 1,44; 95% CI: 1,172-1,795) maupun non-hormonal (PR: 1,41; 95% CI: 1,175-1,701), menunjukkan prevalensi IVA positif yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan KB. Status merokok membentuk pola dose-response yang konsisten, di mana perokok aktif memiliki prevalensi IVA positif 2,94 kali lebih tinggi (PR: 2,94; 95% CI: 2,294-3,774) dan perokok pasif 1,20 kali lebih tinggi (PR: 1,20; 95% CI: 1,018-1,437) dibandingkan yang tidak merokok. Studi ini menyimpulkan bahwa infeksi hr-HPV, usia muda, inisiasi seksual dan persalinan dini, paritas, penggunaan kontrasepsi, serta status merokok berhubungan bermakna dengan hasil IVA positif, sekaligus menekankan perlunya penguatan program skrining yang lebih inklusif dan berbasis faktor risiko di DKI Jakarta.

Cervical cancer ranks third among the most common cancers in Indonesia with 36,964 new cases and stands as the second leading cause of cancer death among women with 20,708 deaths. The Ministry of Health responded to this situation by initiating the National Action Plan: Elimination of Cervical Cancer 2023-2030 to strengthen early detection among women. In DKI Jakarta, screening has been implemented through a co-testing approach combining HPV DNA testing and Visual Inspection with Acetic Acid (VIA). This study aimed to analyze factors associated with positive VIA results using a cross-sectional design, drawing on cervical cancer screening data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2025, involving 149,879 participants analyzed using prevalence ratio (PR) calculations. The prevalence of positive VIA was 0.7% (1,093 participants). Bivariate analysis showed that the age group below 30 years had the highest positive VIA prevalence, with older age groups showing lower prevalence: 30-39 years (PR: 0.65; 95% CI: 0.568-0.750), 40-49 years (PR: 0.34; 95% CI: 0.293-0.411), and ≥ 50 years (PR: 0.17; 95% CI: 0.144-0.222). High-risk HPV infection demonstrated the strongest association with positive VIA (PR: 3.3; 95% CI: 2.656-4.101), particularly for hr-HPV genotypes 16/18 combined (PR: 3.92; 95% CI: 2.869-5.365). Sexual debut before age 18 (PR: 1.51; 95% CI: 1.231-1.841), first delivery before age 20 (PR: 1.46; 95% CI: 1.196-1.784), and nulliparity were associated with higher positive VIA prevalence, while low multiparity (PR: 0.61; 95% CI: 0.535-0.695) and grand multiparity (PR: 0.40; 95% CI: 0.319-0.507) showed lower prevalence compared to nulliparous women. Contraceptive use, both hormonal (PR: 1.44; 95% CI: 1.172-1.795) and non-hormonal (PR: 1.41; 95% CI: 1.175-1.701) was associated with higher positive VIA prevalence compared to non-users. Smoking status demonstrated a consistent dose-response pattern, with active smokers showing 2.94 times higher prevalence (PR: 2.94; 95% CI: 2.294-3.774) and passive smokers 1.20 times higher (PR: 1.20; 95% CI: 1.018-1.437) compared to non-smokers. This study concludes that hr-HPV infection, young age, early sexual debut and childbearing, parity, contraceptive use, and smoking status are all significantly associated with positive VIA results, underscoring the need for more inclusive, risk-factor-based cervical cancer screening programs in DKI Jakarta.
Read More
S-12478
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joseph E. Tota ... [et al.]
AJE Vol.178, No.4
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sinta Sasika Novel, Ratu Safitri, Sukma Nuswantara
CDK Vol.36, No.1 (2009)
Jakarta : Kalbe Farma, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Rizka Wardhani; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Gertrudis Tandy
Abstrak:
Latar belakang: Kota Depok mengalami kenaikan 110 kasus kanker serviks pada 2021-2022. Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV). Program imunisasi HPV di Indonesia terintegrasi dengan imunisasi sekolah. Cakupan HPV nasional pada 2021 adalah 78,5% pada dosis 1 dan 60,6% pada dosis 2 dan data cakupan terakhir Kota Depok tahun 2023 adalah 85,3% (di bawah target 90%). Cakupan imunisasi bergantung pada peran orang tua sebagai pemegang keputusan imunisasi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mencari determinan status imunisasi HPV anak terutama dari aspek orang tua dan mendapatkan informasi alasan anak tidak menerima vaksin. Metode: Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan teknik cluster random sampling. Studi ini melakukan analisis univariat dengan menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Cakupan imunisasi HPV pada populasi sampel 79,2%. Dua alasan terbanyak mengapa anak tidak vaksin adalah tidak mendapatkan informasi dari sekolah (41,5%) serta anak sakit atau tidak masuk sekolah (26,8%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa persepsi hambatan orang tua yang rendah (OR 3,57; 95% CI: 1,69-7,51) dan orang tua yang mendapatkan cukup dukungan informasi dari penyedia layanan (OR 2,86; 95% CI 1,14-7,22) memiliki odds yang lebih besar untuk mendapatkan imunisasi HPV. Kesimpulan: Banyaknya orang tua/wali yang tidak mendapatkan informasi dari sekolah dan anak tidak hadir saat jadwal imunisasi, menyiratkan perlu adanya evaluasi prosedur penyampaian informasi serta tindakan proaktif dalam menghubungi orang tua/wali dari anak yang melewatkan imunisasi secara berulang.

Background: Depok City experienced an increase of 110 cervical cancer cases in 2021-2022. Most cases of cervical cancer are caused by human papillomavirus (HPV) infection. The HPV immunization program in Indonesia is integrated with school immunization. The national HPV coverage in 2021 is 78.5% at dose 1 and 60.6% at dose 2 and the latest coverage data for Depok City in 2023 is 85.3% (below the 90% target). Immunization coverage depends on the role of parents as decision makers for child immunization. This study aims to find the determinants of children's HPV immunization status, especially from the parents' aspect and get information on the reasons why children do not receive the vaccine. Methods: The study design used was cross sectional with cluster random sampling technique. This study conducted univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using logistic regression. Results: HPV immunization coverage in the sample population was 79.2%. The top two reasons for not vaccinating children were lack of information from the school (41.5%) and sickness or absence from school (26.8%). Bivariate analysis showed that low perceived parental barriers (OR 3.57; 95% CI: 1.69-7.51) and parents who received enough information support from providers (OR 2.86; 95% CI 1.14-7.22) had greater odds of HPV immunization. Conclusions: The high number of uninformed parents/guardians from schools and missed immunizations implies the need to evaluate information delivery procedures and proactively contact parents/guardians of recurrent missed immunizations.
Read More
S-11643
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meita chairunnisa; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Tiara Amelia, Dini Dahlia
Abstrak:
Vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) merupakan upaya pencegahan kanker serviks pada perempuan, namun sebagian orang tua masih menolak memberikan persetujuan vaksinasi kepada anaknya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi orang tua terhadap penerimaan vaksinasi HPV pada siswi kelas 5 sekolah dasar berdasarkan Health Belief Model (HBM). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain Rapid Assessment Procedure di salah satu sekolah dasar swasta di Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Juni 2026. Delapan orang tua dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, sebagian besar dilakukan melalui telepon, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan pendekatan deduktif berdasarkan teori HBM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang menerima vaksin memiliki persepsi kerentanan yang tinggi, meyakini manfaat vaksin, serta mampu mengatasi hambatan melalui informasi yang diperoleh dan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan. Sebaliknya, kelompok yang menolak memiliki persepsi kerentanan yang rendah, meragukan manfaat vaksin, serta dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap keamanan vaksin, isu kehalalan, pengalaman vaksinasi sebelumnya, dan informasi negatif di media sosial. Persepsi keparahan relatif tinggi pada kedua kelompok sehingga bukan menjadi pembeda utama keputusan vaksinasi. Penerimaan vaksinasi HPV dipengaruhi oleh interaksi persepsi kerentanan, manfaat, hambatan, dan isyarat untuk bertindak. Puskesmas dan sekolah perlu mengadakan sosialisasi interaktif untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan vaksinasi HPV.

Human Papillomavirus (HPV) vaccination through Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) program is a strategy to prevent cervical cancer in women; however, some parents still refuse to provide consent for their daughters to receive the vaccine. This study aimed to explore parents' perceptions of HPV vaccine acceptance among fifth-grade elementary school girls using the Health Belief Model (HBM). A descriptive qualitative study with a Rapid Assessment Procedure design was conducted at a private elementary school in Jagakarsa, South Jakarta, in June 2026. Eight parents were recruited using snowball sampling. Data were collected through semi-structured in-depth interviews, mostly conducted by telephone, and analyzed using deductive thematic analysis based on the HBM constructs. The findings showed that parents who accepted HPV vaccination had a high perceived susceptibility to HPV infection, believed in the benefits of vaccination, and were able to overcome perceived barriers through information seeking and trust in healthcare professionals. In contrast, parents who refused vaccination had low perceived susceptibility, questioned the vaccine's benefits, and were influenced by concerns about vaccine safety, halal issues, previous vaccination experiences, and negative information on social media. Perceived severity was high in both groups and therefore did not distinguish vaccination decisions. HPV vaccine acceptance was influenced by the interaction of perceived susceptibility, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action. Primary healthcare centers and schools should conduct interactive educational sessions to improve knowledge and acceptance of HPV vaccination
Read More
S-12386
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive