Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Raisa Afni Afifah; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Tri Krianto, Fiena Fithriah, Ratna Diliana Sagala
Abstrak: abstrak Indonesia saat ini menempati peringkat ke-2 sebagai negara dengan beban kasus TB terbesar di dunia, termasuk TB resistan obat. Pengobatan TB resistan obat memiliki periode yang lebih lama dan efek samping yang lebih berat. Keberhasilan pengobatan TB resistan obat di Indonesia juga masih belum optimal yaitu 51% pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan keberhasilan pengobatan TB resistan obat di DKI Jakarta tahun 2014-2015. Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan sumber data utama yaitu e-TB manager Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis fasilitas layanan kesehatan dan keteraturan pengobatan merupakan determinan keberhasilan pengobatan TB resistan obat di DKI Jakarta. Upaya peningkatan keberhasilan pengobatan TB resistan obat perlu didukung dengan memperluas layanan pengobatan dan memperkuat kordinasi antara fasyankes rujukan dan satelit. Kata kunci: tuberkulosis; tuberkulosis resistan obat; keberhasilan pengobatan. ABSTRACT Indonesia is currently at 2nd rank as the country with the largest burden of TB cases in the world, including drug-resistant TB. Treatment of drug resistant TB has a longer period and more severe side effects. The success rate of drug-resistant TB treatment also still quite low (51%) in 2016. This study aims to determine the determinants of successful treatment of drug resistant TB in Jakarta in 2014-2015. The study design of this study is a retrospective cohort with the main data source is e-TB manager of DKI Jakarta Health Office. The results showed that the type of health care facility and the regularity of treatment is the determinant of the success of drug resistant TB treatment in DKI Jakarta. Efforts to improve the success of TB drug resistant treatment should be supported by expanding treatment services and strengthening coordination between referral and satellite facilities. Key words: tuberculosis; drug-resistant tuberculosis; successful treatment
Read More
T-5379
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Manggala Putra; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda; Meilina Farikha, Murni Luciana Naibaho
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular dari percikan droplet melalui transmisi udara. TB menjadi salah satu penyakit infeksius agent penyebab kematian utama di dunia. Pengobatan menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian TB. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran masalah serta determinan yang memengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Desain studi penelitian menggunakan cross-sectional deskriptif dengan total sampling yaitu seluruh kasus terkonfirmasi positif TB SO (24.001 kasus) di provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Data merupakan data sekunder laporan TB 03 SO dari SITB. Analisis data yang digunakan ialah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif statistik. Hasil menunjukkan bahwa angka keberhasilan pengobatan pasien TB SO adalah 82%. Diketahui bahwa sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (55,3%), termasuk dalam kelompok lansia (34%), dengan klasifikasi anatomi TB paru (90%), tidak bekerja (42,4%), menjalani pengobatan di rumah sakit (55,9%) di wilayah Jakarta Timur (28,6%), dan menggunakan paduan OAT kategori 1 (85,8%). Usia dan jenis fasilitas kesehatan berobat merupakan faktor yang paling memengaruhi keberhasilan pengobatan pasien TB SO. Pasien dengan usia44 tahun (aOR = 2,281; 95% CI 2,074-2,509). Serta pada pasien yang menjalani pengobatan di puskesmas memiliki peluang 2 kali lebih besar untuk keberhasilan pengobatan TB SO dibandingkan pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit (aOR= 2,272; 95% CI 2,101-2,457). Diharapkan fasilitas kesehatan dapat memaksimalkan pengobatan TB sesuai standar, serta memaksimalkan peran pengawas menelan obat (PMO), selain itu perlu meningkatkan peran Puskesmas sebagai tempat yang aman dan terpercaya dalam pengobatan TB SO. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta diharapkan terus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan TB SO melalui penyuluhan dan promosi kesehatan yang berfokus pada usia dengan tingkat keberhasilan pengobatan TB yang rendah.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease transmitted from droplet splashes through airborne transmission. TB is one of the infectious agents causing death in the world. Treatment is one of the main keys in TB control. The objective of this research was to describe the issues and determinants that influenced treatment success for drug sensitive (DS) TB patients in DKI Jakarta province in 2021. The descriptive cross-sectional study design with total sampling was used, which included all confirmed cases of DS TB (24,001 cases) in DKI Jakarta province in 2021. The data is secondary data from SITB's TB 03 SO report. The data was analyzed using descriptive analytic techniques with a statistical quantitative approach. According to the findings, 82% of DS TB patients are successfully treated. The majority of patients were male (55.3%), elderly (34%), had pulmonary tuberculosis (90%), were unemployed (42.4%), were receiving treatment at a hospital (55.9%), lived in the East Jakarta area (28.6%), and used category 1anti-tuberculosis drugs (85.8%). The factors that most influence the success of treating DS TB patients are age and type of health care facility. Patients 44 years old (aOR = 2.281; 95% CI 2.074-2.509). Furthermore, patients treated at the public health center (puskesmas) have a twofold higher chance of completing DS TB treatment than patients treated at the hospital (aOR = 2.272; 95% CI 2.101-2.457). It is hoped that health facilities will be able to maximize DS TB treatment in accordance with standards, as well as the role of Drug Swallowing Control (PMO). Furthermore, the Puskesmas' role as a safe and trusted facilities for DS TB treatment must be expanded. It is hoped that the DKI Jakarta Provincial Health Office will continue to raise public awareness of tuberculosis prevention and treatment through counselling and health promotion aimed at the age group with the lowest DS TB treatment success rate.
Read More
T-6544
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bayu Seno Aji; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Fathiyah Isbaniah
Abstrak: Situasi pandemi COVID-19 membuka mata masyarakat akan pentingnya kesehatan, peningkatan demand akan produk-produk kesehatan mendorong industri logistik PT X yang berperan dalam distribusi barang untuk melakukan lembur kerja atas intensitas kerja yang tinggi, hal ini meningkatkan risiko terjadinya fatigue di tempat kerja yang dapat menurunkan fungsional tubuh dan berdampak baik pada kesehatan pekerja maupun risiko terjadinya error di tempat kerja, PT X juga belum memiliki sistem manajemen risiko fatigue khusus sehingga deteksi fatigue tidak dapat dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran keluhan dan faktor risiko fatigue pada pekerja logistik gudang PT X tahun 2022 yang bertempat di salah satu kawasan DKI Jakarta. Penelitian ini berdesain deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode studi cross-sectional menggunakan instrumen kuesioner termasuk Fatigue Assessment Scale (FAS), NASA Task Load Index (TLX), dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang selanjutnya dianalisis secara univariat dan triangulasi data dengan hasil wawancara di lapangan terhadap beberapa pekerja dan koordinator tiap tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 pekerja (37,04%) mengalami keluhan fatigue ringan, mayoritas sebagian lainnya (62,96%) tidak mengalami keluhan fatigue dan tidak ditemukan pekerja dengan keluhan fatigue berat, serta untuk faktor risiko fatigue paling dominan yang ditemukan adalah pada faktor kuantitas tidur pekerja dengan mayoritas pekerja (83,33%) memiliki durasi tidur dibawah standar 7 jam
The COVID-19 pandemic situation has opened people's eyes to the importance of health, the increasing demand for health products has encouraged the logistics industry of PT X, which plays a role in the distribution of goods, to carry out overtime work to meet the high work intensity, this increases the risk of fatigue in the workplace which can reduce body function and have an impact on the health of workers and even the risk of errors in the workplace. Additionally, PT X lacks a fatigue risk management system, making it unable to do fatigue detection, thus this research aims to provide an overview of complaints and fatigue warehouse logistics workers at PT X year 2022, located in one of the DKI Jakarta region. Research design is a quantitative and qualitative with a cross-sectional study using questionnaire instruments, including the Fatigue Assessment Scale (FAS), NASA Task Load Index (TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) which were then analyzed univariately and triangulated the data with the results of field interviews towards several workers and the coordinator of each team. The results showed that there were 20 workers (37.04%) experiencing light fatigue, the majority of the others (62.96%) did not experience any, and none with severe fatigue, as for the most dominant fatigue risk factor found is the workers' sleep quantity with the majority of workers (83.33%) having sleep duration below the standard of 7 hours minimum
Read More
S-11028
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Annisa; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Artha Prabawa; Penguji: Martya Rahmaniati Mskful, Suhardini, Diah Handayani
Abstrak: Resistensi obat merupakan masalah baru dalam program eliminasi TB yang disebut TB resisten obat. Pengobatan TB resisten obat di Indonesia dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan dan fasilitas pelayanan kesehatan satelit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas pelayanan kesehatan terhadap keberhasilan pengobatan pasien TB resisten obat di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2019 di Subdit-TB, Direktorat P2PML, Kementerian Kesehatan RI. Desain studi penelitian ini adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel sebanyak 4288 orang, diseleksi menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menyelesaikan pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan satelit sebanyak 97,20% dan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan sebanyak 2,8%. Proporsi keberhasilan pengobatan sebesar 53,2% dengan kumulatif hazard keberhasilan pengobatan sebesar 5,43 di akhir pengamatan selama 36 bulan pengamatan
Read More
T-5649
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasti Luftyanie Mustopa; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Johari
S-10412
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Putri; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Aria Kusuma
Abstrak: Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, termasuk Indonesia sebagai negara ke-3 tertinggi penderita tuberkulosis di dunia. Sementara pada tingkat provinsi, Kota Depok berada pada urutan 11 dengan penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rumah sehat, cakupan pengobatan TB, dan angka keberhasilan pengobatan TB dengan Incidence Rate (IR) tuberkulosis di Kota Depok tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan tempat dengan populasi seluruh masyarakat yang tercatat di 11 kecamatan di Kota Depok yang terdiagnosis penyakit tuberkulosis. Hasil penelitian melalui uji korelasi menunjukkan variabel independen yang memiliki hubungan signifikan dengan Insidence Rate (IR) tuberkulosis adalah cakupan pengobatan di Kecamatan Bojongsari (p = 0.000). Sementara hasil uji korelasi cakupan rumah sehat, cakupan pengobatan TB, angka keberhasilan pengobatan TB di Kota Depok menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Hasil analisis lainnya, cakupan rumah sehat di Kota Depok memiliki keeratan hubungan lemah berpola negatif (r = -0.173), cakupan pengobatan TB memiliki keeratan hubungan lemah berpola positif (r = 0.184), dan angka keberhasilan pengobatan TB memiliki keeratan hubungan kuat berpola negatif (r = -0.584).
Tuberculosis is still the main cause of death worldwide, including Indonesia as the 3rd country with the highest number of tuberculosis sufferers in the world. Meanwhile, at the provincial level, Depok City is in 11th place with the largest contributor to tuberculosis cases in West Java Province. This study aims to determine the relationship between healthy homes, TB treatment coverage, and TB treatment success rates with the Incidence Rate (IR) tuberculosis in Depok City in 2021. This study uses an ecological study design based on place with a population of all communities recorded in 11 sub-districts in Depok. Depok City, which was diagnosed with tuberculosis. The results of the study through the correlation test showed that the independent variables that had a significant relationship with the Incidence Rate (IR) of tuberculosis is treatment coverage in Bojongsari District (p = 0.000). Meanwhile, the results of the correlation test between healthy home coverage, TB treatment coverage, and TB treatment success rates in Depok City showed an insignificant relationship. The results of other analyzes showed that the coverage of healthy homes in Depok City had a weak negative correlation (r = -0.173), TB treatment coverage had a weak positive correlation (r = 0.184), and the success rate of TB treatment had a strong negative correlation (r = -0.584).
Read More
S-11055
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Klara Morina BR Surbakti; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Moch Noor Farid, Ratnawati, Amin Amsyari
Abstrak:

Abstrak

Salah satu indikator program pengendalian TB secara Nasional strategi DOTS adalah angka keberhasilan pengobatan TB. Fokus utama pengendalian TB strategi DOTS adalah memutus mata rantai penularan TB oleh penderita TB paru sputum BTA positif. Berdasarkan penelitian penderita TB paru sputum BTA negatif dapat menularkan 13-20% (Tostmann A, et al, 2008). BBKPM Bandung sebagai salah satu UPK strategi DOTS pencapaian angka keberhasilan pengobatan masih dibawah target Nasional.Tujuan: mempelajari faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan pasien TB paru sputum BTA negatif dan pasien TB paru sputum BTA positif. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB antara lain faktor individu (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kepatuhan berobat) dan obat dan penyakit (rejimen, dosis, lama pengobatan, komorbid HIV dan DM). Indikator keberhasilan pengobatan: pemeriksaan ulang sputum BTA menjadi/tetap negatif dan kenaikan berat badan.Desain penelitian: kohort retrospektif.Sampel: data pasien TB Paru yang tercatat di TB 01 tahun 2009-2011dijadikan 2 sub populasi, Pasien TB paru dengan sputum BTA negatif 292 kasus dan pasien TB paru dengan sputum BTA positif 461 kasus.Analisis: multivariabel regresi logistik.Hasil: OR keberhasilan pengobatan pasien TB paru sputum BTA negatif patuh berobat 1,4 dibandingkan tidak patuh (CI : 0,7-3,0) dan pasien TB paru sputum BTA positif patuh berobat 1,1 di bandingkan tidak patuh (CI : 0,6-2,2) setelah dikontrol umur, jenis kelamin dan pekerjaan.Saran: Meningkatkan peran PMO, dan memperhatikan faktor komorbid dalam tatalaksana pengobatan pasien TB paru.


 

Succes rate of TB treatment is an important indicator of the Natinal TB control program.The main focus of TB control program DOTS strategy is to break the chain of TB transmission. Tostmann A, et al (2008) showed that through 13-20% sputum smear negative pulmonary tuberculosis patients can spread TB the bacteria. BBKPM Bandung as one of CGU DOTS strategy has lower treatment succes rate of the national targets.Purpose: To study factors that influence the treatment succes rate of compare with both smear positve and negative pulmonary tuberculosis patients. Those are age, gender, occupation, treatment compliance (factor individu) and regimen, dose, duration of treatment, comorbid HIV and DM (drug and disease). Indicator of treatment succes are the conversion of sputum result examination and the gain weight.Study design: a retrospective cohort study.Samples: the pulmonary TB patient data recorded at TB 01 yeras 2009-2011. The number of TB patients with sputum smear positive are 461 and negative are 292.Analysis: Multivariable logistic regression.Result: OR treatment succes among sputum smear-negative pulmonary TB patients 1,4 (CI: 0,7-3,0) and among sputum smear positive pulmonary Tb patients who adhere to treatment is 1,1 (CI:0,6-2,2) after controlling for age, sex, and occupation.Suggestion: Enhancing the role of the PMO to increase the treatment adherence rate, treat the TB patients with HIV and DM co-infection.

Read More
T-3895
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Yuri Karlinda; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Sulistyo
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan TBC RO di Indonesia masih rendah, yaitu 45–68% pada tahun 2011-2023, dengan angka putus berobat sekitar 10–30%, dan angka kematian sekitar 11–20%. Sejak Agustus 2020, Indonesia mulai mengimplementasikan paduan jangka pendek oral 9 bulan untuk pengobatan TBC RO. Namun, data nasional menunjukkan efektivitasnya belum lebih baik dibandingkan dengan paduan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan keberhasilan pengobatan pasien TBC RO dengan paduan jangka pendek oral 9 bulan di Indonesia tahun 2021–2023. Desain penelitian adalah kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Subjek penelitian adalah seluruh pasien TBC RO yang memulai pengobatan pada 2021–2023 dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (total sampling, n=6.727). Analisis multivariat dilakukan dengan cox regression. Sebanyak 3.342 pasien (49,68%) berhasil menyelesaikan pengobatan. Pola resistensi, kepatuhan terhadap pengobatan, dan konversi sputum dalam ≤4 bulan merupakan determinan keberhasilan pengobatan TBC RO dengan paduan jangka pendek oral 9 bulan. Selain itu, penelitian ini juga mengembangkan model prediksi keberhasilan pengobatan berbasis fungsi cox regression. Model menunjukkan kemampuan diskriminatif yang sangat baik, dengan nilai AUC sebesar 0,941 (95% CI: 0,935–0,946). Model ini berpotensi digunakan sebagai alat bantu identifikasi pasien berisiko rendah atau tinggi dalam pengobatan TBC RO. Diperlukan pemantauan pengobatan secara ketat, pendampingan pasien oleh faskes dan komunitas, serta pemanfaatan teknologi digital dalam monitoring pengobatan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.

Treatment success for drug-resistant tuberculosis (DR-TB) in Indonesia is still low, with rates between 45% and 68% from 2011 to 2023. Loss to follow-up ranged from 10% to 30%, and death rates were around 11% to 20%. Since August 2020, Indonesia has started using a 9-month all-oral shorter treatment regimen. However, national data show that this regimen does not perform better than the longer one. This study aimed to find the factors that influence treatment success among DR-TB patients who received the 9-month all-oral regimen in Indonesia from 2021 to 2023. This study used a retrospective cohort study using secondary data from the national Tuberculosis Information System (SITB). The study included all DR-TB patients who started treatment between 2021 and 2023 and met the inclusion and exclusion criteria (total sample: 6,727 patients). Multivariate analysis was conducted using cox regression. A total of 3,342 patients (49.68%) successfully completed treatment. Drug resistance patterns, treatment adherence, and sputum conversion within ≤4 months were identified as key determinants of treatment success under the 9-month all-oral regimen. In addition, this study developed a predictive model for treatment success using Cox regression. The model demonstrated excellent discriminatory performance, with an AUC of 0.941 (95% CI: 0.935–0.946). This predictive tool has the potential to identify high- and low-risk patients of unsuccessful treatment outcomes in drug-resistant TB (DR-TB) management. Strengthened treatment monitoring, patient support by healthcare facilities and communities, and the use of digital technologies for treatment monitoring are needed to improve treatment outcomes.

Read More
T-7307
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadazaira Alifia Ramadhianisa; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Dwita Maulida
Abstrak:
Pada tahun 2022, diperkirakan ada sekitar 1.060.000 kasus tuberkulosis di Indonesia, menjadikan Indonesia dengan jumlah estimasi kasus TB tertinggi kedua di dunia. Kota Depok, Jawa Barat mengalami penurunan keberhasilan pengobatan sejak tahun 2019 sampai 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan data sekunder yang bersumber dari SITB Kota Depok dan bertujuan untuk mengetahui determinan keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru sensitif obat di Kota Depok tahun 2022. Sebanyak 2259 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan SPSS Statistics 25. Diperoleh angka keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru SO sebesar 84,2%. Variabel umur, jenis kelamin, riwayat pengobatan TB, status HIV, dan lama konversi sputum ditemukan memiliki hubungan dengan keberhasilan pengobatan. Ditemukan tiga determinan keberhasilan pengobatan, yakni variabel umur, jenis kelamin, dan riwayat pengobatan TB dengan variabel riwayat pengobatan TB memiliki pengaruh paling besar. Diperlukan adanya intervensi pada kelompok umur lansia, jenis kelamin laki-laki, riwayat pengobatan TB ulangan, positif HIV, dan lama konversi sputum lebih dari 2 bulan untuk dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan TB.

In 2022, it is estimated that there were approximately 1,060,000 tuberculosis cases in Indonesia, making it the country with the second highest estimated TB cases in the world. Depok City, West Java, has experienced a decline in treatment success rates from 2019 to 2022. This research is a quantitative study with a retrospective cohort design using secondary data from SITB aimed at determining the factors influencing treatment success in adult patients with drug-sensitive pulmonary TB in Depok City in 2022. A total of 2,259 samples that met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS Statistics 25. The treatment success rate for adult patients with drug-sensitive pulmonary TB was found to be 84.2%. Variables such as age, gender, history of TB treatment, HIV status, and duration of sputum conversion were found to be associated with treatment success. Three determinants of treatment success were identified: age, gender, and history of TB treatment, with the history of TB treatment having the most significant impact. Interventions are needed for elderly age groups, males, those with a history of repeated TB treatment, HIV-positive individuals, and those with sputum conversion lasting more than 2 months to improve TB treatment success rates.
Read More
S-11703
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isnani Dewi Saefina; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Budi Setiawan
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. Pengobatan TBC merupakan salah satu bentuk dari pengendalian dan penanggulangan penyakit TBC. Pengobatan TBC bertujuan untuk menyembuhkan pasien dan mencegah kematian/kecatatan akibat TBC serta menurunkan risiko penularan TBC. Pada tahun 2023 Kota Jakarta Selatan menjadi kota dengan urutan ketiga dalam penemuan kasus TBC SO di Provinsi DKI Jakarta. Angka Penemuan Kasus sebesar 11.278 kasus (99% dari estimasi 11.411 kasus). Namun angka penemuan kasus yang tinggi belum sejalan dengan Angka keberhasilan pengobatan TBC. Angka Keberhasilan pengobatan TBC dari kasus yang ditemukan dan diobati belum mencapai target nasional yaitu 80,89%. Penelitian ini bertujuan gambaran masalah serta faktor yang memengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TBC di Kota Jakarta Selatan Tahun 2023menggunakan desain kohort retrospektif. Variabel yang dianalisis meliputi Usia, jenis kelamin, status pekerjaan, riwayat pengobatan sebelumnya, Status HIV, Komorbid DM, Paduan OAT dan jenis fasilitas Kesehatan. Dari 4542 pasien yang dianalisis, 65% berhasil dalam pengobatan TBC SO, probabilitas survival kumulatif di akhir pengamatan sebesar 4,36% dan median survival keseluruhan 6 bulan. Dua variabel yang menjadi prediktor keberhasilan pengobatan TBC SO adalah jenis fasilitas kesehatan dan komorbid DM.  Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat pelaksanaan program pengendalian TBC, khususnya dalam pengelolaan pasien dengan komorbiditas seperti diabetes melitus. Temuan yang diperoleh juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang bertujuan mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara penyakit penyerta dan keberhasilan pengobatan TBC, serta mendorong integrasi layanan kesehatan yang lebih efektif.


Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem globally, including in Indonesia. TB treatment is a key component of TB control and elimination efforts, aiming to cure patients, prevent death or disability due to TB, and reduce the risk of transmission. In 2023, South Jakarta ranked third in the number of drug-sensitive TB (DS-TB) case detections in DKI Jakarta Province, with a total of 11,278 cases detected (99% of the estimated 11,411 cases). However, the high case detection rate has not been matched by the treatment success rate. The treatment success rate among those who were diagnosed and treated has not yet reached the national target, standing at only 80.89%.This study aims to provide an overview of the problem and identify factors influencing treatment success among TB patients in South Jakarta in 2023, using a retrospective cohort design. Variables analyzed included age, sex, employment status, history of previous treatment, HIV status, comorbid diabetes mellitus (DM), type of anti-TB drug regimen, and type of health facility. Among the 4,542 patients analyzed, 65% successfully completed TB treatment, with a cumulative survival probability at the end of follow-up of 4.36%, and a median overall survival of 6 months. Two variables were identified as significant predictors of TB treatment success: type of health facility and comorbid diabetes mellitus. The findings of this study are expected to contribute to strengthening TB control programs, particularly in the management of patients with comorbidities such as diabetes mellitus. Furthermore, these results may serve as a reference for future research exploring the relationship between comorbid conditions and TB treatment outcomes, as well as supporting the integration of more effective health services.
Read More
T-7398
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive