Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ikah Sartika; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Tri Krianto, Rus Martini
S-4541
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Endriyani Martina Yunus; Pembimbing: Zarfiel Tafal; Penguji: Sandra Fikawati, Rus Martini
S-4521
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nabila Anindya Uka Wardani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Deasy Martini
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program pemberian tablet tambah darah pada remaja putri di Kota Depok selama belajar dari rumah. Desain studi yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam terhadap pelaksana gizi puskesmas, kader posyandu, pembina UKS sekolah, remaja putri, dan orang tua dengan metode purposive sampling. Penelitian menunjukkan bahwa skema distribusi tablet tambah darah dilakukan melalui sekolah dan melalui kader. Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara daring melalui WhatsApp. Pihak yang diberdayakan antara lain remaja putri, orang tua, kader, dan pihak sekolah. Remaja putri mendapatkan dukungan sosial dari orang tua dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Perlu adanya penyeragaman skema distribusi dan penguatan pemberdayaan kepada orang tua dan remaja putri.
Read More
S-10793
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ria Resti Agustina; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Indang Trihandini, Martini Rachman
Abstrak:
Walaupun manfaat pemberian ASI eksklusif sangat banyak terutama untuk ibudan bayinya, prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih jauh dibawahtarget Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (80%). Permasalahan yangkerap di alami oleh wanita primipara adalah kegagalan proses let down yangmenyebabkan tidak keluarnya ASI. Inisisasi menyusu dini (IMD) merupakansalah satu cara untuk merangsang pengeluaran hormon oksitosin yangmemproduksi ASI. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari SurveiDemografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dengan desain penelitiancrossectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara inisiasimenyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan pada wanitaprimipara di Indonesia. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 604 respondendengan kriteria inklusi adalah ibu primipara yang memiliki bayi berusia 6 sampai12 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikanantara pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif6 bulan. Ibu yang melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) memiliki peluang21,868 kali lebih tinggi untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan dibandingkandengan ibu yang tidak melakukan inisiasi menyusu dini setelah dikontrol olehvariabel pekerjaan ibu, kuintil kekayaan, dan berat badan lahir (95% CI: 8,956sampai dengan 53,394). Sementara itu, ibu yang tidak bekerja memiliki peluang1,717 kali lebih tinggi untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan dibandingkan dengan ibu yang bekerja setelah dikontrol oleh variabel inisiasi menyusu dini(IMD), kuintil kekayaan, dan berat badan lahir bayi (95% CI: 0,986 sampai dengan 3,026). Pada variabel kuintil kekayaan semakin kaya cenderung memiliki peluang yang semakin kecil untuk melakukan pemberian ASI eksklusif dan padavariabel berat badan lahir (BBL) bayi bayi yang lahir dengan berat badan lahirrendah memiliki peluang yang lebih banyak untuk memberikan ASI eksklusif.Oleh karena itu, disarankan intervensi pemberian ASI eksklusif 6 bulan melalui inisiasi menyusu dini (IMD) pada wanita primipara oleh tenaga kesehatan perlu dilakukan di fasilitas kesehatan.
Kata kunci: ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini (IMD), pekerjaan ibu
Read More
Kata kunci: ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini (IMD), pekerjaan ibu
S-8499
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Risti Anjar Wati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Deasy Martini
S-10366
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
XUmi Yumiati; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Tris Eryando, Deasy Martini
Abstrak:
Penelitian ini mendalami tentang pelaksanaan surveilans gizi dalam memenuhi berbagai kebutuhan informasi gizi terutama 18 indikator gizi, baik untuk penggunaan informasi di dalam Puskesmas maupun di tingkat Kota Cimahi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan agar kegiatan surveilans dapat berjalan dengan baik di Puskesmas Melong Asih, pemegang program gizi hanya memegang program gizi tidak ditambah tugas lain yang lebih menyita waktu; melakukan pengkaderan dengan melibatkan karang taruna dan dibuatkannya SK oleh Lurah agar tidak ada pergantian kader setiap ada pemilihan RW baru; melakukan sosialisasi dan pelatihan kader; membuat buku petunjuk teknik/ petunjuk pelaksanaan pelaksanaan surveilans gizi; membuat standar prosedur operasional (SPO) surveilans gizi, melakukan pembinaan secara kerkesinambungan dan terjadwal terhadap posyandu, serta adanya pemantauan terhadap TPG oleh seksi Kesga dan Gizi dengan melakukan penilaian kinerja petugas gizi Puskesmas; adanya pelatihan mengenai surveilans gizi bagi petugas gizi puskesmas; agar diseminasi hasil kegiatan gizi dilakukan lebih terjadwal dan rutin, serta mengoptimalkan kegiatan surveilans gizi sehingga menghasilkan informasi yang tepat sebagai dasar perencanaan dan tindaklanjut dari hasil surveilans gizi; meningkatkan koordinasi, kerjasama, dan dukungan antar posyandu dan lintas program serta agar umpan balik yang diharapkan tercapai. Kata kunci: Surveilans, surveilans gizi, puskesmas, dinas kesehatan The research to obtain a deeper understanding the implementation of nutritional surveillance in fulfilling various nutritional information needs, especially 18 nutrition indicators, both for the use of information in health centers or at the Cimahi level. This research is qualitative research with descriptive design and system approach. The results suggest that surveillance activities running work well in Melong Asih Health Center, nutritional program holders only hold nutritional programs not increase other tasks that are more time-consuming; Conducting cadre involving youth groups and making SK by the Lurah so that there will be no change of cadres every new RW election; Socialize and train the cadres; To make technical manual / guidance on implementation of nutrition surveillance; Standardize operational procedures (SOP) for nutrition surveillance, conduct continuous and scheduled guidance on posyandu, as well as monitoring of TPG by the Kesga and Nutrition sections by conducting an assessment of the performance of Puskesmas nutrition officers; Training on nutrition surveillance for nutrition officers of puskesmas; In order to disseminate the results of nutrition activities performed more scheduled and routine, and optimize nutrition surveillance activities so as to produce appropriate information as the basis of planning and follow-up of the results of nutrition surveillance; Improve coordination, cooperation, and support among posyandu and cross programs so that the expected feedback is achieved. Keywords: Surveillance, Nutrition surveillance, health center, health distric
Read More
S-9374
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mardiana; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Milla Herdayati, Martini
S-6905
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Teimi Meil Siska; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Martini, Dadan Erwand
S-8788
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fauziah Ajeng Aryanti; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Artha Prabawa, Martini Rachman
Abstrak:
Rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan kesehatan harus terus meningkatkan mutu dari pelayanan kesehatannya salah satunya dapat dilihat dari mutu rekam medis. Mutu rekam medis yang baik dapat dilihat dari kelengkapan pengisian berkas rekam medis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kelengkapan pengisian berkas rekam medis pasien rawat inap di RSAU dr.Esnawan Antariksa Tahun 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian ini adalah berkas rekam medis pasien rawat inap bulan Januari dan Februari tahun 2014 yang telah dikembalikan ke Bagian Rekam medis sebanyak 90 berkas rekam medis. Teknik sampling yang digunakan dengan sampel acak sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata - rata kelengkapan pengisian rekam medis sudah cukup lengkap namun masih kurang dari standar kelengkapan yang ditetapkan Depkes RI sebesar 100%. Disamping itu, faktor pendukung kelengkapan pengisian rekam medis yang terdiri dari sumber daya manusia, sarana dan prasarana, bahan, metode dan biaya masih kurang mendukung kegiatan kelengkapan pengisian berkas rekam medis pasien rawat inap. Oleh karena itu, untuk mendapatkan angka kelengkapan pengisian rekam medis 100% sesuai dengan standar Depkes maka perlu dilakukan pengembangan kemampuan tenaga medis dan paramedis dengan pengadaan pelatihan mengenai kelengkapan pengisian rekam medis, penambahan jumlah petugas rekam medis, sosialisasi SOP kelengkapan pengisian rekam medis pemberian sanksi dan reward serta pengembangan teknologi rekam medis yang terkomputerisasi untuk meningkatkan mutu dari rekam medis pasien rawat inap.
Hospitals as health care providers should continue to improve the quality of health care one of which can be seen from the quality of medical records. Good quality of medical record can be seen from filling completeness of medical record document. The purpose of this study is to describe the completeness filling of the inpatients medical record document in RSAU dr.Esnawan Antariksa of 2014. This is a descriptive observational study with quantitative and qualitative approaches. The sample was medical record document of inpatients in January and February of 2014 that has been restored a total of 90 medical records. The sampling technique used by systematic random sampling. The results showed that the averages of completeness filling inpatients medical records are quite complete, but still less than the standard set by Ministry of Health Republic of Indonesia completeness of 100%. In addition, the supporting factors of completeness filling inpatients medical records consisting of human resources, facilities, materials, methods and costs are still lacking. Therefore, to obtain medical record numbers 100% of filling completeness in accordance with the standards of the Department of Health is necessary for the development of medical and paramedical personnel capability with procurement training on completeness filling of medical records, increasing the number of medical records clerk, socialization SOP completeness filling of medical records, sanctions and reward as well as the development of a computerized medical record technology to improve the quality of inpatients medical record.
Read More
Hospitals as health care providers should continue to improve the quality of health care one of which can be seen from the quality of medical records. Good quality of medical record can be seen from filling completeness of medical record document. The purpose of this study is to describe the completeness filling of the inpatients medical record document in RSAU dr.Esnawan Antariksa of 2014. This is a descriptive observational study with quantitative and qualitative approaches. The sample was medical record document of inpatients in January and February of 2014 that has been restored a total of 90 medical records. The sampling technique used by systematic random sampling.
S-8415
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Naila Afifah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Deasy Martini
Abstrak:
Read More
Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen gizi dengan kandungan zat besi setara 60 mg besi elemental dan 400 μg asam folat yang diberikan kepada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS) yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD sehingga dapat menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri (Simatupang dan Widiyarti, 2024). Namun, penerimaan atau tingkat kepatuhan konsumsi TTD masih menjadi isu yang kritis untuk diperhatikan. Penelitian yang dilakukan pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan di Universitas Jember dengan mayoritas mahasiswi berusia 23 tahun menunjukkan bahwa sebanyak 64,8% mahasiswi dari jurusan kesehatan dan 91,5% mahasiswi dari jurusan non kesehatan tidak teratur dalam mengonsumsi TTD (Dzati et al., 2024). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan hubungan status tinggal, sikap, pendidikan ibu, efek samping TTD, aksesibilitas TTD, media, dukungan keluarga, dukungan teman, dan dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler di Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampel purposive sampling yang melibatkan 182 responden mahasiswi kesehatan dan non kesehatan sarjana reguler Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Sarjana Reguler Universitas Indonesia Tahun 2026, yaitu 86,8% pada mahasiswi kesehatan dan 82,4% pada mahasiswi non kesehatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan tenaga kesehatan dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping TTD, aksesibilitas TTD, dan dukungan keluarga dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi non kesehatan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status tinggal, sikap, pendidikan ibu, media, dan dukungan teman dengan perilaku konsumsi TTD pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Dibutuhkan peningkatan kesadaran mahasiswi mengenai pentingnya konsumsi TTD sebagai upaya preventif anemia dan keterlibatan berbagai pihak dalam menyebarluaskan informasi mengenai TTD serta pendampingan terkait program konsumsi TTD pada mahasiswi di lingkungan kampus.
Iron-Folic Acid Tablets (IFAT) are nutritional supplements containing 60 mg of elemental iron and 400 μg of folic acid, distributed to adolescent girls and Women of Reproductive Age (WRA) with the aim of improving adherence to IFAT intake among adolescent girls, thus reducing the prevalence of anemia in this population (Simatupang dan Widiyarti, 2024). However, the acceptance or compliance rate for IFAT consumption remains a crucial issue that requires attention. A research of health and non-health majors at the University of Jember, with the majority of participants aged 23, showed that 64,8% of students in health-related majors and 91,5% of students in non-health-related majors did not consume IFAT consistently (Dzati et al., 2024). The purpose of this study is to analyze IFAT consumption behavior as well as the relationship between residential status, attitudes, mother's education, IFAT side effects, IFAT accessibility, media, family support, peer support, and healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia in 2026. This study used a cross-sectional design with purposive sampling, involving 182 respondents from female undergraduate students in health and non-health majors at the University of Indonesia. According to the study's findings, there is a difference in IFAT consumption behavior among female undergraduate students at the University of Indonesia in 2026, with 86,8% of health majors and 82,4% of non-health majors. There is a significant association between healthcare provider support and IFAT consumption behavior among female health students as well as between IFAT side effects, IFAT accessibility, and family support and IFAT consumption behavior among female non-health students. There is no significant association between residential status, attitudes, mother’s education, media, and peer support and IFAT consumption behavior among female health and non-health students. There is a need to increase awareness among female students about the necessity of consuming IFAT as a preventive step against anemia, as well as to involve various stakeholders in spreading information about IFAT along with providing guidance on IFAT consumption programs for female students on campus.
S-12457
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
