Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dini Widya Herlinda; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Intan Widayati, Lydia Marturia
Abstrak:
Kabupaten Bogor daerah endemis filariasis, microfilaria-rate 1,92. Diadakan POPM Filariasis setahun sekali, minimal 5 tahun untuk eliminasi filariasis 2020. Tujuan penelitian mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program di 3 kecamatan. Jenis penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian, jumlah obat berlebih, kerja sama lintas sektor baik, ada dana 4 miliar. Hambatannya beredar rumor efek samping obat, dan kurangnya sosialisasi program, jumlah tenaga kesehatan, kader, obat pendamping, serta pendanaan. Sebaiknya dilakukan peningkatan cakupan minum obat dengan sosialisasi audiovisual, testimoni, role model, meredam rumor, sweeping di hari libur, dan mengadakan duta filariasis.
Kata Kunci: POPM Filariasis, faktor pendukung, faktor penghambat
Bogor District is filariasis endemic area, microfilaria-rate 1.92. MDA Filariasis is held once a year, at least 5 years for elimination of filariasis in 2020. The purpose of research to know the supporting factors and inhibiting the implementation of the program in 3 districts. Type of qualitative research with case study design. The results of the study, the number of drugs is over, good cross-sectoral cooperation, there are 4 billion funds. Constraints circulated rumors of drug side effects, and lack of socialization programs, the number of health workers, cadres, and funding. Should be increased drug coverage with audiovisual socialization, testimonials, role models, muffled rumors, sweeping on holidays, and filariasis ambassadors.
Keywords: POPM Filariasis, supporting factors, inhibiting factors.
Read More
Kata Kunci: POPM Filariasis, faktor pendukung, faktor penghambat
Bogor District is filariasis endemic area, microfilaria-rate 1.92. MDA Filariasis is held once a year, at least 5 years for elimination of filariasis in 2020. The purpose of research to know the supporting factors and inhibiting the implementation of the program in 3 districts. Type of qualitative research with case study design. The results of the study, the number of drugs is over, good cross-sectoral cooperation, there are 4 billion funds. Constraints circulated rumors of drug side effects, and lack of socialization programs, the number of health workers, cadres, and funding. Should be increased drug coverage with audiovisual socialization, testimonials, role models, muffled rumors, sweeping on holidays, and filariasis ambassadors.
Keywords: POPM Filariasis, supporting factors, inhibiting factors.
T-4845
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aditya Tetra Firdaussyah; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra. Dadan Erwandi. Lena Kurniawati, Syahrul Efendi P.
Abstrak:
ABSTRAK UMKM adalah tempat kerja yang memiliki risiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, namun seringkali dikesampingkan karena lebih berfokus pada keberlanjutan industri itu sendiri. Pengolahan kedelai beberapa proses yang memunculkan bahaya kesehatan dan keselamatan seperti permukaan panas, pengangkatan secara manual, posisi janggal, kontak dengan iritan, lingkungan kerja yang panas dan berbau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran implementasi K3 pada proses pengolahan kedelai. Aspek yang diobservasi adalah identitas UMKM, komitmen K3, kesehatan kerja, keselamatan fasilitas, alat pelindung diri, keselamatan operasional, tata graha, safety behaviour, higiene industri, ergonomi, pencegahan kebakaran, kegawat daruratan dan penanangan cemaran. Penelitian dilakukan pada 16 UMKM di Kota Depok, Kabupaten Serang, Kabupaten Bogor, Kota Jakarta Selatan dengan 24 pekerja sebagai responden. Penelitian didesain secara kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, dan wawancara terstrukur. Diperoleh bahwa tidak terdapat UMKM yang memiliki komitmen K3 secara tertulis, meskipun itikad perlindungan K3 kepada pekerja sudah terlihat. Beberapa UMKM pernah mengalami kecelakan kerja namun tidak tercatat atau dilaporkan secara formal. Dari beberapa aspek yang diamati, yang sudah diterapkan pada sebagian besar UMKM adalah keselamatan fasilitas, keselamatan operasional, pencegahan kebakaran dan penanganan limbah. Aspek yang belum diterapkan sama sekali adalah asuransi ketenagakerjaan, safety behaviour dan higiene industri. Sedang aspek K3 lainnya seperti ergonomi, tata graha, kegawatdaruratan diterapkan secara parsial. Faktor penghambat utama implementasi adalah kurangnya pengetahuan pada K3, faktor pendorong utama implementasi adalah pelatihan K3. Kedepanya, perlu untuk dilakukan pelatihan, pendampingan K3 dan evaluasi kinerja K3 di UMKM pengolahan kedelai. Kata kunci: K3 UMKM Pengolahan Kedelai, K3 UMKM, Faktor pendorong K3, Faktor Penghambat K3, UMKM Indonesia ABSTRACT There are potensial occupational health and safety risks at SMEs, however this risk are often overrided by bussiness sustainability issues. Soy beans processing involves number of activities such as soybeans stripping, washing, soaking, grinding, main process of soybeans and product packaging that creates health and safety hazards such as smoke, hot surfaces, manual handling, awkward position, irritant contact, hot temperature workplace, and smells. This study is aimed to obtain overview of OHS implementation. The study was conducted in Depok City, Serang Regency, Bogor Regency, South Jakarta City on 16 SME owners with 24 workers. The study was designed as qualitative research, data was collected through observation, and structured interviews. There are no SMEs have written OHS commitments, altough OHS protection intention been observed. Some of SME ever experienced in accidents, yet had not been formally recorded or reported. Several aspects observation shown that, facility safety, operational safety, fire prevention and waste handling has been well implemented. Several aspect such as worker insurance, safety behaviour, and industrial hygiene had not been well implemented. While other aspect such as ergonomi, houskeeping, and emergency response were implemented partially. The main obstacle factor implementing OHS in SME from this research was OHS knowledge deficient, while the main stimulant was OHS training. In the future, its required to implement training, coaching and OHS performance monitoring in soy processing SME. Key words: Soybean processing SME, OHS SME, OHS Obstacle Factor, OHS Stimulant Factor, Indonesia SME
Read More
T-5490
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arinda Puteri Wihardi; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Masyitoh, Sri Mulyati
S-9265
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pinatih Tiansa Putranti; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramdhan, Bimo Prasetyo, Akhmad Zahron
Abstrak:
Read More
Sektor konstruksi jalan dan jembatan memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi karena melibatkan pekerjaan dinamis, penggunaan alat berat, mobilitas tinggi, pekerjaan struktur, serta kondisi lingkungan kerja yang kompleks. PT DEF telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), namun penerapannya pada setiap proyek dapat berbeda karena dipengaruhi oleh karakteristik lokasi, sumber daya, budaya kerja, keterlibatan pekerja, dan dukungan pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan SMK3 berdasarkan ISO 45001:2018 serta mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat pada tiga proyek konstruksi jalan dan jembatan Divisi Infrastruktur I PT DEF. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan yang terdiri dari Project Manager, Site Engineering Manager, Site Operational Manager, QHSSE Manager, Supervisor Pekerja, dan pekerja, serta dilengkapi dengan observasi lapangan dan telaah dokumen. Analisis dilakukan berdasarkan Elemen ISO 45001:2018 dan divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMK3 pada ketiga proyek telah berjalan, tetapi tingkat penerapannya berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMK3 pada ketiga proyek secara umum telah berjalan, namun tingkat efektivitasnya masih bervariasi sesuai dengan karakteristik masing-masing proyek. Penerapan yang lebih optimal didukung oleh komitmen manajemen, keterlibatan pemangku kepentingan, pengawasan yang konsisten, dokumentasi yang tertib, serta tindak lanjut temuan yang terstruktur. Sementara itu, hambatan penerapan SMK3 terutama dipengaruhi oleh kondisi geografis dan akses logistik, keterbatasan sumber daya, serta partisipasi pekerja dan subkontraktor yang belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini merekomendasikan penguatan partisipasi pekerja, pembinaan subkontraktor, evaluasi kinerja K3 berbasis indikator, tindak lanjut temuan yang terukur, serta strategi pengendalian risiko yang adaptif sesuai tingkat kompleksitas proyek.
Road and bridge construction projects have high occupational health and safety risks due to dynamic work activities, heavy equipment operation, high mobility, structural works, and complex working environments. PT DEF has implemented an Occupational Health and Safety Management System (OHSMS); however, its implementation may vary across projects due to differences in location characteristics, resources, work culture, worker involvement, and stakeholder support. This study aims to analyze the implementation of OHSMS based on ISO 45001:2018 and to identify the supporting and inhibiting factors in three road and bridge construction projects under Division Infrastructure I of PT DEF. This research employed an analytical descriptive design with a qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews with 18 informants consisting of Project Managers, Site Engineering Managers, Site Operational Managers, QHSSE Managers, worker supervisors, and workers, supported by field observations and document reviews. The analysis was conducted based on the elements of ISO 45001:2018 and validated through source and method triangulation. The results show that OHSMS implementation in the three projects has generally been carried out, although its effectiveness varies according to the characteristics of each project. More optimal implementation is supported by management commitment, stakeholder involvement, consistent supervision, well organized documentation, and structured follow-up of findings. Meanwhile, the main barriers to OHSMS implementation include geographical and logistical access constraints, limited resources, and suboptimal participation of workers and subcontractors. This study recommends strengthening worker participation, subcontractor development, indicator-based OHS performance evaluation, measurable follow-up of findings, and adaptive risk control strategies according to each project’s complexity level.
T-7626
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahayu Sukamto; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Mieke Savitri, Wahyu Sulistiadi, Didin Aliyudin, Upi Meikawati
Abstrak:
Latar belakang: Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global dan menjadipenyebab pertama dari dua kematian akibat penyakit menular di dunia. Pasien yangmenghentikan pengobatan sebelum sembuh mengakibatkan penyakitnya bertambahparah, menularkan penyakit bahkan meninggal. Pemanfaatan pelayanan kesehatanturut berperan dalam kasus TB, karena pemanfaatan pelayanan dapat mencegahterjadinya kasus putus berobat. Sekitar 50% pasien TB tanpa pengobatan akanmeninggal. Salah satu faktor risiko kematian karena TB adalah pengobatan yangtidak adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor pendukung danpenghambat pasien TB paru dewasa putus berobat di wilayah Kota Serang tahun2016.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dankualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengansampel 13 penderita TB. Sedangkan, penelitian kualitatif menggunakan wawancaramendalam.
Hasil : Hasil penelitian menemukan faktor pendukung pasien TB Paruputus berobat untuk memulai kembali pengobatannya adalah pengetahuan, sikappengobatan, jarak ke Puskesmas, kunjungan petugas TB, pendorong pengobatankembali, kebutuhan pengobatan, dukungan keluarga dan petugas TB Puskesmas.Sedangkan faktor penghambat pasien TB putus berobat adalah efek samping OATdan upaya pencarian pengobatan lain.
Kesimpulan : Pengobatan TB merupakansalah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran kuman TB. Maka, perludilakukan kerja sama lintas program terkait untuk mengoptimalkan pengobatan TBsekaligus mengatasi masalah pasien TB putus berobat di wilayah Kota Serang.
Kata kunci: Tuberkulosis, Putus Berobat, Faktor Pendukung, FaktorPenghambat, Pengobatan Kembali.
Background : Tuberculosis (TB) is a major global health problem, the first causeof two deaths of infectious diseases in worldwide. Some patients discontinuedtreatment before cured resulting the disease became severe, transmit diseases andeven death. Utilization of health services also have a role in the cases of TB, this isdue to prevent lost to follow-up cases. As many as 50% TB patients withouttreatment will die. One of death risk factor of TB are inadequate treatment. The aimof this study is to find out the supported and inhibited factors of lost to follow-upadult TB patients at Serang City in 2016.
Method : This study used quantitativeand qualitative research methods. In quantitative research, conducted by usingcross-sectional design with 13 patients TB as sample. Meanwhile, a qualitativestudy using in-depth interviews.
Result : The study found the factors supported lostto follow-up TB patients for restarting the treatment were knowledge, attitudes oftreatment, distance to reach public health center, health officers home visit,retreatment stimulus, needs of treatment, then the support of family and healthcenter officers. While the factors inhibited lost to follow-up patient to get theretreatment were the side effects of treatment and the search for another treatment.
Conclusion : TB Treatment is one of the most efficient efforts to prevent the furtherspread of Tuberculosis. Therefore, that is necessary to cooperate with variousprograms related to optimizing the treatment of TB as well as to overcome theproblem of lost to follow-up TB patients in the city of Serang.
Keywords: Tuberculosis, Lost to Follow-Up, Supported Factors, InhibitedFactors, Retreatment.
Read More
Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dankualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengansampel 13 penderita TB. Sedangkan, penelitian kualitatif menggunakan wawancaramendalam.
Hasil : Hasil penelitian menemukan faktor pendukung pasien TB Paruputus berobat untuk memulai kembali pengobatannya adalah pengetahuan, sikappengobatan, jarak ke Puskesmas, kunjungan petugas TB, pendorong pengobatankembali, kebutuhan pengobatan, dukungan keluarga dan petugas TB Puskesmas.Sedangkan faktor penghambat pasien TB putus berobat adalah efek samping OATdan upaya pencarian pengobatan lain.
Kesimpulan : Pengobatan TB merupakansalah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran kuman TB. Maka, perludilakukan kerja sama lintas program terkait untuk mengoptimalkan pengobatan TBsekaligus mengatasi masalah pasien TB putus berobat di wilayah Kota Serang.
Kata kunci: Tuberkulosis, Putus Berobat, Faktor Pendukung, FaktorPenghambat, Pengobatan Kembali.
Background : Tuberculosis (TB) is a major global health problem, the first causeof two deaths of infectious diseases in worldwide. Some patients discontinuedtreatment before cured resulting the disease became severe, transmit diseases andeven death. Utilization of health services also have a role in the cases of TB, this isdue to prevent lost to follow-up cases. As many as 50% TB patients withouttreatment will die. One of death risk factor of TB are inadequate treatment. The aimof this study is to find out the supported and inhibited factors of lost to follow-upadult TB patients at Serang City in 2016.
Method : This study used quantitativeand qualitative research methods. In quantitative research, conducted by usingcross-sectional design with 13 patients TB as sample. Meanwhile, a qualitativestudy using in-depth interviews.
Result : The study found the factors supported lostto follow-up TB patients for restarting the treatment were knowledge, attitudes oftreatment, distance to reach public health center, health officers home visit,retreatment stimulus, needs of treatment, then the support of family and healthcenter officers. While the factors inhibited lost to follow-up patient to get theretreatment were the side effects of treatment and the search for another treatment.
Conclusion : TB Treatment is one of the most efficient efforts to prevent the furtherspread of Tuberculosis. Therefore, that is necessary to cooperate with variousprograms related to optimizing the treatment of TB as well as to overcome theproblem of lost to follow-up TB patients in the city of Serang.
Keywords: Tuberculosis, Lost to Follow-Up, Supported Factors, InhibitedFactors, Retreatment.
T-4622
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fitriandina; Pembimbing: Wiku Bhakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ronie Rivany, Juianto Laila
Abstrak:
Jumlah pelaporan IKP terutama insiden kesalahan obat menurun dari tahun ketahun, namun hasil keluhan pasien menunjukkan adanya insiden yang terindikasisebagai kesalahan yang tidak terlaporkan kepada tim KPRS. Tujuan utama daripenelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhipelaporan insiden kesalahan obat di Rumah Sakit X. Desain penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif dengan cara cross sectional yang menggunakan 190 tenagaklinis sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan instrument dari 2 kuesioneryaitu kuesioner faktor-faktor penghambat pelaporan yang dimodifikasi daribeberapa penelitian dan kuesioner budaya keselamatan pasien hasil terjemahandari publikasi AHRQ. Pernyataan-pernyataan yang valid dan reliabilitas baik yangdigunakan untuk menilai tenaga klinis. Sebagai hasil penelitian, seluruh faktorpenghambat pelaporan memiliki hubungan yang bermakna terhadap pelaporaninsiden kesalahan obat di Rumah Sakit X. Dimensi budaya keselamatan pasienyang mempengaruhi pelaporan insiden di Rumah Sakit X antara lain dukunganmanajemen, umpan balik kesalahan, dan kerjasama dalam unit. Namun, dukunganmanajemen memiliki pengaruh paling besar terhadap pelaporan insiden di RumahSakit X.Kata kunci : keselamatan pasien, kesalahan obat, pelaporan insiden, faktorpenghambat pelaporan, budaya keselamatan pasien.
Read More
B-1761
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
