Ditemukan 91 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Mery Ramadani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Kusharisupeni, Salimar
S-4082
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Heny Herdiyati Murniawan; Pembimbing: Diah M. Utari; Penguji: Triyanti, Salimar
S-4851
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fitria Rahmi; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Triyanti, Salimar
Abstrak:
WHO menyatakan rendahnya konsumsi buah dan sayur merupakan salah satu dari 10 faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kematian. Rata-rata remaja di negara barat tidak memenuhi rekomendasi WHO untuk mengonsumsi buah dan sayur minimal 400 gram per hari. Di Indonesia, rekomendasi konsumsi buah dan sayur adalah 5 porsi buah dan sayur berdasarkan WHO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran distribusi konsumsi buah dan sayur siswa SMAIT Nurul Fikri Depok tahun 2017 serta faktor-faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur siswa SMAIT Nurul Fikri Depok tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 156 orang, dilakukan pada bulan Juni 2017 di SMAIT Nurul Fikri Depok. Sumber data penelitian ini adalah data pimer yang dikumpulkan dengan metode pengisian kuesioner dan formulir Food Frequency Questionnaire pada siswa SMAIT Nurul Fikri Depok tahun 2017 dengan alat bantu kuesioner dan formulir Food Frequency Questionnaire. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik ganda model faktor dominan. Konsumsi buah dan sayur baik terdapat sebanyak 5.1% siswa. Terdapat 5 variabel yang diduga menjadi faktor dominan konsumsi buah dan sayur di SMAIT Nurul Fikri Depok tahun 2017. Setelah dilakukan analisis, variabel yang dominan berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur adalah keterpaparan media dengan p= 0,012 dan OR=0,048 artinya siswa yang tidak memiliki keterpaparan media yang baik mengenai buah dan sayur berpeluang untuk tidak mengonsumsi buah dan sayur 0,048 kali dibanding yang terpapar media setelah dikontrol oleh ketersediaan di rumah, ketersediaan di sekolah, pengetahuan dan preferensi terhadap buah dan sayur. Kata Kunci : Konsumsi, buah, sayur WHO report that low consumption of fruit and vegetable causal high fatality rate. Adolescent average in west not comply with a request of WHO for cunsumption fruit and vegetable with a minimum consumption 400 gram/day. In Indonesia, recommendation for consumption fruit and vegetables is 5 portion fruit and vegetable per day.. This study purpose for knows distribution consumption of fruit and vegetable student senior high school Islam Terpadu Nurul Fikri Depok 2017 with factor-factor related to consumption fruit and vegetable at student senior high school Islam Terpadu Nurul Fikri Depok 2017. This study use desain cross sectional with total sample 156 responden. It going on June 2017 at Senior High Scholl Islam Terpadu Nurul Fikri Depok. Source of data is primer data with filled the questionnaire and form Food Frequency Questionnaire by student senior high school Islam Terpadu Nurul Fikri Depok. Analisys data use test statistic chi-square and regression binary logistic by factor dominant models. Goog consumption fruit and vegetable 5,1% student in senior high school islam terpadu nurul fikri Depok. There are 5 variabels expected as factor dominant consumption fruit and vegetable in senior high school islam terpadu nurul fikri Depok 2017. After do analisys, dominant variabel related with consumption fruit and vegetable is connected mass media p value = 0,012 and odd ratio = 0,048 its mean students connected mass media consumption fruit and vegetable have opportunity as big as 0,048 times to consumption fruit and vegetable just than student dont connected mass media. Key words :Consumption, fruit, vegetable
Read More
T-4970
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhorkas Dhonna Ruth Marpaung; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Salimar
Abstrak:
Pendahuluan. Indonesia merupakan negara yang masih banyak layanankesehatannya terletak di daerah perifer dengan fasilitas minim dan jarang memilikitenaga ahli untuk memprediksi berat bayi saat dilahirkan.Metode. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Kriteria inklusiibu melahirkan anak terakhir, bayi lahir hidup, dan bayi tunggal, didapatkan sampelsebanyak 23.689.Hasil. Variabel yang menjadi faktor risiko kejadian BBLR adalah usia kehamilan(POR 2,01), umur (POR 1,28), paritas (POR 1,56), tinggi ibu (POR 1,48),komplikasi (POR 1,46). Analisis ROC didapatkan area under curve untukmengidentifikasi kejadian BBLR sebesar 0,602. Nilai titik potong untuk skoringprediksi 4 dan sensitivitas 59,8%.Kesimpulan. Usia kehamilan, umur, paritas, tinggi ibu, dan komplikasi merupakanfaktor risiko dan dapat digunakan untuk memprediksi bayi yang akan dilahirkanberisiko BBLR.Kata Kunci: berat lahir bayi, sensitivitas, prediksi
Introduction. Indonesia is a country that still many health services located inperipheral areas with minimal facilities and rarely have experts to predict the weightof the baby at birth.Methods. This study using cross sectional study design. The inclusion criteriamaternal last child, a baby was born alive, and a single baby, obtained a sample of23.689.Results. Variables are a risk factor for LBW is gestational age (POR 2,01), age(POR 1,28), parity (POR 1,56), maternal height (POR 1,48) and complications(POR 1,46). ROC analysis obtained an area under the curve to identify the LBW of0,602. Value cut-off point for scoring 4 prediction and sensitivity of 59,8%.Conclusion. Gestational age, age, parity, height, and complications are risk factorsand can be used to predict the baby to be born at risk of LBW.Keywords: birth weight babies, sensitivity, predictive.
Read More
Introduction. Indonesia is a country that still many health services located inperipheral areas with minimal facilities and rarely have experts to predict the weightof the baby at birth.Methods. This study using cross sectional study design. The inclusion criteriamaternal last child, a baby was born alive, and a single baby, obtained a sample of23.689.Results. Variables are a risk factor for LBW is gestational age (POR 2,01), age(POR 1,28), parity (POR 1,56), maternal height (POR 1,48) and complications(POR 1,46). ROC analysis obtained an area under the curve to identify the LBW of0,602. Value cut-off point for scoring 4 prediction and sensitivity of 59,8%.Conclusion. Gestational age, age, parity, height, and complications are risk factorsand can be used to predict the baby to be born at risk of LBW.Keywords: birth weight babies, sensitivity, predictive.
T-4719
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muliati Kendek; Pembimbing: Diah M. Utari; Penguji: Triyanti, Salimar
Abstrak:
Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sejak lahirsampai usia 6 bulan tanpa tambahan makanan/minuman lainnya. Pemberian ASIeksklusif mencegah kematian Balita sebanyak 13 %. Berdasarkan data PuskesmasTomoni tahun 2011 pencapaian ASI eksklusif sebesar 13,3 %, lebih rendah daritarget Depkes RI yaitu 80 %. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.Desain penelitian adalah cross sectional dengan jumlah sampel 127 orang ibuyang memiliki bayi berusia 6-12 bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaumur, pendidikan, pemeriksa kehamilan, penolong persalinan, dukungan petugaskesehatan tidak berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif sedangkan yangberhubungan adalah pekerjaan, pengetahuan, dukungan keluarga.Pentingnyapeningkatan kualitas pelayanan dan dukungan dari semua pihak agar perilakupemberian ASI eksklusif lebih ditingkatkan lagi.
Kata Kunci : ASI eksklusif, perilaku, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga.
Read More
Kata Kunci : ASI eksklusif, perilaku, pengetahuan, sikap, dukungan keluarga.
S-7772
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aufa Hanifa; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Triyanti, Salimar
S-10504
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Asiyah Mutmainnah; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Triyanti, Salimar
Abstrak:
Asupan zat besi yang tidak adekuat merupakan faktor risiko terjadinya anemia defisiensi besi. Skripsi ini merupakan penelitian dengan desain studi cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan asupan zat besi. Pada penelitian ini melibatkan responden sebanyak 189 siswi SMA Negeri 5 Depok. Pengumpulan data asupan zat besi melalui wawancara food recall 3x24 jam. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji t-independen dan regresi korelasi linier, sedangkan secara multivariat dianalisis menggunakan uji regresi linier ganda. Analisis bivariat menunjukkan terdapat perbedaan asupan zat besi yang signifikan berdasarkan pengetahuan gizi, konsumsi suplemen zat besi, persepsi citra tubuh, dan keterpaparan media massa. Pengetahuan gizi yang cukup, konsumsi suplemen zat besi, persepsi citra tubuh positif, dan peran keterpaparan media massa akan meningkatkan asupan zat besi. Kata Kunci : asupan zat besi, pengetahuan, suplemen zat besi, citra tubuh
Inadequate iron intake was a risk factor for iron deficiency anemia. This research used cross sectional design that aims to identify factors relation to iron intake. The study was conducted on 189 female students Senior High School 5. Iron intake was measured by 3x24 hours food recall. The data was bivariate analyzed by t-independent test and regression linier test, and multivariate analyzed by double regression linier test. Bivariate analyzes showed that there was significant difference of iron intake based on nutrition knowledge, iron supplement consumption, body image, and role of mass media. Good nutrition knowledge, iron supplement consumption, positive body image, and role of mass media sufficient to improve iron intake. Keywords : iron intake, nutrition knowledge, iron supplement, body image
Read More
Inadequate iron intake was a risk factor for iron deficiency anemia. This research used cross sectional design that aims to identify factors relation to iron intake. The study was conducted on 189 female students Senior High School 5. Iron intake was measured by 3x24 hours food recall. The data was bivariate analyzed by t-independent test and regression linier test, and multivariate analyzed by double regression linier test. Bivariate analyzes showed that there was significant difference of iron intake based on nutrition knowledge, iron supplement consumption, body image, and role of mass media. Good nutrition knowledge, iron supplement consumption, positive body image, and role of mass media sufficient to improve iron intake. Keywords : iron intake, nutrition knowledge, iron supplement, body image
S-9056
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nabila Marsya Syaihu Putri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Triyanti, Salimar
Abstrak:
Sering mengonsumsi fast food dapat berdampak pada kenaikan berat badandan munculnya penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuifaktor dominan frekuensi konsumsi fast food pada Mahasiswa FISIP UI Tahun 2016.Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain studi crosssectional. Data karakteristik personal, lingkungan, aksesibilitas, dan paparan mediadiperoleh dari kuesioner, data frekuensi konsumsi fast food dan besar porsi fast fooddiperoleh dari semi-quantitative FFQ, serta data konsumsi harian didapat dari 2x24-hours food recall. Kuesioner dibagikan kepada 127 responden yang dipilih dengansystem random sampling, setelah mengisi kuesioner, responden diwawancara denganFFQ dan food recall. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 48% respondenmengonsumsi fast food dengan frekuensi sering. Selain itu, terdapat perbedaanproporsi pada pengetahuan gizi dan fast food (p=0,001), preferensi fast food(p=0,001), pengaruh peer group (p=0,008), jarak restoran fast food (p=0,001), uangsaku (p=0,001), katerpaparan iklan (p=0,017), dan keterpaparan promosi (p=0,000).Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda, pengaruh keterpaparan promosimerupakan faktor dominan dalam menentukan frekuensi konsumsi fast food(p=0,000). Mahasiswa dengan pengaruh keterpaparan promosi yang kuat memilikipeluang 10,5 kali lebih sering mengonsumsi fast food dibandingkan mahasiswadengan pengaruh lemah setelah dikontrol pengetahuan gizi, preferensi fast food,jarak restoran fast food, dan keterpaparan iklan.Kata Kunci: Fast food, promosi fast food, remaja.
Read More
S-9230
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Qory maghrifa Umari; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Helda, Salimar
Abstrak:
Read More
Berat badan kurang pada balita merupakan rendahnya berat badan terhadap umur seseorang. Balita dikatakan memiliki berat badan kurang jika nilai Z-Score berada pada -3 SD s/d < -2 SD pada indeks status gizi berdasarkan berat badan menurut umur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi terhadap berat badan kurang pada balita. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data RISKESDAS tahun 2018. Jumlah sampel penelitian ini adalah 28.952 balita umur 24-59 bulan di wilayah perdesaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 22,6% balita umur 24-59 bulan di wilayah perdesaan memiliki berat badan kurang. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi balita (p = 0,000), tingkat Pendidikan ibu (p = 0,000), jumlah anggota keluarga (p = 0,000), air layak konsumsi (p = 0,000) dan cara penanganan tinja balita (p = 0,000) dengan berat badan kurang pada balita di wilayah perdesaan. Namun, tidak terdapat hubungan antara status pekerjaan ayah dengan berat badan kurang pada balita di wilayah perdesaan (p=0,618). Untuk itu diperlukan upaya peningkatan status gizi dan melakukan pemantauan serta memberikan intervensi guna menekan angka balita yang memiliki berat badan kurang, terutama pada keluarga dan balita yang berada di wilayah perdesaan yang sulit dijangkau.
Underweight in toddlers is a low body weight for a person's age. Toddlers are said to be underweight if the Z-Score is at -3 SD to < -2 SD on the nutritional status index based on weight for a period. The purpose of this study was to determine the factors that contribute to underweight in toddlers. This study used a cross-sectional study design using RISKESDAS data in 2018. The sample size was 28,952 toddlers aged 24-59 months in rural areas. The results showed that 22.6% of toddlers aged 24-59 months in rural areas were underweight. The results of the chi-square test showed that there was an association between the history of infectious diseases (p=0,000), the mother's education level (p=0.000), the number of family members (p=0,000), water suitable for consumption (p=0.000) and how to handle toddler feces (p=0,000) with underweight in toddlers in rural areas. However, there was no association between the father's employment status and being underweight among rural under-fives (p=0,618). Therefore, efforts are needed to improve nutritional status and monitor and provide interventions to reduce the number of underweight children under five, especially in families and children under five in rural areas that are difficult to reach.
S-11276
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mayfa Ariyanti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Salimar
S-4434
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
