Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Olivia Tisya Anne E.A. Sigalingging; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri
Abstrak: Penelitian ini membahas pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun dengan tujuan mengetahui gambaran pengaruh jarak kelahiran dengan kematian bayi di Indonesia berdasarkan karakteristik wilayah perdesaan dan perkotaan. Desain studi yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan analisis multivariabel regresi logistik menggunakan data sekunder SDKI 2017. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 4871 sampel dengan pembagian wilayah perkotaan 2294 sampel dan wilayah perdesaan 2577 sampel pada populasi WUS sudah menikah dan memiliki >1 anak. Hasil penelitian bivariat menunjukkan jarak kelahiran memiliki risiko terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di perkotaan saja berdasarkan nilai OR. Variabel lainnya yang menunjukan hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan P value <0,05 adalah jumlah anak yang dilahirkan, kelengkapan melakukan layanan ANC, dan keinginan ibu memiliki anak lagi. Setelah dilakukan analisis pemodelan terdapat perubahan hasil di kedua wilayah. Di perkotaan, hasil analisis multivariabel yang menunjukan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan AOR>1 adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, tingkat pendidikan tidak sekolah/SD, ANC tidak lengkap, dan ibu menginginkan anak lagi. Di perdesaan, faktor risikonya adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, ANC tidak lengkap, ibu menginginkan anak lagi. Faktor risiko dominan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah adalah ibu yang melahirkan >5 anak. Dapat disimpulkan jarak kelahiran memiliki hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di wilayah perkotaan, sedangkan di wilayah perdesaan jarak kelahiran menjadi faktor risiko setelah dilakukan analisis pemodelan. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah, sehingga faktor risiko bervariasi menurut karakteristik wilayah.
Read More
S-10998
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eddy Purwanto; Pembimbing: Indang Trihandini, Artha Prabawa; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Soewarta Kosen, Didik Budijanto
Abstrak:
Tesis ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem informasi pengusulan proposal Risbin lptekdok berbasis layanan web dengan mengidentifikasi terlebih dahulu sistem berjalan. Tahapan pengembangan sistem yang dilakukan berdasarkan metode incremental adalah analisis kebutuhan, desain, pengkodean serta ujicoba sistem. Pengumpulan data yang dilakukan dalam pengembangan sistem informasi ini melalui wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen, serta dilakukan studi kelayakan untuk mendukung tahap perencanaan. Hasil analisis didapatkan adanya peluang pengembangan sistem informasi untuk rnembantu pelaksanaan kegiatan Risbin Iptekdok. Ditemukan juga adanya permasalahan pada proses pengusulan proposal. Berdasarkan permasalahan tersebut disusunlah basis data, rancangan antar muka dan petunjuk pelaksanaan sistem informasi Risbin Iptekdok.

This thesis aims to develop a prototype for web based services medical science research proposal submission information system by identifying the current system first. Phase of system development is done based on incremental methods of requirements analysis, design, coding and testing the system. Data collection was performed within this information system development through in-depth interviews, observation and document review, and conducted feasibility studies to support the planning phase. Analysis found that there are opportunities for development of information systems implementation to assist activities on medical science research. Also discovered that there are problems in the process of proposal submission. Based on these problems compiled database, interface design and guidelines for the information system.
Read More
T-3247
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Ratu Masyeni; Pembimbing: Rita Damayanti, Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang hubungan kualitas informed choice dari tenaga kesehatan dengan pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Indonesia tahun 2017. Penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Untuk metode kuantitatif peneliti menggunakan data sekunder yaitu data SDKI tahun 2017 dan penelitian kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Sampel penelitian ini adalah wanita usia subur usia 15-49 tahun dan menggunakan kontrasepsi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh (60,9%) wanita umur 15-49 tahun hanya mendapatkan satu informasi KB (informed choice). Hasil analisis multivariabel menunjukkan adanya hubungan informed choice dari tenaga kesehatan dengan pemilihan MKJP setelah dikontrol variabel umur, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, daerah tempat tinggal, pengetahuan tentang KB, jumlah anak dan kunjungan petugas KB. Direkomendasikan kepada BKKBN untuk meningkatkan promosi KB dengan lebih menarik, kreatif dan persuasif serta memberikan pelatihan softskill dalam rangka meningkatkan kualitas PLKB dalam mengubah sikap WUS terhadap pemakaian kontrasepsi

This thesis discusses the relationship between the choice of information quality of health workers with the selection of long-term contraceptive methods (MKJP) in Indonesia in 2017. This study was conducted using quantitative and qualitative methods. For quantitative research methods using secondary data that is IDHS data (2017) and qualitative research conducted with in-depth interviews. The sample of this research is WUS aged 15-49 years and using modern contraception. The results showed that MKJP users who got choice information with poor quality amounted to 46.2%. The results of multivariable analysis showed that there was a relationship between the choice of information from health workers and the selection of the MKJP after being controlled for age, education, occupation, economic status, area of residence, knowledge of family planning, number of children and family planning staff visits. It is recommended that the BKKBN increase family planning promotion more attractively, creatively and persuasively and provide soft skills training to improve the quality of PLKB in changing WUS attitudes towards contraceptive use.

Read More
T-5953
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Puspita Sindi Amaliasari; Pembimbing: Rita Damayanti, Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Latar Belakang: Tren penggunaan KB tradisional di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2017 saja pengguna KB tradisional pada wanita usia subur di Indonesia mencapai 6% yang berarti melebihi angka rata-rata dunia yang sebesar 5%. Pengguna KB tradisional di Indonesia banyak terjadi di kalangan wanita usia subur di perkotaan dan status ekonomi tinggi. Hal ini menjadi perhatian karena KB tradisional memiliki angka kegagalan yang tinggi, berisiko untuk mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan. Angka kehamilan yang tidak diinginkan pun juga banyak terjadi di kalangan wanita usia subur yang tinggal di perkotaan dan memiliki status ekonomi tinggi. Tujuan: untuk melihat perbedaan penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur berdasarkan klasifikasi tempat tinggal dan status ekonomi pada periode 2002-2003, 2007, 2012, dan 2017. Metode Penelitian: cross sectional dengan menggunakan data sekunder yakni SDKI. Hasil: terdapat perbedaan penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur berdasarkan tempat tinggal pada periode 2007, 2012, dan 2017, serta terdapat perbedaan penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur berdasarkan status ekonomi pada periode 2007, dan 2012. Kesimpulan: Terdapat peningkatan risiko penggunaan KB tradisional pada wanita usia subur di perkotaan dan status ekonomi tinggi dimana variable pengetahuan tentang jenis KB adalah perancunya

Background: Trend of using traditional family planning in Indonesia is increasing from year to year. In 2017, traditional family planning users in women reproductive age in Indonesia reached 6%, which means more than world average of 5%. Traditional family planning users in Indonesia occur mostly among women reproductive age in urban and high economic status. Traditional family planning has a high failure rate, at the risk of causing unwanted pregnancies. The number of unwanted pregnancies is also common among women reproductive age who live in urban and have high economic status. Aim: see differences in the use of traditional family planning among women reproductive age based on the classification of residence and economic status in the 2002-2003, 2007, 2012, and 2017. Methods: cross sectional using secondary data, IDHS. Results: there are differences in the use of traditional family planning among women reproductive age based on place of residence in the 2007, 2012 and 2017, and based on economic status in the 2007 and 2012. Conclusion: There is an increased risk of using FP traditional in women reproductive age in urban and high economic status where the variable knowledge about types of family planning is the confounder.

Read More
T-5952
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyadi; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Tris Eryando, Wendy Hartanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Meiwita P. Budiharsana, Soewarta Koesen, Trihono, Kemal Nazaruddin Siregar
D-388
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanik Prasetyoningsih; Promotor: Ascobat Gani; Kopromotor: Besral, Rahajuningsih Dharma; Penguji: Meiwita Paulina Budiharsana, Ratna Djuwita, Satria Pratama; Lia Gardenia Partakusuma
Abstrak:
Identifikasi awal pasien berisiko tinggi dari hasil pemeriksaan klinis yang kurang baik sangat diperlukan untuk menurunkan risiko mortalitas akibat COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor mortalitas pada pasien COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Studi kohort retrospektif ini dilakukan dengan cara mengambil 730 sampel pasien COVID-19 di rumah sakit rujukan COVID-19 terpilih (RSUD Pasar Minggu, RSUP Fatmawati, dan RSPAD Gatot Subroto). Analisis Survival Cox Regression digunakan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh variabel karakteristik umum pasien (usia, jenis kelamin, IMT, gejala COVID-19, komorbid, dan lama dirawat), pemeriksaan laboratorium pasien (D-Dimer, CRP, NLR, Hb, trombosit, dan leukosit), radiologi rontgen foto thoraks, saturasi oksigen (SpO2), serta response time terhadap mortalitas pasien COVID-19. Dihasilkan bahwa usia >58 tahun (RR 2,01 ; 1,20 – 3,52 95% CI), CRP >10 mg/dL (RR 1,98; 1,48 – 2,63 95% CI), D-Dimer >2500 ng/mL (RR 1,93; 1,10 – 3,17 95% CI), saturasi oksigen <95% (RR 1,84; 1,41 – 2,40 95% CI), response time

Early identification of high-risk patients from destitute clinical results is essential to lower the risk of mortality from COVID-19. The aim of this study is to find the predictors of mortality in COVID-19 patients in the DKI province of Jakarta. A Cohort Retrospective study was conducted by taking 730 samples of COVID-19 patients at selected COVID-19 referral hospitals (RSUD Pasar Minggu, RSUP Fatmawati, dan RSPAD Gatot Subroto). Survival Cox Regression analysis used to determine the relationship and influence of general patient characteristic variables (age, gender, IMT, symptoms of COVID-19, comorbid, and length of stay), laboratory examination of patients (D-Dimer, CRP, NLR, Hb, thrombocyte, and leukocytes), photo-thorax x-rays, oxygen saturation (SpO2), and response time after adminission of COVID-19 patients. The result found that age >58 years (RR 2,01 ; 1,20 – 3,52 95% CI), CRP >10 mg/dL (RR 1,98; 1,48 – 2,63 95% CI), D-Dimer >2500 ng/mL (RR 1,93; 1,10 – 3,17 95% CI), oxygen saturation <95% (RR 1,84; 1,41 – 2,40 95% CI), response time
Read More
D-501
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Milla Herdayati; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Tris Eryando, Ratna Djuwita, Meiwita P. Budiharsana, Kemal Nazaruddin Siregar, Wendy Hartanto, Sri Sunarti Purwaningsih, Yayat Supriyatna
Abstrak: ABSTRAK Nama : Milla Herdayati Program : Kesehatan Masyarakat Judul : Pola commuting, Peran Gender dan Kualitas Hidup Komuter: Studi Kasus di Tiga Kota Metropolitan di Indonesia. Mobilitas ulang alik (commuting) telah menjadi fenomena global di seluruh kota-kota metropolitan di dunia termasuk Indonesia. Kegiatan perekonomian/bisnis cenderung berada di pusat kota, mengharuskan mereka bermobilitas (commuting) untuk bekerja. Mereka berhadapan kemacetan/kepadatan, polusi, durasi commuting yang panjang, hal ini diperberat buruknya sistem transportasi publik. Pada perempuan kondisi tersebut menjadi permasalahan tersendiri, dikarenakan perempuan bekerja tidak serta merta dapat melepaskan peran domestiknya. Tujuan studi ini menganalisis apakah commuting berkaitan dengan kualitas hidup komuter, dan apakah peran gender memodifikasi pengaruh commuting terhadap kualitas hidup komuter. Studi ini menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tiga Kawasan Metropolitan di Indonesia, yaitu Jabodetabek tahun 2014, Mebidang dan Sarbagita tahun 2015. Sampel studi: Pekerja komuter berusia 15-65 tahun di wilayah tersebut dengan kriteria eksklusi adalah commuting dengan berjalan kaki/bersepeda (active commuting). Untuk memperkaya studi ini dilakukan studi kualitatif. Temuan studi ini membuktikan adanya commuting paradox pada komuter, perempuan memiliki pola commuting yang khas multi-trips dan multi-destinatios. Temuan lain studi pola commuting berhubungan negative dengan kualitas hidup lebih baik belum dapat dibuktikan. Peran gender berpengaruh terhadap negative terhadap kualitas hidup komuter. Selain itu efek commuting terhadap kualitas hidup berbeda menurut kewilayahan. Beberapa rekomendasi studi ini bahwa beban commuting harus diminimalisir dengan mengembangkan sistem transportasi public yang handal dan humanis dan ramah perempuan, serta dan juga mendorong penggunaan transportasi massal lewat dengan kampanye dari perspektif kesehatan masyarakat. Keywords Commuting, peran gender, kualitas hidup, transportasi publik ABSTRACT Name : Milla Herdayati Study Program : Public Health Title : Commuting Patterns, Gender Roles and Quality of Life of Commuters: Case Study in Three Metropolitan Cities in Indonesia. Commuting has become a global phenomenon in various metropolitan cities in the world including Indonesia. Economic and business activities tend to be located in the city center has requires people live suburb area to commute to work. The people facing several problems such as traffic, pollution, long duration of commuting also poor transportation system. For women, this condition becomes a real problem, because women have dual role within the households. The purpose of this study is to analyze whether commuting have an impact for the quality of life of commuters, and whether gender roles also influence of commuting on the quality of life. This study uses 2015 and 2014 Central Bureau of Statistics (BPS) data on three municipality in Indonesia, namely Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok Tangerang and Bekasi) and Mebidang (Medan, Binjai, dan Deli Serdang) and Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan). Sample study: Commuter workers aged 15-65 years within three municipality with exclusion criteria are walker and people whose work by cycling (active commuting). To enrich this study a qualitative study was conducted. The findings of this study prove the existence of commuting paradoxes in commuters, women have a commuting pattern that is typical of multi-trips and multi-destinations and commuters with minor gender roles have a better quality of life. In addition, the effects of commuting on quality of life differ according to region/area. Some recommendations from this study that the burden of commuting must be minimized by developing a reliable public transportation system that is friendly to women, and providing subsidies for low-income commuters, and also encouraging the use of mass transportation through campaigns from a public health perspective. Keywords Commuting, gender roles, quality of life, public transportation
Read More
D-406
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tati Sumiati; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati; Penguji: Asri C. Adisasmita, Meiwita P. Budiharsana, Rita Damayanti, Pribudiarta Nur Sitepu, Wendy Hartanto, Yekti Widodo
Abstrak:
Ketidaksiapaan seorang perempuan remaja untuk hamil, melahirkan dan mengasuh dapat mengakibatkan tidak tercapainya perkembangan anak. Dalam meningkatkan perkembangan anak yang optimal, diperlukan kondisi perawatan pengasuhan yang dapat meningkatkan kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, pengasuhan responsif, serta peluang belajar sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kehamilan remaja terhadap perawatan pengasuhan anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data integrasi Susenas Kor Maret dan Riskesdas tahun 2018. Pengukuran kelas perawatan pengasuhan menggunakan analisis kelas laten. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan aplikasi MPlus Versi 8.3. Perawatan pengasuhan terdiri dari 5 komponen yaitu kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, pengasuhan responsif, serta peluang belajar sejak dini. Hasil penelitian menunjukkan proporsi anak yang dikandung oleh ibu remaja sebesar 31,7%. Terdapat 3 kelas perawatan pengasuhan dalam penelitian ini yang dapat dinamakan kelas dukungan perawatan pengasuhan yang komprehensif, GESID, dan PAUD. Dari 5 komponen perawatan pengasuhan, 3 di antaranya kesehatan, nutrisi dan peluang belajar sejak dini terungkap dibutuhkan oleh semua anak, serta 2 komponen (keamanan dan keselamatan, serta pengasuhan responsif) dibutuhkan oleh kelas tertentu. Sebanyak 62% ibu hamil membutuhkan perawatan pengasuhan komprehensif bagi anaknya, lebih tinggi dibanding ibu usia 20 tahun ke atas (10%). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa anak yang dikandung ibu remaja ini 2 kali lebih membutuhkan dukungan perawatan pengasuhan komprehensif dibanding anak yang dikandung oleh ibu berusia 20 tahun ke atas. Ibu remaja memerlukan bimbingan semua komponen perawatan pengasuhan. Karena isu perawatan pengasuhan adalah lintas bidang dan lintas sektor, maka koordinasi program lintas SKPD sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, kecukupan nutrisi, dan peluang belajar sejak dini, serta sesuai kebutuhan masing-masing kelas.

The unpreparedness of an adolescent woman to get pregnant, give birth and nurture can result in not achieving child development. In promoting optimal child development, nurturing care conditions are needed that can improve health, nutrition, security and safety, responsive caregiving, and opportunities for early learning. This study aims to determine the effect of adolescent pregnancy on nurturing care in Indonesia. This study uses integrated data from Susenas kor March and Riskesdas 2018. The masurement nurturing care classes uses latent class analysis. Data analysis in this study used the Mplus application Version 8.3. Nurturing care consists of 5 components namely health, nutrition, security and safety, responsive caregiving, and opportunities for early learning. The results showed that the proportion of children conceived by adolescent mothers was 31.7%. There are 3 classes of nurturing care in this study which can be called comprehensive nurturing care classes, GESID, and PAUD. Of the 5 components of nurturing care, 3 of which are health, nutrition and opportunities for early learning were revealed to be needed by all children, and 2 components (security and safety, and responsive caregiving) were needed by certain classes. As many as 62% of adolescent pregnancy require comprehensive nurturing care for their children, higher than mothers aged 20 years and over (10%). Logistic regression analysis showed that children conceived by adolescent mothers were twice as likely to need comprehensive care support as children conceived by mothers aged 20 years and over. Adolescent mothers need more guidance on all components of nurturing care. Because the issue of nurturing care is cross-cutting and cross sectoral, program coordination across SKPD is very important to improve health, nutritional adequacy, and opportunities for early learning, and according to the needs of each class.
Read More
D-468
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive