Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Melita; Pembimbing: Mardiati Nadjibi; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Pujiyanto, Rosmawati, Okta Mutiara Marlina
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kunjungan lansia ke posbindu lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Bintara Kota Bekasi tahun 2017. Penelitian kuantitatif dengan disain studi potong lintang ini mencakup sampel 70 orang pralansia dan lansia, data dikumpulkan dengan kuesioner dan dilanjutkan wawancara kepada responden lansia yang sering datang dan yang tidak pernah datang, kader posbindu dan pemegang Program Lansia. Hasil studi menunjukkan bahwa 85,2% peserta lansia yang mengetahui manfaat berkunjung ke posbindu lanjut usia Faktor-faktor yang berhubungan adalah pengetahuan, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan dan persepsi tentang manfaat posbindu. Dinas Kesehatan dan puskesmas perlu memperkuat upaya promotif dan preventif, penyuluhan kepada lansia dan meningkatkan kerjasama lintas sektoral untuk meningkatkan kunjungan ke posbindu lansia Kata kunci: lansia, posbindu lansia, pemanfaatan posbindu This study aims to determine the factors associated with elderly visits to posbindu (integrated service) for elderly in the working area of Bintara health center in 2017. A quantitative study with cross-sectional analysis design was done, included sample of 70 people pre-elderly and elderly. Data was collected using interview to Posbindu participants who come and never come to the Posbindu, as well as cadres and program holders. The study results showed that 85.2% of elderly participants know the benefits of visiting elderly postbindu. Related factors of visiting Posbindu were knowledge, family support, support of health workers and perceptions about the benefits posbindu. Health district and health center are suggested to strengthen promotive and preventive efforts, counseling for the elderly and improving intersectoral cooperation to increase utilization of the Posbindu among the elderly Key words: elderly, posbindu for elderly, use of service
Read More
T-4976
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Rahmawaty; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Evi Martha, Dian Ayubi, Merry Natalia Panjaitan, Okta Mutiara Marlina
Abstrak: Posbindu lansia merupakan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan para lansia. Keterampilan kader merupakan salah satu kunci keberhasilan pelayanan di posbindu lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kader dalam pemanfaatan posbindu lansia. Jenis penelitian yaitu deskriptif analitik dengan metode kualitatif. Informan utama adalah 17 orang kader dan informan kunci yang terdiri dari 1 orang Kepala Puskesmas Bantargebang Bekasi, 1 orang Pemegang Program Lansia, dan 3 orang Lansia yang memanfaatkan posbindu lansia di wilayah kerja Puskesmas Bantargebang Bekasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader belum berperan besar dalam pemanfaatan posbindu lansia di wilayah kerja Puskesmas Bantargebang sehingga diperlukan adanya upaya pelatihan dan pembinaan untuk petugas kesehatan dan kader posbindu lansia, serta sosialisasi kepada seluruh sasaran posbindu lansia. Penyediaan fasilitas posbindu lansia yang lengkap diharapkan dapat memaksimalkan peran kader dalam usaha pemanfaatan posbindu lansia. Komunikasi sesama kader juga harus dibangun agar mereka dapat bertukar informasi dan pengalaman mengenai peran mereka dalam pemanfaatan posbindu lansia. Kata kunci : Peran Kader, Pemanfaatan, Posbindu Lansia
Read More
T-4226
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rio B Purba Simbolon; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Izhar M Fihir, Ratna Dewi Suriani, Okta Mutiara Marlina
Abstrak: Abstrak
Sektor industri otomotive sangat berkembang pada saat ini, bagaimana proses cepat dan kualitas yang baik sangat diperlukan. Dengan ketatnya persaingan di indutri otomotive maka semua berlomba-lomba meningkatkan kinerja dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang bagus. Di industri perakitan mobil banyak terkait dengan ergonomik, Keseimbangan lingkungan, alat kerja dan task merupakan konsep keseimbangan ergonomuk dan ketiga hal itu menjadi pertimbangan utama dalam meningkatkan produktifitas dan kualitas serta merupakan inputan dalam hal mereview dan memberikan masukan untuk melakukan rancang ulang terhadap ruang dan peralatan di suatu area kerja.
 
Pelaksanaan perancangan ulang melalui assessment terhadap keseimbangan lingkungan, alat dan task dilakukan pada aktifitas pekerjaan di stasiun-13 line Trimming Perakitan Kendaraan L300 EURO2 di PT X. Aktifitas di Stasiun-13 berbeda dengan stasiun lain disebabkan : adanya pengencangan rear body dari bawah sambil jongkok berjalan lalu leher dimiringkan untuk melihat posisi baut, penurunan rear body dariketinggian dua meter ke frame kendaraan, kebisingan yang sampai melebihi ambang batas dan adanya getaran ke tangan selama pengencangan bolt frame. Aktifitas yang berisiko ke pekerja disebabkan oleh ketidakseimbangan lingkungan, peralatan dan task. Ketidakseimbangan ini memberikan kontribusi penting dalam timbulnya bahaya ergonomik seperti: postur badan dan lengan yang janggal, beban tool yang diangkat, adanya pengulangan kerja, ketidaksesuaian dalam hal reach, clereance yang kemudian berdampak dalam muskuloskeletal, inefesiensi, ketidaknyamanan bahkan ke produktifitas kerja.
 
Output Desain yang ergonomis yang memperhatian keseimbangan ergonomik menjadi dasar untuk memperbaiki kondisi area stasiun-13 sehingga bisa memberikan perbaikan yang rasional dan feasible, sehingga dapat membantu pekerja bahkanPT X dalam meningkatkan kesehatan, keselamatan pekerja dan tentunya meningkatkan produktifitas dan kualitas kendaraan.
 

Automotive industry sector is highly developed at present; how the process assembling is carried out rapid and has good product is needed. With intense competition in the automotive industries, all automotive company works hard to improve their performance to make large quantities and good quality. In many activities in automobile assembly industry, almost activities are related to ergonomics. Balancing among environmental, work tools and tasks are concepts ergonomic, it’s balancing becomes major consideration in improving productivity and quality. Reviewing balancing as input in terms of reviewing and providing input to redesign the space and equipment in a work area.
 
Redesign was conducted through consideration assessment of the environmental, tools and tasks performed at the 13th station assembly line Trimming Vehicle Euro2 L300 PT X. Activities at stations-13 are different with other stations due to: the rear body is bolted to vehicle chassis with squat-moving position. Because of hole bolted, neck is bent side to see the position of the bolt, rear body moved down from 2 meter high to the vehicle frame, the noise exceeds the threshold and the vibration to the hand during tightening of the bolt frame. Activity at station has risk to workers caused by an imbalance of the environment, equipment and task. This imbalance contributes important to cause ergonomics hazards such as body posture and awkward arm, tool load is lifted, the repetition of work, a mismatch in terms of reach, clereance which then affects to the musculoskeletal, inefficiency, inconvenience even to working productivity.
 
Output design which consider ergonomic balancing is used a basic to correct condition at station-13 , it could provide a rational and feasible improvement, so it can help workers even PT X in improving the health, safety of workers and thus increase the productivity and quality of the vehicle.
Read More
T-3738
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fikri Firdaus; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Izhar M. Fihir, Ratna Dewi Suriani, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:

Latar belakang: Penggunaan komputer dapat menimbulkan suatu keluhan kesehatan yang disebut dengan Computer Vision Syndrome (CVS), Sindrom ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko individual, lingkungan dan komputer.

Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor resiko ergonomik individual dan komputer yang berhubungan dengan kejadian Computer Vision Syndrome (CVS) pada pekerja pengguna komputer yang berkacamata dan pekerja yang tidak berkacamata.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian metode kualitatatif. Penelitian dilakukan pada bulan April - Mei 2013 di Unit Pelakasana dan Pelatihan. Sampel sebanyak 18 orang dengan kriteria tertentu, dibagi menjadi 2 kelompok pekerja berkacamata dan pekerja yang tidak berkacamata. Peneliltian dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner dan pengukuran.

Hasil: Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian CVS adalah Kelembaban 71%, Pencahayaan kurang dari 300-500 lux (KEPMENKES nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002), Usia lebih dari 40 tahun (das et al.), lama bekerja dengan komputer, dan jarak komputer dengan mata.

Kesimpulan: Gejala ekstraokuler pada pekerja pengguna kacamata bifocal melakukan retrofleksi leher sehingga leher tertekuk kebelakang yang menyebabkan keluhan nyeri pada leher. Penderita terbanyak bukan dari pengguna kacamata tetapi pada pekerja yang tidak berkacamata. Serta penderita CVS (berdasarkan kriteria anamnesa) di usia 25 tahun, kedua hal ini berkaitan dengan potur ergonomi pada saat kerja baik secara design tempat kerja, kondisi ruangan ataupun durasi kerja yang semuanya saling berkaitan sehingga menimbulkan gejala Computer Vision Syndrome (CVS).


Background: Computer usage could cause health complaints called Computer Vision Syndrome (CVS). This syndrome was influenced by individual and computer risk factors.

Aim: The objective of the study is to identify and to analyze individual and computer factors of computer Vision Syndrome (CVS).

Methods: This study was an observational study with methods qualitatively. The research was conducted in April-May 2013 in the Pelakasana and Training Unit. Sample of 18 people with certain criteria, divided into 2 groups of workers and workers who are not wearing glasses glasses. Peneliltian done by direct interviews using questionnaires and measurements.

Results: Factors associated with the incidence of CVS is Humidity 71%, less than the 300-500 lux lighting (KEPMENKES 1405/Menkes/SK/XI/2002), age over 40 years (das et al.), Long working computers, and computer distance by eye.

Conclusion: Extraocular symptoms in workers bifocal glasses users do retrofleksi neck so the neck is bent backwards which causes pain in the neck. Most patients but not from users goggles to workers who do not wear glasses. And people with CVS (based on criteria anamnesis) at the age of 25 years, these two things related to ergonomic posture at work both in design work, ambient conditions or duration of action that are all intertwined, giving rise to symptoms of Computer Vision Syndrome (CVS).

Read More
T-3800
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debora Octoliana C.A.; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Izhar M. Fihir, Ratna Dewi Suriani, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:

Kebanyakan dokter gigi tidak menyadari pentingnya manfaat sistem ergonomi dengan posisi yang baik saat merawat pasien. Gangguan muskuloskeletal adalah salah satu yang jelas sebagai hazard. Saat melakukan pencabutan gigi, kadang-kadang dokter gigi membungkuk ke arah pasien, bergerak secara mendadak, memutar tubuh dari satu sisi ke sisi yang lain. Seluruh gerakan tersebut dilakukan berkali-kali dalam jangka waktu yang panjang sehingga sering mengalami rasa tidak nyaman dan sakit di daerah leher, bahu, tulang punggung serta pergelangan tangan. Penelitian ini meninjau faktor-faktor risiko ergonomi dokter gigi terhadap keluhan Musculoskeletal Disorders pada aktivitas pencabutan dengan jenis potong lintang melalui pendekatan observasional.Hasil penelitian 74,3% tindakan pencabutan gigi menimbulkan gangguan secara fisik, 61,4% melakukan gerakan berulang punggung membengkok ke depan, belakang atau ke samping , 35,7% melakukan gerakan berulang punggung membengkok dan memutar secara simultan dalam melakukan tindakan dan melalui Nordic Map Quesioner didapat frekuensi timbulnya keluhan pada daerah sekitar leher 38,6%. Intensitas keluhan rasa nyeri, sakit dan ketidaknyamanan akibat kerja yang cukup mengganggu aktifitas kerja dikemukakan pada bagian kaki kanan 61,4 %, bahu kanan atas sebanyak 48,6 %, pada bagian pergelangan tangan kanan 40% serta pada leher sebanyak 47,1%.Hasil akhir yang didapat melalui observasi dengan pengukuran metode OWAS (Ovako Working Posture Analysis System) di dapatkan kategori 2 dimana postur kerja memiliki beberapa efek yang berbahaya bagi system musculoskeletal serta diperlukan tindakan untuk perubahan posisi kerja pada perencanaan yang akan datang.


Most dentists do not realize the importance of the benefits ergonomics system with a good position when treating patients. Musculoskeletal disorders is an obvious one as a hazard. When performing tooth extraction, dentists sometimes leaned toward the patient, a sudden move, rotate the body from one side to the other. The whole movement is done many times in the long term so often experience discomfort and pain in the neck, shoulder, spine and wrist. This study reviewed the dentist ergonomic risk factors from Musculoskeletal Disorders in the type of extraction activity through cross-sectional observational approach.74.3% of research results to extract a tooth cause physical disorders, 61.4% perform repetitive motions backs bent forward, backward or sideways, 35.7% perform repetitive movements back bend and rotate simultaneously in action and through Nordic Map questioner obtained the frequency of complaints in the area around the neck of 38.6%. complaints of pain intensity, pain and discomfort caused by work is quite disturbing work activities presented in section 61.4% right foot, right shoulder up 48.6%, 40% on the right wrist and the neck 47.1%.The final result is obtained through observations with measurements of methods OWAS (Ovako Working Posture Analysis System) in which the working posture level 2 has some effects that are harmful to the musculoskeletal system and the necessary action to change the position of the work on the future planing.

Read More
T-3818
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faradhila Aushafiana Manaf; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Haryanto, Fitri Kurniasari, Aria Kusuma, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) adalah sekelompok gejala nonspesifik yang dialami oleh pekerja di suatu gedung yang disebabkan oleh kualitas udara dalam ruang yang buruk. Gejalanya cenderung meningkat seiring lamanya waktu individu berada di dalam gedung dan membaik atau menghilang ketika meninggalkan gedung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan PM2,5, PM10, dan angka kuman di udara dalam ruang dengan kejadian SBS pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gedung Dinas Kesehatan Kota Bekasi tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 85 ASN. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei 2026 melalui kuesioner standar MM-040-NA serta pengukuran kualitas udara dalam ruang lingkungan kerja. Pengukuran dilakukan 1 kali pada jam 09.00-11.00 hari senin, rabu, dan jumat. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PM2,5 (OR=3,241), suhu (OR=4,571), pencahayaan (OR=3,330), dan riwayat penyakit (OR=3,603) dengan kejadian SBS. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa riwayat penyakit merupakan satu-satunya variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian SBS (OR=4,143) setelah dikontrol oleh  PM2,5, PM10, suhu, pencahayaan, dan faktor psikososial. Upaya pencegahan SBS perlu difokuskan pada perbaikan kualitas lingkungan kerja sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan ASN melalui pemantauan kesehatan berkala, khususnya pada ASN yang memiliki riwayat penyakit.

Sick Building Syndrome (SBS) is a group of non-specific symptoms experienced by workers in a building due to poor indoor air quality. The symptoms tend to worsen with prolonged occupancy and improve or disappear after leaving the building. This study aimed to analyze the relationship between indoor PM2.5, PM10, air germ counts, and the occurrence of SBS among Civil Servants (ASN) working at the Bekasi City Health Office Building in 2026. This study employed a cross-sectional design with a sample of 85 ASN. Data collection was conducted in May 2026 using the MM-040-NA standard questionnaire and indoor workplace air quality measurements. Measurements were conducted once during 09:00–11:00 AM on Monday, Wednesday, and Friday. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between PM2.5 (OR=3.241), temperature (OR=4.571), lighting (OR=3.330), medical history (OR=3.603), and the occurrence of SBS. Multivariate analysis revealed that medical history was the only variable significantly associated with SBS (OR=4.143) after being controlled by PM2.5, PM10, temperature, lighting, and psychosocial factors. Therefore, SBS prevention efforts should focus on improving workplace environmental quality and conducting regular health monitoring, particularly for employees with a medical history.
Read More
T-7578
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive