Ditemukan 38 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Riviana; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Martya Rahmaniati, Ning Sulistyowati
S-10183
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febreza Ramadhan Sayih; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Hendra, Yuni Kusminanti
S-7028
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Agung Suranto
Abstrak:
PT American Standard Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sanitary manufactur yang memproduksi peralatan sanitasi seperti closetdan wastafel. Salah satu tahapan produksinya yaitu pencetakan (casting) sertapembakaran yang suhunya dapat mencapai 20000C. Hasil menunjukkan indeks WBGT in rata-rata area Kiln dan Cast Shop antara 30.710C-33.80C dengan polakerja pekerja 50%-75% serta beban kerja yang masuk dalam katagori sedang halini dapat menyebabkan pekerja mengalami heat stress. Heat stress dapatdipengaruhi oleh faktor suhu lingkungan yang tinggi, kelembaban, kecepatan angin, pola kerja, beban kerja, serta pakaian kerja. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengethuipengendalian heat stres yang telah dilakukan perusahaan terhadap pekerja di areaKiln dan Cast shop di PT American Standard Indonesia. Hasil Penelitian berupaanalisis faktor penyebab heat stress dan pengendalian heat stress yang telahdilakukan di area Kiln dan Cast Shop PT American Standard Indonesia serta evaluasi terhadap program pengendalian yang telah dilakukan. Kata Kunci : Evaluasi Pengendalian, Heat Stress
PT American Standard Indonesia is a company engaged in the field ofsanitary manufactur -producing sanitary equipment, such as closets and sinks. Oneof the stages of production that is printing ( casting ) as well as the combustiontemperature can reach 20000C . Results showed WBGT index in the average areabetween Kiln and Cast Shop 30.710C - 33.80C with work patterns 50 % -75 % ofworkers as well as the workload in the category of being this may cause workersto experience heat stress. Heat stress can be influenced by high ambienttemperatures, humidity, wind speed, work patterns, workload, and work clothes.This study is a descriptive cross-sectional study design. This study aims todetermine heat stress control company that has been done in the area of workersand Kiln Cast shop in PT American Standard Indonesia . Research results formthe analysis of the causes of heat stress and heat stress control has been done inthe area of Kiln and Cast Shop PT American Standard Indonesia and evaluation ofcontrol programs that have been carried out.Keywords: Evaluation control, Heat Stress
Read More
PT American Standard Indonesia is a company engaged in the field ofsanitary manufactur -producing sanitary equipment, such as closets and sinks. Oneof the stages of production that is printing ( casting ) as well as the combustiontemperature can reach 20000C . Results showed WBGT index in the average areabetween Kiln and Cast Shop 30.710C - 33.80C with work patterns 50 % -75 % ofworkers as well as the workload in the category of being this may cause workersto experience heat stress. Heat stress can be influenced by high ambienttemperatures, humidity, wind speed, work patterns, workload, and work clothes.This study is a descriptive cross-sectional study design. This study aims todetermine heat stress control company that has been done in the area of workersand Kiln Cast shop in PT American Standard Indonesia . Research results formthe analysis of the causes of heat stress and heat stress control has been done inthe area of Kiln and Cast Shop PT American Standard Indonesia and evaluation ofcontrol programs that have been carried out.Keywords: Evaluation control, Heat Stress
S-8154
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yessi Oktora Silalahi; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Kemal N. Siregar, Misti
S-9801
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rumiris Feronika Simaremare; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Indri Hapsari Susilowati, Trisnajaya, Masjuli
Abstrak:
Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan penilaian terhadap pajanan tekanan panasdi workshop pembuatan batik yang terletak di Kecamatan Mauk, Tangerang.Sebanyak 84% dari pekerja yang diwawancarai mengeluh tentang suhu lingkungankerja yang dirasa terlalu panas, meskipun dalam hal ini sudah terdapat pengendalianterhadap tekanan panas yang terpasang pada bangunan. Penilaian didasarkan pada tigakriteria menurut Worksafe BC 2007, yakni faktor lingkungan, faktor pekerja, danfaktor pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Suhu Basah dan Bola(ISBB) di luar ruangan (outdoor) lebih tinggi dibanding ISBB di dalam ruangan(indoor) dan indeks panas berada pada area berbahaya dengan level risiko tinggi.Hasil observasi faktor pekerja yang meliputi aklimatisasi, status hidrasi dan pakaiankerja tidak menunjukkan adanya upaya pengendalian yang dilakukan. Demikian jugahasil observasi pada faktor pekerjaan yakni beban kerja dan pola kerja tidakmenunjukkan adanya pengendalian administratif yang diupayakan dalam menanganikeluhan terhadap pajanan tekanan panas ini. Penurunan tingkat risiko pajanan tekananpanas diharapkan dapat dilakukan dengan modifikasi pengendalian teknis,mengupayakan pengendalian administratif serta penggunaan pakaian kerja yangsesuai dengan lingkungan kerja dengan pajanan tekanan panas.
The aim of this study was to make an assessment of the heat stress exposure in a BatikWorkshop located at Kecamatan Mauk, Tangerang. 84% of interviewed workerscomplained about the working environment temperature that tends to be very hot,although the building already has a built-up control to heat stress. The assessment isbased on three criteria by Worksafe BC 2007 that is environmental, worker, and workfactors. The result showed that the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) outdoorhigher than indoor, and the heat index is at dangerous area with a high risk level.Observation on worker (acclimatization, hydratin and clothing) and work (work loadand work rate) factors did not show any control measures undertaken. The level ofrisk can be reduced by modification of engineering control, administrative control andthe proper personal protective equipment (clothing).
Read More
The aim of this study was to make an assessment of the heat stress exposure in a BatikWorkshop located at Kecamatan Mauk, Tangerang. 84% of interviewed workerscomplained about the working environment temperature that tends to be very hot,although the building already has a built-up control to heat stress. The assessment isbased on three criteria by Worksafe BC 2007 that is environmental, worker, and workfactors. The result showed that the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) outdoorhigher than indoor, and the heat index is at dangerous area with a high risk level.Observation on worker (acclimatization, hydratin and clothing) and work (work loadand work rate) factors did not show any control measures undertaken. The level ofrisk can be reduced by modification of engineering control, administrative control andthe proper personal protective equipment (clothing).
T-4746
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alwina Fitria Maulidiani; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Ike Pujiriani
Abstrak:
Kombinasi dari temperatur lingkungan kerja, panas metabolik dari tubuh pekerja,pakaian kerja, dan faktor individu dapat menimbulkan tekanan panas (heat stress)bagi pekerja di area peleburan, proses sekunder, dan pengecoran SSP PT KrakatauSteel. Tekanan panas berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan (heat-relateddisorders) yang diawali dengan berbagai respon fisiologis tubuh (heat strain)berupa gejala-gejala atau keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh pekerja.Penelitian dilakukan pada 51 orang responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami tekanan panas adalah 36 orang dari 51 responden (70,6%) di area peleburan danproses sekunder. Seluruh responden merasa bahwa suhu lingkungan kerja mereka panas dan 74,5% responden merasa tidak nyaman (terganggu) dengan kondisi panas tersebut. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya pengendalian dari segiteknis, administratif, maupun penyediaan alat pelindung diri untuk meminimalisasi risiko timbulnya keluhan yang dirasakan pekerja akibat tekanan panas.
Kata kunci : Tekanan panas, keluhan subjektif.
Read More
Kata kunci : Tekanan panas, keluhan subjektif.
S-7585
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novriadi Kurniawan; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Chandra Satrya, Rusbani Kurniawan, Priyo Djatmiko
Abstrak:
Indonesia merupakan daerah tropis yang sering mengalami musim kemarau panjang dan panas telah dianggap bahaya yang umum dan harus dihadapi oleh masyarakat. Beberapa masalah kesehatan yang dapat timbul akibat panas yaitu dehidrasim heat syncope, heat exhaustion hingga heat stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pajanan heat stress pada pekerjerja di PT N pada tahun 2019 melaui penilaian keluhan subjektif yang dialami pekerja dengan menggunakan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui 2 cara yaitu primer dan sekunder. Hasil analisis menunjukan pekerja pada area pengukuran memiliki beban kerja ringan dan sedang sebesar 42.9% dan 57.1%. Pekerja di PT N juga termasuk pada pola kerja 75%-100% dan koreksi pakaian ± 0. Umur pekerja yg menjadi responden lebih banyak diisi oleh pekerja dengan umur dari 35 tahun sebesar 61%. IMT pekerja juga terdapat beberapa responden dengan IMT berlebih sebesar 29.9%. Beberapa responden tidak pernah mendapatkan pelatihan atau materi mengenai heat stress sebesar 63.6% dan tingkat konsumsi air kurang dari 4 liter sebesar 70.1%. Responden mengalami keluhan kerja ringan dengan persentase 97,4% dan 2 orang dengan keluhan subjektif berat. Hampir disemua area pengukuran melampui nilai ambang batas, namun tidak begitu besar. Kedua responden dengan keluhan subjektif berat dianalissi melalui data karakteristiknya dan dikeathui bahwa kedua responden mengkonsumsi air kurang dari 4 liter dan berumur cukup tua yaitu 44 tahun dan 54 tahun. Sangat disarankan untuk melakukan beberapa tindakan pengendalian seperti engineering control dan pengendalian administrasi untuk mengurangi pajanan dan mengindari munculnya heat strain pada pekerja di PT N.
Read More
T-5747
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zarah Defi Saputri; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Elsye As Safira
S-8195
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurul Puspita; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Istiati Suraningsih
Abstrak:
Pekerja di pabrik pembuatan gong Bogor berisiko mengalami tekanan panas yang berasal dari tungku pembakaran. Tujuan dari penelitian yaitu untuk memperoleh gambaran keluhan kesehatan akibat tekanan panas. Penelitian dilakukan pada 18 pekerja dengan desain studi deskriptif cross-sectional pada bulan Juni 2016. Hasil penelitian menunjukkan indeks WBGT di ruang produksi melebihi nilai ambang batas yang diperkenankan dan pekerja mengalami tekanan panas. Keluhan paling dominan yang dirasakan pekerja yaitu banyak berkeringat, cepat haus dan lelah, tidak nyaman dalam bekerja, kulit terasa panas, dan kulit terasa perih kemerahan. Pabrik disarankan memperbaiki lingkungan kerja untuk meminimalisasi keluhan kesehatan dan risiko gangguan kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci : Tekanan panas, keluhan kesehatan
Employees of gong factory in Bogor had a risk to experience heat stress from furnace. The aim of this study is to obtain an explanation of health complaint due to heat stress. The subject of the study was 18 employees, and the method used was cross-sectional descriptive study on July 2016. The study found that WBGT index in production area exceeded threshold value, therefore the employees experienced heat stress. The most dominant complaint from the employees were easily getting perspire, thirsty, tired, uncomfortable in working, hot skin, and sore skin redness. The factory was suggested to improve a better work environment to minimize health complaint and risk of heat-related illness.
Key words: Heat Stress, Health Complaint
Read More
Kata kunci : Tekanan panas, keluhan kesehatan
Employees of gong factory in Bogor had a risk to experience heat stress from furnace. The aim of this study is to obtain an explanation of health complaint due to heat stress. The subject of the study was 18 employees, and the method used was cross-sectional descriptive study on July 2016. The study found that WBGT index in production area exceeded threshold value, therefore the employees experienced heat stress. The most dominant complaint from the employees were easily getting perspire, thirsty, tired, uncomfortable in working, hot skin, and sore skin redness. The factory was suggested to improve a better work environment to minimize health complaint and risk of heat-related illness.
Key words: Heat Stress, Health Complaint
S-9117
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Safiera Amelia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra; Adenan
Abstrak:
PT XYZ adalah industri manufaktur yang memiliki proses produksi yang menghasilkan panas dan berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif akibat tekanan panas pada pekerja di area fermentasi kedelai dan pemasakan PT XYZ. Penelitian dilakukan pada 55 responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) digunakan untuk mengukur risiko tekanan panas. Kuesioner menilai keluhan subjektif pekerja akibat tekanan panas. Hasil menunjukkan indeks WBGT rata-rata di area adalah 27,35°C - 32,29°C. Terdapat 70,9% responden mengalami tekanan panas dan 54,5% mengalami keluhan ringan. Keluhan subjektif utama yaitu banyak berkeringat (67,3%) dan merasa haus (50,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif, yaitu kejadian tekanan panas (p value= 0,001) dan beban kerja (p value= 0,019). Rekomendasi dari segi teknis, administratif, maupun personal dibutuhkan untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan dampak kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.
PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
Read More
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.
PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
S-9315
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
