Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putri Hapsari Abriana; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Syaifuddin Zuhri
S-7599
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Sri Lestari Handayani; Pembimbing: Indang Trihandini, Penguji: Artha Prabawa, Kemal N. Siregar, Alexander K. Ginting, Erni Priyatni
T-3522
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marsaulina Olivia P.; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ratu Ayu, Vetty Yulianty, Jan Andries Tangkilisan, Ermilda Sriwastuti
Abstrak: SBAR merupakan sebuah teknik komunikasi untuk meningkatkan komunikasi dankolaborasi tim dalam upaya keselamatan pasienPenelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif cross sectional comparativeHasil penelitian memperlihatkan terdapat perbedaan yang signfikan pada aspekpengetahuan mengenai unsur komunikasi efektif, pentingnya pengetahuan dasartentang lawan bicara, pertanyaan yang bersifat terbuka, pentingnya menjadipendengar yang baik, pentingnya kolaborasi antar tenaga kesehatan untukmenciptakan kerjasama tim yang baik dalam upaya keselamatan pasien danpeningkatan yang signifikan dalam hal tindakan menggunakan metodeKomunikasi SBAR pada perawat yang telah mengikuti pelatihan.Perlu evaluasi lebih lanjut mengenai cara penyelenggaran pelatihandanpemantauan pelaksanaannya di Rumah Sakit, agar dapat berguna untuk pelayanankepada pasien yang berkualitas dalam upaya Keselamatan PasienKata Kunci: Komunikasi, Kolaborasi, Keselamatan Pasien, Pelatihan, SBAR
SBAR is a communication technique to improve team communication andcollaboration in patient safety. This study was conducted using quantitative cross-sectional comparative .The results showed there were significant differences in theaspects of knowledge about the elements of effective communication, theimportance of basic knowledge about the other person, the open question, theimportance of being a good listener, the importance of collaboration among healthprofessionals to create good teamwork in patient safety and improvementsignificant in terms of the action using the SBAR communication method to thenurse who had been trained. Needs further evaluation on delivering the trainingand monitoring its implementation in hospitals in order to be useful for a qualityservice to patients in an effort to Patient Safety.Keywords: Communication, Collaboration, Patient Safety, Training, SBAR
Read More
B-1651
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ucu Saefurohman; Pembimbing: Kusdinar Achmad ; Penguji: Wachyu Sulistiadi; Puput Oktamianti, Exsenveny Lalopua, Imelda Wijaya
Abstrak: Proses komunikasi, kolaborasi dan koordinasi yang baik berdampak besarterhadap efektivitas organisasi dan merupakan elemen penting dalam pencapaianpelayanan kesehatan yang bermutu. Tujuan penelitian ini untuk menelaah polakomunikasi, kolaborasi dan koordinasi di Puskesmas Ibrahim Adjie KotaBandung yang menerapkan standar mutu ISO 9001:2008 dan sebagai puskesmasberprestasi tahun 2016 di Jawa Barat. Metode penelitian menggunakanpendekatan kualitatif bersifat konfirmatori. Keabsahan data dijaga dengan tekniktriangulasi sumber dan metode melalui wawancara mendalam pada empat orangnarasumber, diskusi group terarah oleh enam orang staf, observasi dan telaahdokumen. Hasil penelitian menunjukan terdapat pola komunikasi semua level dansaluran. Pola kolaborasi spektrum luas bersifat spesialisasi, diformalisir. Polakoordinasi bersifat penguatan dan perluasan. Tantangan yaitu pemilihan prioritaspenyampaian informasi, adanya peran ganda, kesalahpahaman, kesulitanmenselaraskan waktu kegiatan dengan instansi lain, pengulangan proseskoordinasi ketika ada pergantian pejabat seperti camat atau lurah, adanyaketerlambatan persetujuan laporan program kegiatan dari pihak kecamatan dankelurahan. Saran yaitu agar terus menjaga pola yang telah ada danmeningkatkannya, perlu adanya advokasi untuk penguatan sumber daya manusia,perlu ada nota kesepahaman dengan instansi lain, perlu mentransfer pola prosesyang telah kepada personil puskesmas secara berkesinambungan. Instansi luaryang sejenis perlu meniru dan menerapkan pola proses yang ada dari PuskesmasIbrahim Adjie.Kata kunci : pola komunikasi; pola kolaborasi; pola koordinasi; puskesmas.
The process of communication, collaboration and coordination have a majorimpact on the effectiveness of the organization and an important element in theachievement of quality health services. The purpose of this study to analyzepatterns of communication, collaboration and coordination in Puskesmas IbrahimAdjie - Bandung, which has implemented a quality standard ISO 9001: 2008 andas the best health center in 2016 in West Java. The research method uses aqualitative approach is confirmatory. To maintain the validity of the data wasperformed using triangulation sources and methods of data collection is done byin-depth interviews to four people who are important in the process, focus groupdiscussions by six staff, observation and study of the document. The resultsshowed there is a pattern of all levels and channels of communication. Thepattern of broad-spectrum collaboration is secondary. Coordination patterns arestrengthening and expansion. Barriers that often happens, the choice of prioritydelivery of information, the dual role, misunderstanding, trouble harmonize timeactivities with other agencies, the repetition of the process of coordination whenthere is change of officials such as district or village heads, the delay in theapproval of program activity reports from the district and village. Suggestions areto continue to maintain the existing pattern and increase, the need for advocacyfor the strengthening of human resources, the need for a MoU, it is necessary totransfer the pattern of the process that has been ongoing basis to the health centerpersonnel. Outside agencies similar to apply the pattern of the existing processes.Keywords: communication patterns; collaboration patterns; coordinationpatterns; puskesmas.
Read More
T-4597
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanindhiya Khalisa Nasywa; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Mufti Wirawan, Muthia Ashifa
Abstrak:
Pada era transformasi digital di dunia kerja, teknologi turut berkembang dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif serta mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Penerapan teknologi K3, seperti perangkat wearable, virtual reality (VR), dan sistem pelaporan digital, telah banyak digunakan dalam pelatihan dan manajemen keselamatan di tempat kerja. Pemanfaatan teknologi ini memerlukan pemahaman dan penerimaan dari pekerja, yang dapat berbeda antar generasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dan menganalisis faktor yang memengaruhi perbedaan persepsi terhadap K3 serta adaptasi teknologi K3 di tempat kerja antara Generasi Z, Y, dan Senior (Generasi X dan Baby Boomers). Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) melalui penyebaran kuesioner dan wawancara lanjutan terhadap sebagian responden. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam kolaborasi antar generasi, namun tidak terdapat perbedaan signifikan pada persepsi K3, sikap, maupun adaptasi terhadap teknologi K3. Hasil wawancara menunjukkan bahwa Generasi Z cenderung lebih cepat beradaptasi terhadap teknologi K3. Oleh karena itu, penting bagi pekerja untuk mengikuti pelatihan, serta bagi tempat kerja untuk mendukung adaptasi teknologi K3 melalui strategi komunikasi dan pelatihan yang sesuai dengan karakteristik setiap generasi.


In the era of digital transformation in the workplace, technology has evolved in the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) to create a safe and productive work environment while preventing occupational accidents and diseases. The application of OHS technologies, such as wearable devices, virtual reality (VR), and digital reporting systems that has been widely adopted in safety training and management programs. The effective use of such technologies requires understanding and acceptance from workers, which may vary across generations. This study aims to compare and analyze the factors influencing differences in OHS perceptions and the adaptation of OHS technology in the workplace among Generation Z, Generation Y, and Seniors (Generation X and Baby Boomers). A mixed methods approach was employed, beginning with a questionnaire distributed across generational groups, followed by in-depth interviews with selected respondents. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test, which revealed significant differences in intergenerational collaboration. However, no significant differences were found in OHS perceptions, attitudes, or technology adaptation across generations. Interview results indicated that Generation Z tends to adapt more quickly to OHS technologies compared to other generations. Therefore, it is important for workers to participate in training, and for workplaces to support the adaptation of OHS technology through communication and training strategies tailored to the characteristics of each generation.
