Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Vivi Hali Komariah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Lin Yuwarni
Abstrak:
Sumber PM2,5 banyak dihasilkan dari kegiatan antropogenik seperti transportasi industri, dan rumah tangga. Sumber dari kegiatan industri biasanya banyak berasal dari kegiatan pertambangan, cerobong asap pabrik, hasil pembakaran dan industri semen (WHO, 2006). Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko PM2,5 dan hubungannya dengan penurunan fungsi paru. Jenis penelitian ini adalah analisis risiko dan epidemiologi dengan desain cross sectional, jumlah sample 92 responden dan teknik pengambilan sampel adalah proporsional simple random sampling. Data diperoleh dari kuisioner, pengukuran PM2,5 pengukuran antropometri dan pengukuran fungsi paru. Fungsi paru diperiksa dengan menggunakan spirometri tes untuk mendapatkan nilai FVC dan FEV1. Konsentrasi PM2,5 diukur dengan menggunakan High Volume Air Sampler. Analisis uji statistik menggunakan Chi square dan regresi linear dengan derajat kepercayaan 95%. Untuk menghitung besarnya risiko dilakukan sampling konsentrasi PM2,5 di 6 titik area. Hasil perhitungan risiko lifetime menunjukkan terdapat 5 area berisiko dengan nilai RQ > 1, yaitu storage, raw mill, kiln, finish mill dan packing. Prevalensi penurunan fungsi paru pada pekerja industri semen sebesar 60,9% di mana 50% menagalami restriktif dan 10,9% mengalami obstruktif. Hasil analisis menjukkan hubungan yang signifikan antara gangguan fungsi paru dengan konsntrasi PM2,5 (p= 0,035, OR=2,722), umur (p= 0,020, OR= 2,833), status gizi (p=0,007, OR= 3,323), kebiasaan merokok (p= 0,035, OR= 2,60), aktifitas fisik (p=0,035, OR= 2,667), lama kerja (p=0,028, OR= 3,400), masa kerja (p= 0,018, OR= 3,015). Dengan analisis multivariat, didapatkan faktor yang paling berhubungan terhadadap gangguan fungsi paru adalah, konsentrasi PM2,5, usia, sratus gizi, kebiasaan merokok dan masa kerja. Selanjutnya diperlukan upaya untuk perbaikan lingkungan area kerja dengan memperhatikan risiko yang ditimbulkan dari pajanan PM2,5 dan melakukan manajemen risiko di area kerja.
Kata Kunci : PM2,5, Analisis risiko, industri semen, pekerja industri, fungsi paru
Read More
Kata Kunci : PM2,5, Analisis risiko, industri semen, pekerja industri, fungsi paru
S-9193
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rafif Bagoes Zikri; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartini, Hifni Baihaqi
Abstrak:
Latar Belakang: Pemajanan terhadap PM2,5 di lingkungan telah diketahui berperan terhadap efek kesehatan manusia, terutama menyebabkan penurunan fungsi paru.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM2,5 terhadap penurunan fungsi paru pada karyawan Pabrik Bogor PT. X, tahun 2017.
Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di area produksi Plant 1 dan Plant 2, area tambang, dan area kantor pada Pabrik Bogor PT. X. 76 karyawan tetap terpilih secara purposive sebagai sampel dalam penelitian ini. Pengukuran PM2,5 dan faktor- faktor lingkungan dilakukan secara indoor dan outdoor disesuaikan dengan area tersebut. Dilakukan pengukuran fungsi paru secara spirometri, dan pengukuran konsentrasi PM2,5 menggunakan Haz-Dust dan MiniVol Air Sampler. Data lainnya diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner. Analisis secara bivariat dengan metode chi-square, dan analisis multivariat dengan metode regresi logistik ganda.
Hasil: Secara bivariat dengan penurunan fungsi paru, hanya ditemukan hubungan signifikan antara penggunaan APD dan penurunan fungsi paru (p=0,030; OR: 4,688; CI: 1,174-18,721). PM2,5 meningkatkan risiko sebesar 3,3 kali (CI: 0,657- 16,902). Faktor lainnya yang meningkatkan risiko antara lain usia (OR: 1,8; CI: 0,207-15,687), status gizi (OR: 5,143; CI: 0,614-43,103), derajat berat merokok (OR: 1,64; CI: 0,431-6,236), dan kebiasaan berolahraga (OR: 4,2; CI: 0,499- 35,340). Ditemukan fenomena Healthy Worker Effect pada penelitian ini, dengan adanya risiko pada kelompok masa kerja 35 μg/m3 memiliki risiko sebesar 2,094 lebih tinggi untuk mengalami penurunan fungsi paru setelah dikontrol oleh variabel-variabel confouding yaitu penggunaan APD, masa kerja, usia, dan status gizi.
Saran: Perlu diadakan penelitian lanjutan dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan untuk melihat estimasi risiko berdasarkan asupan.
Kata kunci: PM2,5, penurunan fungsi paru, industri semen, cross-sectional
Read More
Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM2,5 terhadap penurunan fungsi paru pada karyawan Pabrik Bogor PT. X, tahun 2017.
Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di area produksi Plant 1 dan Plant 2, area tambang, dan area kantor pada Pabrik Bogor PT. X. 76 karyawan tetap terpilih secara purposive sebagai sampel dalam penelitian ini. Pengukuran PM2,5 dan faktor- faktor lingkungan dilakukan secara indoor dan outdoor disesuaikan dengan area tersebut. Dilakukan pengukuran fungsi paru secara spirometri, dan pengukuran konsentrasi PM2,5 menggunakan Haz-Dust dan MiniVol Air Sampler. Data lainnya diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner. Analisis secara bivariat dengan metode chi-square, dan analisis multivariat dengan metode regresi logistik ganda.
Hasil: Secara bivariat dengan penurunan fungsi paru, hanya ditemukan hubungan signifikan antara penggunaan APD dan penurunan fungsi paru (p=0,030; OR: 4,688; CI: 1,174-18,721). PM2,5 meningkatkan risiko sebesar 3,3 kali (CI: 0,657- 16,902). Faktor lainnya yang meningkatkan risiko antara lain usia (OR: 1,8; CI: 0,207-15,687), status gizi (OR: 5,143; CI: 0,614-43,103), derajat berat merokok (OR: 1,64; CI: 0,431-6,236), dan kebiasaan berolahraga (OR: 4,2; CI: 0,499- 35,340). Ditemukan fenomena Healthy Worker Effect pada penelitian ini, dengan adanya risiko pada kelompok masa kerja 35 μg/m3 memiliki risiko sebesar 2,094 lebih tinggi untuk mengalami penurunan fungsi paru setelah dikontrol oleh variabel-variabel confouding yaitu penggunaan APD, masa kerja, usia, dan status gizi.
Saran: Perlu diadakan penelitian lanjutan dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan untuk melihat estimasi risiko berdasarkan asupan.
Kata kunci: PM2,5, penurunan fungsi paru, industri semen, cross-sectional
S-9449
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Aisyah Putri; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Imam Pratama Azi
Abstrak:
Read More
Kasus kecelakaan kerja di industri semen, khususnya area packer merupakan masalah serius yang dapat berdampak pada banyak hal termasuk produktivitas, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja. Data menunjukkan bahwa kecelakaan kerja di area Packer Industri Semen PT X Tahun 2024 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 dan menjadi lokasi dengan frekuensi kecelakaan tertinggi selama 2024. Investigasi kecelakaan kerja dan tindakan perbaikan telah dilakukan oleh PT X, tetapi kecelakaan terus berulang. Hal tersebut mungkin saja karena terlewatnya analisis faktor manusia dalam proses investigasi kecelakaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kontribusi faktor manusia berupa kondisi laten dan kegagalan aktif terhadap kecelakaan kerja yang terjadi di area packer PT X selama 2023-2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik menggunakan metode Human Factor Analysis Classification System (HFACS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi laten lebih banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer PT X dibandingkan kegagalan aktif. Faktor kondisi laten yang paling berkontribusi terhadap kecelakaan kerja diantaranya organizational climate, organizational process, resource management, dan inadequate supervision. Sementara, faktor kegagalan aktif yang paling banyak berkontribusi adalah decision error. PT X perlu melakukan perbaikan kondisi laten dari level organisasi dan pengendalian kegagalan aktif atas faktor-faktor yang ditemukan berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer.
Occupational accident cases in the cement industry, especially the packer area, are a serious problem that can have an impact on many things including productivity, safety, and worker welfare. Data shows that occupational accidents in the Packer area of the PT X Cement Industry in 2024 have increased compared to 2023, making it the area with the highest accident frequency in 2024. Occupational accident investigations and corrective actions have been conducted, but accidents continue to recur. This may be due to the absence of human factor analysis during the investigation process. Therefore, this study was conducted to determine contribution of human factors specifically latent conditions and active failures to occupational accidents that occurred in the PT X packer area during 2023-2024. This study was conducted using a descriptive analytical method using the Human Factor Analysis Classification System (HFACS) method. The results of the study showed that latent conditions contributed more to occupational accidents than active failures. The latent condition factors that contributed the most to occupational accidents included organizational climate, organizational process, resource management, and inadequate supervision. Meanwhile, the active failure factor that contributed the most was decision error. PT X needs to improve latent conditions at the organizational level and implement control to mitigate active failures in the packer area.
Occupational accident cases in the cement industry, especially the packer area, are a serious problem that can have an impact on many things including productivity, safety, and worker welfare. Data shows that occupational accidents in the Packer area of the PT X Cement Industry in 2024 have increased compared to 2023, making it the area with the highest accident frequency in 2024. Occupational accident investigations and corrective actions have been conducted, but accidents continue to recur. This may be due to the absence of human factor analysis during the investigation process. Therefore, this study was conducted to determine contribution of human factors specifically latent conditions and active failures to occupational accidents that occurred in the PT X packer area during 2023-2024. This study was conducted using a descriptive analytical method using the Human Factor Analysis Classification System (HFACS) method. The results of the study showed that latent conditions contributed more to occupational accidents than active failures. The latent condition factors that contributed the most to occupational accidents included organizational climate, organizational process, resource management, and inadequate supervision. Meanwhile, the active failure factor that contributed the most was decision error. PT X needs to improve latent conditions at the organizational level and implement control to mitigate active failures in the packer area.
S-12103
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andrizqa; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Asep Zaenal Muttaqien
Abstrak:
Read More
Persepsi pekerja terhadap keselamatan dapat mempengaruhi safety climate di perusahaan yang dapat menjadi penyebab dari peningkatan cedera dan kecelakaan kerja di industri manufaktur. Analisis iklim keselamatan kerja pada industri semen di Indonesia dilakukan dengan mengetahui persepsi para pekerja terhadap implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ada. Setiap proses kerja yang terdapat di industri semen mulai dari proses penambangan hingga proses pengemasan mempunyai potensi bahaya K3. Kegiatan penambangan di industri semen merupakan hal yang rentan terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Pekerja di area quarry tempat penambangan memiliki level risiko tertinggi (high). Penelitian ini dilakukan pada pekerja di area quarry dengan metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit untuk mengetahui gambaran safety climate di area quarry PT X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori nilai rendah terdapat pada masing-masing subvariabel dari variabel organizational safety value, group safety value, dan individual safety value. Faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan dan prosedur di perusahaan serta pemahaman pekerja mengenai cara mengidentifikasi risiko dan bahaya di pekerjaannya.
The perception of workers towards safety can influence the safety climate within a company, which can be a cause of increased injuries and workplace accidents in the manufacturing industry. An analysis of the safety climate in the cement industry in Indonesia was conducted by understanding workers' perceptions of the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) measures. Every work process in the cement industry, from mining to packaging, carries potential occupational health and safety hazards. Mining activities in the cement industry are particularly vulnerable to workplace accidents. Workers in the quarry area, where mining takes place, face the highest level of risk. This research focuses on workers in the quarry area, utilizing a quantitative method with a questionnaire adapted from the Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit to assess the safety climate at X's Company quarry area. The research findings indicate that low values are observed in each sub-variable of organizational safety value, group safety value, and individual safety value. The most influential factors are the company's policies and procedures, as well as workers' understanding of how to identify risks and hazards in their work.
S-11507
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anisa Kurniati; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Hifni Baihaqi
Abstrak:
Particulate matter merupakan salah satu kontaminan udara yang dihasilkan olehindustri semen. Pajanan jangka panjang ataupun jangka pendek PM2,5mengakibatkan efek kesehatan, salah satunya gangguan fungsi pernapasan.Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsentrasi pajanan personalPM2,5 dan efek akut pernapasan subyektif pada pekerja patrol bagian produksi diindustri semen PT X, tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifdengan desain deskriptif . Pengukuran konsentrasi PM2,5 menggunakan LelandLegacy Pump dan Sioutas Cascade Impactor selama 8 jam kerja pada patrolerarea reklamer, raw mill, firing, finish mill, dan packhouse. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata konsentrasi pajanan personal PM2,5 pada patroler industrisemen PT X adalah 1495,651 μg/m3 dan konsentrasi pajanan PM2,5 tertinggiterdapat pada area packhouse. Seluruh patroler mengalami efek akut pernapasansubyektif, dengan keluhan tertinggi sakit tenggorokan dan bersin (64,7%).Kata kunci:Particulate matter 2,5 (PM2,5), efek akut pernapasan subyektif, pekerja patrolbagian produksi industri semen
Particulate matter is one of the air contaminant produced by cement industry.Health effect that caused by long term or short term of PM2,5 exposure lead torespiratory diseases. This study purposes to describe personal exposureconcentrations of particulate matter (PM2,5) and percentage subjective acuterespiratory effects on production patrol workers at PT X cement industry 2016.This research is a quantitative descriptive study by measuring the concentration ofPM2,5 using personal sampling equipment such as Leland Legacy Pump andSioutas Cascade Impactor during work hours on patrol reklamer, raw mill, firing,finish mill, and pack house work area. The result shown that the average personalexposure concentration of PM2,5 on patrol workers in PT X cement industryamounted to 1495,651 μg/m3 with the highest area of exposure in the pack housework area. All of patrol workers experienced the subjective acute respiratoryeffects with the highest effect are sore throat and sneezing (64,7%).Keywords:Particulate matter 2,5 (PM2,5), subjective acute respiratory effect, productionpatrol workers at cement industry.
Read More
Particulate matter is one of the air contaminant produced by cement industry.Health effect that caused by long term or short term of PM2,5 exposure lead torespiratory diseases. This study purposes to describe personal exposureconcentrations of particulate matter (PM2,5) and percentage subjective acuterespiratory effects on production patrol workers at PT X cement industry 2016.This research is a quantitative descriptive study by measuring the concentration ofPM2,5 using personal sampling equipment such as Leland Legacy Pump andSioutas Cascade Impactor during work hours on patrol reklamer, raw mill, firing,finish mill, and pack house work area. The result shown that the average personalexposure concentration of PM2,5 on patrol workers in PT X cement industryamounted to 1495,651 μg/m3 with the highest area of exposure in the pack housework area. All of patrol workers experienced the subjective acute respiratoryeffects with the highest effect are sore throat and sneezing (64,7%).Keywords:Particulate matter 2,5 (PM2,5), subjective acute respiratory effect, productionpatrol workers at cement industry.
S-9139
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
