Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Friskha Margareth Ruth Siahaan; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Yovsah; Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Latar belakang: Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama pada penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia termasuk Indonesia, dimana tekanan darah tinggi berada pada angka diatas atau sama dengan 140/90 mmHg. Di Indonesia, proporsi kejadian hipertensi mengalami peningkatan dari 25,8% di tahun 2013 menjadi 34,1% pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Tujuan: Untuk melihat hubungan antara status IMT, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, konsumsi gorengan, konsumsi diet sehat, dan aktivitas fisik terhadap kejadian hipertensi. Metode: Analisis ini bersifat kuantitatif menggunakan data IFLS-5 2014/2015. Analisis regresi logistik dilakukan pada sampel 30.828 responden berusia ≥15 tahun yang menjawab pertanyaan kuesioner (Kuesioner Buku I, II, III, dan Pengukuran Kesehatan). Hasil: Hasil analisis multivariabel didapatkan bahwa terdapat asosiasi antara faktor risiko dengan kejadian hipertensi, dimana responden yang memiliki status IMT gemuk/obesitas memiliki risiko 2,26 kali, responden yang dulunya merokok memiliki risiko 1,03 kali, responden yang memiliki kebiasaan konsumsi alkohol memiliki risiko 1,13 kali, responden yang sering mengkonsumsi gorengan memiliki risiko 1,14 kali, responden yang mengkonsumsi diet kurang sehat memiliki risiko 1,01 kali, responden yang memiliki aktivitas ringan memiliki risiko hampir 1 kali menderita hipertensi. Kesimpulan: Oleh karena itu diperlukan integrasi layanan cek rutin tekanan darah dan berbagai fakor risiko yang terkait dengan hipertensi ataupun penyakit tidak menular lainnya.
Read More
S-10211
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Septi Widiasari; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Hipertensi sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Prevalensi hipertensi di Provinsi DKI Jakarta cukup tinggi yakni sebesar 33,4% (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kejadian hipertensi salah satunya adalah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder kegiatan Posbindu PTM di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode total sampling dengan kriteria inklusi penduduk berusia 15-64 tahun yang terdaftar dan data pemeriksaan tercatat lengkap sesuai variabel penelitian dan minimal melakukan satu kali pengukuran hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi hipertensi di Provinsi DKI Jakarta yaitu 26,2% dan obesitas sebesar 17,4%. Terdapat hubungan yang bermaksa secara statistik antara obesitas dengan kejadian hipertensi. Berdasarkan analisis regresi logistik, responden yang obesitas memiliki risiko sebesar 1,8 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan yang tidak obesitas setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin dan interaksi antara obesitas dengan jenis kelamin. Oleh karena itu perlu ditingkatkan peran serta masyarakat dan pengaplikasian perilaku GERMAS serta pengoptimalan kegiatan Posbindu PTM diharapkan dapat mengendalikan obesitas dan hipertensi. Kata kunci: Hipertensi, Obesitas, Posbindu PTM.
Read More
S-10028
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Reyna Ardisa Gunawan; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global yang dapat menimbulkan beban mortalitas dan morbiditas yang substansial. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah pasien PGK tertinggi di Indonesia, dengan prevalensi yang lebih tinggi dari nasional, yaitu 0,48%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥35 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder dari Riskesdas 2018. Sampel penelitian ini adalah seluruh penduduk usia ≥35 tahun di Provinsi Jawa Barat. Terdapat sebanyak 32.044 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥35 tahun di Provinsi Jawa Barat adalah 0,6%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit ginjal kronis adalah usia ≥60 tahun (nilai p=0,001; POR=1,662; 95% CI: 1,23-2,25), jenis kelamin laki-laki (nilai p=0,013; POR=1,431; 95% CI: 1,08-1,89), diabetes (nilai p=0,000; POR=3,770; 95% CI: 2,39-5,96), penyakit jantung (nilai p=0,000; POR=2,725; 95% CI: 1,60-4,63), dan aktivitas fisik (nilai p=0,015; POR=1,521; 95% CI: 1,08-2,14).