Read More
S-12124
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Permanasari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Eka Musridharta, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kolaborasi antar profesi kesehatan di Instalasi Rawat Intensif RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah sampel 110 orang dari berbagai profesi yang bertugas di Instalasi Rawat Intensif RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta selama bulan November 2023. Kuesioner AITCS II digunakan untuk menilai tingkat kolaborasi dan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menilai faktor-faktor yang dianggap berhubungan dengan kolaborasi seperti Budaya Organisasi, Komunikasi, Penghargaan dan Kepercayaan, Peran dan Tanggung Jawab, Ketersediaan Waktu dan Sumber daya, Dukungan Manajemen dan Kepemimpinan. Hasilnya menunjukkan tingkat kolaborasi baik dengan rata-rata skor AITCS II sebesar 4,14. Kesimpulan : Budaya organisasi, komunikasi, dan pemahaman terhadap peran dan tanggung jawab mempengaruhi secara signifikan terhadap kolaborasi antar profesi. Temuan ini menjadi masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan dengan mengoptimalkan peran dan tanggung jawab tenaga kesehatan di rumah sakit. Budaya kolaboratif dan komunikasi efektif juga menjadi kunci dalam meningkatkan hasil perawatan pasien.

This research aims to identify factors that influence collaboration between health professionals at the RSPON Prof. Intensive Care Installation. Dr. Dr. Mahar Mardjono Jakarta. This research uses a cross sectional design with a quantitative approach. The total sample is 110 people from various professions who work at the RSPON Prof. Intensive Care Installation. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta for November 2023. The AITCS II questionnaire was used to assess the level of collaboration and Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) to assess factors considered to be related to collaboration such as Organizational Culture, Communication, Respect and Trust, Roles and Responsibilities, Availability of Time and Resources power, Management and Leadership Support. The results show a good level of collaboration with an average AITCS II score of 4.14. Organizational culture, communication, and understanding of roles and responsibilities significantly influence collaboration between professions. These findings provide input for hospitals to improve the effectiveness of health services by optimizing the roles and responsibilities of health workers in hospitals. A collaborative culture and effective communication are also key to improving patient care outcomes.
Read More
B-2435
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Auri Putri Ayuningtyas; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli, Anhari Achadi
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penanggulangan tuberkulosis (TB) di Kota Depok berdasarkan Peraturan Wali Kota Depok No. 61 Tahun 2023 dengan pendekatan collaborative governance. Penelitian ini menggunakan kerangka analisis yang mencakup lima variabel utama: dinamika kolaborasi, tindakan kolaboratif, kapasitas kolaboratif, dampak kolaboratif, dan keberhasilan implementasi kebijakan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dinas terkait, analisis dokumen kebijakan, dan data sekunder dari laporan program TB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika kolaborasi belum optimal karena pertemuan lintas sektor baru diadakan satu kali dan belum melibatkan sektor bisnis serta media. Tindakan kolaboratif telah terwujud melalui inisiatif seperti Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU) dan integrasi program Kids for TB, meskipun koordinasi formal masih perlu diperkuat. Kapasitas kolaboratif mengalami kendala akibat belum jelasnya indikator kinerja antar-OPD, sementara dampak kolaboratif terlihat dari peningkatan anggaran dan inovasi program meskipun masih terdapat tantangan dalam integrasi data. Keberhasilan implementasi kebijakan ditunjukkan oleh peningkatan angka penemuan kasus dan cakupan layanan, meskipun tingkat keberhasilan pengobatan menunjukkan fluktuasi.
Penelitian ini memberikan pelajaran penting terkait pentingnya kepemimpinan yang inklusif, peningkatan partisipasi seluruh unsur pentahelix, dan pengembangan sistem integrasi data lintas sektor. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan kebijakan penanggulangan TB di Kota Depok dan daerah lainnya untuk mencapai eliminasi TB di Indonesia pada tahun 2030.


This study aims to analyze the implementation of tuberculosis (TB) control policies in Depok City, based on Mayor Regulation No. 61 of 2023, using a collaborative governance approach. The analysis framework encompasses five main variables: collaborative dynamics, collaborative actions, collaborative capacity, collaborative impact, and policy implementation success. Data were collected through in-depth interviews with relevant agencies, policy document reviews, and secondary data from TB program reports. The results indicate that collaborative dynamics are suboptimal, with cross-sector meetings held only once and lacking involvement from business and media sectors. Collaborative actions are evident through initiatives such as Kampung Peduli Tuberculosis (KAPITU) and the integration of the Kids for TB program, although formal coordination mechanisms require strengthening. Collaborative capacity is hindered by the absence of clear performance indicators across government agencies, while collaborative impact is reflected in increased budget allocations and program innovations, albeit challenged by fragmented data integration. Policy implementation success is demonstrated by improved case detection and service coverage, though treatment success rates show fluctuations. This study highlights key lessons on the importance of inclusive leadership, enhanced participation from all pentahelix elements, and the development of cross-sector data integration systems. The findings are expected to serve as a basis for improving TB control policies in Depok City and other regions, contributing to Indonesia's goal of TB elimination by 2030.

Read More
T-7185
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muh Agung S; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Wahyu Septiono, Saepul Anwar, Vivi Voronika
Abstrak:
Rendahnya cakupan imunisasi polio di Indonesia menimbulkan kembalinya penyakit polio dengan 12 kasus terkonfirmasi. Munculmya kasus tersebut ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), terdapat 32 provinsi dan 399 kabupaten/kota berisiko tinggi terhadap polio. Salah satu hambatan utama adalah keraguan masyarakat terhadap status kehalalan vaksin, khususnya di wilayah dengan tingkat pengaruh islam yang kuat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hambatan dan tantangan promosi vaksinasi polio serta bentuk kerjasama multisektoral dalam mengatasi keraguan terhadap vaksin halal. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan desain fenomenologi, melalui wawancara mendalam terhadap tiga belas informan yang berasal dari kementerian dan lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, perusahaan vaksin, peneliti, dan pegiat media sosial. Data dianalisis menggunakan analisis isi dengan pendekatan Social Ecological Model (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat individu, muncul sikap penolakan vaksin, hoaks, dan keraguan terhadap ketidakpastian status halal. Pada level interpersonal budaya patriarki dan ritual keagamaan bepengaruh terhadap penerimaan vaksinasi, sedangkan tokoh agama memiliki peran strategis dalam meningkatkan kepercayaan. Pada level komunitas, interaksi antar organisasi dan Lembaga sudah menunjukkan tren yang baik meskipun masih ditemukan tantangan. Pada level institusi dan sistem, tantangan mencakup kurangnya transparansi proses sertifikasi halal, diseminasi informasi yang belum merata, serta koordinasi antarinstansi yang belum optimal. Penelitian ini menyarankan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan dalam strategi promosi vaksinasi, penguatan komunikasi berbasis budaya dan agama, serta transparansi sertifikasi halal yang mudah dipahami masyarakat. Diharapkan hasil ini dapat menjadi rekomendasi bagi perumusan kebijakan promosi vaksin dan pengembangan vaksin halal yang lebih efektif dan inklusif.

The low coverage of polio immunisation in Indonesia has led to the re-emergence of polio, with twelve confirmed cases. These cases have been classified as an outbreak, with 32 provinces and 399 districts/cities identified as high-risk areas. A key barrier is public hesitancy regarding the halal status of vaccines, particularly in regions with high levels of religiosity. This study aims to explore the barriers and challenges in promoting polio vaccination and to examine forms of multisectoral collaboration in addressing halal-related concerns. A qualitative phenomenological design was employed, involving in-depth interviews with thirteen informants from ministries and governmental agencies, religious organisations, vaccine companies, researchers, and social media advocates. Data were analysed using content analysis, framed by the Social Ecological Model (SEM). The findings reveal that at the individual level, vaccine rejection, misinformation, and uncertainty about halal certification were prevalent. At the interpersonal level, patriarchal cultural norms and religious rituals influenced vaccine acceptance, while religious leaders played a strategic role in building public trust. At the community level, inter-organisational interactions have shown promising developments, despite persistent challenges. At the institutional and systemic levels, obstacles included lack of transparency in the halal certification process, uneven information dissemination, and suboptimal inter-agency coordination. The study underscores the importance of stakeholder synergy in vaccination promotion strategies, the reinforcement of culturally and religiously tailored communication, and the provision of clear and accessible information regarding halal certification. These findings offer critical recommendations for formulating more effective and inclusive vaccine promotion policies and developing halal-certified vaccines.

Read More
T-7344
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lintang Tanjung Sibarani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Rita Damayanti, Priyanti, Ayunita Khairunisa Mahdi
Abstrak:
Remaja di Provinsi Jawa Barat menghadapi risiko kesehatan reproduksi yang tinggi (misalnya tingginya angka kehamilan remaja), sehingga promosi kesehatan reproduksi menjadi prioritas penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika kemitraan organisasi non-pemerintah (NGO) dalam promosi kesehatan reproduksi remaja di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui wawancara mendalam dengan informan terpilih, termasuk staf program NGO, mitra sektor pemerintah dan komunitas lokal, serta remaja penerima manfaat program. Hasil analisis tematik mengidentifikasi tiga aspek utama kemitraan yang mendukung efektivitas program: komitmen kelembagaan antar mitra, kepercayaan dan prinsip mutualitas, serta pemanfaatan hasil kolaborasi (misalnya modul edukasi dan layanan konseling) untuk keberlanjutan program. Peran NGO sebagai fasilitator dan penggerak program terbukti penting, namun dihadapkan pada tantangan seperti koordinasi lintas sektor yang belum optimal dan resistensi nilai-nilai konservatif terkait isu kesehatan reproduksi. Strategi penguatan kemitraan mencakup penyelarasan visi dan tujuan antara NGO dan pemerintah, pembentukan forum advokasi lintas sektor formal, peningkatan kapasitas teknis mitra lokal, serta pelibatan remaja secara bermakna sebagai agen perubahan dalam program. Kesimpulannya, kemitraan NGO dengan pemerintah dan komunitas berperan krusial dalam promosi kesehatan reproduksi remaja. Diperlukan komitmen yang kuat, kepercayaan, dan kolaborasi multi-sektor yang inklusif untuk mencapai hasil program yang berkelanjutan. Studi ini merekomendasikan dukungan kebijakan daerah yang mengintegrasikan program kesehatan reproduksi remaja dan memperkuat kelembagaan kemitraan agar dampak program lebih optimal dan berkesinambungan.

Adolescents in West Java Province face high reproductive health risks (e.g., a high rate of teenage pregnancy), making reproductive health promotion a critical priority. This study aims to analyze the dynamics of non-governmental organization (NGO) partnerships in promoting adolescent reproductive health in West Java. A qualitative design was employed, using in-depth interviews with selected informants including NGO program staff, government and local community partners, and adolescent program beneficiaries. Thematic analysis identified three key partnership factors supporting program effectiveness: strong institutional commitment among partners, trust and mutuality, and the utilization of collaborative outputs (such as educational modules and counseling services) to sustain the program. The role of NGOs as program facilitators and drivers is evident, but they face challenges such as suboptimal cross-sector coordination and conservative cultural resistance to reproductive health issues. Partnership strengthening strategies include aligning the visions and goals of NGOs and government, establishing formal cross-sector advocacy forums, enhancing the technical capacity of local partners, and meaningfully engaging youth as agents of change in the program. In conclusion, NGO partnerships with government and communities play a crucial role in the effectiveness of adolescent reproductive health promotion. Strong commitment, trust, and inclusive multi-sector collaboration are required to achieve sustainable program outcomes. This study recommends strengthening local policy support to integrate adolescent reproductive health programs and reinforce partnership institutionalization, in order to optimize program impact and sustainability.
Read More
T-7434
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive