Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Akbar Nugroho Sitanggang; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, M. Rizal. M. Damanik, Syahrul Efendi Panjaitan
Abstrak:
Faktor penting yang mempengaruhi kesehatan pekerja ibu hamil adalah status gizi yang telah lama dijadikan sebagai indikator pencapaian kesehatan suatu negara. Hal ini juga sejalan dengan upaya menciptakan tempat kerja yang sehat bagi pekerja, termasuk ibu hamil. Penting untuk mengetahui kondisi dan juga hubungan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pekerja ibu hamil tidak hanya dalam konteks kesehatan klinis tetapi juga faktor sosial ekonomi. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dengan pendekatan semi kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan secara berani dengan menggunakan instrumen angket yang telah disusun oleh peneliti. Analisis univariat dan bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel. Mayoritas responden berusia 21-30 tahun (80%), berada pada kehamilan trimester III (47,14%), latar belakang pendidikan S1 (62,86%), status gizi sebagian besar responden adalah defisit berat (34,29%) dan normal (30%), dengan skor konsumsi makanan kurang (58,57%). sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan gizi baik (81,43%), dengan tingkat tuntutan pekerjaan dalam kategori sedang (65,71%), dan tingkat dukungan organisasi dalam kategori tinggi (41,43%). Terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara status gizi dengan 3 variabel yaitu frekuensi makan, tuntutan kerja dan dukungan organisasi. Kata kunci: Pekerja hamil, status gizi, tuntutan kerja, dukungan organisasi.

An important factor that affects the health of pregnant women workers is nutritional status which has long been used as an indicator of a country's health achievement. This is also in line with efforts to create a healthy workplace for workers, including pregnant women. It is important to know the conditions and also the relationship of factors that can affect the nutritional status of pregnant women workers not only in the context of clinical health but also socio-economic factors.The study was conducted with a cross-sectional design with a semi-quantitative approach. Data ii collection was carried out boldly using a questionnaire instrument that had been formulated by the researcher. Univariate and bivariate analysis was conducted to see the relationship between variables. Majority of respondents aged 21-30 years (80%), are in the third trimester of pregnancy (47.14%), educational background is bachelor degree (62.86%), the majority of respondents' nutritional status is severe deficit (34.29%) and normal (30%), with a score of less food consumption (58.57%). most of them have a good level of nutritional knowledge (81.43%), with level of job demand in medium category (65.71%), and the level of organizational support in high category (41.43%). Significant relationship (p<0,05) were found between nutritional status with 3 variables, namely the frequency of food, job demand and organizational support. Key words: Pregnant worker, nutritional status, job demand, organizational support.
Read More
T-6405
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Perkasa NP Sinagabariang; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Abdul Kadir, Indri Hapsari Susilowati, Sudi Astono, Suryo Wibowo
Abstrak:
Kelelahan adalah salah satu faktor penyebab penurunan kesehatan, kinerja, dan konsentrasi pekerja yang dapat menyebabkan kecelakaan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan faktor risiko dan kelelahan. Faktor risiko yang diteliti adalah yang terkait pekerjaan yaitu faktor lingkungan, rancangan pekerjaan, dan psikososial dan tidak terkait pekerjaan yaitu faktor individu. Penelitian menggunakan metode potong lintang dan Mixed-method sequential explanatory dengan kuesioner, FGD dan observasi. Uji statistik multivariat menunjukkan ada hubungan antara faktor psikososial (tuntutan kerja dan kepuasan kerja) dan faktor individu (usia) dan kelelahan. Tuntutan kerja berhubungan dengan kelelahan karena operasi migas yang berisiko tinggi, pekerja mengoperasikan fasilitas produksi yang masih baru dan tuntutan salur gas yang stabil dari pembeli gas. Kepuasan kerja berhubungan dengan kelelahan karena ketidakjelasan karir pekerja non-staff dan harapan peningkatan pendapatan. Faktor usia berkaitan dengan pembentukan masa otot dan tulang yang mencapai puncak di usia 35 tahun dan mulai menurun di atas 35 tahun. Kesimpulan penelitian ini adalah tiga faktor yang dominan terhadap kelelahan adalah kepuasan kerja, tuntutan kerja dan usia.

Fatigue is one of the factors that causes a decline in workers' health, performance, and concentration, which can cause accidents. This research was conducted to analyze the relationship between risk factors and fatigue. The risk factors studied are those related to work: environmental factors, job design, and psychosocial and non-work-related individual factors. The research used cross-sectional and mixed-method sequential explanatory methods with questionnaires, FGD, and observation. Multivariate statistical tests show a relationship between psychosocial factors (work demands and job satisfaction), individual factors (age), and fatigue. Work demands relate to high-risk oil and gas operations, workers operating new production facilities, and demands for stable gas lines from gas buyers. Job satisfaction is associated with career uncertainty of non-staff workers and the hope of increasing income. The age factor is related to the formation of muscle and bone mass, which reaches its peak at the age of 35 years and begins to decline after 35 years. This research concludes that the three dominant factors in fatigue are job satisfaction, job demands, and age.
Read More
T-6989
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arie Januarius Putra; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Hanny Harjulianti, Diantika Prameswara
Abstrak:
Stres kerja merupakan tantangan besar dalam kesehatan kerja yang berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan produktivitas pekerja. Aparatur Sipil Negara (ASN) menghadapi tuntutan kerja tinggi yang berpotensi menyebabkan stres, namun penelitian mengenai faktor psikososial yang mempengaruhinya masih terbatas di Indonesia. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor psikososial yang mempengaruhi terjadinya stres kerja di Balai Besar Pelatihan X. Penelitian ini merupakan penelitian inferensial dengan pendekatan cross sectional. Analisis data dilakukan dengan chi-square untuk menganalisis hubungan dua variable dan analisis regresi logistic untuk menganalisis faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden yang mengalami stres sebanyak 48.7%, dengan 49.2% responden merasa memiliki tuntutan kerja yang tinggi, 55.8% memiliki kontrol pekerjaan yang rendah dan dukungan sosial yang rendah 68%. Hasil bivariat menunjukkan bahwa seluruh variable (tuntutan pekerjaan, kontrol pekerjaan dan dukungan sosial) berpengaruh secara signifikan terhadap terjadinya stres. Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi stres kerja adalah tuntutan tinggi. Merujuk pada tingginya tingkat stres pekerja, maka perlu adanya wellness program yang dirancang guna mengurangi tingkat stres kerja. Peneliti selanjutnya dapat menguji coba model intervensi seperti wellness program tersebut.


Job stress is a significant challenge in occupational health, harming the physical and mental health, as well as the productivity of workers. The State Civil Apparatus (ASN) faces high work demands that have the potential to cause stress; however, research on psychosocial factors that influence it is still limited in Indonesia. Therefore, the purpose of this study was to examine the psychosocial factors that contribute to the occurrence of work stress at the X Training Center. This study employs a inferential, cross-sectional approach. Data analysis was conducted using the chi-square test to examine the relationship between two variables and logistic regression analysis to identify the most significant factors influencing work stress. The results showed that 48.7% of respondents experienced stress, with 49.2% feeling they had high work demands, 55.8% having low job control and 68% experiencing low social support. The bivariate results showed that all variables (job demands, job control and social support) had a significant effect on the occurrence of stress. The multivariate analysis showed that the most dominant factor influencing work stress was high demands. In response to the high level of worker stress, a wellness program is necessary that is designed to mitigate work-related stress. Further researchers can test intervention models such as wellness programs.

Read More
T-7321
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive