Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hariani Rafitha; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Ratna Djuwita, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak: ABSTRAK Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang ditandai dengan kerusakan jaringan permukaan gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme dalam suatu fermentasi karbohidrat. Karies gigi dan obesitas keduanya merupakan penyakit multifaktorial yang terkait dengan kebiasaan diet makan dan beberapa faktor gaya hidup yang umum pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara obesitas dengan karies gigi pada anak usia 7-12 tahun di Kabupaten Badung Provinsi Bali 2018. Penelitian ini menggunakan desain pendekatan crossectional dengan jumlah sampel sebanyak 426 anak beserta ibu yang diambil dari seluruh murid kelas 1-5 SD di 3 SDN yang terpilih secara acak sederhana. Hasil regresi logistic dengan analisis mutivariat menunjukan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara obesitas dan karies gigi setelah mengkontrol variabel ketiga, yang terbukti secara statistik dengan p value 0,003 dan OR 1,830. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak dengan obesitas memiliki resiko 2 kali untuk mengalami karies gigi dibandingkan anak yang tidak obesitas. Berdasarkan hasil tersebut diharapkan sekolah dapat mengembangkan program UKS/UKGS yang sudah ada seperi membentuk dokter kecil atau kader kesehatan di sekolah untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan sebagai upaya pemberdayaan siswa-siswi di sekolah. Kata kunci: Obesitas, Karies Gigi, FFQ Dental caries is an infectious disease characterised by dental tissue damage caused by microorganisms in a carbohydrate fermentation. Dental caries and obesity are both multifactorial illnesses associated with eating habits and some lifestyle factors in children. This study aims to see the relationship between obesity with dental caries in children aged 7-12 years in Badung district of Bali province in 2018. This study used a crossectional design with a total sample of 426 children and mothers taken from all students of class 1-5 elementary school in 3 schools selected by random sampling method. Logistic regression results with multivariate analysis showed that there was a significant relationship between obesity and dental caries after controlling the third variable, which statistically proven with p-value 0,003 and OR 1,830. Thus, it concluded that children with obesity have two times greater risk of dental caries than children who are not obese. Based on these results, schools are expected to develop UKS / UKGS programs such as establishing health cadres in schools to convey health information as an effort to empower students in schools. Keywords: Obesity, Dental caries, FFQ
Read More
S-9811
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Agustina; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Masyitoh, Donni Hendrawan, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia hingga saat ini masih merupakan permasalahan yang belum kunjung usai. Sebanyak 57,6% penduduk Indonesia yang memiliki masalah kesehatan gigi dan mulutnya, baru terdapat 10,2% penduduk yang memperoleh perawatan dari tenaga medis gigi. Tesis ini bertujuan untuk membuktikan bahwa kepemilkan jaminan kesehatan meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut ke tenaga medis gigi di Indonesia tahun 2018. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas terintegrasi Susesnas tahun 2018 dengan desain studi potong lintang. Permodelan menggunakan instrumental variabel digunakan karena adanya endogenitas pada variabel kepemilikan jaminan kesehatan. Hasil penelitian turut membandingkan besaran pengaruh antara kepemilikan jaminan kesehatan JKN dan Non-JKN.
Read More
T-6338
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rusmiati Dwi Rohanawati; Pembimbing: Adang Bachtiar, Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Robbykha Rosalien, Indra Rachmad Darmawan
Abstrak: ABSTRAK Nama Program Studi Judul Pembimbing : : : : Rusmiati Dwi Rohanawati Ilmu Kesehatan Masyarakat Analisis Kejadian Karies White Spot Dan Hubungannya Dengan Status Gizi di Puskesmas Purwadadi Kabupaten Ciamis 2019 dr. Adang Bachtiar, MPH., DSc Pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini difokuskan pada siklus kehidupan dimulai dari hamil sampai dengan lansia yang dikenal dengan Continuum of Care. Pada pelaksanaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional tahun 2018 disepakati tiga upaya kesehatan di antaranya adalah penangan tuberkulosis, pencegahan stunting, dan imunisasi. Ada beberapa faktor yang saling berhubungan dengan kejadian stunting salah satunya adalah faktor kesehatan gigi dan mulut pada balita. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui analisis kejadian karies white spot dan hubungannya dengan status gizi di puskesmas purwadadi kabupaten ciamis 2019. Penelitian menggunakan metode mixed methods dengan disain Cross secsional dan eksplenatory yang didahului analisis data kuantitatif pada 36 balita dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada informan. Variabel independen penelitian yaitu umur balita, jenis kelamin, asupan asi eklusif, susu formula, umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, dan sarana fasilita. Variabel kovariat yaitu karies white spot dan variabel dependen yaitu status gizi balita. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian karies white spot pada balita yaitu umur dan konsumsi susu formula. Tidak Ada hubungan antara karies white spot dengan status gizi pada balita. Namun, faktor risiko balita dengan karies white spot mempunyai peluang 1,12 kali mengalami status gizi tidak normal. Dari hasil wawancara menyatakan bahwa setiap kasus yang terjadi di lapangan diwajibkan melapor dan berkoordinasi antar petugas untuk tindakan selanjutnya. Pemberian edukasi secara konseling dilakukan secara berkesinambungan. Kata Kunci: Karies Gigi, White Spot, Status Gizi.
ABSTRACT Name Study Program Title Counsellor : : : : Rusmiati Dwi Rohanawati Magister of Public Health Analysis of White Spot Lesions and its Relationship with Nutrition Status In Primary Health Care Purwadadi of Ciamis Regency 2019 dr. Adang Bachtiar, MPH., DSc Health development in Indonesia is currently focused on the life cycle starting from pregnancy to the elderly, known as Continuum of Care. At the implementation of the National Health Work Meeting in 2018 it was agreed that three health efforts included tuberculosis treatment, stunting prevention, and immunization. There are several factors that are interrelated with the incidence of stunting, one of which is dental and oral health factors in infants. The purpose of this study was to determine the analysis of the incidence of white spot caries and their relationship with nutritional status in Purwad Puskesmas in Ciamis District 2019. The study used mixed methods with cross-sectional and explanatory designs which were preceded by quantitative data analysis in 36 infants and continued with in-depth interviews with informants . The independent variables of the research are toddler age, sex, exclusive breastfeeding, formula milk, mother's age, mother's education, mother's occupation, family income, maintenance of dental and oral health, and facility facilities. The covariate variable is white spot caries and the dependent variable is the toddler's nutritional status. The results of this study stated that the factors that influence the incidence of white spot caries in infants are age and consumption of formula milk. There is no relationship between white spot caries and nutritional status in infants. However, risk factors for infants with white spot caries have a 1.12 times chance of experiencing abnormal nutritional status. The results of the interviews stated that each case that occurred in the field was required to report and coordinate between officers for further action. The provision of counseling education is carried out on an ongoing basis. Key words: Dental Caries, White Spot Lesion, Nutrition Status
Read More
T-5815
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Himma Illiyana; Pembimbing: Masyitoh; Pegnuji: Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, Elastria Widita, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak: Radiologi gigi dan mulut tidak lepas dari efek paparan radiasi sehingga diperlukan kebijakan untuk mengatur pemanfaatan peralatan radiasi dalam pelayanan kesehatan. Pemerintah mengatur pelayanan radiologi di Indonesia melalui Permenkes No.24 /2020 untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan yang diselenggarakan berdasarkan kemampuan fasilitas kesehatan meliputi sumber daya manusia dan peralatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Permenkes No.24/2020 dalam pelayanan gigi dan mulut, serta untuk mengetahui apakah kebijakan ini dapat terlaksana di RS Umum dan Khusus. Penelitian ini merupakan penelitian analisis kebijakan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Kerangka konsep yang digunakan didasarkan pada berbagai teori top down dengan variabel yang diteliti berupa output, sumber daya manusia, sarana prasarana, pendanaan, dukungan organisasi, perhatian pers, budaya kerja, komunikasi dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum Permenkes No.24/2020 tidak dapat dilaksanakan di RS Khusus karena adanya perbedaan kebutuhan dengan RS Umum sehingga tidak sejalan dengan terminologi dan persyaratan yang disebutkan dalam Permenkes No.24/2020. Permenkes No.24/2020 tidak memfasilitasi tenaga spesialis radiologi dan peralatan seperti CBCT. sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Budaya kerja, komunikasi dan struktur birokrasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tidak tersampaikannya isi peraturan kepada pelaksana pelayanan. Organisasi profesi dan perhatian pers tidak secara langsung mempengaruhi pelaksanaan kebijakan tetapi penting dalam tahap perumusan kebijakan. Perlu adanya koreksi dan tinjauan ulang terhadap muatan Permenkes No.24/2020 terkait dari aspek efektivitas kebijakan, kejelasan rumusan, dan keterbukaan.
Dental radiology cannot be separated from the effects of radiation exposure. Radiology policies are needed to regulate the use of radiation equipment in health services. The government regulates radiology services in Indonesia through Regulation of Minister of Health Number 24 of 2020 to improve the quality of health services by paying attention to safety and security aspects which are organized based on the capabilities of health facilities including human resources and equipment. This study aims to analyze the implementation of Regulation of Minister of Health Number 24 of 2020 in dental care services, and to find out whether the policy can be implemented in General and Dental Hospitals. This research is a policy analysis with a qualitative approach through in-depth interviews and document review. The conceptual framework is based on various top down theories with the variables studied in the form of output, human resources, infrastructure, funding, organizational support, press attention, work culture, communication and bureaucratic structure. The results show that Regulation of Minister of Health Number 24 of 2020 cannot be implemented in Dental Hospitals because there are differences in needs with General Hospitals so that they are out of sync with the terminology and requirements stated in Regulation of Minister of Health Number 24 of 2020. Regulation of Minister of Health Number 24 of 2020 does not facilitate dental radiology specialists and equipment such as CBCT thus creating legal uncertainty. Work culture, communication and bureaucratic structure are not functioning as they should because the contents of the regulations are not conveyed to service providers. Support from organizations and press attention do not directly affect service delivery but are important in policy process. Review of the contents of Regulation of Minister of Health Number 24 of 2020 is needed, especially related to the aspects of policy effectiveness, clarity of policy formulation, and transparency.
Read More
T-6662
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanik Jodjana; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Achmad Sainudi, Rachmad Priyatmo
Abstrak:

Salah satu kelornpok yang rentan terhadap masalah kesehatan adalah tenaga kerja. Biaya kesehatan pegawai/tenaga kerja untuk pelayanan kesehatan sebesar 19,94% pada tahun 2001 dan 18,72% pada tahun 2002. Komponen obat dalam pelayanan kesehatan mencapai sekitar 35% dari total biaya pelayanan kesehatan. Dari hasil survei pendahuluan yang dilakukan di PT. Jamsostek Karawang diketahui hingga saat ini masih ada beberapa dokter yang tidak menuliskan resep sesuai dengan standar JPK Jamsostek dalam mengohati pasien. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti beban biaya yang ditanggung peserta JPK Jamsostek di RSUD Karawang akibat jenis peresepan obat rawat jalan yang non standar. Jenis penelitian yang digunakan adalah survei untuk mengetahui total biaya yang timbul akibat jenis peresepan obat non standar pada peserta JPK Jamsostek di RSUD Karawang. Data yang digunakan adalah data yang berasal dari resep obat yang ditagihkan apotek kepada PT. Jamsostek cabang Karawang pada bulan Januari sampai dengan Febuari tahun 2007. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 412 lembar resep dengan jumlah items obat sebanyak 1360. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata beban biaya yang ditanggwag pasien adalah sebesar Rp 25.886,425%) dengan rentang Rp 360,- sampai dengan Rp 337.560,- sedangkan rata-rata yang ditanggung Jamsostek adalah sebesar Rp 76.194,475%) dengan kisaran Rp 500,- sampai dengan Rp 816.030,-. Rata-rata beban biaya yang ditanggung JPK Jamsostek clan peserta di bagian poliklinik paru paling besar dibandingkan dengan poliklinik yang lain. Prosentase peresepan obat generik berlogo pada. JPK Jamsostek lebih kecil dibandingkan dengan penulisan obat bermerek dari total resep obat yang ada. Masih ada poliklinik yang peresepan obatnya polifarmasi untuk itu perlu dibuat pedoman pengobatan yang rasional di rumah sakit agar tidak terjadi polifannasi. Selain Ikatan Kerja Sama juga dibutuhkan komitmen dan sanksi yang kuat antara badan penyelenggara clan provider. Masih dibutuhkan penelitian farmakoekonorai lebih lanjut mengenai beban biaya yang ditanggung balk badan penyelenggara JPK Jamsostek maupun peserta path provider yang lain.


One of the groups which were sensitive to health problem is worker. Health expenses of workers for health services equal to 19,94 % in the year 2001 and 18,72 % in the year 2002. Drugs component in health services around 35% from total cost service of health. From pre survey which done in PT. Jamsostek Karawang known until now there are some doctors which do not write down recipe as according to standard of JPK Jamsostek in curing patient. The objective of this research to account the burden of cost beneficiaries Jr% Jamsostek in RSUD Karawang as a consequence of type Prescription of drug which non standard. Type of this research is survey to know arising out total cost effect of type prescription of drug non standard at beneficiaries of JPK Jamsostek in RSUD Karawang. Data was used from drug recipes beneficiaries PT. Jarnsostek branch Karawang in January Until Febuari year 2007. From the result known that the average of burden cost beneficiaries is Rp 25.886,- (25%) with coverage between Rp 360,- to Rp 337.560 and the average of burden cost of Jamsostek is Rp 76.194,475%) with coverage between Rp 500,- to Rp 816.030,- Percentage prescription of generic drugs in JPK Jamsostek still small compared to with writing of drug have brand from totalizing existing drug recipe. Polyclinic has prescription that indicated of polyphannacy. Existence of guidance of rational medication in hospital in order not to happened polypharmacy. It was required strong sanction and commitment between insurer and provider. Still required another pharmacoeconomy research regarding good accounted on charges of JPK Jarnsostek and beneficiaries for other provider to equip result of this research.

Read More
T-2687
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pandu Lesmana Putra; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Rachmad, Sumijatun
Abstrak:
Kinerja perawat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stres. Mengingat perawat adalah profesi yang rentan terhadap tekanan dan stres, penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres kerja dan kinerja mereka. Beberapa faktor yang relevan meliputi karakteristik individu, gaya kepemimpinan, dukungan organisasi, dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab stres kerja pada perawat di Rumah Sakit AM Bekasi serta dampaknya terhadap kinerja perawat, dengan mempertimbangkan pengaruh motivasi kerja, karakteristik individu, dukungan organisasi, dan gaya kepemimpinan. Responden dalam penelitian ini adalah 50 perawat dari unit IGD, rawat jalan, rawat inap, ICU, perinatologi, kamar operasi, dan hemodialisis. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode univariat, bivariat, dan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu dan dukungan organisasi memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja dan kinerja perawat (p<0.05). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan, baik langsung maupun tidak langsung, antara stres dan kinerja perawat. Faktor usia, unit kerja, pendidikan, dan lama bekerja berhubungan signifikan dengan stres kerja, sementara usia, pengalaman, dan status pernikahan berhubungan signifikan dengan kinerja perawat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik individu memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja dan stres, sementara dukungan organisasi berpengaruh terha6dap stres. Namun, variabel motivasi dan stres tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan ini, dan gaya kepemimpinan tidak memiliki pengaruh signifikan dalam konteks penelitian ini

Nurses' performance can be influenced by various factors, including stress. Given that nursing is a profession prone to pressure and stress, it is important to identify the factors that can affect job stress and performance. Relevant factors include individual characteristics, leadership style, organizational support, and motivation. This study aims to examine the factors causing job stress among nurses at AM Hospital Bekasi and its impact on their performance, considering the influence of work motivation, individual characteristics, organizational support, and leadership style. The respondents of this study were 50 nurses from the emergency unit, outpatient care, inpatient care, ICU, perinatology, operating room, and hemodialysis unit. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate, bivariate, and SEM-PLS methods. The results showed that individual characteristics and organizational support have a significant relationship with job stress dan nurse performance (p<0,05). However, no significant direct or indirect relationship was found between stress and nurse performance. Factors such as age, work unit, education, and length of service are significantly related to job stress, while age, length of service, and marital status are significantly related to nurse performance. Overall, this study shows that individual characteristics have a significant impact on performance and stress, while organizational support affects stress. However, motivation and stress variables do not serve as mediators in this relationship, and leadership style does not have a significant influence in the context of this study.
 
Read More
B-2477
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Dwitasari; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Rico Kurniawan, Indra Rachmad Dharmawan, Rudy Kurniawan
Abstrak:
Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi (TPMDG) merupakan salah satu jenis FKTP sektor swasta di Indonesia yang dalam perawatannya memberikan pelayanan kesehatan primer dengan kontak pertama pada individu, keluarga, dan masyarakat. Permasalahan yang timbul pada TPMDG seperti seringnya menawarkan perawatan gigi mulut secara tidak terstruktur, kurangnya pemeriksaan yang mendetail pada kunjungan pertama. Model pemeriksaan komprehensif pada pelayanan gigi digambarkan sebagai perawatan yang berorientasi pada pasien dengan melakukan edukasi kesehatan, menerapkan perawatan berbasis preventif-promosi, merangkum perawatan dan mencapai promosi kesehatan. Sehubungan dengan belum terdapatnya sistem informasi yang dapat digunakan sebagai alat bantu pelayanan gigi dan mulut, maka perlu dibuat rencangan sistem informasi perencanaan kesehatan gigi dan mulut komprehensif. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan perancangan sistem dengan metode System Development Life Cycle (SDLC) dengan pendekatan prototipe, untuk mendapatkan kebutuhan pengembangan sistem. Dalam sistem ini akan diperoleh data terkait pemeriksaan dan status kesehatan gigi dan mulut. Penggunaan sistem ini dapat mendukung fungsi pengawasan dan evaluasi kesehatan gigi dan mulut pasien, selain itu sistem informasi ini dapat mengefisiensikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di TPMDG dalam penjadwalan pasien, pemeriksaan pasien, konsultasi pasien, penyusunan laporan, dan mendapatkan informasi untuk digunakan dalam perencanaan program kesehatan gigi dan mulut.

Primary Dental Healthcare (TPMDG) is one type of private sector FKTP in Indonesia which in its care provides primary health services with first contact to individuals, families, and communities. Problems that arise in TPMDG such as frequent offers of unstructured oral dental care, lack of detailed examination at the first visit. The comprehensive examination model in dental services is described as patient-oriented care by conducting health education, implementing preventive-promotion-based care, summarizing care and achieving health promotion. Due to the lack of an information system that can be used as a dental and oral service aid, it is necessary to design a comprehensive dental and oral health planning information system. The research was conducted by qualitative methods and system design with the System Development Life Cycle (SDLC) method with a prototype approach, to obtain system development needs. In this system, data related to dental and oral health examinations and status will be obtained. The use of this system can support the function of monitoring and evaluating the patient's dental and oral health, in addition this information system can streamline dental and oral health services at TPMDG in patient scheduling, patient examination, patient consultation, report preparation, and obtaining information for use in dental and oral health program planning.
Read More
T-6867
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karmellia Nikke Darnesti; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Masyitoh, Indra Rachmad Dharmawan, Rosalien, Robbykha
Abstrak:

ABSTRAK
Nama : Karmellia Nikke Darnesti
Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat
Judul : Analisis Kinerja Unit Pelayanan Gigi Puskesmas Kelurahan di
Wilayah Kecamatan Koja Jakarta Utara Tahun 2018
Pembimbing : Prastuti Soewondo, S.E., MPH., Ph.D
Lebih dari 50% penduduk di Indonesia memiliki permasalahan gigi dan mulut, ironisnya
berdasarkan Riskesdas 2018, hanya sekitar 10% yang mampu mendapat akses ke layanan
kesehatan gigi. Rifaskes 2011 mengindikasikan cakupan program usaha kesehatan gigi
berbasis masyarakat di puskesmas masih sangat rendah, termasuk di wilayah DKI Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian atas kinerja unit pelayanan gigi
puskesmas kelurahan di wilayah Kecamatan Koja. Pendekatan wawancara mendalam,
observasi, dan telaah dokumen dilakukan pada dua jenis unit pelayanan gigi yang ada di
puskesmas kelurahan wilayah Kecamatan Koja. Terdapat dua skema, yaitu Pola I yang
memiliki dokter gigi saja dan Pola III memiliki dokter gigi dan terapis gigi. Hasil
penelitian menyatakan bahwa unit pelayanan gigi pola III memiliki kinerja pelayanan gigi
yang lebih baik karena dapat menangani lebih banyak pasien dan tindakan, serta dapat
memenuhi program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dan Upaya Kesehatan Gigi
Masyarakat (UKGM). Sebaliknya, unit pelayanan gigi pola I hanya dapat memenuhi
program UKGS dan menangani jumlah pasien yang lebih sedikit. Adanya kompetisi
waktu antara program kesehatan gigi masyarakat dan poli gigi membuat dokter gigi
kesulitan memenuhi semua pelayanan gigi. Pelaksanaan program UKGS maupun UKGM
yang dipenuhi hanya terbatas pada penyuluhan singkat dan pemeriksaan sederhana yang
dilaksanakan sekedar memenuhi target. Akibatnya, permasalahan gigi dapat terus
berkembang menjadi penyakit yang semakin parah dan membutuhkan perawatan lebih
kompleks. Hasil kajian juga menguak bahwa tindakan mayoritas, yaitu mumifikasi,
kurang sesuai dengan standar perawatan yang dibutuhkan karena keterbatasan sumber
daya. Disamping itu, tugas manajemen puskesmas ternyata menambah beban kerja dokter
gigi dan mempengaruhi kinerja unit pelayanan gigi. Kolaborasi dokter gigi dengan terapis
gigi akan meningkatkan kinerja unit pelayanan gigi karena dapat mengakomodasi
kenaikan permintaan pelayanan, membantu melaksanakan semua upaya kesehatan gigi,
dan meningkatkan kualitas pelayanan dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kata kunci: kinerja, pelayanan gigi, puskesmas, dokter gigi, terapis gigi


ABSTRACT
Name : Karmellia Nikke Darnesti
Study Program : Public Health Science
Title : Analysis of Dental Medical Unit Performance in Puskesmas
Kelurahan at Koja District North Jakarta 2018
Counsellor : Prastuti Soewondo, S.E., MPH., Ph.D
More than 50% of the population in Indonesia were reported to have dental problems,
ironically based on Riskesdas 2018, only around 10% are able to get access to dental
services. Rifaskes 2011 has indicated the coverage of the community-based oral health
program at the Puskesmas is quietly low, even in the DKI Jakarta. This study aims to
analyze the performance of the dental medical unit at the puskesmas kelurahan in Koja
District area. The approach is through in-depth interviews, observations, and document
studies were carried out on two types of dental medical units that mostly be divided into
Pattern I with only dentist and Pattern III which have dentist and dental therapist. The
results of the study indicated that Pattern III had higher dental service performance
primarily because it could handle more patients and type of treatments also could carry
out School-based Oral Health (UKGS) and Community-based Oral Health (UKGM)
programs. In contrast, Pattern I only fulfill the UKGS program and handle fewer patients.
Clash of time between community-based program and dental poly makes it difficult for
dentists to fulfill all dental services. The implementation of the UKGS and UKGM
programs which only brief counseling and screening tended merely meet the targets so
that dental problems become more severe then require more complex treatments. The
study also revealed that the mummification, which were among the most frequent
treatment, were not in accordance with the standard of care due to limited resources. In
addition, management duties within puskesmas adds further workload of dentists and
influenced the performance of dental service. Dentist collaboration with dental therapist
will improve the performance of the dental service, allowing them to accommodate the
increase in demand, support implementation of all dental health efforts, and improve
dental service quality in the era of National Health Insurance (JKN).
Keywords : dental services; performance; puskesmas; dentist; dental therapist

Read More
T-5517
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febi Susanti; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Retno Maharsi, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak: Pemanfaatan pelayanan proram UKGM dipengaruhi oleh perilaku ibu dan pengelolaan program oleh Puskesmas. Karies masih termasuk dalam sepuluh penyakit terbesar dan cakupan pembinaan kesehatan gigi di masyarakat masih rendah yaitu 19,6 %. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan program UKGM oleh ibu yang memiliki anak usia 2 sampai 5 tahun di Posyandu Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi. Penelitian ini adalah penelitian sekuensial eksplanatori (mixed methods) dengan desain cross sectional dan jumlah sampel 400 responden. Untuk menggali lebih mendalam permasalahan rendahnya pemanfaatan program UKGM, penelitian ini dilengkapi dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam kepada manajemen puskesmas dan diskusi kelompok terarah kepada kader posyandu mengenai permasalahan yang ada. Berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, pekerjaan, dukungan keluarga dan kebutuhan perawatan gigi dan mulut anak merupakan variabel yang berhubungan dengan pemanfaatan program UKGM di posyandu. Sedangkan sikap, dukungan keluarga dan kebutuhan perawatan gigi dan mulut anak merupakan variabel paling signifikan dalam pemanfaatan program UKGM di posyandu. Berbeda dengan hasil pendekatan kualitatif yang memperlihatkan bahwa justru fasilitas yang lebih mempengaruhi pemanfaatan program UKGM. Selain itu monitoring dan evaluasi belum dilakukan secara rutin. Rekomendasi pada penelitian ini adalah diharapkan untuk melengkapi fasilitas terutama alat peraga penyuluhan dan alat periksa gigi (diagnostic set), memberikan pelatihan UKGM pada kader posyandu serta melakukan monitoring setiap bulan dan evaluasi setiap tiga bulan sekali
Read More
T-5731
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Rochman; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Rachma F Boedjang, Rachmad Soegih, Lukas C. Hermawan, Sujana Jatiputra
Abstrak:
Anglz Bayi Bent Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia maslh cukup tinggi. Keadaan BBLR meningkatkan risiko kematian dan kesakitan perinatal & bayi. 'Iujuan penelitian lmtuk mengetahui lmbnngan antara perawatan antenatal (pemerisaan kohamilan pertama Kali, frekuensi pemeriksaan, komumsi tablet besi) dan bayi berat _lahtr rendah dengan mengontrol faktor jenis kelamin bayi, usia ibu melahirkan, pendidikan ibn, paritas, jarak kelahix-an dan riwayat abortus. Dinin penelitian adalah kann kontrol tidal; berpadanan menggunakan data has Survei Demograli dan Kesehatan Indonesia 1997 (SDKI 1997) dengan jnmlah kann 748 dan kontrol 1496 bayi kelahiran tunggal. Hasil penelitian menemukan bahwa pemeriksaan kehamilan pertama kali pada trimester II atau III mempunyai risiko BBLR 1.29 kali sesudah mengontrol usia ibn melahirkan, pendidikan ibu dan jarak kelahiran. Frelmemi pemeriluaan kehamilan < 4 kali mempunyai ritiko BBLR 1.81 kali sesudah mengontrol mia ibn melahlrlun dan jarak kelahiran. Konsumsi < 90 tablet besi mempnnyai rixlko BBLR 189 semdah mengontrol frekuensi pemeriksaan kehamilan, usia ibn melahirkan, pendidikan ibn dan jarak kelahiran. Risiko atrlbut pemeriksaan kehamllan pertama kali 225 %, frelmensl pemeriksaankehami1an44.8 % dan konxnmsitablet besi 47.1 %. Bordasarkan hasil penelitian disarankan: 1). memantau pengadaan dan diztribusi tablet best secara teratur 2). menzmbahkan pertanyaan tentang tekanan darah, TB, BB dan status anemia ibu pada knesioner SDH 3). melaknkan penyuluhan tentang reproduksi sehat bagi remaja putri dan ibn muda dengan pesan utama usia menikah/melahirkan & pengatmnan jan-ak kelahiran 4). menganalisis data basil SDIC[terbarn.

Abstract Low birth weight rate is still high. Low birth weight increased the risk of perinatal and infant mortality and morbidity. This study aims to know the relation between antenatal care (first visit, frequency, iron pill consumption) and low birth weight controlling for infant?s gender, maternal age, maternal education, parity, birth space and history of abortion. 5 The study design is unmatched case-control nsed Indonesia Demographic and Health Survey 1997 (IDHS 1997) data wherein 748 cases and 1496 controls were selected among singleton infants were carried out in IDHS 1997- This study found: the mother of cases have 1.29 times having first visit at the second or third trimester of pregnancy compared to the controls controlling for maternal age, maternal education and birth space. The mother of cases have 1.81 tlmes having visit frequency less than 4 times compared to controls controlling for maternal age and birth space. The mother of cases have 1.89 times having iron pill consumption less than 90 pill compared to the controls controlling for visit frequency, maternal age, maternal education and birth space. The attributable risk of first visit was 22.5 %, visit freqneudy was 44.8 % and iron pill consumption was 47.1 %. This study recommend: 1). to control for the availability and distribution of iron pill 2). to add other questions into IDRS questionnaire, eg. maternal blood tension, height, weight and anemia?s status 3). to give informations for girls and young mothers about the reproduction health with the main messages are marriage age/birth age and birth space 4). to analyze the last IDHS data.
Read More
T-1119
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive