Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Katia; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Wien Goerindro
S-5610
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovans Yuniar; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robiana Modjo, Wien Goerindro
S-6206
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delvia Jessica; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Robiana Modjo, Wien Goerindro
S-6070
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Tasya; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Wien Goerindro
Abstrak: Dalam setiap aktivitas pertambangan, terdapat potensi bahaya yang menimbulkanrisiko terjadinya kecelakaan. Jenis kecelakaan menabrak merupakan kecelakaanyang banyak terjadi pada operasi lalu lintas tambang jobsite PT SS (41%) dankejadiannya cenderung berulang. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untukmendapatkan gambaran tentang sistem pertahanan dalam mencegah kecelakaansesuai dengan kerangka pikir Swiss Cheese Model. Penelitian ini dilakukandengan pendekatan kualitatif melalui analisis data kecelakan lalu lintas tambangdi salah satu jobsite di PT SS, suatu perusahaan kontraktor pertambangan batubaraterbuka, dengan menggunakan Human Factors Analysis and Classification Systemin Mining Industry (HFACS-MI). Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap53 kasus kecelakaan lalu lintas tambang, permasalahan yang banyak ditemukan diantaranya adalah skill-based error, adverse mental states, coordination andcommunication, inadequate leadership, dan organization process. Dapat disimpulkan bahwa sistem pertahanan yang ada untuk mencegah kecelakaan lalulintas tambang masih belum optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan sistem pertahanan, baik yang ditargetkan kepada individu ataupun organisasi, agarrisiko kecelakaan dapat dikendalikan.
Kata Kunci :Kecelakaan lalu lintas tambang, tabrakan, sistem pertahanan, Swiss CheeseModel, HFACS-MI
In mining process activities, there are potential hazards that poses a risk to be anaccident. Collision is one of accident types that frequently happen on miningtraffic operations jobsite PT SS (41%) and it has tendency to occur repeatedly.This study aimed to gain an overview of defences system in preventing accidentsaccording to Swiss Cheese Model framework. The research was conducted with aqualitative approach through mining traffic accident data analysis in one ofjobsite in PT SS, an open coal mining contractor company, using the HumanFactors Analysis and Classification System in Mining Industry (HFACS-MI).Based on the analysis of 53 cases of mining traffic accidents, revealed that themost common problems were skill-based errors, adverse mental states,coordination and communication, inadequate leadership, and organizationprocess. It can be concluded that the existing defences system to prevent miningtraffic accidents has not been optimal yet. Therefore, defences systemimprovement, either targeted to the individual or organizational, is needed tocontrol accident risk.
Key words:Mine traffic accident, collision, defences system, Swiss Cheese Model, HFACSMI
Read More
S-7765
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Kurdiman; Pembimbing: ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Baiduri, Chandra Satrya, Eddy Suprianto, Wien Goerindro
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ade Kurdiman Program Studi : Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul Tesis : Kajian Indikator Faktor Pembentuk Safety Culture Model Berbasis Prinsip Resilience di PT Harmoni Panca Utama Kegiatan industri tidak terlepas dari adanya bahaya dan pajanan risiko yang berpotensi kecelakaan, termasuk pertambangan. Perkembangan resilience secara teoritis dan praktis dalam pengelolaan risiko. Adanya bahaya berisiko tinggi di berbagai industri dan tuntutan efisiensi biaya diperlukan sebuah pendekatan baru dalam pengelolaan keselamatan, termasuk program safety culture. Sebuah pendekatan pengelolaan keselamatan baru tersebut adalah pendekatan Safety-I (safety culture) menjadi Safety-II (culture of resilience) (Hollnagel, 2013; 2015). Pendekatan yang memasukkan prinsip resilience pada safety culture. Perkembangan safety culture model secara teori dan praktis. PT Harmoni Panca Utama (HPU) telah mengembangkan program budaya keselamatan dan berpandangan bahwa safety culture model terdiri dari 3 (tiga) faktor pembentuk utama, yaitu: attitude, management infrastructure & technology; dan HSE Management System beserta belum mempertimbangkan aspek pendekatan baru berbasis prinsip resilience. Kajian faktor permbentuk utama terhadap safety culture model yang berindikator berbasis prinsip resilience merupakan tujuan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan mix methode, analisa kualitatif dan principal component analysis (PCA). Hasilnya bahwa safety culture model di HPU masih sesuai dengan perkembangan ilmiah saat ini dengan beberapa penyederhanaan. Dari PCA diperoleh 3 komponen yang indikator faktor pembentuknya sebanyak 29 variable telah ditambahkan 4 prinsip resilience, yaitu: respon, monitor, learn, dan anticipate. Hanya komponen 1 yang reliable, sementara Komponen 2 & 3 tidak. Hal ini dimungkinkan karena indikator faktor pada komponen satu dan lainnya saling berkaitan atau karena Komponen 2 & 3 berindikator faktor sedikit (3 – 4 variabel). Dari 397 responden, hasil uji reliabilitas untuk total indikator faktor pembentuk, nilai alpha cronbach 0,798 (reliable) dan uji validitas (r) dibawah nilai kritis pada masing2 pertanyaan/variable. Kata kunci: resilience, safety culture, safety culture model, Safety-I dan Safety-II


ABSTRACT Name : Ade Kurdiman Majoring : Magister of Occupational Health and Safety Thesis’ Title : Study on contributing factor’s indicators of resilience principle-based safety culture model at PT Harmoni Panca Utama Industrial activities are inseparable from potential hazards and risk exposures, including mining. Today, the study of the development of resilience is theoretically and practically in risk management. The presence of high-risk hazards in various industries and cost-efficiency demands required a new approach to safety management, including safety culture programs. A new approach to safety management is the Safety-I approach (safety culture) to SafetyII (culture of resilience) (Hollnagel, 2013, 2015) which is an approach that incorporates the principle of resistance to safety culture. Today also the development of security culture model in theoretically and practically. PT Harmoni Panca Utama (HPU) has developed a safety culture program and believes that the safety culture model consists of 3 (three) dominant form factors, including: attitude, management infrastructure & technology; and HSE management system. That model has not considered a new aspect of resilience principle based approach. The study of the major factor in the form of safety culture model founded on the resilience principle is the purpose of this study. This research uses mix methods, qualitative analysis and principal component analysis (PCA). The result that the safety culture model in HPU is still following current scientific development with some simplification. Adding four principles of resilience, namely: respond, monitor, learn and anticipate from the PCA that obtained three components that the fundamental factors of 29 variables. Only Component 1 is reliable, while Components 2 & 3 do not. Otherwise, the researcher will still use 3 components or main factors based on literature review. This result is possible because the factor indicators on one component and the other are interrelated or because Components 2 & 3 are slightly indicator factors (3 - 4 variables). From 397 respondents, reliability test results for total indicators of the factor, alpha’s Cronbach value 0.798 (reliable) and validity test (r) below the critical value of each question/variable. Keywords: resilience, safety culture, safety culture model, Safety-I and Safety-II

Read More
T-5042
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilita Syamsi; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Sri Rochmaryati, Wien Goerindro
Abstrak:
Dokter gigi merupakan pekerja profesional yang sangat rentan terhadap bahaya kesehatan kerja dan gangguan trauma kumulatif di tempat kerja. Dokter gigi sering duduk atau berdiri serta mempertahankan posisi menetap pada kepala, leher serta bahu untuk jangka waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko nyeri punggung bawah pada 5 dokter gigi terkait dalam posisi statis dan gerakan repetisi yang dilakukan oleh dokter gigi saat melakukan tindakan pembersihan karang gigi (scaling). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi pada dokter gigi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi statis pada punggung bawah berisiko untuk menimbulkan terjadinya Low Back Pain. Perbaikan terutama pada posisi bekerja, selain itu harus ditunjang dengan fasilitas dental unit yang memadai terutama pada kursi dokter gigi sebaiknya memiliki sandaran pada bagian punggung dan lengan sehingga diharapkan risiko Low Back Pain dapat diminimalisir

Dentists at work are susceptible to the occupational health hazard and the development of cumulative trauma disorders. They often sit or stand for prolonged periods and maintain the head, neck, shoulders in fixed positions. This study aims to analyze the risk factors of low back pain on 5 dentist involved in a static position and movement of repetitions performed by dentists when performing actions tartar cleaning (scaling). This research was conducted using qualitative descriptive methods. Data were collected by interviews and observations at the dentist. The results showed that the static position on the lower back at risk to cause the occurrence of Low Back Pain. Repair work primarily at the position, but it must be supported by adequate dental unit facilities such as the dentist chair should have a back rest and arm rest so that the expected risk of Low Back Pain can be minimized.
Read More
T-4090
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lorencius Kukuh Prabowo; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni HIkmat Ramdhan, Baiduri, Mushanif Mukti, Wien Goerindro
Abstrak: Angka kecelakaan tingkat perusahaan masih cukup tinggi dan kematian masih terjadi. Iklim keselamatan belum terjadi bagi semua lapisan personil yang ada. Keselamatan kerja masih merupakan tanggung jawab petugas keselamatan kerja, bukannya disadari bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab masing- masing personil yang terlibat aktivitas proyek. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui gaya kepemimpinan dan kepemimpinan keselamatan kerja di proyek konstruksi bangunan PT. LKP serta membuat gambaran kepemimpinan transformasional yang secara teori berhubungan positif dengan iklim keselamatan di lokasi kerja, hal ini menyiratkan bahwa gaya kepemimpinan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan iklim keselamatan. Penelitian ini menggunakan 69 butir pertanyaan tertutup, yang terdiri dari 24 butir pernyataan aspek gaya kepemimpinan yang terdiri dari 2 dimensi mengacu pada MLQ dan 45 butir pernyataan aspek kepemimpinan keselamatan kerja yang terdiri dari 8 dimensi mengacu pada NOSACQ-50. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa semua tingkat jabatan (manajer- insinyur-pengawas) dan semua gaya kepemimpinan (transaksional- transformasional) paretonya menunjukkan paling banyak memiliki dimensi kepemimpinan keselamatan kerja variabel to be a role model dan paling sedikit memiliki dimensi kepemimpinan keselamatan kerja variabel safety policy consistency. Penelitian ini juga menunjukkan kontradiksi dengan konsep keselamatan kerja dimana kepatuhan, ketaatan dan disiplin adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar. Pada dasarnya keselamatan kerja tidak memberi ruang fleksibilitas pada orang dalam organisasi untuk bertindak diluar kebijakan, prosedur, aturan yang telah ditetapkan. Hal ini menjadi salah satu dugaan / hipotesa mengapa di industri konstruksi pada umumnya dan di PT. LKP pada khususnya angka kecelakaan masih cukup tinggi. Kata kunci: Gaya Kepemimpinan; Kepemimpinan Keselamatan Kerja; Iklim Keselamatan Kerja; Proyek Konstruksi Bangunan
Read More
T-4448
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Pamiluto Nugroho; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji; Doni Hikmat Ramdhan, Baiduri, Neneng Churoeroh, Wien Gurindro
Abstrak: CHESM (Contractor of Health Environment and Safety Management) adalahsuatu bentuk CSMS (Contractor Safety Management System) dari PT CICo untukmemastikan keselamatan kerja kontraktor yang bekerja di lingkunganya. Tesis inimembahas kinerja pemilik kontrak di CICo pada saat pelaksanaan programCHESM untuk masing masing kontraknya. Penilaian kinerja ditinjau dari aspekkinerja tugas, kinerja kontekstual, kinerja adaptif dan tindakan kontra-produktif.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggambarkanbagaimana pelaksanaan CHESM oleh tiga pemilik kontrak yang berbeda-bedaposisi dan struktur organisasinya di PT CICo. Hasil dari penelitian menyimpulkanbahwa semua pemilik kontrak keahlian yang memadai untuk menjalankantugasnya, namun kesuksesan kinerjanya sangat tergantung pada dukungan strukturorganisasi, pendelegasian tugas yang jelas serta pembatasan jumlah kontrak sesuaidengan kapasitasnya untuk bisa menjalankan semua tanggungjawabnya sebagaipemilik kontrak untuk memastikan keselamatan kerja kontraktor-kontraktornya.Kata kunci: Kinerja, Kontraktor, Pemilik Kontrak, CHESM, CSMS.
Read More
T-4460
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Anggito; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Doni Hikmat Ramdhan, Warid Nurdiansyah, Wien Goerindro
Abstrak: Kata kunci: Manajemen risiko, pengendalian kritikal, metode bowtiePenerapan manajemen risiko di banyak perusahaan tambang belum banyakmenititikberatkan kepada efektivitas pengendalian melainkan terbatas kepada biaya serta ada atautidaknya kecelakaan. Perubahan pola pikir manajemen risiko keselamatan dari reaktif menjadiproaktif dapat dilakukan dengan menggunakan manajemen pengendalian risiko kritikal. Persepsiakan risiko yang berbeda-beda, terutama pada penentuan pengendalian, dapat diselaraskan denganproses manajemen pengendalian yang terstruktur sehingga efektivitas pengendalian dapat dinilaisecara lebih obyektif.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kefektifan pengendalian kritikal yangditerapkan oleh PT X serta peran penerapan proses pengelolaan pengendalian kritikal dalampencapaian peningkatan kinerja keselamatan perusahaan. Metodologi yang digunakan untukmencapai tujuan ini adalah dengan metode kualitatif di mana data yang digunakan adalah dataprimer berupa data wawancara dan focus group discussion dengan manajemen PT X dan staff yangbekerja dalam waktu tertentu serta data sekunder berupa data penerapan proses pengelolaanpengendalian dan data statistik kecelakaan kerja PT X.Hasil penelitian menunjukan bahwa manajemen pengendalian risiko kritikal berperanpenting dalam peningkatan kinerja keselamatan perusahaan. Perusahaan diharapkan dapatmeningkatkan penerapan manajemen risiko dengan memberikan secara berkelanjutan pelatihankepada karyawan dan mitra kerja tentang proses pengendalian kritikal, menetapkan tujuan, sasarandan program secara spesifik mengacu kepada hasil penilaian keefektifan pengendalian danmenyusun sistem audit yang bertujuan khusus untuk meninjau dan menetapkan standar,mengidentifikasi isu-isu dan peluang yang ada pada proses pengendalian kritikal dan meningkatkankinerja positif komponen-komponen yang terdapat dalam sistem manajemen keselamatanperusahaan.
Read More
T-5215
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardian Yoga Bharata; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Doni Hikmat Ramdhan, Warid Nurdiansyah, Wien Goerindro
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ardian Yoga Bharata Program Studi : Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul : Kajian Panca Nirbhaya (HSE Management System PT. Harmoni Panca Utama) Terhadap OHS Management System Theories Berbasis Prinsip Resilience Pembimbing : Drs. (Psi) Ridwan Zahdi Sjaaf, MPH Tesis ini melakukan kajian mendalam Panca Nirbhaya yaitu sistem manajemen keselamatan pertambangan di PT HPU yang merupakan salah satu perusahaan jasa pertambangan di Indonesia. Kajian yang dilakukan dengan menggunakan metode analisa kualitatif dengan melakukan analisa gap dan Kajian Panca Nirbhaya terhadap OHS Management System Theories berbasis resilience. Pada penelitian ini metode kualitatif digunakan untuk menilai keefetifan dan kehandalan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT HPU (Panca Nirbhaya). Dalam OHS Management System dikena suatu konsep Sistem Manajemen K3 yang ber prinsip resilience yang dikenal dengan Safety I dan Safety II. Kajian yang dilakukan adalah melihat secara mendalam konten dalam standar di Panca Nirbhaya berada dalam Safety I atau Safety II. Konsep Safety Management Sistem berbasis resilience memberikan pandangan tentang Safety I dan Safety II, yaitu Safety I sangat berkonsentrasi pada “hal yang buruk”, maka ketiadaan hal yang buruk dianggap sebagai sebuah prestasi sedangkan Safety II berfokus memastikan hal yang sudah baik terus menjadi baik. Selain itu juga mengkaji Panca Nirbhaya secara prinsip resilience apakah standar mampu merespon setiap kondisi/aktivitas baik yang bersifat rutin  dan tidak rutin dengan cara yang efektif, sistem mampu mengambil pelajaran/mampu belajar dari peristiwa yang telah terjadi, mengerti benar apa yang terjadi dan mengapa hal tersebut terjadi, sistem mampu memantau perkembangan jangka pendek dan ancaman yang mungkin terjadi serta mampu  mengantisipasi ancaman jangka panjang dan melihat peluang untuk perbaikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagain besar sub elemen dalam Panca Nirbhaya sudah berada di Safety II yaitu sebanyak 37 sub elemen, serta 18 elemen masih berada di Safety I. Sub elemen yang masih berada di Safety I tersebut masih belum mengakomodir kriteria – kriteria yang dalam konsep resilience safety II terutama dalam hal antisipasi yang harus dilakukan organisasi kedepan/jangka panjang serta mengakomodir hal-hal lain yang bersifat inisiatif dan improvement yang bisa dilakukan organisasi. Semua sub elemen yang masih berada di Safety I tersebut, perlu dirubah dan ditambahkan  agar sub elemen tersebut bisa memperkuat sistem pertahanan yang telah ada diperusahaan, sehingga sistem Panca Nirbhaya menjadi suatu sistem yang telah berbasis prinsip resilience. Kata kunci: Sistem Manajemen K3, resilience safety , Safety I dan Safety II


ABSTRACT Name : Ardian Yoga Bharata Study Program : Master of Occupational Health & Safety : Study Of Panca Nirbhaya (HSE Management System PT Harmoni Panca Utama) against OHS Management System with Resilience Principle based theory Counsellor Title : Drs. (Psi) Ridwan Zahdi Sjaaf, MPH Key words: Occupational Health & Safety, resilience safety , Safety I dan Safety II, information This thesis conducts in-depth study Panca Nirbhaya mining safety management systems namely PT HPU which is one of the mining service companies in Indonesia. Studies conducted using qualitative analysis method with Study and gap analysis Panca Nirbhaya against OHS Management System resilience-based Theories. In the current study qualitative methods were used to assess the effectiveness and reliability of safety and health management systems Work PT HPU (Panca Nirbhaya). In the OHS Management System management system, a concept of systems known K3 with resilience, known as the principle of Safety I and Safety II. The study does is look deeply content in standard in Panca Nirbhaya are in Safety I or II Safety. The concept of Safety Management Systems-based resilience gives the view of Safety I and Safety II, namely Safety I was very concentrated on the "bad thing", then the absence of a bad thing is considered an achievement while Safety II focuses ensure good things continue to be good. It also examines the Panca Nirbhaya resilience in principle whether standard able to respond any condition good/activities which are routine and not routine in a way that is effective, the system is able to take the lessons/capable of learning from the event has happened, understand correctly what happened and why it happened, the system is able to monitor short-term developments and threats that may occur as well as being able to anticipate a long-term threat and see opportunities for improvement. Results of the study show that filmed the sub element in Panca Nirbhaya already are in Safety II as much as 37 sub elements, as well as 18 elements are still in Safety i. Sub elements that remain in Safety I still have yet to accommodate the criteria – the criteria in the concept of resilience safety II especially in anticipation of the future organization should do/long term as well as accommodate the other things which are initiatives and improvement that could be made of the organization. All sub elements that remain in Safety, I need to change it and added so that the sub elements can reinforce existing defence systems inside, so the system Senses Nirbhaya became a principle-based system that has resilience.

Read More
T-5228
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive