Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dyani Kusumowardhani; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Mohammad Syahril, Titi Anggraeni Nasution
Abstrak: Kondisi pandemi Covid-19 memaksa semua rumah sakit untuk bekerja keras agar dapat memberi layanan terbaik pada penyakit baru ini. Salah satunya adalah mencari cara pelayanan yang seefisien mungkin tanpa mengurangi mutu pelayanan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana penerapan Lean Management dapat menjadi cara bagi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso (RSPI SS) untuk mencapai efisiensi pelayanan di Instalasi Perawatan Intensif (ICU). Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif observasional semi eksperimental dengan intervensi berupa perubahan alur pelayanan keperawatan. Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung, Focus Group Discussion, dan wawancara mendalam. Dari penelitian didapatkan bahwa untuk menangani pasien Covid-19 di ICU RSPI SS, perbandingan perawat-pasien 1:1 masih sesuai. Prinsip dasar cara kerja yang terstandarisasi diterapkan dengan memodifikasi cara pembagian waktu melakukan pelayanan menjadi 2 grup dan pengaturan alur pelayanan keperawatan. Prinsip dasar lainnya yaitu Kaizen diterapkan dengan evaluasi dan penyempurnaan alur secara terus menerus. Berbagai metoda Lean, yaitu Visual Management, 5S, dan Kanban diterapkan di ICU RSPI SS, termasuk untuk pemantauan pasien serta penyiapan obat dan Alat Pelindung Diri. Keterbatasan area nurse station menjadi kendala kelancaran pekerjaan. Disarankan untuk memanfaatkan teknologi informasi semaksimal mungkin, mengkaji perubahan letak nurse station utama, serta menerapkan Lean Management di unit-unit pelayanan lainnya
Read More
B-2244
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ema Suryani; Pembimbing: Zakianis; Ririn Arminsih; Penguji: Ema Hermawati, Satria Pratama, Fachrudin Ali Achmad
Abstrak: Ventilator mekanik merupakan salah satu aspek yang penting dan banyak digunakan bagi perawatan pasien kritis di Intensif Care Unit (ICU). Lama pemakaian ventilator mekanik merupakan salah satu faktor penting penyebab VAP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama pemakaian ventilator mekanik dengan kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) di ICU RSUD Tarakan Jakarta tahun 2014 2017 Jenis peneltian analitik, desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Metode pengambilan sampel adalah consecutive sampling dengan cara observasi catatan medik pasien yang memakai ventilator mekanik minimal 48 jam dan dirawat minimal 3 hari di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta Tahun 2014 2017 dan sampel berjumlah 106 sampel. Data dianalisis dengan uji chi square, t-test independent, dan regresi logistik. Prevalensi Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) sebesar 17,9%. Lama pemakaian ventilator mekanik dan lama perawatan secara statistik menunjukkan berhubungan yang bermakna dengan kejadian VAP. Sedangkan variabel umur, penyakit yang mendasari, posisi tidur, pembedahan dan pemberian antibiotik secara statistik tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP). Hasil analisis multivariat diperoleh bahwa variabel lama pemakaian ventilator mekanik merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian VAP, dengan OR=5,265 (95% CI: 1,084-25,548)
Mechanical ventilator is one of the important aspects and frequently used for treatment of critical patients in the Intensive Care Unit (ICU). The duration for using mechanical ventilator is important factors caused VAP. This research aimed to find the correlation between duration of mechanical ventilator use and Ventilator Associated Pneumonia (VAP) case in ICU RSUD Tarakan Hospital Jakarta 2014 2017. This was an analitic research with observational study (cross-sectional design). Sampling method used consecutive sampling by observed medical records of patients who used mechanical ventilator at least 48 hours and treated at least 3 days in ICU RSUD Tarakan Hospital Jakarta January 2014 December 2017, as many as 106 sampels. Data was analyzed by chi-square, t-test independent, and logistic regression. Prevalention of Ventilator Associated Pneumonia (VAP) was about 17,9%. Duration of mechanical ventilator use and duration of treatment had significant correlation to VAP. While age, basic disease, sleep position, surgery and antibiotic treatment insignificant to VAP. Multivariate analysis showed that duration of mechanical ventilators use variable was the most dominant variable related to VAP OR=5,265 (95% CI: 1,084-25,548)
Read More
T-5509
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lovia Lova; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Prastuti Soewondo, Helen Andriani, Badriah; Maryati Nurbaya
Abstrak: Dengan ditetapkannya Covid-19 sebagai kondisi kegawatdaruratan kesehatan dunia oleh WHO pada bulan Januari 2020, dan angka kematian yang terlihat lebih tinggi pada pasien dengan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome), maka kebutuhan akan pelayanan unit intensif (ICU) sangat meningkat. Lonjakan pasien yang terjadi sangat cepat, mengharuskan rumah sakit beradaptasi dan segera mempersiapkan pelayanan khusus ICU Covid-19. Strategi manajemen keperawatan diperlukan untuk mengatasi kebutuhan tenaga keperawatan ICU yang ikut melonjak. Sementara jumlah tenaga keperawatan dengan kualifikasi ICU yang belum memadai kondisi pandemi Covid yang belum pernah dialami sebelumnya, menyebabkan tenaga keperawatan banyak yang menolak untuk melayani pasien Covid-19.
Mengetahui bagaimana kesiapan dan hal apa saja yang dilakukan oleh manajemen keperawatan ICU Covid-19 RS Hasanah Graha Afiah dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, sehingga pelayanan ICU Covid-19 dapat tetap berjalan dengan baik.Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, manajemen keperawatan ICU Covid- 19 bekerjasama dengan seluruh unit terkait terutama dengan komite Pengendalian dan Pencegahan Infeksi, melakukan perencanaan dari pemetaan ketenagaan merekrut tenaga perawat secara internal maupun external dan pemberian insentif dari internal maupun external. Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dari sistem manajemen keperawatan diatur berkesinambungan dengan tujuan untuk menyeimbangkan antara jumlah dan kualifikasi tenaga keperawatan Icu Covid-19 dengan beban kerja perawat dan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan mereka.
Read More
B-2258
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verry Adrian; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Helda, Dwi Oktavia Tatri Lestari Handayani, Agus Fitri Atmoko
Abstrak:
Infeksi SARS CoV-2 sebagai penyebab terjadinya pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) kini menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Pada kasus COVID-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian, sehingga tidak jarang membutuhkan perawatan intensif. Diduga komorbiditas akan memperberat kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak komorbiditas yakni hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit paru obstrktif kronis terhadap kejadian perawatan intensif pada pasien COVID-19 di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan data registri pasien COVID-19 milik Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada Maret-Juni 2020 yand diperoleh dari formulir pencatatan dan pelaporan COVID-19. Kriteria inklusi adalah usia lebih dari 18 tahun, terdiagnosis COVID-19 dari hasil pemeriksaan swab PCR positif, dan pasien dirawat di Rumah Sakit di DKI Jakarta. Kriteria eksklusi adalah memiliki kondisi imunodefisiensi (HIV, keganasan, sedang menjalani kemoterapi atau radiasi). Data dianalisis secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik multipel dengan mempertimbangkan kovariat berupa usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, jumlah gejala dan durasi gejala yang dialami. Berdasarkan 12 699 pasien terkonfirmasi COVID19 pada periode penelitian, terdapat 6 359 pasien yang memenuhi kriteria penelitian ini. Diketahui 623 (9,8%) mengalami hipertensi, 421 (6,62%) mengalami diabetes melitus, dan 133 (2,09%) mengalami PPOK. Sebanyak 166 (2,61%) diantaranya mendapat perawatan di ICU. Setelah dikontrol kovariat, ketiga komorbiditas tersebut secara independen meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di ICU, tertinggi pada penderita hipertensi tanpa diabetes yang memiliki lebih dari 2 gejala OR 23,98 (IK95% 12,8344,83) diikuti penderita hipertensi yang disertai diabetes dan lebih dari 2 gejala OR 16,53 (IK95% 8,76-31,17). Penderita PPOK memiliki risiko OR 1,80 (IK95% 0,95-3,40) untuk dirawat di ICU. Disimpulkan bahwa hipertensi, diabetes melitus, dan PPOK meningkatkan risiko perawatan di ICU pada pasien COVID-19 di DKI Jakarta.

COVID-19 cases can lead to pneumonia, acute respiratory distress syndrome, acute kidney failure, and death. The presence of comorbidities are tought to worsen that condition. This study aimed to investigate impact of hypertension, diabetes mellitus, and chronic obstructive pulmonary disease to admission to intensive care unit (ICU) among COVID-19 patients in DKI Jakarta. This cross sectional study utilize COVID-19 patients registry data owned by DKI Jakarta Provincial Health Office from March to June 2020. Inclusion criteria are aged 18 years old or older, confirmed by positive PCR swab test result, and hospitalized in DKI Jakarta. Exclusion criteria are patients with immunodeficiency condition (HIV, malignancy, in chemotherapy or radiation therapy). Data were analyzed in bivariate and multivariate analysis using multiple logistic regression by considering covariates (age, sex, working status, number of symptoms, and duration of symptoms). Among 12 699 patients, 6 359 were included. Approximately 623 (9,8%) had hypetension, 421 (6,62%) had diabetes mellitus, and 133 (2,09%) had COPD. Among them, 166 (2,61%) were admitted to ICU. After controlling for covariates, those comorbidities are independently increase risk of ICU admission. The highest risk are found among hypertension patients without diabetes melitus and had more than two symptoms OR 23,98 (95%CI 12,83-44,83) followed by hypertension patients with diabetes melitus and had more than two symptoms OR 16,53 (95%CI 8,76-31,17). COPD patients had risk OR 1,80 (95%CI 0,95-3,40) for ICU admission. In conclusion, hypertension, diabetes mellitus, and COPD increase risk of ICU admission among COVID-19 patients in DKI Jakarta.
Read More
T-6097
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Zaid Alherisyah; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Puput Oktamianti, Ade Yudhistira, Ardenny
Abstrak:

ABSTRAK Nama : M. Zaid Alherisyah Program Studi  : Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Sistem Informasi Pemenuhan Kebutuhan Perawat ICU berdasarkan Analisis Beban Kerja dan Kualifikasi Standar Minimal di RS PMC Pekanbaru Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem informasi pemenuhkebutuhan tenaga perawat ICU berdasarkan analisis beban kerja yang sesurekomendasi Kementerian Kesehatan, dan berdasarkan kualifikasi standminimal perawat ICU. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalaSDLC (System Development Life Cycle) yang berbasis prototypinPengembangan sistem dimulai dari tahap perencanaan dengan analisis kelayakaanalisis sistem informasi, desain interface dan perancangan database, serimplementasi yang dibatasi sampai pada uji coba prototipe sistem informasi yanmenghasilkan informasi hasil analisis ABK, analisis pemenuhan kualifikastandar minimal perawat ICU dan perawat pelamar. Dari hasil simulasi prototipsistem informasi ini membantu memudahkan pengguna untuk mendapatkinformasi kebutuhan jumlah tenaga berdasarkan beban kerja ril berdasarkan ABdan informasi pemenuhan kualifikasi standar minimal perawat ICU.  Untuimplementasi yang berkelanjutan diperlukan peningkatan kemampuan dapengguna dan dukungan manajemen seperti adanya aspek legal dan ketersediainsfratruktur. Kata kunci: Sistem Informasi, SDLC, Analisis Beban Kerja, Perawat ICU.


ABSTRACT Name : M. Zaid Alherisyah Study Program : Master of Public Health Title : Information System for Fulfillment of Nursing Needs of ICU Nurses based on Workload Analysis and Qualification of Minimum Standards at PMC Hospital Pekanbaru This study aims to develop an information system for the fulfillment of ICU nurses based on workload analysis according to recommendation of the Ministry of Health, and based on the minimum standard qualifications of ICU nurses. System development method used is SDLC (System Development Life Cycle) based on prototyping. The development of the system starts from the planning phase with feasibility analysis, information system analysis phase, interface design and database design, and implementation is limited to the prototype test of information system that produces workload analysi information, the analysis of fulfillment with minimum qualification of ICU nurses and applicant nurses. From the simulation it showed that this information system help the users to obtain information needs of the number of personnel based on the real workload based and information on the fulfillment of minimum qualifications of ICU nurses. For the implementation it will need user capabilities and  management support as legal aspects and infrastructures. Key words: Information system, SDLC, workload, ICU nurses.

Read More
T-4867
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Afiyani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Sidhi Laksono Purwowiyoto, Slamet Agus Waluyo
Abstrak:
Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) di berbagai unit rumah sakit, termasuk Intensive Care Unit (ICU), bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan kesehatan. Di RSPAD sendiri implementasi RME telah diimplementasikan sejak bulan September 2023 dan belum pernah dilakukan evaluasi. Evaluasi dari perspektif pengguna sangat penting untuk memahami sejauh mana sistem ini efektif dan diterima oleh para tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi kuantitatif dan kualitatif (mixed methods) dengan desain convergent parallel untuk mengevaluasi implementasi penerapan RME berdasarkan perspektif pengguna. Penelitian kuantitatif dan kualitatif dilakukan untuk mendapatkan analisa lebih mendalam mengenai perspektif pengguna RME. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi RME di ICU RSPAD Gatot Soebroto secara umum baik. Faktor pimpinan dan budaya organisasi sangat mendukung implementasi ini. Meskipun begitu, dalam implementasinya, masih banyak yang dapat ditingkatkan agar RME dapat mendukung pelayanan.

The implementation of Electronic Medical Records (EMR) in various hospital units, including the Intensive Care Unit (ICU), aims to enhance the efficiency and quality of healthcare services. At Gatot Soebroto Army Central Hospital (RSPAD), the EMR system has been in place since September 2023 and has not yet been evaluated. Evaluation from the users' perspective is crucial to understanding how effective and well-received the system is among healthcare professionals. This study employs a mixed methods approach with a convergen parallel design to evaluate the implementation of EMR from the users' perspective. The quantitative and qualitative data are collected to gain a deeper understanding of EMR users' perspectives. The results indicate that the EMR implementation in the ICU at RSPAD Gatot Soebroto is generally good. Leadership and organizational culture greatly support this implementation. However, many areas remain for improvement to ensure the EMR system can fully support healthcare services.
Read More
B-2465
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosa Selvia; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Adang Bachtiar, Septiara Putri, Eko Budi Prasetyo, Edwin Mukri Bandjar
Abstrak: Latar belakang: Perkembangan teknologi informasi di bidang kesehatan, salah satunya adalah rekam medik elektronik. Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa rekam medik fisik lebih lengkap di bandingkan dengan rekam medik elektronik (92,4 % vs 72,6 % dengan p < 0,001) dan pengisian cepat (2-6 menit) di bandingkan rekam medik elektronik (5-9 menit). Hal tersebut perlu di analisa terutama di critical unit, seperti Intensive Care Unit (ICU) yang monitoring, evaluasi dan pencatatan di lakukan secara berkala dan berkesinambungan. Subyek dan metode: Metode penelitian deskriptif dan kualitatif dengan pendekatan cross sectional. Analisis deskriptif di lakukan terhadap 40 rekam medik pasien rawat inap di ICU RS Yarsi tahun 2019. Analisis kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil: di dapatkan hasil kelengkapan pengisian monitoring 71.87 %, keakuratan 62.5 %, ketepatan waktu 87.5 % dan sesuai hukum 85 %. Kesimpulan: Efektivitas rekam medik elektronik di ICU belum sesuai dengan indikator mutu 100 %
Backgrounds: The development of information technology in the health care, one of which is electronic medical record. Previous research said that the physical record is more complete compared to electronic medical records (92.4% vs 72.6% with < 0.001). It needs to be analyzed especially in critical units, such as Intensive Care Unit (ICU) which monitoring, evaluation and recording is done periodically and continuously every hour. Subject and Methods: This research used descriptive and quantitative methods with a cross sectional approach. Descriptive data gotten from medical records with total 40 inpatients in Intensive Care Yarsi Hospital used. While qualitative data was gotten from in depth interviews. Results: result of filling monitoring in EMR 71.87%, accuracy 62.5%, timeliness 87.5% and according to the law 85%. Conclusions: The effectiveness of electronic medical record in ICU has not been in accordance with 100% quality indicator
Read More
B-2175
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anna Deliana ... [et al.]
JRI Vol.33, No.4
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veli Sungono; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Korpomotor: Tri Edhi Budhi Soesilo, Hori Hariyanto; Penguji: Asri C. Adisasmita, Syahrizal, Antonia Lukito; Allen Widysanto; Vivien Puspitasari
D-595
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Utami Purbasari; Promotor: Nurhayati Adnan Prihartono; Kopromotor: Helda, Budhi Antariksa; Penguji: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo, Yohanes WH George, Rahmad Mulyadi, Rusli Muljadi
Abstrak:
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) meningkatkan kebutuhan perawatan intensif pada pasien COVID-19. Diperlukan upaya deteksi cepat untuk memilah prioritas pasien COVID-19 yang berisiko ARDS. Penelitian bertujuan memprediksi derajat ARDS menggunakan kuantifikasi luas opasitas/konsolidasi foto dan mengidentifikasi faktor prediktor ARDS. Metode: Desain studi crossectional dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta pada Juni-Desember 2022. Uji diagnostik terhadap hasil skoring foto toraks dengan komparasi 3 metode yaitu Brixia, Reeves dan modifikasi skoring foto dengan metode skoring Universal Thorax ARDS Measurement Index (UTAMI) dibandingkan dengan diagnosis ARDS menggunakan kriteria Berlin sebagai gold standard. Hasil: Sebanyak 318 pasien rawat inap COVID-19 dengan pneumonia dianalisis. Faktor laboratorium seperti kadar neutrofil, CRP, D-dimer, saturasi dan respiratory rate merupakan faktor prediktor ARDS dengan metode Berlin. Pada metode skoring UTAMI, diketahui komorbid CAD, CRP dan saturasi oksigen dapat memprediksi kejadian ARDS. CRP merupakan faktor prediktor terhadap ARDS pada kedua metode Berlin (PR 1,28; 95% CI 0,97 -1,70) dan UTAMI (PR 1,71; 95% CI 1,19– 2,46). Pada uji AUROC diketahui bahwa nilai PaO2/FiO2 dengan metode berlin bisa memisahkan pasien ARDS ICU dan non-ARDS ICU dengan akurasi 81,2% sedang Metode skoring UTAMI sebesar 79,8 %. sehingga sensitifitas dan spesifisitas pada metode skoring UTAMI terhitung kategori baik. Kesimpulan: Metode UTAMI dapat digunakan untuk memprediksi level ARDS pasien yang membutuhkan ICU . Saran: Klinisi dapat mengaplikasikan model prediktif ARDS ini untuk meningkatkan pelayanan ICU di rumahsakit

Background: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) has an impact to increase the need for intensive care among COVID-19 patients. Early detection is needed to prioritize COVID-19 patients at risk of ARDS. The research aims to predict the level of ARDS using quantification of the extent of photo opacity/consolidation and identifying factors of ARDS. Method: A cross-sectional study design was carried out at the Fatmawati Central General Hospital, Jakarta in June-December 2022. Diagnostic tests on the results of thorax x-ray scoring using a comparison of 3 methods, consist of Brixia, Reeves and modified photo scoring using the UTAMI method were compared with ARDS diagnosis using the Berlin criteria as gold standards. Results: A total of 318 hospitalized COVID-19 patients with pneumonia were analyzed. Laboratory factors such as neutrophil levels, CRP, D-dimer, saturation and respiratory rate are predictor factors for ARDS using the Berlin method. Meanwhile, using UTAMI scoring, it is known that comorbid CAD, CRP and Oxygen Saturation are predictor the incidence of ARDS. CRP was a predictor factor for ARDS in both the Berlin (PR 1.28; 95% CI 0.97 –1.70) and UTAMI (PR 1.71; 95% CI 1.19–2.46) methods. In the AUROC test, it was found that the PaO2/FiO2 using the Berlin method could separate ARDS ICU patients from non-ARDS ICU patients with an accuracy of 81.2%. Meanwhile, the UTAMI scoring method was 79.8%. so that the sensitivity and specificity of the UTAMI scoring method are in fair discrimination. Conclusion: The UTAMI method can be used to predict a patient's ARDS level. Recommendation: Clinicians could use UTAMI method as predictive model score to estimate the need of Intensive Care Unit in ARDS.
Read More
D-505
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive