Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tertia Yudya Aldyth; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Puput Oktamianti, Amal Chalik Sjaaf, Purnawan Junadi, Alinur
Abstrak: Sistem manajemen gas medis dalam pelayanan kesehatan harus diperhatikan dalam perencanaan pemasangannya dengan mempertimbangkan kemungkinan bahaya yang akan ditimbulkan. Namun untuk menentukan jumlah kebutuhan gas medis pada suat u rumah sakit dapat lebih sulit dibandingan dengan menentukan jumlah kunjungan pasien. Karena jika tidak sesuai kebutuhan logistik gas medis akan mempengaruhi kualitas pelayanan di rumah sakit. Dengan menggunakan pendekatan ISO 31000:2018 proses manajemen risiko diharapkan dapat membantu menekan angka kejadian yang tidak diinginkan khususnya pada instalasi gas medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem manajemen gas medis pada suatu rumah sakit beserta potensial resiko yang dapat ditimbulkan. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan observasi dari instalasi gas medis yang diikuti oleh wawancara mendalam kepada kepala bagian instalasi gas medis, staf manajemen instalasi gas medis serta staf dokumentasi laporan logistik instalasi gas medis. Disimpulkan bahwa sistem manajemen gas medis di rumah sakit belum efektif dan efisien karena pada rumah sakit tersebut masih menggunakan tabung gas medis konvensional karena kurangnya dana operasional serta keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia yang belum baik sehingga berdampak pada mutu pelayanan rumah sakit.
Read More
B-2096
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astien Setianingrum; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Alwahono, Lana Saria
Abstrak: Manajemen risiko merupakan proses mengelola risiko agar organisasi dapat mencapai tujuan. Dibutuhkan pondasi yang kuat tentang konsep manajemen risiko sebelum menerapkannya. Penelitian ini akan menganalisis manajemen risiko keselamatan pertambangan di PT HPU site PDU, DMI, KMO, dan MGA berdasarkan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara. Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Wawancara mendalam dilakukan dengan triangulasi sumber yaitu, sumber data dari pengawas tingkat Project Manager, Superintendent, dan Foreman. Hasil wawancara dilakukan analisis konten dan dibandingkan dengan dokumen PT HPU berdasarkan SMKP Minerba dilengkapi referensi lain tentang standar manjemen risiko (ISO 31000:2009, AS/NZS 4360:2004, dan ISO 45001:2018). Berdasarkan analisis konten, didapati bahwa interpretasi pengawas di PT HPU tentang manajemen risiko belum sepenuhnya sesuai dengan standar manajemen risiko karena prosedur perusahaan belum mengakomodir seluruh proses manajemen risiko. Oleh karena itu perlu adanya penyusunan prosedur tentang manajemen risiko yang terintegrasi dengan sistem manajemen keselamatan pertambangan perusahaan dan dipahami oleh setiap lini manajemen.
Read More
T-5694
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Sajidah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Irma Setiawati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis risiko K3 di proses kerja Die Casting Plan 3 PT. X pada bulan Mei-Juni 2016. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan AS/NZS ISO 31000:2009 sebagai standar untuk proses penilaian risiko K3. Metode yang digunakan dalam penilaian risiko adalah semi-kuantitatif formula matematika W. T Fine. Identifikasi risiko menggunakan metode Job Hazard Analysis (JHA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko K3 pada proses kerja Die Casting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 58 risiko pada proses kerja Die Casting dimana pada penilaian risiko awal (basic risk) sebanyak 48,27% risiko dengan level very high, 24,14% risiko dengan level risiko substantial, 18,97% risiko dengan level risiko priority 3, dan 8,62% risiko dengan level risiko priority 1. Kemudian risiko dinilai kembali dengan mempertimbangkan pengendalian yang sudah ada (existing control) menjadi 46,55% risiko dengan level risiko priority 3, 24,13% risiko dengan level risiko substantial, 13,80% risiko dengan level risiko priority 1, 8,62% risiko dengan level risiko very high, dan 6,90% risiko dengan level risiko acceptable. Sedangkan dari keempat proses kerja Die Casting terdapat 5 risiko terbesar dengan level risiko yang belum acceptable, yaitu very high, priority 1 dan substantial. Oleh karena itu, diberikan rekomendasi untuk pengendalian dari 5 risiko terbesar tersebut dari masing-masing proses yang bersifar engineering control, administrative control atau personal protective control.
Kata kunci: AS/NZS ISO 31000 : 2009, manajemen risiko, penilaian risiko, tingkat risiko.

This study discusses about the risk analysis of occupational health and safety in the working process Die Casting Plan 3 PT. X in May-June 2016. This study used a descriptive research design with AS / NZS ISO 31000: 2009 as standard for the risk assessment process of occupational health and safety. The method used in the risk assessment is a semi-quantitative mathematical formula W. T Fine. Risk identification method in this study adopted by Job Hazard Analysis (JHA). The purpose of this study was to determine the risk level of occupational health and safety in the working process Die Casting. The results showed that found as many as 58 risks in the working process Die Casting. where the initial risk assessment (basic risk) as much as 48.27% of risk with a very high level, 24.14% of risk with substantial risk level, 18.97% of risk with risk priority level 3, and 8.62% risk risk level priority 1. Then these risks reassessed taking into account the existing controls (existing risk) to 46.55% of risk with risk priority level 3, 24.13% of risk with substantial risk level, 13.80% risk risk priority level 1, 8.62% of risk with a very high level of risk, and 6.90% to the level of risk acceptable risk. While on the fourth working process Die Casting, there are 5 biggest risk to the level of risk that is not acceptable, is very high, priority 1 and substantial. Therefore, given advice on the control of the 5 biggest risks of each process that is engineering controls, administrative controls or personal protective control.
Keyword: AS / NZS ISO 31000: 2009, risk management, risk assessment, risk levels.
Read More
S-9204
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuansyah Arief; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Chandra Satrya, Yuliani Chafsah
Abstrak: UMKM merupakan salah satu industri dengan risiko yang signifikan karenalemahnya implementasi penglolaan risiko. Penelitian ini menilai tingkat risikoyang ada di UMKM pembuatan busana muslim CV. A dan UMKM pembuatanboneka CV. AT tahun 2016. Penilaian risiko dilakukan dengan menganalisis nilaikemungkinan, pemajanan dan konsekuensi dari setiap bahaya yang teridentifikasirisiko menggunakan metode semi kuantiatif yang dikembangkan oleh W.T Fine.Diperoleh bahwa bahaya kelistrikan (instalasi) ; bahaya ergonomi (handling) ;bahaya kimia (pajanan fume) memiliki tingkat risiko very high. Bahaya mekanik(gerakan jarum) ; bahaya fisik (suhu ruangan) memiliki tingkat risiko priority 1.Bahaya kimia (pajanan debu ; pajanan solvent) ; bahaya gravitasi (tertimpa benda); bahaya fisik (pencahayaan) memiliki tingkat risiko substantial. Bahaya safety(penataan ruang) ; bahaya organisasi kerja (stress kerja) memiliki tingkat risikopriority 3. Bahaya mekanik (gerakan menggunting ; gerakan menyetrika) ; bahayafisik (tabung gas) memiliki tingkat risiko acceptable.
Kata kunci :ISO 31000, penilaian risiko, kemungkinan, pemajanan, konsekuensi, tingkatrisiko
SMEs workers are exposed to significant risk due to improper implementation atrisk management. This study aimed to evaluate the risk level at two tekstile SMEsby using risk assessment method developed by W.T Fine. It was found that veryhigh risk was associated with safety hazard (electricity) ; ergonomic hazard(handling) ; chemical hazard (fume exposure). Priority 1 risk was associated withmechanical hazard (seewing) ; physical hazard (temperature). Substantial risk wasassociated with chemical hazard (dust ; solvent) ; gravity hazard (struck down)physical hazard (lightning exposure). Priority 3 was associated with safety hazard(work area) ; work organization hazard (work stress). Acceptable risk wasassociated with mechanical hazard (scissoring ; ironing) ; physical hazard (gastube).
Key word :ISO 31000, risk assessment, probability, exposure, consequences, risk level.
Read More
S-9232
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmat Syafrianto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ahmad Afif Maulidi, Putri Pujianti
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki karakteristik profil risiko tinggi yang membutuhkan manajemen risiko proaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen risiko pada kegiatan operasional penambangan di PT X Jobsite Y tahun 2026 berdasarkan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) dan ISO 31000:2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui triangulasi wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi manajemen risiko di PT X Jobsite Y secara struktural telah berjalan dengan dukungan dokumen SOP yang lengkap. Namun, tingkat kematangan sistem cenderung berada pada kategori reaktif dan memicu "paradoks kepatuhan SMKP", di mana kelengkapan administratif belum menjamin efektivitas substantif di lapangan. Pada aspek komunikasi, Pembicaraan 5 Menit (P5M) terlaksana konsisten sebagai komunikasi satu arah, tetapi konsultasi dua arah yang partisipatif masih lemah. Penetapan konteks risiko dominan berfokus pada aspek teknis operasional, sementara faktor sistemik dan sosial (seperti beban kerja dan kompetensi) terabaikan, dipengaruhi oleh minimnya pengawas berpengalaman di atas lima tahun. Selain itu, meskipun identifikasi bahaya empiris di lapangan tergolong kuat, formalisasi ke dalam dokumen IBPR dan Job Safety Analysis (JSA) masih lemah serta tidak konsisten menggunakan matriks penilaian formal. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan perlunya transformasi manajemen risiko dari reaktif menjadi proaktif. Perusahaan disarankan untuk memperkuat mekanisme konsultasi partisipatif, meningkatkan akurasi pengisian instrumen K3 secara kuantitatif, serta memberikan pelatihan terstruktur bagi pengawas mengenai identifikasi faktor risiko sistemik guna membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.

The mining industry inherently possesses a high-risk profile that requires proactive risk management. This study aims to analyze the implementation of risk management in mining operational activities at PT X Jobsite Y in 2026 based on the Mining Safety Management System (SMKP) and ISO 31000:2018. This research utilizes a descriptive qualitative approach, with data collected through the triangulation of in-depth interviews, field observations, and document reviews. The results indicate that risk management implementation at PT X Jobsite Y has structurally advanced, supported by a comprehensive set of SOP documents. However, the system's maturity level tends to be reactive, triggering a "compliance paradox of SMKP," where administrative completeness does not necessarily guarantee substantive effectiveness on the ground. In terms of communication, the 5-Minute Safety Talk (P5M) is consistently implemented as an effective one-way communication tool, but participatory two-way consultation remains weak. The determination of risk context dominantly focuses on operational technical aspects, while systemic and social factors (such as workload and competency) are neglected, influenced by the scarcity of supervisors with more than five years of tenure. Furthermore, while empirical hazard identification in the field is robust, its formalization into Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (IBPR) and Job Safety Analysis (JSA) documents remains weak and inconsistent with formal assessment matrices. The conclusion of this study emphasizes the necessity of transforming risk management from reactive to proactive. The company is recommended to strengthen participatory consultation mechanisms, improve the accuracy of quantitative OHS instrument completion, and provide structured training for supervisors on systemic risk factor identification to build a sustainable safety culture.
Read More
T-7639
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kiara Ayu Listiani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Iqro Glentar, Muthia Ashifa
Abstrak:

Paparan terhadap bahan kimia dan faktor fisika di lingkungan kerja manufaktur herbisida berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius jika tidak dilakukan pengendalian secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan Health Risk Assessment (HRA) terhadap bahaya kimia dan fisika yang dihadapi oleh pekerja di area produksi, packaging, dan gudang pada industri manufaktur herbisida, dengan pendekatan berbasis Similar Exposure Group (SEG). Metode yang digunakan mengacu pada kerangka kerja ISO 31000:2018 dan praktik rekomendasi HRA dari otoritas internasional. Data diperoleh melalui dokumen pemantauan lingkungan kerja, SDS, OHSERA, dan wawancara dengan pemangku kepentingan. Risiko dinilai menggunakan matriks semi-kuantitatif berdasarkan skor likelihood dan severity, dengan validasi keparahan kesehatan merujuk pada referensi seperti ACGIH dan literatur ilmiah terkini. Hasil menunjukkan bahwa SEG Proses menghadapi risiko tinggi dari paparan Monoisopropylamine (MIPA) dan Kalium Hidroksida (KOH), sedangkan SEG Packaging dan Warehouse memiliki risiko signifikan akibat kebisingan, getaran, panas, serta uap bahan kimia volatil. Evaluasi existing control menunjukkan pengendalian belum optimal dalam menurunkan risiko ke tingkat rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan pengendalian teknis dan administratif, seperti ventilasi lokal, rotasi kerja, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai, serta pengaturan waktu kerja-istirahat, diperlukan untuk menurunkan risiko residual. Penilaian risiko berbasis SEG terbukti efektif dalam memetakan prioritas pengendalian dan memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan K3 di industri sejenis.


 

Exposure to chemical agents and physical hazards in herbicide manufacturing environments poses serious health risks if not managed systematically. This study aims to conduct a Health Risk Assessment (HRA) of chemical and physical hazards encountered by workers in the production, packaging, and warehouse areas of a herbicide manufacturing industry, using a Similar Exposure Group (SEG) approach. The methodology follows the ISO 31000:2018 risk management framework and international best practices for occupational health risk assessment. Data were obtained through environmental monitoring reports, safety data sheets (SDS), OHSERA records, and interviews with relevant stakeholders. Risks were assessed using a semi-quantitative matrix based on likelihood and severity scores, with health severity validation referring to ACGIH and recent peer-reviewed scientific literature. The findings indicate that the Process SEG faces high risks from exposure to Monoisopropylamine (MIPA) and Potassium Hydroxide (KOH), while the Packaging and Warehouse SEGs are significantly affected by noise, vibration, heat, and volatile chemical vapors. Evaluation of existing controls reveals that current measures are not sufficiently effective in reducing risks to acceptable levels. The study concludes that stronger technical and administrative controls—such as local exhaust ventilation, work rotation, appropriate use of personal protective equipment (PPE), and regulated work-rest schedules—are essential to achieve low residual risks. Risk assessment based on SEGs has proven effective in mapping control priorities and provides a solid foundation for occupational health and safety decision-making in similar industrial settings.

Read More
T-7356
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Al Hasanah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Maria Ulpah, Saptono Raharjo, Jaenuri
Abstrak:
Rumah sakit swasta di Indonesia yang beroperasi dalam ekosistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menghadapi kerentanan likuiditas yang bersifat struktural akibat ketergantungan pendapatan pada satu pembayar dominan, yaitu BPJS Kesehatan, dengan siklus pencairan klaim yang panjang dan tidak pasti. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi dan pola risiko likuiditas, mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk kerentanan likuiditas, serta mengevaluasi ketahanan likuiditas melalui stress testing pada RS Islam Bogor (RSIB), sebuah rumah sakit swasta Islam tipe C dengan ketergantungan BPJS sebesar 83,8%. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential mixed methods dengan kerangka ISO 31000:2018 sebagai proses utama dan COSO ERM 2017 sebagai landasan governance, mengintegrasikan analisis data keuangan historis Januari–Desember 2025, wawancara mendalam terhadap sembilan informan, dan stress testing berbasis proyeksi RKAT 2026 dengan tiga skenario tekanan. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan rata-rata Days Cash on Hand (DCOH) sebesar 22,18 hari, di bawah target manajemen 30 hari, dengan Cash Conversion Cycle (CCC) rata-rata 24,8 hari dan liquidity gap negatif rata-rata 13,9 hari. Identifikasi risiko menghasilkan 22 risiko likuiditas (16 ekstrem, 5 tinggi, 1 sedang). Risiko-risiko ini saling terkait dalam satu siklus tekanan berulang: pending rate BPJS yang tinggi (rerata 11,3%, puncak 23,7% pada Oktober 2025) memicu penundaan pembayaran pemasok farmasi, lock supply, hingga eskalasi risiko klinis pada layanan hemodialisa. Empat faktor kritis menjelaskan kerentanan ini: lock-in struktural pada ekosistem UHC, absensi SOP formal yang berimbas pada divergensi persepsi hierarki pembayaran antar level manajemen, kapasitas Supply Chain Financing yang belum termanfaatkan, dan ketergantungan pada penyangga finansial informal yang rapuh secara tata kelola. Stress testing menunjukkan RSIB cukup tahan terhadap tekanan klaim semata (Skenario 1: DCOH rata-rata 37,4 hari), mengalami tekanan hampir sepanjang tahun pada kondisi yang dinilai informan kunci paling mungkin terjadi (Skenario 2: DCOH rata-rata 23,1 hari dengan sepuluh bulan di bawah target), dan menjadi kritis ketika tekanan klaim serta penurunan volume terjadi pada tingkat ekstrem secara bersamaan (Skenario 3: 11 dari 12 bulan di bawah target 30 hari, sembilan di antaranya menembus zona kritis 15 hari). Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa volume layanan merupakan pendorong kerentanan paling dominan (3,6 kali lebih sensitif dari pending rate), disusul oleh struktur biaya tetap (2,7 kali lebih sensitif) dengan Fixed Cost Ratio sebesar 49,6%. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa akar permasalahan likuiditas RSIB adalah mismatch pembiayaan piutang BPJS yang sebenarnya dapat diprediksi namun pencairannya terlambat, bukan kekurangan kas semata. Atas dasar ini, penelitian merekomendasikan strategi mitigasi berlapis: formalisasi risk appetite, aktivasi Supply Chain Financing sebagai mekanisme pre-emptive, optimasi Clinical Documentation Improvement, dan penyusunan rencana kontingensi pendanaan yang terstruktur.

Private hospitals in Indonesia operating within the National Health Insurance (JKN) ecosystem face structural liquidity vulnerability due to revenue dependence on a single dominant payer, BPJS Kesehatan, combined with a long and uncertain claim disbursement cycle. This study aims to analyze the condition and pattern of liquidity risk, identify the factors shaping liquidity vulnerability, and evaluate liquidity resilience through stress testing at RS Islam Bogor (RSIB), a private Islamic type C hospital with an 83.8 percent BPJS revenue dependency. The study uses an explanatory sequential mixed methods design, with the ISO 31000:2018 framework as the main process and COSO ERM 2017 as the governance foundation, integrating historical financial data analysis for January to December 2025, in-depth interviews with nine informants, and stress testing based on 2026 annual budget (RKAT) projections across three pressure scenarios. Quantitative analysis shows an average Days Cash on Hand (DCOH) of 22.18 days, below the 30-day management target, with an average Cash Conversion Cycle (CCC) of 24.8 days and a negative liquidity gap averaging 13.9 days. Risk identification produced 22 liquidity risks, consisting of 16 extreme, 5 high, and 1 moderate. These risks are interconnected in a recurring pressure cycle, triggered by high BPJS pending rates, with a mean of 11.4 percent and a peak of 23.7 percent in October 2025, which then lead to delayed payments to pharmaceutical suppliers, supply lock, and escalating clinical risk in services such as hemodialysis. Four critical factors explain this vulnerability, namely structural lock-in within the UHC ecosystem, the absence of formal SOPs accompanied by divergent perceptions of payment hierarchy across management levels, unutilized Supply Chain Financing capacity, and reliance on informal financial buffers that are fragile from a governance standpoint. Stress testing shows that RSIB is reasonably resilient to claim pressure alone, with Scenario 1 producing an average DCOH of 37.4 days, comes under pressure for most of the year under the condition that key informants considered most likely to occur, with Scenario 2 producing an average DCOH of 23.1 days and ten months below the 30-day target, and becomes critical when claim pressure and volume decline occur together at an extreme level, with Scenario 3 showing 11 of 12 months falling below the 30-day target and nine of those months dropping into the 15-day critical zone. Sensitivity analysis confirms that service volume is the most dominant driver of vulnerability, 3.6 times more sensitive than pending rate, followed by fixed cost structure, 2.7 times more sensitive, after medical service fees were reclassified as variable costs, resulting in a Fixed Cost Ratio of 49.6 percent. The main finding of this study shows that the root of RSIB's liquidity problem is a financing mismatch for BPJS receivables that are predictable but disbursed late, rather than a cash shortage on its own. Based on this, the study recommends a layered mitigation strategy that includes formalizing risk appetite, activating Supply Chain Financing as a pre-emptive mechanism, optimizing Clinical Documentation Improvement, and developing a structured contingency funding plan.
Read More
B-2609
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lady Farah Fatmawati; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Farida Tusafariah
S-8085
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purkon; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Arfi Destianti
Abstrak: Penelitian ini membahas risiko keselamatan dan kesehatan pada Fasilitas ataukegiatan di SD Semut-Semut The Natural School. Penelitian ini bersifat deskriptifdengan desain studi observasi kualitatif yang bertujuan untuk menentukan tingkatrisikonya. Penilaian risiko dilakukan berdasarkan pada standar AS/NZS ISO31000:2009 dengan metode kualitatif dan Hazard Identification and Risk Assesment(HIRA). Kemudian melakukan evaluasi terhadap risiko tersebut apakah dapatditerima atau memerlukan upaya pencegahan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwaditemukan level risiko High, medium dan Low. Oleh karena itu, diberikanrekomendasi yang bersifat subtitusi, engineering, administratif serta penggunaan alatpelindung diri.Kata kunci :Semut-Semut the Natural School, penilaian risiko, level risiko, standar AS/NZSISO 31000:2009
This research evaluate the safety and health risk at the Semut-Semut Natural schoolfacility or activitiy. Design for this research was descriptive qualitative observationstudy that objective to determine its the level of risk. Risk Assesment based onAS/NZS ISO 31000:2009 standard using qualitative method and Hazard Identificationand Risk Assesment (HIRA). Then risk evaluated what its risk acceptable or neededto preventing. The result of this research showed that the level of risk is very highlevel risk, medium risk and low risk. The effort to control the risk gave somerecommendation with substitution, enginering, administration and personal protectiveequipment.Keyword :Semut-Semut The Natural School, Risk Assesment, Level of risk, Risk Evaluation,AS/NZS ISO 31000 : 2009 standard
Read More
S-9589
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive