Ditemukan 28 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Siti Chamamah Soeratno, Masyitoh Chusnan
614.5 SOE i
Jakarta : Aisyiyah, 2021
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Magfiroh; Pembimbing: Mila Herdayati; Penguji: Besral, Siti Nur Anisah
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tuberkulosis dengan kejadian depresi di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut Indonesia Family Life Survey 5 dengan desain studi cross-sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di Indonesia usia ≥ 15 tahun yaitu sebanyak 30.993 responden. Hasil penelitian menemukan bahwa responden yang menderita tuberkulosis memiliki risiko 1,9 kali lebih besar untuk menderita depresi dibandingkan yang tidak menderita tuberkulosis setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, status pernikahan, status merokok, kapan terdiagnosis TB dan riwayat penyakit kronis.
Read More
S-10679
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Wahyu Rahmadiani; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Siti Zuhroh
Abstrak:
Read More
Di Indonesia, kasus kematian terkait Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) terus meningkat sebesar lebih dari dua kali lipat dari 11.971 kasus di tahun 2010 menjadi 26.501 di tahun 2022, dan 40% di antaranya disebabkan oleh Tuberkulosis (TBC). AIDS adalah perkembangan dari Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang mengakibatkan sistem kekebalan tubuh menurun sehingga Orang Dengan HIV (ODHIV) rentan terkena penyakit atau infeksi oportunistik, termasuk TBC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berasosiasi dengan adanya status TBC pada ODHIV setelah inisiasi ART dilakukan dengan menggunakan data Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA) 2.1. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penduduk berusia ≥ 15 tahun yang memanfaatkan data Sistem Informasi HIV AIDS tahun 2023 dan menggunakan uji chi-square untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk analisis multivariat. Dari 39.623 ODHIV yang tercatat pada tahun 2023, terdapat 34.662 data yang eligible untuk digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan wilayah dengan prevalensi kasus HIV tertinggi di DKI Jakarta adalah Jakarta Pusat (30,8%) sedangkan wilayah dengan prevalensi HIV-TB tertinggi adalah Jakarta Barat (25,1%). Selanjutnya, ditemukan prevalensi HIV-TB pada populasi ≥ 15 tahun di DKI Jakarta setelah melakukan inisiasi ART adalah 4,4%. Stadium klinis 3 dan 4 (AOR = 9,99; 95% CI = 8,72 – 11,45), Indeks Massa Tubuh (IMT) kurus (AOR = 2,54; 95% CI = 2,22 – 2,91), kelompok usia 25 – 34 tahun (AOR = 2,16; 95% CI = 1,86 – 2,52), tidak mengonsumsi Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) (AOR = 17,73; 95% CI = 10,42 – 30,18) adalah faktor risiko yang berpengaruh dalam meningkatkan adanya status TBC pada ODHIV. Selain itu, faktor yang menunjukkan protektif terhadap status TBC pada ODHIV adalah menunda inisiasi Antiretrvorial Therapy (ART) (AOR = 0,10; 95% CI = 0,09 – 0,12) dan kelompok populasi kunci (AOR = 0,44; 95% CI = 0,39 – 0,51). Faktor yang memiliki kontribusi terbesar dalam penelitian ini adalah riwayat konsumsi TPT. Dengan demikian, dibutuhkan peningkatan cakupan TPT untuk dapat mencegah adanya status TBC pada ODHIV dan ODHIV dewasa muda diharapkan dapat meningkatkan pencegahan TBC.
In Indonesia, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) related deaths have more than doubled from 11,971 cases in 2010 to 26,501 in 2022, 40% of which are caused by Tuberculosis (TB). AIDS is a progression of the Human Immunodeficiency Virus (HIV) that results in a decreased immune system so that People Living with HIV (PLHIV) are susceptible to opportunistic diseases or infections, including tuberculosis. This study aims to determine the factors associated with TB status in PLHIV after ART initiation using HIV AIDS Information System (SIHA) 2.1 data. The design of this study was cross sectional with a sample of population aged ≥ 15 years utilizing HIV AIDS Information System data in 2023 and using chi-square test for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. Of the 39,623 PLHIV recorded in 2023, 34,662 data were eligible to be used in this study. The results showed that the region with the highest prevalence of HIV cases in DKI Jakarta was Central Jakarta (30.8%) while the region with the highest prevalence of HIV-TB was West Jakarta (25.1%). Furthermore, the prevalence of HIV-TB in the population ≥ 15 years old in DKI Jakarta after ART initiation was found to be 4.4%. Clinical stage 3 and 4 (AOR = 9.99; 95% CI = 8.72 - 11.45), lean body mass index (BMI) (AOR = 2.54; 95% CI = 2.22 - 2.91), age group 25 - 34 years (AOR = 2.16; 95% CI = 1.86 - 2.52), not taking Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) (AOR = 17.73; 95% CI = 10.42 - 30.18) are risk factors that increase the presence of TB status in PLHIV. In addition, the protective factors for TB status among PLHIV were delayed initiation of antiretroviral therapy (ART) (AOR = 0.10; 95% CI = 0.09 - 0.12) and key population groups (AOR = 0.44; 95% CI = 0.39 - 0.51). The factor with the largest contribution in this study was history of TPT consumption. Thus, there is a need to increase TPT coverage to prevent TB status in PLHIV and young adult PLHIV are expected to improve TB prevention.
S-11620
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salsha Nur Alfaiza; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Fajriatun Nur Isnaeni
Abstrak:
TBC masih merupakan masalah kesehatan dunia, bahkan Indonesia. Pemerintah telah menerapkan program DOTS untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TBC, namun angka tersebut masih belum mencapai target. Selama pandemi Covid-19, program DOTS tetap diselenggarakan dengan adanya penyesuaian pengelolaan input dan process. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui gambaran pelaksanaan program DOTS selama pandemi Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Depok Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam kepada informan utama, yakni Penanggung Jawab Program DOTS, Dokter Penanggung Jawab Program DOTS, Ketua Kader dan PMO, sedangkan informan pendukung, yakni Pasien TBC. Peneliti mengambil data secara daring melalui Zoom Meeting. Hasil penelitian bahwa pelaksanaan program DOTS di tengah pandemi Covid-19 dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan, diantaranya wajib memakai masker dua rangkap dan mencuci tangan pakai sabun. Sumber daya PMO dan petugas puskesmas yang berdedikasi memiliki peran penting dalam upaya penyembuhan pasien TBC. Selain itu, ketersediaan anggaran, sarana, dan prasarana yang cukup dapat menunjang keberlangsungan program agar efektif. Kegiatan utama yang masih rutin diadakan yakni pengobatan TBC melalui pemberian Obat Anti Tuberkulosis yang tidak pernah kurang. Terdapat beberapa kendala dalam program DOTS, antara lain jumlah sumber daya kader kesehatan yang sedikit, kurang tersedianya Tes Cepat Molekuler, dan kurang mendukungnya ruangan pasien TBC. Beberapa kegiatan utama di Puskesmas selama pandemi mengalami penurunan jumlah kegiatan, diantaranya investigasi kontak, skrining, penyuluhan, serta pelatihan. Selain itu terdapat beberapa masalah di pelaksanaan program DOTS yang terjadi selama pandemi Covid-19, yaitu masyarakat yang cenderung individualis, kurang terbuka, dan memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga petugas puskesmas dan kader kesehatan seringkali kesulitan dalam melakukan pemantauan terkait dengan investigasi kontak dan pengobatan pasien TBC. Dampaknya, cakupan pengobatan TBC tidak mencapai target, yakni sebesar 71,87% berdasarkan Renstra Puskesmas Depok Jaya Tahun 2021 2026. Hasil penelitian menyarankan untuk Puskesmas dapat memberikan pelatihan kepada kader kesehatan terkait dengan penyikapan investigasi kontak dan edukasi penyakit TBC yang baik kepada masyarakat disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19, memberikan pelatihan kepada PMO terkait memotivasi pasien TBC dalam minum obat secara teratur dan pemeriksaan cek dahak secara rutin, serta perlu melengkapi sarana dan prasarana yang mendukung terkait kebutuhan program DOTS.
Read More
S-10960
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yenni Sri Handayani; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono, Iman Surahman
Abstrak:
Background : Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri yang menyebabkan TBC. WHO mengatakan angka TBC dunia meningkat sejak tahun 2014-2017. TBC adalah masalah kesehatan dunia saat ini. Propinsi Bengkulu mengalami peningkatan angka kasus TBC dari tahun 2015-2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Scar BCG dengan kejadian TBC pada pasien TBC. Penelitian ini menggunakan metode case control. Populasinya adalah semua pasien yang berkunjung di Puskesmas Basuki Rahmad selama tahun 2016-2017 dengan teknik sampel random sampling. Penghitungan besar sampel 2 proporsi dengan P1 peneliti terdahulu memakai rumus Najma didapat hasil kasus 63 kontrol 63 1:1 total sampel 126. Dari 126 pasien TBC yang tidak ada Scar sebanyak 54 (42,9%) dan yang ada Scar BCG sebanyak 72(57,1%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 69(54,8%) orang dan jenis kelamin perempuan sebanyak 57(45,2%) orang, pasien yang memiliki status gizi kurang sebanyak 38(30,2%) orang dan status gizi baik sebanyak 88(69,8%) orang, pasien TBC yang memiliki pendidikan rendah sebanyak 50(39,7%) orang dan yang memiliki pendidikan tinggi sebanyak 76(60,3%) orang, pasien yang kontak serumah sebanyak 58(46,0%) orang dan pasien yang tidak kontak sebanyak 68(54,0%), pasien umur 50 tahun 15(11,9%) orang. Ada hubungan yang signifikan antara Scar BCG, status gizi, jenis kelamin dengan kejadian TBC paru pada tahun 2016-2017 dengan p = 0,000 p = 0,000 dan p = 0,000. Dan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, pendidikan, kontak serumah dengan kejadian TBC pada tahun 2016-2017. Confounding Scar BCG terhadap kejadian TBC adalah status gizi, jenis kelamin, umur dan kontak serumah. Kesimpulan: Ada hubungan antara Scar BCG, status gizi, jenis kelamin dengan kejadian TBC paru dan confounding Scar BCG dengan kejadian TBC ada 4 variabel di Puskesmas Basuki Rahmad Kota Bengkulu. Rekomendasi: Pencegahan TBC dapat dilaksanakan dengan imunisasi BCG, minum obat secara teratur.
Read More
T-5622
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chusna Meimuna; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Refni Dumesty, Pitut Aprilia Savitri
Abstrak:
Pembangunan sistem kesehatan merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Perlu adanya Standar Pelayanan Minimal sebagai acuan untuk mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan antar daerah terutama dalam kasus penemuan tuberkulosis. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilanjutkan dengan inovasi kebijkan dengan mempertimbangkan seperti telaah terkait peraturan gubernur no.28 tahun 2018 tentang penanggulangan Tuberkulosis, perencanaan jadwal dan pelatihan untuk puskesmas dan lintas sektor, meningkatkan sosialisasi dan advokasi lintas sektor terkait peraturan gubernur no.28 tahun 2018 tentang Penanggulangan Tuberkulosis di Wilayah Jakarta Barat.
Read More
T-5739
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Okti Anggraeni; Pembimbing: Tris, Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Suhardini
Abstrak:
Guna mendukung upaya pemerintah dalam pencatatan secara terintegrasi tentunya diperlukan sebuah informasi yang memadai mengenai kasus TBC, seperti informasi sebaran kasus dan faktor determinan yang mempegaruhinya. Dengan adanya informasi sebaran kasus dan faktor determinan berbasis ruang dan waktu tentunya akan memudahkan pemerintah dan petugas kesehatan petugas kesehatan dalam melakukan pengambilan keputusan dan perencanaan program kesehatan berdasarkan informasi daerah rawan kasus dan berpotensi terjadinya kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi kasus TBC secara spasial dan variable-variabel yang mempengaruhinya di Kabupaten Cilacap sehingga dapat diketahui daerah yang berisiko terhadap TBC. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional (potong lintang) dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) serta analisis Regresi linier. Berdasarkan analisis regresi linier hubungan rumah sehat, PHBS, tenaga kesehatan dan kemiskinan terhadap kasus TBC tidak signifikan sedangkan berdasarkan analisis spasial beberapa wilayah yang berisiko tinggi terhadap TBC prioritas I adalah Kecamatan Kawunganten, Sedangkan wilayah lainnya tergolong prioritas II menyebar di Kabupaten Cilacap. Kecamatan Sampang, Kecamatan Maos, Kecamatan Adipala, Kecamatan Cilacap Utara, Kecamatan Cilacap Selatan dan Kecamatan Kampung Laut masuk dalam prioritas III.
Read More
S-10153
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fitri Aulia; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli, Galuh Budhi Leksono Adhi
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang masih menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan di dunia. Kasus TBC di Indonesia termasuk yang tertinggi kedua setelah India dengan persentase kasus mencapai 8,5%. Data Riskesdas tahun 2018 melaporkan prevalensi TBC Paru di Indonesia sebesar 0,42%. Berdasarkan penelusuran literatur, masih sedikit yang mengkaji mengenai faktor risiko TBC Paru dari berbagai level secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berperan pada level individu dan kelompok secara bersamaan terhadap kejadian TBC Paru di Indonesia menggunakan analisis multilevel. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan menggabungkan data Riskesdas Tahun 2018 sebagai sumber data untuk variabel level individu dan data BPS tahun 2018 sebagai sumber data untuk variabel level provinsi. Data yang berjumlah 938.389 sampel digunakan sebagai sampel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, variabel yang berperan terhadap kejadian TBC Paru pada level individu adalah usia (POR=4,93; 95% CI: 4,36-5,57), tingkat pendidikan (POR=1,63; 95% CI: 1,49-1,77), riwayat penyakit DM (POR= 3,77; 95% CI: 3,32-4,28), kepadatan penduduk (POR= 3,11; 95% CI: 1,81 - 5,33), kemiskinan (POR= 1,35; 95% CI: 1,07 - 1,71), dan ketersediaan fasyankes (POR= 1,36; 95% CI: 0,98 - 1,89). Selain itu, variabel yang berperan terhadap kejadian TBC Paru pada level provinsi adalah kepadatan penduduk (MOR= 1,41), kemiskinan (MOR= 1,46), dan ketersediaan fasyankes (MOR= 1,45). Berdasarkan besar kontribusi, variabel individu (usia, tingkat pendidikan, dan riwayat DM) secara bersama-sama berkontribusi sebesar 2,4%. Pada variabel konteksual, variabel kepadatan penduduk, kemiskinan, dan ketersediaan berkontribusi masing-masing sebesar 4,1%, 0,5% dan 0,8%. Namun, jika ketiga variabel dimasukkan secara bersama-sama ke dalam model, kontribusinya meningkat menjadi 9,3%.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease which is still the main cause of health problems in the world. Indonesia is the second highest country after India with 8.5% of all cases in the world. Riskesdas data in 2018 reported that the prevalence of pulmonary tuberculosis in Indonesia was 0.42%. There have been many studies that have examined the effects of factors contributing to the prevalence of pulmonary TB at individual, environmental, or global level. Based on the results of a literature search, there are still few studies that examine the risk factors for pulmonary tuberculosis from various levels. This study aimed to analyze the factors contributing at the individual and group levels simultaneously on the prevalence of pulmonary TB in Indonesia using multilevel analysis. The study design used was a combination of two study designs (hybrid design)-cross sectional and ecological study designs. This study used secondary data by combining data from two different sources: Riskesdas in 2018 as the data source for individual-level variables and BPS in 2018 as the data source for province-level variables. There were 938.389 samples were used in this study. Based on the result, it is known that the variables that contribute to the incidence of pulmonary tuberculosis at the individual level were age (POR=4.93; 95% CI: 4.36-5.57), level of education (POR=1.63; 95% CI: 1 .49-1.77), history of DM (POR= 3.77; 95% CI: 3.32-4.28), population density (POR= 3.11; 95% CI: 1.81 - 5.33 ), poverty (POR= 1.35; 95% CI: 1.07 - 1.71), and availability of health facilities (POR= 1.36; 95% CI: 0.98 - 1.89). In addition, the variables that contribute to the incidence of pulmonary TB at the provincial level are population density (MOR = 1.41), poverty (MOR = 1.46), and availability of health facilities (MOR = 1.46). = 1.45). Based on the contribution, individual variables (age, education level, and history of DM) together contributed 2.4%. In the contextual variables, population density, poverty and availability contributed respectively 4.1%, 0.5% and 0.8%. However, when these three variables were included in the model together, their contribution increases to 9.3%.
T-6500
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Edy Herman; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Ririn Arminsih, Budi Hartono, Sri Anggraini, Lindawaty
T-4320
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Isnani Dewi Saefina; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Budi Setiawan
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. Pengobatan TBC merupakan salah satu bentuk dari pengendalian dan penanggulangan penyakit TBC. Pengobatan TBC bertujuan untuk menyembuhkan pasien dan mencegah kematian/kecatatan akibat TBC serta menurunkan risiko penularan TBC. Pada tahun 2023 Kota Jakarta Selatan menjadi kota dengan urutan ketiga dalam penemuan kasus TBC SO di Provinsi DKI Jakarta. Angka Penemuan Kasus sebesar 11.278 kasus (99% dari estimasi 11.411 kasus). Namun angka penemuan kasus yang tinggi belum sejalan dengan Angka keberhasilan pengobatan TBC. Angka Keberhasilan pengobatan TBC dari kasus yang ditemukan dan diobati belum mencapai target nasional yaitu 80,89%. Penelitian ini bertujuan gambaran masalah serta faktor yang memengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TBC di Kota Jakarta Selatan Tahun 2023menggunakan desain kohort retrospektif. Variabel yang dianalisis meliputi Usia, jenis kelamin, status pekerjaan, riwayat pengobatan sebelumnya, Status HIV, Komorbid DM, Paduan OAT dan jenis fasilitas Kesehatan. Dari 4542 pasien yang dianalisis, 65% berhasil dalam pengobatan TBC SO, probabilitas survival kumulatif di akhir pengamatan sebesar 4,36% dan median survival keseluruhan 6 bulan. Dua variabel yang menjadi prediktor keberhasilan pengobatan TBC SO adalah jenis fasilitas kesehatan dan komorbid DM. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat pelaksanaan program pengendalian TBC, khususnya dalam pengelolaan pasien dengan komorbiditas seperti diabetes melitus. Temuan yang diperoleh juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang bertujuan mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara penyakit penyerta dan keberhasilan pengobatan TBC, serta mendorong integrasi layanan kesehatan yang lebih efektif.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem globally, including in Indonesia. TB treatment is a key component of TB control and elimination efforts, aiming to cure patients, prevent death or disability due to TB, and reduce the risk of transmission. In 2023, South Jakarta ranked third in the number of drug-sensitive TB (DS-TB) case detections in DKI Jakarta Province, with a total of 11,278 cases detected (99% of the estimated 11,411 cases). However, the high case detection rate has not been matched by the treatment success rate. The treatment success rate among those who were diagnosed and treated has not yet reached the national target, standing at only 80.89%.This study aims to provide an overview of the problem and identify factors influencing treatment success among TB patients in South Jakarta in 2023, using a retrospective cohort design. Variables analyzed included age, sex, employment status, history of previous treatment, HIV status, comorbid diabetes mellitus (DM), type of anti-TB drug regimen, and type of health facility. Among the 4,542 patients analyzed, 65% successfully completed TB treatment, with a cumulative survival probability at the end of follow-up of 4.36%, and a median overall survival of 6 months. Two variables were identified as significant predictors of TB treatment success: type of health facility and comorbid diabetes mellitus. The findings of this study are expected to contribute to strengthening TB control programs, particularly in the management of patients with comorbidities such as diabetes mellitus. Furthermore, these results may serve as a reference for future research exploring the relationship between comorbid conditions and TB treatment outcomes, as well as supporting the integration of more effective health services.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem globally, including in Indonesia. TB treatment is a key component of TB control and elimination efforts, aiming to cure patients, prevent death or disability due to TB, and reduce the risk of transmission. In 2023, South Jakarta ranked third in the number of drug-sensitive TB (DS-TB) case detections in DKI Jakarta Province, with a total of 11,278 cases detected (99% of the estimated 11,411 cases). However, the high case detection rate has not been matched by the treatment success rate. The treatment success rate among those who were diagnosed and treated has not yet reached the national target, standing at only 80.89%.This study aims to provide an overview of the problem and identify factors influencing treatment success among TB patients in South Jakarta in 2023, using a retrospective cohort design. Variables analyzed included age, sex, employment status, history of previous treatment, HIV status, comorbid diabetes mellitus (DM), type of anti-TB drug regimen, and type of health facility. Among the 4,542 patients analyzed, 65% successfully completed TB treatment, with a cumulative survival probability at the end of follow-up of 4.36%, and a median overall survival of 6 months. Two variables were identified as significant predictors of TB treatment success: type of health facility and comorbid diabetes mellitus. The findings of this study are expected to contribute to strengthening TB control programs, particularly in the management of patients with comorbidities such as diabetes mellitus. Furthermore, these results may serve as a reference for future research exploring the relationship between comorbid conditions and TB treatment outcomes, as well as supporting the integration of more effective health services.
T-7398
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
