Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Juni Chiudri; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Kurnia Saqri, Permanasari, Vetty Yulianty, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:

Abstrak
Tesis ini bertujuan untuk mengetahui peranan strategi pemasaran Customer Relationship Management (CRM) melalui Personal Maternity Officer (PMO) dalam permanfaatan persalinan di Rumah Sakit Hermina Daan Mogot. Adapun identifikasi dan evaluasi terhadap strategi pemasaran ini dilakukan dengan pendekatan sistem. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif dan penjelasan. Hasil penelitian ini menyimpulkan program CRM yang ada sudah berjalan dengan baik. Namun, kinerja Sumber Daya Manusia yang terlibat, pengawasan serta evaluasi yang terus menerus perlu ditingkatkan untuk mencapai hasil yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi mengenai strategi pemasaran ini dan koordinasi dari semua pihak yang terlibat.

The purpose of this thesis is to find out the role of Customer Relationship Management (CRM) marketing strategy through Personal Maternity Officer (PMO) in labor at Hermina Daan Mogot Hospital. Identification and evaluation of this marketing strategy is done with system approach. The type of this research is descriptive qualitative and explanation research. The results of this study conclude that CRM program that is already exist has been well underway. However, the performance of the human resources involved, continuing supervision and evaluation need to be improved in order to achieve optimal results. Therefore, socialization on this marketing strategy and coordination from all parties involved are required.

Read More
B-1483
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rendra Fariadi; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Nine Mei, IIng Ichsan Hanafi
Abstrak: Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran pelayanan dan keuangan rumah sakit. Pengelolaan sedian farmasi rumah sakit dimulai dari alur perencanaan dan pengadaan obat-obatan di rumah sakit. Sistem perencaanaan yang tepat dibutuhkan untuk pengelolaan perencaan dan persediaan di rumah sakit agar efisiensi dalam proses pengadaan obat dapat tercapai. RS Hermina Medan melakukan perubahan dalam sistem perencaan obat-obatan dari awalnya menggunakan sistem min-max menjadi sistem pareto. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat efisiensi terhadap kedua sistem tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan riset operasional terhadap sampel obat hasil analisis ABC dan menggabungkan metode kualitatif. Hasil analisis ABC berdasarkan nilai pemakaian selama Agustus dan September 2023 diperoleh obat kategori A mewakili 80% dari total nilai persedian obat JKN di Instalasi Farmasi. Hasil penelitian menunjukan dengan membandingkan perhitungan untuk perencanaan pengadaan obat kategori A dengan sistem pareto dan min-max didapatkan total inventory cost lebih rendah dengan menggunakan sistem min-max. Namun, rencana pengadaan dengan sistem min-max dapat lebih baik apabila perhitungan pemakaian obat di kontrol secara rutin dan proses perencanaan pengadaan dibantu oleh sistem informasi yang lebih baik. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan dengan waktu yang lebih panjang agar penilaian inventory cost dapat lebih akurat.
Pharmaceutical supplies must be managed well for the smooth running of hospital services and finances. Management of hospital pharmaceutical supplies starts from the flow of planning and procurement of medicines in the hospital. An appropriate planning system is needed for managing planning and supplies in hospitals so that efficiency in the drug procurement process can be achieved. Hermina Medan Hospital made changes to its medicine planning system from initially using a min-max system to a Pareto system. This research aims to compare the level of efficiency of the two systems. This research was conducted using operational research on drug samples resulting from ABC analysis and combining qualitative methods. The results of ABC analysis based on usage values during August and September 2023 showed that category A drugs represent 80% of the total value of UHC drug supplies in pharmacy installations. The research results show that by comparing calculations for planning the procurement of category A drugs using the Pareto and min-max systems, the total inventory cost is lower using the min-max system. Procurement planning using a min-max system can be better if the calculation of drug use is routinely controlled and the procurement planning process is assisted by a better information system. It is hoped that the research can be continued for a longer period so that inventory cost assessments can be more accurate.
Read More
B-2489
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iman Nugraha; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Kurnia Sari, Dumilah Ayuningtyas, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:

Penelitian ini tentang analisis pengelolaan piutang pasien pihak ketiga di Rumah Sakit Hermina Daan Mogot pada tahun 2011. Design penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sistem. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan data sekunder. Variabel yang diteliti meliputi variabel input : organisasi, kebijakan, sistem informasi, sarana, sdm, karakteristik pihak ketiga dan paket jaminan. Variabel proses meliputi penerimaan, pembebanan, penataan rekening, penagihan dan penutupan. Sedangkan outputnya adalah pembayaran piutang. Informan penelitian ini adalah stakeholder yang terkait langsung dengan pengelolaan piutang, yaitu manajer keuangan, kepala urusan piutang, administrasi keuangan lantai, penata rekening dan administrasi piutang. Penelitian ini menunjukan bahwa umur piutang perusahaan <30 hari mencapai lebih dari 70%, sedangkan piutang asuransi mencapai lebih dari 60%. Umur piutang <30 hari paling tinggi terjadi pada bulan februari. Sedangkan umur piutang >45 hari paling tinggi terjadi pada bulan juni untuk piutang perusahaan dan bulan mei untuk piutang asuransi. Untuk mencegah terjadinya piutang tak tertagih, pihak rumah sakit selalu mengkonfirmasi kepada pihak ketiga terkait jaminan yang diberikan kepada pasien. Pengurusan perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga diatur oleh pihak Hermina Hospital Group.  Hambatan yang terjadi dalam proses pengelolaan piutang meliputi kurangnya pelatihan sdm, kurangnya sosialisasi isi perjanjian kerjasama, kurangnya sdm pengentri transaksi pasien, pengisian resume medis yang tidak lengkap, kurangnya sarana transportasi, pihak asuransi tidak mencantumkan rincian peruntukan pembayaran dan lamanya proses verifikasi oleh pihak ketiga. Oleh karena itu disarankan untuk mengembangkan sistem informasi yang up date dan terintegrasi antara rumah sakit dengan pihak ketiga, sosialisasi isi perjanjian kerjasama, peningkatan keterampilan sdm, memberlakukan reward dan punishment serta pengadaan sarana transportasi. Kata kunci : piutang rumah sakit, pihak ketiga


 

This research on the analysis of third-party management of patient accounts receivable at the Hospital Hermina Daan Mogot in 2011. Design the study is a qualitative approach to the system. Data were collected by interview method and secondary data. The variables studied include input variables: the organization, policies, information systems, facilities,  the characteristics of a third party and guarantee package. Process variables include the receiving, loading, account setup, billing and closure. While its output is the payment of receivables. Informants of this study is the stakeholders that are directly related to the management of receivables, the financial manager, the head of affairs accounts receivable, floor financial administration, stylists accounts and administrative accounts. This study shows that age of receivables <30 days reached more than 70%, while accounts receivable insurance to more than 60%. Age of receivables <30 days of the highest occurred in February. While the aging> 45 days the highest place in June for company and in May for insurance receivables. To prevent bad debts, the hospital always confirm to the relevant third party guarantees given to the patient. Maintenance of cooperation agreements with third parties is governed by the Hermina Hospital Group. The bottleneck in the process of accounts receivable management include lack of training, lack of socialization content of the cooperation agreement, the lack of transactions filler, medical resumes charging is not complete, lack of transportation, the insurance company does not list the details of allotment of payments and the length of the process of verification by a third party. It is therefore advisable to develop information systems up to date and integrated between hospital with third parties, the contents of a cooperation agreement socialization, skill improvement, reward and punishment, and procurement of transportation. Keywords: hospital claim, third party

Read More
B-1358
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Setyadi; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Tris Eryando, Iing Ichsan Hanafi, R.B Wahyu
Abstrak:
Sistem Informasi Rumah Sakit merupakan dasar dari kebutuhan pelayanan demi tercapai pelayanan yang prima, pada Rumah Sakit Hermina Lampung terjadi perubahan Sistem Informasi pada bulan Mei 2022, perubahan dilakukan agar tercipta kemudahan dalam pelayanan baik rawat jalan maupun rawat inap. Setelah penggunaan selama satu tahun dirasa masih ada kendala dalam pelayanan di rawat jalan dimana tidak tercapainya kesesuaian standar length of stay rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis implementasi sistem informasi di rawat jalan dengan menggunakan metode struktur, proses, output serta digabungkan dengan metode HOT-Fit. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan cara mixed method dimana dilakukan analisa penelitian secara kuantitatif dan kemudian dilakukan analisa penelitian kualitatif untuk memperkuat hasil dari penelitian, Pengambilan data dilakukan sejak Mei 2023 hingga Juni 2023, Hasil: Tidak terdapat hubungan bermakna antara kualitas sistem maupun kualitas informasi dengan usia, pendidikan terakhir dan jenis kelamin. Pelatihan SDM terhadap sistem informasi masih kurang maksimal dalam pelaksanaan, sistem informasi sering terjadi down server yang dapat menyebabkan slowness dalam pelayanan, belum adanya SPO yang mengatur terhadap penggunaan jaringan wifi di rawat jalan menyebabkan kelambatan pada aplikasi sistem informasi, integrasi sistem terlaksana di setiap unit namun menjadi kendala pada saat penutupan pelayanan pasien karena masih adanya step-step yang tidak dilakukan unit sebelumnya. Kesimpulan: Dengan metode input, proses dan output serta HOT-Fit dapat mengetahui pelatihan SDM, kesiapan sistem, kesiapan sarana dan prasarana, kebijakan, serta integrasi sistem mengalami kendala yang paling bermakna di dalam pelayanan menggunakan sistem informasi di rumah sakit dan dibutuhkan penyelesaian agar dapat tercipta pelayanan yang maksimal 

The Hospital Information System is the basis of service needs in order to achieve excellent service, at Hermina Lampung Hospital there was a change in the Information System in May 2022, changes were made to create convenience in service both outpatient and inpatient. After using it for one year, it is felt that there are still obstacles in outpatient services where standard conformity is not achieved for length of stay outpatient. This study aims to analyze the implementation of information systems in outpatient care using the structure, process, output method and combined with the HOT-Fit method.Method: This research was conducted in mixed methode where a quantitative research analysis was carried out and then a qualitative research analysis was carried out to strengthen the results of the research, data collection was carried out from May 2023 to June 2023,Results: There is no significant relationship between system quality and information quality with age, last education and gender. Human resources training on information systems is still not optimal in implementation, information systems often occurdown server which can cause slowness in service, there is no regulations that regulates the use of wifi networks in outpatient care causing delays in information system applications, system integration is carried out in each unit but becomes an obstacle when closing patient services because there are still step which the previous unit had not done.Conclusion:With the input, process and output methods as well as HOT-Fit, it can be seen that human resources training, system readiness, facility and infrastructure readiness, policies, and system integration experience the most significant obstacles in services using information systems in hospitals and solutions are needed so that services can be created. the maximum.
Read More
B-2356
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anis Sakinah Utami; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Anis mardiyah, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:

Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat pengguna BPJS merasa puas dengan inovasi pelayanan kesehatan melalui program BPJS. Namun, masalah justru terjadi pada pihak instansi kesehatan yang merupakan pihak pendukung program BPJS Kesehatan yang mengalami masalah pending claim. Permasalahan pending claim ini harus segera diatasi karena pending claim menyebabkan kerugian akibat pembiayaan pelayanan lebih besar daripada jumlah klaim yang dibayarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor input, faktor proses, faktor hasil (output) dalam prosedur pengajuan klaim rawat inap pasien BPJS di RS Hermina Ciputat, dan mendapatkan gambaran yang menyebabkan pending claims (output) di RS Hermina Ciputat. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan observasional deskriptif dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitan menunjukkan bahwa faktor input yang mengakibatkan banyaknya pending claims di RS Hermina Ciputat antara lain: faktor Man (kompetensi ataupun pengetahuan dokter spesialis, dokter umum, dan tenaga koder yang kurang terkait klaim BPJS); Money (belum dilaksanakannya secara berkelanjutan evaluasi kinerja kepada dokter spesialis); Methods (belum semua ada dan maksimal untuk panduan praktik klinis/clinical pathways); Materials (aplikasi SIMRS tidak praktis dan lambat, jaringan internet lama); dan Machine (kurangnya sarana dan prasarana). Hasil lain dari penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mengakibatkan pending claims di RS Hermina Ciputat antara lain: kesulitan dalam melengkapi bukti administrasi klaim dan kesalahan pengisian administrasi dengan tepat; pengisian berkas rekam medis yang tidak lengkap; kualitas pengisian resume medis dan pengisian resume medis yang tidak sesuai; kurang lengkapnya bukti-bukti penunjang klaim; pemberian kode untuk diagnosa primer dan sekunder yang tidak tepat; dan kesalahan pengentrian jenis perawatan.


 

BPJS users are satisfied with the innovation of health services through the BPJS program. However, the problem occurred on the health agencies which are supporter institutions of the BPJS Health program which experienced pending claims problem. This problem of pending claims must be addressed immediately because pending claims cause losses due to service costs are greater than the number of claims paid. This study aims to identify input factors, process factors, output factors in the procedure for submitting claims for BPJS inpatient claims at Hermina Ciputat Hospital and to obtain an overview of the causes of pending claims (output) at Hermina Ciputat Hospital. This study uses descriptive observational approach with qualitative methods through in-depth interviews and document review. The results of the study show that the input factors that result in the number of pending claims at Hermina Ciputat Hospital include: Man factor (competence or knowledge of specialist doctors, general practitioners, and coding staff who are not competent handling BPJS claims); Man factor (competence or knowledge of specialist doctors, general practitioners, and coding staff who are lacking in relation to BPJS claims); Money (no continuous performance evaluation or specialist doctors); Methods (not maximal impelementation of practice guidelines/clinical pathways); Materials (the SIMRS application is not user-friendly and slow, slow internet connection); and Machine (lack of facilities and infrastructure).Other results of the study show that the factors resulting in pending claims at Hermina Ciputat Hospital include: difficulties in completing proof of claim administration and administrative filling errors; incomplete filling of medical record files; the quality of filling out medical resumes and filling out medical resumes that are not appropriate; incomplete evidence supporting the claim; inappropriate coding for primary and secondary diagnoses; and errors in determining treatment type.

Read More
B-2347
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renatha Tiur Etty; Pembimbing: Yuli Prapanca Satar; Penguji: Amila Megraini, Rini Rachmawati, Iing Ichsan haanafi,
Abstrak:

Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Bekasi memberikan pelayanan rawat inap khusus untuk wanita, ibu dan anak. Saat ini pemanfaatan rawat inap ibu sangat jauh berbeda dengan pemanfaatan rawat inap anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan penelitian terhadap produk pelayanan atau analisis produk untuk mengetahui kesenjangan antara keinginan konsumen dan calon konsumen dengan pelayanan saat ini demi meningkatkan pemasaran pelayanan rawat inap ibu.Penelitian ini merupakan studi kasus yang bertujuan untuk mendapatkan informasi dan menganalisis tentang karakteristik pelanggan, karakteristik calon konsumen, karakteristik produk, kebijakan manajemen rumah sakit, keinginan konsumen serta calon konsumen terhadap layanan rawat inap. Metode yang digunakan adalah dengan cara survey dan wawancara mendalarn.Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen dan calon konsumen mempunyai keinginan-keinginan terhadap aspek-aspek dalam pelayanari rawat inap yang perlu mendapat perhatian rumah sakit untuk peningkatan pemasaran rawat inap ibu RSIA Hermina Bekasi serta adanya pasar sasaran yang dapat diraih.RSIA Herrnina Bekasi harus mengoptimalkan kualitas pelayanannya yang disesuaikan dengan keinginan konsumen dan calon konsumen serta meningkatkan upaya pemasaran dengan usaha promosi yang spesifik.


 

Product Analysis on Inpatient Mother Care Services for Marketing Measures at Hermina Bekasi Hospital, 2002 Hermina Bekasi Hospital carried out inpatient mother care services especially for woman, mother and child. In this recent, bed occupancy for mother so far differently with bed occupancy for child. One of these efforts can be done is the research on product service or product analysis to know the differentiation between customer wishes and customer candidate wishes, to increase promotion for inpatient mother care services.This research is a case study to figure out the information and analysis on customer characteristics, customer candidate characteristics, product characteristics, hospital management policy, customer and candidate customer wishes to inpatient mother care services. The method used by survey and in depth interview.The result figure out that customer and customer candidate have wishes the aspects of inpatient mother care services which necessarily hospital intention for increasing the market and target market can be achieved.Hermina Bekasi Hospital obliged to optimize the service quality inline with customer and customer candidate wishes, and increasing the efforts marketing with specific promotion matters.

Read More
B-622
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Ningsih; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Iing Ichsan Hanafi, Balgis Alzagladi
Abstrak:
Latar Belakang: Waktu tunggu radioterapi merupakan salah satu indikator mutu penting dalam pelayanan onkologi karena keterlambatan memulai terapi dapat memengaruhi luaran klinis, pengalaman pasien, dan mutu layanan rumah sakit. RS Hermina Bekasi mengalami peningkatan kebutuhan layanan radioterapi yang tidak sepenuhnya diimbangi oleh kapasitas pelayanan sehingga menimbulkan antrean dan waktu tunggu yang panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan Lean Six Sigma dalam mengurangi waktu tunggu radiasi pertama di RS Hermina Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain operational research dengan pendekatan mixed methods explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui time-motion study terhadap pasien BPJS dengan seluruh diagnosis kanker yang menjalani pelayanan radioterapi sejak konsultasi dokter onkologi radiasi hingga radiasi pertama. Sampel terdiri atas 55 pasien periode pre-intervensi, 55 pasien periode post-intervensi, dan 50 pasien periode control. Data kualitatif diperoleh melalui observasi, telaah dokumen, wawancara, dan Focus Group Discussion. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma melalui tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), pemetaan alur proses, Value Stream Mapping, identifikasi aktivitas value added dan non-value added, analisis Pareto, Five Whys, serta Statistical Process Control. Hasil: Sebelum intervensi, total lead time pelayanan radioterapi mencapai 70,05 hari, dengan waktu terpanjang pada tahap konsultasi dokter onkologi radiasi hingga CT Simulator sebesar 61,44 hari. Aktivitas value added sebesar 5,87 hari (8,38%), sedangkan aktivitas non-value added sebesar 64,18 hari (91,62%). Waste dominan adalah waiting, terutama menunggu jadwal CT Simulator akibat keterbatasan kapasitas layanan dan ketersediaan slot LINAC. Intervensi yang dilakukan meliputi penambahan LINAC kedua, penambahan dokter spesialis onkologi radiasi, pengembangan dashboard monitoring antrean radioterapi terintegrasi SIMRS, perbaikan SPO penjadwalan pasca CT Simulator menggunakan kartu kontrol pasien, serta standarisasi pelaksanaan PSQA sebelum radiasi pertama. Setelah intervensi, total lead time menurun menjadi 31,05 hari, sedangkan pada tahap control menurun lebih lanjut menjadi 19,60 hari. Aktivitas value added meningkat menjadi 6,15 hari (19,81%) dan aktivitas non-value added menurun menjadi 24,88 hari (80,13%). Hasil control chart menunjukkan variasi proses yang lebih stabil dibandingkan sebelum intervensi. Kesimpulan: Penerapan Lean Six Sigma mampu mengurangi waktu tunggu radiasi pertama dan meningkatkan efisiensi alur pra-terapi radioterapi di RS Hermina Bekasi. Perbaikan terutama terjadi pada tahapan konsultasi hingga CT Simulator sebagai bottleneck utama pelayanan. Kombinasi peningkatan kapasitas, standarisasi proses, penguatan sistem monitoring, dan pengendalian berkelanjutan terbukti efektif dalam mendukung pencapaian indikator mutu prioritas rumah sakit berupa waktu tunggu radiasi pertama ≤30 hari.
Background: Waiting time for radiotherapy is an important quality indicator in oncology services because delays in treatment initiation may adversely affect clinical outcomes, patient experience, and hospital service quality. Hermina Bekasi Hospital has experienced increasing demand for radiotherapy services that has not been fully matched by service capacity, resulting in long waiting lists and prolonged waiting times. This study aimed to analyze the implementation of Lean Six Sigma in reducing waiting time to first radiation treatment at Hermina Bekasi Hospital. Methods: An operational research design with a mixed-methods explanatory sequential approach was employed. Quantitative data were collected through a time-motion study involving BPJS-insured patients with all cancer diagnoses undergoing radiotherapy services from radiation oncology consultation to first radiation treatment. The study included 55 patients in the pre-intervention phase, 55 patients in the post-intervention phase, and 50 patients in the control phase. Qualitative data were obtained through observation, document review, interviews, and focus group discussions. Data were analyzed using the Lean Six Sigma DMAIC framework, process mapping, Value Stream Mapping, value-added and non-value-added analysis, Pareto analysis, Five Whys analysis, and Statistical Process Control. Results: Before the intervention, total radiotherapy service lead time was 70.05 days, with the longest delay occurring between radiation oncology consultation and CT simulation (61.44 days). Value-added activities accounted for 5.87 days (8.38%), while non-value-added activities accounted for 64.18 days (91.62%). The dominant waste was waiting, particularly for CT simulation scheduling, primarily caused by limited service capacity and LINAC slot availability. Interventions included the addition of a second LINAC, recruitment of an additional radiation oncologist, development of a radiotherapy queue monitoring dashboard integrated with the hospital information system, revision of post-CT simulation scheduling procedures using patient control cards, and standardization of PSQA implementation before first radiation treatment. Following the intervention, total lead time decreased to 31.05 days and further decreased to 19.60 days during the control phase. Value-added activities increased to 6.15 days (19.81%), while non-value-added activities decreased to 24.88 days (80.13%). Control chart analysis demonstrated improved process stability compared with the pre-intervention period. Conclusion: Lean Six Sigma implementation successfully reduced waiting time to first radiation treatment and improved the efficiency of the radiotherapy pre-treatment process at Hermina Bekasi Hospital. The most substantial improvement occurred in the consultation-to-CT simulation stage, which was identified as the primary service bottleneck. A combination of capacity expansion, process standardization, monitoring system enhancement, and continuous control proved effective in supporting the hospital’s priority quality indicator of maintaining waiting time to first radiation treatment within 30 days.
Read More
T-7604
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silmi Noor Rachni; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Masyitoh, Iing Ichsan Hanafi, Lies Nugrohowati
Abstrak:
Latar Belakang: Rumah Sakit Hermina telah menetapkan Peraturan Direktur Utama PT Medika Loka Manajemen Nomor 438 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Anti Fraud, Administrasi Klaim dan Pembinaan Jaminan Kesehatan Nasional sebagai pedoman dalam memperkuat tata kelola pelayanan JKN. Salah satu ruang lingkup kebijakan tersebut adalah pengelolaan administrasi klaim melalui proses koding dan verifikasi internal sebagai titik kendali sebelum pengajuan klaim kepada BPJS Kesehatan. Implementasi yang belum optimal pada kedua proses tersebut dapat menyebabkan klaim pending, klaim tidak layak, serta meningkatkan potensi fraud administratif. Variasi tingkat klaim pending antar rumah sakit menunjukkan adanya perbedaan implementasi kebijakan pada tingkat operasional. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn sebagai kerangka analisis yang meliputi sumber daya, komunikasi, karakteristik organisasi pelaksana, komitmen pelaksana, kondisi lingkungan, dan kinerja implementasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 18 informan dan telaah dokumen di RS Hermina X dan RS Hermina Y, kemudian dianalisis secara tematik dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil: Implementasi kebijakan pada aspek pengelolaan administrasi klaim menunjukkan perbedaan antara kedua rumah sakit. RS Hermina Y menerapkan verifikasi internal berlapis, monitoring berbasis dashboard, evaluasi rutin, serta adaptasi yang lebih cepat terhadap perubahan regulasi. Sebaliknya, RS Hermina X masih menghadapi kendala pada standardisasi verifikasi internal, pemanfaatan sistem informasi, monitoring, dan koordinasi lintas profesi. Perbedaan implementasi tidak ditentukan oleh jumlah sumber daya, tetapi oleh kemampuan organisasi mengelola sumber daya, membangun komunikasi, memperkuat koordinasi, serta menumbuhkan komitmen pelaksana. Belum adanya standar operasional prosedur verifikasi internal yang seragam di tingkat grup turut menyebabkan variasi implementasi antar rumah sakit. Kesimpulan: Implementasi Kebijakan Pengelolaan Anti Fraud, Administrasi Klaim dan Pembinaan JKN pada aspek pengelolaan administrasi klaim dipengaruhi oleh sumber daya, komunikasi, karakteristik organisasi, komitmen pelaksana, dan kondisi lingkungan. Keberhasilan implementasi lebih ditentukan oleh kemampuan organisasi mengintegrasikan faktor-faktor tersebut melalui kepemimpinan operasional, pengendalian internal, dan standardisasi proses verifikasi internal dibandingkan oleh ketersediaan sumber daya semata. Penguatan standar verifikasi internal, optimalisasi sistem informasi, dan monitoring berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kualitas administrasi klaim serta mendukung pencegahan potensi fraud administratif.

Background: Hermina Hospitals established the Board of Directors Regulation No. 438 of 2024 on Anti-Fraud, Claims Administration, and National Health Insurance (NHI) Development to strengthen JKN governance. This study focused on the implementation of the claims administration component, particularly coding and internal verification, as key control points before claims are submitted to BPJS Kesehatan. Variations in pending claim rates among hospitals indicate differences in policy implementation. Methods: This qualitative study applied the Van Meter and Van Horn policy implementation model. Data were collected through in-depth interviews with 18 informants and document reviews at Hermina Hospital X and Hermina Hospital Y. The data were analyzed using thematic analysis with source and method triangulation. Results: The implementation of the Anti-Fraud, Claims Administration, and National Health Insurance Development Policy, particularly in the claims administration component, differed between the two hospitals. Hermina Hospital Y implemented a multilayered internal verification system, utilized a monitoring dashboard, conducted routine evaluation meetings, and demonstrated greater adaptability to changes in BPJS Kesehatan regulations. In contrast, Hermina Hospital X continued to encounter challenges in standardizing internal verification, optimizing information technology utilization, conducting monitoring activities, and strengthening interdisciplinary coordination. These differences were reflected in the lower pending claim rates achieved by Hermina Hospital Y compared with Hermina Hospital X. Factors influencing policy implementation included resources, communication, characteristics of implementing organizations, implementers' commitment, and environmental conditions. Conclusion: The implementation of the Anti-Fraud, Claims Administration, and National Health Insurance Development Policy, particularly in the claims administration component, was influenced by resources, communication, characteristics of implementing organizations, implementers' commitment, and environmental conditions, as described in the Van Meter and Van Horn policy implementation model. Strengthening standardized internal verification, optimizing information technology, enhancing interdisciplinary coordination, and conducting continuous monitoring and evaluation are essential to improving the quality of claims administration and supporting the prevention of administrative fraud within the NHI program continuous monitoring and evaluation are essential to prevent administrative fraud and improve the quality of NHI claims management.
Read More
B-2632
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saza Fitria; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Adik Wibowo, Iing Ichsan Hanafi, Reny Puspita
Abstrak: Sebagai respons terhadap pandemi COVID-19, Grup Rumah Sakit Hermina pada tahun 2020 telah menerapkan pelayanan telemedicine Halo Hermina, namun efektivitas dari layanan ini masih belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pelayanan telemedicine di Grup Rumah Sakit Hermina. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi metode potong lintang yang dilakukan pada tahun 2022, terhadap total 680 sampel yang terdiri 212 pasien, 239 karyawan dan 229 manajemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan telemedicine dengan aplikasi Halo Hermina dipandang efektif oleh 94% pasien, 88% karyawan, dan 91% manajemen. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa yang berhubungan dengan efektivitas pelayanan telemedicine adalah perspektif proses bisnis internal, pembelajaran dan pertumbuhan, dan keuangan, pelanggan, persepsi manfaat yang didapatkan, kemudahan, sikap terhadap penggunaan, kecenderungan perilaku. Hasil uji multiple regresi menunjukkan bahwa variabel sikap terhadap penggunaan, kecenderungan perilaku, pertumbuhan dan pembelajaran, pelanggan memiliki hubungan yang bermakna terhadap efektifitas pelayanan telemedicine. Variabel terkait balanced scorecard (BSC) memiliki nilai koefisien determinasi sebesar 32,9 % untuk pihak manajemen dan variabel terkait technology acceptance model (TAM) memiliki nilai koefisien determinasi sebesar 58,4% untuk pasien dan 49,8% untuk karyawan, dengan nilai p<0,05. Rumah sakit dapat menggunakan pendekatan berbasis TAM dan BSC dalam meningkatkan layanan telemedicine Halo Hermina agar dapat menjadi lebih efektif. Untuk meningkatkan capaian penggunaan layanan Halo Hermina, grup rumah sakit Hermina dapat mengembangkan aplikasi halo hermina menjadi lebih mudah digunakan, selain itu secara bertahap memperbaiki sistem digitalisasi rumah sakit termasuk pencatatan pendapatan telemedicine sehingga telemedicine lebih terlihat perananya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit.
As a response to the COVID-19 pandemic, Hermina Hospital Group in 2020 had implemented a telemedicine service known as Halo Hermina; however, the effectiveness of this service remains unknown. The aim of this study is to analyze the effectiveness of telemedicine services in Hermina Hospital Group. This study is conducted in 2022 on 680 subjects consist of 212 patient, 239 staff and 229 management, using a quantitative approach and a cross-sectional design. The results of this study shows that the telemedicine services using Halo Hermina application was deemed effective by 94% of patients, 88% of hospital employees, and 91% of management staffs. Bivariate analysis showed that variables significantly associated with effectiveness were internal business process, learning and growth, customer as well as finance, perceived usefulness, attitude toward using, and behavioral intention to use. Multiple regression model showed that attitude toward using, behavioral intention to use, learning and growth, as well as customer had significant association with effectiveness of telemedicine. Variables related to balanced scorecard (BSC) in the form of internal processes learning & growth, and finance have a determination coefficient of 32,9 % for hospital management, all with p values of <0.05. Variables related to technology acceptance model (TAM) in the forms of attitude towards using and behavioral intent to use have determination coefficient of 58,4 % and 49.8% for patients and employees, respectively. The hospital may use a TAM- and BSC-based approach to increase the effectiveness of telemedicine service with the Halo Hermina application. To increase the use of the Halo Hermina application, Hermina Hospital Group should improve the application in order to make it more user-friendly, in addition to gradually improve the digitalization of healthcare services including the recording of revenues from telemedicine, in order to more prominently view the impact of telemedicine services to the hospital?s performance.
Read More
B-2298
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reli Giusman; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Iing Ichsan Hanafi, Sri Mulyani
Abstrak: Pandemi COVID-19 telah menyebabkan berbagai rumah sakit di dunia mengalami kesulitan dalam memberikan pelayanan karena jumlah pasien melonjak dengan waktu singkat. Pandemi yang meluas dengan mortalitas yang tinggi di berbagai belahan negara mengakibatkan rawat inap pasien karena penyakit COVID-19 menjadi tinggi sehingga biaya perawatannya pun mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis biaya pengobatan COVID-19 pasien rawat inap Rumah Sakit X Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pengobatan pasien rawat inap COVID-19 di RS X adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, tingkat keparahan, penyakit penyerta, lama rawat, status keluar, DPJP dan kolaborasi dokter.
Read More
B-2238
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive