Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jhon Sriven; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Ausir Nasrudin
Abstrak: Industri tambang batubara merupakan sebuah industri dengan risikokeselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi. Karenanya, penulis memandangperlunya melakukan sebuah penelitian pada sektor industri tambang yangdiharapkan kemudian akan bermuara pada peningkatan upaya-upaya sistematisdalam rangka penurunan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sertapenurunan angka fatalitas pada aktivitas tambang batubaraPenelitian ini membahas penilaian dan evaluasi risiko K3 pada aktivitastambang di PT. Adaro Indonesia Site Tanjung Tabalong Kalimantan SelatanTahun 2013. Penelitian ini adalah deksriptif analitik dengan pendekatanobservasional. Penelitian ini menggunakan metode identifikasi bahaya dan risikomenggunakan JHA (Job Hazard Analysis) dan analisis penilaian risiko semikuantitatif menurut AS/NZS ISO 31000 dengan mengalikan consequences,probability dan exposure. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas tambang di PT Adaro Indonesia Site Tanjung Tabalong memiliki 182 risiko keselamatan dan kesehatan kerja.Kata kunci: risiko, batubara, aktivitas tambang.
Coal mining industry is an industry with high risks of occupational healthand safety. Hence, it is considered important to conduct a risk assessment andevaluation on occupational health and safety in a coal mining industry. Theexpected result of the assessment and evaluation is an improvement of significantefforts in decreasing occupational accident and illness rate, and also fatality rate incoal mining activities.Focus of this study was OHS risk assessment and evaluation on miningactivity in PT. Adaro Indonesia Site Tanjung Tabalong South Kalimantan in 2013.This study was analytical descriptive using observational approach. This studyused Job Hazard Analysis for hazard and risk identification, and semi-quantitativerisk assessment method by multiplication of consequences, probability, andexposure score. The result of this study showed that mining activity in PT. AdaroIndonesia Site Tanjung Tabalong has 182 OHS risks.Key words: risk, coal, mining activities.
Read More
S-8128
Depok : FKMUI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raisha Humaira; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Nur Ani
Abstrak: Operator tambang batubara merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki risiko tinggiuntuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan pada operator tambang batubara denganmenggunakan metode tinjauan literatur sistematis. Faktor yang diteliti yaitu shift kerja,durasi kerja, dan beban kerja dengan covariat faktor individu (usia, kualitas tidur,kuantitas tidur, dan irama sirkadian) dan faktor pekerjaan &lingkungan kerja (waktuistirahat, waktu kerja, dan masa kerja). Desain penelitian ini merupakan penelitianeksploratori dengan metode deskriptif melalui tinjauan literatur sistematis terhadapliteratur yang sesuai dengan kriteria penilaian. Tinjauan literatur sistematis ini dilakukandengan tahapan identifikasi, ekstraksi, sintetis, dan intrepetasi data yang diperoleh dari11 literatur terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara shiftkerja, durasi kerja, dan beban kerja terhadap kelelahan pada operator tambang batubara.
Coal Mining Operator is one of the high-risk occupations in experiencing fatigue. Thisstudy aim to determine factors associated with fatigue on coal mining operators througha systematic literature review method. Factors studied were shift work, work duration,and workload with covariate of individual factors (age, sleep quantity, sleep quality, andcircadian rhythm) and factors of work & work environment (rest periods, work hours,and work period). This research is an exploratory study with a descriptive methodthrough a systematic literature review of the literature in according to the researchcriteria. This systematic literature review is conducted through the identification,extraction, synthesis, and interpretation of data obtained from 11 selected literature. Theresukt showed that there was an influence between shift work, work duration, andworkload on fatigue in coal mining operators.
Read More
S-10291
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: I Made Djaja, Syahrul Meizar Nasri; Penguji:Mondastri Korib Sudaryo, Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Sutanto Priyo Hastono, Lana Saria, Heny D. Mayawati
Abstrak:

Kelelahan merupakan hal umum yang dikeluhkan oleh pekerja dan hampir 20% pekerja melaporkan gejala kelelahan. Khusus pada pengemudi, kelelahan berkontribusi secara signifikan terhadap kecelakaan transportasi. Selain meningkatnya kerugian akibat kecelakaan, kelelahan mengemudi juga menyebabkan kerugian finansial yang besar di sesluruh dunia. Kelelahan mengemudi juga dialami oleh pekerja tambang batubara di Indoneisa, khususnya pekerja operator. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan determinan strategis kelelahan dari faktor individu, faktor pekerjaan dan faktor eksternal pada operator tambang batubara di Kalimantan dan Sumatra tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada 2 perusahaan tambang batubara, 7 lokasi tambang, dan 480 operator. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan kuesioner. Kelelahan diukur dengan menggunakan 3 instrumen yaitu checklist individual streght-20 (CIS-20), multidimensionall fatigue inventory-20 (MFI-20), dan swedish occupational fatigue inventory (SOFI). Tipe kelelahan yang diteliti meliputi kelelahan umum, kelelahan fisik, kelelahan mental, dan kelelahan emosional. Beberapa instrumen standar juga digunakan dalampenelitian ini seperti perceived stress scale untuk mengukur stres, dutch boredom scale untuk mengukur rasa bosan, dan Pittsburg sleep quality index untuk mengukur kualitas tidur. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Operator yang menjadi responden penelitian mempunyai umur 32,13 ± SD 6,1 tahun (21 – 58 tahun), sedangkan IMT diperoleh rerata sebesar 24,86 ± SD 3,1 dengan rentang (16,51 – 33,75) serta IMT terbanyak 24,22. Terdapat 26,9% operator termasuk kategori obesitas. Mayoritas operator sudah menikah (85%) dan sebagian besar (63,5%) tinggal di luar mess dengan keluarga (55,8%) serta mayoritas (96%) berpendidikan SMA atau sederajat. Rerata masa kerja operator adalah 9,52 ± SD 4,2 tahun dengan rentang (124 tahun) serta masa kerja terbanyak adalah 10 tahun. Sebagian besar operator bekerja di area tambang (65,8%). Jumlah operator berdasarkan pola shift dan waktu shift, masingmasing 240 (50%). Prevalensi kelelahan pada operator berkisar antara 20%-31% dengan kelelahan umum 24,8%, kelelahan fisik 22,3%, kelelahan mental 32,3%, dan kelelahan emosional 30,6%. Determinan strategis kelelahan pada operator terdiri dari faktor individu yang meliputi tingkat stres, kualitas tidur, gangguan eksternal tidur, faktor pekerjaan meliputi lokasi kerja di tambang, dan faktor eksternal yaitu tinggal dengan keluarga. Sedangkan faktor pola shift kerja dan masa kerja merupakan faktor kontekstual. Faktor yang menjadi determinan pada semua tipe kelelahan adalah faktor tingkat stres dan lokasi kerja. Determinan strategis pada kelelahan umum adalah tingkat stres (OR=3,0), lokasi kerja (OR=2,5), kualitas tidur (OR=1,8), dan tinggal dengan keluarga (OR=1,6). Pada kelelahan fisik, determinan strategis adalah tingkat stres (OR=2,5), gangguan eksternal tidur (OR=2,2), dan lokasi kerja di tambang (OR=1,7). Kelelahan mental mempunyai determinan strategis yaitu kualitas tidur (OR= 2,1), lokasi kerja di tambang (OR=2,1), tingkat stres (OR=1,7) dan gangguan eksternal tidur (OR=1,6). Sedangkan kelelahan emosional mempunyai determinan strategis yaitu tingkat stres (OR=2,0), lokasi kerja (OR=1,9), dan kualitas tidur (OR=1,9). Kelelahan emosional juga mempunyai faktor pola shift yang merupakan faktor kontekstual dengan OR= 1,9 dan masa kerja dengan OR=1,6. Dapat disimpulkan bahwa determinan kelelahan pada operator tambang batubara meliputi faktor individu, faktor pekerjaan, dan faktor eksternal. Kelelahan mental merupakan tipe kelelahan yang paling banyak dirasakan oleh operator. Determinan kelelahan yang terdapat pada semua tipe kelelahan adalah tingkat stres dan lokasi kerja. Semua determinan dapat menjadi perhatian dalam pengembangan kebijakan dan program manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara. Kata kunci: kelelahan, kerja shift, kualitas tidur, operator batubara, stress


 

Fatigue is a common complaint by workers, and almost 20% of workers report symptoms of fatigue. Especially for drivers, fatigue contributes significantly to transportation accidents. In addition to the increasing loss due to accidents, driving fatigue is also causing many financial losses worldwide. Fatigued driving is also experiencing by coal mining workers in Indonesia, especially operator workers. This study aims to obtain strategic determinants of fatigue from individual factors, occupational factors, and external factors for coal mining operators in Kalimantan and Sumatra in 2021. This study uses a cross-sectional design for two coal mining companies, seven mine sites, and 480 operators. Data collection was online using a questionnaire. Fatigue was measured using three instruments, namely the individual strength-20 checklist (CIS-20), the multidimensional fatigue inventory-20 (MFI-20), and the Swedish occupational fatigue inventory (SOFI). The types of fatigue studied included general fatigue, physical exhaustion, mental fatigue, and emotional exhaustion. Several standard instruments were used in this study, such as the perceived stress scale to measure stress, the Dutch boredom scale to measure boredom, and the Pittsburgh sleep quality index to measure sleep quality. Data analysis used chi-square and multiple logistic regression. Operators who became research respondents had an age of 32.13 ± SD 6.1 years (21 – 58 years), while the BMI obtained an average of 24.86 ± SD 3.1 with a range (16.51 – 33.75) and the highest BMI 24.22. There are 26.9% of operators included in the obese category. The majority of operators are married (85%), and most (63.5%) live outside the mess with their families (55.8%), and the majority (96%) have a high school education or equivalent. The average operators' tenure is 9.52 ± SD 4.2 years with a range (1-24 years), and the most tenure is ten years. Most of the operators work in the mining area (65.8%). The number of operators based on shift patterns and shift times is 240 (50%). The prevalence of fatigue in operators ranges from 20%-31%, with general fatigue 24.8%, physical fatigue 22.3%, mental fatigue 32.3%, and emotional fatigue 30.6%. The strategic determinants of operator fatigue consist of individual factors, including stress levels, sleep quality, external sleep disturbances, work factors including work locations in the mine, and external factors, namely living with family. The work shift pattern and working period are contextual factors. Factors that determine all types of fatigue are stress levels and work locations. The strategic determinants of general fatigue were stress level (OR=3.0), work location (OR=2.5), sleep quality (OR=1.8), and living with family (OR=1.6). On physical exhaustion, strategic determinants were stress level (OR=2.5), external sleep disturbance (OR=2.2), and work location in the mine (OR=1.7). Mental fatigue has strategic determinants, namely sleep quality (OR = 2.1), work location in the mine (OR = 2.1), stress level (OR = 1.7) and external sleep disturbances (OR = 1.6). Meanwhile, emotional exhaustion has strategic determinants, namely stress level (OR=2.0), work location (OR=1.9), and sleep quality (OR=1.9). Emotional fatigue has a shift pattern as a contextual factor with OR = 1.9 and job tenure with OR = 1.6. The conclusion is the determinants of fatigue in coal mine operators include individual factors, occupational factors, and an external factor. Mental fatigue is the type of fatigue most felt by operators. The determinants of fatigue found in all fatigue types are work sites and stress levels. All determinants might be accountable for developing fatigue policy and risk management programs at coal mining companies. Keywords: coal mining operator, fatigue, shift work, sleep quality, stress

Read More
D-515
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dio Wiratama Indrafahrudi; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhammad Sunarno, Muhammad Irwansyah, Propana Okionomus Ali
Abstrak:

Kecelakaan tambang di Indonesia menunjukkan beban yang perlu dikendalikan secara sistemik, melalui efektivitas pengukuran awal Safety Maturity Level (SML). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara SML dan kinerja keselamatan pertambangan yaitu indikator kecelakaan (Frequency Rate dan Severity Rate), sekaligus menjelaskan faktor konteks yang memengaruhi kekuatan hubungan tersebut. Penelitian menggunakan desain mixed methods - explanatory sequential. Fase kuantitatif memanfaatkan data sekunder dari Kementerian ESDM (KESDM) tahun 2024 di 52 perusahaan tambang batubara tahap operasi produksi sesuai kriteria inklusi, yaitu skor SML berbasis KepDirjen Minerba nomor 10.K/MB.01/DJB.T/2023 dan data statistik kecelakaan tambang 2024. Uji normalitas data menunjukkan tidak terdistribusi normal, sehingga analisis menggunakan pendekatan nonparametrik Spearman rho (ρ) dan GLM gamma. Hasil kuantitatif mengindikasikan bahwa SML secara total (agregat) berkorelasi negatif dan signifikan dengan kinerja keselamatan (indeks kecelakaan tambang), namun kontribusi tiap dimensi SML tidak seragam. “Upaya Pengendalian” merupakan indikator yang paling konsisten bersifat protektif terhadap indeks kecelakaan, sedangkan “Partisipasi Pekerja” tidak menunjukkan hubungan yang signifikan namun korelasi negatif; sementara itu, “Tanggung Jawab Pimpinan” dan “Analisis Statistik”
menunjukkan hubungan negatif (bivariat) dan positif (multivariat), serta signifikan terhadap indeks kecelakaan tambang. Selanjutnya, temuan kualitatif dari data sekunder KESDM terhadap sub-sampling perusahaan menegaskan bahwa SML tinggi tidak selalu diikuti penurunan kecelakaan ketika terdapat kesenjangan implementasi pengendalian, terutama pada tata kelola kontraktor, kompetensi, dan konsistensi eksekusi di lapangan. Penelitian menyimpulkan bahwa SML berdampak pada penurunan kecelakaan terutama jika diwujudkan dalam pengendalian risiko yang nyata dan pembelajaran berbasis data yang ditutup dengan tindakan (closed-loop learning), bukan sekadar pemenuhan administratif.


Mining accidents in Indonesia indicate a burden that must be controlled systemically through the effectiveness of early measurement of the Safety Maturity Level (SML). This study aims to analysis the relationship between SML and mining safety performance represented by accident indicators (Frequency Rate and Severity Rate) while also explaining contextual factors that influence the strength of this relationship. The research employs a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative phase utilizes secondary data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (KESDM) for 2024, covering 52 coal mining companies at the production  operation stage that met the inclusion criteria, namely SML scores based on the Director  General of Mineral and Coal Decree No. 10.K/MB.01/DJB.T/2023 and 2024 mine accident statistics. Data normality tests showed non-normal distributions; therefore, analysis was conducted using nonparametric Spearman’s rho (ρ) and a gamma Generalized Linear Model (GLM). Quantitative results indicate that overall (aggregate) SML is negatively and significantly correlated with safety performance (the mining accident index), but the contribution of each SML dimension is not uniform. “Control Measures” emerged as the most consistently protective indicator against the accident index, whereas “Worker Participation” showed no significant relationship, although the correlation direction was negative. Meanwhile, “Leadership Responsibility” and “Statistical Analysis” demonstrated negative (bivariate) and positive (multivariate) relationships, and both were significant with respect to the mining accident index. Furthermore, qualitative findings derived from secondary KESDM data on a subsample of companies confirm that a high SML does not always translate into reduced accidents when gaps in the implementation of controls persist—particularly in contractor governance, competency, and consistency of execution in the field. This study concludes that SML contributes to accident reduction primarily when it is translated into tangible risk controls and data-driven learning that is closed with corrective action (closed-loop learning), rather than merely fulfilling administrative requirements.

Read More
T-7491
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adenan; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Fatma Lestari, Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Budi Hartono, L. Meily Kurniawidjaja, Herlina J. EL- Matury, Kusnendi Soehardjo, Suparni
Abstrak:

Keselamatan kerja pada jalur hauling di industri pertambangan batubara merupakan aspek penting yang memerlukan perhatian serius, mengingat tingginya risiko kecelakaan kerja pada aktivitas pengangkutan material. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja dan menyusun model pencegahan berbasis Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) serta metode investigasi Australian Transport Safety Bureau (ATSB). Pendekatan campuran digunakan dalam penelitian ini, dengan data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 420 operator dump truck di tiga perusahaan tambang terbuka di Kalimantan, serta data kualitatif dari wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi langsung di lapangan. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh enam variabel independen faktor eksternal, pengaruh organisasi, kepemimpinan tidak berkeselamatan, pengendalian risiko, kondisi lingkungan, dan tindakan individu terhadap kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki pengaruh signifikan, dengan kepemimpinan tidak berkeselamatan dan kondisi lingkungan sebagai faktor dominan penyebab kecelakaan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan pengawasan, perbaikan perilaku kerja operator, serta peningkatan kualitas jalur hauling. Model pencegahan yang diusulkan menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan, pengendalian risiko, dan perawatan infrastruktur hauling secara berkelanjutan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja di sektor pertambangan.


 

Occupational safety in hauling roads within the coal mining industry is a critical aspect that requires serious attention, considering the high risk of work accidents during material transportation activities. This study aims to analyze the factors influencing occupational accidents and to develop a preventive model based on the Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) and the Australian Transport Safety Bureau (ATSB) investigation method. A mixed-method approach was used, with quantitative data collected through a survey of 420 dump truck operators across three open-pit mining companies in Kalimantan, and qualitative data gathered from in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and direct field observations. Multiple linear regression analysis was employed to assess the influence of six independent variables external factors, organizational influence, unsafe leadership, risk control, environmental conditions, and individual actions on work accidents. The results indicated that all variables had a significant effect, with unsafe leadership and environmental conditions emerging as the dominant contributing factors. These findings highlight the need to strengthen supervision, improve operator behavior, and enhance the quality of hauling road infrastructure. The proposed accident prevention model emphasizes the reinforcement of leadership roles, risk control management, and continuous improvement of hauling infrastructure to reduce the incidence of occupational accidents in the mining sector.

Read More
D-589
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Singgare Krisandita; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ade Kurdiman, Agni Syah Sutoyo Putro
Abstrak:
Insiden dan fatalitas kerja di industri pertambangan masih terjadi meskipun sistem keselamatan formal telah diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian risiko juga dipengaruhi oleh keputusan pimpinan operasional dalam menghadapi situasi kerja yang dinamis. Namun, proses pengambilan keputusan tersebut masih belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses pengambilan keputusan pimpinan dalam pengendalian risiko kritis keselamatan kerja di industri pertambangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple case study. Penelitian dilakukan pada salah satu perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur dengan melibatkan pimpinan operasional sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi proses pengambilan keputusan dalam pengendalian risiko kritis. Penelitian mengidentifikasi bahwa pengambilan keputusan pimpinan dalam pengendalian risiko kritis berlangsung melalui empat pola utama, yaitu cognitive pathway of decision making, systemic risk framing, experience-based adaptive decision style, dan systemic weakness pattern. Keputusan dibentuk melalui proses identifikasi risiko, interpretasi situasi, proyeksi konsekuensi, serta pemanfaatan pengalaman dalam menentukan tindakan. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor individu (pengalaman, persepsi risiko, simulasi mental, dan kondisi emosional), faktor organisasi (tekanan produksi, pengawasan, keterbatasan sistem, budaya keselamatan, dan sumber daya), serta faktor lingkungan operasional (kondisi lingkungan kerja, peralatan, dan keterbatasan area kerja). Temuan juga menunjukkan bahwa insiden lebih merupakan akumulasi kelemahan sistem daripada akibat kesalahan individu.

Incidents and fatalities of work in the mining industry still occur even though formal safety systems have been implemented. This shows that the effectiveness of risk control is also influenced by the decisions of operational leaders in dealing with dynamic work situations. However, the decision-making process is still not widely understood. This research aims to explore the decision-making process of leaders in controlling critical occupational safety risks in the mining industry. This study uses a qualitative approach with a multiple case study design. The research was conducted on one of the coal mining companies in East Kalimantan by involving operational leaders as informants. Data was collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, then analyzed thematically to identify decision-making processes in controlling critical risks. The research identified that leadership decision-making in critical risk control takes place through four main patterns, namely cognitive pathway of decision making, systemic risk framing, experience-based adaptive decision style, and systemic weakness pattern. Decisions are formed through the process of identifying risks, interpreting situations, projecting consequences, and utilizing experience in determining actions. Decision-making is influenced by individual factors (experience, risk perception, mental simulation, and emotional state), organizational factors (production pressure, supervision, system limitations, safety culture, and resources), and operational environmental factors (work environment conditions, equipment, and work area limitations). The findings also suggest that incidents are more an accumulation of system weaknesses than the result of individual error.
Read More
T-7590
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laksita Ri Hastiti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Didik Triwibowo
Abstrak: Latar Belakang: Pajanan PM2,5 berperan terhadap berbagai efek kesehatan padamanusia termasuk gangguan fungsi paru dan mempengaruhi kadar profil lipiddarah yang secara tidak langsung berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskuler.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pajanan PM2,5 dengan gangguan fungsiparu dan kadar profil lipid darah pada karyawan PT X, Kalimantan Selatan, Tahun2012.
Metode: Studi cross-sectional dilaksanakan di dua area kerja PT X (perusahaantambang batubara) yaitu area pelabuhan dan non-pelabuhan. 154 karyawan terpilih secara acak sebagai sampel dalam penelitian ini. Peneliti mengukurpajanan PM2,5 secara indoor pada kedua area dan menyebarkan kuesioner.Dilakukan review terhadap data medical check-up karyawan pada tahun terakhir.Analisis secara multivariat dengan metode regresi logistik berganda.
Hasil: Hasil studi menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru adalah umur (p-value= 0,007, 95% CI) dan masa kerja (p-value=<0,001, 95% CI). Faktor risiko yang berhubungan dengan kadar kolesterol totaladalah masa kerja (p-value= <0,037, 95% CI), untuk trigliserida adalah umur (pvalue= <0,001, 95% CI) dan IMT (OR= 3,375; 95% CI:1,672-6,813). Tidak adavariabel yang berhubungan secara statistik dengan kadar HDL dan LDL. Hasilanalisis multivariat menunjukkan pajanan PM2,5 yang paling mempengaruhigangguan fungsi paru (OR=1,9) serta kadar profil lipid darah yaitu kolesterol total(OR=1,6) dan trigliserida (OR=2,6) setelah dikontrol oleh variabel lain yangmempengaruhi gangguan fungsi paru dan kadar profil lipid darah.
Kesimpulan: Pajanan PM2,5 berhubungan dengan gangguan fungsi paru dankadar profil lipid darah pada karyawan, yaitu kadar kolesterol total dantrigliserida.
Kata kunci: PM2,5, tambang batubara, gangguan fungsi paru, profil lipid darah,cross-sectional.
Read More
S-7655
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng P. Pramayu; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Besral, Dadan Erwandi; Penguji: Bambang Wispriyono, Hendra, Danang Insita Putra, Gama Widyaputra, Suparni
Abstrak:
Posisi geografis Indonesia pada jalur Cincin Api Pasifik menimbulkan risiko bencana alam tinggi bagi sektor pertambangan batubara yang beroperasi di wilayah rawan. Sektor pertambangan batubara belum memiliki instrumen penilaian komprehensif untuk mengevaluasi Emergency Management Capability (EMC) yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen EMC guna mengukur kesiapsiagaan organisasi terhadap potensi kondisi darurat seperti ledakan, longsor, dan banjir. Melalui desain mixed methods dengan pendekatan explanatory sequential, pengembangan instrumen ini merujuk pada Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral No. 185 (2019) dan No. 10 (2023), serta International Organization for Standardization (ISO) 22320:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EMC terdiri dari lima variabel, yaitu identifikasi dan penilaian potensi keadaan darurat, pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan keadaan darurat. Instrumen terbukti valid dan reliabel. Pembobotan berbasis Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan kesiapsiagaan keadaan darurat sebagai dimensi dominan (35%). Penelitian ini juga menghasilkan klasifikasi tingkat kapabilitas EMC ke dalam lima level, yaitu dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan adaptif atau resilient. Selain itu, hasil pengukuran EMC dapat diintegrasikan ke dalam audit SMKP Minerba. Instrumen AJENG diharapkan dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk memetakan kesiapan organisasi, memperkuat mitigasi, dan meningkatkan pengelolaan kedaruratan pada pertambangan batubara.

Indonesia’s location along the Pacific Ring of Fire exposes coal mining operations to significant disaster risks. However, the sector lacks a comprehensive instrument for assessing Emergency Management Capability (EMC) that is integrated with the Mining Safety Management System (SMKP). This study aimed to develop an EMC assessment instrument to measure organizational preparedness for potential emergencies, including explosions, landslides, and flooding. A mixed-methods study using an explanatory sequential design was conducted. Instrument development was guided by the Decree of the Director General of Mineral and Coal No. 185 of 2019, No. 10 of 2023, and ISO 22320:2018. The results identified five EMC dimensions: emergency identification and risk assessment, prevention, preparedness, response, and recovery. The AJENG instrument demonstrated satisfactory validity and reliability. Confirmatory Factor Analysis (CFA) indicated that preparedness was the most influential dimension, accounting for 35% of the overall construct. The study also established five EMC capability levels: Basic, Reactive, Planned, Proactive, and Adaptive (Resilient). Furthermore, EMC assessment results can be integrated into the SMKP audit framework. The AJENG instrument is expected to support organizational preparedness assessment, strengthen risk mitigation, and enhance emergency management performance in the coal mining sector.
Read More
D-628
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Silmi Alya Mahmud; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Muhammad Rohman Al Hasan
Abstrak:
PT X telah menerapkan teknologi Mobile Digital Video Recorder (MDVR) untuk memantau aktivitas pada kabin pengemudi secara real-time. Namun, penerapan MDVR di PT X masih belum optimal karena masih ditemukan banyak kendala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi sejauh mana faktor manusia, sistem, teknologi, maupun lingkungan menjadi penghambat penerapan teknologi sistem MDVR menggunakan metode Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) sehingga dapat merekomendasikan langkah evaluasi yang berkaitan sistem MDVR. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif evaluatif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara terstruktur kepada pihak manajemen, pengawas, dan operator kendaraan. Data sekunder didukung oleh rekapitulasi 134 data kecelakaan tahun 2025, analisis log alarm MDVR triwulan 4 tahun 2025, serta peninjauan dokumen draf regulasi internal perusahaan. Analisis dengan metode HFACS menunjukkan bahwa faktor laten pada tingkat Prakondisi Tindakan Tidak Aman (Preconditions for Unsafe Acts) menjadi kontributor penyebab insiden paling dominan (48%). Sistem MDVR sebagai barrier pencegahan kecelakaan belum berfungsi secara optimal akibat kendala teknis akurasi sensor (false alarm) yang tinggi serta lemahnya interaksi faktor manusia terhadap adanya perubahan teknologi yang diterapkan sehingga PT X disarankan untuk melakukan kalibrasi ulang threshold alarm, mengintegrasikan teknologi wearable sebagai validasi objektif kesiapan kerja, meningkatkan pemeliharaan fisik kabin kendaraan, serta menyusun Tata Cara Kerja MDVR yang terstandardisasi dan melibatkan pendekatan partisipatif dari seluruh mitra kerja.

PT X has implemented Mobile Digital Video Recorder (MDVR) technology to monitor activities in the driver’s cabin in real time. However, the implementation of MDVR at PT X remains suboptimal due to several challenges. This study aims to analyze the effectiveness of using MDVR as a system designed to prevent accidents involving heavy equipment at a coal mining company in South Sumatra during the implementation of the MDVR system using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) method, so that recommendations can be made for evaluating the MDVR system. This study employs a case study design with a descriptive-evaluative qualitative approach. Primary data collection was conducted through structured interviews with management, supervisors, and vehicle operators. Secondary data was supported by a compilation of 134 accident records from 2025, an analysis of MDVR alarm logs from the fourth quarter of 2025, and a review of draft internal company regulations. Analysis indicates that latent factors at the “Preconditions for Unsafe Acts” level were the most dominant contributors to the incidents (48%). The MDVR system, as an accident prevention barrier, has not functioned optimally due to technical constraints such as high sensor accuracy issues (false alarms) and weak human adaptation to implemented technological changes; therefore, PT X is advised to recalibrate alarm thresholds, integrate wearable technology as an objective validation of work readiness, improve physical maintenance of vehicle cabins, and develop standardized MDVR operating procedures that incorporate a participatory approach involving all stakeholders.
Read More
S-12280
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Osaegi Restu Amrulloh; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Supandi, Rozzaq Alhanif Islamudin
Abstrak:
Partisipasi pekerja merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Tingkat partisipasi pekerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah safety leadership yang diterapkan oleh pimpinan unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya safety leadership terhadap partisipasi pekerja dalam implementasi keselamatan pertambangan di PT XYZ. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential mixed methods. Tahap kuantitatif dilakukan dengan rancangan cross-sectional terhadap 699 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear berganda. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, focus group discussion, dan telaah dokumen untuk menjelaskan dan memperdalam hasil kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi safety leadership memiliki hubungan positif dan signifikan dengan partisipasi pekerja, dengan hubungan terkuat pada task-centred leadership (r=0,673; p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa democratic leadership dan task-centred leadership merupakan dua dimensi yang paling berpengaruh terhadap partisipasi pekerja (masing-masing β=0,318 dan β=0,292; p<0,001), diikuti relationship-centred leadership (β=0,187; p=0,004), sedangkan authoritarian leadership tidak berpengaruh signifikan (p=0,168). Model penelitian mampu menjelaskan 48,7% variasi partisipasi pekerja (Adjusted R²=0,487). Hasil pendalaman kualitatif menunjukkan bahwa kejelasan arahan kerja, konsistensi pengawasan keselamatan, komunikasi dua arah, keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan, dan tindak lanjut terhadap masukan pekerja merupakan faktor yang mendukung peningkatan partisipasi pekerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa safety leadership berperan penting dalam meningkatkan partisipasi pekerja dalam implementasi keselamatan pertambangan, dengan democratic dan task-centred leadership sebagai dua dimensi yang paling dominan memengaruhi partisipasi pekerja.

Worker participation is a critical factor in the successful implementation of the Mining Safety Management System. The level of worker participation is influenced by various factors, one of which is the safety leadership practiced by supervisors and managers. This study aimed to analyze the influence of safety leadership styles on worker participation in the implementation of mining safety at PT XYZ. An explanatory sequential mixed-methods design was employed. The quantitative phase used a cross-sectional approach involving 699 respondents selected through proportionate stratified random sampling. Data were analyzed using Spearman correlation and multiple linear regression. The qualitative phase was conducted through in-depth interviews, observations, focus group discussions, and document review to explain and enrich the quantitative findings. The results showed that all dimensions of safety leadership were positively and significantly associated with worker participation, with the strongest relationship observed in task-centred leadership (r = 0.673; p < 0.001). Multivariate analysis revealed that democratic leadership and task-centred leadership were the two most influential dimensions affecting worker participation (β = 0.318 and β = 0.292, respectively; p < 0.001), followed by relationship-centred leadership (β = 0.187; p = 0.004), while authoritarian leadership was not significantly associated with worker participation (p = 0.168). The regression model explained 48.7% of the variance in worker participation (Adjusted R² = 0.487). Qualitative findings indicated that clear work instructions, consistent safety supervision, two-way communication, worker involvement in decision-making, and follow-up on worker feedback were key factors supporting increased worker participation. This study concludes that safety leadership plays an important role in enhancing worker participation in mining safety implementation, with democratic and task-centred leadership being the two most dominant dimensions influencing worker participation.
Read More
T-7666
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive