Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ratu Dini Nurasih; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Martya Rahmaniati, Wahyuni Khaulah
Abstrak: Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi. Salah satu penyebabnya yaitu persalinan yang tidak dilakukan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan persalinan pada non fasilitas kesehatan di Indonesia tahun 2013. Data yang digunakan yaitu data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 pada 42.587 wanita usia subur yang melahirkan terakhir kali pada kurun waktu 3 tahun terakhir. Analisis data menggunakan uji Chi Square, Chi Square Mantel Haenzel dan regresi logistik. Hasil menunjukkan peningkatan risiko persalinan di non fasilitas kesehatan pada responden berumur muda, paritas tinggi, pendidikan rendah, status ekonomi terbawah, tinggal di perdesaan. Ada hubungan antara tempat persalinan dengan waktu tempuh, jaminan kesehatan, perencanaan kehamilan, tempat ANC, frekuensi ANC, trimester mulai ANC dan pelayanan ANC. Perlu peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai perencanaan persalinan yang aman di fasilitas kesehatan.
Kata kunci: persalinan, fasilitas kesehatan, Riskesdas

Maternal mortality rate in Indonesia is still high. Non facility based delivery is known as one of the linked factor. This study aims to show factors associated with non facility based delivery in Indonesia 2013. The data used is from the Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, there are 42.587 women age 15-49 who gave birth to her latest pregnancy in the 3 years preceding the survey. The data was analysed using Chi Square, Chi Square Mantel Haenzel and logistic regression model. Result shows higher risk of giving birth at non healthcare facilities when mother is younger, have higher parity, lower education, at the lowest quintile of economic status, lives in the rural area. There is association between the place of delivery with time needed to reach facilities, health insurance, pregnancy planning, place of antenatal care, frequency of antenatal care, trimester of first antenatal care visit and the antenatal care services. Communication, information and education about safer delivery planning in healthcare facilities are greatly needed.
Keywords: delivery, healthcare facilities, Riskesdas
Read More
S-8635
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Harfiana; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Pujiyanto, Anhari Achadi, Wirda Saleh, ALim A. Irsal
Abstrak: Abstrak

Tesis ini membahas tentang demand masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan demand masyarakat dan gambarannya. Penelitian ini dengan jenis survei, yang dilakukan pada masyarakat di Kecamatan Bekasi Utara selama 5 bulan (Januari?Mei 2013), dengan sampel penelitian berjumlah 180 kepala keluarga yang bersedia mengisi kuesioner sebagai data primer penelitian. Analisis penelitian dilakukan secara univariat dengan menghitung distribusi frekuensi setiap variabel, bivariat untuk menguji hubungan setiap variabel independen (pendidikan, pekerjaan, jumlah anggota, keluarga, pendapatan, aksesibilitas geografis, jaminan kesehatan dan kebutuhan) dengan variabel dependen (demand masyarakat terhadap pelayanan kesehatan) menggunakan chi-square. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu variabel pendidikan ibu, aksesibilitas geografis, jaminan kesehatan dan kebutuhan berpengaruh dengan demand masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Anna Medika.


This Thesis is discussing about the demand of people towards healthcare facilities. The research purpose are to get a better understanding the corelation of determinan with peoples demand and the big picture of it. The research are conducted by a surveying an group of peoples lived at Bekasi Utara district for 5 months (January?May 2013). The study samples are 180 head of familys, who willing to filled the questionaire as a primary data to the research. Analitic research done by firstly univariate methode by counting the distribution frequency on each variable, second by bivariate analitic to test the korelation between independen variable (education, occupation, number of family member, income, accesibility, health insurance and needs) with the dependend variable (the demand of the people towards health facilities) by using chi?square. The result are the variable of mother education, accesibillity, health insurance, and needs have a influence with demand of the people towards health facilities in Anna Medika Hospital.

Read More
B-1562
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asmaripa Ainy; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Pujiyanto, Ali Ghufron Mukti; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Prastuti Soewondo, Mahlil Ruby
Abstrak:
Sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), Universal Health Coverage (UHC) menjadi agenda utama pembangunan kesehatan yang diimplementasikan di Indonesia melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak tahun 2014. Pada akhir tahun 2022, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 90,45% penduduk Indonesia dan berpotensi meningkatkan utilisasi layanan kesehatan. Namun, variasi utilisasi layanan kesehatan antar kelompok peserta dan wilayah masih terjadi, sehingga pemerataan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan masih menjadi tantangan. Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya estimasi variasi utilisasi layanan kesehatan pada peserta JKN guna mendukung terwujudnya kesetaraan akses layanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data kepesertaan dan kunjungan layanan kesehatan dari data sampel Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2023, data fasilitas kesehatan dari Sistem Monitoring Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), data lama sekolah penduduk umur 15 tahun ke atas dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dari publikasi Provinsi dalam Angka Badan Pusat Statistik tahun 2023, serta data cost weight berdasarkan tarif Indonesian Case Based Groups (INA-CBGs) tahun 2016. Sampel penelitian terdiri atas 1.480.031 peserta JKN aktif dengan data lengkap. Analisis data dilakukan dengan mempertimbangkan bobot sampel, meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan model regresi Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB). Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi utilisasi layanan kesehatan pada peserta JKN setelah mengontrol variabel kovariat. Pada layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), tidak terdapat perbedaan signifikan frekuensi kunjungan rawat jalan maupun rawat inap antara peserta JKN Non Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) dan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Namun, peserta PBI memiliki peluang nol kunjungan rawat jalan di FKTP yang lebih tinggi (OR 1,92; p<0,001) dan peluang nol kunjungan rawat inap di FKTP yang lebih rendah (OR 0,68; p<0,001). Sebaliknya, pada layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL), peserta PBI memiliki frekuensi kunjungan rawat jalan dan rawat inap yang lebih rendah (IRR 0,22 dan 0,43; p<0,001) serta peluang nol kunjungan yang lebih tinggi (OR 1,40 dan 5,00; p<0,001) dibandingkan peserta JKN Non PBI. Lebih lanjut, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi kunjungan antara peserta JKN Non PBI dan PBI dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, rasio FKRTL, penyakit kronis, dan tingkat keparahan penyakit. Upaya pemerataan akses layanan kesehatan melalui kebijakan JKN dan bantuan iuran PBI perlu didukung oleh peningkatan literasi kesehatan pada peserta PBI, kemudahan akses dan navigasi sistem rujukan, serta pemerataan FKRTL, terutama di wilayah yang masih menunjukkan utilisasi relatif rendah seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.

In line with the Sustainable Development Goals (SDGs), achieving Universal Health Coverage (UHC) has become a key health policy priority in Indonesia and has been pursued through the National Health Insurance (JKN) program since 2014. By the end of 2022, JKN coverage had reached 90.45% of the Indonesian population and has the potential to increase healthcare utilization. However, variations in healthcare utilization across membership groups and regions persist, posing challenges to achieving equitable access to and use of healthcare services. This study aimed to estimate variations in healthcare utilization among JKN members to support the achievement of equitable healthcare access. A cross-sectional study design was employed using 2023 membership and healthcare utilization data from the Social Health Insurance Administration Body (BPJS Kesehatan) sample database, health facility data from the National Social Security Council (DJSN) Monitoring System, educational attainment and gross regional domestic product (GRDP) per capita data from the 2023 Provincial Statistics publications of Statistics Indonesia, and cost-weight data based on the 2016 Indonesian Case-Based Groups (INA-CBGs) tariff system. The study included 1,480,031 active JKN members with complete data. Data were analyzed using sample weights through univariate, bivariate, and multivariable analyses with Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB) regression models. The findings revealed significant variations in healthcare utilization among JKN members after adjusting for covariates. At the primary healthcare level (FKTP), no significant differences were observed in the frequency of outpatient or inpatient visits between Contribution Assistance Beneficiaries (PBI) and Non PBI members. However, PBI members had higher odds of having no outpatient visits (OR = 1.92; p < 0.001) and lower odds of having no inpatient visits (OR = 0.68; p < 0.001) at FKTP facilities. In contrast, at the secondary and tertiary referral healthcare level (FKRTL), PBI members exhibited lower frequencies of outpatient and inpatient visits (IRR = 0.22 and 0.43, respectively; p < 0.001) and higher odds of having no visits (OR = 1.40 and 5.00, respectively; p < 0.001) compared with Non PBI members. Furthermore, interaction analyses indicated that differences in healthcare utilization between Non PBI and PBI members were modified by educational attainment, region of residence, referral healthcare facility density, chronic disease status, and disease severity. Efforts to promote equitable access to healthcare through the JKN program and PBI contribution assistance should be supported by improving health literacy among PBI members, strengthening access to and navigation of the referral system, and ensuring a more equitable distribution of referral healthcare facilities, particularly in regions with relatively low utilization, such as Sulawesi, Maluku, and Papua.
Read More
D-625
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rheina Agil Didan; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Puput Oktamianti, Mieska Despitasari
Abstrak:
Telemedicine menjadi solusi potensial untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, terutama di wilayah terpencil, namun adopsinya di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan FKTP dalam menyediakan layanan telemedicine melalui pendekatan literature review terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan pada 2020–2025, diperoleh dari basis data SCOPUS, PubMed, dan Google Scholar. Dari total pencarian, enam artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kesiapan FKTP berada pada tingkat “cukup” hingga “siap” tergantung pada aspek yang dikaji, seperti infrastruktur teknologi, kapasitas sumber daya manusia, dukungan manajerial, serta keberadaan kebijakan dan regulasi yang mendukung. Tantangan utama meliputi keterbatasan jaringan internet, kurangnya pelatihan tenaga kesehatan, serta budaya organisasi yang belum sepenuhnya mendukung transformasi digital. Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan aspek-aspek tersebut agar implementasi telemedicine di FKTP dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. 


Telemedicine offers a promising solution to improve healthcare access, particularly in remote areas, yet its adoption in Indonesia’s Primary Healthcare Facilities (FKTP) remains suboptimal. This study aims to describe the readiness of FKTP in providing telemedicine services through a literature review of scientific articles published between 2020 and 2025, sourced from SCOPUS, PubMed, and Google Scholar. Of the articles found, six met the inclusion criteria and were analyzed further. The synthesis revealed that FKTP readiness ranged from “moderate” to “ready,” depending on the assessed aspects such as technological infrastructure, human resource capacity, managerial support, and the presence of supportive policies and regulations. The main challenges include limited internet connectivity, insufficient training for healthcare workers, and organizational cultures that are not yet fully supportive of digital transformation. Strengthening these factors is essential to ensure that telemedicine implementation in FKTP can be optimized and sustained.
Read More
S-12136
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dapot Pangihutan Silalahi; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, Amila Megraini
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan kejadian tuberkulosis pada pasien HIV/AIDS peserta JKN di Indonesia tahun 2021. Serta Mengetahui hubungan karakteristik peserta (umur, jenis kelamin, status perkawinan, hubungan keluarga, hak kelas rawat, dan segmentasi kepesertaan) dengan kejadian tuberkulosis pada pasien HIV/AIDS peserta JKN di Indonesia tahun 2021. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional, dimana waktu pengumpulan data variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen) hanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2017). Penelitian ini menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan Reguler tahun 2021. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasional, atau pengumpulan data. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta JKN pada pelayanan FKRTL dengan diagnosis primer HIV/AIDS tahun 2021. Sedangkan Sampel pada penelitian ini adalah seluruh peserta JKN dengan diagnosis HIV/AIDS di Indonesia tahun 2021. Adapun hasil penelitian Berdasarkan data sampel BPJS Kesehatan 2021, terdapat 207 peserta JKN dengan HIV/AIDS, mewakili 12.649 peserta. Koinfeksi HIV-TB sebesar 4,02% (508 peserta). Hubungan signifikan dengan koinfeksi hanya ditemukan pada hubungan keluarga dan segmen kepesertaan. Peserta dengan koinfeksi cenderung dewasa (4,20%), laki-laki (4,92%), belum kawin (5,52%), anak (14,84%), rawat kelas I (8,44%), dan segmen PBI APBD (18,11%). Layanan kesehatan terkait koinfeksi terkait dengan jenis FKTP, tipe FKRTL, dan status kepemilikan FKRTL. Koinfeksi lebih banyak pada FKTP dokter umum (17,48%), FKRTL RS Kelas B (6,67%), FKRTL pemerintah (5,05%), tingkat pelayanan FKRTL RJTL (9,8%), dan wilayah regional FKRTL regional 1 (5,96%).

This research aims to investigate the determinants of tuberculosis occurrence in HIV/AIDS patients covered by the National Health Insurance Program (JKN) in Indonesia in 2021. It also aims to explore the relationship between participant characteristics (age, gender, marital status, family relationship, care class, and membership segmentation) and the occurrence of tuberculosis in HIV/AIDS patients under JKN in Indonesia in 2021. The study adopts a quantitative research approach with a cross-sectional study design, where data collection for independent and dependent variables occurs only once at a single point in time (Nursalam, 2017). Secondary data from the Regular Health Insurance BPJS Sample for the year 2021 is utilized in this research. A cross-sectional study is employed to examine the dynamic correlation between risk factors and effects through observational or data collection approaches. The population consists of all JKN participants receiving services from Primary Health Care Facilities (FKRTL) with a primary diagnosis of HIV/AIDS in 2021. The sample includes all JKN participants diagnosed with HIV/AIDS in Indonesia in 2021. Based on the 2021 BPJS Health Sample data, there were 207 JKN participants with HIV/AIDS, representing 12,649 participants. The HIV-TB coinfection rate was 4.02% (508 participants). Significant relationships with coinfection were found only in family relationships and membership segmentation. Participants with coinfection tended to be adults (4.20%), males (4.92%), unmarried (5.52%), children (14.84%), receiving Class I care (8.44%), and in the Regional Budgetary Insurance (PBI) APBD segment (18.11%). Health services related to coinfection were associated with the type of Primary Health Care Facility (FKTP), FKRTL type, and FKRTL ownership status. Coinfection was more prevalent in general practitioner FKTP (17.48%), FKRTL Class B Hospitals (6.67%), government-owned FKRTL (5.05%), RJTL FKRTL service level (9.8%), and Regional FKRTL regional 1 (5.96%).
Read More
S-11546
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hafizha Astia; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Lhuri Dwianti Rahmartani, Retno Kusuma Dewi, Windy Oktavina
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit kuno yang sampai sekarang masih menjadi masalah, maka diperlukan program penanggulangan secara aktif promotif, salah satunya melalui investigasi kontak (IK), yaitu kegiatan pelacakan dan investigasi pada orang-orang yang kontak dengan pasien untuk menemukan terduga TBC. IK semestinya dilaksanakan oleh puskesmas, namun tidak semua pasien TBC berobat di puskesmas. Klinik JRC-PPTI menyediakan layanan tes cepat molekuler (TCM) secara gratis sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan IK. Petugas kesehatan akan menanyakan jumlah dan usia dari orang yang tinggal serumah dengan pasien dan memintanya untuk datang ke saat jadwal kontrol berikutnya. Namun, adanya hambatan kontak untuk datang langsung memodifikasi IK di klinik JRC-PPTI, berupa pemeriksaan secara tidak langsung bagi keluarga pasien yang tidak bisa datang dengan menitipkan sampel dahak pada pot dahak yang sebelumnya sudah dititipkan pada pasien saat berobat, selanjutnya sampel dibawa kembali pada jadwal kontrol berikutnya. Ternyata, dengan kemudahan yang diberikan, masih sedikit keluarga pasien melakukan IK sehingga diperlukannya evaluasi untuk mengetahui hambatan dari pelaksana program menggunakan kerangka kerja RE-AIM dan perspektif penerima menggunakan teori health belief model (HBM). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan wawancara mendalam kepada pasien TBC, keluarga pasien, dokter, perawat dan pimpinan klinik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hambatan pelaksanaan investigasi kontak serumah difasilitas kesehatan swasta dari persepsi klinik dan kontak serumah. Dari hasil penelitian, ditemukan beberapa hambatan dalam pelaksanaan program IK di Klinik Utama JRC-PPTI yang meliputi jangkauan, efektifitas, adopsi, implementasi dan pemeliharaan. Sementara pelaksanaan IK di klinik utama JRC-PPTI dipengaruhi oleh persepsi kerentanan, keparahan, manfaat dan isyarat berperilaku. 

Tuberculosis (TB) is an ancient disease that remains a problem even today, necessitating an actively promotive and preventive program. One of the strategies used is contact investigation (CI), which involves tracing and investigating individuals who have had contact with TB patients to identify potential TB cases. Ideally, CI should be carried out by primary healthcare centers, but not all TB patients seek treatment at such facilities. JRC-PPTI Clinic provides free rapid molecular testing (RMT) services, enabling the implementation of CI. Healthcare workers inquire about the number and ages of individuals living with the patient and request them to come for their next scheduled follow-up. However, there are contact barriers preventing them from coming in person, which modifies the CI process at JRC-PPTI Clinic. Instead, an indirect examination is conducted for family members who cannot come by having them deposit a sputum sample in a previously provided container, which is then collected during the next scheduled follow-up visit. Despite the convenience provided, only a few family members of TB patients participate in CI. Therefore, an evaluation is needed to identify the barriers to program implementation using the RE-AIM framework and the perspectives of recipients using the Health Belief Model (HBM) theory. This qualitative research adopts a case study approach and involves in-depth interviews with TB patients, their families, doctors, nurses, and clinic leaders. The objective of this study is to identify the barriers to implementing household contact investigation in a private healthcare facility from the clinic's and household contacts' perspectives. The research findings reveal several obstacles to the implementation of CI at JRC-PPTI Main Clinic, including reach, effectiveness, adoption, implementation, and maintenance. Meanwhile, the implementation of CI at the JRC-PPTI main clinic is influenced by perceptions of vulnerability, severity, benefits, and behavioral cues.
Read More
T-6763
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindya Oktaria Yudhanti; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Milla Herdayati, Lili Musnelina
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global hingga saat ini. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari lima negara dengan beban kasus tertinggi di dunia. Empat provinsi dengan kasus notifikasi TB RO tertinggi secara nasional berada di pulau Jawa. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (fasyankes) berperan penting pada upaya pencegahan dan penanggulangan pengendalian TB RO. Pengaruh fasyankes terhadap pengendalian TB RO tidak hanya terbatas pada mutu kualitas pelayanannya, tetapi juga aksesibilitas bagi masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh akses fasyankes terhadap kejadian TB RO di Pulau Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder, yaitu SKI 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Akses fasyankes sulit berpengaruh terhadap kejadian TB RO di Pulau Jawa (nilai p = 0,008) sebagai faktor protektif dengan aOR sebesar 0,460 (aOR = 0.460; 95% CI = 0.260–0.814). Faktor dominan yang meningkatkan kejadian TB RO adalah status ekonomi terbawah (aOR: 2,894; 95% CI: 1,468–5,703; p-value: 0,002) dan menengah bawah (aOR: 2,131; 95% CI: 0,927–4,901; p-value: 0,075) serta adanya riwayat penyakit komorbid (aOR: 1,961; 95% CI: 1,053–3,651; p-value: 0,034). Sementara itu, penderita TB RO yang tidak memiliki PMO menjadi faktor protektif terhadap kejadian TB RO (aOR: 0,579; 95% CI: 0,341–0,981; p-value: 0,042).

Tuberculosis (TB) remains a pressing global health issue to date. Indonesia is recorded as one of the top five countries with the highest TB burden globally. Four provinces with the highest national notification cases of Drug-Resistant Tuberculosis (DR-TB) are located on the island of Java. Healthcare facilities play a pivotal role in the prevention, management, and control of DR-TB. The impact of healthcare facilities on DR-TB control is not limited solely to the quality of service provided, but also extends to their accessibility to the public. Therefore, this study aims to examine the effect of healthcare facility accessibility on the incidence of DR-TB in Java. This quantitative study utilized secondary data derived from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Data analysis was conducted using logistic regression. The results indicate that difficult healthcare facility accessibility significantly affects the incidence of DR-TB in Java (p = 0.008), acting as a protective factor (aOR = 0.460; 95% CI = 0.260–0.814). The dominant factors increasing DR-TB incidence were the lowest economic status (aOR: 2.894; 95% CI: 1.468–5.703; p = 0.002), the lower-middle economic status (aOR: 2.131; 95% CI: 0.927–4.901; p = 0.075), and a history of comorbidities (aOR: 1.961; 95% CI: 1.053–3.651; p = 0.034). Conversely, the absence of a treatment supervisor (PMO) was found to be a protective factor against DR-TB incidence (aOR: 0.579; 95% CI: 0.341–0.981; p = 0.042).
Read More
S-12379
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajrin Birrulwalidain; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis utilisasi pelayanan kesehatan mental depresi di fasilitas kesehatan pada peserta JKN tahun 2023. Desain penelitian ini non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta memanfaatkan pelayanan kesehatan mental depresi dengan frekuensi kunjungan yang rendah atau 1-3 kali kunjungan dalam satu tahun, yaitu sebanyak 70.351 (88,3%) peserta. Faktor-faktor yang menunjukkan hubungan yang signifikan yaitu umur, jenis kelamin, status perkawinan, segmentasi peserta, jenis fasilitas kesehatan, kepemilikan fasilitas kesehatan, dan wilayah fasilitas kesehatan. Determinan utama adalah umur, dengan peserta yang berumur 45-54 tahun memiliki peluang tertinggi untuk berada pada kategori frekuensi kunjungan yang tinggi (OR: 2,583; 95% CI: 2,042-3,268). Temuan ini menunjukkan bahwa diperlukan edukasi, intervensi, peningkatan kualitas layanan dan tenaga kesehatan, serta pemerataan fasilitas dan tenaga kesehatan.


This study analyzes the utilization of mental health services for depression at healthcare facilities among JKN participants in 2023. The research design is non-experimental with a cross-sectional approach. The results show that the majority of participants utilized mental health services for depression with a low frequency of visits, ranging from 1 to 3 visits per year, totaling 70,351 (88.3%) participants. Factors that showed significant associations include age, gender, marital status, participant segmentation, type of healthcare facility, ownership of healthcare facility, and facility location. The main determinant is age, with participants aged 45-54 having the highest likelihood of being in the high-frequency visit category (OR: 2.583; 95% CI: 2.042-3.268). These findings indicate the need for education, interventions, improvement in service quality and healthcare providers, as well as the equitable distribution of healthcare facilities and workforce.
Read More
S-12077
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Afifah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Trisari Anggondowati, Chandra Nurcahyo
Abstrak:
Penelitian ini membahas mengenai utilisasi fasilitas kesehatan tingkat pertama  pelayanan kesehatan mental anxiety pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data sampel BPJS tahun 2025 yang berisi data kunjungan tahun 2024 dan menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta melakukan kunjungan ke FKTP sebanyak 1-3 kali dalam satu tahun yang termasuk dalam kategori utilisasi rendah sebanyak 158.957 peserta. Proporsi utilisasi pelayanan kesehatan mental anxiety di Indonesia lebih besar pada jenis kelamin perempuan sebanyak 118.730 peserta, kelompok umur dewasa (19-59 tahun) sebanyak 144.533 peserta, status kawin 110.577, tinggal di Provinsi Jawa Barat sebanyak 34.186 peseta, jenis fasilitas kesehatan puskesmas sebanyak 107.875 peserta, fasilitas kesehatan milik pemerintah sebanyak 113.261 peserta, dan segmen peserta PPU sebanyak 56.900 peserta. Faktor yang menunjukkan adanya hubungan signifikan diantaranya, yaitu umur, status perkawinan, dan segmentasi peserta.

This study analyses about utilization of first-level health facilities for mental health services for anxiety among National Health Insurance (NHI) in Indonesia. This study used cross-sectional design using BPJS sample data for 2025 which contained visit data for 2024 and used Chi-Square. The result shows that the majority of participants utilized at primary healthcare with range 1 – 3 visits per year in low category of utilization, totaling 158.957 participants. Proportion of mental health services utilization for anxiety at primary healthcare in Indonesia is greater in the female gender with 118.730 participants, adult group (19-59 years) with 144.533 participants, married status with 110.577 participants, livin in West Javawith 34.186 participants, visiting puskesmas with 107.875 participants, Government-owned healthcare facilities with 113.261 participants, and PPU participants segmentation with 56.900 participants. The factors significantly associated with anxiety related mental health service utilization were age, marital status, and participant segmentation.
Read More
S-12449
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rangga Maher Alfajar; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Prevalensi gangguan depresi dan kecemasan (anxiety) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan berkontribusi terhadap beban penyakit. Tingkat utilisasi pasien penderita depresi masih cukup rendah yang mana akan berdampak pada relaps di Indonesia (kambuh) dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran serta faktor – faktor yang berhubungan dengan utilisasi pelayanan kesehatan RJTL peserta JKN usia dewasa (18 – 59 tahun) penderita depresi dengan komorbid anxiety tahun 2024. Desain penelitian potong lintang dengan menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Peserta JKN penderita depresi dengan komorbid anxiety melakukan utilisasi tidak rutin (≤ 4 kali) sebesar 73,4%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p value < 0,05) pada variabel usia, jenis kelamin, hubungan keluarga, status perkawinan, segementasi peserta, regional FKRTL serta tipe dan kepemilikan FKRTL. Faktor utama yang berhubungan adalah tipe FKRTL RS Kelas B (OR = 3,449; 95% CI = 2,293 – 5,188) dan kategori usia dewasa pra lansia ( OR = 1,957; 95% CI = 1,793 – 2,136). Utilisasi layanan RJTL oleh penderita depresi dengan komorbid anxiety di Indonesia masih belum optimal secara nasional meskipun akses layanan melalui skema JKN telah tersedia yang menunjukkan bahwa banyak pasien tidak mendapatkan pemantauan secara konsisten. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko relaps (kambuh) dan penurunan kualitas hidup pasien secara signifikan.

The prevalence of depression and anxiety disorders continues to increase every year and contributes to the burden of disease. The level of healthcare utilization among patients with depression is still relatively low, which may lead to relapse and a significant decline in quality of life in Indonesia. This study aimed to describe and identify the factors associated with the utilization of referral outpatient healthcare services among adult JKN participants (18–59 years old) with depression and comorbid anxiety in 2024. This study used a cross-sectional design with the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data. Among JKN participants with depression and comorbid anxiety, 73.4% utilized healthcare services irregularly (≤ 4 visits). Bivariate analysis showed significant relationships (p-value < 0.05) between healthcare utilization and the variables of age, gender, family relationship, marital status, participant segmentation, FKRTL regional classification, as well as the type and ownership of FKRTL. The main associated factors were Class B hospitals (OR = 3.449; 95% CI = 2.293–5.188) and pre-elderly adult age group (OR = 1.957; 95% CI = 1.793–2.136). The utilization of referral outpatient healthcare services by patients with depression and comorbid anxiety in Indonesia is still not optimal at the national level. Although access to healthcare services through the JKN scheme is already available, the level of adherence to routine visits remains low, indicating that many patients do not receive consistent monitoring. This condition may increase the risk of relapse and significantly reduce patients’ quality of life.
Read More
S-12227
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive