Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 59 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dian Triana Sinulingga; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah; Siti Nadia Tarmizi
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang: Terapi ARV pada ODHA diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan serta menekan penularan HIV. Untuk mencapai tujuan MDG’s tahun 2015, diharapkan 90% ODHA sudah mendapatkan terapi ARV secara teratur. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru telah memberikan terapi ARV sejak tahun 2004 tetapi belum pernah diteliti pengaruh ARV terhadap survival pasiennya. Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan 319 sampel dan dilakukan selama Mei-Juni 2013. Data penelitian diperoleh melalui data rekam medis RS. Data dianalisis dengan menggunakan analisis survival metode Kaplan-Meier dan dilanjutkan dengan analisis multivariate Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memakan ARV secara teratur memiliki survival yang lebih baik. Pasien yang tidak memakan ARV atau memakan ARV tetapi tidak teratur, memiliki risiko kematian sebesar 42,5 kali lebih besar jika dibandingkan dengan pasien yang memakam ARV secara teratur. (p=0,01, 95%CI: 13-138). Jumlah kematian selama pengamatan hanya 5,8% pada kelompok yang teratur memakan ARV, sedangkan pada kelompok yang tidak mencapai 28%. Faktor lain yang turut meningkatkan survival adalah jumlah CD4 pada awal pengobatan >100 sel/mm³(p=0,01, HR=4,39, 95% CI(1,8-10,5). Walaupun kurang bermakna secara statistik, perlu mempertimbangkan pemberian ARV pada stadium klinis awal sebagai faktor yang turut meningkatkan survival ODHA mengingat stadium klinis dapat diperiksa di semua layanan kesehatan. (p=0,07, HR=2.3, 95%CI 0,9-5.6). Faktor pendidikan secara statistik juga bermakna membedakan survival pasien. Dalam penelitian ini stadium klinis dibuktikan sebagai confounding. Hal yang disarankan adalah meningkatkan cakupan penemuan dan tatalaksana dini kasus HIV/AIDS dengan melakukan pelacakan pada semua kasus mangkir, meningkatkan kepatuhan memakan ARV dan mengupayakan pendampingan kasus secara maksimal.


 ABSTRACT Background: ARV for HIV or AIDS patients is a hope to reduce the mortality, morbidity and to prevent the transmissions. To achieve the MDG the minister of health need to cover 90% AIDS people with ARV adherently. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru have giving the therapy for AIDS patients since 2004, but have never studied the survival analysis and another factors that contribute to yet. Method: This study is a cohort retrospective design, with 319 samples. Take place in Arifin Achmad Hospital Of Pekanbaru, Riau Province in May-June 2013. The resource are medical record of HIV/AIDS patiens in VCT clinic. Was analyse by Kaplan-Meier survival analysis and then for further use multivariate analyses. Result: The study show that the survival of patiens who take ARV adherently is higher than the other one. The patients who no used ARV adherently will have mortality rate 42,5 times than the patients that used ARV addherently. (p=0,01, 95%CI: 13-138). The deaths amount only 5,8% on the adherently ARV patients, but at another side, the deaths amount increase by 28%. Another factor that contribute to increase the survival are CD4 amounts at the beginning of therapy that >100 sel/mm³(p=0,01, HR=4,39, 95% CI(1,8-10,5). We need to consider the clinical of AIDS stadium as one of factor that contribute to increase the survival too if use ARV at the beginner of clinical stadium. (p=0,07, HR=2.3, 95%CI 0,9-5.6). The educations level has the value statistically to distinguish the survival. In this study, the clinical stadium is a confounder. We sugest to improve the early detection and prompt treatment by tracking the lost of follow up patients, increase the adherent of ARV and by mentoring or”buddy” programe for all HIV cases.

Read More
T-3796
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Angelika; Pembimbing: Asri C. Adisasmital; Penguji: Dwi Gayatri, Lanny Luhukay
Abstrak:
Pada tahun 2022, jumlah kematian kanker payudara di Indonesia merupakan yang keempat tertinggi secara global. Banyaknya kematian kanker payudara salah satunya disebabkan oleh komorbiditas. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komorbiditas dengan survival tiga tahun kanker payudara di Indonesia.  Studi ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dan mencakup 896 sampel dari Data Sampel General BPJS Kesehatan tahun 2018-2023. Kurva dan probabilitas survival dibuat dengan metode Kaplan-Meier. Sedangkan hubungan dilihat dengan uji log-rank dan Hazard Ratio (HR) dianalisis dengan uji cox regression. Hasil studi menunjukkan cumulative survival probability (CSP) pada total sampel di bulan ke-36 adalah 49,9%, median waktu survival adalah 35,34 bulan. Pasien kanker payudara yang memiliki komorbid dan komorbid lainnya memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dalam tiga tahun (Komorbid CSP = 43,7%; HR = 1,38; 95% CI = 1,01-1,89, komorbid lainnya CSP = 42,4%; HR = 1,43; 95% CI = 1,01-2,04). Studi ini tidak menemukan perbedaan survival yang signifikan antara kedua kelompok di variabel gangguan metabolik termasuk diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, usia saat diagnosis, status pernikahan, kondisi sosial ekonomi, dan tempat tinggal. Survival pasien kanker payudara di Indonesia termasuk rendah, khususnya pasien dengan komorbid.


In 2022, Indonesia ranked fourth globally in the number of breast cancer deaths. One of the contributing factors to the high mortality rate is comorbidity. This study aims to examine the association between comorbidities and three-year survival of breast cancer patients in Indonesia. A retrospective cohort design was used, involving 896 samples from the 2018–2023 BPJS Kesehatan General Sample Data. Survival curves and probabilities were estimated using the Kaplan-Meier method, while associations were analyzed using the log-rank test and Hazard Ratios (HR) via Cox regression. The study found that the cumulative survival probability (CSP) at 36 months for the overall sample was 49.9%, with a median survival time of 35,34 months. Breast cancer patients with comorbidities and other comorbid conditions had a higher risk of death within three years (comorbidity CSP = 43.7%; HR = 1.38; 95% CI = 1.01–1.89, other comorbidities CSP = 42.4%; HR = 1.43; 95% CI = 1.01–2.04). No significant differences in survival were found based on metabolic disorders including diabetes, hypertension, cardiovascular disease, age at diagnosis, marital status, socioeconomic status, or place of residence. Breast cancer survival in Indonesia remains low, particularly among patients with comorbidities.
Read More
S-12071
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saetia Listiana; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Yovsyah; Penguji: Astuti Yuni Nursasi, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Tingkat mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 2,7%, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Pasien COVID-19 yang mengalami perburukan di rumah sakit seperti masuk ICU dan kematian sebanyak 15-20%. Perubahan klinis pasien sebelum terjadinya perburukan dan kematian tidak disadari oleh 27,06% tenaga kesehatan. Menurut WHO, EWS dapat digunakan untuk mendeteksi perburukan pasien lebih awal, namun penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan EWS dengan kematian COVID-19 masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko highrisk EWS dengan kejadian kematian serta probabilitas kesintasan pada pasien COVID-19 yang dirawat di RS UI. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif.  Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien COVID-19 yang dirawat inap di RS UI pada periode Maret – Desember 2020. Penelitian ini menggunakan total sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 740 orang yang terdiri dari 137 orang pada kelompok terpapar dan 603 kelompok tidak terpapar. Analisis kesintasan dilakukan dengan menggunakan Kaplan Meier sedangkan analisis multivariat dilakukan dengan cox regresi. Probabilitas kesintasan pasien COVID-19 yang di rawat di RS UI sampai dengan 72 hari pengamatan sebesar 47,4%. Besar risiko pasien COVID-19 yang memiliki highrisk EWS untuk terjadi kematian sebesar 5,32 (95% CI= 3,26-8,69). Tenaga kesehatan diharapkan dapat mendeteksi perburukan pasien sedini mungkin agar bisa dilakukan intervensi lebih awal untuk mencegah kematian pada pasien COVID-19. Kata kunci:  COVID-19, EWS, Mortalitas, Kesintasan

In Indonesia, the COVID-19 mortality level is 2.7%, which renders it the highest in Southeast Asia. The number of patients with COVID-19 that experienced an exacerbation in hospitals that needed ICU support and resulted in death accounts for 15 to 20%. The clinical progression of patients before exacerbation and subsequent death happened was not recognized by 27.06% of health workers. According to the WHO, EWS can be used to detect exacerbation early. However, studies examining the link between EWS and COVID-19 related death are still limited. The purpose of this study is to determine the association between high-risk EWS with the incidence of death and the probability of survival in COVID-19 patients treated at Universitas Indonesia (UI) Hospital. This study uses a retrospective cohort study design. The population included are all COVID-19 patients hospitalized at UI Hospital in the period of March – December 2020. This study uses total sampling with 740 people consisting of 137 people in the exposed group and 603 people in the unexposed group. Survival analysis was performed using Kaplan Meier. Multivariate analysis was done using Cox regression. The probability of survival of COVID-19 patients treated at UI Hospital with up to 72 days of observation is 47.4%. The risk of death of COVID-19 patients with high-risk EWS is 5.32 (95% CI = 3.268.69). Health workers are expected to be able to detect patient deterioration as early as possible so that earlier intervention can be carried out to prevent death in COVID-19 patients. Keywords:  COVID-19, EWS, Mortality, Survival
Read More
T-6134
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Tria Abimayu; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Iwan Ariawan, Atmiroseva
Abstrak:
Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi dapat membuat insulin, atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik. Pada tahun 2021, Indonesia menempati peringkat ke-6 di dunia dengan kasus kematian akibat diabetes terbanyak. Tingginya angka kematian diabetes disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah komorbiditas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh komorbid terhadap tingkat survival penderita diabetes tipe II di Indonesia. Penelitian ini menggunakan Data sampel kontekstual Diabetes Mellitus BPJS tahun 2015-2021 dengan desain kohort retrospektif dan didapatkan jumlah sampel 96.379 terbobot. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat dengan kurva Kaplan Meier dan Chi-square, dan multivariat dengan uji cox proportional hazard. Hasil penelitian menunjukan bahwa penderita diabetes tipe II yang memiliki komorbid mempunyai cumulative survival probability (CSP) yang lebih rendah dan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak memiliki komorbid, terutama pada penderiya yang memiliki komorbid tidak sesuai (CSP 85,6%; 95% CI 84,4% - 86,7%; aHR 1,64; 95% CI 1,150 – 1,390). Maka dari itu, penting untuk memperhatikan perawatan yang diberikan kepada penderita diabetes tipe II yang memiliki komorbid tidak sesuai agar perawatan yang diberikan tidak memperburuk kondisi salah satu penyakit

Diabetes is a chronic disease that occurs when the pancreas can no longer make insulin, or when the body cannot properly use the insulin it does make. In 2021, Indonesia is the 6th country in the world with the most cases of diabetes deaths. The high mortality rate of diabetes is caused by many things, especially comorbidities. The purpose of this study was to see the effect of comorbidities on the survival rate of type II diabetes patients in Indonesia. This study used BPJS Diabetes Mellitus contextual sample data in 2015-2021 with a retrospective cohort design and obtained a sample size of 96,379 weighted. Conducted univariate, bivariate statistical analysis with Kaplan Meier curve and Chi-square, and multivariate with Cox proportional hazard test. The results showed that patients with type II diabetes who have comorbidities have a lower cumulative survival probability (CSP) and have a higher risk of death compared to those without comorbidities, especially in patients who have discordant comorbidities (CSP 85.6%; 95% CI 84.4% - 86.7%; aHR 1.64; 95% CI 1.150 - 1.390). Therefore, it is important to pay attention to the care given to patients with type II diabetes who have discordant comorbidities so that the care given does not worsen the condition of one of the diseases.
Read More
S-11233
Depok : FKM UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha El Zhafira Hadi; Pembimnbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Alfons M. Letelay, Suyono
Abstrak:
Angka mortalitas HIV/AIDS hingga saat ini masih menjadi permasalahan kompleks di tingkat global, terutama pada negara berkembang. Terapi Antiretroviral (ARV) menjadi salah satu bentuk pencegahan berkembangnya kasus HIV menjadi AIDS. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ODHA yang telah memulai terapi ARV pun masih berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan terapi antiretroviral terhadap kejadian mortalitas pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Tangerang periode tahun 2006 – 2022. Desain studi yang digunakan adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 924 pasien yang diobservasi melalui rekam medis pasien. Kelompok exposed yaitu 510 pasien yang patuh terapi ARV dan kelompok non-exposed yaitu 414 pasien yang tidak patuh terapi ARV. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa probabilitas kumulatif survival dan median survival time secara keseluruhan adalah 52,3% dan 7 tahun. Rata-rata waktu pengamatan survival pada tahun ke 8 dan median survival time pada tahun ke 7 pengamatan. Selain itu, diketahui pula terdapat pengaruh antara kepatuhan terapi ARV terhadap kejadian mortalitas pasien HIV/AIDS dengan nilai adjHR = 1,71 (95% CI: 0,03 - 3,18) setelah mengendalikan variabel usia dan infeksi oportunistik. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan pertimbangan dalam meningkatkan kepatuhan ODHA dalam menjalankan terapi ARV di kemudian hari supaya tren kematian dapat ditekan.

The mortality rate of HIV/AIDS is still being a complex problem at the global level, especially in developing countries. Antiretroviral Therapy (ARV) is one form of prevention of the development of HIV cases into AIDS. However, it is undeniable that people living with HIV who have started ARV therapy are still at high risk of death. This study aims to determine the effect of adherence to antiretroviral therapy on the survival of HIV/AIDS patients at General Hospital of Tangerang Regency for the period 2006 – 2022. The study design used a retrospective cohort design. The exposed group was 510 patients who were adherent to ARV therapy and the non-exposed group was 414 patients who were not adherent to ARV therapy. Based on the results of the analysis, it is known that the cumulative probability of survival and median survival time as overall are 52.3% and 7 years. The average survival observation time at year 8 and median survival time at year 7 observation. In addition, it is also known that there is an correlation between adherence to ARV therapy on the mortality incidence of HIV/AIDS patients with adjHR = 1.71 (95% CI: 0,03 - 3,18) after controlling for age and opportunistic infection variables. The results of this study can be a reference and consideration in improving the compliance of PLHIV in carrying out ARV therapy in the future so that the mortality trend can be suppressed.
Read More
T-6670
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haryadi ... [et al.]
PHPMA-Vol.4/No.2
Denpasar : Universitas Udayana, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Detia Silvarisa; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Ahmad Syafiq, Rahmadewi
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui durasi pemberian ASI pada bayi di Indonesia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Desain studi yang digunakan adalah retrospective cohort dengan menggunakan data SDKI WUS 2017 dan mengikutsertakan sebanyak 6828 ibu yang memiliki bayi berusia 0-23 bulan saat survei dilaksanakan. Analisis yang dilakukan adalah univariat, bivariat, multivariat dan survival. Penelitian ini menemukan bahwa rata-rata durasi pemberian ASI pada bayi usia 0-23 bulan di Indonesia adalah selama 16,7 bulan dengan median selama 22 bulan. Sementara itu, probabilitas durasi pemberian ASI 1 bulan pertama kehidupan pada bayi usia 0-23 bulan di Indonesia adalah sebesar 0,933 dengan penghentian pemberian ASI terbanyak terdapat pada bulan pertama kehidupan bayi.
Read More
S-10702
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lami Trisetiawati; Pembimbing: Besral; Penguji: Poppy Yuniar, Adhy Nugroho
Abstrak: Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya risiko strokeberulang pada pasien paska stroke pertama di RS Pusat Otak Nasional dan faktorrisikonya.Metode: Desain penelitian ini adalah cohort retrospektif. Sampel dalam penelitianini adalah semua pasien stroke serangan pertama yang menjalani pelayanan rawatinap pada tahun 2014 dan memiliki catatan rekam medik yang lengkap. Analisisdata mengunakan regresi cox multivariat.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bulan ≤ 15,umur ≥ 60 tahunmemiliki risiko lebih besar untuk terjadinya stroke berulang ; pada bulan < 15,overweight memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya stroke berulang; padabulan ≤ 15, obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya stroke berulang;pada bulan ≤ 30, pre hipertensi memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya strokeberulang ; pada bulan ≤ 15, hipertensi grade 1 dan 2 memiliki risiko yang lebihtinggi untuk terjadinya stroke berulang, ; kontrol yang tidak teratur memilikirisiko 8,71 kali lebih tinggi untuk terjadinya stroke berulang.Kata kunci : analisis survival, stroke berulang, stroke.
Objective: This study aims to determine the risk of recurrent strokein patientswith post-stroke first in the brain center of the national hospitaland the risk factorsthat influence.Methods: This study was a retrospective cohort. The sample in this study is thefirst to attack all stroke patients who underwent inpatient services in 2014 and hada complete medical record. Analysis of data using multivariate cox regression.Results: The results showed that in ≤ 15, ≥ 60 years of age have a greater risk forrecurrent stroke; in <15 overweight have a higher risk for recurrent stroke; in ≤15, obesity have a higher risk for recurrent stroke; in ≤ 30, pre-hypertension are athigher risk forrecurrent stroke; in ≤ 15, hypertension grade 1 and 2 have a higherrisk for the recurrent stroke; control irregular had 8.71 times higher risk forrecurrent strokeKey words : Survival analysis, reccurrent stroke, stroke.
Read More
S-9310
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Lathifa Zahra; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Rico Kurniawan, Umi Zakiati
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, terutama pada pasien dengan kondisi hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesintasan stroke pada pasien hipertensi di Indonesia tahun 2017-2022. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrespektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2017-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa survival probability stroke pada pasien hipertensi secara keseluruhan adalah 90,7% (95% CI, 90,0% - 99,14%) pada tahun keenam setelah tercatat sebagai pasien hipertensi. Pasien hipertensi yang mengidap diabetes, mengidap dislipidemia, dan tidak mengidap penyakit jantung memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dan memiliki risiko terkena stroke yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengalami diabetes (0,900), mengalami dislipidemia (0,897), tidak mengalami penyakut jantung (0,905), berusia 45-65 tahun (0,896), berjenis kelamin laki-laki (0,897), memiliki status cerai (0,901), bertempat tinggal di Jawa-Bali (0,902), dan memiliki kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah (0,899) memiliki cumulative survival probability yang lebih rendah dibandingkan dengan kategori lainnya. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pasien hipertensi yang mengidap penyakit jantung (AHR=0,8; 95% CI 0,624-0,992) memilliki risiko yang elbih rendah untuk mengalami stroke daripada pasien hipertensi yang tidak mengidap penyakit janutng setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, tempat tinggal, dan kondisi sosial ekonomi.

Stroke is one of the leading causes of death and disability in Indonesia, particularly among patients with hypertension. This study aims to determine the stroke survival rates among hypertensive patients in Indonesia from 2017 to 2022. A retrospective cohort design was used, utilizing the BPJS Health Sample Data from 2017-2022. The study results indicate that the overall stroke survival probability among hypertensive patients is 90.7% (95% CI, 90.0% - 99.14%) in the sixth year after being recorded as hypertensive patients. Hypertensive patients who have diabetes, dyslipidemia, and no heart disease have lower cumulative survival probabilities and higher risks of stroke compared to those who do not have these conditions. Specifically, the cumulative survival probabilities were 0.900 for diabetes, 0.897 for dyslipidemia, 0.905 for those without heart disease, 0.896 for those aged 45-65 years, 0.897 for males, 0.901 for divorced individuals, 0.902 for residents of Java-Bali, and 0.899 for those with lower socioeconomic status. The multivariate analysis showed that hypertensive patients with heart disease (AHR=0.8; 95% CI 0.624-0.992) had a lower risk of stroke compared to hypertensive patients without heart disease, after controlling for age, gender, marital status, residence, and socioeconomic conditions.
Read More
S-11788
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Rachmawati; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Helda; Telly Purnamasari
Abstrak:
Kasus Konfirmasi COVID-19 di Provinsi Riau merupakan yang tertinggi di Pulau Sumatera. Salah satu upaya mengatasi pandemi COVID-19 adalah dengan cara pemberian vaksinasi yang bertujuan untuk mengurangi transmisi/penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19 dan mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd immunity). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Hubungan Status Vaksinasi Dengan Ketahanan Hidup Pasien Konfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Provinsi Riau Tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian observasional analistik menggunakan metode kohort retrospektif dari 1212 sampel pasien yang dirawat di seluruh rumah sakit Provinsi Riau pada tahun 2022 dan dilaporkan pada aplikasi RS Online. Probabilitas Survival Kumulatif keseluruhan pasien COVID-19 yang dirawat di RS Provinsi Riau adalah 0,062 atau 6,2% dengan Median survival time keseluruhan 20 hari (IQR: 17-22). Pasien yang sudah mendapatkan vaksinasi memiliki efek protektif terhadap risiko kematian COVID-19, HR 0,751 (95% CI: 0,580-0,971), yang sudah vaksinasi lengkap HR 0,625 (95% CI: 0,463-0,845) dan terdapat penurunan risiko kematian yang selaras dengan jumlah dosis vaksin yang sudah didapatkan oleh pasien (dosis response) dimana pasien yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 memiliki nilai HR 1,138 (95% CI: 0,764-1,694), pasien yang sudah mendapatkan vaksin dosis 2 memiliki risiko atau efek protektif yang dapat menurunkan risiko kematian COVID-19 dengan HR 0,692 (95% CI: 0,504-0,949), dan pasien yang sudah mendapatkan vaksin dosis booster juga memiliki efek protektif dengan HR 0,336 (95% CI: 0,138-0,818) setelah dikontrol variabel usia, saturasi awal, riwayat komorbid, tempat perawatan dan penggunaan alat bantu pernafasan. Peningkatan cakupan vaksinasi lengkap sesuai dosis primer diperlukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian COVID-19 meskipun pandemi telah dinyatakan berakhir. Meningkatkan koordinasi, kolaborasi dan kerja sama lintas sektor termasuk melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam program kesehatan masyarakat yang memiliki dampak luas termasuk kemungkinan menghadapi emerging disease berikutnya.

Confirmation cases of COVID-19 in Riau Province are the highest on the island of Sumatra. One of the efforts to overcome the COVID-19 pandemic is by administering vaccinations which aim to reduce transmission/contagion, reduce morbidity and mortality from COVID-19 and achieve herd immunity in the community (herd immunity). The aim of the study was to determine the relationship between vaccination status and survival of confirmed COVID-19 patients at the Riau Province Hospital in 2022. This study was an analytical observational study using a retrospective cohort method of 1212 samples of patients treated at all hospitals in Riau Province in 2022 and reported on the RS Online application. The overall cumulative survival probability of COVID-19 patients treated at Riau Province Hospital is 0.062 or 6.2% with an overall median survival time of 20 days (IQR: 17-22). Patients who have received vaccination have a protective effect on the risk of death from COVID-19, HR 0.751 (95% CI: 0.580-0.971), who have received complete vaccination HR 0.625 (95% CI: 0.463-0.845) and there is a reduced risk of death in line with the number of vaccine doses that have been obtained by patients (dose response) where patients who have received vaccine dose 1 have an HR value of 1.138 (95% CI: 0.764-1.694), patients who have received vaccine dose 2 have risks or protective effects that can reduce risk COVID-19 mortality with HR 0.692 (95% CI: 0.504-0.949), and patients who had received a booster dose of vaccine also had a protective effect with HR 0.336 (95% CI: 0.138-0.818) after controlling for age, initial saturation, history comorbidities, place of care and use of breathing apparatus.An increase in complete vaccination coverage according to the primary dose is needed to reduce the morbidity and mortality of COVID-19 even though the pandemic has been declared over. Improving coordination, collaboration and cooperation across sectors including involving religious leaders and community leaders in public health programs that have a broad impact including the possibility of dealing with the next emerging disease.
Read More
T-6795
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive