Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Monitoring kinerja pelayanan kesehatan pada umumnya sering kali dilakukan dengan metode self-report dengan pendekatan pada kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan. Asumsi tingginya penilaian self-report masih dipertanyakan validitasnya. Metode observasi diharapkan dapat memberikan gambaran pelaksanaan sistem pelayanan secara nyata.
Tujuan dari penelitian adalah diketahuinya gambaran pelayanan swamedikasi yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian berdasarkan metode pengukuran self-report dan observasi di Apotek Kimia Farma Jakarta dan Sekitarnya tahun 2013. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 24.
Hasil penelitian didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil pengukuran pelayanan swamedikasi oleh apoteker antara metode self-report dan observasi di Apotek Kimia Farma Jakarta dan sekitarnya tahun 2013.
Monitoring the performance of health care in general is often done using a self-report that approach to compliance officers of service standards.The validityof assumption of high self-report assessment still questionable. Observation method is expected to provide an overview of the implementation of the real service system.
The purpose of research is to know the proper description self-medication services based on standards of pharmacy servicesbetween self-report and observationmethod in Kimia Farma ApotekJakarta and surrounding 2013. This study uses cross-sectional design with a sample size of 24.
The results showed that there were significant differences of measurement results of self-medication services by pharmacists between self-report and observation method in Kimia Farma Apotek Jakarta and surrounding 2013.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pembelian antibiotika tanpa resep dan hubungan praktik pembelian antibiotik tanpa resep dengan kepatuhan pengobatan dalam menghabiskan antibiotik yang digunakan di beberapa apotek Kecamatan Beji Kota Depok pada tahun 2018.
Metode Penelitian ini menggunakan desain studi kuantitatif dan dilakukan secara random terhadap responden yang keluar apotek yang menjual antibiotik tanpa resep yang kemudian dihubungi kembali setelah 7 hari untuk mendapatkan data kepatuhan pengobatan dalam menghabiskan antibiotik yang digunakan.
Hasil dari penelitian diantara 109 responden 63,3% membeli antibiotik tanpa resep, 37,6 % tidak menghabiskan antibiotiknya, 82% responden yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah melakukan pembelian antibiotik tanpa resep, terdapat perbedaan rata rata nilai pengetahuan, sikap, persepsi dan akses sarana antara yang membeli antibiotik tanpa resep dengan responden yang membeli dengan resep dengan masing-masing nilai p value = 0,016; 0,0005; 0,0005; dan 0.0005. Terdapat 25,5% untuk pengalaman terdahulu dan 47,7% responden yang menjadikan sebagai referensi dan melakukan pembelian antibiotik tanpa resep.
Kesimpulan: Faktor faktor yang berhubungan terhadap pembelian antibiotik tanpa resep adalah pendidikan, pengetahuan, sikap, persepsi, akses sarana mendapatkan antibiotik tanpa resep, saran teman dan pengalaman terdahulu, selain itu terdapat hubungan yang bermakna antara pembelian antibiotik tanpa resep dengan perilaku tidak menghabiskan antibiotik.
Latar Belakang: Resistensi terhadap antibiotik pada Neisseria gonorrhoeae merupakan tantangan kesehatan global. WHO memperkirakan pada tahun 2020 ada 82,4 juta kasus gon-ore pada orang dewasa (15-49 tahun), dengan prevalensi tinggi di Afrika dan Pasi-fik Barat. Di Indonesia, prevalensi gonore pada tahun 2015 menurut survei terpadu biologis dan perilaku (STBP) adalah 21,2% pada Wanita Pekerja Seks (WPS), 12,7% pada Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), dan 12,2% pada Waria. Penanganan gonore dengan antibiotik dihadapkan pada masalah resistensi yang diperburuk oleh praktik swamedikasi, yang dilakukan oleh 86% rumah tangga di Indonesia menurut Riskesdas 2013. Pemantauan resistensi gonore di Indonesia belum dilakukan secara berkala, dan metode kultur/difusi cakram yang dianggap standar emas masih me-merlukan keahlian khusus dan prosedur yang kompleks. Saat ini, belum terdapat data yang dipublikasikan mengenai pengujian resistensi gonore menggunakan metode molekuler di Indonesia dan kaitannya praktik swamedikasi antibiotik di ka-langan populasi kunci di Indonesia. Tujuan: Untuk mengetahui pola resistensi gonore menggunakan metode real-time PCR dan menilai hubungan praktik swamedikasi antibiotik serta faktor risiko lainnya dengan resistensi gonore. Metode: potong lintang digunakan untuk mengeksplorasi praktik swamedikasi anti-biotik. Pemeriksaan resistensi dilakukan pada sampel dari STBP dari 12 provinsi dan klinik kesehatan seksual di Jakarta, menggunakan real-time PCR dengan empat primer dan probe untuk mendeteksi resistensi terhadap penisilin, siprofloksasin, dan sefalosporin. Hasil: Penelitian menunjukkan hasil resistensi gonore yang tinggi, dengan sampel STBP menunjukkan resistensi siprofloksasin 94%, penisilin 84%, sedangkan di klinik, resistensi siprofloksasin 90%, penisilin 71%, dan sefalosporin 8%. Praktik swamedikasi ditemukan pada 62% responden STBP dan 57% pengunjung klinik. Analisis menunjukkan bahwa praktik swamedikasi, terutama dengan penisilin, meningkatkan risiko resistensi gonore setelah dikontrol dengan pendapatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi swamedikasi termasuk sikap yang mendukung dan pen-dapatan bulanan. Kesimpulan: Tingginya prevalensi resistensi gonore dan praktik swamedikasi anti-biotik berkontribusi pada peningkatan risiko resistensi antibiotik gonore. Faktor risiko yang signifikan dalam swamedikasi adalah sikap dan pendapatan.
Background: Antibiotic resistance in Neisseria gonorrhoeae is a global health challenge. In 2020, WHO estimated there were 82.4 million gonorrhea cases among adults aged 15-49, with high prevalence in Africa and the Western Pacific. In Indonesia, according to the 2015 integrated biological and behavioral survey (IBBS), gonorrhea prevalence was 21.2% among Female Sex Workers (FSW), 12.7% among Men who have Sex with Men (MSM), and 12.2% among Transgender women. The gonorrhea treatment with antibiotics is facing resistance issues, exacerbated by the practice of self-medication, performed by 86% of households in Indonesia based on Riskesdas 2013 report. Gonorrhea resistance monitoring has not been conducted regularly in Indonesia, and the culture/disk diffusion method, considered the gold standard, however it requires specialized skills and complex procedures. Currently, there is no published data on gonorrhea resistance testing using molecular methods in Indonesia and its association antibiotic self-medication practice among key populations. Objective: To determine the gonorrhea resistance patterns using real-time PCR method and to assess its relationship with self-medication antibiotic practices and other risk factors with gonorrhea resistance. Method: A cross-sectional method used to explore antibiotic self-medication practices. Resistance testing conducted on samples from 12 IBBS provinces and sexual health clinics in Jakarta, using real-time PCR with four primers and probes to detect resistance to penicillin, ciprofloxacin, and cephalosporins. Results: The study showed high gonorrhea resistance, IBBS samples showed 94% resistance to ciprofloxacin, 84% to penicillin, while in clinics, ciprofloxacin resistance was 90%, penicillin 71%, and cephalosporin 8%. Self-medication practices were found in 62% of IBBS respondents and 57% of clinic visitors. Analysis showed that self-medication practices, especially with penicillin, increased the risk of gonorrhea resistance after controlling for income. Factors influencing self-medication included attitudes supporting self-medication and monthly income. Conclusion: The high prevalence of gonorrhea resistance and antibiotic self-medication practice contribute to the increased risk of antibiotic resistance in gonorrhea. Significant risk factors in self-medication are attitude toward self-medication and monthly income.
Latar belakang: Swamedikasi adalah upaya individu untuk mengatasi sendiri keluhan kesehatan yang dirasakan, sebelum meminta bantuan tenaga medis di fasilitas kesehatan. Kota Depok merupakan satu dari lima wilayah di Jawa Barat dengan persentase tertinggi penduduk dengan keluhan kesehatan dan tidak pergi berobat jalan dengan alasan mengobati sendiri. Tujuan: Mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat di Kota Depok. Metode: Kuantitatif observational desain cross cectional pada 335 responden didapatkan melalui consecutive non-probability sampling. Pengumpulan data secara self administrated menggunakan aplikasi google form dan analisis regresi logistik berganda. Hasil: Sebanyak 50,4% responden melakukan swamedikasi untuk mengatasi keluhan kesehatan yang dirasakan. Tindakannya berupa membeli obat sendiri tanpa resep dokter di apotek/toko obat (23,0%); warung/swalayan (6,9%); atau secara online (1,2%); menggunakan obat sisa di rumah (15,5%); dan mengonsumsi jamu/herbal (3,9%). Swamedikasi menggunakan jenis obat bebas/bebas terbatas (63,9%); obat keras (17,8%) dan obat bahan alam (16%) dan tidak ditemukan penggunaan antibiotik. Variabel-variabel berhubungan signifikan dengan perilaku swamedikasi: keyakinan swamedikasi tinggi (OR=4,17; 95%CI 2,385–7,281); keluhan kesehatan gejala ringan (OR=10,06; 95%CI 5,671–17,830); dan adanya pengaruh sebaya/keluarga (OR=3,45; 95%CI 1,894–6,298). Keluhan kesehatan yang paling berhubungan signifikan dengan perilaku swamedikasi. Responden dengan keluhan kesehatan bergejala ringan berpeluang 10,06 kali untuk melakukan swamedikasi dibandingkan dengan responden bergejala sedang/berat, setelah dikontrol oleh keyakinan pada swamedikasi, pengaruh sebaya/keluarga, jenis kelamin dan pekerjaan.
Background: Self-medication is an individual's attempt to treat their own health problems before seeking medical assistance at a health facility. Depok is one of five regions in West Java with the highest percentage of residents with health problems who do not seek outpatient treatment because they treat themselves. Objective: To identify the factors associated with self-medication behavior among residents of Depok City. Method: A quantitative observational cross-sectional design was used with 335 respondents selected through consecutive non-probability sampling. Data collection was conducted via self-administered google forms, and analysis was performed using multiple logistic regression. Results: A total of 50.4% of respondents self-medicated to address their health problems. Their actions included purchasing medication without a doctor's prescription at pharmacies/drug stores (23.0%); small shops/supermarkets (6.9%); or online (1.2%); using leftover medication at home (15.5%); and consuming herbal medicine (3.9%). Self-medication involved the use of over-the-counter/restricted medications (63.9%); prescription medications (17.8%); and natural remedies (16%), with no use of antibiotics observed. Variables significantly associated with self-medication behavior included: high self-medication belief (OR=4.17; 95% CI 2.385–7.281); mild health problems (OR=10.06; 95% CI 5.671–17.830); and peer/family influence (OR=3.45; 95% CI 1.894–6.298). Health problems were most significantly associated with self-medication behavior. Respondents with mild health problems were 10.06 times more likely to engage in self-medication compared to those with moderate/severe symptoms, after controlling for beliefs about self-medication, peer/family influence, gender, and occupation.
