Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Randy Novirsa; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Budi Hartono; Penguji: Abdur Rahman, Didik Supriyono, Inswiasri
Abstrak: Kromium (Cr) merupakan logam yang telah digunakan secara luas dalam berbagai aplikasi industri. Penggunaan kromium dalam industri penyamakan kulit dapat berisiko terhadap kesehatan pekerja yang berasal dari pajanan kromium di udara lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besar pajanan kromium pada tubuh pekerja dan hubungannya dengan kadar malondialdehyde (MDA) sebagai biomarker oksidatif stres di dalam tubuh. Penelitian dilakukan pada 25 orang pekerja dan 25 orang kontrol. Sampel darah dan urin diambil pada masing- masing sampel untuk menilai kadar MDA darah dan kadar kromium total urin. MDA diukur dengan metode reaski TBARS dan kromium pada urin diukur dengan graphic furncace atomic absorbtiion spectrometry (AAS). Rata-rata kadar Cr urin pada pekerja terdeteksi 19,65 μg/L (n=25) dan 3,8 μg/L pada kontrol (n=5). Sebanyak 25% Cr urin pekerja melebihi nilai biological exposure indices (BEI) ACGIH (25 μg/L). Kadar malondialdehyde (MDA) tidak berbeda secara signifikan antara pekerja (0,118 nmol/ml) dibandingkan kontrol (0,128 nmol/ml). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pekerja memiliki kadar kromium urin yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa adanya pajanan kromium di lingkungan kerja penyamakan kulit. Pajanan kromium dalam waktu lama dapat menimbulkan oksidatif stres di dalam tubuh dan berisiko terhadap kejadian penyakit. Kata kunci : kromium, penyamakan kulit, malondialdehyde, oksidatif stres.
Read More
T-4369
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Luthfie; Pembimbing: Yvone; Penguji: Ahmad Syafiq, Ratu Ayu Dewi Sartika, Kresnawan, Suroto
Abstrak:

Kromium adalah  jenis nutrien essensial yang diperlukan hampir oleh semua jaringan dalam tubuh manusia, seperti kulit, otak, otot, limpa, ginjal dan testis. Peran penting dari kromium adalah sebagai pengendali metabolisme insulin dalam tubuh dan dianggap sebagai faktor pengendali kadar gula darah (glucose tolerance factor/GTF). Penelitian ini menggunakan metode Cross sectional, waktu pelaksanaan bulan Maret- April Tahun 2011. Penelitian dilakukan pada anggota Persadi Serang sebanyak 55 orang. Cari pengambilan sampel  dilakukan dengan cara purposive dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan kromium tertinggi pada bahan makanan sumber karbohidrat adalah mie kering sebesar  71 µg/100 g, dan sumber protein adalah kacang tanah sebesar 163. Ratarata asupan kromium pada anggota Persadia Serang teridentifikasi masih berada dibawah RDA yaitu 31, 95 µg. Tidak  ada hubungan antara asupan kromium dengan kadar gula darah pada anggota Persadia Serang, sedangkanvariabel IMT, aktivitas olahraga dan umur memiliki hubungan dengan kadar gula darah (p<0,05) dengan data IMT (OR= 4,5 ; 95% CI ; 1,333-15,196 ), aktivitas olahraga (OR= 9,333 ; 95% CI ; 1,115-78,154 ), dan umur (OR= 4,47 ; 95% CI ; 1,23-16,28 ). Faktor yang paling dominan yang berhubungan dengan kadar gula darah adalah IMT. Disarankan untuk mengontrol berat badan, dengan cara memperhatikan asupan makan dan melakukan aktivitas olahraga secara rutin serta materi kromium dimasukkan dalam kegiatan penyuluhan rutin yang dilakukan satu kali seminggu. Selain itu perlu adanya pemeriksaan kandungan kromium bahan makanan yang lebih beragam. Kata kunci : Kromium bahan makanan, kadar gula, dan asupan kromium.


 

Chromium is a type of essential nutrients needed by almost all tissues in the human body, such as skin, brain, muscle, spleen, kidney and testis. An important role of chromium is as controlling the metabolism of insulin in the body and is considered as a factor controlling blood sugar levels (glucose tolerance factor / GTF). This study uses cross sectional method, the execution time of the month from March to April Year 2011. The study was conducted on members Persadia Attack by 55 people. Find the sampling done by purposive with respect to inclusion and exclusion criteria. The results showed that the highest chromium content in food sources of carbohydrates is dried noodles at 71 μg/100 g, and protein sources are peanuts by 163. The average intake of chromium in Serang identified PERSADIA members is below the RDA, namely 31, 95 mg. There was no association between intake of chromium in blood sugar levels in member PERSADIA Serang,  while BMI  variable, exercise activity and age have a relationship with blood sugar levels (p <0.05) with BMI data (OR = 4.5, 95% CI: 1.333 -15.196), sports activity (OR = 9.333, 95% CI: 1.115 to 78.154), and age (OR = 4.47, 95% CI: 1.23 to 16.28). The most dominant factor related to blood sugar levels is BMI. It is recommended for weight control, by way of attention to food intake and doing exercise regularly and chromium material included in regular education activities are conducted once a week. In addition there is need for examination of the chromium content of food that is more diverse. Key words: Chromium food ingredients, sugar, and intake of chromium.

Read More
T-3427
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Sudarman; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Abdul Rahman, Laila Fitria, Ali Isha Whardana, Carolina Rusdy Akib
T-4529
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fata Islamy; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Abdul Rahman
Abstrak: Depok dengan karakteristik tanah yang berasal dari pelapukan bahan organik dan mineralmenyebabkan sumber air tanah yang dijadikan bahan baku air minum penduduk KotaDepok dapat tercemar oleh logam berat seperti mangan dan kromium heksavalen.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menghitung besar risiko kesehatan akibat pajananmangan dan kromium heksavalen melalui air minum. Terdapat 75 responden individudewasa yang berasal dari kecamatan Bojongsari, Cipayung, dan Sawangan diambildatanya untuk mengetahui antropometri dan pola asupan air minum sebagai faktorpajanan. Konsentrasi mangan dan kromium heksavalen diambil dari sampel air tanahyang diuji pada Survei Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan Kota Depok tahun 2019.Setelah dilakukan perhitungan analisis risiko, tingkat risiko mangan pada konsentrasirata-rata untuk pajanan realtime (RQ= 0,27) dan lifespan (RQ= 0,35) serta kromiumheksavalen pada semua kategori dan skema (RQ = 0,36; 0,62; 0,47; 0,81) dinyatakanaman atau tidak berisiko (RQ ≤ 1). Sedangkan tingkat risiko pajanan pajanan mangandengan skema konsentrasi maksimal pada pajanan realtime (RQ= 1,3) dan lifespan (RQ=1,7) dinyatakan tidak aman atau berisiko (RQ > 1) untuk penduduk dewasa Kota Depok.Kata kunci: mangan, kromium heksavalen, analisis risiko, air minum, air tanah.
Read More
S-10239
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fahrul Islam; Pembimbing: Budi Hartono, Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Didik Supriyono, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak: Kromium adalah logam berat yang banyak digunakan dalam kegiatan industri.Penggunaan kromium pada industri pelapisan logam dapat berisiko terhadap kesehatanpekerja yang berasal dari pajanan kromium di udara lingkungan kerja. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis hubungan kadar kromium dalam urin dengan kadaralbumin dalam urin sebagai biomarker kerusakan ginjal. Penelitian ini dilakukan pada33 pekerja terpajan dan 33 pekerja tidak terpajan dengan sedain cross sectional. Sampelurin diambil untuk menilai kadar kromium dan kadar albumin. Kadar kromium dalamurin diukur menggunakan metode metode Atomic Absorption Spectrometry (AAS)dengan teknik pembakaran (flame, FAAS) dan kadar albumin dalam urin di ukurdengan cara immunoturbidimetric assay. Nilai tengah (median) kadar kromium dalamurin pada pekerja terpajan sebesar 5 μg/L dan pada pekerja tidak terpajan juga sebesar5 μg/L. Nilai tengah (median) kadar albumin dalam urin pada pekerja terpajan sebesar2,5 mg/g kreatinin lebih tinggi dari kadar albumin pada pekerja tidak terpajan yaitusebesar 1,5 mg/g kreatinin. Setiap kenaikan kadar kromium 1 μg/L terjadi kenaikankadar albumin sebesar 3,82 mg/g kreatinin setelah dikontrol variabel riwayat diabetes,riwayat hipertensi, kebiasaan merokok, lama kerja, dan konsumsi alkohol. Hasilpenelitian dapat disimpulkan ada pengaruh pajanan kromium dengan gangguan fungsiginjal (p > 0,05).Kata kunci; albumin, kerusakan ginjal, kromium, pelapisan logam
Chromium is a heavy metal that is widely used in industrial activities. Use of chromiumin the metal plating industry pose a risk to workers' health comes from exposure tochromium in the air working environment. This study aimed to analyze the relationshipbetween chromium levels in urine levels of albumin in the urine as a biomarker ofkidney damage. This study was conducted on 33 workers exposed and 33 unexposedworkers with cross sectional sedain. Urine samples were taken to assess levels ofchromium and albumin. Chromium levels in urine were measured using the methodAtomic Absorption Spectrometry (AAS) with burning techniques (flame, FAAS) andalbumin in urine is measured by means of immunoturbidimetric assay. A middle value(median) level of chromium in the urine of workers exposed at 5 g / L and theunexposed workers are also at 5 ug / L. A middle value (median) level of albumin inthe urine in workers exposed at 2.5 mg / g creatinine higher than the levels of albuminin the unexposed workers is equal to 1.5 mg / g creatinine. Any increase in thechromium content of 1 ug / L occurred rising levels of 3,82 mg albumin / g creatinineafter the controlled variable history of diabetes, history of hypertension, smokinghabits, length of employment, and consumption of alcohol. The results of this studyconcluded there was an effect of chromium exposure with impaired renal function (p>0.05).Keywords; albumin, kidney damage, chromium, electroplating.
Read More
T-4628
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nila Puspita Sari; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Budi Hartono, Suyud Warno Utomo, Setyadi, Carolina, Rusdy Akib
Abstrak: Kromium merupakan salah satu di dalam 129 polutan prioritas di dalam catatanThe Environmental Protection Agency (EPA). Pada penelitian sebelumnyakromium memiliki risiko (RQ) paling tinggi sebesar 3,371 pada air minum(konsentrasi 0,29 mg/l). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi risikopajanan kromium dari sumber air minum dan bahan pangan terpilih. MetodePublic Health Assessment (PHA) digunakan untuk melihat evaluasi pemajanandan evaluasi efek kesehatan, serta kepedulian masyarakat. Sampel penelitian iniadalah 60 rumah tangga dengan menguji 12 sampel air, 12 sampel beras, 4 sampellabu siam, dan 4 sampel buah pisang dengan laju konsumsi tertinggi. Dataantropometri, pola konsumsi, dan pola aktivitas penduduk dikumpulkan denganwawancara kuesioner untuk mengetahui intake pajanan kromium penduduk.Proporsi gangguan gastrointestinal dan gangguan kulit dilihat sebagai efek kritisdari pajanan kromium (VI) secara ingesti. Hasil penelitian menunjukkan rata-ratakonsentrasi kromium (VI) pada beras sebesar 0,093 mg/kg, pada labu siam 0,048mg/kg, dan 0,268 mg/kg pada pisang. Sampel makanan diukur berdasarkan nilailimit batas alat ukur 0,035 mg/kg. Sedangkan untuk air, nilai kandungan kromium(VI) tidak terdeteksi, nilai ini masih di bawah nilai baku mutu PeraturanPemerintah No. 8 Tahun 2001 yaitu 0,05 mg/liter di dalam kromium total. Tingkatrisiko pajanan kromium pada air yang dikonsumsi bernilai kecil dari 1 yangberarti tidak berisiko, sedangkan untuk semua bahan makanan pada kelompokusia dewasa nilai risiko nya adalah lebih dari 1. Proporsi kejadian diare adalahsebanyak 13,33% dan 30% mengalami gangguan kulit.
Kata Kunci : Kromium, Public Health Assessment, Desa Bantar Karet, RiskQuotient
Chromium is one of 129 pollutants priority in the Environmental ProtectionAgency listed. Previous studies show that chromium have the highest risk 3,371indrinking water with 0,29 mg/l concentration. This research aims to know theestimated risk exposure of chromium from drinking water and food elected. Themethods of Public Health Assessment (PHA)is used to evaluated exposure andhealth effect, and the community concern. Research sample are 60 householdswith 12 samples of water, 12 rice, 4 chayote, and 4 bananas (food with the highestconsumption). Anthropometry data, consumption and activity patterns of residentsgathered with questionnaires to know the exposure intake of chromium in thepopulation. The proportion of gastrointestinal and skin disorders are seen as thecritical effects of chromium (VI) exposure. The results showed an average ofchromium (VI) in rice 0,093 mg/kg, in chayote 0,048 mg/kg, and 0,268 inbananas. All food samples are measured by limit of detection 0,035 mg/kg. Theresults for chromium (VI) in the sample of water is not detected and still safebelow the Government Regulation No.8/2001(0,05 mg/l in chromium total). Therisk exposure of chromium in the water consumed worth less than 1 which meansno risk, while for all foods in adult age was greater than 1. The proportion ofdiarrhea is 13,33% and 30% have skin disorders.
Keywords : Chromium, Public Health Assessment, Bantar Karet Village, RiskQuotient
Read More
T-4735
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kirana Mahadewi Heryadi; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Achmad Samudera
Abstrak:
Latar Belakang: Kampus Universitas Indonesia memiliki fasilitas pelayanan alat penyedia air siap minum yang dapat mengubah air tanah menjadi air siap minum. Penggunaan air tanah masih dominan di Kampus Universitas Indonesia Kota Depok. Kota Depok memiliki karakteristik jenis tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan sedimen sehingga air tanah Kota Depok berpeluang mengandung logam berat berupa mangan dan kromium heksavalen. Tujuan: Mengestimasi besaran risiko kesehatan akibat pajanan mangan dan kromium heksavalen melalui asupan air siap minum yang dikonsumsi mahasiswa Universitas Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian dilakukan pada tahun 2023 di Kampus Utama Universitas Indonesia yang terletak di Kota Depok, Jawa Barat. Total responden yang diwawancarai sebanyak 60 mahasiswa dan sampel air siap minum berjumlah 9 sampel yang dikumpulkan dari 8 fakultas yang berbeda. Hasil: Terdapat 1 sampel air siap minum yang kadar konsentrasi mangannnya melebihi standar baku mutu dan kadar konsentrasi kromium heksavalen pada seluruh sampel air siap minum sudah memenuhi standar baku mutu berdasarkan Permenkes No 2 Tahun 2023. Jumlah estimasi rata-rata intake pajanan mangan dan kromium heksavalen masing-masing sebesar 1.21×10-5 mg/kg/hari dan 7.12×10-7 mg/kg/hari (realtime) serta 8.75×10-5 mg/kg/hari dan 5.15×10-6 mg/kg/hari (lifespan). Tingkat risiko pajanan mangan dan kromium heksavalen masing-masing sebesar 8.64×10-5 dan 2.37×10-4 (realtime) serta 6.25×10-4 dan 1.72×10-3 (lifespan). Hasil ini menunjukkan bahwa air siap minum tidak berisiko menimbulkan gangguan kesehatan (RQ ≤ 1) sehingga air siap minum aman untuk dikonsumsi.

Background: The University of Indonesia campus has a ready-to-drink water service facility that can convert groundwater into ready-to-drink water. The use of groundwater is dominant on the University of Indonesia campus in Depok City. Depok City has the characteristic of a soil type that is formed from the weathering of sedimentary rocks, so that Depok City's groundwater has the possibility of containing heavy metals, such as manganese and hexavalent chromium. Objective: To estimate the magnitude of health risk due to exposure to manganese and hexavalent chromium through the intake of ready-to-drink water consumed by University of Indonesia students. Methods: This research uses the Environmental Health Risk Analysis (ERHA) study approach. The research was conducted in 2023 at University of Indonesia campus in Depok City. The total number of respondents interviewed was 60 students, and 9 samples of ready-to-drink water were collected from 8 faculties. Results: There is 1 ready-to-drink water sample where the manganese concentration exceeds the quality standard, and the hexavalent chromium concentration level in all samples meets the quality standards based on Permenkes No. 2 of 2023. The estimated average intake of manganese and hexavalent chromium exposure respectively is 1.21×10-5 mg/kg/day and 7.12×10-7 mg/kg/day (realtime) and 8.75×10-5 mg/kg/day and 5.15×10-6 mg/kg/day (lifespan). The risk levels of exposure to manganese and hexavalent chromium respectively were 8.64×10-5 and 2.37×10-4 (realtime) and 6.25×10-4 and 1.72×10-3 (lifespan). These results indicate that ready-to-drink water has no risk of causing health problems (RQ ≤ 1), so can be classified as safe to drink water.
Read More
S-11253
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive