Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Elvira Damayanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Ade Kurdiman
Abstrak: Industri pertambangan menerapkan sistem shift kerja untuk meningkatkan produktivitasnya. Salah satu masalah yang tidak dapat dihindari dari shift kerja adalah kelelahan. Kelelahan merupakan perasaan subjektif dari aktivitas secara mental maupun fisik yang mengarah pada penurunan konsentrasi, kewaspadaan, meningkatkan kesalahan hingga kecelakaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelelahan pada operator tambang di PT Harmoni Panca Utama dan PT Hasta Panca Mandiri Utama tahun 2021. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan data sekunder penelitian Dr. Hendra S.K.M., M.K.K.K. dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 101 responden. Variabel penelitian meliputi kelelahan dan faktor risiko yang terdiri dari faktor terkait pekerjaan (masa kerja, shift kerja, tingkat stres kerja, lingkungan kabin) dan faktor tidak terkait pekerjaan (usia, status gizi, status kesehatan, tempat tinggal, kuantitas dan kualitas tidur). Beberapa variabel pada penelitian ini diukur menggunakan instrumen standar, seperti kuesioner checklist individual strength-20 untuk mengukur kelelahan, kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kuantitas dan kualitas tidur, dan kuesioner perceived stress scale (PSS) untuk mengukur tingkat stres kerja. Analisis hubungan faktor risiko kelelahan dengan kelelahan operator menggunakan uji chi-square. Analisis faktor risiko yang dominan berhubungan dengan kelelahan didapatkan melalui uji regresi logistik berganda. Hasil analisis didapatkan 13,9% operator mengalami kelelahan. Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan kelelahan pada operator hanya faktor terkait pekerjaan, yaitu shift kerja (p=0,01; OR=7,38; CI 95%: 1,55-7,38) dan tingkat stres kerja (p=0,02; OR=10,08; CI 95%: 1,26- 80,5). Faktor dominan yang berhubungan dengan kelelahan adalah tingkat stres kerja. Operator yang memiliki tingkat stres sedang-berat berisiko 8,7 kali mengalami kelelahan dibandingkan operator yang memiliki tingkat stres ringan. Saran bagi perusahaan diantaranya melakukan pelatihan fatigue awareness kepada pekerja, meningkatkan program manajemen stres, dan pengawasan pada pekerja shift malam. Bagi pekerja diharapkan untuk melakukan tidur siang sebelum bekerja pada shift malam dan melakukan relaksasi, peregangan, serta rekreasi di waktu luang atau libur.
The mining industry applies a work shift system to increase its productivity. One of the unavoidable issue of shift work is fatigue. Fatigue is a subjective feeling of mental and physical activity that leads to decreased concentration, alertness, increased errors and accidents. The purpose of this study is to analyze fatigue on mining operators at PT Harmoni Panca Utama and PT Hasta Panca Mandiri Utama in 2021. This research is quantitative using secondary data from Dr. Hendra S.K.M., M.K.K.K. with a cross sectional approach. The sample in this study are 101 respondents. Research variables include fatigue and risk factors consisting of work-related factors (work period, work shifts, work stress levels, cabin environment) and non-work-related factors (age, nutritional status, health status, place of residence, sleep quantity and quality). Several variables in this study were measured using standard instruments, such as Cheklist Individual Strength-20 Questionnaire to measure fatigue, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Questionnaire to measure sleep quantity and quality, and Perceived Stress Scale (PSS) Questionnaire to measure work stress levels. Analysis of the relationship between fatigue risk factors and operator fatigue using the chi-square test. The analysis of the dominant risk factors associated with fatigue is obtained through multiple logistic regression tests. The results of the analysis showed that 13.9% of operators experienced fatigue. The only risk factors associated with operator fatigue were work-related factors, namely work shifts (p=0.01; OR=7.38; 95% CI: 1.55-7.38) and work stress levels (p= 0.02; OR=10.08; 95% CI: 1.26-80.5). The dominant factor related to fatigue is the level of work stress. Operators who have moderate-to-severe stress have 8.7 times the risk of experiencing fatigue compared to operators who have low stress levels. Suggestions for companies include conducting fatigue awareness training for workers, increasing stress management programs, and supervising night shift workers. Workers are expected to take a nap before working on the night shift and do relaxation, stretching, and recreation in their spare time or holiday
Read More
S-10979
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diniyah Indah Fahmi Putri; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Junaidi, Ade Kurdiman
Abstrak: Indonesia merupakan negara penghasil batu bara terbsesar kedua di Asia Pasifik. Industribatu bara merupakan salah satu industri penopang utama ekonomi Indonesia. Aktivitasindutri batu bara cukup banyak di Indonesia. Industri batu bara merupakan industridengan tingkat risiko tingi (high risk). Data internasional dan nasional menunjukan angkakematian dan kecelakaan di industri batu bara cukup tinggi. Beberapa hasil penelitianmenemukan bahwa salah satu penyebab terjadinya kecelakaan tersebut yaitu prosespenilaian risiko yang tidak efektif dan effisien. Penelitian ini merupakan studi deskriptifdengan pendekatan studi kasus (kajian) terhadap implementasi penilaian risiko padaaktivitas hauling batu bara PT.HPU jobsite MGA dan melakukan analisis bandingterhadap hasil tinjauan literatur penilaian risiko yang ideal. Tujuan dari penelitian ini yaitumengetahui proses penilaian risiko yang ideal berdasarkan literatur dan melakukananalisis banding dengan salah satu contoh pelaksanaannya di lapangan guna mengetahuiperbedaan dan persamaan antara konsep yang ideal dengan praktek di lapangan. Hasilpenelitian menunjukan terdapat beberapa perbedaan pada pelaksanaan penilaian risikopada literatur dan kasus. Dalam literatur identifikasi bahaya & risiko dapat menggunakanmetode tertentu yang sudah dilengkapi dengan form penilaian sementara kasus hanyamenggunakan brainstorming dan form yang dikembangkan sendiri. Selain itu, terdapatbeberapa komponen yang belum teridentifikasi dengan lengkap di dalam kasus namundisebutkan di dalam literatur. Pada tahap analisis, perbedaan terdapat pada prosespenentuan nilai probabilitas kejadian dimana literatur menggunakan analisis FTA atauETA sementara kasus masih melibatkan professional judgment semata. Namun secarakeseluruhan, hasil analisis banding terhadap pelaksanaan penilaian risiko pada kasus danproses penilaian risiko yang ideal berdasarkan literatur tidak menunjukan perbedaan yangbesar dan signifikan.Kata kunci: penilaian risiko; studi kasus; tinjauan literatur; analisis banding (komparasi);pertambangan batu bara.
Read More
S-10286
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Axell Raditya Dhiaurrahman; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Pajanan konsentrasi PM2,5 merupakan salah satu bahaya kimia di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Dalam keilmuan Higiene Industri, salah satu tahapan yang ditujukan untuk menanggulangi pajanan konsentrasi PM2,5 di lingkungan kerja adalah evaluasi, yang dapat dilakukan dengan cara mengukurnya dengan alat ukur berstandar. Akan tetapi, harga dan biaya operasional alat ukur tersebut sangat tinggi. Seiring berkembangnya teknologi, telah dikembangkan alat realtime monitoring PM2,5 berbasis low-cost sensor. Akan tetapi, validitas hasil pengukuran alat tersebut masih belum diketahui secara komprehensif. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis validitas alat realtime monitoring PM2,5 berbasis low-cost sensor terhadap DustTrak TSI 8530 sebagai alat ukur referensi di area indoor dan outdoor. Penelitian ini menggunakan desain studi komparasi dengan pendekatan analitik observasional. Validitas alat tersebut akan dianalisis melalui perbandingan hasil pengukuran konsentrasi PM2,5 antara kedua alat tersebut berdasarkan kriteria presisi, bias, linearitas, dan error sesuai dengan panduan yang ada pada SNI Nomor 9178 tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengujian di indoor, kriteria validitas yang diterima sesuai persyaratan terdiri dari Standar Deviasi (SD) yang didapatkan sebesar 1,25 μg/m^3, Koefisien Variasi (KV) sebesar 5,33%, Intercept sebesar -3,419, dan Koefisien Determinasi (R²) sebesar 0,924. Akan tetapi, terdapat kriteria validitas yang tidak diterima sesuai persyaratan, yaitu slope yang didapatkan sebesar 0,515 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 26,9 μg/m^3. Selanjutnya, pada pengujian outdoor kriteria validitas yang diterima sesuai persyaratan terdiri dari SD yang didapatkan sebesar 3,81 μg/m^3, KV sebesar 8,35%, Intercept sebesar -3,454, dan R² sebesar 0,916. Akan tetapi, terdapat kriteria validitas yang tidak diterima sesuai persyaratan, yaitu slope yang didapatkan sebesar 0,532 dan RMSE sebesar 50,2 μg/m^3. Maka dari itu, hasil Uji Validitas di kedua area pengukuran tidak valid karena kriteria slope dan RMSE di dua area pengukuran tidak diterima sesuai persyaratan, sehingga diperlukan adanya rumus adjusted sensor concentration ke dalam program alat tersebut agar dapat valid dan setara dengan DustTrak TSI 8530.

Exposure to PM2,5 concentration is one of the chemical hazards in the workplace that can cause various health problems. In Industrial Hygiene science, one of the stages aimed at overcoming exposure to PM2,5 concentration in the workplace is evaluation, which can be done by measuring it with standardized measuring instruments. However, the price and operational costs of these measuring instruments are very high. As technology develops, realtime monitoring device for PM2,5 based on low-cost sensors have been developed. However, the validity of the measurement results of these tools is still not comprehensively known. Therefore, this study aims to determine and analyze the validity of realtime monitoring device for PM2,5 based on low-cost sensors against the DustTrak TSI 8530 as a reference measuring tool in indoor and outdoor areas. This study uses a method comparison study with a analytical observasional approach. The validity of the tool will be analyzed by comparing the results of PM2,5 concentration measurements between the two tools based on the criteria of precision, bias, linearity, and error in accordance with the guidelines in SNI Number 9178 of 2023. The results of the study show that in indoor testing, the validity criteria accepted according to the requirements consist of a Standard Deviation (SD) obtained of 1.25 μg/m^3, a Coefficient of Variation (CV) of 5.33%, an Intercept of -3.419, and a Coefficient of Determination (R²) of 0.924. However, there are validity criteria that are not accepted according to the requirements, namely the slope obtained of 0.515 and a Root Mean Square Error (RMSE) of 26.9 μg/m^3. Furthermore, in the outdoor testing, the validity criteria accepted according to the requirements consist of SD obtained at 3.81 μg/m^3, CV at 8.35%, Intercept at -3.454, and R² at 0.916. However, there are validity criteria that are not accepted according to the requirements, namely the slope obtained at 0.532 and RMSE at 50.2 μg/m^3. Therefore, the results of the validation test in both measurement areas are invalid because the slope and RMSE criteria in the two measurement areas are not accepted according to the requirements, so that an adjusted sensor concentration formula is needed in the device program so that it can be valid and equivalent to the DustTrak TSI 8530.
Read More
S-12278
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maheswara Ardhani Nararya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Tekanan panas merupakan salah satu faktor bahaya fisik di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan akibat panas. Oleh karena itu, diperlukan penilaian tekanan panas yang umumnya menggunakan indeks Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT). Namun, penggunaan alat ukur WBGT standar masih memiliki beberapa keterbatasan. Sebagai alternatif, telah dikembangkan alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). Namun, validitas hasil pengukuran alat tersebut masih belum diketahui secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis validitas alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor terhadap alat ukur WBGT standar pada area indoor dan outdoor. Penelitian menggunakan desain studi komparasi (method comparison study) dengan pendekatan kuantitatif. Analisis validitas dilakukan melalui perbandingan hasil pengukuran alat real-time monitoring berbasis low-cost sensor dan alat ukur WBGT standar berdasarkan kriteria presisi, bias, linearitas, dan error pada parameter suhu kering, suhu basah alami, suhu radian, kelembapan relatif, dan nilai WBGT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu kering memiliki validitas yang baik pada pengukuran indoor dan outdoor. Suhu basah alami dan suhu radian menunjukkan validitas yang baik pada pengukuran indoor, namun mengalami penurunan validitas pada pengukuran outdoor. Kelembapan relatif menunjukkan presisi dan linearitas yang baik, namun validitasnya belum optimal karena nilai bias dan error yang relatif tinggi. Nilai WBGT menunjukkan validitas yang sangat baik pada pengukuran indoor, namun masih memerlukan peningkatan akurasi pada pengukuran outdoor. Secara kesuluruhan, validitas alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor lebih baik pada pengukuran indoor dibandingkan outdoor. Alat yang dikembangkan ini berpotensi digunakan sebagai sistem pemantauan tekanan panas secara real-time, terutama pada lingkungan indoor, dengan tetap memerlukan penyempurnaan alat untuk meningkatkan validitas pengukuran outdoor.

Heat stress is one of the physical hazards in the workplace that may cause various heat-related health effects. Therefore, heat stress assessment is required, which commonly assessed using Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT) index. However, the use of standard WBGT instruments still has several limitations. As an alternative, a low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device integrated with an Internet of Things (IoT) system has been developed. However, the validity of its measurement results has not yet comprehensively known. This study aimed to determine and analyze the validity of a low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device against a standard WBGT instrument in indoor and outdoor environments. This study employed a quantitative method comparison design. Validity analysis was assessed by comparing measurements obtained from the low-cost sensor-based real-time monitoring device and the standard WBGT instrument based on precision, bias, linearity, and error for dry-bulb temperature, natural wet-bulb temperature, globe temperature, relative humidity, and the WBGT value. The results showed that dry-bulb temperature demonstrated good validity in both indoor and outdoor measurements. Natural wet-bulb temperature and globe temperature showed good validity in indoor measurements but experienced a decrease in validity during outdoor measurements. Relative humidity demonstrated good precision and linearity, but its validity was not optimal due to relatively high bias and error values. The WBGT value showed excellent validity in indoor measurements, but still required improved accuracy in outdoor environments. Overall, the validity of the low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device was better in indoor than outdoor environments. The developed device has the potential to be used as a real-time heat stress monitoring system, particularly in indoor settings, although further improvements are needed to enhance the validity of outdoor measurements.
Read More
S-12291
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cesilia Bunga Tampubolon; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguj: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi persoalan serius di sektor pertambangan karena industri ini tergolong berisiko tinggi, sementara safety performance kerap digunakan sebagai indikator kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Penelitian yang ada masih relatif menguji safety performance dari satu faktor secara terpisah. Oleh karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh praktik manajemen K3 terhadap safety performance melalui safety knowledge pada pekerja industri pertambangan tahun 2026. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan metode survei yang diisi oleh 769 pekerja di dua perusahaan pertambangan di Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square serta secara multivariat menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia (p=0,01) dan posisi pekerjaan (p=0,029) memiliki hubungan yang signifikan dengan safety performance, sedangkan masa kerja (p=0,801) dan pendidikan (p=0,97) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa praktik manajemen K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety performance, praktik manajemen K3 juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety knowledge, serta safety knowledge berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety performance. Selain itu, safety knowledge terbukti memediasi secara parsial pengaruh praktik manajemen K3 terhadap safety performance. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan memperkuat konsistensi implementasi praktik manajemen K3, terutama aspek safety training dan safety communication and feedback, serta safety performance dalam aspek safety participation.

Workplace accidents remain a serious issue in the mining sector because the industry is considered high-risk, while safety performance is often used as an indicator of occupational safety and health (OHS) performance. Previous studies have relatively examined safety performance from a single factor separately. Therefore, this study aimed to analyze the relationship between OHS management practices and safety performance through safety knowledge among mining workers in 2026. This study used a cross-sectional design with a survey method involving 769 workers from two mining companies in Indonesia. Data were collected using a questionnaire and analyzed bivariately using the Chi-Square test and multivariately using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results showed that age (p = 0.01) and job position (p = 0.029) were significantly associated with safety performance, whereas years of service (p = 0.801) and education level (p = 0.97) were not significantly associated. The results also showed that OHS management practices had a positive and significant effect on safety performance, OHS management practices had a positive and significant effect on safety knowledge, and safety knowledge had a positive and significant effect on safety performance. In addition, safety knowledge was proven to partially mediate the effect of OHS management practices on safety performance. This study suggests that companies should strengthen the consistency of implementing OHS management practices, especially in safety training and safety communication and feedback, as well as improve safety performance in the aspect of safety participation.
Read More
S-12432
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abstrak: Industri petrokimia beroperasi sepanjang jam, durasi kerja tanpa henti selama operasi normal, terlebih pada kegiatan turn around, program pemeliharaan yang harus sesuai target dan tepat waktu. Pada pelaksanaan turn around jumlah jam kerja diperpanjang tidak seperti hari biasanya, hal ini dapat mengakibatkan personil terganggu dengan kuantitas tidur, kualitas tidur dan sleep hygiene individu, kondisi seperti ini mengakibatkan potensi kelelahan akut, mengurangi performance dan berpotensi meningkatnya jumlah kejadian kecelakaan kerja. Penelitian analitik dengan desain cross-sectional ini bertujuan mengetahui pola dan gambaran kuantitas tidur, kualitas tidur, durasi kerja pada tenaga kerja turn around terhadap potensi kelelahan kerja akut. Penelitian ini menggunakan beberapa alat pengumpulan data yaitu: kuesioner, tensimeter, thermogun dan alat actigraph fitbit. Analisis data menggunakan uji beda mean dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara variable kuantitas tidur (p value = 0,001; OR = 0,115), kualitas tidur (p value = 0,030; OR = 8,143), dan durasi kerja (p value = 0,013; OR = 5,769) dengan variable potensi kelelahan kerja akut, penelitian ini terbukti dengan hasil pengukuran actigraph fitbit dengan rata-rata tidur 235 menit atau setara dengan 3 jam 55 menit serta durasi kerja yang lebih dari 12 jam setiap harinya selama kegiatan turn around
Read More
T-5588
Depok : FKM UI, Depok: FKMUI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sora Yullyana; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Ade Kurdiman, Wahyudin
Abstrak: Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak urutan ke-2 di dunia. Selama beberapa dekade terakhir, tuberkulosis juga muncul pada populasi anak. Tahun 2017, proporsi kasus tuberkulosis anak masih mengalami peningkatan menjadi 5.86 per 100.000 penduduk pada umur 0-4 tahun dan 5.89 per 100.000 penduduk pada usia 5-14 Tahun. Studi ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tuberkulosis anak di Kota Administrasi Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi adalah semua kasus tuberkulosis anak yang ditemukan di pelayanan kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2017. Kelompok kasus adalah seluruh anak berumur 0-14 tahun yang sudah didiagnosis tuberkulosis positif berdasarkan sistem skoring tuberkulosis paru anak dan tercatat dalam register di Puskesmas wilayah Jakarta Timur. Kelompok kontrol adalah anak 0-14 tahun yang tinggal di wilayah Jakarta Timur dan tidak terdiagnosis tuberkulosis paru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kurang gizi kelompok kasus sebesar 29.17% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis T-test menjelaskan bahwa anak dengan gizi buruk memiliki risiko TB paru dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal (OR 3.54; 95% CI 1.56-8.04; p 0,002). Hasil analisis regresi logistik menjelaskan bahwa anak dengan malnutrisi berisiko tuberkulosis paru 3.37 dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal setelah dikontrol oleh variabel kondisi atap, pencahayaan, riwayat imunisasi dasar, dan riwayat kontak kasus tuberculosis (95% CI 1.10-10.25; p 0.034). Kegiatan preventif dan promotif merupakan upaya dalam pencegahan dan pengendalian tuberkulosis paru khususnya pada anak. Upaya preventif dapat dilakukan melalui Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Untuk memperkuat Gerakan TOSS TB, Pemerintah bersama masyarakat dapat melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Read More
T-5761
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aditya Kurnia Pratama;Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Dadan Erwandi, Ade Kurdiman, Muhammad Maududy
Abstrak: Perusahaan X adalah perusahaan kontraktor penambangan yang fokus pada eksplorasibatu bara, yang memiliki proyek di area kerja Y. Operasi penambangan perusahaan Xterdiri dari beberapa proses, seperti persiapan, pembukaan lahan, pemuatan,pengangkutan dan pembuangan. Berdasarkan data sekunder, selama 2016-2018 ada 17kasus kerusakan properti dan 3 kasus cedera meskipun HIRDC telah dilakukan.Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat risiko semua kegiatan perusahaan Xdengan menggunakan metode FMEA. 58 mode kegagalan potensial diidentifikasi, 18mode kegagalan diidentifikasi selama proses persiapan, 9 mode kegagalan diidentifikasiselama proses pembukaan lahan, 9 mode kegagalan diidentifikasi selama prosespemuatan, 16 mode kegagalan diidentifikasi selama proses pengangkutan, dan 6 modekegagalan diidentifikasi selama proses dumping. 8 mode kegagalan jatuh ke dalamkategori risiko extream, 27 mode kegagalan ke dalam risiko tinggi dan 23 modekegagalan ke dalam kategori risiko sedang. Rekomendasi yang diusulkan ada dalampenelitian ini..Kata kunci : failure modes and effects analysis (FMEA), Risiko Keselamatan,Kegiatan operasional kontraktor pertambangan.
Read More
T-5716
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Novianti; Pembimbing: Doni Hikmat Ramadhan; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra; Ade Kurdiman, Wahyudin Lihawa
Abstrak: Sesuai dengan target pembangunan nasional Indonesia yaitu pembangunan infrastruktur, khususnya infrastruktur yang mendukung konektivitas antardaerah dalam bentuk jalan tol sangat intensif dilakukan. Namun demikian, seiring dengan perkembangan tersebut, aspek K3 juga muncul sebagai topik utama yang memicu perhatian untuk diteliti oleh penulis. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pada tahun 2018 ada deretan insiden kecelakaan kerja yang terjadi di industri konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja subyektif dalam proyek pembangunan jalan tol PT X, Jakarta. Desainnya adalah cross sectional dan sampel terdiri dari 120 pekerja yang menanggapi kuesioner dasar yang dikelola sendiri untuk nutrisi pekerja, karakteristik individu dan karakteristik pekerjaan. Kelelahan diukur dengan Kuesioner IFRC dengan 30 item. Karakteristik psikologis kerja terdiri dari tuntutan di tempat kerja, dukungan sosial, peran dalam organisasi, dan kepuasan kerja yang diukur dengan Kuisioner COPSOQ III. Sleep hygiene diukur dengan Sleep Hygiene Index dan kualitas tidur diukur dengan kuesioner PSQI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kelelahan kerja subyektif dengan riwayat penyakit, kegiatan olahraga, masa kerja, shift kerja, tuntutan tempat kerja, peran organisasi, sleep hygiene, kualitas tidur. Namun, tidak ada korelasi yang menunjukkan antara kelelahan kerja subyektif dengan usia, status perkawinan, perilaku merokok, posisi kerja, durasi kerja harian, BMI, kegiatan minum kopi, kegiatan konsumsi minuman energi, konsumsi gorengan, dukungan sosial, kepuasan kerja.
Read More
T-5743
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delfianda; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Dadan Erwandi; Hendra; Ade Kurdiman, Wahyudin
Abstrak: ABSTRAK Nama : Delfianda Program Studi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul : Kajian Kinerja Keselamtan Kerja Ditinjau Dari Keterlibatan Manajemen Di Departemen Industrial Plant PT X Tahun 2019 Pembimbing : Doni Hikmat Ramdhan, S.K.M, M.K.K.K, Ph.D Industri jasa konstruksi memiliki resiko kecelakaan kerja yang tinggi. Berdasarkan catatan European Agency for Health & Safety at Work tahun 2007, Health and Safety Executive di tahun 2009, serta National Institute for Occupational Safety and Health di tahun 2010 yang dirangkum oleh Conchie, Moon, & Duncan (2013) menyatakan bahwa industri konstruksi mencatat kecelakaan kerja terbanyak, baik berupa cidera dan kematian di Eropa dan Internasional. Keterlibatan Manajemen merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan kinerja Kesehatan, Keselamatan, Keamanan dan Lingkungan (K3L). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterlibatan manajemen dalam kinerja keselamatan. Penelitian ini deskriptif dengan metode cross sectional yang dijalankan dengan wawancara mendalam, observasi lapangan dan juga kuesioner sebanyak 93 orang pada Maret-Mei 2019. Variabel yang dilihat adalah iklim keselamatan, tanggung jawab keselamatan, dan kinerja keselamatan. Hasil penelitian didapatkan bahwa keterlibatan manajemen masih kurang menonjol dibuktikan dengan wawancara dan obsevasi lapangan walaupun pada laporan baik. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai kebijakan K3L, kurangnya komunikasi, lemahnya konsistensi dan komitmen penerapan K3L, serta kurangnya tindakan proaktif dan inisiatif saat menghadapi masalah K3L. Hal yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan manajemen ditunjukan dengan tanggung jawab dengan menyusun dan melaksanakan program pelatihan kepemimpinan bagi semua level serta menjaga pelaksanaan program K3L di tempat kerja. Kata kunci: Kepemimpinan, Tanggung Jawab Keselamtan, Iklim & Kinerja Keselamatan ABSTRACT Name : Delfianda Study Program : Occupational Health and Safety Title : Study of Work Safety Performance Viewed from the Management Involvement in PT X 2019 Counsellor : Doni Hikmat Ramdhan, S.K.M, M.K.K.K, Ph.D The construction service industry has a high risk of workplace accidents. Based on records of the European Agency for Health & Safety at Work in 2007, the Health and Safety Executive in 2009, and the National Institute for Occupational Safety and Health in 2010 summarized by Conchie, Moon, & Duncan (2013) stated that the construction industry recorded accidents most work, both in the form of injury and death in Europe and International. Management involvement is an important component in improving Health, Safety, Security and Environment (K3L) performance. This study aims to examine management involvement in safety performance. This is a descriptive study with a cross sectional method which is carried out by in-depth interviews, field observations and questionnaires as many as 93 people in March-May 2019. The variables seen are climate safety, safety accountability, and safety performance. The results showed that management involvement was still less prominent as evidenced by interviews and field observations even in good reports. This is due to a lack of understanding of HSE policies, lack of communication, lack of consistency and commitment to implementing HSE, as well as a lack of proactive actions and initiatives when dealing with HSE problems. Things that can be applied to improve management involvement are indicated by field safety accountability that results in good safety performance with safety leadership, among others by compiling and implementing safety leadership training programs for all levels of leadership and maintaining monitoring of the implementation of the K3L program in the workplace. Keywords: Leadership, Safety Acountability, Safety Climate, and Safety Performance
Read More
T-5760
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive