Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran kebiasaan makan pagi siswa di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al Islamiyah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Serta determinan keberlanjutan kegiatan makan pagi bersama di sekolah. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas IV, V, dan VI Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al Islamiyah sejumlah 58 orang. Hasil penelitian menunjukkan proporsi siswa yang makan pagi sebanyak 70,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan makan pagi dan kebiasaan membawa bekal dengan praktek makan pagi. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, jenis kelamin, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, kebiasaan jajan, jumlah uang jajan, dukungan orang tua, dukungan guru, sanksi, dan informasi melalui media dengan praktek makan pagi.
In general, menarche occurs at the age of 12-14 years. However, the last few decades have seen a trend of decreasing the age of menarche to younger, even though earlier or later menarche can impact health. Nutritional factors, including eating habits, are important and can be modified in their influence on the age of menarche. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted to analyze the relationship between eating habits and menarche age in 420 female students from 15 selected junior high schools in DKI Jakarta Province. Data collection was carried out in May 2023 through interviews, filling out questionnaires, and measuring the weight and height of female students. The analysis found that the average age of menarche was 11 years 9 months, with the youngest menarche being 8 years 11 months and the oldest menarche being 14 years 4 months. Junior high school students in DKI Jakarta Province tend for daily consumption to exceed 100% of the RDA for carbohydrates, fat, protein, sugar, and salt. However, as many as 70.7% of respondents have a habit of eating fiber less than 100% of the RDA. Low fiber diet (<29 grams/day) was also found to be significantly related to earlier menarche age either through the bivariate test (p = 0.006) or multivariate test after controlling for eating habits of fat, protein, and salt (p = 0.047) with a value OR = 0.569 (95% CI 0.325-0.993) which means girls with low fiber eating habits have a 1.76 times chance of getting menarche earlier than girls with high fiber eating habits. A balanced nutritional intake pattern, including vegetables and fruits, is a recommendation because nutrition is an important factor for adolescent growth and development, and adolescent health in general.
Overnutrition is the condition of body with excess weight compared with age or height due to oversupplied of nutrients relative to the amounts required for normal growth, development, and metabolism. Overnutrition is a public health issue because it deals with an increased risk of morbidity and mortality. The general objective of this research is to know the relationship between eating habits (frequency of eating, milk-drinking habits, fast food eating habits, snack eating, habits of snacking while watching TV), and duration of watching TV with overnutrition in preschoolers.
Masa remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan kebiasaan makan yang akan berdampak pada kesehatan jangka panjang. Remaja diperkirakan mencakup 16% dari seluruh populasi dunia dengan kebutuhan nutrisi yang tinggi akibat pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Remaja secara konsisten ditemukan sebagai kelompok populasi dengan kebiasaan makan terburuk dibandingkan kelompok usia lainnya. Kebiasaan makan yang tidak sehat pada remaja, seperti rendahnya konsumsi buah dan sayur serta tingginya konsumsi makanan cepat saji, berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi obesitas yang mencapai 23,48% secara nasional dan 29,16% di Kota Depok. Obesitas pada masa remaja merupakan katalis berbagai penyakit tidak menular di kemudian hari dan cenderung berlanjut hingga dewasa. Lingkungan keluarga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku makan remaja melalui ketersediaan makanan di rumah, frekuensi makan bersama keluarga, dan keberfungsian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan keluarga dengan kebiasaan makan siswa SMP di SMPN 3 Depok tahun 2025. Penelitian cross-sectional ini melibatkan 219 siswa kelas VIII dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan makanan di rumah (p<0,05) dan keberfungsian keluarga (p<0,05) memiliki hubungan signifikan dengan kebiasaan makan siswa, sedangkan frekuensi makan bersama keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lingkungan keluarga, khususnya ketersediaan makanan di rumah dan keberfungsian keluarga, berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan remaja. Penemuan ini dapat menjadi dasar pengembangan intervensi berbasis keluarga dalam mengatasi masalah obesitas remaja di Indonesia.
Adolescence represents a critical period for establishing eating habits that significantly impact long-term health outcomes. Adolescents comprise approximately 16% of the global population with high nutritional requirements due to rapid growth and development. Adolescents are consistently identified as the population group with the poorest eating habits compared to other age groups. Unhealthy eating habits among adolescents, such as low consumption of fruits and vegetables and high consumption of fast food, contribute to increasing obesity prevalence reaching 23.48% nationally and 29.16% in Depok City. Adolescent obesity serves as a catalyst for various non- communicable diseases later in life and tends to persist into adulthood. Family environment plays an important role in shaping adolescent eating behaviors through food availability at home, family meal frequency, and family functioning. This study aimed to determine the relationship between family environmental factors and eating habits among junior high school students at SMPN 3 Depok in 2025. This cross-sectional study involved 219 eighth-grade students with data collection using questionnaires. The results showed that food availability at home (p<0.05) and family functioning (p<0.05) had significant relationships with student eating habits, while family meal frequency showed no significant relationship (p>0.05). This study concludes that family environmental factors, particularly food availability at home and family functioning, play important roles in shaping adolescent eating habits. These findings can serve as a foundation for developing family-based interventions to address adolescent obesity problems in Indonesia.