Chronic kidney disease is a global health problem that can cause a substantial burden of mortality and morbidity. The 2018 Riskesdas results show that West Java Province is one of the provinces with the highest number of CKD patients in Indonesia, with a higher prevalence than the national one, which is 0.48%. This study aims to determine the factors associated with the incidence of chronic kidney disease in people ages ≥35 years in West Java Province. The research was conducted using a cross-sectional study design using secondary data from the 2018 Riskesdas. The sample for this study was all residents ages ≥35 years in West Java Province. There were 32.044 samples that met the inclusion and exclusion criteria of the study. The results showed that the prevalence of chronic kidney disease in people ages ≥35 years in West Java Province was 0.6%. Factors associated with the incidence of chronic kidney disease were age ≥60 years (p-value=0.001; POR=1.662; 95% CI: 1.23-2.25), male gender (p-value=0.013; POR =1.431; 95% CI: 1.08-1.89), diabetes (p-value=0.000; POR=3.770; 95% CI: 2.39-5.96), heart disease (p-value=0.000; POR=2.725; 95% CI: 1.60-4.63), and physical activity (p-value=0.015; POR=1.521; 95% CI: 1.08-2.14).
Read More
S-11248
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joue Abraham Trixie Latupeirissa; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:

Kematian pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) pada usia dewasa yang menjalankan hemodialisis setelah tiga bulan adalah jarang. Namun, masih mungkin terjadi. Padahal layanan hemodialisis dibutuhkan seumur hidup. Tujuan studi ini adalah engetahui faktor – faktor risiko yang berhubungan dengan kematian pasien PGK usia dewasa yang menjalankan hemodialisis reguler. Metode yang digunakan adalah kasus kontrol tanpa pencocokkan dengan perbandingan 1:2. Uji statistik yang digunakan adalah regresi logistik. Faktor risiko yang berhubungan terhadap kematian adalah riwayat gagal jantung (OR = 2,3; IK 95% = 1,2 – 4,4; nilai p = 0,009), riwayat obstruksi pasca ginjal (OR = 3,5; IK 95% = 1,6 – 7,6; nilai p = 0,002), glukosa sewaktu ≥140 mg/dl (OR = 2,1; IK 95% = 1,2 – 3,6; nilai p = 0,011), Gangguan Ginjal Akut (GGA) (OR = 6,5; IK 95% = 3,8 – 11,1; nilai p = 0,000), dan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18,5 kg/mm2 (OR = 3,0; IK 95% = 1,2 – 7,6; nilai p = 0,019).
Faktor – faktor risiko yang berhubungan dengan kematian pasien PGK pada usia dewasa yang menjalankan hemodialisis reguler adalah riwayat gagal jantung, riwayat obstruksi pasca ginjal, glukosa sewaktu ≥140 mg/dl, GGA, dan IMT <18,5 kg/mm2


Mortality of Chronic Kidney Disease (CKD) patients in adults undergoing hemodialysis after three months is rare. However, it is still possible. Even though hemodialysis services are needed for life. The objective of this study is to determine the risk factors associated with the death of adult CKD patients undergoing regular hemodialysis. The study design was unmatched control case with a ratio of 1:2. The statistical test used was logistic regression. Risk factors were history of heart failure (OR = 2.3; CI 95% = 1.2 – 4.4; p value = 0.009), history of obstruction post renal (OR = 3.5; CI 95% = 1.6 – 7.6; p value = 0.002), random glucose ≥140 mg/dl (OR = 2.1; CI 95% = 1.2 – 3.6; p value= 0.011), Acute Kidney Injury (AKI) (OR = 6.5; CI 95% = 3.8 – 11.1; p value = 0.000), and Body Mass Index

 

Read More
T-7211
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Janani Subhati; Pembimbing: Dwi Gayatri;Penguji: Rizka Maulida, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penelitian mencakup aspek hipertensi sudah umum dilakukan, tetapi, penelitian yang berfokus pada kejadian hipertensi tidak terkendali, yaitu tidak tercapainya target tekanan darah (<140/90 mmHg) sesuai protokol hipertensi baik mono terapi atau terapi kombinasi serta penelitian mengenai faktor risikonya masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko hipertensi tidak terkendali pada pengguna obat antihipertensi usia ≥18 tahun di Indonesia dengan pendekatan teori HL.Blum yang terdiri dari faktor risiko yang tidak dapat diubah, lingkungan, gaya hidup, dan pelayanan kesehatan. Penelitian berdesain studi cross-sectional dengan model analisis regresi logistik. Sebanyak 4.143 responden studi memiliki karakteristik berikut: rata-rata usia 57 tahun (SD = ±11,33), berjenis kelamin perempuan (72,3%), mayoritas tinggal di perkotaan (63,8%), dan berpendidikan menengah (41,5%). Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi hipertensi tidak terkendali sebesar 80,6%. Model regresi logistik memperlihatkan kondisi kebiasaan konsumsi natrium (faktor risiko gaya hidup) dengan frekuensi jarang (aOR: 2,445; 95% CI 1,225 – 4,884) dan sering (aOR: 2,051; 95% CI 1,059 – 3,970), tingkat pendidikan (faktor risiko lingkungan) responden yang tidak bersekolah (aOR: 2,053; 95% CI 1,479 – 2,848) dan pendidikan dasar (aOR: 1,956; 95% CI 1,495 – 2,559), tidak patuh minum obat antihipertensi (faktor risiko pelayanan kesehatan) (aOR: 1,502; 95% CI 1,161 – 1,942), tidak memiliki asuransi kesehatan (faktor risiko pelayanan kesehatan), (aOR: 1,407; 95% CI 1,068 – 1,854), IMT yang lebih tinggi (faktor risiko gaya hidup), (aOR: 1,022; 95% CI 1,004 – 1,03) berasosiasi dengan outcome penelitan kami. Selain itu, usia (faktor risiko yang tidak dapat diubah) (aOR: 0,990; 95% CI 0,983 – 0,998), tempat tinggal di perkotaan (faktor risiko lingkungan) (aOR: 0,764; 95% CI 0,639 – 0,913), memiliki komorbiditas (faktor risiko gaya hidup), (aOR: 0,709; 95% CI 0,567 – 0,874), dan mantan perokok (faktor gaya hidup), (aOR: 0,609; 95% CI 0,422 – 0,857) menunjukan hubungan protektif dengan hipertensi tidak terkendali. Tingginya kejadian hipertensi tidak terkendali dan faktor determinannya, terutama yang bersifat modifible sebaiknya menjadi pertimbangan kementerian kesehatan dalam merumuskan program pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular di Indonesia.

Study on various aspects of hypertension is common, yet, studies that specifically focus on the incidence of uncontrolled hypertension —defined as the failure to achieve the target blood pressure (<140/90 mmHg) according to hypertension protocols, whether through monotherapy or combination therapy—and research on its risk factors remain limited. This study aims to identify risk factors of uncontrolled hypertension among antihypertensive drug users aged ≥18 years in Indonesia using HL. Blum theoretical framework, which consists of unmodifiable risk factors, environment, lifestyle, and healthcare services. This study used a cross-sectional study design with logistic regression analysis. Our 4,143 respondents had the following characteristics: an average age of 57 years (SD = ±11.33), a higher proportion of females (72.3%), lived in urban areas (63.8%), and had a secondary education (41.5%). The results of this study showed the prevalence of uncontrolled hypertension was 80.6%. Logistic regression model shows sodium consumption habits (lifestyle risk factor), infrequent (aOR: 2.445; 95% CI 1.225 – 4.884) and frequent (aOR: 2.051; 95% CI 1.059 – 3.970), education level (environmental risk factor) of respondents with no formal education (aOR: 2.053; 95% CI 1.479 – 2.848) and only primary education (aOR: 1.956; 95% CI 1.495 – 2.559), nonadherence to antihypertensive medication (healthcare risk factor) (aOR: 1.502; 95% CI 1.161 – 1.942), no health insurance (healthcare risk factor), (aOR: 1.407; 95% CI 1.068 – 1.854), a higher BMI (lifestyle risk factor), (aOR: 1.022; 95% CI 1.004 – 1.03) was associated with our study outcome. In addition, increasing age (non-modifiable risk factor) (aOR: 0.990; 95% CI 0.983 – 0.998), living in urban areas (environmental risk factor) (aOR: 0.764; 95% CI 0.639 – 0.913), having comorbidities (lifestyle risk factor), (aOR: 0.709; 95% CI 0.567 – 0.874), and being a former smoker (lifestyle risk factor), (aOR: 0.609; 95% CI 0.422 – 0.857) showed a protective association with uncontrolled hypertension. The high prevalence of uncontrolled hypertension and its determinants, especially those that are modifiable, should be taken into consideration by the Ministry of Health when formulating programs for the prevention and control of non-communicable diseases in Indonesia.
Read More
S-11882
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Normandhieva Acmad Syuhada; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Rizka Maulida, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke, dan prevalensinya semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pekerja, baik dalam kategori white-collar maupun blue-collar, sering kali terpapar faktor risiko yang berbeda akibat gaya hidup dan lingkungan kerja mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian sindrom metabolik pada pekerja white-collar dan blue-collar di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Dengan total sampel sebanyak 8.582 individu, terdiri dari 4.053 pekerja white-collar dan 4.529 pekerja blue-collar, penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dan analisis multivariat dengan modifikasi Cox hazard. Variabel independen yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan asin, konsumsi makanan berlemak, konsumsi daging/ayam/ikan olahan dengan pengawet, dan gangguan kesehatan jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada kelompok white-collar mencapai 51%, sedangkan pada kelompok blue-collar sebesar 42,9%. Pada kelompok white-collar, variabel yang paling berpengaruh terhadap sindrom metabolik adalah usia dan jenis kelamin, dengan hubungan yang signifikan. Sementara itu, pada kelompok blue-collar, variabel yang paling berpengaruh meliputi usia, jenis kelamin, dan konsumsi minuman manis. Tingginya prevalensi sindrom metabolik pada kedua kelompok pekerja ini menunjukkan perlunya perhatian masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat guna mencegah risiko sindrom metabolik.

Metabolic syndrome is a cluster of various conditions that increase the risk of heart disease, diabetes and stroke, and its prevalence is increasing worldwide, including in Indonesia. Workers, both in the white-collar and blue-collar categories, are often exposed to different risk factors due to their lifestyle and work environment. This study aims to analyze the incidence of metabolic syndrome in white-collar and blue-collar workers in Indonesia based on the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) data. With a total sample of 8,582 individuals, consisting of 4,053 white-collar workers and 4,529 blue-collar workers, this study used a cross-sectional study design and multivariate analysis with modified Cox hazard. Independent variables analyzed included age, gender, education, physical activity, smoking behavior, alcohol consumption, consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of salty foods, consumption of fatty foods, consumption of processed meat/chicken/fish with preservatives, and mental health disorders. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome in the white-collar group reached 51%, while in the blue-collar group it was 42.9%. In the white-collar group, the most influential variables on metabolic syndrome were age and gender, with significant relationships. Meanwhile, in the blue-collar group, the most influential variables included age, gender, and consumption of sugary drinks. The high prevalence of metabolic syndrome in these two groups of workers indicates the need for public attention to adopt a healthy lifestyle to prevent the risk of metabolic syndrome.
Read More
S-11855
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulita Rizqi Shafira; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Rizka Maulida, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Indonesia mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular, salah satunya dari penyakit jantung koroner (PJK). Salah satu provinsi dengan prevalensi PJK tertinggi adalah Provinsi DI Yogyakarta, yaitu mencapai 2%. Peningkatan ini terus terjadi salah satunya disebabkan oleh tingkat urbanisasi yang tinggi. Tingkat urbanisasi menyebabkan pelimpahan aktivitas perkotaan ke wilayah perdesaan sekitarnya, sehingga masyarakat mengembangkan karakteristik seperti populasi perkotaan, tetapi karakteristik wilayahnya masih perdesaan. Wilayah ini disebut sebagai wilayah semi-perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian PJK pada populasi dewasa di wilayah semi-perkotaan Provinsi DI Yogyakarta tahun 2022 menggunakan data Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penduduk usia >18 tahun dan diolah menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Penelitian ini menemukan bahwa usia, hipertensi, diabetes melitus, dan merokok merupakan faktor risiko yang memprediksi kejadian PJK. Sementara itu, orang dengan riwayat PJK keluarga dan obesitas berisiko lebih rendah untuk mengalami PJK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan program dan kebijakan kesehatan terkait PJK dan dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya.

Indonesia is experiencing an increasing burden of non-communicable diseases, one of which is coronary heart disease (CHD). One of the provinces with the highest prevalence of CHD is DI Yogyakarta Province, which reaches 2%. This increase continues to occur partly due to the high level of urbanization. The level of urbanization causes the spillover of urban activities to the surrounding rural areas, so that the community develops characteristics such as urban population, but the characteristics of the area are still rural. These areas are referred to as semi-urban areas. This study aims to identify factors associated with CHD in the adult population in semi-urban areas of Yogyakarta Province in 2022 using data from the Non-Communicable Disease Information System, Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The design of this study was cross-sectional with a sample of population aged >18 years and processed using univariate to multivariate analysis. This study found that age, hypertension, diabetes mellitus, and smoking are risk factors that predict the incidence of CHD. Meanwhile, people with a family history of CHD and obesity had a lower risk of developing CHD. The results of this study are expected to be taken into consideration for the preparation of health programs and policies related to CHD and for further research.
Read More
S-11576
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masaruddin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, I Nyoman Kandun, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Hypertension or high blood pressure is a global health problem, including in Indonesia because of its high prevalence. Hypertension does not provide typical complaints and symptoms so many sufferers do not realize it. Therefore hypertension is called the silent killer, the prevalence of hypertension in Indonesia in 2013 is 25.8%, in 2015 23.8%, in 2016 30.9%. Prevalence in women is 32.9%, men 28.7%, in urban areas 31.7%, rural areas 30.2% and the number 3 cause of death in Indonesia. This study aims to determine the relationship between consumption patterns of fast food, soft drinks and meat with the incidence of hypertension in the adult population in Indonesia in 2014 using IFLS-5 data. The design of the study in this study was analytic observational with a cross-sectional study design, this study was conducted in October-November 2018 in Depok City. The results of the study were the prevalence of hypertension in the adult population (≥ 18 yrs - 101 yrs) of 18.91%, people who consumed fast food, age> 30 years, with female gender, low education and suffering from diabetes mellitus were at risk for hypertension by 1 , 47 times to experience hypertension compared to people who do not consume fast food, PRadj 1.47 (95% CI: 1.16 - 1.86) P-value 0.001. People who consume soft drinks, age> 30 years, are female, with low education and suffer from diabetes mellitus at a risk of 1.63 times compared to people who do not consume PRadj soft drinks; 1.63 (95% CI; 1.37 - 1.95) P-value 0,000. People who consume meat, age> 30 years in female sex, low education, smoke and suffer from diabetes mellitus are not associated with the incidence of hypertension PRadj 1.00 (95% CI: 0.92 - 1.09) P-value 0.885. It is recommended to the public to consume foods that contain balanced nutrition, take measurements of blood pressure at least 1 time / month, to the Health Office to conduct counseling or healthy food campaigns that contain balanced nutrition, to the Ministry of Health, promote the consumption pattern of 4 perfectly healthy 5.
Keywords: Hypertension, Fast Food, Soft Drink, Meat and IFLS-5.
Read More
T-5475
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Surya Kusuma; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Renti Mahkota, Dewi Kristanti, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penyakit Jantung Koroner (PJK) masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada perempuan di Indonesia. Epidemi obesitas yang terjadi secara global ikut berkontribusi pada meningkatnya kejadian kardiovaskular. Di Indonesia, belum banyak studi yang mempelajari hubungan obesitas sentral dengan PJK pada perempuan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian PJK pada perempuan usia 25-65 tahun di Kota Bogor. Penelitian kohort retrospektif ini mengikutsertakan 2.451 responden Studi Kohor FRPTM yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan masa pengamatan selama 6 tahun. Pajanan utama yang diteliti adalah obesitas sentral berdasarkan rasio Lingkar Pinggang - Tinggi Badan (LPTB), dengan outcome berupa PJK yang ditegakkan berdasarkan hasil wawancara responden dan/atau hasil EKG. Analisis multivariat dengan Cox Regression dilakukan untuk mengestimasikan Hazard Ratio (HR) dengan 95% Confidence Interval (95% CI). Hasil penelitian menunjukkan insiden rate PJK pada perempuan adalah sebesar 19 per 1.000 orang-tahun. Perempuan dengan obesitas sentral memiliki risiko 1,38 kali (95% CI 1,01-1,89) lebih tinggi dibanding yang tidak obesitas sentral untuk mengalami PJK setelah mengontrol variabel usia, hipertensi, dan status menopause. Deteksi dini faktor risiko PJK, terutama obesitas sentral, penting dilakukan agar upaya pencegahan dan perubahan perilaku dapat segera dilakukan.
Coronary Heart Disease (CHD) remains a major cause of morbidity and mortality in women in Indonesia. The global epidemic of obesity contributes to the increase of cardiovascular events. In Indonesia, there have not been many studies evaluate the association between abdominal obesity and CHD in women. Therefore, this study aims to determine the association between abdominal obesity and CHD in women aged 25-65 years in Bogor. This retrospective cohort study involves 2.451 respondents of FRPTM Cohort Study who met the inclusion and exclusion criteria with an observation period of 6 years. The main independent variable of this study was abdominal obesity based on Waist-to-Height-Ratio (WHtR), while outcome of the interest was CHD based on the results of interview and/or ECG results. Cox regression analysis was performed to estimated Hazard Ratio (HR) with a 95% Confidence Interval (95% CI). The results showed that the incidence rate of CHD in women was 19 per 1.000 person-years. Women with abdominal obesity were 1,38 times (95% CI 1,01-1,89) more likely to have CHD than those without abdominal obesity after adjustment for age, hypertension, and menopause status. Early detection of CHD risk factor, especially abdominal obesity, is important, so that prevention and lifestyle modification can be implemented immediately.
Read More
T-6590
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mivtahurrahimah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Trisari Anggodowati, Eva Sulistiowati, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa terdapat efek jangka panjang dari berhenti merokok terhadap penambahan berat badan yang turut memperparah prehipertensi, tetapi efek yang ditimbulkan belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dan obesitas terhadap kejadian prehipertensi pada dewasa muda di Indonesia. Penelitian kuantitatif ini merupakan studi analitik cross-sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini berjumlah 17.698 orang. Analisis regres cox dilakukan untuk mengetahui bersar risiko merokok dan obesitas terhadap prehipertensi. Hasil penelitian menjelaskan prevalensi prehipertensi dewasa muda di Indonesia sebesar 52,61%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok dewasa muda yang tidak merokok dan mengalami obesitas memiliki risiko terbesar terkena prehipertensi yaitu sebesar 1,33 kali. Namun, ditemukan efek yang menurun pada kelompok dewasa muda yang merokok dan obesitas terhadap kejadian prehipertensi yaitu sebesar 1,17 kali, dan efek protektif pada mereka yang merokok dan tidak obesitas (PR=0,88) karena adanya interaksi antagonis merokok dan obesitas terhadap prehipertensi sebesar 3,42%. Perlunya pengecekan tekanan darah menggunakan aplikasi pada smart watch dan smart phone pada kelompok dewasa muda yang merokok dan berfokus kepada mereka yang obesitas ditambah peningkatan pelaksanaan Posbindu PTM di tempat umum dan promosi kesehatan melalui media sosial.
Previous studies have reported that there are long-term effects of quitting smoking on weight gain which also exacerbate prehypertension, but the effects are unclear. This study aims to determine the association of smoking and obesity on the incidence of prehypertension in young adults in Indonesia. This quantitative research is a cross-sectional analytic study using secondary data from Riskesdas 2018 with samples of 17,698 and Cox regression analysis. The results of this study explain that the prevalence of prehypertension in young adults in Indonesia is 52.61%. Multivariate analysis showed non-smokers and obese young adults had the greatest risk of developing prehypertension, which was 1.33 times. However, a decreasing effect was found in young adults who smoked and were obese on the incidence of prehypertension, which was 1.17 times, and a protective effect was found in those who smoked and were not obese (PR=0.88) due to the antagonistic interaction of smoking and obesity on prehypertension by 3.42%. Check blood pressure using applications on smartwatches and smartphones in young adults who smoke and focus on those who are obese plus increasing the implementation of Posbindu PTM in public places and promoting health through social media.
Read More
T-6594
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive