Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Muhammad Akbar Gumilang; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah ; Tristiyenny Pubianturi
Abstrak:
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus karena prevalensinya yang terus meningkat baik di dunia maupun Indonesia, termasuk faktor risiko utama dari berbagai penyakit serius dan dapat menyebabkan kematian, serta tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor risiko yang dapat diubah berkaitan dengan prevalensi hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara faktor risiko yang dapat diubah (konsumsi makanan asin, makanan berlemak, kurang konsumsi buah dan sayur, merokok, konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik) dengan prevalensi hipertensi di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan studi ekologi multi-group comparison. Data sekunder Riskesdas 2018 digunakan sebagai sumber data dengan provinsi di Indonesia sebagai sampelnya. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa terdapat korelasi yang signifikan yang kuat dan positif antara konsumsi makanan asin (R = 0.512; p-value = 0.002) serta korelasi yang sedang dan positif antara konsumsi makanan berlemak (R = 0.452; p-value = 0.007) dengan prevalensi hipertensi di Indonesia. Semakin tinggi proporsi konsumsi makanan asin dan berlemak di Indonesia semakin tinggi pula prevalensi hipertensi di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat dan promosi kesehatan spesifik dalam pembatasan konsumsi makanan asin dan berlemak agar prevalensi hipertensi di Indonesia dalam keadaan yang terkendali sehingga tidak terus meningkat
Read More
S-10922
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Kristanti; Pembimbing: Nurhayati A Prihartono, Ratna Djuwita; Penguji: Woro Riyadina, Tristiyenny Pubianturi
T-5620
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jihan Sausan Salsabila; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Yovsyah, Tristiyenny Pubianturi
Abstrak:
Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, gagal ginjal, dan stroke. Kejadianhipertensi dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti usia, riwayat keluarga, statusgizi, kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan faktor risiko terhadap hipertensi pada pekerja di PT. X. Penelitianini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode cross sectional dan dilakukandengan observasi data sekunder hasil medical check up pekerja tahun 2019. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi kejadian hipertensi di PT. X tahun 2019sebesar 20,4%. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antarafaktor risiko usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi pada keluarga, indeks massa tubuh,dan konsumsi rokok dengan kejadian hipertensi. Proporsi pekerja di PT. X tahun 2019yang lebih banyak menderita hipertensi ada pada kelompok usia 46-60 tahun sebesar60%, berjenis kelamin laki-laki sebesar 22,6%, memiliki riwayat hipertensi keluargasebesar 40%, memiliki indeks massa tubuh obesitas sebesar 62,5%, dan mengonsumsirokok sebesar 51,1%. Hasil penelitian menyarankan bagi PT. X untuk melakukanpengendalian hipertensi pekerja dengan melakukan kontrol rutin tekanan darah sertapromosi kesehatan modifikasi gaya hidup sehat bagi pekerja obesitas dan merokok.Kata kunci:Hipertensi, pekerja, indeks massa tubuh, merokok.
Read More
S-10362
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fatmi Yumantini Oktiksari; Pembimbing: Artha Prabawa, Besral; Penguji: Dien Anshari, Tristiyenny Pubianturi, Nurjamil
Abstrak:
ABSTRAK Stroke merupakan penyakit kardiovaskuler yang mengakibatkan kematian, kecacatan serta berdampak pada sosial ekonomi. Untuk mencegah terjadinya stroke, maka perlu dilakukan upaya deteksi dini melalui faktor risiko. Deteksi dini stroke juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan fungsi kognitif. Sistem informasi surveilans penyakit tidak menular yang ada saat ini telah menyediakan pencatatan faktor risiko namun belum dapat memberikan informasi besaran risiko penyakit stroke. Selain itu, sistem juga belum mengakomodir deteksi dini penyakit stroke melalui fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan prototipe sistem informasi untuk mendeteksi besaran risiko stroke melalui faktor risiko dan potensi penyakit stroke melalui fungsi kognitif. Pengembangan sistem pada penelitian ini menggunakan pendekatan System Development Life Cycle (SDLC) dengan metode prototipe. Pengembangan sistem informasi dilakukan berdasarkan pengumpulan informasi terhadap pengguna. Informasi yang dihasilkan berupa indikator besaran risiko dan potensi stroke berdasarkan algoritma penghitungan pada metode stroke prone profile dan montreal cognitive assessment (MoCA-Ina). Penyajian berupa grafik dan rekomendasi/saran pada besaran risiko dapat digunakan untuk pemantauan faktor risiko stroke. Sistem informasi ini dapat diakses secara online melalui smartphone maupun komputer. Pengembangan sistem lebih lanjut diperlukan untuk mencatat rujukan dari Puskesmas/FKTP ke RS/fasilitas kesehatan tingkat lanjut terhadap masyarakat yang berisiko tinggi dan berpotensi stroke. Kata kunci: sistem informasi; prototipe; deteksi dini; stroke Stroke is a cardiovascular disease that causes death, disability, and socioeconomic impact. To prevent the occurrence of stroke, early detection is needed through by risk factors. The potent of stroke can also be detected by cognitive assessment. The current noncommunicable disease surveillance system has provided recording of risk factor but has not been able to provide information on the magnitude of the risk of stroke. In addition, the system has not accommodated the early detection of stroke disease through cognitive function. This study aims are to design and to develop prototyping information systems that can detect magnitude risk of stroke and potential stroke by cognitive function. System development in this research is using System Development Life Cycle (SDLC) approach with prototyping method. Information system development is based on information gathering to the user. The resulting information is an indicator of the magnitude of risk and potential stroke based on the calculation of algorithm on stroke prone profile and montreal cognitive assessment (MoCA-Ina) method. The presentation of graphs and recommendations / suggestions on the magnitude of risk can be used for monitoring stroke risk factors. This information system can be accessed online via smartphone or computer. Further system development is needed to record referrals from Puskesmas/FKTP to advanced health facilities/hospital to people at high risk and potentially stroke. Keywords: information system; prototype; early detection; stroke
Read More
T-5363
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ria Arihta Ujung; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Ratna Djuwita, Fidiansjah, Tristiyenny Pubianturi
Abstrak:
Prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran di Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 sekitar 31,7%, angka tersebut menurun pada tahun 2013 menjadi sekitar 25,8%, dan kembali meningkat pada tahun 2018 sekitar 34,1 % yang merupakan prevalensi terbesar pada sepuluh tahun terakhir. Gangguan tidur diduga menjadi salah satu penyebab kejadian hipertensi. Selain itu, gangguan tidur berisiko meningkatkan penyakit hipertensi dan berujung pada penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gangguan tidur dengan kejadian hipertensi di Indonesia dan diperoleh besar risiko hipertensi setelah dikontrol oleh varibel-variabel confounding berikut (umur, tingkat pendidikan, status perawinan, riwayat diabetes mellitus, riwayat kolesterol tinggi, riwayat hipertensi dan konsumsi buah dan sayur) di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data Indonesia Family Life Survey-5 (IFLS-5) tahun 2014. Sampel penelitian ini berjumlah 36.405. Analisis multivaiat menggunakan uji cox regresi untuk mengetahui besar risiko gangguan tidur terhadap kejadian hipertensi. Hasil penelitian ini diperoleh prevalensi hipertensi sebesar 21,8%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa orang yang mengalami gangguan tidur memiliki risiko 1,18 kali untuk mengalami hipertensi (PR=1,18). Hasil penelitian menyarankan agar skrining pada orang dengan gangguan tidur harus lebih ditingkatkan, masyarakat khususnya yang berusia 15 tahun ke atas yang mempunyai faktor risiko hipertensi agar rutin menjaga pola hidup sehat; menjadi masukan kepada Kementerian Kesehatan RI untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM seperti memberikan alat ukur tekanann darah dan membekali pemahaman kader mengenai faktor risiko hipertensi, salah satunya yaitu mengenai kualitas tidur melalui pemberian informasi dan edukasi kepada peserta posbindu PTM .
Read More
T-5750
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prihandriyo Sri Hijranti; Pembimbing: Helda; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Yovsyah, Pukovisa Prawiroharjo, Tristiyenny Pubianturi
T-4907
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizka Fahmia; Pembimbing: Helda; Penguji: Syahrizal Syarif, Astuti Giantini, Tristiyenny Pubianturi
Abstrak:
COVID-19 menjadi pandemi di seluruh dunia sejak Maret 2020. Hipertensi merupakan penyakit penyerta yang banyak diderita oleh pasien COVID-19. Banyaknya kasus COVID-19 membuat daya tampung fasilitas kesehatan hampir tidak mencukupi untuk memberikan pelayanan medis rawat inap yang memadai pada pasien COVID-19.Perpanjangan lama rawat inap pasien COVID-19 berefek terhadap besaran biaya yang ditanggung pemerintah atau pasien sendiri. Penentuan prioritas pasien rawat inap menjadi penting untuk rekomendasi panduan pelayanan pasien COVID-19. Saat ini penelitian tentang hubungan hipertensi dengan durasi lama rawat inap pasien COVID-19 di Indonesia masih belum ada. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara hipertensi dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Desain studi kohort retrospectif dilakukan pada 369 pasien terkonfirmasi COVID-19 yang dirawat inap di RSUI selama Maret sampai dengan Oktober 2020, menilai hubungan hipertensi dengan lama rawat inap pasien terkonfirmasi COVID-19 setelah di kontrol usia, jenis kelamin, komorbid, tingkat keparahan, status PCR saat pulang dan status pasien pada akhir rawat
Read More
T-6216
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meylina Puspitasari; Pembimbing: Ella N. Hadi; Penguji: Sordarto Ronoatmodjo, Tri Krianto, Enny Ekasari, Tristiyenny Pubianturi
Abstrak:
Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) dapat menurunkan risiko PTM.Skrining PTM di balaikota Depok merupakan program kegiatan yangdisediakan oleh pemerintah Kota Depok yang ditujukan untuk Pegawai NegeriSipil (PNS) di lingkungan balaikota Depok tahun 2016, namun cakupan yangbaru mengikuti pelayanan skrining PTM sebesar 46,3% dan 75,6% PNStersebut berisiko terkena PTM. Penelitian ini bertujuan mengetahui peranfaktor kebutuhan dalam pemanfaatan pelayanan skrining PTM pada PNS dibalaikota Depok. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari studisebelumnya yang menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebesar350 PNS. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistikganda.
Hasil penelitian menunjukkan faktor kebutuhan berperan dalampemanfaatan pelayanan skrining PTM (OR = 2,08; 95% CI: 1,30-3,35). PNSyang membutuhkan skrining PTM mempunyai kecenderungan untukmemanfaatkan pelayanan skrining PTM sebesar dua kali dibandingkan PNSyang tidak membutuhkan setelah dikontrol oleh dukungan teman. Agarcakupan pemanfaatan skrining PTM meningkat perlu dilakukan sosialisasiskrining PTM dan jenis pengukurannya kepada seluruh PNS baik yang bekerjapada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan balaikota Depokmaupun di luar lingkungan balaikota Depok.
Kata kunci:Faktor kebutuhan, skrining PTM, pegawai negeri sipil
NCDs screening can reduce the risk of getting NCDs. NCDs screening inBalaikota Depok is the programme which has been provided by the DepokLocal Goverment targeting civil servants of Depok City in the year 2016,however the participation to this program is only 46,3%, and from those whoparticipated in the screening, 75,6% had risk of getting NCDs. This study wasaimed to identify the roles of need factor on utilizing the NCDs screeningprogramme among civil servants in Balaikota Depok. This research is furtheranalysis from the previous study using cross sectional study with total sampleof 350 civil servants. Data were analyzed by using chi square and multiplelogistic regression test.
The result shows that the need factor has a role inutilizing the NCDs screening programme (OR = 2,08; 95% CI: 1,30-3,35).Civil servants who has need factor is twice more likely to engage thescreening programme compare to those who do not have the need factor aftercontrolling variable of friend support. To improve the rate of participation ofNCDs screening, it needs to promote and educate the importance of NCDsscreening and its measurement for all civil servants in Balaikota Depok andothers government institutions in Depok City Local government.
Key words:Need factor, NCDs screening, civil servant.
Read More
Hasil penelitian menunjukkan faktor kebutuhan berperan dalampemanfaatan pelayanan skrining PTM (OR = 2,08; 95% CI: 1,30-3,35). PNSyang membutuhkan skrining PTM mempunyai kecenderungan untukmemanfaatkan pelayanan skrining PTM sebesar dua kali dibandingkan PNSyang tidak membutuhkan setelah dikontrol oleh dukungan teman. Agarcakupan pemanfaatan skrining PTM meningkat perlu dilakukan sosialisasiskrining PTM dan jenis pengukurannya kepada seluruh PNS baik yang bekerjapada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan balaikota Depokmaupun di luar lingkungan balaikota Depok.
Kata kunci:Faktor kebutuhan, skrining PTM, pegawai negeri sipil
NCDs screening can reduce the risk of getting NCDs. NCDs screening inBalaikota Depok is the programme which has been provided by the DepokLocal Goverment targeting civil servants of Depok City in the year 2016,however the participation to this program is only 46,3%, and from those whoparticipated in the screening, 75,6% had risk of getting NCDs. This study wasaimed to identify the roles of need factor on utilizing the NCDs screeningprogramme among civil servants in Balaikota Depok. This research is furtheranalysis from the previous study using cross sectional study with total sampleof 350 civil servants. Data were analyzed by using chi square and multiplelogistic regression test.
The result shows that the need factor has a role inutilizing the NCDs screening programme (OR = 2,08; 95% CI: 1,30-3,35).Civil servants who has need factor is twice more likely to engage thescreening programme compare to those who do not have the need factor aftercontrolling variable of friend support. To improve the rate of participation ofNCDs screening, it needs to promote and educate the importance of NCDsscreening and its measurement for all civil servants in Balaikota Depok andothers government institutions in Depok City Local government.
Key words:Need factor, NCDs screening, civil servant.
T-5453
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Taufik Azis; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Nurhayati A. Prihartono, Putri Bungsu, Tristiyenny Pubianturi, Woro Riyadina
Abstrak:
Pada tahun 2010, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko kematian secara global dan diperkirakan telah menyebabkan 9,4 juta kematian Di Indonesia, Berdasarkan data IFLS 5 tahun 2014 prevalensi hipertensi derajat 1 pada usia ≥18 tahun sebesar 15,59%. Suku Banjar yang mayoritas berdomisili di Kalimantan Selatan (65%) berpotensi menderita hipertensi derajat 1 dengan mengacu pada data Riskesdas tahun 2013 memiliki prevalensi hipertensi sebesar 30,8%. Begitupula prevalensi hipertensi di Provinsi Bali sebesar 19,9%, yang ditempati oleh mayoritas Suku Bali (84%). Perbedaan prevalensi tersebut mendorong peneliti untuk mengetahui perbedaan faktor risiko hipertensi derajat 1 pada Suku Banjar dan Suku Bali. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Data dari IFLS 5 tahun 2014. Sebanyak 765 responden Suku Banjar dan 1.087 responden Suku Bali umur ≥18 tahun menjadi sampel penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan uji cox regression. Hasil penelitian Prevalensi hipertensi derajat 1 Suku Banjar dan Suku Bali masing-masing sebesar 17,3% dan 10,8%. Faktor risiko hipertensi derajat 1 pada Suku Banjar yaitu obesitas, PR=2,726 (95%CI; 1,913-3,886), umur ≥45 tahun, PR=2,146 (95%CI;1,482-3,107) dan laki-laki PR=1,641 (95%CI;1,149-2,344). Faktor risiko pada Suku Bali yaitu obesitas, PR=2,971 (95%CI;2,025-4,362), Umur ≥45 tahun, PR=2,144 (95%CI;1,465-3,136), laki-laki PR=1,985 (95%CI;1,341-2,938), pendidikan rendah PR=1,585 (95%CI;1,076-2,334) dan domisili di perkotaan PR=1,525 (95%CI;1,051- 2,212).Perlunya pengoptimalan kegiatan pencegahan dan deteksi dini untuk mengurangi prevalensi hipertensi pada Suku Banjar dan Suku Bali.
Kata kunci: Faktor Risiko; Hipertensi Derajat 1; Suku Bali; Suku Banjar
In 2010, hypertension was one of the risk factors for death globally and it estimated to have caused 9.4 million deaths. In Indonesia, based on data from IFLS 5, in 2014 the prevalence of hypertension stage 1 at the age of ≥18 years was 15.59%. The majority of Banjar Ethnic who are domiciled in South Kalimantan (65%) have the potential to suffer from hypertension stage 1 with reference to the Riskesdas 2013 which has a prevalence of hypertension of 30.8%. The prevalence of hypertension in Bali Province is 19.9%, which is occupied by the majority of the Bali Ethnic (84%). This difference in prevalence encouraged researchers to find out the differences in risk factors for hypertension stage 1 in the Banjar and Bali Ethnic. This study used a cross sectional design. Data from IFLS 5 in 2014. A total of 765 respondents from the Banjar ethnic and 1,087 respondents from the Bali ethnic aged ≥18 years were sampled in this study. Data were analyzed using cox regression test. Prevalence hypertension stage 1 in Banjar Ethnic and Bali Ethnic are 17,3% and 10,8%, respectively. Risk factors of hypertension stage 1 in Banjar Etnic are obesity (PR=2,726; 95%CI; 1,913-3,886), age ≥45 years (PR=2,146; 95%CI;1,482- 3,107) and male (PR=1,641; 95%CI;1,149-2,344). Risk factors of hypertension stage 1 in Bali Ethnic are obesity (PR=2,971; 95%CI;2,025-4,362), age ≥45 years (PR=2,144; 95%CI;1,465-3,136), male (PR=1,985; 95%CI;1,341-2,938), low education (PR=1,585; 95%CI;1,076-2,334) and urban (PR=1,525; 95%CI;1,051-2,212). The need for optimization of prevention and early detection activities to reduce the prevalence of hypertension in the Banjar and Bali Ethnic.
Key words: Banjar Ethnic; Bali Ethnic; Hypertension Stage 1; Risk Factors
Read More
Kata kunci: Faktor Risiko; Hipertensi Derajat 1; Suku Bali; Suku Banjar
In 2010, hypertension was one of the risk factors for death globally and it estimated to have caused 9.4 million deaths. In Indonesia, based on data from IFLS 5, in 2014 the prevalence of hypertension stage 1 at the age of ≥18 years was 15.59%. The majority of Banjar Ethnic who are domiciled in South Kalimantan (65%) have the potential to suffer from hypertension stage 1 with reference to the Riskesdas 2013 which has a prevalence of hypertension of 30.8%. The prevalence of hypertension in Bali Province is 19.9%, which is occupied by the majority of the Bali Ethnic (84%). This difference in prevalence encouraged researchers to find out the differences in risk factors for hypertension stage 1 in the Banjar and Bali Ethnic. This study used a cross sectional design. Data from IFLS 5 in 2014. A total of 765 respondents from the Banjar ethnic and 1,087 respondents from the Bali ethnic aged ≥18 years were sampled in this study. Data were analyzed using cox regression test. Prevalence hypertension stage 1 in Banjar Ethnic and Bali Ethnic are 17,3% and 10,8%, respectively. Risk factors of hypertension stage 1 in Banjar Etnic are obesity (PR=2,726; 95%CI; 1,913-3,886), age ≥45 years (PR=2,146; 95%CI;1,482- 3,107) and male (PR=1,641; 95%CI;1,149-2,344). Risk factors of hypertension stage 1 in Bali Ethnic are obesity (PR=2,971; 95%CI;2,025-4,362), age ≥45 years (PR=2,144; 95%CI;1,465-3,136), male (PR=1,985; 95%CI;1,341-2,938), low education (PR=1,585; 95%CI;1,076-2,334) and urban (PR=1,525; 95%CI;1,051-2,212). The need for optimization of prevention and early detection activities to reduce the prevalence of hypertension in the Banjar and Bali Ethnic.
Key words: Banjar Ethnic; Bali Ethnic; Hypertension Stage 1; Risk Factors
T-5469
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miftahul Jannah; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Hadi Pratomo, Tristiyenny Pubianturi, Ramadanura
Abstrak:
Prevalensi hipertensi terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena gayahidup masyarakat yang semakin tidak sehat. Salah satu gaya hidup tidak sehat yangberpengaruh terhadap hipertensi yaitu faktor perilaku makan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku makan penderitahipertensi. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kolonodale KabupatenMorowali Utara, menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak140 orang penderita hipertensi yang melakukan kontrol dan pengobatan ke Puskesmasdan Posbindu. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner yangsudah di uji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan uji chi-squaredan regresi logistik ganda dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan62,9% responden berperilaku makan kurang baik. Hasil analisis membuktikan faktordukungan keluarga (p= 0,016, OR: 3,349, 95% CI: 1,257-8,922) dan dukungan temansebaya/peer group (p= 0,019, OR: 2,577, 95% CI: 1,166-5,696) berhubungan denganperilaku makan penderita hipertensi setelah dikontrol oleh dukungan petugas kesehatan.Dukungan keluarga merupakan faktor yang paling dominan berhubungan denganperilaku makan penderita hipertensi, responden yang cukup mendapat dukungankeluarga berpeluang untuk berperilaku makan baik 3,349 kali dibanding yang kurangmendapat dukungan keluarga setelah dikontrol oleh dukungan teman sebaya dandukungan petugas kesehatan. Untuk itu instansi terkait perlu merekomendasikanDASHI sebagai pola makan bagi penderita hipertensi serta memberikan edukasi terkaitdiet tersebut kepada keluarga, teman dan mengingatkan pasien untuk berperilaku makanyang baik sesuai rekomendasi DASHI, disamping perlu ada kelompok teman sebayaantara sesama penderita hipertensi agar bisa saling berbagi informasi dan mengingatkanterkait berbagai hal yang berhubungan dengan hipertensi.Kata Kunci: Perilaku Makan, Hipertensi, DASHI, Dukungan.
Read More
T-5422
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
