Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wizkie Amrullah; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Hendra, Supriyadi
S-4826
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martina Caisar Ferananda; Pembimbing: Mila Tejamaya, Hendra, Agung Supriyadi
Abstrak:
Karsinogen merupakan efek toksik yang mengarah pada terjadinya peristiwa karsinogenesis hingga timbul kanker. Tingginya angka penggunaan bahan kimia di industri yang terbukti karsinogenik bagi manusia tentunya akan berpotensi memunculkan dampak negatif kepada kesehatan pekerja. Peraturan Nilai Ambang Batas (NAB) di Indonesia dibuat sebagai upaya melindung kesehatan pekerja. Namun di Indonesia terdapat dua standar mandatori, dimana keberadaan lebih dari satu standar di Indonesia menyulitkan perusahaan dalam hal pemenuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan Nilai Ambang Batas bahan kimia yang bersifat karsinogen dan klasifikasi karsinogen. Unit analisis penelitian ini adalah peraturan Nilai Ambang Batas Kimia di Indonesia yaitu Permenaker 5 tahun 2018 dan Permenker 70 tahun 2016. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif. Pada perbandingan antara dua peraturan terdapat 2 bahan kimia yang memiliki notasi klasifikasi karsinogen berbeda yaitu Chromium metal and insol. salts (sebagai Cr) pada Peremenaker (A4) dan pada Permenkes (A1) serta didapatkan substansi kimia Diazomethane pada Peremenaker notasi (A2) namun tidak diatur di Permenkes. Terdapat 6 substansi kimia yang memiliki konsentrasi NAB yang berbeda diantaranya adalah benzotrichloride (tidak diatur dalam Permenaker dan Permenkes NAB-STEL 0.1 mg/m3), Benzo (a) pyrene (tidak diatur dalam Permenaker dan Permenkes NAB-TWA 0.2 mg/m3), beryllium and beryllium compounds as be (Permenkes NAB-TWA 0.00005 mg/m3 dan Permenkes NAB-TWA 0.002 mg/m3), Formaldehyde (Permenkes NAB-STEL 0.3 ppm dan Permenkes NAB-TWA 0.5 ppm), Silica crytaline - alpha quartz and cristobalite (Permenkes NAB-STEL 0.025 mg/m3 dan Permenkes NAB-TWA 0.1 mg/m3).

Carcinogens are toxic effects that lead to carcinogenic events leading to cancer. The high rate of use of chemicals in industry that are proven to be carcinogenic to humans will certainly have the potential to have a negative impact on the health of workers. Threshold Value Regulations (NAV) in Indonesia were made as an effort to protect the health of workers. However, in Indonesia there are two mandatory standards, where the existence of more than one standard in Indonesia makes it difficult for companies to fulfill them. This study aims to examine the comparison of the Threshold Limit Values of chemicals that are carcinogens and the classification of carcinogens. The unit of analysis for this research is the regulation of Chemical Threshold Limit Values in Indonesia, namely Permenaker 5 of 2018 and Permenker 70 of 2016. This research was conducted using a descriptive method. In the comparison between the two regulations, there are 2 chemicals that have different carcinogen classification notations, namely Chromium metal and insol. salts (as Cr) in Peremenaker (A4) and in Permenkes (A1) and the chemical substance Diazomethane is found in Peremenaker notation (A2) but it is not regulated in Permenkes. There are 6 chemical substances that have different NAB concentrations including benzotrichloride (not regulated in the Permenaker and Permenkes NAB-STEL 0.1 mg/m3), Benzo (a) pyrene (not regulated in the Permenaker and Permenkes NAB-TWA 0.2 mg/m3), beryllium and beryllium compounds as be (Permenkes NAB-TWA 0.00005 mg/m3 and Permenkes NAB-TWA 0.002 mg/m3), Formaldehyde (Permenkes NAB-STEL 0.3 ppm and Permenkes NAB-TWA 0.5 ppm), Silica crytaline - alpha quartz and cristobalite (Permenkes NAB-STEL 0.025 mg/m3 and Permenkes NAB-TWA 0.1 mg/m3).
Read More
T-6790
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vida Widiani; Pembimbing: Yaslis Ilyas, Anhari Achadi; Penguji: Zakianis; Ucup Supriyadi, Nur Utomo
Abstrak: Masalah keamanan makanan saat ini sudah masalah global, sehingga yang mengambil perhatian utama dalam menetapkan kebijakan kesehatan publik. Dari hasil monitor Indonesia makanan dan obat peraturan Departemen (Badan POM RI) untuk acara wabah (KLB) keracunan makanan di Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan bahwa telah terjadi 60 keracunan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor yang berhubungan dengan kejadian kontaminasi E. coli di rumah makan wilayah Pelabuhan Merak, Banten pada tahun 2019 dilakukan dengan populasi 31 utama. Studi ini adalah cross sectional penelitian ini pada bulan April sampai Mei 2019. Studi ini menggunakan data sekunder dan primer primer dilakukan dengan menggunakan metode kuesioner, pengamatan dan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan Laboratorium pada sampel makanan yang dilakukan pada 31 rumah makan yang berada di wilayah Pelabuhan Merak Banten, diperoleh hasil rumah makan yang memenuhi syarat yakni sebanyak 45,2 % ( negatif E. coli) dan yang tidak memenuhi syarat adalah sebanyak 54,8% (positif E. coli). Hasil uji statistik untuk karakteristik penjamah makanan diperoleh faktor yang berhubungan dengan kontaminasi E. coli pada makanan antara lain kondisi kuku dan kebersihan tangan penjamah (p value 0,022), kebiasaan mencuci tangan penjamah makanan (p value 0,041). Untuk fasilitas sanitasi, faktor yang berhubungan dengan kontaminasi E. coli antara lain air yang digunakan untuk mencuci peralatan (p value 0,041), air untuk mencuci bahan makanan (p value 0,041), saluran pembuangan limbah/ air bekas cucian (p value 0,049). Serta faktor pengawasan hygiene sanitasi rumah makan (p value 0,021) yang mempengaruhi terhadap kontaminasi E coli pada makanan. Faktor yang paling berhubungan terhadap kontaminasi E. coli pada makanan di Pelabuhan Merak Banten adalah kondisi kuku dan kebersihan tangan penjamah makanan yang memiliki OR 16,404 artinya penjamah makanan yang memiliki kondisi kuku yang panjang dan kotor akan mempunyai odds (risiko) untuk mengkontaminasi makanan sebesar 16 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penjamah yang memiliki kuku pendek dan bersih pada rumah makan di wilayah Pelabuhan Merak Banten. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan kuku dan tangan serta menjadikan kebiasaan cuci tangan penjamah makanan menggunakan sabun dan air mengalir. Hal ini bisa dilakukan jika ada fasilitas sanitasi lingkungan yang memadai di sekitar wilayah rumah makan di Pelabuhan
Read More
T-5616
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Destrina Damanik; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Surya Ede Darmawan, Helen Andriani, Titi Anggraeni, Jaka Supriyadi
Abstrak: Keselamatan pasien merupakan inti dari mutu pelayanan. Untuk mencapainya diperlukan komitmen yang kuat dari individu dan tim. Pentingnya budaya keselamatan ditekankan dalam sebuah laporan oleh Institute of Medicine (IOM) yang mengatakan budaya keselamatan pasien perlu dikembangkan agar selanjutnya akan difokuskan dalam upaya peningkatan reliabilitas dan keamanan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil capaian pemenuhan standar Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) dalam akreditasi Rumah Sakit berdasarkan SNARS Edisi 1. Penelitian ini menggunakan metode crossectional dari data sekunder hasil akreditasi RS yang berpedoman pada SNARS edisi 1 dalam kurun waktu tahun 2018-2019 dan khusus pada penilaian bab Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang bersumber dari basis data KARS. Kemudian dilanjutkan dengan metode kualitatif untuk mendapatkan faktor pendukung dan dan penghambat akan dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan sesuai dengan syarat informan. Penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dari basis data SIKARS pada tahun 2018-2019 yang diperoleh dengan persetujuan Ketua Eksekutif KARS setelah melalui kaji etik. Kemudian setelah mendapatkan data sekunder dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini adalah dari 1271 rumah sakit yang telah diakreditasi oleh KARS tahun 2018-2019 hampir seluruh RS Kelas A, B, C dan D memenuhi secara lengkap standar fokus area 1 PMKP. untuk capaian fokus area 2, 3, 4 dan 5 PMKP, lebih banyak RS kelas A yang terpenuhii secara lengkap dibandingkan RS kelas B, C dan D. Dari uji komparatif ditemukan seluruh fokus area 1,2,3,4 dan 5 PMKP berhubungan dengan RS Kelas A,B,C dan D dengan nilai p <0,005. Faktor yang mendukung terhadap pemenuhan standar PMKP adalah adanya dukungan top manajemen, fasilitas yang mendukung budaya pelaporan mutu dan keselamatan pasien. Factor yang menghambat adalah kurangnya pelatihan yang mengenai Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Read More
B-2211
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive